Pastikan hari-hari anda lebih bermanfaat dengan kami, dan jadilah bijak setelah mengunjungi blog kami. (Mohammad Zajery el Nuri)
Translate
Kamis, 14 November 2013
TAJNID
Keberhasilan Nabi Muhamad SAW tidak bisa lepas dari sisi kesuksesan beliau di dalam membentuk generasi penerus yang shalih yang ahli mengemban tugas dakwah, di samping tiga sisi kesuksesan beliau yang lain, yaitu sisi keagungan kepribadian, sisi kepemilikan program yang luhur, serta sisi kemampuan melaksanakan program yang luhur itu.
Kesuksesan membentuk generasi penerus tersebut ditunjang oleh sistem kaderisasi yang istimewa yang dikenal dengan nama tajnid. Sistem tajnid adalah pola pembentukan anak buah, dimana anak buah (anggota) bisa menjadi pendamping setia (pengikut dan pembela), pelaksana taujih (arahan) dan penyebar taujih kepada orang lain. Dengan bekal bashirah, hikmah, kemampuan menggali potensi, kemampuan menyelesaikan konflik, kemampuan menundukkan dan kemampuan berhujjah. Nabi Muhammad mampu menciptakan ikatan ruh yang kuat pada setiap anak buah sehingga tumbuh kebersamaan gerak di dalam dua hal di bawah ini :
1) Semangat memberikan (wasilah) hidayah kepada orang lain.
2) Mencintai jihad dan mujahadah di jalan dakwah.
Nabi SAW bersabda :
“Ruh-ruh itu adalah pasukan yang dikumpulkan. Apa saja dari ruh-ruh itu yang saling cocok, maka akan mengikat, dan apa saja dari ruh itu yang salig tidak cocok, maka akan menjauh.” (HR. Bukhari, Sindy, II/229)
***
Ada tiga modal yang menjadi kunci kesuksesan pembentukan generasi penerus melalui sistem tajnid ini:
1) Perhatian yang besar terhadap takwin individu, tidak cukup hanya takwin secara jama’i. Ini karena individu yang telah matang, ia bagai bibit yang akan bisa menumbuhkan hasil yang bagus. Ia berpengaruh di dalam keluarganya, juga di lingkungannya, ibarat bangunan, kekuatanya ada pada pondasi dan bahannya, bukan pada bentuk luarnya.
2) Pandai mengambil kesempatan mendidik dan kesesuaian dimana taujih, mau’idhah, dan tau’iyah lebih bisa masuk ke hati, dengan disertai kesiapan mental yang besar di dalam. Ibarat siraman air, ia bisa cepat masuk pada tanah yang gembur, bukan tanah cadas. Dalam hal ini ada contoh, seorang setiap kali terlihat meminta sedekah di masjid sedang ia mampu bekerja, Nabi Muammad SAW lalu tanya harta apa yang ada dirumahnya, ia menajwab tikar dan gelas. Beliau lalu menyuruh melelang kedua harta itu. Dari nilai lelang, ia dapatkan 2 dirham lebih. Dengan 1 dirham, beliau menyuruhnya membelikan makan keluarganya, sedangkan sisanya untuk membeli kapak guna mencari kayu. Setelah lima belas hari, ia datang kepada Nabi. Ternyata dari hasil mencari kayu ia bisa menyisihkan 10 dirham selain dirham yang dipakai untuk makan keluarganya. Pada kesempatan itu, beliau memberi pelajaran yang bermanfaat yang sangat tepat waktunya, dengan sabda beliau:
“Ini lebih baik bagimu daripada kamu datang pada hari kiamat sedangkan dimukamu ada noda hitam.” (HR. Ibnu Majah, bab Ba’i Al-Muzayadah, II/19).
Arahan agar beriltizam kepada rutinitas amal-amal wajib dan setiap amal yang penting yang membangun sekalipun sedikit. Ibarat pasir dapat membentuk gunung dan tetesan air dapat membentuk lautan.
Sistem tajnid ini yang menjadi keunggulan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh dunia diatas tokoh-tokoh dunia yang ada. Wafatnya beliau tidak berarti matinya program dakwah yang beliau dakwahkan, malah setelah wafat, program besar beliau (dakwah) menjadi sebuah program yang berkembang luas secara cepat. Sistem tajnid ini kemudian diwarisi oleh sahabat, dibuktikan bahwa masing-masing sahabat dikerubuti oleh banyak manusia yang siap menyertainya.
Oleh karena sangat perlunya pola kaderisasi untuk kesuksesan aktifitas dakwah, maka upaya tajnid merupakan hal mendesak yang mesti harus dilaksanakan oleh masing-masing dari Jama’ah Dakwah kita.
BAINAL ASAS WAL HADAF
Kondisi Lemah
Kini kondisi Ummat berada pada posisi lemah. Ummat belum mempunyai kekuatan yang layak dibanggakan untuk mentanfidz Syari'at secara Kaaffah. Dakwah Islamiah belum bisa sampai kepada tahap اخذالحكم (Penerapan hukum). Oleh karena itu dalam kedaaan demikian boleh masuk ke semua lini (dalam rangka berdakwah secara tadarruj) demi memperbanyak dan memperkokoh sawad (kelompok) ummat Islam, sebagaimana pernah dilakukan oleh Sayyidina Abbas yang menjadi tokoh dibalik keberhasilan Baiatul Aqabah antara Rosululloh dengan sahabat Anshar.
Intikhob Aam
Tidak lama lagi ada Intikhob Aam. Hal-hal dibawah ini perlu diperhatikan :
a. Sistem di negeri ini bukan Islam, walaupun mayoritas penduduknya muslim. Dalam hal ini, Intikhob Aam sebagai pelakasanaan demokrasi bukanlah Islami.
b. Mengingat kondisi Ummat dalam posisi lemah, dan posisi kelompok ummat Islam perlu diperkuat, maka kita boleh masuk sistem itu untuk mempersiapkan dan memperkokoh barisan اقامةالصف
c. Diantara tiga Al-Hizib Al Musytarik, yang paling dekat kepada Islam adalah حزب الاتحادالتعميري , maka layak mendapatkan dukungan sebagai balas jasa atas sikap pembelaannya terhadap ummat Islam lewat parlemen selama ini. Di mana hal itu tidak dijumpai pada dua Al Hizib Al Musytarik lainnya. Ia juga satu-satunya Al Hizib Al Musytarik yang khas ummat Islam, maksudnya basis massanya jelas muslim. Sementara dua Al Hizib Al Musytarik yang lain basis massanya tidak jelas (muslim dan kafir)
Dukungan ini diberikan sebatas niatan untuk تكثيرسوادالمسلمين (memperbanyak kemlompok ummat Islam). Rosululloh bersabda :
من كثر سواد قوم فهو منهم رواه ابو يعلي عن ابن مسعود
"Barangsiapa memperbanyak kelompok suaru kaum, maka ia termasuk kaum itu."
(HR. Abu Ya'la dari Ibnu Mas'ud)
Tetapi pada sisi lain, حزب الاتحاد التعميري merupakan hasil rekayasa dari sistem. Di mana ia ada sebagai pelengkap proses Demokrasi yang menuntut adanya lebih dari suatu Hizib. Ia hanyalah alat daripada sisitem kekuasaan untuk mendiskriditkan peran Islam yang telah dimulai sejak Ummat Islam sukses pertama merebut kemerdekaan tahun 1945 dan sukses kedua memusnahkan PKI tahun 1965. Proses pendiskriditan terus berlanjut hingga berfusinya Hizib-Hizib Islam (NU, Parmusi, Perti, PSI, dll) pada awal Orde Baru menjadi حزب الاتحادالتعميري , bersamaan penggembosan dengan munculnya slogan : Islam Yes, Partai Islam No.
Hasil rekayasa itu pun kini terbukti dengan :
1. Ditanggalkannya simbol Ka'bah menjadi bintang.
2. Tidak berazaskan Islam.
3. Dijadikan sebagai alat memecah belah Ummat menajdi berbagai golongan yang saling bertentangan.
4. Keberadaan Syakhsiyah-Syakhsiyah Mublawwarah yang jauh memahami sistem kejama'ahan dalam islam.
5. Dan masih banyak yang lain.
Maka, secara global, sebenarnya حزب الاتحاد التعميري tidak lebih juga sama dengan Al Hizib Al Musytarik lainnya, sebagai hasil rekayasa politik.
Keberadaan حزب الاتحاد التعميري sebagai hasil rekayasa bisa dikiaskan dengan keberadaan masjid Dlirar yang dibangun oleh orang-orang munafik. Masjid itu dibangun semata-mata untuk mendiskriditkan Islam, oleh karena itu akhirnya masjid tersebut dibakar oleh Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam.
Dengan demikian, ketika pada datu sisi ada ketetapan-ketetapan untuk mendukung حزب الاتحاد التعميري (muqtadli), namun di sisi lain dijumpai berbagai penghalang (mani'), maka kaidah Fiqih mengatakan :
اذا تعرض المقتضي والمانع قدم المانع, الاشبه والنظاتر : •٨
"Jika bertentangan antara muqtadli dan mani', maka mani' didahulukan"
Dan ketika keberadaan Intikhob am telah memecah belah ummat dengan timbulnya golongan-golongan dan suara-suara Ummat yang saling bertentangan dimana حزب الاتحاد التعميري ikut serta di dalamnya, maka kaidah Fiqih menyatakan :
الخروج منالخلاف مستحب
"Keluar dari khilaf adalah mustahab."
Sabtu, 09 November 2013
BAGAIKAN SATU TUBUH

Kamis, 07 November 2013
Puasa, Terapi Lemahnya Irodah & Maksimalisasi Mauhibah

Sarana Menuju Sukses dalam Suluk

Segala puji bagi Alloh Dzat yang mencukupi segalanya. Sholawat salam atas Rosul Al Musthofa, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak langkahnya.
Di bawah ini adalah hal-hal pokok yang mesti harus diperhatikan oleh para penempuh suluk (akhirat) :
1. Yakin dan seluruh tingkatannya : ilmul yaqin, haqqul yaqin, dan ainul yaqin sehingga tidak menempatkan dunia sebagai prioritas keinginan dan puncak ilmu pengetahuan yang dimiliki.
2. Niat yang jujur dan bersih hingga dalam urusan yang berhukum mubah.
3. Muroqobah Alloh (merasa diawasi) dalam segala gerak kehidupan yang termasuk bagian maqom ihsan agar dalam semua amal yang dikerjakan atas nama Alloh mencapai tingkat sebagai seorang yang cinta (raghiban), orang yang ikhlas (mukhlison), dan orang yang jujur (shodiqon).
4. Menjernihkan hati karena hati (sariroh) menjadi tempat pandang Alloh, sementara gerak tubuh (alaniyyah) sebagai sasaran pandang makhluq sehingga tidak ada tindakan yang dibuat-buat (tashonnu') ataupun riya'. Termasuk doa Rasululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam adalah :
أللّهمَّ اجْعَلْ سَرِيرَتِي خَيْرًا مِنْ عَلاَنِيَّتِيْ وَاجْعَلْ عَلاَ نِيَّتِيْ صَا لِحَةً
Ya Alloh jadikanlah sariroh (hati) saya lebih baik daripada alaniyyah (gerak tubuh) saya. Dan jadikanlah alaniyyah saya baik. (H.R. Turmudzi)
5. Meramaikan (mengisi dan memenuhi) seluruh waktu dengan aktivitas ibadah agar berkah waktu bisa terlihat dan konsistensi menghadap Alloh (iqbal) tetap terjaga. Diantara aktivitas itu ialah :
a. Menetapi (luzum) sholat berjamaah kecuali ada udzur syara' karena dalam aktivitas ini ada banyak faedah dan hikmah yang terpendam.
b. Menetapi wirid dan dzikir ucapan (qouliyyan) seperti membaca Al-Qur'an atau tindakan (amaliyyan) seperti berinfaq dan bersedekah karena aktivitas terebut memiliki fungsi positif dalam mencerahkan hati dan mengendalikan anggota tubuh (jawarih). Bahkan, telah disebutkan bahwa sedekah menjadikan harta berkah, menjaganya dari bencana, menambah rezeki, menyehatkan badan, dan menjadikan umur berkah. Dalam hikmah dikatakan:
Al Waridat (ide-ide dan intuisi) tergantung aurad (wirid-wirid), maka barangsiapa yang tidak memiliki wirid dalam dhohirnya maka tidak ada warid dalam sarair (hati)nya.
c. Memperbanyak sunnah-sunnah (nawafil) guna menambah cacat yang terdapat dalam sholat-sholat fardhu (faroidh), mencari tambahan dan menyambut nafahat (hembusan rahmat/ bonus besar). Dan yang paling utama adalah qiyamullail yang sangat saru jika seorang penempuh jalan akhirat (salik) tidak melakukan aktivitas qiyamullail ini, sebuah amalan ibadah yang mempunyai peran sangat kuat dalam menghasilkan kejernihan hati. Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam bersabda:
Tetapilah qiyamullail oleh kalian karena ia merupakan kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian, dapat mendekatkan kalian kepada Tuhan kalian, dapat melebur kesalahan-kesalahan, dapat mencegah dari dosa dan mengusir penyakit dari tubuh." (H.R. Ahmad Turmudzi Hakim dan Baihaqi)
Catatan:
Hal tersebut tidak akan tampak dan mantap kecuali terlebih dahulu ada kesinambungan, terus menerus dilakukan (mudawamah) dan menetapi prinsip bermadya, tidak ekstrim (ghuluw).
6. Mengagungkan tanda-tanda Alloh (ta'dzim sya'airillah) sehingga tidak meremehkan kebaikan sekecil apapun. Di antara hal ini adalah melakukan sholat pada awal waktu sebagai bentuk pengakuan akan kemuliaannya.
7. Terus-menerus sibuk mencari ilmu dan hikmah tanpa melihat apapun resikonya. Sebab dengan ilmu Islam bisa hidup dan eksis. Ilmu yang dimaksud tentu saja ilmu yang bersumber dari wahyu dan pengamatan terhadap alam. Jadi, wahyu adalah standar ibadah dan prinsip hidup, sementara alam dengan segala ilmu dan rahasia yang terkandung di dalamnya adalah inspirasi pembangunan dan sumber kehidupan yang sejahtera dan indah.
8. Bergabung dan menyatu dengan sebuah jamaah, organisasi, dan perkumpulan yang bergerak di bidang dakwah kepada Alloh, perintah kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagaimana diperintahkan oleh Alloh:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaknya ada sebagian dari kalian sekelompok (umat) yang menyeru kepada kebaikan; menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Mereka-lah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imron: 104)
Tentu saja sebuah jamaah yang mesti memiliki ciri-ciri umum sebagai sebuah jamaah dan terbangun dengan melalui proses dan fase dakwah seperti berikut:
a. Fase perintisan (marhalatuttakwin) dan dakwah dengan lisan karena amar ma'ruf dan nahi mungkar termasuk kategori dakwah ini.
b. Fase membuat jaringan atau menjalin interaksi (marhalatut tasyabuk wat tafa'ul), dan
c. Fase revolusi dan aplikasi ajaran Islam (marhalatut tathbiq)
9. Memiliki keterikatan (alaqoh) dengan murobbi secara sanad, adab dan dzauq agar pemahaman Islam yang dimiliki berjalan pada jalur yang benar seperti dijalani Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam, para sahabat dan para pengikut mereka dengan baik sampai hari akhir. Mereka ini disebut sebagai ummat wasathiyyah dalam firman Alloh, "dan begitulah Kami menjadikan kalian sebagai ummat wasatho" dan seperti dikatakan:
لَوْ لاَ الْمُرَ بِّيْ لَمَا عَرَفْتَ رَبِّيْ
Andai bukan arena murobbi niscaya aku tidak mengenal Tuhanku.
CINTA SELAMANYA MEMBERI ENERGI

Rabu, 06 November 2013
Pleonasme

Meneguhkan Hati Demi Berlari dari Fitnah Agama

Ahlussunnah Menjawab Terorisme, Radikalisme dan Fundamentalisme

Bagaimana Menghargai Pendapat Orang Lain

Kehendak Tuhan Atas Perjalanan Hidup Yahudi
Asal-Usul Yahudi
Kata Yahudi menurut bahasa berarti orang yang berasal dari keturunan Yahuda. Yahuda adalah salah seorang dari 12 (dua belas) putera Nabi Ya'qub (yang bergelar Israel) bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim yang hidup sekitar abad ke-18 M SM.1 Turunan dari 12 putera Nabi Ya'qub tersebut dikenal dengan sebutan bani Israel, suku Israel, atau bangsa Yahudi. Setelah berabad-abad, turunan Yahuda rupanya berkembang menjadi bagian yang dominan dan mayoritas dari Bani Israel, sehingga sebutan Yahudi tidak hanya mengacu kepada orang-orang dari turunan Yahuda, tetapi mengacu kepada segenap turunan Israel (Nabi Ya'qub).2
Antara Kemuliaan dan Kejahatan
Selama perjalanan hidup Bangsa Yahudi kurang lebih sekitar 4000 tahun (2000 SM-2000 M),tampak sekian banyak kemuliaan dan kelebihan yang dikaruniakan kepada mereka yang jarang dimiliki bangsa lain. Kemuliaan itu ialah diturunkannya sekian banyak nabi kepada mereka berikut kitab-kitab suci mereka dan mereka bisa menyaksikan demonstrasi mukjizat para Nabi itu secara langsung. Mereka juga diberikan kelebihan berupa kedaulatan dan kekuasaan, ilmu pengetahuan, kekayaan (materi), otak-otak yang genius (intelek), rencana program yang matang, kekuatan lobi, serta kesabaran dan ketabahan.
Seorang sejarawan Yahudi menulis: "Rahasia ketabahan sebuah bangsa adalah kemampuannya untuk menerima kekalahan. Orang-orang Yahudi bertahan hidup karena mereka tidak pernah berpikir untuk putus asa. Judaisme (Yahudi) bukanlah sebuah agama yang bersikap menyerah kalah. Ia tidak mempunyai doktrin-doktrin tentang hari kiamat. Ia ustru mengajarkan sebaliknya bahwa menghilangkan harapan akan masa depan adalah sebuah dosa. Ada satu tempat untuk hidup dan itu adalah disini, di bumi, dalam kenikmatan dan dalam nama Tuhan."3
Dari kemuliaan dan kelebihan yang diberikan oleh Alloh swt ini, banyak lahir dari mereka intelektual dan profesor, politikus (penguasa), bankir dan kapitalis besar Yahudi yang berpengaruh di dunia. Dalam sejarah modern, ada Karl Marx, Sigmund Freud, dan Albert Einsten sebagai penerus dari Hegel dan Darwin. Mereka adalah orang-orang yang terlahir sebagai Yahudi. Kelebihan dan kemuliaan Yahudi ini seperti disebut dalam Al-Qur'an:
وَلَقَدْ آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al-Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (QS. Al-Jaatsiyah : 16)
Sementara dikarunia kemuliaan dan kelebihan yang luar biasa, Bangsa Yahudi kebanyakan mengkufuri, lupa daratan atas nikmat-nikmat itu. Mereka justru menyombongkan diri, sewenang-wenangnya dan menentang. Mereka memutar balikkan kebenaran, menyembah berhala di tengah bimbingan Nabinya, materialis, rasialis, cerewet, pemfitnah, suka melanggar janji, menganggap dirinya paling pintar, sok tahu, fanatik terhadap tradisi leluhur, suka memeras orang lain bila berkuasa, menganggap dagang dan riba sama saja. Bentuk pengingkaran dan pengkufuran itu bahkan sampai ke tingkat merubah hukum Taurat, membunuh Nabi Syu'ya, Nabi Yahya dan Nabi Zakariya, memenjarakan Nabi Irmiya, merencanakan membunuh Nabi Isa as, dan lain sebagainya. Sedang dai-dai bangsa Yahudi tidak peduli terhadap kemungkaran umatnya itu, malah justru mendukung. Kejahatan semacam ini rasanya sudah menjadi tak ubahnya tabiat dan watak mereka.
Maka, sebagai peringatan atas kejahatan ini, Alloh swt memaklumkan kepada seluruh umat manusia di bumi ini bahwa pasti akan ada ornag-orang (terlepas dari apa agamanya) yang akan menimpakan adzab seburuk-buruknya kepada bangsa yang terkutuk itu di dunia sampai kapanpun. Di dalam Al-Qur'an disebutkan :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَن يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-A'raaf : 167)
Atas maklumat ini, sepanjang perjalanan kehidupannya, bangsa Yahudi tampak selalu jatuh dan bangun serta timbul dan tenggelam. Mereka ditakdirkan tidak memiliki rumah dan ruang. Hidupnya dari rantau ke rantau. Memencar di negeri-negeri bangsa lain (seperti isyarat QS. Al A'raaf : 168). Ditawan, di deportasi, disiksa dan dibantai. Mereka pernah ditindas oleh raja Jalut Al Jazri lalu diselamatkan oleh raja Thalut dan Nabi Daud as. Ditindas oleh Fir'aun dan diselamatkan oleh Nabi Musa as. Setelah wafatnya Nabi Sulaiman, kerajaan mereka yang terbagi dua dihancurkan oleh masing-masing kerajaan Assiria tahun 721 SM dan kerajaan Babilonia 586 SM. Salah satu Raja Babilonia yang dikenal pemusnah Yahudi adalah Bukhtanashor (Nebukadnezar). Dari Babilonia, mereka dikuasai Persia (536 sampai 333 SM), Makedonia (333-320 SM), Dinasti Ptolemy Mesir (320-203 SM),dan Dinasti Seleusid Siria(203-142 SM).
Setelah berhasil mendirikan kerajaan yang merdeka dari 142 SM – 63 SM, bangsa pencetus kapitalisme dunia (seperti di isyaratkan QS Al-A'raaf : 169) ini kembali dikuasai oleh Romawi (63 SM-636 M).
Dari Romawi mereka pindah dibawah kekuasaan kaum muslimin, sampai jatuhnya khilafah Turki Utsmani tahun 1924 M, kecuali pada masa sebagian Perang Salib.
Pada masa hijriah, bangsa Yahudi yang terdiri dari 3 kabilah yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraidhah terlibat dalam perjanjian perdamaian dan pakta pertahanan bersama (miitsaq) dengan kaum muslimin. Namun mereka melanggar pakta itu. Bani Qainuqa diusir dari Madinah sebagai ganjaran karena mengganggu jilbab seorang wanita muslimah di pasar. Bani Nadhir berikutnya juga diusir karena tindakan percobaan membunuh Rasululloh saw. Selanjutnya Bani Quraidhah karena bergabung dengan pasukan Ahzab(sekutu) menyerang Madinah, maka kaum laki-lakinya dibunuh semua, sedang wanita dan anak-anaknya ditawan.
Pada masa kekhilafahan Umar bin Khottob sisa-sisa bangsa Yahudi diperbolehkan menetap di Khaibar.
Namun atas dasar keonaran yang selalu mereka buat dan atas pesan Rasululloh saw bahwa tidak boleh ada dua agama di Jazirah Arab, maka mereka diperangi dan di usir ke Syam (Siria). Persis semenjak itu Bangsa Yahudi hidup hina dina, tidak memiliki negeri berdaulat dan miskin karena ditarik Jizyah, sebagaimana Jizyah itu pernah ditarik dari pendahulu mereka oleh Nabi Musa as selama 13 tahun.4
Pada masa perang dunia II (1936-1945) bangsa Yahudi kembali ditindas. Kali ini oleh Adolf Hitler pemimpin tentara Nazi Jerman. Diceritakan waktu itu Hitler membunuh orang Yahudi hingga mencapai 5 (lima) juta jiwa.5
Tahun 1948 setelah berjuang keras melalui wadah gerakan Zionisme internasional. Bangsa Yahudi bangkit dan berhasil mendirikan Negara Israel di Palestina,di tengah kebangkitan ini, secara tiba-tiba pada 11 September 2001 lalu, Amerika serikat yang menjadi sekutu negara yahudi itu dibuat kalang kabut dengan ambruknya geudng WTC dan Pentagon oleh aksi teror.
Dan sebagaimana watak asli yang tidak berubah kembali Yahudi yang diwakili negara-negara barat melakukan stigmatisasi (sangkaan buruk) terhadap kaum muslimin sebagi pelakunya. Dalam hal ini Usamah bin Laden, dengan sangat congkak dan buru-buru, mereka lalu menyerang Afghanistan.
Bumi ini seperti dijanjikan adalah hak oarnag-orang shaleh yang sebelum itu senantiasa ditindas dan di dzalimi. Alloh swt berfirman.
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh (QS Al-Anbiyaa' : 105)
Atas janji ini, rasanya pasti bahwa bumi suatu saat akan kembali ke pangkuan oarang-orang Islam yang sholeh yang selama ini mengalami penindasan dan pemerasan. Dan bangsa Yahudi sebagai penindas itu berikut sekutunya akan kembali surut dan jatuh yang pada akhirnya tenggelam di muka bumi sampai tak tersisa. Imam Ibnu Katsir mencatat bahwa kemunculan Dajjal akan di dukung oleh orang-orang Yahudi. Pada saat itu, Nabi Isa as bersama umat islam akan membunuh Dajjal sekaligus menumpas pendukungnya itu sampai ke akar-akarnya.6
Apakah penyerangan Amerika Serikat dan duta-duta yahudi lainnya ke Afghanistan merupakan isyarat awal yang baik bagi kehancuran mereka seperti kehancuran pasukan kafir Quraisy pada peperangan Badar? Akankah penyerangan itu berbalik menjadi boomerang (buah simalakama) bagi AS sendiri seperti di alami Uni Soviet (1979-1989) di negeri Mujahidin itu? Wallohu a'lam. Namun semut tidak mustahil bisa menyulitkan gajah sebagaimana keong bisa unggul atas kancil. Marilah kita renungkan Firman Alloh swt berikut ini:
وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إسْرائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا (٤) فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا (٥) ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا (٦) إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآَخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا (٧) عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يَرْحَمَكُمْ وَإِنْ عُدْتُمْ عُدْنَا وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا (٨)
4.
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar".
5. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.
6. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.
7. Jika kamu berbuat baik (berarti) berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.
8. Mudah-mudahan Rabbmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS Al-Israa' : 4-8)
Akhirnya, kemenangan secara sunnatulloh selalu diperoleh melalui prose kerja keras, jihad dan mujahadah. Untuk mencapai kemenangan kaum muslimin berikut kehancuran dominasi Yahudi di dunia saat ini kiranya masih dibutuhkan uluran kerja keras kita semua. Diantaranya dengan memutus diri dari karakter-karakter Yahudi yang menyebabkan mereka ditimpa siksaan dan kehinaan di tengah limpahan kemuliaan dan kelebihan, berlepas diri dari propaganda dan program mereka, seraya menggugah mental diri untuk sehati dan tidak berpangku tangan.
Wallahu Subhanahu wa Ta'ala
Senin, 04 November 2013
MENCARI IKATAN UNIVERSAL

Minggu, 03 November 2013
Anda Harus Berhijrah!

Menjadi Manusia Cerdas

Begitu indah orang berkata:
Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang cerdas
yang tidak terpesona oleh dunia dan bahkan mengkhawatirkan fitnah-fitnahnya
Mereka mengamati dunia, lalu ketika mengetahui bahwa ia bukanlah tempat tinggal bagi orang yang hidup
Maka mereka menganggapnya sebagai samudera yang harus dilalui dengan perahu-perahu amal keshalehan
Dunia adalah tempat ujian dan fitnah secara fisik maupun psikis. Fitnah dunia sungguh semakin berat jika datang dari orang-orang yang hidup bersama kita; isteri-isteri dan anak-anak kita. Karena itu Allah memperingatkan agar kita tidak terjebak dalam fitnah ini yang secara khusus disebutkan oleh Allah dalam firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya sebagian dari isteri-isterimu dan anak-anakmu adalah musuh bagimu maka waspadalah...”QS At Taghabun:14.
Disebutkan bahwa ayat ini diturunkan terkait orang-orang yang telah masuk islam semenjak di Makkah dan bermaksud hijrah (ke Madinah) akan tetapi langkah mereka surut dan tertahan oleh isteri-isteri dan anak-anak mereka. Demikian seperti dikatakan oleh Ibnu Abbas ra. Al Qadhi Abu Bakar bin Al Arabi mengatakan: [Ini menjelaskan sisi permusuhan (yang dimaksudkan) karena musuh bukanlah dianggap musuh kecuali sebab perbuatannya. Jadi apabila isteri dan anak berbuat seperti perbuatan musuh maka mereka berdua adalah musuh karena tidak ada perbuatan yang paling buruk daripada menghalangi antara seorang hamba dengan ketaatan]
Al Hasan (al Bashri) mengatakan:
[Digunakan huruf Jarr “Min” untuk menunjukkan arti sebagian karena tidak keseluruhan mereka berubah menjadi musuh dalam arti sebagian mereka ada yang melakukan perbuatan melawan agama sehingga dengan perbuatan melawan ini mereka dianggap sebagai musuh yang perlu diwaspadai dan tidak boleh diremehkan akan bahaya dan keburukan mereka]
Hal paling berbahaya yang bisa memberikan pengaruh kepada perbuatan melawan agama pada sekarang ini adalah terjadinya apa yang sudah beritakan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam sabda Beliau; “...kemudian akan ada fitnah yang memasuki seluruh rumah orang Arab (penduduk muslimin) tanpa terkecuali” HR Bukhari. “Termasuk tanda-tanda kiamat adalah anak-anak menjadi sumber kemarahan( orang tua)...”HR Thabarani. “Akan terjadi fitnah-fitnah yang membuat orang bijak pun merasa kebingungan di dalamnya”
Fitnah semacam ini dalam penilaian kita tidak lain adalah fitnah yang berkembang saat ini berupa TV, Komputer, Internet, Face Book, Twitter dan HP dll bagi siapa saja yang tidak bisa mengambil manfaat positifnya, lagu-lagu, para selebritis dan konser-konser musik. Sungguh semuanya sudah mewabah dan disaksikan oleh seluruh orang. Karena seringkali bersentuhan sehingga hati menganggapnya biasa dan merasa kerusakan ini bukanlah hal yang serius serta tidak perlu dipermasalahkan. Laa haula walaa quwwata illaa billaah al aliiy al azhiim.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Ingat, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging; jika daging itu baik maka seluruh tubuh juga baik dan jika daging itu rusak maka seluruh tubuh menjadi rusak”HR Bukhari Muslim.
Hati yang rusak adalah hati yang sakit. Hati yang sakit adalah hati yang diliputi kegelapan. Hati yang sakit berbahaya bagi pemiliknya; dalam agamanya sebagai modal meraih keberuntangan dunia akhirat, juga dalam akhiratnya sebagai rumah yang langgeng dan abadi baginya.
Hati yang sakit bisa diidentifikasi melalui gejala-gejala yang muncul di mana yang paling dominan adalah bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan, merasa berat melakukan kebaikan-kebaikan, serta sikap rakus terhadap kesenangan dan kelezatan dunia, sama sekali jauh dari memperlakukan dunia sebagai ladang akhirat.
Jika gejala-gejala tersebut muncul maka seseorang wajib berusaha melakukan terapi pengobatan. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman! penuhilah Allah jika Dia Memanggilmu menuju hal yang bisa membuatmu selalu hidup –menghidupkan hatimu – dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Menghalangi antara seseorang dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNya-lah kalian dikumpulkan”QS Al Anfaal:24.
Ayat ini memberikan arahan untuk melakukan pengobatan hati dan berusaha selalu menghidupkannya dengan berbagai macam cara di mana yang paling memudahkan mencapai tujuan adalah dengan mencari seorang Guru Murabbi yang akan selalu membimbing dan mengarahkan, yang bisa melihat hati dan membersihkan akhlak, yang akan memegang tangannya menuju Allah, dan yang karena bershuhbah dengan guru itu Allah menjaga dirinya dari keburukan, hawa nafsu dan kemaksiatan.
Apabila tidak menemukan guru seperti itu maka mencari teman yang shaleh yang selalu memberi nasehat. Saran dan pendapat teman seperti ini bisa membantu mengenali penyakit hati dan pengobatannya.
Atau mencari Jamaah yang patut untuk bergabung di dalamnya agar bisa turut serta bersama yang lain dalam memperbaiki hati.
Jika semuanya tidak ditemukan - sebagaimana kondisi mayoritas masyarakat sekarang ini yang susah mencari orang-orang yang bisa saling membantu dalam kebaikan dan kebenaran – maka harus melakukan secara rutin iltizamat berikut ini:
a. Menjalankan shalat dan keharusan-keharusannya yang berupa; mendirikannya, menjaganya, khusyu’, khudhur dan melanggengkannya. Sungguh shalat bisa menghilangkan kotoran-kotoran hati.
b. Memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena shalawat bisa menambal keretakan hati.
c. Membaca Alqur’an karena membaca Alqur’an bisa membersihkan karat-karat hati
d. Merutinkan wirid-wirid dan dzikir-dzikir serta menghadiri majlis-majlis dzikir yang di antaranya adalah majlis ilmu.
e. Menetapi Istighfar. Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah mengatakan: [Carilah hatimu dalam tiga suasana; ketika mendengarkan Alqur’an, dalam majlis-majlis dzikir dan dalam waktu-waktu khalwah. Jika kamu tidak menemukkannya dalam suasana-suasana ini maka memohonlah kepada Allah agar menganugerahkan hati kepadamu karena kamu sama sekali tidak memiliki hati]
Ada do’a-do’a ma’tsur yang menjadi dalil adanya peluang merubah akhlak yang tercela seperti berikut:
1. “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon perlindunganMu dari kejahatan diriku dan dari kejahatan seluruh binatang melata yang ubun-ubunya ada dalam genggamanMu . sesungguhnya Tuhanku berada pada jalan yang lurus”
2. “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon perlindunganMu dari akhlak yang mungkar, menuruti keinginan nafsu dan dari berbagai penyakit”
3. “Ya Allah, tunjukkanlah diriku akan akhlak yang baik karena tidak ada yang menunjukkan akan akhlak yang baik kecuali Engkau. Hindarkanlah keburukan akhlak dariku. Karena tak ada yang menghindarkannya dariku kecuali Engkau”
=والله يتولى الجميع برعايته=
Langganan:
Postingan (Atom)