Pancasila Dalam Timbangan Syariat
KHUTBAH PERTAMA
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَحَ صُدُورَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِطَاعَتِهِ، وَهَدَاهُمْ إِلَىٰ تَحْكِيمِ كِتَابِهِ وَٱلْعَمَلِ بِهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ .
قال اللهُ تعالى : { یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ }
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Mari kita meningkatkan iman, amal dengan terus melakukan introspeksi , muhasabah, sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ , dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya terlihat pada ibadah yang kita kerjakan, tetapi juga pada lurusnya akidah, mulianya akhlak, serta bijaksana-nya dalam menjalani hidup di tengah masyarakat.
Karena takwa bukan hanya ketika kita berada di masjid.
Takwa juga harus tampak ketika kita memegang jabatan.
Takwa harus tampak ketika kita memegang uang.
Takwa harus tampak ketika kita memiliki kekuasaan.
Takwa harus tampak ketika kita menjadi pemimpin.
Sebab kita semua akan kembali kepada Allah dan mempertanggung-jawabkan apa yang telah kita lakukan.
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Alhamdulillah, kini kita berada di bulan Agustus, bulan yang penuh sejarah. Empat hari yang lalu, bangsa kita baru saja memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81.
Momentum ini mengingatkan kita kembali kepada sejarah panjang perjuangan para pendahulu kita dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Kemerdekaan itu diperjuangkan dengan pengorbanan jiwa, raga, harta, dan air mata. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah yang datang dengan sendirinya, melainkan buah dari perjuangan panjang dan pengorbanan yang luar biasa.
Namun, kemerdekaan sebuah bangsa tidak cukup hanya dimaknai sebagai terbebasnya negeri dari penjajahan. Kemerdekaan harus diisi dengan membangun kehidupan bangsa yang beradab, bersatu, adil, dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan.
Karena itu, para pendiri bangsa tidak hanya memikirkan bagaimana Indonesia bisa merdeka, tetapi juga bagaimana kemerdekaan itu diisi dengan arah, pedoman, dan cita-cita bersama.
Dari sinilah lahir dasar kehidupan berbangsa yang kita kenal dengan Pancasila, sebagai dasar negara dan pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Lima sila tersebut, apabila dipahami dengan benar, memiliki nilai-nilai yang banyak bersesuaian dengan prinsip-prinsip akhlak dan kemaslahatan yang diajarkan Islam.
Islam tidak mengajarkan kita menjadi manusia yang hanya pandai mengucapkan nilai-nilai kebaikan, tetapi mengajarkan agar nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan.
SILA PERTAMA: KETUHANAN YANG MAHA ESA
Dalam Islam, keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa bukan sekadar semboyan.
Allah berfirman:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung.” (QS. Al-Ikhlas: 1–2)
Tauhid adalah fondasi kehidupan seorang Muslim. Karena itu, manusia tidak boleh menjadikan harta, jabatan, kekuasaan, hawa nafsu dan manusia lain sebagai tuhannya.
Ketika seseorang takut kepada manusia tetapi tidak takut kepada Allah, maka nilai Ketuhanan telah kehilangan ruhnya.
Maka sila pertama mengingatkan kita, bahwa kehidupan bangsa harus dibangun dengan kesadaran bahwa di atas kekuasaan manusia ada kekuasaan Allah.
Artinya, paham yang tidak mengakui adanya Tuhan dan menempatkan kehidupan manusia semata-mata di atas materi dan kekuasaan, seperti komunisme ateistik, tidak sejalan dengan sila pertama Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa.”
SILA KEDUA: KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Islam sangat tegas dalam persoalan kemanusiaan. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)
Adil bukan hanya kepada orang yang kita sukai. Adil juga berlaku kepada mereka yang tidak kita sukai.
Allah berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah (kalian), karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma'idah: 8)
Artinya apa? Maka pejabat harus beradab. Hakim harus beradab. Pedagang harus beradab. Rakyat harus beradab.
Orang kuat harus menghormati yang lemah. Orang kaya harus memperhatikan orang miskin. Dan orang yang memiliki kekuasaan tidak boleh memperlakukan rakyat sesuka hatinya.
Maka, jika ada orang yang mengisi negeri yang sudah merdeka ini dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme; dengan pengkhianatan; serta melanggar konstitusi dan amanah rakyat, maka mereka lebih jahat daripada penjajah.
SILA KETIGA: PERSATUAN INDONESIA
Islam sangat menentang perpecahan yang lahir dari fanatisme buta.
Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa, budaya, dan kelompok masyarakat. Perbedaan bukan alasan untuk saling menghancurkan.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa seorang Muslim harus menjadi bagian dari masyarakat yang menjaga keamanan dan kehormatan sesama.
Jangan karena perbedaan pilihan politik kita bermusuhan. Jangan karena perbedaan pendapat kita saling mencaci. Jangan karena berbeda kelompok kita menghalalkan penghinaan.
Persatuan bukan berarti “semua orang harus sama dengan kita”. Persatuan berarti perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menghancurkan.
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
SILA KEEMPAT: KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN
Musyawarah mempunyai tempat yang sangat penting dalam Islam.
Allah berfirman tentang orang-orang beriman:
وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ
“Urusan mereka (Kaum muslimin) diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)
Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan dalam bermusyawarah dengan para sahabat.
Artinya, dalam Islam, kepemimpinan tidak dibangun di atas kesewenang-wenangan, tetapi di atas amanah, kebijaksanaan, dan kesediaan mendengar nasihat.
Maka kekuasaan bukan kesempatan untuk bertindak semaunya. Jabatan bukan milik pribadi. Kursi kekuasaan bukan kemuliaan, tetapi amanah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Maka semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula amanahnya, semakin berat tanggung jawabnya, dan semakin panjang pertanggung jawabannya di hadapan Allah ﷻ.
SILA KELIMA: KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
Inilah salah satu nilai yang sangat kuat dalam Islam.
Islam tidak membenarkan kekayaan hanya berputar di kalangan orang-orang tertentu.
Allah ﷻ berfirman:
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ.
“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian.”
(QS. Al-Hasyr: 7)
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Negeri kita dianugerahi Allah kekayaan yang luar biasa. Negeri ini sangat subur, “gemah ripah loh jinawi.” Lautnya luas, tanahnya subur, hutannya lebat, dan kekayaan alamnya melimpah. Di dalam tanahnya tersimpan nikel. Di ujung Sumatera terdapat gas dan minyak. Di Kalimantan tersimpan batu bara dan berbagai kekayaan mineral. Di Sulawesi ada nikel dan emas. Di Papua bergelimpangan emas.
Sungguh, Indonesia bukan negeri yang miskin. Indonesia adalah negeri yang kaya raya.
Maka yang menjadi pertanyaan bukan hanya seberapa kaya negeri ini, tetapi seberapa adil kekayaan itu dikelola dan seberapa besar manfaatnya dirasakan oleh rakyat.
Maka, kalau kekayaan alam yang begitu melimpah hanya dinikmati oleh segelintir orang, sementara rakyat kecil masih hidup dalam kesulitan.
Maka di mana keadilan sosialnya?
Keadilan sosial berarti rakyat kecil mendapatkan haknya.
Anak yatim mendapatkan perhatian.
Orang miskin mendapatkan perlindungan.
Dan orang yang memiliki kekuasaan tidak boleh menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan kepentingan rakyat.
Dan jika ada orang yang mengeruk kekayaan negeri ini untuk memperkaya diri sendiri, mengorbankan kepentingan rakyat, serta mengkhianati amanah yang diberikan kepadanya, maka mereka adalah pengkhianat bangsa, mereka harus dihukum mati.
Sebab kekayaan negeri ini bukan untuk diperebutkan oleh segelintir orang, tetapi merupakan amanah yang harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemaslahatan rakyat.
Inilah ruh sila kelima: “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Dari lima sila tersebut kita belajar satu hal:
Nilai sebuah bangsa tidak ditentukan hanya oleh apa yang tertulis di atas kertas, tetapi oleh bagaimana nilai-nilai itu dilaksanakan.
Jangan sampai kita bangga mengatakan: “Ketuhanan Yang Maha Esa,” tetapi kehidupan kita jauh dari ketakwaan.
Jangan sampai kita mengatakan: “Kemanusiaan yang adil dan beradab,” tetapi masih suka berbuat dhalim pada orang lain..
Jangan sampai kita mengatakan: “Persatuan Indonesia,” tetapi senang menyebarkan permusuhan.
Jangan sampai kita berbicara tentang musyawarah, tetapi menolak nasihat.
Dan jangan sampai kita meneriakkan: “Keadilan sosial,” tetapi ketika mendapatkan kekuasaan justru mengambil hak orang lain.
Maka ada ungkapan yang patut menjadi peringatan keras bagi kita semua: “Barangsiapa yang mencoba memelintir sila-sila di atas untuk kepentingan pribadi, kelompok, organisasi , partai atau kekuasaan, maka ia telah mengkhianati amanah bangsa.”
Dan kita perlu lebih tegas lagi:
“Pemimpin, pejabat, dan hakim yang menyalah gunakan amanah, memutar balikkan keadilan, serta menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, adalah bentuk pengkhianatan yang sebenarnya terhadap amanah rakyat.” maka mereka patutlah untuk diusir dari negeri ini.
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
17 Agustus 1945 bertepatan dengan “9 Ramadhan 1364 H, pada hari Jumat”.
Artinya, para pendiri negeri ini ketika memproklamasikan kemerdekaan Indonesia memilih momentum yang mulia: hari yang mulia dan bulan yang mulia.
Maka tidak dibenarkan jika generasi penerus mensyukuri kemerdekaan tersebut dengan hura-hura, joget-joget yang tidak senonoh, mabuk-mabukan, perjudian, dan berbagai kemaksiatan lainnya.
Sebab, kemerdekaan adalah nikmat Allah yang harus disyukuri dengan ketaatan, bukan dengan kemaksiatan; dengan akhlak, bukan dengan kehinaan.
Jangan sampai kita merayakan kemerdekaan dengan cara yang justru mengundang kemurkaan Allah ﷻ.
Marilah kita jaga …. negeri ini…
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd: 11)
Maka mari kita bangun Indonesia dengan iman, akhlak, persatuan, musyawarah, dan keadilan.
Bukan sekadar menghafal Pancasila, tetapi menghidupkan nilai kebaikannya.
Bukan sekadar mencintai Indonesia dengan kata-kata, tetapi mencintainya dengan kejujuran, pengabdian, dan akhlakul karimah.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ مالِكِ الْمُلْكِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ بَشِيرٍ وَخَيْرُ نَذِيرٍ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ .
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Mari kita jadikan momentum kemerdekaan dan kehidupan berbangsa sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Jadilah hamba yang bertakwa.
Jadilah rakyat yang patuh.
Jadilah pejabat yang amanah.
Jadilah hakim yang adil.
Jadilah pemimpin yang melayani, bukan dilayani.
Dan jadilah masyarakat yang menjaga persatuan.
Karena “bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki kekayaan alam”.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki manusia-manusia yang beriman, jujur, beradab, bersatu, suka bermusyawarah, dan menegakkan keadilan.
Semoga Allah menjaga Indonesia. Allah hadirkan seorang pemimpin yang amanah. Memberikan kepada para hakim kekuatan untuk menegakkan keadilan.
Dan semoga Allah menjauhkan negeri ini dari para pengkhianat bangsa.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، يَا غَافِرَ الذُّنُوبِ وَالْخَطِيئَاتِ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ عَلَى نِعَمِهِ وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar