Translate

Selasa, 07 April 2015

MENJADIKAN SHALAT SEBAGAI SOLUSI HIDUP





“Tidaklah aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah”


Bicara masalah Ibadah bicara pula masalah Shalat, shalat adalah hal yang menakjubkan karena shalat dapat menyusub keseluruh aspek kehidupan kita. Shalat adalah cahaya yang memancar dari hati seorang mukmin, dengan cahaya inilah Allah membimbing para pendamba ridha-Nya. Ketika hati terselimuti kegelapan, hanya percikan cahaya Ilahi sajalah yang mampu meneranginya. Ketika mata hati telah dibutakan oleh nafsu, dan hasrat telah menguasai jiwa, tak ada lagi yang bisa di tunggu selain kehancuran. Hati hanya bisa di bersihkan dengan cahaya tauhid. Tauhid bisa kita perolih dengan beriman, dengan ketakwaan, dengan melaksanakan perintahnya. Jiwa akan selalu tenang jika selalu conek dengan mengingat Allah. Jika hati telah menjadi suci dan jiwa terbebaskan, maka keduanya akan dapat terbang menuju keharibaan Ilahi Robbi, Dzat Pemilik Tunggal Alam ini.
dan Jarak paling dekat antara PROBLEM dan SOLUSI adalah sejauh jarak antara DAHI dengan LANTAI tempat untuk berSujud. Sebanyak apapun persoalan yang telah membebani hari-hari kita, jika kita mau meluangkan sebentar saja untuk mengambil air wudhu dan lalu menunaikan Shalat, maka tidak ada yang akan tersisa kecuali hanyalah ketenangan hati dan keteduhan jiwa.
Tidaklah Rasulullah dilanda suatu masalah kecuali beliau melaksanakan shalat.
Maka disaat permasalahan hidup menimpa, kebimbangan menerpa dan harus memilih antara dua hal maka shalatlah sebagai solusi yang tepat. Dengan melakukan shalat Istikharah jalan terang akan menanti kita, ketenangan jiwa, kepuasan hati akan kita dapati.
Rasulullah SAW pernah berkata: “Istikharah pasti mendatangkan kebaikan.”
Tatkala kita dalam kenikmatan, maka shalat dhuha sebagai sikap yang tepat untuk menjaga akan kelanggengan nikmat tersebut.

إذا كنتَ فى نِعْمةٍ فارْعَها # إنّ المَعَاصِىَ تُزِيْلُ النِعَمَ

“Apa bila kamu dalam suatu nikmat, maka jagalah, kerana sesungguhnya kedurhakaan dapat menyirnakannya”
Pada saat bahagiapun Alloh memerintahkan untuk menunaikan shalat, sebagai penjaga atas nikmat yang telah Alloh limpahkan, sebagaimana kegembiraan menyambut kemenangan Idul Fitri Alloh memerintahkan hamba-Nya untuk menunaikan shalat dua rakaat.
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra., ia berkata: Ketika Rasulullah saw. bersama kami, tiba-tiba beliau terlena sesaat, kemudian mengangkat kepala beliau sambil tersenyum. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang membuat Anda tertawa? Beliau menjawab: Baru saja satu surat diturunkan kepadaku. Lalu beliau membaca: Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar "nikmat yang banyak". Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.... Al Hadis. (Shahih Muslim No.607)
Sebagai mana Allah setelah memberi nikmat pada Nabi SAW. Allah lalu memerintahkan Nabi SAW untuk melaksanakan shalat, sebagai ungkapan syukur, sebagai penjaga nikmat sekaligus mengharap akan tambahnya nikmat yang lain.
Dalam ayat-Nya, Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Disaat permasalahan hidup menimpa,  dikala kemarau panjang mempersulit turunnya hujan, sementara keberadaan air suatu kebutuhan yang tak dapat dihindari. maka shalat Istisqa lantas menjadi solusi untuk mewujudkan setiap tetesnya.
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid Al-Mazini, bahwasanya ia berkata: Rasulullah keluar menuju tempat salat untuk mengerjakan salat istisqa' (permohonan hujan). Beliau memindahkan selendangnya (rida) ketika menghadap kiblat. (Shahih Muslim No.1486).
Dalam Hadis yang lain yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra. menyebutkan : Bahwa seorang sahabat memasuki mesjid pada hari Jumat dari pintu searah dengan Darulqada. Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang berdiri berkhutbah. Sahabat tersebut menghadap Rasulullah saw. sambil berdiri, lalu berkata: Ya Rasulullah, harta benda telah musnah dan mata penghidupan terputus, berdoalah kepada Allah, agar Dia berkenan menurunkan hujan. Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya dan berdoa: "Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami". Kata Anas: Demi Allah, di langit kami tidak melihat mendung atau gumpalan awan. Antara kami dan gunung tidak ada rumah atau perkampungan (yang dapat menghalangi pandangan kami untuk melihat tanda-tanda hujan). Tiba-tiba dari balik gunung muncul mendung bagaikan perisai. Ketika berada di tengah langit mendung itu menyebar lalu menurunkan hujan. Demi Allah, kami tidak melihat matahari sedikit pun pada hari Jumat berikutnya. Kemudian kata Anas lagi: Pada Jumat berikutnya seseorang datang dari pintu yang telah di sebut di atas ketika Rasulullah saw. sedang berkhutbah. Orang itu menghadap beliau sambil berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, harta-harta telah musnah dan mata pencarian terputus (karena hujan terus menerus), berdoalah agar Allah berkenan menghentikannya. Rasulullah saw. mengangkat tangannya dan berdoa: "Ya Allah, di sekitar kami dan jangan di atas kami. Ya Allah, di atas gunung-gunung dan bukit-bukit, di pusat-pusat lembah dan tempat tumbuh pepohonan". Hujan pun reda dan kami dapat keluar, berjalan di bawah sinar matahari. (Shahih Muslim No.1493)
demikianlah Rasulullah dalam menyikapi setiap permasalahan. Beliau selalu lari pada Tuhannya dengan bermunajah melakukan shalat, Beliau jadikan shalat tersebut sebagai solusi setiap permasalahan hidup.
Sholat Fardhu Lima Waktu jika dilakukan dengan berjama’ah dapat sebagai sarana mempererat tali kasih antar sesama, belum lagi sebagai penghilang keluh-kesah yang dalam diri setiap insan.
Kita juga bisa melakukan Shalat Jum’at sebagai sarana pertemuan mingguan  diantara sesama muslim. Disaat kesibukan kita sehari-hari telah membuat hati kita letih dengan urusan masing-masing, maka Shalat Lima waktu maupun Shalat Jum’at-lah dapat menjawab setiap permasalahan sosial kita.
Alhasil apapun aktivitas yang telah menurunkan semangat dan tenaga kita, ataupun permasalahan sehari yang telah membuat penat diri kita, shalat merupakan sumber energi baru, dan pemecah masalah yang jitu. Kerap kali seseorang ketika tertimpa berbagai persoalan hidup minuman sebagai jalan keluarnya, mereka menganggap minuman dapat menjadi solusi yang peraktis, tentu itu merupakan ansumsi yang salah.
Untuk di ketahui hidup kita berawal dengan adzan saat kita dilahirkan dan akan ditutup dengan shalat jenazah. Kejadian paling akhir dalam kehidupan manusia bahkan diberi nuansa ibadah berupa shalat jenazah, sebagai peringatan bagi yang masih bernafas, supaya kita selalu sadar bahwa kita akan disholatkan disaat ajal menjemput kita.


Wallohu A'lam

Tidak ada komentar: