
Pastikan hari-hari anda lebih bermanfaat dengan kami, dan jadilah bijak setelah mengunjungi blog kami. (Mohammad Zajery el Nuri)
Translate
Rabu, 22 Mei 2013
QONA’AH

Aspek Kepemimpinan Wanita

Jumat, 17 Mei 2013
LINGKARAN HIDUP

MENGAPA KITA MEMINTA TUHAN YANG BUKAN MILIK KITA?
Sering manusia itu bersikap kurang bijak, banyak waktu yang mereka lakukan untuk berdoa pada Tuhan, hanya agar dijadikan yang nomor satu. Menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap event, untuk mengabulkan setiap permintaan hanya karena sebuah kemenangan, entah perebutan tender atau perebutan kursi kekuasaan, atau hanya sebatas ujian.
Sadarkah kita? dengan sikap kita meminta pada Tuhan agar dijadikan nomer satu, tidak secara langsung kita telah mendo’akan lawan kita supaya kalah. Sepertinya kurang adil bila kita memohon pada Tuhan untuk menolong kita mengalahkan orang lain. Padahal kemenangan tersebut belum tentu milik kita.
Dan mestinya yang kita minta dari Tuhan agar diberi kekuatan saat menghadapi itu semua. Kita berdoa agar di beri kemulyaan, dan menyadari kekurangan dengan rasa percaya diri.
Alangkah bijaknya jika kita mengadu pada Tuhan; supaya kita diberi rasa bersyukur terhadap apa yang akan kita perolih (sebuah kemenangan) dan mampu menjaga nikmat tersebut. Dan agar kita diberi kesabaran, lapang dada, jika kenyataannya tidak sesuai dengan keinginan kita (Kalah) serta tidak putus asa.
Karena tujuan kita dalam mengarungi kehidupan ini dan menjawab setiap tantangan yang sebenarnya bukanlah untuk mendahului atau mengalahkan pencapaian orang lain. Lebih dari itu, tujuan kita adalah untuk melampaui diri kita sendiri, untuk memecahkan rekor yang telah kita buat, atau poin yang kita perolih pada hari kemarin dengan hari ini.
مَنْ كانَ يَوْمُهُ خَيْراً مِنْ أمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ مَنْ كان يومه سوأً مِنْ أمْسِهِ فهو خُسْرانٌ مَنْ كان يَوْمُه شرّاً مِنْ أمْسِهِ فهو هالكٌ
“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari pada hari kemarin, maka mereka tergolong orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dari pada hari kemarin, maka mereka tergolong orang yang merugi. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin, maka mereka tergolong orang yang celaka”
Sejauh ini tak banyak manusia yang faham betul arti sebuah kemenangan, sebuah keberhasilan. Seorang pemenang sejati bukanlah mereka yang bangga diri, bukan Messi, bukan pula Roony dan juga bukan Ronaldo yang kesemuanya tak jarang merayakan kemenangannya, dengan meluapkan emosinya sesaat setelah mencetak gool, bahkan terkada merayakannya degan cara mengejek lawan. Tapi pemenang yang sejati adalah mereka yang berjiwa besar, tidak bangga dengan pencapaian.
Pemanang sejati bukanlah seseorang yang telah mengalahkan sesuatu, akan tetapi pemenang sejati adalah seseorang yang berani mengalah demi melawan nafsu dan menghinakannya. Anda tau mengapa? Karena di dalam diri kita yang terdalam, kita tahu dan kita faham betul bahwa: Dalam kehidupan ini tak ada yang jauh lebih berharga, tak ada sesuatu yang lebih mulia dari pada kemenangan bersama, kemenangan bagi kita semua, yang terpenting dalam kehidupan ini adalah tolong menolong dalam meraih kemenangan, meski kita harus mengalah .
Wallahu A’lam bis Showab
Rabu, 15 Mei 2013
KHUTBAH KEDUA

