Translate

Jumat, 16 September 2016

Mengikis Egoisme



Sungguh manusia tercipta dengan segala kelebihan dan kekurangan. Selain kebaikan, dalam diri anak keturunan Adam itu juga terdapat aneka warna keburukan, akan tetapi justru dalam keburukan inilah tersimpan Hikmah agung Ilahi, yaitu sebagai sarana ujian bagi manusia itu sendiri. Barang siapa yang hanyut dalam keburukan itu maka dia termasuk orang yang celaka dan merugi, sebaliknya keuntungan besar menanti manusia yang mampu mematahkan keburukan tersebut. Salah satu keburukan yang ditumbuhkan oleh Allah dalam diri setiap manusia adalah sikap mau menang sendiri, tak mau kalah dengan orang lain dan cenderung mendahulukan diri sendiri. Sikap seperti ini lazim disebut Egoisme atau Anaaniyyah. Contoh mudah dari sikap ini adalah ketika anda melihat sebuah foto anda bersama orang lain, maka pertama kali yang menjadi sasaran pandangan mata adalah gambar anda sendiri.

Sikap Egoisme ini jika diteliti lebih jauh ternyata menjelma dalam berbagai macam performa, antara lain:

1) Seperti dalam firman Allah:

إِنَّ اْلإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا , إِذَا مَسَّهُ الشَّرُ جَزُوْعًا , وَإِذَا مَسَّـهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا

“Sesungguhnya manusia tercipta dengan bersifat keluh kesah, jika apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan maka ia kikir…”QS al Ma’aarij: 19 – 21.

Yaitu jika tertimpa bencana atau kesusahan maka manusia merasa sangat susah seakan tak akan ada lagi kebaikan yang datang serta ke sana kemari mengeluh dan meminta bantuan, tetapi sebaliknya jika mendapat nikmat dari Allah maka dia menjadi lupa diri dan enggan menularkan nikmat Allah itu kepada orang lain. Jangankan untuk suatu hal yang sunnah, hal yang wajib seperti zakatpun ia lupakan. Jadi dengan sikap seperti ini, manusia telah merampas hak Allah serta hak manusia, padahal sebelumnya saat tertimpa bencana dia mengeluh kepada Allah dan juga meminta kepada manusia. Dalam ayat lain, karena sifat ini Allah menyebut manusia sebagai sebagai orang yang pelit (Qotuur / Bakhiil), Dia berfirman: “… dan adalah manusia itu sangat kikir” QS al Isra’: 100.

Dalam rangka menyikapi watak seperti ini, manusia mendapat bimbingan dari Allah agar bersikap Ta’affuf atau menjaga diri dan tidak lepas kontrol kala kesusahan melanda, “…orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka orang–orang kaya karena mereka memelihara diri dari meminta–minta. Kamu kenal dengan sifat–sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak…”QS al Baqarah: 273, serta bersikap tepo seliro, bertoleransi kepada orang lain yang membutuhkan saat bisa memberikan bantuan.

2)       Seperti dalam firman Allah:

 وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِـيْنَ , الَّذِيْنَ إِذَا اكْتَالُوْا عَلَي النَّاسِ يَسْتَـوْفُوْنَ , وَإِذَا كَالُوْهُمْ أَوْ وَزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَ

“Kecelakaan besarlah bagi orang–orang yang curang, (yaitu) orang–orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” QS al Muthaffifiin: 1–3.

Sikap hanya mau menang sendiri juga mendorong manusia untuk tidak mau dirugikan oleh orang lain tetapi suka merugikan orang lain, salah satunya adalah dengan menuntut kesempurnaan timbangan dan takaran kepada orang lain, sementara jika menimbang atau menakar untuk orang lain dia mengurangi. Seperti lazimnya firman Allah yang lain, ayat tersebut juga turun sebagai respon atas sebuah fenomena, Ibnu Abbas ra meriwayatkan: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  datang di Madinah, penduduk Madinah biasa mengurangi takaran hingga lalu turunlah firman Allah di atas. Dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan  tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah mengurangi neraca itu” QS ar Rahmaan: 9.

3) Seperti dalam firman Allah:

 وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ , فَإِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسَي أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

“Dan bergaullah dengan mereka (isteri–isteri) dengan baik, lalu  jika kalian tidak menyukai mereka maka (bersabarlah) karena mungkin sekali kamu tidak menyukai sesuatu , padahal Allah menjadika padanya kebaikan yang banyak”QS an Nisa’: 19

Seorang suami wajib bergaul dengan isterinya dengan cara yang baik (Mu’aasyarah Bil Ma’ruuf), semua suami mengerti akan hal ini, akan tetapi seringkali kewajiban ini terlupakan ketika suami melihat sebuah keburukan isterinya, perasaan dan prilakunya kepada isteri berubah manakala menyaksikan sesuatu yang tidak menyenangkan dari ibu anak–anaknya. Jika hal ini dituruti berarti seorang suami hanya menuruti egonya sendiri yang berupa hanya mau merasakan kesenangan dan kesempurnaan pasangan, tetapi tidak mau menerima kekurangan, karena inilah Nabi shallallahu alaihi wasallam berpesan:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ سَخِطَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا ءَاخَرَ

“Seorang mukmin (suami) jangan membenci mu’minah (isteri); jika dia marah terhadap suatu karakter darinya (isterinya) maka sangat mungkin dia rela akan karakter yang lain” HR Muslim

Ayat dan hadits ini memberikan arahan kepada suami agar jangan tergesa menyalahkan dan membenci isteri hanya karena prilaku isteri yang tidak berkenan di hati, Imam Sya’rani dalam Tanbiihul Mughtarriin menulis:

“Dan salah satu karakter para Salaf Sholeh adalah tabah dan bersabar menghadapi tingkah laku isteri yang tidak menyenangkan, mereka mengerti bahwa segala yang dilakukan oleh isteri tak lain adalah gambar hidup dari perlakuan mereka kepada Allah. Ini adalah kaidah mayoritas (Aktsariyyah) dan bukan keseluruhan. Para Salaf yang Sholeh itu juga masih tetap memberikan hak isteri secara penuh kendati isteri mereka melakukan pembangkangan”

4) Seperti dalam firman Allah:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْـهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

“…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf…”QS al Baqarah: 228.

Seperti isteri memiliki kewajiban, ia juga mempunyai hak yang harus dipenuhi oleh suami, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hendaknya kamu memberinya makan jika kamu makan, kamu memberikan pakaian jika kamu berpakaian, dan jangan memukul wajah, jangan menjelek–jelekkan dan jangan menjauhinya kecuali dalam rumah” HR Ibnu Hatim – Ibnu Jarir, dan termasuk hak isteri adalah menikmati kecantikan suami, Ibnu Abbas berkata: “Sesugguhnya aku suka berhias untuk isteriku seperti aku juga sangat suka jika isteriku berhias untukku”, artinya dalam rangka mewujudkan hak isteri yang berupa Mu’asyarah Bil Ma’ruuf seorang suami juga dituntut agar menghias diri, akan tetapi pada kenyataannya, egoisme mendorong banyak suami meminta pelayanan sempurna dari isteri sementara dia sendiri tidak mengimbangi pelayanan tersebut dengan servis memuaskan.

5) Keengganan Wanita untuk Dimadu

Egoisme juga menampak pada diri seorang wanita ketika mendengar bahwa sang suami akan menikah lagi, sepertinya tak ada isteri yang rela jika ada cinta untuk wanita lain dalam hati suaminya. Ini adalah naluri semua wanita, tetapi masalahnya adalah memiliki isteri lebih dari satu adalah hal yang diperbolehkan dan sah dilakukan jika memenuhi segala persyaratan yang telah ditentukan. Memang bukan sebuah hal yang mudah untuk menerima madu, tetapi inilah yang telah digariskan olehNya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْغَيْرَةَ عَلَي النِّسَاءِ وَالْجِهَادِ عَلَي الرِّجَالِ فَمَنْ صَبَرَ مِنْهُنَّ إِحْتِسَابًا كَانَ لَهَا أَجْرُ شَهِيْدٍ

“Sesungguhnya Allah menuliskan Kecemburuan atas wanita dan Jihad atas para lelaki, maka barang siapa dari mereka (para wanita) yang ikhlas dan sabar maka baginya pahala orang mati syahid ”HR Thabarani / Disebut oleh Ibnul Jauzi dalam Ahkaamun Nisa’ : 151.

Kisah Ummu Habibah binti Abu Sufyan ra bisa dijadikan teladan dalam masalah ini. Isteri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu bercerita: Nabi shallallahu alaihi wasallam datang, aku lalu berkata: Sudikah anda menikahi saudara saya (Azah)? Nabi shallallahu alaihi wasallam balik bertanya: “Apakah kamu suka dengan hal ini?” aku menjawab: “Saya tak akan pernah melarang anda (dari madu) dan saya sangat suka jika orang yang ikut bersama saya dalam kebaikan itu adalah saudara saya sendiri”. Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu bersabda: “Tidak, dia tidak halal bagiku”(HR Muslim/Tahriimurrabibah Wa Ukhtul Mar’ah)

Peristiwa terkikisnya Egoisme dikisahkan oleh Allah terjadi dalam pribadi–pribadi para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, di mana mereka adalah tipe manusia yang senantiasa berusaha membahagiakan orang lain meski mereka sendiri dalam keadaan susah, sikap seperti biasa disebut dengan Iitsaar, Allah berfirman:  

 ...وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَي أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ...

“…dan mereka mengutamakan (orang lain/muhajirin) atas diri mereka sendiri meski mereka sendiri sangat membutuhkan (apa yang mereka berikan)”QS al Hasyr: 9.

Abu Hurairah ra bercerita: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mengeluh kepayahan serta kelaparan. Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu bertanya kepada para isteri, tetapi ternyata mereka semua tak memiliki sedikitpun makanan yang bisa disuguhkan. Nabi shallallahu alaihi wasallam akhirnya bersabda: “Adakah seorang yang menyuguh lelaki ini pada malam ini?” seseorang (Abu Tholhah ra) kemudian menjawab: “Saya, wahai Rasulullah”. Lelaki itu kemudian pulang ke rumah dan berkata kepada isterinya: “Ini adalah tamu Rasulullah, jangan kamu menyimpan sesuatu makanan?” Isterinya menjawab: “Demi Allah saya tak menyimpan sedikitpun kecuali jatah makan malam untuk anak kita”. Lelaki itu berkata: “Jika anak kita meminta makan, maka tidurkan saja dia, dan matikan lampu, biarlah malam ini perut kita lapar”. Pagi harinya, lelaki tamu itu datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu bersabda: “Sungguh Allah sangat heran dengan suami isteri itu”Muttafaq Alaih, setelah kejadian ini turunlah firman Allah seperti tersebut.   

Tidak ada komentar: