Translate

Sabtu, 30 Mei 2026

BAHAGIA SAMPAI SURGA

Bahagia Sampai Surga


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Yang kami hormati keluarga besar kedua mempelai, para tamu undangan, serta hadirin yang berbahagia.

Pada kesempatan yang penuh berkah ini, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah ﷻ yang telah mempertemukan dua insan dalam ikatan suci pernikahan. Semoga Allah menjadikan rumah tangga yang dibangun hari ini sebagai rumah tangga yang penuh keberkahan, ketenteraman, dan kebahagiaan yang tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga berlanjut hingga ke surga-Nya. Aamiin.

Pernikahan: Jalan Menuju Surga

Sering kali orang mengukur kebahagiaan rumah tangga dari banyaknya harta, megahnya rumah, atau tingginya jabatan. Padahal kebahagiaan sejati bukanlah sekadar hidup bersama di dunia, tetapi mampu bersama-sama menuju surga.

Allah ﷻ berfirman:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)

Ayat ini mengajarkan bahwa tujuan pernikahan bukan hanya memperoleh pasangan, tetapi memperoleh pasangan yang menjadi qurrata a'yun (penyejuk hati) dan teman perjalanan menuju ridha Allah.

Bahagia Itu Bukan Tanpa Masalah

Rumah tangga para nabi pun tidak semuanya bebas dari ujian. Nabi Ibrahim diuji dengan perintah menyembelih putranya. Nabi Ayyub diuji dengan sakit dan kemiskinan. Nabi Muhammad ﷺ juga menghadapi berbagai persoalan dalam keluarganya.

Artinya, rumah tangga bahagia bukan rumah tangga yang tanpa masalah, tetapi rumah tangga yang mampu menghadapi masalah bersama-sama dengan iman dan kesabaran.

Kebahagiaan bukan karena tidak ada badai, tetapi karena ada dua hati yang saling menggenggam saat badai datang.

Tiga Kunci Bahagia Sampai Surga

1. Menjadikan Allah Sebagai Tujuan

Rumah tangga yang hanya dibangun karena cinta manusia mudah goyah. Namun rumah tangga yang dibangun karena Allah akan tetap kokoh meskipun diterpa ujian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

*"إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي"*  
"Apabila seorang hamba menikah, maka sungguh dia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah pada separuh yang tersisa."

Artinya separuh yang tersisa hendaknya mencari ridho Allah, ketika dalam pernikahan tersebut Allah menjadi tujuan, maka setiap pengorbanan bernilai ibadah, setiap kesabaran bernilai pahala, dan setiap kebersamaan menjadi jalan menuju surga.

2. Saling Menjaga dan Menguatkan

Allah berfirman:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

"Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka." (QS. Al-Baqarah: 187)

Pakaian memiliki tiga fungsi:

Menutup kekurangan.
Melindungi dari gangguan.
Menghiasi pemakainya.

Demikian pula suami istri. Jangan menjadi pembuka aib pasangan, tetapi jadilah penutup kekurangannya. Jangan menjadi sumber luka, tetapi jadilah sumber kekuatan.

3. Memperbanyak Maaf dan Doa

Tidak ada pasangan yang sempurna. Karena itu rumah tangga tidak bisa bertahan hanya dengan cinta, tetapi harus ditopang dengan maaf.

Orang yang ingin bahagia sampai surga harus belajar mengalah tanpa merasa kalah, memaafkan tanpa menunggu diminta, dan mendoakan tanpa diminta.

Rumah tangga yang dipenuhi doa akan lebih kuat daripada rumah tangga yang hanya dipenuhi tuntutan.

Bahagia Dunia, Bersama di Surga

Karunia terbesar dalam pernikahan bukan hanya hidup bersama di dunia yang sementara, tetapi dipertemukan kembali di surga yang abadi.

Allah ﷻ berfirman:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ

"Mereka akan masuk ke dalam surga-surga 'Adn bersama orang-orang yang saleh dari nenek moyang mereka, pasangan-pasangan mereka, dan keturunan mereka." (QS. Ar-Ra'd: 23)

Betapa indahnya apabila hari ini kedua mempelai memulai perjalanan cinta yang bukan hanya berakhir di pelaminan, tetapi berlanjut hingga dipertemukan kembali di surga Allah.

Karena itu jangan hanya bercita-cita: "Semoga kita bahagia selamanya."

Tetapi bercita-citalah: "Semoga kita bahagia sampai surga."

Penutup

Kepada kedua mempelai, ingatlah bahwa pernikahan bukan tentang menemukan pasangan yang sempurna, melainkan tentang dua insan yang bersama-sama belajar menjadi lebih baik.

Jadikan rumah sebagai tempat beribadah, jadikan komunikasi sebagai jembatan kasih sayang, jadikan kesabaran sebagai penyangga rumah tangga, dan jadikan Allah sebagai tujuan utama.

Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kedua mempelai keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah, dilimpahi keberkahan rezeki, kesehatan, dan kebahagiaan yang berkesinambungan hingga dipertemukan kembali di surga-Nya.

بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير

Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin.

Kamis, 28 Mei 2026

DO'A KHATMIL QUR'AN

دُعَاءُ خَتْمِ الْقُرْآنِ



صَدَقَ اللَّهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ، ۞ وَصَدَّقَ رَسُولُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيمُ، وَنَحْنُ عَلَى ذٰلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ ۞ اللَّهُمَّ رَبَّنَا يَا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ۞ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ ۞ وَاهْدِنِي وَاهْدِنَا وَوَفِّقْنَا إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ بِبَرَكَةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ ۞ وَبِحُرْمَةِ حَبِيبِكَ وَرَسُولِكَ الْكَرِيمِ ۞ وَاعْفُ عَنَّا يَا كَرِيمُ وَاعْفُ عَنَّا يَا رَحِيمُ ۞ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا بِفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ ۞ اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَارْفَعْنَا بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ ۞ وَتَقَبَّلْ مِنَّا قِرَاءَتَنَا، وَتَجَاوَزْ عَنَّا مَا كَانَ فِي تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ مِنْ خَطَإٍ أَوْ نِسْيَانٍ، أَوْ تَحْرِيْفِ كَلِمَةٍ عَنْ مَوَاضِعِهَا، أَوْ تَقْدِيمٍ أَوْ تَأْخِيرٍ، أَوْ زِيَادَةٍ أَوْ نُقْصَانٍ، وَأَجِرْنَا مِنَ النَّارِ.۞ اللَّهُمَّ نَوِّرْ قُلُوبَنَا بِالْقُرْآنِ، وَزَيِّنْ أَخْلَاقَنَا بِالْقُرْآنِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ بِالْقُرْآنِ ۞ اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ ۞ وَأَكْرِمْنَا بِكَرَامَةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ ۞ وَشَرِّفْنَا بِشَرَافَةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ ۞ وَالْبِسْنَا بِحُلَّةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ ۞ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْقُرْآنِ ۞ وَعَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ بِحُرْمَةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ ۞ وَارْحَمْ جَمِيعَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ( ونَحُصَّ خصوصاً جماعة مسجد تأسيس التقوى ) بِحُرْمَةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ ۞ اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ لَنَا فِي الدُّنْيَا قَرِينًا ۞ وَفِي الْقَبْرِ مُؤْنِسًا ۞ وَفِي الْقِيَامَةِ شَفِيعًا ۞ وَعَلَى الصِّرَاطِ نُورًا ۞ وَإِلَى الْجَنَّةِ رَفِيقًا ۞ وَمِنَ النَّارِ سِتْرًا وَحِجَابًا ۞ وَإِلَى الْخَيْرَاتِ كُلِّهَا دَلِيلًا وَإِمَامًا ۞ بِفَضْلِكَ وَجُودِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ ۞ اللَّهُمَّ زِدْنَا فِي الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ ۞ وَارْزُقْنَا حُبَّ الْقُرْآنِ وَحُسْنَ تِلَاوَتِهِ ۞ وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِهِ وَخَاصَّتِهِ ۞ اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا بِكُلِّ حَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ حَلَاوَةً ۞ وَبِكُلِّ كَلِمَةٍ كَرَامَةً ۞ وَبِكُلِّ آيَةٍ سَعَادَةً ۞ وَبِكُلِّ سُورَةٍ سَلَامَةً ۞ وَبِكُلِّ جُزْءٍ جَزَاءً ۞ اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا بِالْأَلِفِ أُلْفَةً ۞ وَبِالْبَاءِ بَرَكَةً ۞ وَبِالتَّاءِ تَوْبَةً ۞ وَبِالثَّاءِ ثَوَابًا ۞ وَبِالْجِيمِ جَمَالًا ۞ وَبِالْحَاءِ حَيَاءً ۞ وَبِالْخَاءِ خَيْرًا ۞ وَبِالدَّالِ دَلَالَةً ۞ وَبِالذَّالِ ذَكَاءً ۞ وَبِالرَّاءِ رَحْمَةً ۞ وَبِالزَّايِ زَكَاةً ۞ وَبِالسِّينِ سَعَادَةً ۞ وَبِالشِّينِ شَفَاعَةً ۞ وَبِالصَّادِ صِدْقًا ۞ وَبِالضَّادِ ضِيَاءً ۞ وَبِالطَّاءِ طَهَارَةً ۞ وَبِالظَّاءِ ظَفَرًا ۞ وَبِالْعَيْنِ عِلْمًا ۞ وَبِالْغَيْنِ غِنًى ۞ وَبِالْفَاءِ فَلَاحًا ۞ وَبِالْقَافِ قُوَّةً ۞ وَبِالْكَافِ كَرَامَةً ۞ وَبِاللَّامِ لُطْفًا ۞ وَبِالْمِيمِ مَوْعِظَةً ۞ وَبِالنُّونِ نُورًا ۞ وَبِالْوَاوِ وُصْلَةً ۞ وَبِالْهَاءِ هِدَايَةً ۞ وَبِالْيَاءِ يَقِينًا ۞ اللَّهُمَّ بَلِّغْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ وَنُورَ مَا تَلَوْنَاهُ لِرُوحِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ۞ وَلِأَرْوَاحِ أَزْوَاجِهِ وَأَصْحَابِهِ رِضْوَانُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ ۞ وَلِأَرْوَاحِ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَبْنَائِنَا وَبَنَاتِنَا وَإِخْوَانِنَا وَأَخَوَاتِنَا وَأَصْدِقَائِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَأَقْرِبَائِنَا وَمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا ۞ (ونَحُصَّ خصوصاً لأرواح أهل القبور جماعة مسجد تأسيس التقوى) ۞ وَلِأَرْوَاحِ جَمِيعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ ۞ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ ۞ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ ۞ اللَّهُمَّ انْصُرْ سُلْطَانَنَا سُلْطَانَ الْمُسْلِمِينَ ۞ وَانْصُرْ وُزَرَاءَهُ وَوُكَلَاءَهُ وَعَسَاكِرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ ۞ وَاكْتُبِ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَا وَعَلَى الْحُجَّاجِ وَالْغُزَاةِ وَالْمُسَافِرِينَ وَالْمُقِيمِينَ ۞ فِي بَرِّكَ وَبَحْرِكَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ ۞ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ أَجْمَعِينَ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ ۞ جَزَى اللَّهُ عَنَّا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هُوَأَهْلُهُ ۞ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ۞ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ۞ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۞ آمِينَ.


Jumat, 22 Mei 2026

GAS MENUJU AMPUNAN ALLAH


Gas Menuju Ampunan Allah


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ

Sahabat-sahabat bikers yang dirahmati Allah…

Kita sering menyiapkan motor sebelum touring: cek oli, cek rem, cek ban, isi bensin, dan memastikan kendaraan siap menempuh perjalanan jauh.

Tapi pernahkah kita bertanya:

“Sudah sejauh mana persiapan perjalanan menuju akhirat…?”

Karena hidup ini sejatinya adalah perjalanan panjang.
Dan bulan Dzulhijjah hadir seperti “rest area ruhani” yang Allah buka untuk mengisi kembali iman yang mulai lelah.


1. Dzulhijjah adalah Musim Pahala Besar

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ

“Tidak ada hari-hari dimana amal shalih lebih dicintai Allah daripada 10 hari pertama Dzulhijjah.” (HR. Bukhari)

Artinya: di bulan ini, amal kecil bisa bernilai besar.