الخطبة الثانية
الحمد لله مالكُ المُلْكِ وهوعلي كلِّ شئٍ قديرٌ، أشهد أن لا إله إلالله وحده لا شريك له وأشهد أنّ سيّدَنا محمدا عَبْدُهُ ورَسُوْلُه لانبيَ بَعْدَهْ، أَفْضَلُ بَشِيْرٍ
وخَيْرُ نَذِيْر،
اللهم صل وسلم علي عبدك ورسولك وحبيبك محمدٍ وعلي أله و صحبه أجمعين
أمابعد ،
فياعباد الله ، نُقِل عن بعض العارفين بالله قوله : إن الكيس - الفطن الذكي - مَنْ لاتَزِيدُهُ النِعَمُ إلّا إنْكِسَاراً وذُلّاً وتَوَاضُعاً ومَحَبّةً للمُنْعِم ، وكُلَّمَا جدَّدَ له نعمةً أحْدَثَ لَها عُبُودِيةً وخُضُوعا، فكونوا يا عبادَالله مِمَّنْ لاتَزِيْدُه النِعَمُ إلّاطاعَةً لِلّه ، وإِقْبَالاً عَليه وتَوَجُّهاً إليه ، ولا تكونوا مِمَّنْ أبْطَرَتْهُ النِّعْمَة ، واتَّبَعَ هَوَاهُ فكان مِنَ الْغاوِيْنَ .
وصلوا علي رسول رب العالمين سيدنامحمدٍالنبِيّ الأمين, وفقدأمركم اللهُ بِذَلِكَ فى كِتابِهِ اْلـمُبِيْن - إنَّ الله ومَلائِكَتَهُ يُصَلّون علي النبي يا ايها الذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما
اللهم صل وسلم علي عبدك ورسولك وحبيبك محمدٍ البشير النذير والسراج المنير, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفاءِ الرّاشِدِيْن , سَادَاتِنا ابي بكرٍ وعمرَ وعثمانَ و علِي , وعن بَقِيَّةِ صَحابَةِ رسولِ اللهِ اَجْمَعِين , والتابِعينَ وتابِعِي التّابِعين وعَلَيْنا مَعَهُم وفيهم , برَحمتك يا ارحم الراحمين.
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات, والمسلمين والمسلمات, الاحياء منهم والاموات, انك سميع قريب مجيب الدعوات, يا قاضي الحاجات، يا غافر الذنوب والخطيئات ,يا أرحم الراحمين
.
اللهم أعزّالإسلام والمسلمين.(3) وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّين , ودمِّرِ اليَهُدَى وأعوانَهُم من المُسْتَعْمِرِين, وألِّفْ بين قلوبَ المؤمنين وَوَحِّدْ صُفوفَهم, وأصلِحْ قادَتَهم واجْمَعْ كلمتَهم على الحقِّ ياربّ العالمين,
أللَّهُمَّ يَسِّرْ لَنَا أُمُوْرَنَا مَعَ الرَّاحَةِ لِقُلُوْبِنَا وَأَبْدَانِنَا وَالسَّلاَمَةِ وَالْعَافِيَةِ فِي دِيْنِنَا وَدُنْيَانَا وَكُنْ لَنَا صَاحِبًا فِي سَفَرِنَا وَحَضَرِنَا وَخَلِيْـفَةً فِي أَهْلِـنَا, وَاطْمِسْ عَلَى وُجُوْهِ أَعْـدَائِنَا وَامْسَخْهُمْ عَلَى مَكَانَتِـهِمْ فَلاَ يَسْتَطِيْعُـوْنَ الْمُضِيَّ وَلاَ الْمَجِئَ إِلَيْـنَا.
أللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ مَانَحْنُ فِيْهِ وَمَا نَطْلُبُـهُ وَنَرْتَجِيْـهِ مِنْ رَحْمَتِكَ فِي أَمْرِنَا كُلِّهِ فَيَسِّرْ لَنَا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ سَفَرِنَا وَمَا نَطْلُبُهُ مِنْ حَوَائِجِـنَا وَقَرِّبْ عَلَيْنَا الْمَسَافَاتِ وَسَلِّمْنَا مِنَ الْعِلَلِ وَاْلآفَاتِ وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّـنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .
ربنا ا تنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار . سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عباد الله !! ان الله يامر بالعدل والاحسان , وايتاء ذي القربي وينهي عن الفحشاء والمنكر والبغي , يعظكم لعلكم تذكرون , ولذكر الله اكبر , والله يَعلَم ما تصنعون.
Doa agar dikaruniai Anak Sholih/Sholihah

Do’a kehamilan (untuk ibu hamil agar dikaruniai anak sholih/sholihah) dibaca setiap sujud sholah.
atau kalau tidak mampu membaca dalam shalat boleh dibaca setiap pagi dan sore sambil mengusap-usap perutnya.
.رَبِّ هَبْ لِى مِنَ الصَّالِحِيْن
.لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحاً لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الشَّاكِرِيْنَ
.وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيَّا
-.رَبِّ إِنِّى أُعِيْذُهُ بِكَ وَذُرِّيَّتَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ وَلَدًا صَالِحاً بَارًّا لِوَالِدَيْهِ قُرَّةَ عَيْنٍ لَهُمَا
.رَبِّ هَبْ لِى مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً,إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاء.
اللَّهُمَّ ارْزُقْ لَهُ الصَّلاَحَ وَالنَّجَابَةَ وَالذَّكَاءَ وَحِفْظَكَ لَهُ فِيْهِ
-.اللَّهُمَّ حَسِّنْ خَلْقَهُ وَخُلُقَهُ يَامُصَوِّرْ يَاحَكِيْم، اللهمّ يَسِّرْ وِلاَدَتَهُ بحَقِّ ( ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَة x7) مَعَ السَّلَامَةِ وَالْلُطْفِ وَالْعَافِيَةِ بِجَاهِ خَيْرِ اْلبَرِيَّةِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
Do’a persalinan (agar peralinannya di permudah) dibaca waktu melahirkan.
-.حَنَّةْ وَلَدَتْ مَرْيَـمَ , مَرْيَـمُ وَلَدَتْ عِيْسَى, أُخْرُجْ أَيُّهَا الْمَوْلُوْد بِقُدْرَةِ الْمَلِكِ الْمَعْبُوْد
-
.اللًّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ, سَهِّلْ وَيَسِّرْ مَاتَعَسَّرْ
Do’a klimaks: di baca saat klimaks (keluar mani)
ربِّ وَسِعْتَ كُلَّ شَيْئٍ عِلْماً
Do’a agar cepat dikaruniai anak:
وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri[968] dan Engkaulah waris yang paling Baik (Q.S Al Anbiya’ :89)
Minggu, 12 Mei 2013
Ajaran Wafa' (Loyalitas) dalam Pertemanan
Sungguh Rosululloh Shollllohu 'Alaihi Wasallam senantiasa mengawasi dan merawat hati kaum muslimin. Menanamkan di sana tanaman-tanaman kesetiaan (al-wafa') dalam setiap kesempatan. Kepada mereka Beliau terus-menerus memperdengarkan petunjuk dan pengarahan. Ini karena wafa' merupakan salah satu konsekuensi dari kecintaan karena Alloh yang menjadi syarat kesempuranaan iman. Dan kiranya sudah tidak diragukan lagi bahwa masyarakat Islam sangat membutuhkan sesuatu yang bisa menguatkan hubungan dan mengikat setiap individu di antara mereka.
Di anatra wafa' adalah berbuat baik (ishthina'ul ma'ruf) yang merupakan sebab utama dan pintu terdekat guna memperkuat hubungan cinta sehingga Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam memberikan dorongan agar dilakukan dan selalu dirindukan serta dicari kesempatan untuk melaksanakannya dengan berbagai model dan bentuk yang dimiliknya yang antara lain seperti berikut ini:
Jangan kamu meremehkan sedikit dari kebaikan meski kamu hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri. (H.R. Muslim)
Barangsiapa menunjukkan kebaikan maka baginya seperti pahala orang yang melakukan. (H.R. Ahmad Muslim, Abu Dawud dan Turmudzi)
Semua kebaikan adalah sedekah. (H.R. Ahmad Muslim dan Abu Dawud)
Barangsiapa yang membawa kebaikan kepadamu maka berikanlah balas jasa. Jika tidak menemukan (apapun ntuk membalas) maka berdoalah untuknya. (H.R. Thobaroni)
Alloh senantiasa menolong hamba selama hamba itu mau menolong saudaranya. (H.R. Turmudzi)
Dan sebagai wujud perhatian penuh Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam akan kesetiaan pertemanan ini, maka beliau memberikan petunjuk guna mengimpelementasikannya dalam dunia nyata. Petunjuk ini antara lain:
1. Beliau menghidupkan ikatan perasaan dan kesatuan hati di antara para sahabat. Misalnya, Beliau menyuruh agar Sulek Al Ghothofani bangkit dan melakukan sholat di tengah banyak orang sehingga semua mata tertuju ke arahnya dengan pandangan penuh simpati dan kasihan.
2. Beliau membagi tugas di antara mereka hanya dalam urusan seekor kambing yang dipotong di tengah berwisata (rihlah) dan kebetulan beliau sendiri bertugas mengumpulkan kayu bakar.
3. Beliau mengajarkan kepada kita Sholawat Ibrohimiyyah karena memperhatikan dan memandang permohonan Nabi Ibrohim 'Alaihissalam:
وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآَخِرِينَ
Dan jadikan untuk saya sebutan baik di kalangan orang-orang yang terakhir. (Q.S. Asy Syuaro' : 84)
Beliau juga memerintahkan agar kesetiaan mencakup teman-teman akrab orang tua. Beliau bersabda: Sesungguhnya bakti yang paling utama adalah seseorang menyambung teman akrab ayahnya. (H.R. Muslim)
4. Beliau menyembelih kambing, memotong-motong dan kemudian mengirimkannya kepada teman-teman Khodijah RA. Hal inilah yang sempat membuat Aisyah RA marah karena cemburu dan mengatakan, 'Aku tidak pernah cemburu kepada salah satu isteri Rosululloh Shollalohu 'Alaihi Wasallam seperti aku cemburu kepada Khodijah RA. Aku tidak pernah melihatnya sekalipun, tetapi Rosululloh seringkali menyebutnya." Terkadang Beliau menyembelih kambing, memotong, dan lalu membagi-bagikan kepada teman-teman Khodijah. Terkadang aku berkata, "Sepertinya di dunia ini tidak ada wanita kecuali Khodijah!"
Beliau lalu bersabda, "Dia begini dan begini dan darinya aku mendapat anak." (H.R. Muslim)
Itulah ajaran Islam, wafa' yang tiada bandingnya yang manfaatnya menyeluruh dan bisa dirasakan teman-teman yang jauh, apalagi teman yang dekat. Dan sudah pasti hal ini adalah buah dari pembinaan dan kaderisasi untuk mencetak pribadi yang istimewa dalam anggota jamaah.
Perbuatan baik bisa menjaga pelakunya dari kejelekan dan menolak darinya bencana dan keburukan. Jadi, dengan kebaikan maka pelaku kebaikan berada dalam benteng yang kokoh dan tempat perlindungan yang aman. Pemilik kebaikan di dunia adalah pemilik kebaikan di akhirat. Nama mereka dikenal dan dipanggil di hadapan banyak mata seperti disabdakan Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam:
Pekerjaan baik bisa menjaga dari mati su'ul khotimah, afat dan kerusakan. Pemilik kebaikan di dunia adalah pemilik kebaikan di akhirat. (H.R. Hakim dalam Al Mustadrok)
Muslim adalah saudara muslim; tidak mendzolimi, dan tidak pula menghinakannya. Barangsiapa dalam kebutuhan saudaranya maka Alloh ada dalam kebutuhannya. Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari orang beriman maka Alloh pasti menghilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa menutupi seorang muslimmaka Alloh pasti menutupinya pada hari kiamat. (H.R. Muslim)
Maksud tidak menghinakannya adalah tidak menjatuhkannya dalam kehancuran serta memberikan pertolongan kepadanya.
Pintu-pintu dan jalan kebaikan begitu banyak dan luas yang tiada kewajiban bagi kita kecuali melakukannya dengan semangat, ikhlas dan jujur. Sebab, penerimaan (qobul) hanya didapatkan dengan kejujuran bersama Alloh dan bila sudah didapatkan maka yang kecil menjadai besar, yang sediit menjadi banyak, dan yang terakhir menjadi dahulu. "Itulah anugerah dari Alloh dan cukup Alloh sebagai Dzat Yang Mencukupi.
"
Kaum muslimin dalam pandangan Islam laksana bangunan yang batu batanya saling bertaut dan menyatu. Para kader umat ini adalah tak ubahnya seperti bata-bata yang dimilikinya harus kuat dan kokoh, bersatu, dan menyatu dalam keterpautan yang kuat. Jika tidak, berarti dalam kondisi akan roboh. Karena inilah Islam membalut bata-bata tersebut dengan balutan yang kuat berupa semen kekuatan ruhiyyah dengan harapan keterikatan dan keterpautan bisa dijaga dan dilestarikan demi langgengnya kekuatan bangunan kaum muslimin dan tidak tergoyahkan oleh kejadian dan tantangan apapun. Dikatakan:
Wahai para putera Islam, sungguh kita semua adalah satu tubuh. Jika satu anggota mengeluh sakit maka seluruhnya merasakan panas.
Sabtu, 11 Mei 2013
MINTA 1% DIBERI 100%

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S Ar Rahman :13)
Sebagai seorang muslim yang terbina hendaklah kita menyadari, dan meningkatkan mutu ketakwaan kita dan menjadikan Allah sebagai tujuan hidup, semua ini sangat ringan untuk diucap, namun tidak mudah melakukannya. Betapa banyak orang yang fasih mengatakan takwa, namun prilakunya jauh dari kata-kata yang dia ucapkan. Kita akan lebih mudah memahami persoalan ini dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari ketika telah tumbuh jiwa syukur dalam hati kita. Dengan memahami betapa pemurahnya Allah terhadap diri kita, betapa banyaknya anugrah yang telah dicucurkan pada kita, dengan bersyukur beban seberat apapun insya Allah akan terasa ringan dipikulnya.
Allah telah menciptakan dan memelihara kita dengan limpahan karunia-Nya. Allah yang mendetakkan jantung kita, Allah pula yang menakdirkan kita menjadi manusia seperti ini. Allah telah membentuk dan memformat kita dengan rupa dan keadaan yang sebaik-baiknya.
Sering kali kita melupakan kemurahan Allah, setiap kita minta kepada-Nya agar dihilangkannya satu beban, betapa Allah justru menghilangkan beberapa beban. Kita minta kesembuhan sakit mata kita, Allah pun menyembuhkannya dan memberi kesehatan pula anggota tubuh kita yang lain, Kita meminta satu permintaan, tapi Allah mengkabulkan permintaan tersebut dengan menyertakan 99 pemberian tanpa kita minta. lalu nikmat mana yang hendak kita ingkari?.
Kita melakukan satu kebaikan Allah pun membalasnya dengan sepuluh pahala kebaikan, bahkan lebih. Tapi dikala kita melakukan satu keburuk, Allah hanya membalasnya denga satu keburukanpul, atau malah mengampuninya. Lalu nikmat mana yang hendak kita ingkari?
Allah berfirman dalam sebuah Hadis kudsi; “Yabna Adam, selama engkau masih mau memohon dan berharap pada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosa yang ada pada dirimu, Aku tidak peduli (Sebanya apa dosa itu). Yabna Adam andai saja dosamu sebanya awan yang ada di langgit, lalu engkau masih mau meminta ampun terhadap-Ku, maka Aku akan mengampuninya. Yabna Adam andai saja engkau mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, lalu engkau menemui Aku tanpa mensekutukan Aku, maka Aku akan berbuat sama terhadapmu dengan sepenuh pengampunan” (dikeluarkan oleh At Tirmidzi, Juz: 5 Hal: 3540)
Di Hadis yang lain Allah berfirman “Satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat atau lebih, satu kejelekan akan dibalas dengan satu kejelekan atau Aku ampuni, barang siapa yang menemui-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi maka Aku akan berbuat sama terhadapnya dengan sepenuh pengampunan” (di keluarkan Imam Ahmad juz: 5 Hal: 155, kedudukan Hadis Hasan).
Coba renungkan pula dikala kita lapar, Allah yang menyediakan makan. Di kala lelah, Allah memberi kita rasa kantuk, lalu kita tertidur dengannya. Tatkala tidur, kita tak berdaya, dan Allah mengutus Malaikat-Nya agar menjaga dan menentramkan tidur kita, lalu nikmat mana yang hendak kita ingkari?.
Andai bukan Allah, siapa lagi yang memberi rasa nyenyak ketika tidur? Allah-lah yang telah menjaga segala-galanya. Sungguh, Dia tidak pernah lalai dalam mengurus kita semua. Dia memberi kita kecerdasan, walaupun bisa jadi kita jarang mengingat-Nya. Allah pulalah yang memberi keimanan kepada kita. Di kala sebagian manusia hidup dengan tidak mengenal Islam, tidak mengenal agama.
Dia-lah memudahkan punggung kita rukuk, dan Dia tundukkan kening kita untuk melakukan sujud. Sungguh, nikmat mana lagi yang akan kita dustakan?
Allah memberi kepada kita nikmat yang amat berharga. Dia berkenan menutupi aib-aib kita, sehingga orang lain tidak tahu siapa diri kita yang sebenarnya. Orang lain masih ada yang menunduk dan menghormat kepada kita, padahal kita sendiri sangat tahu siapa sebenarnya diri kita ini. Allah tidak membeberkan catatan-catatan buram itu, malah Dia memberi kesempatan pada kita untuk bertaubat.
Dikala orang bergelimpang dengan dosa, kita malah dituntun agar bisa untuk bertaubat. Dari mana semua itu bermula? Tidak ada jawaban lain selain karena kemurahaan Allah saja. Maka alangkah nistanya andai kita sudah dijamu lahir-bathin, tenggelam dalam samudra nikmat yang tak bertepi, lalu kita mengkufuri semua kebaikan itu. Sudah sewajarnya jika kita harus membulatkan tekad meniti hidup semata-mata hanya untuk Allah. Tetes-tetes keringat keluar dari tubuh kita adalah untuk Allah. Allah-lah tujuan kita, Allah pemberi yang tidak pernah putus kemurahan-Nya. Dia ampunkan dosa-dosa melimpah yang selama ini kita perbuat. Cukuplah Allah menjadi sebaik-baik Wakil, sebaik-baik Pelindung dan Penolong.
Jadi sebenarnya apa-apa yang kita pinta dari Allah hanyalah 1% saja dari 100% pemberian-Nya, dan yang 99% adalah pemberian Allah kepada kita secara Cuma-Cuma, itu adalah kemurahan-Nya, agar manusia sekalian mau bersyukur. Lalu nikman mana yang hendak kita kufuri?.
“Apabila kamu diberi sesuatu tanpa kamu minta maka pergunakanlah (makanlah) dan sedekahkanlah sebagiannya (sebagai ungkapan rasa syukur)”. (HR. Muslim)
Wallahu A’lam Bis Showab.
Jumat, 10 Mei 2013
KOLABORASI MANUSIA DAN SETAN MENYERU KE NERAKA JAHANAM

BUAH FANATISME PARTAI ADALAH NERAKA

Rabu, 08 Mei 2013
LARANGAN MEMINTA JABATAN (kepemimpinan) serta AMBISIUS memperolehnya
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
“Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (Q.S Muhammad :22)
Kata ( إنْ تَوَلّيْتُم ) dari akar kata ( التَوْلِيّة ) yang berarti ( طَـلَبُ الوِلايَة / mencari kekuasaan).
Sementara dalam hadis Rasulullah saw. Menjelaskan akan larangan meminta atau menawarkan diri sebagai pemimpin, atau larangan berambisi meraih kedudukan tersebut. Dari Abu Musa ra., ia berkata: Aku menemui Nabi saw. bersama dua orang lelaki anak pamanku. Seorang dari keduanya berkata: Wahai Rasulullah, angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah kekuasaanmu yang telah diberikan Allah azza wa jalla! Yang satu lagi juga berkata seperti itu. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun yang meminta sebagai pemimpin atas tugas ini dan tidak juga seorang yang berambisi memperolehnya. (Shahih Muslim) Sementara realita yang kita temui saat ini, betapa para pemimpin-pemimpin kita semuanya mencalonkan diri, seolah-olah layaknya perlombaan. Mereka berasumsi "berlomba atau berebut dalam memperoleh kekuasaan adalah tren, dan sudah menjadi budaya". Saking berebut-nya orang-orang untuk menjadi penguasa, terkadang kekuasaan benar-benar tampil menjadi komoditi yang tidak murah, butuh pengorbanan jiwa maupun harta, baik untuk menduduki tahta Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, para anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mau pun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Orang yang demikian tidak ada niatan khidmah (Pengabdian diri) sama sekali pada Negara, benak mereka hanya dipenuhi kekuasaan saja, tak lebih dari itu. Maka Allah mengolok-olok mereka yang gila akan kekuasaan dengan berfirman “Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”. Itu dikarenakan sikap ambisius mereka dalam memdapatkan jabatan tersbut, karena jabatan kepemimpinan adalah amanah yang agung, amanah yang berat untuk dijaganya, yang pantas disandang oleh mereka yang berniat baik, berniat mengabdi pada Bangsa da Agama. dan tentunya Allah pasti akan menumbangkan para pemimpin-pemimpin yang ambisius. Semoga bangsa kita ini di bersihkan dari karakter pemimpin yang ambisius, hingga Allah menjadikan Bangsa ini, Bangsa yang gemah ripah loh jinawi. Amiiin.
Kata ( إنْ تَوَلّيْتُم ) dari akar kata ( التَوْلِيّة ) yang berarti ( طَـلَبُ الوِلايَة / mencari kekuasaan).
Sementara dalam hadis Rasulullah saw. Menjelaskan akan larangan meminta atau menawarkan diri sebagai pemimpin, atau larangan berambisi meraih kedudukan tersebut. Dari Abu Musa ra., ia berkata: Aku menemui Nabi saw. bersama dua orang lelaki anak pamanku. Seorang dari keduanya berkata: Wahai Rasulullah, angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah kekuasaanmu yang telah diberikan Allah azza wa jalla! Yang satu lagi juga berkata seperti itu. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun yang meminta sebagai pemimpin atas tugas ini dan tidak juga seorang yang berambisi memperolehnya. (Shahih Muslim) Sementara realita yang kita temui saat ini, betapa para pemimpin-pemimpin kita semuanya mencalonkan diri, seolah-olah layaknya perlombaan. Mereka berasumsi "berlomba atau berebut dalam memperoleh kekuasaan adalah tren, dan sudah menjadi budaya". Saking berebut-nya orang-orang untuk menjadi penguasa, terkadang kekuasaan benar-benar tampil menjadi komoditi yang tidak murah, butuh pengorbanan jiwa maupun harta, baik untuk menduduki tahta Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, para anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mau pun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Orang yang demikian tidak ada niatan khidmah (Pengabdian diri) sama sekali pada Negara, benak mereka hanya dipenuhi kekuasaan saja, tak lebih dari itu. Maka Allah mengolok-olok mereka yang gila akan kekuasaan dengan berfirman “Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”. Itu dikarenakan sikap ambisius mereka dalam memdapatkan jabatan tersbut, karena jabatan kepemimpinan adalah amanah yang agung, amanah yang berat untuk dijaganya, yang pantas disandang oleh mereka yang berniat baik, berniat mengabdi pada Bangsa da Agama. dan tentunya Allah pasti akan menumbangkan para pemimpin-pemimpin yang ambisius. Semoga bangsa kita ini di bersihkan dari karakter pemimpin yang ambisius, hingga Allah menjadikan Bangsa ini, Bangsa yang gemah ripah loh jinawi. Amiiin.
Selasa, 07 Mei 2013
RINTIHAN LIRIH PARA PENDOSA

PUISI RESAH

Malam yang sepi, Sunyi, aku sendiri,
Di temani galau dan bosan,
Tuhan...
aku ingin hadirnya, Aku ingin dia tau, meski hanya Sebatas tau,
Tuhan...
apakah dia merasa, Apa yang aku rasa.
Meski hanya sesaat,
Setidaknya Aku sempat mendarat Di hainya,
walau hanya sekejap,
Setidaknya dia pernah mengecap Rasa rinduku yang telah sarat.
Tuhan...
aku ingin malam ini Dia hadir, sekalipun dalam mimpi.
Tuhan...
kenapa rinduku tak kunjung reda Sementara jasatku molai terlena,
Oleh janji mimpi yang tak nyata,
Hai... kau yang disana,
Kenapa kau bisu menggoda??
Apa itu yang kau ingin, Agar jiwa ini semakin Resah,
Aku pasrah.
Hai...kau yang pengobral pesona,
apa saat ini kau merasa bangga.
Jombang 31 – 3 – 2012
DO'A SETELAH ADZAN

Enjoy aja kali'

Senin, 06 Mei 2013
PUTUS ASA

HARAPAN (CITA-CITA)

ANTARA ANJING DAN SEBATANG JARUM

Sabtu, 04 Mei 2013
MASYARAKAT IMPIAN

Jumat, 03 Mei 2013
ANTARA PUJIAN DAN CELAAN

Langganan:
Postingan (Atom)