Translate

Sabtu, 13 April 2013

BERIDENTITAS YANG KHAS

Arus globalisasi cenderung melebur semua identitas menjadi satu penataan, tata dunia baru yang berkiblat pada budaya Yahudi dan Nasrani.Ummat Islam ditantang untuk makin memperkokoh identitasnya.Ummat Islam dihadapkan pada problem krisis identitas, atau upaya pengkaburan (eliminasi) identitas. Fakta dari kenyataan itu adalah sering dijumpainya orang-orang yang beragama Islam tetapi dari segi prilakunya sama sekali tidak menampakkan ruh Islam.Padahal muslim itu mempunyai identitas yang jelas, yang berbeda dengan kafir, munafiq dan bebeda pula dengan musyrik. Islam telah menetapkan standar Allah dan Rasul sebagai asas, maka seluruh perilaku,sikap dan kepribadian yang tidak sesuai dengan standar Allah dan Rosul, berarti bukan sikap Islam.Dengan demikian orang muslim yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh Islam,misalnya berzina,mencuri,dan minum-minuman keras, maka ia adalah oknum, sebab perbuatannya tidak berpijak pada Islam. Dalam ungkapan lain, keislamannya lepas saat ia sedang melakukan perbuatan itu. DINUL IZZAH Islam agama yang luhur ( izzah ). Al Islam ya’lu Walaa Yu’la Alaihi. Namun, keluhuran Islam terkadang terhalangi oleh ulah pegikutnya sendiri yang tidak mengamalkan Islam sebagaimana mestinya.Hikmah mengatakan ; “ Islam terhalang oleh (perilaku) ummat Islamnya”. Kita sebetulnya telah diangkat oleh Islam menjadi manusia yang berbudi tinggi, tetapi kita tidak pernah berfikir untuk berjasa buat Islam.Malah Islam kita rusak, kita nodai. Sebab oleh ulah kita Islam,oleh sebagian kalangan,di anggap kolot, miskin, kaku dan bodoh. Kita tidak pernah bangga membawa nama Islam. Bahkan membawa nama Islam di anggap menjadi beban psikologis, tidak bisa ditampilkan di pentas percaturan antar manusia. Maka lahirlah istilah-istilah dari dalam Islam sendiri yang menyalahi Islam, misalnya isu sektarian (mengelompok) dan primordial( sikap adigang-adigung yang merusak semangat kebangsaan) bagi sementara kalangan yang aktif memperjuangkan Islam, menjadi muslim nasionalis, berhati Mekkah berotak Jerman dan berkepribadian Indonesia. Diri kita belum tershibghoh (terwarnai) oleh Identitas Islam yang khas, sebuah warna yang telah diridhoi oleh Allah.Kita masih terlihat identitas Islam dalam simbol (lahiriyah), bukan identitas Islam yang lebih penting yaitu isi dan nilai. Kopyah, sarung, surban, tasbih dan budaya-budaya yang dikatakan Islam lainnya yang hanyalah simbol belaka. Islam menganjurkan penampakan simbol, tetapi tidak boleh melupakan isi dan nilai. Jilbab misalnya disamping simbol juga menyiratkan nilai, begitu juga berkumpul untuk dzikir, bertemu kawan dengan muka berseri dan lain-lain. Kenapa umat islam berada dalam kemunduran? Apakah karena ajaran Islamnya? Salah seorang ulama’ memberi jawaban: “ orang-orang Masehi meninggalkan agamanya. Maka mereka menjadi maju. Dan orang-orang Islam meninggalkan agamanya, maka menjadi sebab mereka terbelakang”. MUKHALAFATUL YAHUD WAN NASHORO Surat al Fathihah ayat 7 secara jelas menyiratkan orang muslim jangan sampai beridentitas sama dengan “Al Maghdlubi ‘Alaihim”,orang Yahudi yang di benci Allah dan “Adldloollin”,orang nasrani yang tersesat. Tetapi ayat yang biasa kita baca minimal 5 kali sehari itu, kita baca sekedar di lisan saja, belum sampai pada tahap realisasi. Dalam banyak hadisnya, Nabi mengindikasikan sikap muslim yang mandiri. Tidak ikut-ikutan pada budaya lain, khususnya kepada Yahudi dan Nasrani. Misalnya puasa Tasu’aa, memanjangkan jenggot, memangkas kumis, banyak komentar ( kastrotussual) dan penekanan sholat isya’ dan shubuh Sikap mukholafah demikian lebih tergambar dalam hadits Nabi : “ Barang siapa menyerupai ( tasyabbuh ) pada suatu kaum maka ia termasuk bagian dari kaum itu” (HR.Abu Dawud) Sekarang ini kita tidak menyadari betapa telah banyak perilaku Yahudi dan Nasrani yang telah berubah menjadi budaya kita.Standing party ( pesta makan sambil berdiri ) misalnya, fenomena kesukaan menyatap fastfood dan softdring, menyetujui kontes-kontes ratu kecantikan (miss universe), mendukung gagasan reaktualisasi hokum Islam dan atau mendukung gagasan Indonesia tidak mungkin menjadi Daulah Islam. Penafsiran yang salah terhadap arti jihad dan usroh. Mode pakaian, model kesenian fulgar, pesta pil koplo dan lain-lain tidak lepas dari rekayasa Yahudi dan Nasrani. Dimana usaha demikian ( tata dunia baru atau globalisasi ) telah dicanangkan oleh mereka 200 tahun yang lalu. Inilah barang kali yang digambarkan oleh Nabi: “Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga umpama mereka memasuki lubang dlob kalian akan mengikutinya.Para sahabat bertanya: Siapakah mereka ya Rasul. Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani.? Nabi menjawab: iya, siapa lagi kalau bukan mereka”(HR.Bukhori). Kita faham bahwasanya yang tampil di pentas dunia saat ini adalah orang Yahudi, bukan orang islam.Namun keberhasilan mereka menguasai dunia tidak lepas dari partisipasi kita dalam “hablum minannas”, yang kita wujudkan dengan mendukung setiap program dan rencana mereka, di samping kita sendiri telah jauh meninggalkan identitas Islam yang khas. Munculnya fenomena musyarokatul Yahudi ( sikap proYahudi ) pada kehidupan umat islam dewasa ini, bisa jadi diakibatkan oleh dua faktor: 1. Ekstern (dari luar) Upaya Yahudi dan Nasrani 2. Intern (dari dalam) a. Keawamannya (budaya) orang bodoh b. Intelektualitasnya (pemikiran) cedekiawan Semanggat hijrah Nabi semoga menjadi pembangkit bagi kita untuk merubah sikap (hijrah) dari yang jelek menuju yang benar.Baik hijratun niat (perubahan niat), hijratul fi’il (perubahan perilaku) maupun Hijatul Makan (perpindahan tempat menuju yang Islami). POSISI SUPEL Islam sangat menganjurkan bersikap supel kepada siapa saja.Dalam haditsnya, Nabi bersabda: “Bersikap supel kepada orang lain adalah shodaqoh.” (HR.Thobaroni) Nabi,dalam hal ini adalah manusia yang paling supel.Nabi mampu bergaul dengan berbagai kalangan.Namun kesupelan beliau diarahkan untuk dakwah. Bila bergaul dengan orang-orang bodoh, maka tunjukan beliau adalah agar mereka mencegah dari upaya makarnya pada Islam,disamping menarik hati mereka agar bersikap baik dan benar pada Islam. Supel disitu dalam arti Mudaaroh, yakni supel yang tidak sampai mengorbankan identitas.Bila sampai ke tingkat Mudaahanah (supel yang mengorbankan identitas), maka hal itu harus dicegah. Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Alloh telah menurunkan kepadamu di dalam Al Quran,bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Alloh diingkari dan diperolok-olokkan,maka janganlah kamu duduk beserta mereka sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain” (QS An Nisa’:140) Ayat tersebut memberikan ibroh,bahwa kita harus menjauhi sarana-sarana yang dipergunakan untuk maksiat dan kita juga tidak boleh ikut nimbrung disitu.Bila hal itu dilakukan,maka tidak ada beda antara kita dengan mereka.Alloh melanjutkan firmanNya: “Sesungguhnya bila kamu berbuat demikian,tentulah kamu serupa dengan mereka” BERIDENTITAS YANG KHAS Identitas Muslim bisa didapat tatkala terwujud upaya bersungguh-sungguh dalam mengarahkan akal pikiran dan kecenderungan dengan satu arah yang dibangun di atas satu asas,yaitu Aqidah Islamiyah.Jenis “asas tunggal” yang dipakai dalam pembentukan identitas merupakan hal yang penting diperhatikan.Kelalaian dalam hal ini akan menghasilkan identitas yang tidak jelas warnanya (mublawaroh).Ada tiga langkah menuju terbentuknya identitas yang khas: 1. Menjadikan Aqidah Islamiyah sebgai pandangan Hidup 2. Bertekad bulat menegakkan bangunan cara berfikir dan cara mengatur kecenderungan di atas pondasi Aqidah Islamiyah yang telah menghujam hatinya. 3. Mengembangkan identitas dengan cara membakar semangat untuk serius dan sungguh-sungguh dalam mengisi pemikirannya dengan kesempurnaan Tsaqofah Islamiyah dan mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan dalam rangka melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada Alloh Ta’alaa. Dengan jalan demikian,insya Alloh kita akan mampu beridentitas Islam yang khas,yang tidak tasyabbuh pada Yahudi dan Nasroni.Alloh dan Rosulnya menjadi standar perbuatan,bukan hawa nafsu.Sesuai dengan hadis Nabi: “Tidak beriman seseorang sehingga hawa nafsunya tunduk pada ajaran yang aku bawa”(HR.Muslim) Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi bekal melangkah dengan semangat hijrah di tahun baru 1417 H. (Disampaikan pada Taushiyah 3 al Haromain.15 Muharrom 1417 H)

Tidak ada komentar: