Translate

Minggu, 07 April 2013

MENUJU KESEMPURNAAN DIRI

Menuju Kesempurnaan Diri “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang sholeh, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali kepada Allah”. (QS. Al Isro’: 25) Orang-orang sholeh yang di sebut dalam ayat ini adalah orang-orang yang sholeh jiwanya (Sholahun Nafsi). Dari kesholehan jiwa itu lalu terbentuk pula kesholehan segala ucapannya, perbuatannya dan sifatnya. Oleh karena itu barangsiapa tersaksikan melakukan amal-amal sholeh, yaitu amal yang berjalan diatas landasan syara’ dan sunnah-sunnah Nabi, maka ia patut dinyatakan sebagai orang yang sholeh jiwanya, dalam arti ia termasuk golongan orang-orang yang sholeh. Dalam hal ini Allah Subhanahu Wata’ala berfirman mensifati orang-orang sholeh yang tercermin dari karakter Ummah Qooimah: “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus: mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sholat); mereka beriman kepada Allah dan hari akhir; mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; dan mereka bersegera kepada pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang sholeh”. (QS. Ali Imran: 113-114) Ketika amal sholeh menjadi indikasi (tanda) keshalehan diri, maka orang-orang shaleh berbeda-beda derajat kesalehannya sesuai dengan tingkat perbedaan amal-amal mereka sekaligus perbedaan kedudukan mereka menurut Tuhan yang bisa diketahui oleh Allah Subhanahu Wata’ala, berdasarkan hadits: “Taqwa itu di sini”. (Rasulullah bersabda demikian seraya berisyarah pada dadanya tiga kali). (HR. Muslim lihat Hadits Arbain Nawawi nomor ke-35) Untuk mencapai derajat keshalehan diri, mesti harus ada upaya muroqobah (mawas diri) semungkin-mungkinnya agar keshalehan diri terus stabil. Cara yang ditentukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk mencapai keshalehan diri adalah (banyak kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala) atau dalam kata lain katsrotul awbah (diambil dari lafadz. Al-awwabin).Ketika disebut bahwa sifat orang-orang shaleh adalah banyak kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala, maka bersamaan dengan itu disebut pula salah satu Asmaul HusnaNya yang menunjukan akan banyaknya ampunanNya agar tercipta kesesuaian. Artinya, bahwa orang yang banyak kembali kepada Allah pasti harapan besar banyak diampuni. Inilah yang membedakan antara kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan kembali kepada manusia.manakala seseorang bertambah banyak kembalinya kepada manusia, manusia akan memarahinya. Sementara seseorang bertambah banyak kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala maka Allah bertambah mengampuni kepadanya. Bahkan dibanding dengan kembalinya seseorang kepada Allah, ampunan Allah masih lebih luas. Oleh karena itu disebut dengan memakai lafadz (….) yang berarti untuk menguatkan pengharapan akan ampunan. Dengan demikian ayat di atas mengandung dua hal yang mesti ada pada manusia untuk menyempurnakan dirinya, yaitu: 1. Keshalaehan Diri (Sholahun Nafsi). Seperti ditunjukan oleh bagian ayat: (……) 2. Upaya mencapai keshalehan dengan kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala (Ishlahun Nafsi). Seperti ditunjukan oleh bagian ayat: (….) Dari sini selama untuk menyempurnakan dirinya manusia bermujaahadah dengan dua hal ini niscaya dengan dengan seizin Allah ia akan sampai cita-cita dan harapannya kepada derajat kesempurnaan. Dan bulan Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk mereflesikan dua hal itu, utamanya bagi anggota Jama’ah Dakwah. Wallahu A’lam

Tidak ada komentar: