Translate

Rabu, 31 Agustus 2016

Mawar Indah Bersemi




Sudah menjadi keputusan Alloh bahwa Dia menanamkan benih – benih rasa cinta di hati manusia sebagaimana tersebut dalam firmanNya:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَـوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَـنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ...

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan apa  - apa yang diingini, yaitu wanita – wanita, anak – anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang – binatang ternak dan sawah ladang...”QS Ali Imron: 14.

Dunia ini penuh dengan aneka ragam kesenangan seperti disebut ayat ini, di mana masing – masing dari kesenangan tersebut berpeluang menarik simpati dan mengikat hati orang yang menyukai dan mencintainya dan ketika simpati sudah tergaet serta hati sudah terikat maka saat itulah sangat mungkin bagi manusia sibuk dengan kesenangan tersebut dan melupakan kesenangan abadi. Karena itulah dalam lanjutan ayat Alloh memberi peringatan, “....itu semua adalah perhiasan kehidupan dunia dan di sisi Alloh ada tempat kembali yang lebih baik” QS Ali Imron: 14. Di antara kesenangan – kesenangan dunia yang sangat mungkin menggoda setiap lelaki adalah kesenangan kepada para wanita. Rasa senang dan cinta kepada wanita inilah yang kemudian menarik hati lelaki untuk selanjutnya menyukai kesenangan – kesenangan lain. Karena itulah cinta kepada wanita disebut dalam urutan pertama. Mencintai wanita tidak masalah karena hal itu bagian dari kesempurnaan seorang pria. Disebutkan bahwa Ibnu Umar ra melihat seorang wanita cantik di antara tawanan maka Beliau tidak sabar hingga mencium wanita itu di hadapan banyak orang. Kendati demikian penyebutan cinta kepada wanita dalam nomor urut pertama juga bermakna kewaspadaan. Artinya ketika rasa cinta kepada wanita telah mengikat sukma maka saat itulah seorang lelaki harus betul – betul waspada dalam menjaga diri. Memang dalam cinta (kepada wanita) ada rasa manis dan gurih tetapi di sana ada seribu kepahitan dan bahkan kematian. Dalam cinta ada kolam madu, sungai susu tetapi selanjutnya adalah lautan empedu. Oleh sebab itu ketika mendengar seorang wanita berkata, “Sesungguhnya para wanita adalah wewangian dan kalian para lelaki seluruhnya suka mencium wewangian itu” maka Umar ra segera berkata, “Sesungguhnya para wanita adalah setan – setan yang diciptakan untuk kami maka kami berlindung kepada Alloh dari keburukan setan – setan”.

Ketika seorang pria mencintai wanita maka usaha yang harus dilakukan adalah menormalkan cinta tersebut dan jangan sampai kebablasan. Ingat pesan Rosululloh SAW, “Cintailah kekasihmu sedang – sedang saja, sebab sangat mungkin dalam waktu dekat ia bisa menjadi musuhmu....”HR Turmudzi. Sebab jika tidak begitu maka dampak negatif dari cinta itu akan segera terasa. Dampak negatif yang dimaksud adalah:

  1. Sibuk dengan makhluk yang dicintai sehingga jauh dari menyebut dan menyintai Alloh. Cinta kepada wanita dan cinta kepada Alloh tak akan pernah terkumpul dalam satu wadah hati. Jika salah satu hadir maka yang lain pun pergi.
  2. Hati merasa tersiksa. Sungguh orang yang mencitai sesuatu selain Alloh maka ia  pasti disiksa dengan sesuatu tersebut. Pepatah berkata, “Tiada di bumi ini yang paling celaka melebihi seorang pecinta meski ada rasa manis di sana. Kamu saksikan ia menangis setiap saat karena kerinduan atau kekhawatiran. Jika jauh dengan yang dicinta maka ia sakit tertusuk kerinduan dan bila bersama yang dicinta maka ia menderita khawatir berpisah. Matanya panas saat berjumpa dan matanya panas saat berpisah” jadi cinta dan kerinduan meski terasa manis tetapi sebenarnya adalah siksaan hati yang paling pedih.
  3. Seorang pecinta hatinya tertawan oleh yang dicintai tak ubahnya seperti seekor burung di tangan anak kecil. Menjadi alat kesenangan dan permainan sebelum akhirnya dilempar ke telaga penderitaan
  4. Pecinta menjadi lupa kebaikan dunia dan akhiratnya. Jadi tiada sesuatu sebab yang hebat menghilangkan kebaikan dunia dan akhirat melebihi cinta.
  5. Bencana dunia dan akhirat lebih cepat datang menyerang para pecinta daripada api datang melalap kayu bakar. Sungguh jika hati dekat dan sibuk dengan rindu maka hati itu jauh dari Alloh. Jadi hati yang paling jauh dari Alloh adalah hati para pecinta. Jika hati telah jauh dari Alloh maka bencana pasti datang dari segala arah. Setan akan menguasainya dan membawanya kepada segala macam bencana.
  6. Jika cinta begitu kuat menancap dalam hati maka saat itulah fungsi akal menurun dan menjadikan pecinta tak ubahnya seperti orang gila atau bahkan lebih gila daripada orang gila. Kasus seperti ini tidak terhitung jumlah dan salah satunya adalah yang menimpa pecinta Qoes al Majnun yang sudah sangat terkenal kisahnya.
  7. Cinta bisa menjadi daya kerja indera rusak atau paling tidak melemah baik secara maknawi (non fisik) atau Shuwari (fisik). Secara maknawi bisa disaksikan indera pecinta sudah tak mampu lagi bekerja dengan baik sehingga melihat, merasakan dan mendengar segala dari dan tentang yang dicinta seluruhnya baik dan indah. Rosululloh SAW bersabda, “Kecintaanmu pada sesuatu itu membuat buta dan menjadikan tuli” HR Abu Dawud. Secara Shuwari  cinta menjadikan pecinta sakit atau lemah tubuhnya. Sorang pemuda yang kelihatan kurus kering dibawa ke hadapan Ibnu Abbas ra yang sedang berada di Arofah. “Kenapa dengan pemuda ini?” tanya Ibnu Abbas ra. Mendengar bahwa pemuda itu sedang dilanda cinta berat maka sepanjang hari Beliau berdo’a memohon perlindungan Alloh dari cinta berat kepada wanita.

Besarnya resiko dan bahaya yang mungkin menerjang para pecinta ini mendorong Rosululloh SAW sangat mengasihi para pecinta sehingga Beliau SAW membantu para pecinta untuk mendapatkan cintanya agar kecintaan itu tidak semakin menyiksanya. Melihat Mughits terus berjalan menguntit Bariroh (setelah bercerai) dengan air mata berlinangan maka Nabi SAW bersabda kepada Bariroh, “ Bagaimana jika kamu kembali kepadanya (Mughits) ” Bariroh bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah ini perintah?” Nabi SAW menjawab, “Tidak, aku cuma memohon (untuk Mughits)” Bariroh lalu mengakui dengan jujur, “Saya sudah tidak butuh lagi kepadanya” mendengar ini Nabi SAW lalu bersabda kepada Abbas ra pamannya, “Hai Abbas,  apakah engkau tidak takjub dengan cinta Mughits kepada Bariroh dan kebencian Bariroh kepada Mughits?” Jelas sekali di sini bahwa Nabi SAW tidak ingkar terhadap cinta Mughits kepada Bariroh sebab hal itu di luar batas kemampuan manusia untuk menolaknya.

Ali Karromallohu Wajhah juga demikian, melihat ada seorang anak muda begitu mencintai sahaya milik Mihlab bin Robah maka Beliau datang kepada Mihlab dan memohon supaya Mihlab memberikan sahaya wanitanya kepada pemuda itu yang diketahui bernama Nuhas bin Uyainah. Muawiyah bin Abi Sufyan ra juga demikian, pernah Beliau membeli seorang sahaya wanita jelita (Jariyah)  dan diboyong ke rumahnya. Di suatu malam saat banyak orang telah terlena dalam tidur, Muawiyah mendengar rintihan kerinduan dari Jariyah tersebut. Beliau lalu bertanya  dan mendapat jawaban bahwa Jariyah itu sangat mencintai majikannya. Akhirnya Muawiyah mengembalikan Jariyah itu kepada majikannya. Sulaiman bin Malik memiliki sahaya pria (Ghulaam) dan wanita (Jaariyah) yang keduanya saling jatuh cinta. Suatu hari Ghulaam menulis: “Dalam tidur aku melihat dirimu seakan memberiku minuman dingin menyegarkan, telapak tanganmu bertemu dengan telapak tanganku dan sepertinya kita menginap dalam satu ranjang. Akhirnya seharian aku memaksakan diri tidur agar bisa bermimpi bertemu denganmu tetapi aku tidak bisa lagi memejamkan mataku” tulisan ini dijawab oleh Jariyah dengan tulisan pula: “Mimpimu sungguh baik dan kamu pasti akan mendapatkan semua yang anda impikan meski ada orang yang iri hati. Sungguh aku sangat berharap anda memeluk dan tidur bersamaku di atas montok payudaraku...” hal ini akhirnya sampai di telinga Sulaiman hingga ia kemudian menikahkan sepasang anak muda itu meski Sulaiman sendiri merasa sangat cemburu.

Jatuh cinta tidaklah berdosa karena itulah ketika ditanya tentang orang yang jatuh cinta Umar bin Khotthob ra menjawab, “Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dikuasai” seorang penyair Hijaz, Jami bin Murkhiyah bertanya, “Apakah seorang pecinta berat itu berdosa?” Said bin Musayyib menjawab, “Yang dicela adalah apa yang bisa anda lakukan”  maksudnya yang tercela adalah dampak negatif yang ditimbulkan dari cinta berat tersebut. Betapapun besar dan kuat dorongan cinta, akan tetapi bukan berarti tidak bisa ditahan. Memang hal ini sangat sulit dilakukan, karena itulah penghargaan tinggi bagi yang mampu menahan diri kala cinta sedang menindih. Nabi SAW bersabda yang artinya, “Empat hal yang bila berada dalam diri seseorang maka Alloh mengharamkan orang tersebut atas neraka dan Dia pasti menjaganya dari setan; orang yang menahan diri ketika menyukai, ketika merasa takut, ketika menginginkan sesuatu, dan ketika marah” (HR Hakim at Tirmidzi dalam Nawaadirul Ushuul)  Ibnu Abbas ra juga berkata, “ Barang siapa yang terkena cinta berat lalu menyimpan dan menahan diri dari dosa dan ia mau bersabar maka Alloh pasti memberinya ampunan dan memasukkannya ke dalam surga”. Sungguh jatuh cinta bisa mengenai siapa saja termasuk orang – orang yang berilmu dan ahli ibadah, akan tetapi ilmu dan kedekatan mereka dengan Alloh menjadikan mereka  bisa menahan  dan mengontrol diri dengan baik sehingga tidak hanyut oleh demam perasaan cinta yang menderanya. Di antara nama ulama tersebut adalah Abdulloh bin Abdulloh bin Utbah, Umar bin Abdul Aziz kholifah adil yang tercatat pernah jatuh cinta begitu hebat kepada Jariyah (sahaya wanita) milik Fathimah isterinya. Disebutkan bahwa ketika belum menjadi Kholifah, Umar begitu cinta kepada Jariyah tersebut hingga Beliau meminta kepada Fathimah isterinya, “Berikanlah (Hibbahkanlah) Jariyah itu kepadaku!” Berulangkali Umar meminta tetapi Fathimah tetap tidak memberikannya. Barulah ketika Umar diangkat menjadi Kholifah maka Fathimah berkata kepada suaminya, “Dulu memang saya tidak mau, tetapi sekarang saya rela memberikan Jariyah itu kepada engkau” Mendengar ini Umar sangat gembira dan berkata, “Kalau begitu cepat hias dia dan segera antarkan kepadaku” setelah berada di dalam kamar berdua dengan Jariyah itu Umar dengan senang hati berkata, “Bukalah pakaianmu!” setelah Jariyah mulai membuka baju, Umar menahan, “Sebentar, ceritakanlah siapa majikanmu dulu dan bagaimana kamu bisa menjadi milik Fathimah (isteriku)!” Jariyah itu menjelaskan, “Hajjaj memberikan denda harta kepada salah satu bawahannya (Amil) di Kufah dan kebetulan saya adalah sahaya Amil tersebut. Hajjaj akhirnya membawaku dan memberikan diriku kepada Abdul Malik dan oleh Abdul Malik aku dihibahkan kepada Fathimah” Umar bertanya, “Lantas bagaimana keadaan Amil itu sekarang?” Jariyah itu menjawab, “Ia sudah meninggal” “Apakah ia mempunyai anak dan bagaimana keadaan anaknya?”   Jariyah menjawab, “Ia, dia meninggalkan anak dan keadaan mereka kini menyedihkan”  mendengar ini Umar segera berkata, “Kenakanlah pakaianmu lagi dan kembalilah ke  tempatmu!” 

Umar lalu mengirim surat kepada gubernurnya di Iraq agar mendatangkan anak Amil yang diceritakan oleh Jariyah. Setelah anak Amil itu datang, Umar berkata, “Laporkan semua harta benda yang dibayarkan oleh ayahmu sebagai denda yang dikenakan oleh Hajjaj!” anak itu segera melaporkan seluruh harta yang dibayarkan oleh ayahnya kepada Hajjaj dan oleh Umar semuanya diganti. Selanjutnya Umar juga menyerahkan Jariyah tersebut kepada anak itu sambil berpesan, “Hati – hatilah dengan Jariyah ini, sebab mungkin sekali ayahmu dulu pernah menggaulinya!”  anak itu berkata, “Jariyah ini untuk anda saja tuan!”  Umar menjawab, “Aku tidak lagi memerlukannya”  “Kalau begitu silahkan dibeli saja!” kata anak tersebut. Umar menjawab, “Kalau aku membelinya berarti diriku ini bukan termasuk orang yang menahan diri dari keinginan” dan ketika hendak dibawa pergi oleh si anak, Jariyah berkata kepada Umar, “Lantas di mana cinta anda kepada saya wahai Amirul Mu’minin?” Umar menjawab, “Cinta itu tetap seperti dulu dan bahkan mungkin sekarang bertambah” dan memang kenyataan seperti itu. Sampai akhir hayat, Umar tetap memendam rasa kepada Jariyah tersebut.

Di antara ulama yang juga mampu menahan rasa cintanya adalah Abu Bakar Muhammad bin Dawud az Zhohiri yang terkenal dalam berbagai lapangan ilmu seperti fiqih, hadits, tafsir dan sastra. Menjelang meninggal dunia, Nafthowih datang dan bertanya, “Bagaimana keadaan anda?” “Seperti yang kamu lihat” jawab Dawud. “Kenapa anda menahan keinginan anda (memendam rasa) padahal anda bisa melampiaskannya?” tanya Nafthowih. Dawud menjawab, “Melihat itu ada dua; Mubah dan Haram. Adapun melihat Mubah maka sungguh hal itulah yang menjadikan aku sakit seperti sekarang. Adapun melihat Haram maka aku bisa menahan karena mengingat ucapan Ibnu Abbas....”yang initinya ampunan dan surga bagi seorang yang jatuh cinta dan mampu menahan diri).
 sholat” HR Nasai – Thobaroni.

Dalam riwayat Imam Ahmad ada tambahan, “....aku bisa bersabar dari makanan tetapi tidak bisa sabar dari mereka (para isteri)”Maksud Dicintakan, berarti tak ada kuasa untuk ditahan dan dikuasai. Masalahnya adalah apakah dalam pelampiasan cinta itu seseorang teguh meniti jalan yang dibenarkan atau tidak sabar dan cenderung menghalalkan segala cara menuju pelampiasan. Dan dalam hal ini para nabi membuktikan bahwa mereka mendapat derajat Ishmah, penjagaan dari dosa sehingga sebesar apapun cinta tetap mereka lampiaskan melalui jalur yang dibenarkan yakni jalur pernikahan. Masih tentang cinta Rosululloh SAW kepada isterinya, ketika ditanya siapakah di antara mereka yang paling Beliau cintai maka Beliau menjawab, “Aisyah” lalu bagaimana dengan Khodijah? Beliau SAW menjawab, “Sungguh aku mendapat cinta darinya” kondisi Rosululloh SAW yang dicintakan oleh Alloh kepada wanita terkadang dijadikan alat oleh para musuh Alloh untuk menyerang dan memojokkan  Beliau dengan mengatakan, “Tiada keinginan Muhammad kecuali wanita” sehingga Alloh menurunkan pembelaanNya, “Apakah mereka iri hati kepada seseorang yang mendapat anugerah dari Alloh?” QS an Nisa’: 54. Dalam Islam mencintai wanita dengan melewati jalur yang disahkan bahkan mendapat penghargaan yang tinggi sebagaimana disebutkan Abdulloh bin Abbas ra:

          خَيْرُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ أَكْثَرُهُمْ نِسَاءً
“Sebaik – baik umat ini adalah yang paling banyak isterinya”

Wanita Jatuh Cinta

Dalam studi ilmu Fiqih pendapat terkuat mengatakan bahwa hukum lelaki melihat wanita lain (Ajnabiyyah) adalah haram. Sebaliknya wanita melihat lelaki lain (Ajnabi) cuma sampai pada batas Makruh. Ini karena lelaki lebih bisa untuk melaksanakan dan menuruti rasa tertarik yang muncul akibat memandang. Sementara wanita tidaklah demikian, meski dari segi dorongan keinginan lebih kuat daripada lelaki. Sungguh sebesar apapun dorongan dan syahwat wanita kepada lelaki, hal itu tidak akan banyak berpengaruh sebab rasa malu dalam diri wanita juga sangat tinggi. Dari sinilah kemudian kebanyakan pertemuan dan perjodohan yang lebih banyak memainkan peranan adalah pihak pria dan jarang sekali sebaliknya. Nabi SAW bersabda:    
 فَضُلَتْ الْمَرْأَةُ عَلَى الرَّجُلِ بِتِسْعَةٍ وَتِسْعِيْنَ جُزْأً مِنَ اللَّذَّةِ وَلَكِنَّ اللهَ أَلْقَى عَلَيْهِنَّ الْحَيَاءَ
“Kaum wanita mengalahkan pria dengan 99 bagian dari kelezatan (Syahwat), hanya saja Alloh menuangkan rasa malu atas mereka”( HR Baihaqi dari Abu Huroiroh)

Tidak ada komentar: