Translate

Jumat, 10 Mei 2013

BUAH FANATISME PARTAI ADALAH NERAKA

ليس مِنّا مَنْ دعا إلى عصبيّة, وليس مِنا مَن قاتل على عصبيّة, وليس مِنا مَن مات على عصبيّة “Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada fanatisme kesukuan, Bukan termasuk golongan kami orang yang berperang demi fanatisme kesukuan, Bukan termasuk golongan kami orang yang mati atas nama fanatisme kesukuan” Pernahkah terpikir dalam benak kita, bahwa saat ini kita dalam anugerah terindah yaitu dalam ajara islam, kita dalam tengah-tengah anugerah yang paling agung yaitu agama islam, kita dalam anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang maha bijak sana, dimana lewat Nabi-Nya Allah mengajarkan kita hidup damai, kasih sayang, tidak fanatik terhadap satu suku, golongan, etnis. Seluruh jenis manusia yang ada di muka bumi ini berkedudukan sama, sebagai khalifah yang bertugas memakmurkan kehidupan. Islam melarang yang namanya fanatisme, apapun bentuknya. Bahkan Islam pun mencela “Qotzma” sebagai “sang pahlawan neraka”. Adalah Sahabat Nabi yang harum namanya dalam kalangan pasukan islam saat itu, beliau adalah “Primadona perang”. Tidak seorang pun di antara sahabat yang dapat menandingi kehebatan Qotzman. Tapi sayang beliau berperang tidak untuk mengagungkan kalimah Allah atau atas nama agama Islam, tapi sebaliknya beliau berperang menurut Rasulullah S.A.W. sebelum dia mati, Qotzman mengatakan, katanya, “Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak karena itu, aku tidak akan berperang.” Alkisah; Setelah berjihad dalam perang Uhud, Nabi Muhammad dan para sahabat telah berkumpul dan membincangkan tentang pertempuran yang telah lewat itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di dalam benak mereka. Dalam perbincangan itu, mereka sangat kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka, yaitu Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor harimau lapar yang ingin terus memangsa musuh. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah bibir di kala itu. Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, “Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka.” Lalu pertanyaannya bagaimana dengan realita yang ada pada bangsa kita ini ?. Sebagaimana kita lihat pada setiap kampanye Pemilu di zaman Orde Baru yang selalu menelan korban jiwa dan harta sebagai akibat dari fanatisme buta terhadap sebuah partai. Demikian pula halnya pada Pemilu yang akan dilaksanakan pada tahun mendatang, dimana setiap partai politik peserta Pemilu akan bersaing guna mencari dukungan masyarakat yang sebesar-besarnya ketika masa kampanye mulai berjalan, maka masalah fanatisme akan muncul kembali, potensi terjadinya konflik antar pendukung partai sangat besar. Lalu bagaimana dengan korban-korban yang ada, apakah mereka lebih mulia dari pada Qotzman?. Marilah kita berfikir sejenak, kita merenung sesaat.

Tidak ada komentar: