Translate

Sabtu, 30 Maret 2013

DIAM ADALAH EMAS


   
 مَنْ كان يُؤمِنُ باللّه واليَوم الأخِر فَلْيَقُلْ خَيْرًا او لِيَصْمُت

Saat anda tak memiliki kata-kata yang perlu dibicarakan, diamlah. Cukup mudah untuk mengerti kapan waktunya berbicara. Namun, mengetahui kapan saatnya anda harus diam adalah hal yang jauh berbeda, ini amat sulit. Salah satu fungsi bibir adalah untuk dikatupkan, Maka diamlah. Bagai mana mungkin anda akan bisa memperhatikan dan mendengarkan dengan lidah yang selalu berucap?, Maka diamlah demi kebeningan pandangan anda. Demi kejernihan otak anda. Orang yang mampu diam di tengah keinginan untuk bicara, maka dia akan mampu menemukan kesadaran dirinya. Dan sekali anda membuka mulut, anda akan temui betapa banyak kalimah-kalimah meluncur tanpa disadari. Mungkin sebagian kecil kata-kata itu tidak anda kehendaki. Tapi ingat, betapa sering kali orang tergelincir oleh kerikil kecil. Bukan batu besar. Betapa banyak fitnah terlahir oleh lidah. Betapa banyak pertikaian bermula dari lidah. Maka diamlah untuk sejenak demi keselamatan. 
Dalam Hikmah di katakana;
 البلأ موكَّلٌ بالمَنْطِقِ 
“Bahwasanya balak itu terwakili oleh ucapan”. 

Ingatlah akan butiran mutiara indah hanya akan bisa tercipta bilamana kerang mutiara mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sekali ia membuka lebar-lebar cangkangnya, maka pasir dan kotoran laut akan segera memenuhi mulutnya. Inilah umpama yg mendekatinya , karena diam adalah mutiara yang mahal harganya. Kebijakan pula seringkali tersimpan dalam diamnya para ahli bijak. Untuk mendapatkanya anda harus membukanya dengan tenaga yang super extra. Ingat pesan Nabi bahwa kesempurnaan Agama seseorang adalah ketika dia mampu meninggalkan hal-hal yang tak berarti.

مِن حُسن إسلام المرءِ تركُه مالا يعنيه 

Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah bilamana ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya) 

Namun kebagusan Islam seseorang itu bertingkat-tingkat. Cukuplah seseorang berpredikat bagus Islamnya jika telah melaksanakan yang wajib dan meninggalkan yang haram. Dan puncak kebagusannya jika sampai derajat ihsan, yang tersebut dalam hadits ke-dua dari Kitab Arbain Nawawy. Besarnya pahala dan tingginya kemuliaan seseorang sesuai dengan kadar kebagusan Islamnya, hal tersebut bisa diraihnya bilamana orang tersebut mampu Meninggalkan Sesuatu Yang Tidak Penting. Sesuatu yang penting adalah sesuatu yang bisa memberi manfaat bagi diri, orang lain atau alam sekitar, entah urusan dunia maupun akhirat. 

Standar manfaat diukur oleh syariat, karena sudah maklum bahwa yang diperintahkan oleh syariat pasti membawa manfaat, dan yang dilarang pasti menimbulkan mudhorot. oleh karena itu upaya untuk paham syariat adalah aktivitas yang sangat bermanfaat. Adalah menjadi kewajiban seseorang demi kebagusan Islamnya untuk meninggalkan semua yang tidak penting karena semua aktivitas hamba akan dicatat, dan celakalah seseorang yang memenuhi catatannya dengan sesuatu yang tidak penting, termasuk di dalamnya adalah semua bentuk kemaksiatan. Maka diamlah sebelum anda terjerembak ke dalam gubangan dosa oleh lisan anda. Adalah Shahabat Abu Bakar Ash Shiddik yang rela mengganjal mulutnya dengan batu selama waktu satu tahun hanya supaya tidak banyak bicara. (Ar Risalah Al Qosyiriyah : 122). 
Dan juga Luqman AL hakim yang ber washiyat kepada putranya:

 قال لقمان لابنه : يابنىّ ما ندِمتُ على الصَمْتِ قطّ , فإنّ الكلام إذا كان مِن فضةٍ كان السكوت من ذهبٍ ( الجواهر اللؤلؤية : 139 ) 

“Anakku...Tiada penyesalan sama sekali dalam diamku. Karena sesungguhnya jika berbicara laksana perak maka diam bak emas” 

Diceritakan: adalah orang sholih dahulu dimana mereka tidak akan bicara kecuali setelah menata niatnya, jika mereka dapati niatnya gak bener mereka enggan bicara. Karena menurut hemat mereka “ Tidak ada ucapan kecuali akan di pertanggung jawabkan di akhirat”. 
Di satu hadis Rasulallah berkata:
 من كان يؤمن بالله واليوم الأخِر فليقل خيرا او ليصمُت 

Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim) 

Kedudukan Hadits ini merupakan hadits yang penting dalam bidang adab. Pada hadits di atas menunjukkan ada 2 (dua) hak yang harus ditunaikan, yaitu hak Alloh dan hak hamba. Penunaian hak Alloh porosnya ada pada senantiasa merasa diri diawasi oleh Alloh. Di antara hak Alloh yang paling berat untuk ditunaikan adalah penjagaan lisan. Adapun penunaian hak hamba, yaitu dengan memuliakan orang lain. Menjaga lisan bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan berkata baik atau kalau tidak mampu maka diam. Dengan demikian diam kedudukannya lebih rendah dari pada berkata baik, namun masih lebih baik dibandingkan dengan berkata yang tidak baik. Berkata baik terkait dengan 3 hal, seperti tersebut dalam surat An-Nisa’: 114, yaitu perintah bershadaqoh, perintah kepada yang makruf atau berkata yang membawa perbaikan pada manusia. Perkataan yang di luar ketiga hal tersebut bukan termasuk kebaikan, namun hanya sesuatu yang mubah atau bahkan suatu kejelekan. Pada menjaga lisan ada isyarat menjaga seluruh anggota badan yang lain, karena menjaga lisan adalah yang paling berat. Memuliakan berarti melakukan tindakan yang terpuji yang bisa mendatangkan kemuliaan bagi pelakunya. Dengan demikian memuliakan orang lain adalah melakukan tindakan yang terpuji terkait dengan tuntutan orang lain.

Tidak ada komentar: