Translate

Tampilkan postingan dengan label TAUSHIYAH ABINA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAUSHIYAH ABINA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2016

Batu pun Bertasbih



            Segala sesuatu yang berada di atas langit, di dasar lautan seluruhnya bertasbih mensucikan dan mengagungkan Allah Swt, inilah hakikat yang haus di mengerti dan di yakini oleh umat manusia. Artinya bahwa semua makhluk bertasbih, mensucikan, mengagungkan dan mengakui ke Esaan dan Ketuhanan Allah, Dia berfirman:

          تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَاْلأَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ تُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لاَ تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ
            “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Alloh. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kalian tidak mengerti tasbih mereka”QS al Isro’: 44.

            Ketiadaan mengerti atau manusia tidak memahami Tasbih tumbuhan, hewan dan bebatuan hanyalah dikarenakan perbedaan bahasa. Ibnu Mas’ud ra berkata, “Kami makan bersama Rosululloh SAW dan kami mendengar tasbih makanan saat ia dimakan”HR Bukhori. Abu Dzar ra berkisah, “Rosululloh SAW mengambil beberapa batu kerikil, lalu terdengar batu – batu kerikil itu bertasbih seperti suara desing lebah. Kerikil – kerikil itu terus bertasbih saat ditaruh di tangan Abu Bakar, Umar dan Utsman” HR Baihaqi. Anas ra juga menyebutkan bahwa suatu kali Rosululloh SAW datang dan menjumpai sekelompok orang yang sedang asyik duduk di atas hewan kendaraan mereka. Rosululloh Saw lalu bersabda, “Naik dan tinggalkan kendaraan – kendaraan itu dengan selamat, jangan jadikan hewan – hewan kendaraan tersebut sebagai kursi – kursi untuk obrolan – obrolan kalian di jalan – jalan dan di pasar – pasar, sebab banyak yang ditumpangi (hewan kendaraan) lebih baik dan lebih banyak berdzikir kepada Alloh daripada penumpangnya” HR Ahmad. Jadi semua yang ada ini bertasbih; tiang – tiang bertasbih, suara pintu itu tasbih, gemericik air itu tasbih, dan suara kodok juga tasbih. Abdulloh bin Amar bin Ash ra berkata, “Rosululloh SAW melarang membunuh kodok”, Abdulloh melanjutkan, “Karena suara nyanyian kodok tasbih” HR Nasa’i.

            Sebagian ulama mengatakan bahwa tidak seluruhnya makhluk yang ada itu bertasbih, tetapi hanya terbatas pada hewan dan tumbuhan yang bernyawa. Pendapat ini berdasarkan pada pendapat Qotadah, Hasan al Bashri dan Dhohhak serta berlandaskan pada sebuah hadits dari Ibnu Abbas ra, “Sesungguhnya Rosululloh SAW melewati dua kuburan, Beliau SAW lalu bersabda, “Sungguh dua penghuni kubur ini mendapat siksaan. Mereka disiksa bukan karena dosa besar. Salah satunya disiksa karena tidak membersihkan diri  selesai buang air kecil, dan satunya lagi disiksa karena suka mengadu domba” Ibnu Abbas ra melanjutkan, “Rosululloh SAW lalu mengambil pelepah kurma dan membelahnya menjadi dua bagian, kemudian menancapkannya satu – satu di kedua kuburan tersebut. Beliau SAW lalu bersabda, “Semoga siksaan kedua orang ini diringankan selama pelepah kurma ini belum kering” Muttafaq alaihi. Mengomentari Hadits ini, sebagian ulama mengatakan, “Rosululloh SAW bersabda, “Selama belum kering” karena selama pelepah kurma itu masih hijau maka selama itu pula pelepah tersebut bertasbih.

            Kendati ada perbedaan pendapat tentang masalah ini, perlu dimengerti bahwa pendapat yang shohih adalah pendapat yang pertama, yaitu seluruh makhluk, baik yang bernyawa seperti hewan dan tumbuhan maupun yang tidak bernyawa seperti bebatuan, selalu bertasbih kepada Alloh. Aisyah ra menceritakan sabda Rosululloh SAW, “Saat Jibril datang kepadaku dengan membawa risalahku maka setiap bebatuan dan tumbuhan yang aku lewati selalu mengucapkan salam kepadaku” HR Bazzar – Abu Nuaim. Alloh Subhaanahu Wata’aala juga berfirman tentang Nabi Dawud as, “Sesungguhnya Kami menundukkan gunung – gunung untuk bertasbih bersama dia (Dawud) di waktu petang dan pagi”QS Shood: 18. Alloh juga berfirman:

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا دَاوُدَ مِنَّا فَضْلاً يَاجِبَالُ أَوِّبِى مَعَهُ وَالطَّيْرَ
          “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan anugerah dari Kami kepada Dawud. (Kami berfirman): Hai gunung – gunung dan burung – burung, bertasbihlah berulang – ulang bersama Dawud” QS Saba’ : 10.

            Anugerah ini membuat Nabi Dawud as setiap kali berjalan di area pegunungan selalu mendengar bebatuan gunung bertasbih mengikuti tasbih – tasbih yang Beliau ucapkan. Jadi semua yang ada di mayapada ini bertasbih, hanya saja kalian wahai manusia, tidak mengerti bahasa tasbih mereka kecuali jika Alloh memberikan anugerahNya seperti yang Dia berikan kepada Nabi Dawud as di atas, serta kepada Nabi Sulaiman puteranya. “...dan Sulaiman berkata: Wahai manusia, aku diberikan pengertian mengenai bahasa burung”QS an Naml: 16. Rosululloh Muhammad SAW sendiri dalam berbagai kesempatan mampu mendengar percakapan hewan, juga mendengar dan memperhatikan keluhan mereka. Suatu ketika ada seorang yang menuntun sapi dengan muatan penuh di punggungnya. Melihat Rosululloh SAW, sapi itu mengeluh dan berkata, “Sesungguhnya saya diciptakan tidak untuk seperti ini, tetapi saya diciptakan untuk membajak sawah” mendengar hal ini, orang – orang serentak berkata, “Subhaanalloh” Rosululloh SAWlalu bersabda, “Sesungguhnya aku, Abu Bakar dan Umar percaya dengan hal tersebut” Muttafaq alaihi.


Selasa, 18 Oktober 2016

Menyimpan, Jalan Keberhasilan




Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِسْتَعِيْنُوْا عَلَى إِنْجَاحِ حَوَائِجِكُمْ بِالْكِتْمَانِ
“Jadikan menyimpan sebagai penolong mendapatkan kebutuhan-kebutuhan kalian”(HR Thabarani)
Banyak jalan yang harus dilalui oleh manusia untuk mendapatkan maksud keinginan. Di antara cara yang mungkin sering dilupakan adalah Menyimpan (Kitmaan)  dalam arti tidak membeberkan maksud keinginan kepada orang lain sebelum keinginan itu tercapai. Hal ini karena setiap nikmat pasti diikuti oleh perasaan iri dari orang lain yang akibatnya sebelum nikmat itu didapatkan maka sangat mungkin orang lain akan melakukan upaya penggagalan. Inilah yang melatarbelakangi mengapa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan demikian seperti disebut dalam lanjutan hadits di atas:
...فَإِنَّ كُلًَ ذِيْ نِعْمَةٍ مَحْسُوْدٌ
“...karena sungguh setiap pemilik nikmat itu dihasudi (ada orang yang iri kepadanya)”
Anjuran menyimpan ini sama sekali tidak bertentangan dengan  hadits-hadits yang menganjurkan supaya nikmat diceritakan kepada orang lain (Tahadduts Binnimah),  sebab menceritakan nikmat adalah ketika nikmat sudah didapat sementara menyimpan adalah ketika nikmat itu masih dalam harapan dan pencarian (belum didapatkan). Dari hadits ini orang-orang berakal (Uqala) mengambil pelajaran bahwa barang siapa hendak bermusywarah maka semestinya ia berusaha menyimpan dan melipat dengan baik rahasianya. Imam Syafii berkata, “Barang siapa menyimpan rahasianya maka kebaikan berpihak kepadanya” .
Sebagian ahli Hikmah berkata, “Barang siapa menyimpan rahasianya maka pilihan ada padanya. Betapa banyak membocorkan rahasia menjadi sebab darah pemiliknya mengalir dan mencegah maksud keinginan” sebagian lagi berkata, “Rahasiamu adalah darahmu, jika kamu ceritakan berarti kamu telah mengalirkan darahmu”.
Anu Syirwan berkata, “Ada dua keuntungan yang diperoleh dari menyimpan rahasia; mendapatkan maksud keinginan dan selamat dari bahaya yang mengancam” . Dalam tebaran hikmah juga dikatakan, “Milikilah sendiri rahasiamu, jangan titipkan kepada orang yang teguh yang bisa mengakibatkan dia runtuh. Atau orang bodoh yang menjadikan ia berulah” Kendati demikian ada sebagian rahasia yang mesti harus diketahui oleh teman dekat atau orang yang dimintai pendapat. Dalam kasus ini seorang harus berhati-hati dan meneliti sipakah orang yang layak ia percaya. Sebab tidak setiap orang yang dapat dipercaya memegang harta bisa dipercaya bisa menyimpan rahasia. Sungguh menjaga diri dari harta (Iffah) lebih mudah daripada menghindarkan diri dari membocorkan rahasia.
Ar Raghib berkata, “Menyebarkan rahasia pertanda minusnya kesabaran dan dada yang sempit di mana hal ini menjadi ciri lelaki lemah dan para wanita. Menyimpan rahasia menjadi hal yang sulit dilakukan karena manusia memiliki dua kekutan mengambil (Aakhidzah) dan kekuatan memberikan (Muthiyah) di mana keduanya sangat ingin mendapat aktivitas yang istimewa. Andai saja Allah tidak menentukan Muthiyah agar menampakkan isinya niscaya anda tidak akan mendapat kabar apapun dari orang yang tidak anda dorong (untuk memberikan kabar kepada anda). Karena itulah wajib bagi manusia untuk menahan kekuatan Muthiyah dan tidak melepaskannya kecuali jika wajib dilepaskan.

Jumat, 16 September 2016

Mengikis Egoisme



Sungguh manusia tercipta dengan segala kelebihan dan kekurangan. Selain kebaikan, dalam diri anak keturunan Adam itu juga terdapat aneka warna keburukan, akan tetapi justru dalam keburukan inilah tersimpan Hikmah agung Ilahi, yaitu sebagai sarana ujian bagi manusia itu sendiri. Barang siapa yang hanyut dalam keburukan itu maka dia termasuk orang yang celaka dan merugi, sebaliknya keuntungan besar menanti manusia yang mampu mematahkan keburukan tersebut. Salah satu keburukan yang ditumbuhkan oleh Allah dalam diri setiap manusia adalah sikap mau menang sendiri, tak mau kalah dengan orang lain dan cenderung mendahulukan diri sendiri. Sikap seperti ini lazim disebut Egoisme atau Anaaniyyah. Contoh mudah dari sikap ini adalah ketika anda melihat sebuah foto anda bersama orang lain, maka pertama kali yang menjadi sasaran pandangan mata adalah gambar anda sendiri.

Sikap Egoisme ini jika diteliti lebih jauh ternyata menjelma dalam berbagai macam performa, antara lain:

1) Seperti dalam firman Allah:

إِنَّ اْلإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا , إِذَا مَسَّهُ الشَّرُ جَزُوْعًا , وَإِذَا مَسَّـهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا

“Sesungguhnya manusia tercipta dengan bersifat keluh kesah, jika apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan maka ia kikir…”QS al Ma’aarij: 19 – 21.

Yaitu jika tertimpa bencana atau kesusahan maka manusia merasa sangat susah seakan tak akan ada lagi kebaikan yang datang serta ke sana kemari mengeluh dan meminta bantuan, tetapi sebaliknya jika mendapat nikmat dari Allah maka dia menjadi lupa diri dan enggan menularkan nikmat Allah itu kepada orang lain. Jangankan untuk suatu hal yang sunnah, hal yang wajib seperti zakatpun ia lupakan. Jadi dengan sikap seperti ini, manusia telah merampas hak Allah serta hak manusia, padahal sebelumnya saat tertimpa bencana dia mengeluh kepada Allah dan juga meminta kepada manusia. Dalam ayat lain, karena sifat ini Allah menyebut manusia sebagai sebagai orang yang pelit (Qotuur / Bakhiil), Dia berfirman: “… dan adalah manusia itu sangat kikir” QS al Isra’: 100.

Dalam rangka menyikapi watak seperti ini, manusia mendapat bimbingan dari Allah agar bersikap Ta’affuf atau menjaga diri dan tidak lepas kontrol kala kesusahan melanda, “…orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka orang–orang kaya karena mereka memelihara diri dari meminta–minta. Kamu kenal dengan sifat–sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak…”QS al Baqarah: 273, serta bersikap tepo seliro, bertoleransi kepada orang lain yang membutuhkan saat bisa memberikan bantuan.

2)       Seperti dalam firman Allah:

 وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِـيْنَ , الَّذِيْنَ إِذَا اكْتَالُوْا عَلَي النَّاسِ يَسْتَـوْفُوْنَ , وَإِذَا كَالُوْهُمْ أَوْ وَزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَ

“Kecelakaan besarlah bagi orang–orang yang curang, (yaitu) orang–orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” QS al Muthaffifiin: 1–3.

Sikap hanya mau menang sendiri juga mendorong manusia untuk tidak mau dirugikan oleh orang lain tetapi suka merugikan orang lain, salah satunya adalah dengan menuntut kesempurnaan timbangan dan takaran kepada orang lain, sementara jika menimbang atau menakar untuk orang lain dia mengurangi. Seperti lazimnya firman Allah yang lain, ayat tersebut juga turun sebagai respon atas sebuah fenomena, Ibnu Abbas ra meriwayatkan: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  datang di Madinah, penduduk Madinah biasa mengurangi takaran hingga lalu turunlah firman Allah di atas. Dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan  tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah mengurangi neraca itu” QS ar Rahmaan: 9.

3) Seperti dalam firman Allah:

 وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ , فَإِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسَي أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

“Dan bergaullah dengan mereka (isteri–isteri) dengan baik, lalu  jika kalian tidak menyukai mereka maka (bersabarlah) karena mungkin sekali kamu tidak menyukai sesuatu , padahal Allah menjadika padanya kebaikan yang banyak”QS an Nisa’: 19

Seorang suami wajib bergaul dengan isterinya dengan cara yang baik (Mu’aasyarah Bil Ma’ruuf), semua suami mengerti akan hal ini, akan tetapi seringkali kewajiban ini terlupakan ketika suami melihat sebuah keburukan isterinya, perasaan dan prilakunya kepada isteri berubah manakala menyaksikan sesuatu yang tidak menyenangkan dari ibu anak–anaknya. Jika hal ini dituruti berarti seorang suami hanya menuruti egonya sendiri yang berupa hanya mau merasakan kesenangan dan kesempurnaan pasangan, tetapi tidak mau menerima kekurangan, karena inilah Nabi shallallahu alaihi wasallam berpesan:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ سَخِطَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا ءَاخَرَ

“Seorang mukmin (suami) jangan membenci mu’minah (isteri); jika dia marah terhadap suatu karakter darinya (isterinya) maka sangat mungkin dia rela akan karakter yang lain” HR Muslim

Ayat dan hadits ini memberikan arahan kepada suami agar jangan tergesa menyalahkan dan membenci isteri hanya karena prilaku isteri yang tidak berkenan di hati, Imam Sya’rani dalam Tanbiihul Mughtarriin menulis:

“Dan salah satu karakter para Salaf Sholeh adalah tabah dan bersabar menghadapi tingkah laku isteri yang tidak menyenangkan, mereka mengerti bahwa segala yang dilakukan oleh isteri tak lain adalah gambar hidup dari perlakuan mereka kepada Allah. Ini adalah kaidah mayoritas (Aktsariyyah) dan bukan keseluruhan. Para Salaf yang Sholeh itu juga masih tetap memberikan hak isteri secara penuh kendati isteri mereka melakukan pembangkangan”

4) Seperti dalam firman Allah:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْـهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

“…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf…”QS al Baqarah: 228.

Seperti isteri memiliki kewajiban, ia juga mempunyai hak yang harus dipenuhi oleh suami, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hendaknya kamu memberinya makan jika kamu makan, kamu memberikan pakaian jika kamu berpakaian, dan jangan memukul wajah, jangan menjelek–jelekkan dan jangan menjauhinya kecuali dalam rumah” HR Ibnu Hatim – Ibnu Jarir, dan termasuk hak isteri adalah menikmati kecantikan suami, Ibnu Abbas berkata: “Sesugguhnya aku suka berhias untuk isteriku seperti aku juga sangat suka jika isteriku berhias untukku”, artinya dalam rangka mewujudkan hak isteri yang berupa Mu’asyarah Bil Ma’ruuf seorang suami juga dituntut agar menghias diri, akan tetapi pada kenyataannya, egoisme mendorong banyak suami meminta pelayanan sempurna dari isteri sementara dia sendiri tidak mengimbangi pelayanan tersebut dengan servis memuaskan.

5) Keengganan Wanita untuk Dimadu

Egoisme juga menampak pada diri seorang wanita ketika mendengar bahwa sang suami akan menikah lagi, sepertinya tak ada isteri yang rela jika ada cinta untuk wanita lain dalam hati suaminya. Ini adalah naluri semua wanita, tetapi masalahnya adalah memiliki isteri lebih dari satu adalah hal yang diperbolehkan dan sah dilakukan jika memenuhi segala persyaratan yang telah ditentukan. Memang bukan sebuah hal yang mudah untuk menerima madu, tetapi inilah yang telah digariskan olehNya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْغَيْرَةَ عَلَي النِّسَاءِ وَالْجِهَادِ عَلَي الرِّجَالِ فَمَنْ صَبَرَ مِنْهُنَّ إِحْتِسَابًا كَانَ لَهَا أَجْرُ شَهِيْدٍ

“Sesungguhnya Allah menuliskan Kecemburuan atas wanita dan Jihad atas para lelaki, maka barang siapa dari mereka (para wanita) yang ikhlas dan sabar maka baginya pahala orang mati syahid ”HR Thabarani / Disebut oleh Ibnul Jauzi dalam Ahkaamun Nisa’ : 151.

Kisah Ummu Habibah binti Abu Sufyan ra bisa dijadikan teladan dalam masalah ini. Isteri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu bercerita: Nabi shallallahu alaihi wasallam datang, aku lalu berkata: Sudikah anda menikahi saudara saya (Azah)? Nabi shallallahu alaihi wasallam balik bertanya: “Apakah kamu suka dengan hal ini?” aku menjawab: “Saya tak akan pernah melarang anda (dari madu) dan saya sangat suka jika orang yang ikut bersama saya dalam kebaikan itu adalah saudara saya sendiri”. Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu bersabda: “Tidak, dia tidak halal bagiku”(HR Muslim/Tahriimurrabibah Wa Ukhtul Mar’ah)

Peristiwa terkikisnya Egoisme dikisahkan oleh Allah terjadi dalam pribadi–pribadi para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, di mana mereka adalah tipe manusia yang senantiasa berusaha membahagiakan orang lain meski mereka sendiri dalam keadaan susah, sikap seperti biasa disebut dengan Iitsaar, Allah berfirman:  

 ...وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَي أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ...

“…dan mereka mengutamakan (orang lain/muhajirin) atas diri mereka sendiri meski mereka sendiri sangat membutuhkan (apa yang mereka berikan)”QS al Hasyr: 9.

Abu Hurairah ra bercerita: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mengeluh kepayahan serta kelaparan. Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu bertanya kepada para isteri, tetapi ternyata mereka semua tak memiliki sedikitpun makanan yang bisa disuguhkan. Nabi shallallahu alaihi wasallam akhirnya bersabda: “Adakah seorang yang menyuguh lelaki ini pada malam ini?” seseorang (Abu Tholhah ra) kemudian menjawab: “Saya, wahai Rasulullah”. Lelaki itu kemudian pulang ke rumah dan berkata kepada isterinya: “Ini adalah tamu Rasulullah, jangan kamu menyimpan sesuatu makanan?” Isterinya menjawab: “Demi Allah saya tak menyimpan sedikitpun kecuali jatah makan malam untuk anak kita”. Lelaki itu berkata: “Jika anak kita meminta makan, maka tidurkan saja dia, dan matikan lampu, biarlah malam ini perut kita lapar”. Pagi harinya, lelaki tamu itu datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu bersabda: “Sungguh Allah sangat heran dengan suami isteri itu”Muttafaq Alaih, setelah kejadian ini turunlah firman Allah seperti tersebut.   

Rabu, 14 September 2016

Efektifitas Doa

Oleh: Abina KH. M. Ihya' Ulumiddin.


Dalam bahasa Doa adalah merendah untuk meminta dan rasa rindu akan sesuatu kebaikan yang dimiliki oleh orang yang dimintai. Secara Istilah, Doa adalah meminta dengan merendahkan diri atau menghaturkan kebutuhan ( Hajat ) kepada Sang Maha Meninggikan derajat.  Imam al Khotthobi berkata,  Esensi Doa adalah permintaan Inayah ( perhatian ) seorang hamba kepada Alloh serta pernyataan akan ketiadaan daya upaya kecuali dari Alloh . Imam Nawawi menyatakan,  Madzhab yang dipilih yang telah disepakati oleh ahli fiqih, ahli hadits dan Jumhur ulama salaf & kholaf, Berdoa hukumnya Mustahab (sunnah), tetapi terkadang menjadi wajib seperti halnya berdoa dalam sholat jenazah. Ini berdasarkan firman Alloh, dan Tuhan kalian berfirman,  Berdoalah kalian niscaya Aku akan mengabulkan  QS Ghofir : 60. Nabi Muhammad Shollallohu alaihi wasallam bersabda yang artinya, Barang siapa yang tidak meminta kepada Alloh maka Alloh marah kepadanya  HR Ibnu Majah. Tanpa memandang pendapat bahwa yang lebih baik adalah diam ( tidak berdoa) dan ridho akan kepastian Alloh, yang pasti dalam berdoa ada banyak sekali keuntungan. Antara lain:
Sarana mendapat Ampunan Dari sini kemudian tidak diperkenankan berdoa memohonkan ampunan untuk orang  orang kafir meski masih keluarga sendiri Abu Bakar ra pernah meminta, “Ajarkanlah kepada saya do’a yang akan saya baca dalam sholat !” Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda, “ Ucapkanlah!”:

أَللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“ Ya Alloh sungguh saya telah banyak sekali menganiaya diri sendiri dan tiada yang memberi
 ampunan kecuali Engkau. Maka berikanlah ampunan kepadaku dari sisiMu. Kasihanilah daku. Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pengasih” HR Bukhori.
Jalan Menuju Kemenangan. Jika dalam pertempuran, seseorang membutuhkan senjata maka doa merupakan senjata yang paling ampuh untuh mendapatkan kemenangan,  Doa adalah senjata orang beriman.... HR Hakim. Doa menjadi sebuah peluang tipis menjadi besar,  Jangan kalian merasa susah dalam berdoa. Sungguh tak ada seorang pun hancur bila ia bersama doa HR Hakim. Muwarroq berkata,  Aku tidak menemukan perumpamaan bagi orang beriman kecuali seseorang yang bertumpu pada sebuah kayu di lautan  dan ia berdoa, Ya Alloh, ya Alloh  mungkin sekali Alloh Menyelamatkannya Doa menjadikan sesuatu yang secara akal sulit terjadi menjadi sebuah kenyataan yang menakjubkan. Ingat Makkah yang ketika itu tak lebih hanya gurun sahara tetapi karena doa Nabi Ibrohim as akhirnya menjadi kota tujuan banyak orang dan segala kesejahteraan bisa dirasakan oleh penduduknya. Doa juga menjadikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Rosululloh SAW meminta minum, Umar bin Akhtob segera menyodorkan bejana berisi air. Kebetulan ada sehelai rambut di dalamnya. Umar lalu mengambil rambut itu dan baru kemudian menyodorkan kepada Rosululloh SAW. Selesai minum maka Beliau SAW berda,  Ya Alloh, baguskanlah ia  berkah doa ini. Umar meski telah berusia 93 tahun tak satupun ada uban di rambutnya. HR Ahmad.
Doa  menolak Qodho. Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, “.Kewaspadaan tidak bisa menyelamatkan dari kepastian ( Qodar ). Sedang Do’a bermanfaat  dari sesuatu yang telah terjadi dan sesuatu yang belum terjadi. Sungguh bencana pasti akan turun, kemudian disambut oleh Do’a. Mereka kemudian  saling beradu sampai hari kiamat “ HR Hakim. Nabi Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ


“ Qodho tidak bisa dicegah kecuali oleh do’a “ HR Turmudzi / Ibnu Majah / Ibnu Hibban
Imam Ibnul Qoyyim al Jauzi berkata: Do’a merupakan musuh bencana. Do’a mampu menolak, mencegah, menghilangkan atau paling tidak meringankan bencana. Ada tiga kemungkinan perbandingan di antara doa dan bencana; 1) doa lebih kuat, maka dipastikan ia menolak bencana, 2) bencana lebih kuat sehingga bencana tetap datang. Kendati demikian doa tetap saja memberi pengaruh meringankan bencana, 3) keduanya sama seimbang dalam kekuatan sehingga keduanya terus terlibat dalam pertempuran sampai hari kiamat seperti disebut dalam hadits riwayat Hakim di atas. Berangkat dari sini, seorang hamba harus rajin berdoa dan melakukan usaha  usaha untuk memenangkan doa dan mengalahkan bencana ( Qodho) di antara langkah tersebut adalah a) sangat bersungguh  sungguh atau ngotot (Ilhah ) seperti sabda Nabi Shollallohu alaihi wasallam yang artinya,  Sesungguhnya Alloh Mencintai orang  orang yang ngotot dalam berdoa  HR Ibnu Majah. b) tidak tergesah  gesah ( Istijaal). “Seorang hamba senantiasa dikabulkan selama.... tidak tergesah  gesah para sahabat bertanya: Apakah itu tergesah  gesah ? Beliau Shollallohu alaihi wasallam menjawab,  ia berkata: “Aku telah berdo’a, aku telah berd’a tetapi tidak dikabulkan “ sesudah itu ia merasa lemah dan akhirnya meninggalkan berdo’a “ HR Muslim.  c) keyakinan bahwa do’a pasti dikabulkan. Sabda Nabi Shollallohu alaihi wasallam:

أُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِاْلإِجَابَةِ . وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdo’alah kalian kepada Alloh seraya meyakini pasti dikabulkan. Dan mengertilah bahwa Alloh tidak menerima do’a dari orang yang hatinya lalai dan lupa “ HR Turmudzi.
Kendati meyakini bahwa doa mesti dikabulkan, harus pula dimengerti bahwa warna pengkabulan tidaklah satu, tetapi beberapa macam. Ada kalanya berupa sesuai permintaan dalam seketika, sesuai permintaan tetapi ditunda karena ada Hikmah, atau bisa jadi berupa selain yang diminta. Sebab bisa jadi selain yang diminta lebih baik bagi peminta daripada apa yang diminta. Dari Abu Said al Khudri ra, Nabi Shollallohu alaihi wasallam yang artinya, “ Tiada seorang muslim yang mengajukan suatu permohonan ( Doa / Dakwah ) yang di sana tiada unsur dosa dan memutus tali keluarga kecuali Alloh pasti Memberinya salah satu tiga hal; 1) segera Dia Mengabulkan permintaannya , 2) Menyimpan permintaan itu untuk akhirat 3) Dia Memalingkan darinya bencana yang sepadan dengan permintaan  Para sahabat berkata: Kalau begitu kami akan memperbanyak. Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda,  Alloh lebih banyak . HR Ahmad.

Selasa, 30 Agustus 2016

Pribadi yang Gampangan



Islam adalah agama paripurna, penyempurna semua agama serta berintikan aturan yang suci sesuai fitrah manusia serta penuh dengan kemudahan. Prinsip ini ditegaskan dalam hadits:  “Sesungguhnya Allah rela akan kemudahan bagi umat ini, dan Dia tidak menyukai kesulitan bagi mereka”HR Thabarani, juga firman Allah Swt: “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan Dia tidak menghendaki kesulitan bagi kalian”QS al Baqarah: 185, “Allah berkehendak meringankan dari kalian…”QS an Nisa’: 28.

Prinsip mudah dan ringan dalam berislam tergambar jelas dalam aturan–aturan syariat. Sebutlah haji yang hanya wajib dilaksanakan sekali dalam seumur hidup bagi orang yang mampu, zakat yang cuma dikeluarkan jika harta telah mencapai satu nishab serta setahun sekali atau setiap masa panen atau saat terima gaji tiba, puasa yang tidak diwajibkan atas orang yang lemah secara fisik seperti sakit, lanjut usia atau sedang dalam perjalanan, dan shalat yang bisa dilakukan dengan duduk jika memang tidak bisa dengan berdiri. Kemudahan dan keringanan aturan–aturan tersebut sekali lagi membuktikan kebenaran firman Allah: “… Dia sekali–kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama satu kesulitan…”QS al Hajj: 78, serta sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Aku diutus dengan membawa agama yang suci lagi mudah”HR Haitsami.

Mudah dan ringannya aturan agama sangat terkait erat dengan sifat Allah Yang Maha Belas Kasih serta tidak pernah sekalipun menuntut kepada hamba kecuali sebatas kemampuan. Dia Maha Pemurah Maha Pemberi anugerah, anugerahNya terus dan selalu tercurah kepada seluruh makhlukNya, kasih sayangNya luas tiada terbatas, Dia memberi pahala jauh lebih besar daripada amal hambaNya, dan pada lain pihak pintu taubatNya senantiasa terbuka untuk siapa saja yang mengakui dan menyesali dosa–dosa. Dia terus menanti dan memberi kepada setiap orang yang serius meminta dan memohon kepadaNya, bahkan Dia marah terhadap orang yang tidak mau meminta kepadaNya. Ini semua adalah kemurahan dan kemudahan Allah kepada hambaNya, maka melalui Rasul yang paling Dia cintai ada pesan: “Permudahlah, jangan kalian mempersulit…”Muttafaq Alaihi.

Sifat pemurah Allah yang terwujud dalam syariatNya yang mudah, berlanjut pada anjuran dan tuntutan kepada para hambaNya agar mereka menjadi pribadi–pribadi murah hati yang gampangan kepada sesama dalam berbagai aspek dan dimensi kehidupan, antara lain gampangan dalam menjual, membeli, memberi, menagih dan melunasi hutang. Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Sesungguhnya Allah mencintai kemudahan jual beli dan pelunasan hutang”HR Turmudzi, “Semoga Allah mengasihi seorang yang gampangan ketika menjual, membeli, dan menagih hutang “HR Bukhari, “Semoga Allah memasukkan surga orang yang gampangan ketika membeli, menjual, melunasi hutang, dan menagih hutang”HR Nasa’i.

Tentang membayar hutang, Islam bahkan menjadikan hal ini sebagai salah satu standar kebaikan seorang pribadi, “Belilah( unta yang lebih tua itu ) dan berikan kepadanya, sebab sebaik–baik kalian adalah yang paling baik pelunasannya!”HR Turmudzi, ini bermula ketika seorang lelaki yahudi menagih hutang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan kata–kata kasar hingga para sahabat hendak melakukan tindakan kepada lelaki tersebut, tetapi dicegah oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Biarkanlah, sebab pemilik hak berhak untuk berbicara!”. Selanjutnya Beliau memerintahkan supaya para sahabat membeli unta untuk melunasi hutang unta Beliau kepada lelaki yahudi itu. Para sahabat lalu mencari unta, tetapi tidak menemukan kecuali unta yang lebih tua daripada unta yahudi yang dihutang oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dalam hal menagih hutang juga demikian, seseorang sangat dianjurkan untuk bersikap santun serta tetap bisa mengontrol diri, “Barang siapa yang menuntut hak maka hendaknya dia menuntutnya dalam sikap menjaga diri (Afaaf), baik saat mendapat atau tidak mendapatkan haknya!”HR Ibnu Majah – Ibnu Hibban, bahkan jika bisa dan mungkin atau dalam kondisi tertentu maka sebaiknya hutang itu diputihkan saja, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Para malaikat menyambut roh seorang lelaki sebelum kalian, mereka: Adakah sedikit amal yang kamu lakukan? Lelaki itu menjawab: Saya memerintahkan para pemudaku supaya menangguhkan orang kaya dan membebaskan orang yang susah”HR Bukhari, “Ada seorang pedagang yang memberi hutang kepada orang–orang, lalu ketika pedagang itu melihat ada orang yang kesulitan maka segera dia berkata kepada para anak buah: Bebaskanlah dia, semoga Allah juga membebaskan dari kita!, Allah lalu membebaskan pedagang itu (dari dosa–dosa) “Muttafaq Alaihi. Sikap ini sebagai implementasi dari firman Allah, “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedakahkan (sebagian atau seluruh piutang) itu, lebih baik bagimu jika kamu mengetahui “QS al Baqarah: 280.



Surat al Maa’uun

Sikap murah hati dan gampangan juga diajarkan dalam Alqur’an surat al Maa’uun yang artinya, ”dan mereka mencegah (ogah atau tidak mau menolong dengan) barang berguna“QS al Maa’uun: 7, di sini Allah memasukkan orang yang ogah menolong dengan barang berharga dalam kategori orang yang mendustakan agama, artinya Allah memmerintahkan seseorang agar menjadi seorang pemurah dan menjadi penolong orang lain dengan barang–barang berharga (salah satu tafsir dari kata al Maa’uun) miliknya. Dalam tafsir at Tahriir Wat Tanwiir, Syekh Muhammad Thohir bin Asyur menuturkan:

[Kata al Maa’uun, menurut Said bin Musayyib dan Ibnu Syihab, adalah salah satu istilah untuk harta benda yang berlaku di kalangan suku Quresy. Kaitannya dengan mereka, saat itu mereka enggan mengeluarkan sedekah,  padahal ketika itu (periode Makkah) mengeluarkan sedekah untuk para fakir dan miskin hukumnya wajib meski tiada batasan–batasan tertentu (sebelum diwajibkan zakat). Menurut Imam Malik, seperti dinukil oleh Asyhab, al Maa’uun artinya adalah zakat sebagaimana syair gembala berikut ini:

قَوْمٌ عَلَي اْلإِسْلاَمِ لَمَّا يَمْنَعُوْا   مَاعُوْنَهُمْ وَيُضَيِّعُوا التَّهْلِيْلاَ
Kaum yang memeluk islam, ketika mereka mencegah (tidak  mau) berzakat maka mereka menyia – nyiakan sholat

Tafsiran al Maa’uun yang umum dimengerti oleh khalayak ialah perabot rumah tangga dan alat lain untuk pertanian seperti sabit, cangkul dsb di mana tiada kerugian bagi pemilik jika dia meminjamkan perabot atau alat–alat tersebut. Termasuk al Maa’uun adalah tempat berteduh atau tanah kosong yang bisa dipakai untuk menaruh barang].

Sikap pemurah dan gampang memberikan harus juga diambil dalam urusan air, api dan garam. Aisyah ra bertanya: “Wahai Rasulullah, sesuatu apakah yang tidak boleh dicegah? Beliau bersabda: “Air, garam dan api”, Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, kalau air kami sudah memaklumi, lantas kenapa dengan garam dan api? Beliau menjawab: “Wahai Humaira’!, barang siapa yang memberikan api maka sungguh sama halnya dia bersedekah dengan seluruh yang matang karena api tersebut, dan barang siapa yang memberikan garam maka sama halnya dia bersedekah dengan semua yang lezat karena garam itu”, Beliau melanjutkan: “dan barang siapa yang memberikan minum seteguk kepada seorang muslim pada saat ada (banyak) air maka sama halnya dia memerdekakan budak, dan barang siapa yang memberikan minum seteguk seorang muslim pada saat tiada air maka sama halnya dia menghidupkannya (seorang budak)”HR Ibnu Majah.

Keuntungan yang Besar


Dengan menjadi pribadi yang murah hati, seseorang sangat berpeluang meringankan atau menghilangkan derita dan beban saudara seiman, dan ini berarti dia berhak menerima janji dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Barang siapa yang meringankan dari orang beriman satu derita dari berbagai derita dunia maka Allah pasti meringankan darinya satu darita dari berbagai derita hari kiamat. Barang siapa yang memudahkan orang yang kesulitan maka Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat…”HR Muslim. Syekh Ali Ahmad at Thohthowi berkata: “Ada rahasia tersimpan dalam hadits ini, yaitu janji bahwa seorang yang meringankan derita atau mumudahkan kesulitan orang lain pasti mendapat keuntungan besar berupa menutup ajal dengan baik atau mati dengan membawa Islam, Husnul Khatimah, sebab seorang kafir di akhirat sama sekali tidak dikasihi olehNya serta tiada sedikitpun derita dan kesulitan mereka diringankan. Beliau melanjutkan: Dari hadits ini juga bisa dipetik sebuah pengertian mengenai anjuran mengeluarkan uang tebusan untuk seorang muslim yang ditawan oleh orang kafir, menyelamatkan seorang muslim dari tangan orang-orang zhalim serta membebaskannya dari penjara. Disebutkan bahwa ketika keluar dari penjara, maka Nabi Yusuf as menuliskan di pintu penjara: “Ini adalah kuburan orang yang hidup, kepuasan para musuh,  dan bahan ujian (kesetiaan) bagi teman – teman”. 

Memaknai Ucapan “Insya Allah”



Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Nabi Sulaiman Alaihissalaam bersabda yang artinya, “Sungguh pada malam ini aku pasti akan mengelilingi (menggauli) seratus wanita (para isterinya. dengan harapan )  setiap wanita akan melahirkan  seorang anak lelaki yang akan berperang di jalan Allah”. Malaikat berkata kepada Nabi Sulaiman, “Ucapkanlah Insya Allah!” Nabi Sulaiman lupa dan tidak mengucapkannya. Maka ketika dia menggauli isterinya, tak ada yang melahirkan kecuali seorang isteri yang hanya melahirkan bayi separuh manusia (keguguran)” HR Bukhari.

Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini. Antara lain, dalam menjalani pernikahan hendaknya seseorang tidak semata–mata menjadikan kepuasan Libido sebagai rencana utama. Tetapi dalam pernikahan, seharusnya niat mendapatkan generasi yang akan memperjuangkan agama Allah menjadi prioritas utama. Demikian yang bisa dipelajari dari seorang Nabi Sulaiman Alaihissalaam.
Dengan jelas hadits di atas juga mengajarkan agar dalam setiap kali mengabarkan akan menjalani suatu aktivitas yang diharapkan hasilnya, seseorang hendaknya tidak meninggalkan ucapan Insyaa  Allah. Allah Mengajarkan dalam firmanNya: “Dan jangan sekali–kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi”, kecuali (dengan menyebut) ”Insyaa Allah” QS al Kahfi: 23. Dengan begitu hasil yang ditargetkan akan lebih bisa diharapkan dapat tercapai. Mengomentari kealpaan Nabi Sulaiman Alaihissalaam, Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam bersabda:    
لَوْ قَالَ "إِنْ شَاءَ اللهُ" لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ أَرْجَى لِحَاجَتِهِ
“Andai Sulaiman berkata, “Insyaa Allah” maka dia tidak melanggar sumpah dan lebih besar peluang mendapatkan keinginannya” HR Bukhari.

Kegagalan Nabi Sulaiman Alaihissalaam memperoleh seratus anak dari seratus isterinya adalah pelajaran berharga bagi siapa saja bahwa Usaha bukanlah sebab yang memastikan hasil. Semua hasil yang didapat dan target yang terpenuhi tidak lebih adalah anugerah Allah semata. Inilah maksud ucapan Insyaa Allah yang artinya jika Allah Menghendaki. Kendati demikian setiap orang dianjurkan bahkan diwajibkan berusaha dan mengambil sarana. Setiap orang diwajibkan bekerja supaya mendapatkan harta benda untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan orang–orang yang menjadi tanggung jawabnya. Meski begitu ia tidak selayaknya meyakini bahwa harta benda yang ia peroleh adalah karena pekerjaannya. Sebab pada kenyataannya tidak semua orang yang bekerja memperoleh harta benda. Bahkan tidak sedikit seorang yang bekerja harus pulang dengan tangan hampa.

Bila ingin memiliki ilmu kepandaian maka seseorang harus mencarinya, tetapi kelak jika ilmu didapat jangan sampai meyakini bahwa itu hasil dari pencariannya. Sungguh banyak orang yang telah menghabiskan waktu, tenaga dan harta benda untuk mendapatkan kepandaian, tetapi ternyata tidak seluruh dari mereka bisa memiliki kepandaian. Ini menujukkan bahwa kepandaian adalah anugerah  dari Allah semata, dan bukan dari usaha dan pencarian yang dilakukan. Seorang yang mempunyai anak juga demikian halnya, dia harus menikah dan berkumpul dengan isterinya. Meski begitu, realita membuktikan tidak semua pasangan mendapatkan keturunan. Ini artinya anak yang menjadi buah hati orang tua tidak lain adalah anugerah dari Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa.
Akhirnya harus diketahui, disadari dan selalu diingat  bahwa setiap manusia diwajibkan berusaha dan menjalankan sarana untuk memperoleh anugerah dariNya. Dalam hikmah disebutkan, “Sebab anugerah kamu mendapat kemuliaan, tetapi anugerah tidak bisa didapatkan kecuali dengan kesungguhan (Usaha dan mengambil sarana) “ Dalam hikmah lain juga disebutkan, “Ambil sebab / sarana tetapi jangan pernah bersandar kepada sarana tersebut” .

Ketika seseorang meyakini bahwa segala yang ia dapatkan adalah sebagai hasil dari usaha yang dilakukan, berarti ia termasuk orang yang sombong, mengkufuri nikmat Allah dan yang paling berbahaya lagi ialah menjadikan apa yang telah didapatkan berada di ambang kehancuran. Orang seperti inilah yang layak diberi stigma sebagai pewaris Qarun yang menyatakan kesombongannya:
إِنَّمَا أُوْتِيْـتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِى
“Sesungguhnya aku diberi harta itu adalah karena ilmu yang ada padaku”QS al Qashash : 78.


Dari sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam di atas - yang memberikan harapan besar kepada orang yang mengucapkan Insyaa Allah – dapat difahami bahwa seseorang yang mengucapkan Insyaa Allah akan tertuntun hatinya untuk menyandarkan hasil dari usaha yang dilakukan kepada Allah. Hatinya dengan mudah menyadari bahwa hasil yang ia peroleh semata atas kehendak Allah. Ini adalah bentuk kepasrahan, Tawakkal kepada Allah. Dan barang siapa ber  -Tawakkal kepadaNya maka Dia pasti mencintai dan mencukupinya. “Sesungguhnya Allah mencintai orang–orang yang bertawakkal” QS Ali Imran: 159.  “Barang siapa ber –Tawakkal kepada Allah maka Allah pasti mencukupinya “ QS ath Thalaaq : 3.

Jumat, 11 Maret 2016

Membangun dan Melestarikan Bangunan Ukhuwwah



" QS Al Hujurot:10.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu saudara, maka damaikanlah diantara dua saudara kalian 
Uraian Ayat
Dalam pandangan islam, seluruh umat manusia yang memiliki kesatuan agama dan keyakinanTauhid adalah bersaudara. Jadi ketika gedung persaudaraan belum ada atau terbangun maka setiap inidividu wajib membangun dan melestarikannya. Demikian pesan yang bisa kita ambil dari ayat di atas. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri dalam banyak sabdanya seringkali mengingatkan kepada manusia yang telah menyatakan diri beriman agar mereka senantiasa menciptakan dan mempererat tali persaudaraan. Dalam satu hadits disebutkan:

"Sesungguhnya seorang yang beriman itu laksana kepala bagi tubuh setiap mukmin (yang lain ). Di mana mereka juga turut merasakan sakit jika sudara seiman sakit sebagaimana tubuh yang lain merasakan sakit ketika kepala terjangkit rasa sakit" HR Ahmad.

Sebagai wujud komitmen kita kepada
 Ukhuwwah Islamiyyah maka ketika terjadi kerusakan pada bangunan ukhuwwah tersebut maka kita harus berusaha memperbaikinya dengan segala kuasa dan usaha sebagaimana pesan perintah pada ayat di atas. Dalam ayat sebelumnya Allah juga telah berfirman yang artinya:

"Dan jika dua golongan kaum beriman saling berperang maka damaikanlah antara keduanya" QS Al Hujurot:9.
Artinya dalam misi menegakkan kembali tiang Ukhuwwah Islamiyyah yang telah miring atau bahkan roboh, seseorang harus menggunakan segala potensi yang dia miliki, dia harus rela mengorbankan diri, waktu, tenaga, dan harta. Lebih dari itu, jika memang tiang Ukhuwwah hanya bisa ditegakkan dengan kerelaannya meletakkan jabatan maka dia dengan rela hati harus meletakkan jabatannya. Hal inilah yang dapat kita temukan dan kita contoh dari seorang Al Husen bin Ali radhiyallah anhumasaat beliau dengan rela hati memberikan kekuasaan Iraq (Kufah) sepenuhnya kepada Muawiyah. Meski sebenarnya rakyat Kufah baru saja mengangkatnya menjadi khalifah pasca terbunuhnya Ali ra pada tujuh bulan sebelas hari yang lalu. Bahkan kecintaan penduduk Iraq kepada Al Husen melebihi kecintaan mereka kepada Ali ra ayahnya sama sekali tidak mempengaruhi niat bulat Beliau dalam menciptakan kedamaian dan persaudaraan di dalam komunitas umat Islam. Kepada penduduk Kufah yang sangat mencintainya, Al Husen berkhutbah: "Sesungguhnya orang yang paling cerdas adalah dia yang bertaqwa dan sebaliknya orang yang paling bodoh adalah dia yang mudah melakukan dosa, demi terciptanya perdamaian di antara umat Islam dan agar mereka tidak mati sia-sia maka aku serahkan sepenuhnya urusan pemerintahan kepada Muawiyah".
Dengan pelimpahan kekuasaan sepenuhnya kepada Muawiyah berarti terhentilah peperangan dan sengketa yang selama ini terjadi antara kubu Iraq dan Syam. Dan kini umat islam kembali kepada satu kepemimpinan setelah selama ini mereka terpecah dalam dua kepimpinan. Nyatalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: "Sesungguhnya cucuku ini adalah seorang yang besar (Sayyid), dan dengannya Allah nanti akan mendamaikan dua kelompok besar umat Islam" HR Bukhori. Hal ini adalah dalam tataran kehiduapan secara makro (luas). Sementara dalam tataran kehidupan mikro (sempit) dalam hubungan antar individu maka setiap sengketa, perpecahan, dan kerenggangan harus disikapi dengan saling mengalah dan saling berlapang dada untuk memulai atau mendahului memaafkan, menyatukan perpecahan dan merekatkan kembali kerenggangan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Sambunglah orang yang memutusmu, berilah orang yang menghalangimu dan berpalinglah dari orang yang menganiayamu" HR Ahmad.

Jika Ukhuwwah Telah Tertata
Jangan anda seperti seorang wanita yang mencerai beraikan kembali benang-benang yang telah dipintalya. Demikian Alqur'an mengingatkan dalam surat Annahl:92:
"Dan janganlah kalian seperti seorang wanita yang menguraikan benangnya yang telah dia pintal dengan kuat hingga menjadi cerai berai kembali".
Pohon Ukhuwwah yang telah tertanam hendaknya sebisa mungkin dirawat serta ditumbuh kembangkan hingga akhirnya memberikan hasilnya yang melimpah ruah. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, Allah azza wajalla dalam kitab suciNya memberikan beberapa petunjuk. Sebagaimana firmanNya yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum meremehkan kaum yang lain, sebab boleh jadi mereka (yang diremehkan) lebih baik dari pada mereka (yang meremehkan). Dan jangan pula para wanita meremehkan wanita yang lain, karena mungkin wanita (yang diremehkan) lebih baik dari pada mereka (wanita yang meremehkan) .Dan janganlah saling mencela serta jangan saling memanggil dengan panggilan yang buruk" QS Al Hujurot:11. 
Dalam ayat ini ada empat hal penting yang perlu untuk diperhatikan dalam rangka menjaga stabilitas kehidupan Ukhuwwah;
Pertama, jangan sampai kita meremehkan atau melecehkan orang lain karena mungkin orang yang diremehkan dan dilecehkan lebih baik dan lebih mendapat cinta dari Allah dibanding orang yang meremehkan dan melecehkan. Jadi mencela atau tindakan pelecehan dalam bentuk apapun adalah haram hukumnya.
Kedua, secara khusus Allah memberikan peringatan supaya seorang wanita jangan sampai mencemoohkan atau merendahkan wanita yang lain, sebab mungkin wanita yang mencemooh tidak lebih baik atau bahkan lebih rendah dari wanita yang dicemooh. Ingatlah bahwa kemuliaan wanita dalam pandangan Allah tidak terletak pada paras wajah, cerah dan halusnya kulit, tetapi kemuliaan wanita sangat bergantung sampai dimana ketaatannya kepada Allah dan ketundukannya kepada sang suami.
Ketiga, hilangkan budaya saling mencela dan mengolok-olok kendati hanya sebatas gurauan, sebab tidak jarang permusuhan berawal dari gurauan yang melewati batas kewajaran.


Keempat
, nama atau panggilan apa saja yang tidak kita sukai dan rasanya bila nama itu terdengar ditelinga dan ditujukan kepada kita maka sepertinya nama atau julukan tersebut menjadi sebuah cap buruk (stigma) bagi kita, karenanya kita sangat merasa terhina jika dipanggil dengan nama atau julukan tersebut, oleh sebab itu tradisi saling memanggil nama orang lain dengan nama atau julukan yang tidak disukai harus segera kita hentikan. Jangan sampai kita panggil saudara kita dengan nama atau panggilan yang tidak disukainya sebagaimana kita juga tidak suka ada orang lain memanggil kita dengan nama atau julukan yang tidak kita sukai. Sebaliknya kita harus memanggil orang lain dengan nama atau julukan yang paling ia senangi seperti kita juga senang jika ada orang lain memanggil kita dengan nama atau julukan yang kita sukai. Hal ini harus mendapat perhatian dari kita sebab seringkali budaya ini (Tanaabuz Bil Alqab) juga menanamkan benih ketidak harmonisan dalam hubungan persaudaraan.