TRANSLATE

Rabu, 08 Mei 2013

LARANGAN MEMINTA JABATAN (kepemimpinan) serta AMBISIUS memperolehnya

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ “Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (Q.S Muhammad :22) Kata ( إنْ تَوَلّيْتُم ) dari akar kata ( التَوْلِيّة ) yang berarti ( طَـلَبُ الوِلايَة / mencari kekuasaan). Sementara dalam hadis Rasulullah saw. Menjelaskan akan larangan meminta atau menawarkan diri sebagai pemimpin, atau larangan berambisi meraih kedudukan tersebut. Dari Abu Musa ra., ia berkata: Aku menemui Nabi saw. bersama dua orang lelaki anak pamanku. Seorang dari keduanya berkata: Wahai Rasulullah, angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah kekuasaanmu yang telah diberikan Allah azza wa jalla! Yang satu lagi juga berkata seperti itu. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun yang meminta sebagai pemimpin atas tugas ini dan tidak juga seorang yang berambisi memperolehnya. (Shahih Muslim) Sementara realita yang kita temui saat ini, betapa para pemimpin-pemimpin kita semuanya mencalonkan diri, seolah-olah layaknya perlombaan. Mereka berasusi berlomba atau berebut dalam memperoleh kekuasaan adalah tren, dan sudah menjadi budaya. Saking berebut-nya orang-orang untuk menjadi penguasa, terkadang kekuasaan benar-benar tampil menjadi komoditi yang tidak murah, butuh pengorbanan jiwa maupun harta, baik untuk menduduki tahta Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, para anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mau pun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Orang yang demikian tidak ada niatan khidmah (Pengabdian diri) sama sekali pada Negara, benak mereka hanya dipenuhi kekuasaan saja, tak lebih dari itu. Maka Allah mengolok-olok mereka yang gila akan kekuasaan dengan berfirman “Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”. Itu dikarenakan sikap ambisius mereka dalam memdapatkan jabatan tersbut, karena jabatan kepemimpinan adalah amanah yang agung, amanah yang berat untuk dijaganya, yang pantas disandang oleh mereka yang berniat baik, berniat mengabdi pada Bangsa da Agama. dan tentunya Allah pasti akan menumbangkan para pemimpin-pemimpin yang ambisius. Semoga bangsa kita ini di bersihkan dari karakter pemimpin yang ambisius, hingga Allah menjadikan Bangsa ini, Bangsa yang gemah ripah loh jinawi. Amiiin.
Poskan Komentar