Translate

Sabtu, 29 Oktober 2016

Anugerah dalam Derita



Ali bin Abu Tholib ra

Krisis hebat (Azimmah Syadiidah) melanda ekonomi Makkah. Derita semakin terasa menyiksa keluarga - keluarga berpenghasilan rendah dengan banyak anggota keluarga. Salah satu keluarga miskin dengan banyak anggota keluarga adalah keluarga Abu Thalib. Keadaan ini mengundang simpati Nabi shallallahu alaihi wasallam hingga Beliau lalu datang kepada Abbas yang merupakan orang terkaya Bani Hasyim. Kepadanya, Beliau bersabda: “Wahai Abbas, saudaramu Abu Thalib adalah orang miskin yang memliki banyak anggota keluarga, sementara engkau sendiri mengerti akan keadaan sulit ini, karena itu marilah kita ringankan bebannya”. Tawaran dan ajakan ini disambut baik oleh Abbas. Mereka berdua lalu berangkat ke rumah Abu Thalib dan mengutarakan maksud kedatangan mereka: “Kami ingin meringankan beban anda, karena itu biarkanlah sebagian anggota keluarga anda tinggal bersama kami sampai kondisi ekonomi kembali pulih” Menyambut maksud mulia mereka, Abu Thalib berkata: Terserah kalian berdua, hanya saja biarkanlah Uqel tetap tinggal bersamaku ”

Sebuah keberuntungan besar pun menghampiri putera Abu Thalib yang bernama Ali karena ia terpilih untuk tinggal bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, sementara Abbas memilih untuk mengajak Ja’far untuk tinggal di rumahnya. Ali pun tetap tinggal dengan saudara sepepuhnya itu sampai akhirnya malaikat Jibril datang membawa wahyu tentang kenabian sang sepupuh. Ali – pun meraih anugerah besar dengan menjadi salah seorang yang mula - mula masuk islam. Sedang Ja’far juga terus hidup bersama Abbas sehingga Ja’far masuk islam dan bisa berlepas diri dari tanggungan Abbas.   

Kisah keislaman Ali bermula pada suatu hari dirinya memergoki Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Khadijah sedang melakukan shalat secara sembunyi - sembunyi. Melihat sesuatu yang asing, Ali bertanya: “Apakah ini wahai Muhammad? “ Nabi shallallahu alaihi wasallam menjelaskan: “Agama Allah yang Dia pilih untuk diriNya serta mengutus para utusanNya dengan membawa agama ini, karena itu aku mengajakmu kepada Allah Maha Esa tiada sekutu bagiNya dan beribadah kepadaNya serta mengingkari Laata dan Uzzaa”  Ali menjawab: “Ini adalah sesuatu yang sebelum hari ini tak pernah saya mendengarnya, karena itu saya tak bisa memutuskan sebelum meminta pendapat Abu Thalib “ Karena tidak ingin kabar agama ini tersebar sebelum saatnya maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berpesan: “Wahai Ali, jika kamu tidak menerima agama ini maka simpanlah hal ini!”

Malam harinya Ali berfikir tentang ajakan keponakan ayahnya hingga akhirnya Allah membuka hatinya untuk menerima ajakan itu. Pada pagi hari, Ali bergegas datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bertanya: “Wahai Muhammad, apa yang engkau tawarkan kepada saya? “  Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Kamu bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah Maha Esa tiada sekutu bagiNya, kamu ingkari Laata dan Uzza” Ali – pun menuruti perintah ini dan menyatakan diri masuk islam, tetapi untuk sementara waktu keislaman ini berusaha ia sembunyikan dari ayahnya.

Waktu terus berjalan, Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Ali masih terus berusaha menyembunyikan apa yang mereka lakukan dari pandangan mata paman dan ayah mereka serta paman - paman yang lain. Untuk melakukan shalat pada pagi dan sore hari mereka berdua harus rela mengungsi ke lereng - lereng bukit agar tidak terlihat oleh siapapun.  Sampai pada suatu kesempatan Abu Thalib tak urung memergoki mereka sedang melakukan shalat. Dia lalu bertanya: “Wahai keponakanku, agama apa yang kamu anut ini? “ Keponakannya menjawab: “ Wahai paman, ini adalah agama Allah dan agama malaikat, para utusanNya serta agama Ibrahim, dan Allah telah Mengutusku membawa agama ini kepada manusia. Karena itu engkau adalah manusia yang paling berhak menerima nasehat dan ajakanku ini” Abu Thalib berkata: Wahai keponakanku, sesungguhnya aku tak kuasa meninggalkan agama nenek moyangku, tetapi demi Allah tak akan ada sesuatu tidak menyenangkan yang datang kepadamu selama aku masih hidup “. Dalam kesempatan lain Abu Thalib berpesan kepada Ali: “Sesungguhnya Muhammad tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan maka terima dan tetapilah, bela dan tolonglah dia”

Tidak ada komentar: