Perjalanan Hidup Manusia: Jangan Lelah Berbuat Baik.
Khutbah Pertama
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَحَ صُدُورَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِطَاعَتِهِ، وَهَدَاهُمْ إِلَىٰ تَحْكِيمِ كِتَابِهِ وَٱلْعَمَلِ بِهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ .
قال اللهُ تعالى : { یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ }
❖ Hadirin Jama’ah Jum'ah hafidhokumullah,
Marilah kita meningkatkan iman, amal dengan terus melakukan introspeksi, muhasabah; sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Menghisab diri sendiri sebelum dihisab di hadapan Allah.
Takwa dalam arti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Karena takwa adalah bekal terbaik dalam perjalanan panjang menuju kampung akhirat.
Allah Ta'ala berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
"Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)
❖ Hadirin Jama’ah Jum'ah hafidhokumullah,
Kini kita telah berada di penghujung bulan Dzulhijjah. Beberapa hari yang lalu, kita menyaksikan lantunan takbir (grebeg takbir) ritual ibadah haji, dan penyembelihan hewan kurban. Banyak hati yang tersentuh, banyak mata yang menangis, banyak pula yang bertekad memperbaiki diri.
Di akhir bulan Dzulhijjah ini, hendaknya kita bisa mengambil pelajaran: Sesungguhnya hidup manusia itu seperti musim Dzulhijjah.
Ada awal, ada pertengahan, dan ada akhir.
Kita lahir dalam keadaan lemah, tumbuh menjadi kuat, lalu perlahan kembali melemah. Allah berfirman:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً
"Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan setelah kelemahan itu kekuatan, kemudian Dia menjadikan setelah kekuatan itu kelemahan dan usia tua." (QS. Ar-Rum: 54)
Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak hanya memikirkan bagaimana memulai hidup dengan baik, tetapi juga bagaimana mengakhiri hidup dengan baik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
"Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya." (HR. Al-Bukhari)
❖ Hadirin Jama’ah Jum'ah hafidhokumullah,
Hari demi hari umur kita berkurang. Setiap Jum'at yang kita lalui berarti satu pekan usia telah hilang. Setiap Dzulhijjah yang berlalu berarti satu tahun kehidupan semakin dekat kepada akhir perjalanan. Setiap langkah yang kita tempuh sesungguhnya sedang mendekatkan kita kepada liang kubur. Setiap uban yang tumbuh adalah surat undangan untuk mempersiapkan kepulangan kita menuju kampung akhirat.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka telah pergi sebagian dari dirimu."
Oleh sebab itu, manfaatkan sisa usia dengan sebaik mungkin; Jangan pernah lelah berbuat baik, jangan pernah bosan untuk taubat, perbanyak istighfar, biasakan bersedekah, sambung silaturahim, dan didik anak-anak agar menjadi generasi yang dekat dengan agama Allah.
Karena bekal akhirat bukanlah harta, bukan jabatan, dan bukan pula popularitas, melainkan iman, amal ibadah, ilmu manfaat, dan do'a anak saleh.
❖ Hadirin Jama’ah Jum'ah hafidhokumullah,
Bulan Dzulhijjah mengingatkan kita kepada pengorbanan Nabi Ibrahim 'alaihis salam.
Ketika Allah memerintahkannya untuk menyembelih putra tercintanya, beliau lebih mendahulukan ketaatan kepada Allah daripada menturuti perasaan pribadinya.
Jika pada zaman Nabi Ibrahim bentuk pengorbanan adalah merelakan anak disembelih untuk menaati perintah Allah. Maka pada akhir zaman - khususnya saat ini - bisa jadi salah satu bentuk pengorbanan terbesar adalah merelakan anak-anak kita pergi menimba ilmu agama.
❖ Hadirin Jama’ah Jum'ah hafidhokumullah,
Kita hidup di zaman yang penuh fitnah. Pergaulan bebas semakin terbuka. Kerusakan akhlak semakin mudah diakses.
Syubhat dan syahwat masuk ke rumah-rumah melalui layar Hp anak kita.
Dalam kondisi seperti ini, menjaga anak dengan ilmu agama adalah kebutuhan yang sangat penting.
Anak yang memahami tauhid - akan mengenal Tuhannya.
Anak yang memahami Al-Qur'an - akan memiliki pedoman hidup.
Anak yang memahami sunnah Nabinya- akan memiliki arah dalam menghadapi berbagai fitnah zaman.
Maka sungguh beruntung orang tua yang menjadikan anaknya dekat dengan ilmu agama.
Anak saleh tidaklah lahir begitu saja. Ia lahir dari pendidikan, doa, pengorbanan, dan kesabaran orang tuanya.
❖ Hadirin Jama’ah Jum'ah hafidhokumullah,
Di akhir bulan Dzulhijjah ini, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing:
Apa pengorbanan yang telah kita persembahkan untuk agama Allah?
Sudahkah kita mendukung anak-anak kita mempelajari Al-Qur'an?
Sudahkah kita bangga apabila mereka menjadi penyeru agama Allah?
Jangan sampai kita bangga ketika anak menjadi terkenal di dunia, tetapi merasa malu ketika anak memilih jalan ilmu dan dakwah.
Ketahuilah, kemuliaan yang sejati bukanlah tingginya jabatan, bukan pula kedudukan, akan tetapi ketika anak-anak kita dekat dengan Allah.
Semoga Allah menjadikan anak-anak kita generasi yang mencintai Al-Qur'an, mencintai sunnah Nabi-Nya, dan menjadi penolong agama-Nya. Sukses dunia dan akhirat, Aamiin.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى .
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
❖ Hadirin Jama’ah Jum'ah hafidhokumullah,
Di zaman ini manusia begitu maju dalam urusan dunia. Teknologi berkembang pesat. Berbagai profesi lahir. Informasi mudah didapat.
Namun ada bahaya besar yang harus kita waspadai, yaitu menjadi orang yang sangat cerdas dalam urusan dunia, tetapi lalai terhadap urusan akhirat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا، جَاهِلٍ بِالْآخِرَةِ
"Sesungguhnya Allah Ta'ala membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia, tetapi bodoh terhadap urusan akhirat." (HR. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
❖ Hadirin Jama’ah Jum'ah hafidhokumullah,
Hadis ini bukan berarti Islam mencela ilmu dunia, seperti kedokteran, perdagangan, pertanian, teknologi, dan berbagai keahlian lainnya.
Yang dicela adalah mereka yang sangat ahli mencari keuntungan dunia, tetapi tidak pandai mempersiapkan bekal menghadap Tuhannya.
Yang memahami seluk-beluk kehidupan dunia, tetapi tidak mengerti Halal dan Haramnya Agama.
Yang selalu ingat jadwal rapat kantor, tapi jadwal shalat lima waktu tidak terkontrol.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
"Mereka hanya mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap akhirat mereka lalai." (QS. Ar-Rum:7)
Oleh karena itu, seorang Muslim idealnya adalah memadukan keduanya: cerdas dalam urusan dunia, dan juga lebih memahami urusan akhirat. Sebab dunia adalah sarana, sedangkan akhirat adalah tujuan utama.
Jangan sampai kita sukses membangun rumah di dunia, tetapi lupa membangun rumah di surga.
Jangan sampai kita mewariskan harta yang banyak, tetapi tidak mewariskan iman kepada anak-anak.
❖ Hadirin Jama’ah Jum'ah hafidhokumullah,
Dari bulan Dzulhijjah ini, setidaknya ada tiga bekal perjalanan hidup yang perlu kita renungkan.
Pertama: Ingat bahwa hidup ini sementara.
Dahulu kita digendong oleh orang tua, hari ini kita ke masjid berjalan sendiri, esok hari mungkin kita akan di tanduk dengan keranda menuju liang lahat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir." (HR. Al-Bukhari)
Kedua: Sisakan amal jariyah.
Harta akan ditinggalkan, jabatan akan berakhir, hanya amal shaleh dan amal jariyah yang akan terus mengalir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)
Ketiga: Mohon husnul khatimah.
Tidak ada yang mengetahui bagaimana akhir kehidupan kita. Maka mintalah kepada Allah agar ditutup dengan iman, taubat, dan kebaikan.
Doa yang sering dibaca Rasulullah ﷺ adalah:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
"Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. At-Tirmidzi)
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa, diberikan husnul khatimah, serta dipertemukan kembali di kampung abadi dalam kenikmatan surga-Nya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا أَعْمَالَنَا وَاجْعَلْهَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ… إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.