  • shalat berjamaah,

  • sedekah,

  • dzikir,

  • bakti kepada orang tua,

  • bahkan senyum dan membantu sesama…

Semua bisa menjadi “ bahan bakar ” menuju ridha Allah.


2. Bikers Paham: Perjalanan Butuh Tujuan

Anak motor paling tahu: orang yang berkendara tanpa arah akan tersesat.

Begitu juga hidup.

Hari ini banyak orang:

  • motornya keren,

  • jaketnya lengkap,

  • komunitasnya ramai,

tetapi hatinya kosong dari tujuan hidup.

Apa tujuan hidup kita di dunia…???

Tujuan hidup adalah yang membuat kita semangat untuk berjalan.

Dalam QS. An-Najm: 42 Allah berfirman:

وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ

“Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan segala sesuatu.”


3. Nabi Ibrahim Mengajarkan Pengorbanan

Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan.

Tetapi tentang:

  • menyembelih ego,

  • memotong kesombongan,

  • mengalahkan hawa nafsu.

Dalam QS. Al-Hajj: 37 Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

Nabi Ibrahim rela mengorbankan yang paling beliau cintai demi taat kepada Allah.

Pertanyaannya:
apa yang hari ini sulit kita korbankan?

  • ego?

  • gengsi?

  • maksiat?

  • pergaulan buruk?

  • meninggalkan shalat?

Kadang yang paling berat bukan kehilangan sesuatu…
tetapi meninggalkan kebiasaan dosa.


4. Touring Terjauh adalah Perjalanan Menuju Akhirat

Sahabat bikers…

Kita tidak tahu:
siapa yang pulang duluan.

Banyak orang pagi masih berkendara,
malam sudah terbujur di pemakaman.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Karena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan agar manusia tidak tertipu oleh panjang angan-angan dunia.

Motor hanyalah kendaraan dunia.
Sedangkan amal adalah kendaraan menuju akhirat.

Kalau motor mogok di jalan kita panik.

Tapi kenapa hati yang jauh dari Allah sering kita biarkan?


5. Jadilah Bikers yang Membawa Manfaat

Komunitas bukan hanya tempat kumpul,
tetapi tempat saling menjaga.

Jangan sampai:

  • touring menjadi jalan maksiat,

  • kebersamaan menjadi sebab lalai dari Allah.

Justru jadikan komunitas sebagai jalan dakwah:

  • saling mengingatkan shalat,

  • membantu saudara yang kesusahan,

  • santun di jalan,

  • tidak arogan,

  • tidak ugal-ugalan.

Karena akhlak di jalan juga bagian dari dakwah. Rasulullah adalah contoh akhlak mulia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”


6. Amalan di 10 Hari Dzulhijjah

Yang bisa dilakukan para bikers:

  • Menjaga shalat lima waktu berjamaah

  • Memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

  • Puasa Arafah

  • Sedekah

  • Mengurangi maksiat dan perkataan kasar

  • Berbakti kepada orang tua

  • Touring sambil silaturahim dan dakwah

  • Sisihkan rezeki untuk kurban


Penutup

Sahabat-sahabat bikers…

Suatu hari nanti,
• motor kita akan berhenti,
• perjalanan kita selesai,
• dan yang tersisa hanyalah amal.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 197

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

“Berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Maka jangan hanya mempersiapkan kendaraan untuk perjalanan dunia, tetapi siapkan juga bekal menuju kampung akhirat.

Mari manfaatkan bulan Dzulhijjah ini:
• untuk memperbaiki hati,
• menguatkan iman,
• dan mendekat diri kepada Allah.


Doa Penutup


اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا عَشْرَ ذِي الْحِجَّةِ، وَأَعِنَّا فِيهَا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الْمَقْبُولِينَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ تَابَ فَأَحْبَبْتَهُ، وَدَعَاكَ فَأَجَبْتَهُ، وَاسْتَغْفَرَكَ فَغَفَرْتَ لَهُ.


آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


Rabu, 13 Mei 2026

MACAM-MACAM HAJI


Pengertian dan Perbedaan Haji Tamattu’, Ifrad, dan Qiran

Para ulama sepakat bahwa manasik haji ada tiga bentuk:

  1. Haji Tamattu’ (التَّمَتُّع)

  2. Haji Ifrad (الإِفْرَاد)

  3. Haji Qiran (القِرَان)

Ketiganya sah dan pernah dilakukan atau dibenarkan dalam sunnah Nabi ﷺ. Yang membedakan adalah niat, urutan umrah-haji, serta kewajiban dam (denda sembelihan).

1. Haji Tamattu’ (التَّمَتُّع)

Pengertian

Tamattu’ artinya “bersenang-senang” atau menikmati masa jeda antara umrah dan haji.

Seseorang:

  • berihram untuk umrah pada bulan-bulan haji,

  • menyelesaikan umrah lalu tahallul,

  • kemudian pada tanggal 8 Dzulhijjah berihram lagi untuk haji.

Jadi umrah dan haji dilakukan terpisah dalam satu safar.

Tata Cara Singkat

  • Ihram umrah → thawaf → sa’i → tahallul

  • Bebas dari larangan ihram

  • Tanggal 8 Dzulhijjah ihram lagi untuk haji

Kewajiban

Wajib membayar dam tamattu’ bagi yang mampu.

Dalil Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ

“Barang siapa bertamattu’ dengan umrah menuju haji maka wajib menyembelih hadyu yang mudah diperoleh.” (QS. Al-Baqarah: 196)

Referensi Kitab Fiqh

Dari kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah

وَالتَّمَتُّعُ أَنْ يُحْرِمَ بِالْعُمْرَةِ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ، وَيَفْرُغَ مِنْهَا، ثُمَّ يُحْرِمَ بِالْحَجِّ فِي عَامِهِ

“Tamattu’ adalah berihram umrah pada bulan haji, lalu selesai darinya, kemudian berihram haji pada tahun yang sama.”

Kitab Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq

Haji tamattu’ ialah melakukan umrah terlebih dahulu pada bulan haji, kemudian bertahallul, lalu ihram kembali untuk haji pada tahun yang sama.


2. Haji Ifrad (الإِفْرَاد)

Pengertian

Ifrad artinya “menyendirikan”.

Yaitu seseorang hanya berniat haji saja sejak awal, tanpa menggabungkan umrah.

Tata Cara Singkat

  • Ihram dengan niat haji saja

  • Tetap dalam ihram sampai hari Nahr

  • Umrah dilakukan setelah selesai haji (jika ingin)

Kewajiban

Tidak wajib dam, kecuali sebab lain.

Referensi Kitab Fiqh

Dalam Al-Majmu’ karya Imam an-Nawawi

وَالإِفْرَادُ أَنْ يُحْرِمَ بِالْحَجِّ مُفْرَدًا

“Ifrad adalah berihram untuk haji saja secara tersendiri.”

Dalam Fiqih Empat Mazhab karya Abdurrahman al-Jaziri

Haji ifrad adalah mendahulukan haji saja tanpa umrah ketika ihram dari miqat.


3. Haji Qiran (القِرَان)

Pengertian

Qiran artinya “menggabungkan”.

Yaitu seseorang menggabungkan niat umrah dan haji sekaligus dalam satu ihram.

Tata Cara Singkat

  • Ihram dengan niat umrah dan haji bersama

  • Tidak tahallul setelah umrah

  • Tetap dalam ihram sampai hari Idul Adha

Kewajiban

Wajib membayar dam qiran.

Referensi Kitab Fiqh.

Dalam Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd

وَالْقِرَانُ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فِي إِحْرَامٍ وَاحِدٍ

“Qiran adalah menggabungkan haji dan umrah dalam satu ihram.”

Dalam Fiqih Islam karya Wahbah az-Zuhaili

Haji qiran adalah ihram untuk haji dan umrah sekaligus tanpa bertahallul di antara keduanya.


Mana yang Paling Utama?

Para ulama berbeda pendapat:

  • Mazhab Hanbali banyak menguatkan tamattu’

  • Sebagian ulama Syafi’iyyah mengutamakan ifrad

  • Sebagian ulama memilih qiran karena Nabi ﷺ pernah melakukannya

Namun ketiganya sah berdasarkan ijma’ ulama.

Imam An-Nawawi berkata:

أَجْمَعُوا عَلَى جَوَازِ الْأَنْسَاكِ الثَّلَاثَةِ

“Para ulama telah bersepakat atas bolehnya tiga macam manasik tersebut.”


Kesimpulan

  • Tamattu’: umrah dulu, tahallul, lalu haji.

  • Ifrad: haji saja.

  • Qiran: haji dan umrah sekaligus.

Ketiganya adalah sunnah yang sah dan memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an, hadits, dan kitab-kitab fiqih para ulama.

Senin, 11 Mei 2026

AQIQAH

حَسۡبُنَا الله وَنِعۡمَ الوَكِيۡلُ. (١٠٠×)
يَا لَطِيۡفُ يَا لَطِيۡفُ يَا لَطِيۡفُ اَللهُ لَطِيۡفٌ. (١٢٩×)
يَا لَطِيۡفًا بِخَلۡقِهۡ يَا عَلِيۡمًا بِخَلۡقِهۡ يَا خَبِيۡرًا بِخَلۡقِهۡ اُلۡطُفۡ بِنَا يَا لَطِيۡفُ يَا عَلِيۡمُ يَا خَبِيۡرُ. (٣×)
يَا لَطِيۡفًا لَمۡ يَزَلۡ اُلۡطُفۡ بِنَا فِيۡمَا نَزَلۡ إِنَّكَ لَطِيۡفٌ لَمۡ تَزَلۡ اُلۡطُفۡ بِنَا وَالۡمُسۡلِمِيۡنَ. (٣×)
لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوۡلُ اللهِ فِيۡ كُلِّ لَمۡحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلۡمُ اللهِ. (٤×)
حَسۡبِي رَبِّيۡ جَلَّ اللهُ مَا فِيۡ قَلۡبِيۡ إِلَّا اللهُ عَلَى الۡهَادِيۡ صَلّىَ اللهُ ( لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللهۡ ٣×) مُحَمَّدٌ رَسُوۡلُ اللهِ عَلَيۡهِ صَلَاة ُاللهِ. (٣×)
فَالله خَيۡرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرۡحَمُ الرَّاحِمِيۡنَ. (١٠٠×)
أُعِيۡذُكَ بِكَلِمَاتِ الله ِالتَّامَّةِ مِنۡ كُلِّ شَيۡطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنۡ كُلِّ عَيۡنٍ لَامَّةٍ، دَفَعۡتُ عَنۡكَ السُّوۡءَ بِأَلۡفِ أَلۡفِ أَلۡفِ لَاحَوۡلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللّهِ الۡعَلِيِّ الۡعَظِيۡمِ. (٣×)
اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ ، وعَلِّمْهُ التَّأوِيلَ ، وَاهْدِ قَلْبَهُ ، وسَدِّدْ لِسَانَه.
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ وَلَدًا صَالِحاً بَارًّا لِوَالِدَيْهِ قُرَّةَ عَيْنٍ لَهُمَا.
اللَّهُمَّ ارْزُقْ لَهُ الصَّلاَحَ وَالنَّجَابَةَ وَالذَّكَاءَ وَحِفْظَكَ لَهُ فِيْهِ .
بُوۡرِكَ لَكُمَا فِيۡ الۡمَوۡهُوۡبِ شَكَرۡتُمَا الۡوَاهِبَ بُلِّغۡتُمَا رُشۡدَهُ وَرُزِقۡتُمَا بِرَّهُ. (٣×)
اللهۡ اللهۡ اِرۡحَمۡنَا-أَنۡتَ مَوۡلَانَا، اللهۡ اللهۡ وَاقۡبَلۡنَا-مَالَنَا غَيۡرُكَ. (٣×)

Do'a Safar Hajji

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكُمْ وَأَمَانَتَكُمْ وَخَوَاتِمَ أَعْمَالِكُمْ ، وَزَوَّدَكُمُ اللَّهُ التَّقْوَى، وَغَفَرَ ذُنُوبَكُمْ، (وَيَسَّرَ لَكُمُ الْخَيْرَ ٣) حَيْثُمَا كُنْتُمْ.
اللّٰهُمَّ يَسِّرْ لَهُ حَجَّهُ، وَتَقَبَّلْ مِنْهُ، وَارْزُقْهُ حَجًّا مَبْرُورًا.
اللَّهُمَّ الْطُفْ بِهِ فِي تَيْسِيرِ كُلِّ عَسِيرٍ، فَإِنَّ تَيْسِيرَ كُلِّ عَسِيرٍ عَلَيْكَ يَسِيرٌ.
وَنَسْأَلُكَ الْيُسْرَ وَالْمُعَافَاةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
سَالِمِينَ….. غَانِمِينَ….. مُسْتَبْشِرِينَ….. مَجْبُورِينَ….. مَلْحُوظِينَ…..
بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ…٣
يَا أَجْوَدَ الْأَجْوَدِينَ…٣
يَا أَبْصَرَ النَّاظِرِينَ…٣
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Sabtu, 09 Mei 2026

Akhlak: Keseimbangan Hidup

Akhlak: Keseimbangan Hidup di Era Globalisasi dan Kemajuan Zaman

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَحَ صُدُورَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِطَاعَتِهِ، وَهَدَاهُمْ إِلَىٰ تَحْكِيمِ كِتَابِهِ وَٱلْعَمَلِ بِهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي ٱلْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ .

قال اللهُ تعالى : { یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ }


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Mari kita meningkatkan iman, amal dengan terus melakukan introspeksi , muhasabah, sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Teknologi berkembang pesat, informasi begitu mudah diakses, dan dunia seakan tanpa batas. Inilah yang disebut globalisasi. Namun, di balik kemajuan itu, ada satu hal yang sering terabaikan: akhlak.

Padahal, akhlak adalah inti ajaran Islam.

Allah ﷻ berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan Rasulullah ﷺ bukan hanya pada ilmu dan ibadahnya, tetapi juga pada akhlaknya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Di era globalisasi, manusia sering kehilangan keseimbangan. Banyak orang canggih dalam teknologi, tetapi lemah dalam moral. Pintar dalam ilmu, tetapi miskin adab.

Padahal Islam mengajarkan keseimbangan:

  • antara dunia dan akhirat

  • antara ilmu dan akhlak

  • antara kemajuan dan nilai-nilai spiritual

Allah ﷻ berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا.

“Carilah negeri akhirat dengan apa yang telah Allah berikan kepadamu, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ini adalah prinsip keseimbangan hidup dalam Islam.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Kemajuan zaman tanpa akhlak akan membawa kerusakan:

  • media sosial tanpa adab melahirkan fitnah

  • ilmu tanpa akhlak melahirkan kesombongan

  • kekuasaan tanpa akhlak melahirkan kezaliman, keangkuhan.

Seorang ulama besar, Imam Al-Ghazali berkata: “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”

Dan beliau juga menekankan bahwa inti agama adalah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dari sinilah lahir akhlak mulia,

Para salaf juga berkata: “Kami mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu.”

Kenapa demikian karena akhlak adalah fondasi.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Akhlak adalah penyeimbang dalam kehidupan modern:

  • Sabar menahan diri dari hawa nafsu

  • Jujur di tengah budaya manipulasi

  • Amanah di tengah krisis kepercayaan

  • Tawadhu’ di tengah kesombongan intelektual

Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Maka jelas, akhlak bukan sekadar pelengkap, tapi inti keimanan.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Sebagai penutup khutbah, mari kita renungkan, bagaimana cara menjaga akhlak di era modern?

Pertama: Menguatkan iman
Karena akhlak yang baik lahir dari hati yang bersih. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Asy-Syu’ara: 88–89:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Kedua: Meneladani Rasulullah ﷺ
Karena beliau adalah standar akhlak terbaik.

Ketiga: Mengontrol diri di era digital
Bijak dalam berbicara, menulis, dan menyebarkan informasi. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Qaf: 18

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Keempat: Bergaul dengan orang saleh
Karena lingkungan sangat mempengaruhi akhlak.

Seorang ulama, Abdullah bin Mas'ud, berkata:

“Seseorang akan mengikuti agama temannya, maka lihatlah dengan siapa ia berteman.”

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Mari kita jadikan akhlak sebagai:

  • identitas diri

  • benteng dari kerusakan zaman

  • jalan menuju ridha Allah

Karena pada akhirnya, yang paling berat di timbangan amal adalah akhlak.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)


Jumat, 08 Mei 2026

NISFU SYA'BAN


NISFU SYA’BAN

MOMENTUM MUHASABAH DAN PERSIAPAN RAMADHAN



ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَحَ صُدُورَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِطَاعَتِهِ، وَهَدَاهُمْ إِلَىٰ تَحْكِيمِ كِتَابِهِ وَٱلْعَمَلِ بِهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي ٱلْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ .

قال اللهُ تعالى : { یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ }


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,


Pada kesempatan yang penuh makna ini, dari atas mimbar saya mengajak hadirin sekalian, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita, marilah kita mematangkan ketakwaan kita dengan terus melakukan introsfeksi, sebagai sarana menjaga ketaqwaan kita kepada Allah SWT.; menghisab diri sendiri sebelum dihisab di hadapan Alloh, apakah selama ini perbuatan kita sudah sejalan dengan tatanan agama, apakah selama ini perbuatan kita sudah sesuai dengan tuntunan Nabi mulia, atau justru jauh dari ajaran agama, jauh dari syari’ah yang dibawa Nabi mulia, agama hanya di bibir saja, agama hanya sebatas KTP semata.

   Mari kita semakin meningkatkan keyakinan kita, untuk membulatkan tekat berpegang teguh hanya semata pada ajaran agama Allah. Jadikan ajaran Islam satu-satuNya pedoman hidup kita, niscaya ketenangan akan menyelimuti kehidupan kita.


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,


Alhamdulillah saat ini kita berada pada hari-hari yang agung, di bulan yang mulia, yaitu bulan Sya‘ban, bulan yang sering dilalaikan oleh banyak manusia. Padahal Allah Ta‘ala menjadikannya sebagai waktu diangkatnya amal-amal perbuatan, sekaligus sebagai pengantar menuju bulan Al-Qur’an, yaitu bulan Ramadhan.


Kita berada di tengah bulan yang terdapat satu malam yang dikenal oleh kaum muslimin sebagai Nisfu Sya’ban, malam pertengahan bulan Sya’ban.


Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus pada bulan ini, sebagaimana sabda beliau:


ذَٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan ini amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku senang ketika amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. an-Nasā’i)


Hadits ini menunjukkan bahwa Sya’ban adalah bulan pengangkatan amal, bulan evaluasi, bulan muhasabah sebelum Ramadhan tiba.


Maka marilah kita Menghisab diri sendiri sebelum dihisab di hadapan Allah , menimbang amal sebelum ditimbang di hadapan Allah , mendisiplinkan diri sebelum disiplinkan Allah, sadar diri sebelum Allah memaksa kita dengan peringatan-Nya untuk kita sadar. Orang yang berbahagia adalah yang mau mengambil pelajaran, sedangkan yang celaka adalah yang terus-menerus dalam dosa dan lalai akan akhir kehidupannya.


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,


Tentang malam Nisfu Sya’ban, Rasulullah ﷺ bersabda:


يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ، إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ


“Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang menyimpan permusuhan.” (HR. Ibnu Mājah, ath-Thabrani – hasan menurut sebagian ulama)


Hadits ini mengajarkan bahwa penghalang ampunan Allah bukanlah dosa besar semata,  hati yang dipenuhi kebencian, dendam, dan permusuhan juga menjadi penyebab terhalangnya Ampunan Allah..


Maka Nisfu Sya’ban adalah waktu tepat untuk membersihkan hati, memenej dan mengoreksi hati , memperbaiki hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia. Ulama mengatakan:


طُوْبَى لِمَنْ كَانَ عَقْلُهُ أَمِيْرًا وَهَوَاهُ أَسِيْرًا وَوَيْلٌ لِمَنْ كَانَ هَوَاهُ أَمِيرًا وَعَقْلُهُ أَسِيْرًا.


Maknanya: kebahagiaan sejati ada pada orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan akal dan iman, sedangkan kebinasaan menanti orang yang hidupnya dikendalikan oleh hawa nafsu.


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,


Sesungguhnya malam Nisfu Sya‘ban adalah sebuah persinggahan iman, sebuah perhentian ruhani, dan kesempatan besar untuk melakukan muhasabah diri, meninjau kembali kondisi hati, serta meluruskan arah kehidupan sebelum kita memasuki bulan puasa.


Pada malam nisfu sya'ban hendaklah seorang hamba merenungi dosa - dosa dan kesalahannya, memperbarui tobatnya, serta memperbaiki hubungannya dengan Allah dan hubungannya dengan sesama manusia.


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,


Nisfu Sya’ban sejatinya adalah alarm rohani bahwa Ramadhan sudah dekat. Siapa yang lalai di Sya’ban, biasanya akan berat di Ramadhan. Siapa yang santai-santai di sya'ban akan berat menjalani Ramadhan.

Para salaf berkata:

إِنَّ شَهْرَ شَعْبَانَ كَانَ كَالْمُقَدِّمَةِ لِرَمَضَانَ.

“Bulan Sya’ban itu seperti pendahuluan menuju Ramadhan.”


Maka persiapan terbaik adalah:


  1. Memperbaiki shalat

  2. Membiasakan puasa sunnah

  3. Membersihkan hati dari syirik, dendam, dan permusuhan

  4. Memperbanyak istighfar dan taubat

  5. Meluruskan niat menyambut Ramadhan


Allah ﷻ berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ

“Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian.” (QS. Āli ‘Imrān: 133)


بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.



الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ مالِكِ الْمُلْكِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ نَبِيٍّ وَخَيْرُ نَذِيرٍ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ، نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ قَوْلُهُ: إِنَّ الْكَيِّسَ الْفَطِنَ الذَّكِيَّ: مَنْ لَا تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا انْكِسَارًا وَذُلًّا وَتَوَاضُعًا وَخُضُوعًا لِلْمُنْعِمِ، وَكُلَّمَا جُدِّدَتْ لَهُ نِعْمَةٌ أَحْدَثَ لَهَا عُبُودِيَّةً وَخُضُوعًا. فَكُونُوا يَا عِبَادَ اللَّهِ مِمَّنْ إِنْ زَادَتْهُ النِّعَمُ إِلَّا طَاعَةَ اللَّهِ، وَإِقْبَالًا عَلَيْهِ، وَتَوَجُّهًا إِلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا مِمَّنْ أَبْطَرَتْهُ النِّعْمَةُ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ.

وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأَمِينِ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِذٰلِكَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ وَحَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ الْبَشِيرِ النَّذِيرِ وَالسِّرَاجِ الْمُنِيرِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ ، سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَن سَائِرِ صَحَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، يَا غَافِرَ الذُّنُوبِ وَالْخَطِيئَاتِ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ عَلَى نِعَمِهِ وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.


KEMATIAN TIDAK MENUNGGU TUA

Kematian Tidak Menunggu Tua


ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَحَ صُدُورَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِطَاعَتِهِ، وَهَدَاهُمْ إِلَىٰ تَحْكِيمِ كِتَابِهِ وَٱلْعَمَلِ بِهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي ٱلْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ .

قال اللهُ تعالى : { یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ }


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Mari kita meningkatkan iman, amal dengan terus melakukan introspeksi , muhasabah, sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Karena hanya bekal takwa yang akan menyelamatkan kita ketika menghadap Allah nanti.

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Saat ini kita berada di bulan Dzulqa’dah, salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ.

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama menjelaskan bahwa dosa pada bulan haram lebih besar, dan amal shalih lebih agung pahalanya.

Imam Qatadah رحمه الله berkata:

إِنَّ الظُّلْمَ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ خَطِيئَةً وَوِزْرًا

“Sesungguhnya kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar dosa dan kesalahannya.”

Oleh karena itu, bulan Dzulqa’dah hendaknya menjadi momentum memperbaiki diri, memperbanyak amal shalih, dan bertaubat. Banyak orang menunggu waktu luang untuk bertaubat, padahal kematian tidak pernah menunggu kesiapan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ.

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan sesungguhnya pahala kalian disempurnakan pada hari kiamat.” (QS. Āli ‘Imrān: 185)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Kematian adalah kepastian. Tidak ada seorang pun yang mampu menolaknya. Yang tua akan mati, yang muda pun demikian. Yang sehat bisa meninggal tiba-tiba, yang sakit belum tentu wafat hari ini.

Betapa banyak anak muda yang lebih dahulu dipanggil Allah sebelum sempat menikmati masa tua. Betapa banyak orang yang pagi hari masih tertawa, sore harinya sudah terbujur kaku.

Allah Ta’ala berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ.

“Di mana saja kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, walaupun kalian berada di benteng yang kokoh. (QS. An-Nisā’: 78)

Oleh karena itu, orang yang cerdas bukanlah mereka yang banyak hartanya, bukan pula yang panjang angan dan cita-citanya. Tetapi orang cerdas adalah mereka yang mempersiapkan amal sebelum datang kematian, memanfaatkan sisa umurnya sebelum terlambat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Sering kali kita menunda taubat dengan alasan masih muda. Kita berkata: “Nanti kalau sudah tua saya akan berubah.” Padahal tidak ada jaminan kita sampai pada usia tua.

Maka janganlah kita menunda taubat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتُوبُوٓا إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An-Nūr: 31)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ.

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Untuk bertaubat tidak perlu menunggu menjadi orang baik, justru taubat adalah jalan menuju perbaikan diri.

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Dunia hanyalah tiga hari:

Hari kemarin telah pergi bersama amalnya, Hari esok belum tentu engkau temui, Dan hari ini adalah kesempatanmu.”

Boleh jadi… air mata taubat hari ini lebih Allah cintai daripada berjuta-juta rencana beramal shalih di kemudian hari.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah shalat kita benar…?

Sudahkah kita menjaga lisan…?

Sudahkah kita membaca Al-Qur'an…?

Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua, sesama…?

Sudahkah kita meninggalkan kebiasaan buruk kita, yang selama ini menjadi penghalang antara kita dengan Tuhan…?

Oleh karenanya, mari perbaiki shalat kita, perbanyak amal shaleh kita, … 

Menjaga Salat

Karena salat adalah amal pertama yang dihisab.

Memperbanyak Sedekah

Sebab sedekah akan menjadi naungan di hari kiamat.

Membaca Al-Qur’an

Jangan sampai umur habis tetapi Al-Qur’an jauh dari kehidupan kita.

Memperbanyak Zikir dan Istighfar

Karena Nabi ﷺ sendiri yang ma’shum beristighfar lebih dari 70 kali sehari.

Janganlah kita tertipu dengan panjang angan-angan. Banyak orang yang seusia kita sudah mendahului kita ke alam kubur.

karena kita tidak pernah tahu, apakah esok masih menjadi milik kita, ketika kematian datang, penyesalan tidak lagi berguna.

Allah Ta’ala menggambarkan penyesalan manusia ketika sakaratul maut:

قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ ۝ لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku agar aku dapat beramal shaleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al-Mu’minūn: 99–100)


Kita bisa membayangkan betapa beratnya penyesalan yang dirasakan orang “sakaratul maut” 

Semoga Allah membimbing , menuntun dan memberi kita semua “husnul khatimah”. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ.

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari)

Karena itu jangan merasa aman dari dosa, dan jangan pula putus asa dari rahmat Allah.

Tanda orang yang husnul khatimah adalah mereka yang menjaga iman, menjaga shalat, menjaga taubat, dan istiqamah dalam kebaikan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.



الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ مالِكِ الْمُلْكِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ بَشِيرٍ وَخَيْرُ نَذِيرٍ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ قَوْلُهُ: إِنَّ الْكَيِّسَ الْفَطِنَ الذَّكِيَّ: مَنْ لَا تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا انْكِسَارًا وَذُلًّا وَتَوَاضُعًا وَخُضُوعًا لِلْمُنْعِمِ، وَكُلَّمَا جَدَّدَ لَهُ نِعْمَةً أَحْدَثَ لَهَا عُبُودِيَّةً وَخُضُوعًا. فَكُونُوا يَا عِبَادَ اللَّهِ مِمَّنْ لاَ تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا طَاعَةَ اللَّهِ، وَإِقْبَالًا عَلَيْهِ، وَتَوَجُّهًا إِلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا مِمَّنْ أَبْطَرَتْهُ النِّعْمَةُ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، يَا غَافِرَ الذُّنُوبِ وَالْخَطِيئَاتِ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ عَلَى نِعَمِهِ وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.


Kamis, 16 April 2026

Ketika Keseimbangan Tuhan Mulai Diusik

Ketika Keseimbangan Tuhan Mulai Diusik



الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ الشَّرِيعَةَ هُدًى وَنُورًا، وَجَعَلَهَا مِيزَانَ الْحَيَاة ، وَصِرَاطَ النَّجَاة ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه ، الْمَبْعُوثُ بِالشَّرِيعَةِ الْكَامِلَة ، وَالرَّحْمَةِ الشَّامِلَة ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاسْتَمْسَكَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ القِيامَة.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ شَرِيعَةَ الْإِسْلَامِ هِيَ مَنْهَجُ الْحَيَاةِ، وَنِظَامُ النَّجَاةِ، بِهَا تَسْتَقِيمُ الْقُلُوبُ، وَتُصْلَحُ الْأَحْوَالُ، وَتُحْفَظُ الْمَصَالِحُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ شَرِيعَةَ اللَّهِ مِيزَانَ أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ اسْتَبْدَلَ هَدْيَ السَّمَاءِ بِأَهْوَاءِ الْبَشَرِ.

قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ: ﴿وَٱبْتَغِ فِيمَا آتَاكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْآخِرَةَ، وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا، وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ، وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِي ٱلْأَرْضِ، إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ﴾

وَقَالَ تَعَالَىٰ أَيْضًا: ﴿وَٱلْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ، وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ، وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ﴾


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

 Mari kita meningkatkan Iman, amal dengan terus melakukan introsfeksi, sebagai sarana menjaga ketaqwaan kita kepada Allah SWT.; Menghisab diri sendiri sebelum dihisab di hadapan Alloh, apakah selama ini perbuatan kita sudah sejalan dengan tatanan agama, apakah selama ini perbuatan kita sudah sesuai dengan tuntunan Nabi mulia, atau justru jauh dari ajaran agama, jauh dari syari’ah yang dibawa Nabi mulia.

 Oleh karenanya, mari kita semakin meningkatkan keyakinan kita, untuk membulatkan tekat berpegang teguh hanya semata pada ajaran agama Allah. Jadikan ajaran Islam satu-satunya pedoman hidup kita, niscaya kelestarian lingkungan dan kesejahteraan hidup akan terwujud.

 Syariat Islam adalah sistem keselamatan. Dengannya hati menjadi lurus, keadaan menjadi baik, dan kemaslahatan terjaga, baik di dunia maupun di akhirat.

  Sesungguhnya berpegang teguh pada syariat Allah adalah rahasia keberhasilan serta sumber kemuliaan dan ketenteraman. Dan sebaliknya, berpaling dari syariat-Nya adalah kerugian yang nyata.

 Maka berbahagialah orang yang menjadikan syariat Allah sebagai pedoman hidup nya. Dan celakalah orang yang menukar petunjuk langit dengan hawa nafsu manusia.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Akhir-akhir ini kita sering disuguhi berita-berita televisi; Dimana saudara saudara kita di Aceh yang sedang berjuang mengatasi bencana. hari ini, kita hidup di zaman di mana bumi sering menangis, langit seakan murka, dan keseimbangan alam semakin rapuh. Bencana datang silih berganti: gempa, banjir, kekeringan, dan kerusakan lingkungan yang meluas. Semua adalah akibat ulah manusia-manusia serakah yang mulai mengusik keseimbangan Tuhan. Allah menciptakan alam ini dengan ukuran, ketetapan, dan keseimbangan (almizan) yang sempurna. Sebagaimana firman-Nya 

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ ۝ أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

“Dan Dia lah yang telah meninggikan langit, dan Dia pula yang meletakkan keseimbangan, agar kalian tidak merusak keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman: 7–8)

Dalam ayat tersebut Allah mengabarkan “Dialah yang meletakkan Keseimbangan”, di alam raya ini dan memperingatkan “janganlah kalian merusak keseimbangan tersebut”

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Kita semua tau fungsi dari hutan, Allah Swt menciptakan hutan bukan sekedar melengkapi keindahan bumi saja, namun ada fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia, yaitu “Keseimbangan”

Ketika manusia mulai melampaui batas, ketika keserakahan menjadi prinsip hidup, ketika amanah diabaikan dan hukum Allah disisihkan, itu sama halnya mengusik keseimbangan Tuhan, maka keseimbangan itu pun terguncang.

Ketika keseimbangan Tuhan mulai diusik, jangan salahkan jika bencana datang dari detik perdetik; dimana pembakaran, perusaan hutan, penebangan ilegal, terjadi dimana-mana, sementara salah satu tugas kita sebagai manusia adalah kholifah fil ardh, sebagai pengelola bumi, sebagai petugas memakmurkan bumi, bukan penghancur bumi. Sebagaimana firman Allah Swt:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Huud:61)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Bumi adalah anugerah Allah Swt yang dipercayakan kepada umat manusia. Manusia diberikan kesempatan oleh Allah Swt untuk tinggal di Bumi dan memakmurkannya. Bahkan Allah Swt menyatakan; bahwa Bumi dan se-isinya diciptakan memang untuk umat manusia.

Hutan dan fungsi-nya adalah karunia Allah, hutan merupakan paru-paru bumi yang memiliki potensi dan fungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Potensi dan fungsi tersebut mengandung manfaat bagi populasi manusia bila dikelola secara benar dan bijaksana. Dan diantara fungsinya adalah sebagai penghasil oksigen bagi kehidupan, penyerap karbon-dioksida, dan mencegah erosi (pengikisan). Dan hutan juga berfungsi sebagai daerah resapan dan tangkapan air, hutan yang berfungsi untuk mengendalikan banjir di waktu musim hujan dan menjamin ketersediaan air di waktu musim kemarau.

Permasalahan yang sering kita temui adalah menurunnya fungsi dan potensi hutan seiring dengan makin berkurangnya luasan yang dapat dipertahankan. Berbagai aktifitas manusia dilakukan untuk mengubah fungsi hutan secara ekologis, menjadi pemanfaatan lahan secara ekonomis. 

Manusia yang serakah seringkali meng-eksploitasi lingkungan demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tanpa memperhatikan kelestariannya; pembakaran dan penebangan hutan secara liar dan membabi buta, mereka telah merusak apa yang diperintahkan oleh Allah Swt agar dijaga, mereka juga tidak peduli akibat apa yang akan terjadi setelah kerusakan itu.

Allah Swt telah memperingatkan bahwa terjadinya kerusakan di daratan dan di lautan adalah akibat keserakahan manusia, sebagaimana dalam firman-Nya.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada sebagian dari mereka (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar Ruum: 41)

Banjir, longsor, kekeringan, krisis air, dan rusaknya hutan bukan sekadar bencana alam, tetapi sering kali merupakan akibat kelalaian (ulah) manusia yang mengusik keseimbangan ciptaan Allah. ketika bumi dan hutan dikeruk dan ditebang demi keuntungan, maka bencana alam seperti saat ini akan terus terulang.

Islam dengan tegas melarang perusakan:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A‘rāf: 56)

Maka merusak alam, menebang hutan sembarangan, mencemari sungai, dan mengabaikan lingkungan bukan hanya pelanggaran sosial, tetapi dosa di sisi Allah.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ، وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash: 77)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

 Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tetapi agama yang mengatur kehidupan secara menyeluruh, termasuk hubungan manusia dengan alam. Syariat Islam hadir untuk menjaga lima tujuan utama (maqāṣid asy-syarī‘ah): agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Kelestarian lingkungan termasuk bagian penting dari penjagaan tersebut.

Allah ﷻ berfirman:

وَالأرْضَ وَضَعَهَا لِلأَنَامِ

“Dan bumi telah Dia hamparkan untuk seluruh makhluk.” (QS. Ar-Raḥmān: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa alam bukan milik segelintir manusia, tetapi amanah untuk seluruh makhluk dan generasi. Maka syariat Islam menuntut kita mengelola alam dengan adil, bijak, dan bertanggung jawab, agar kesejahteraan hidup terwujud.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْخَلْقُ عِيَالُ اللَّهِ، فَأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِعِيَالِهِ

“Makhluk adalah keluarga Allah, dan yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi makhluk-Nya.” (HR. al-Baihaqi)

Menjaga lingkungan berarti memberi manfaat bagi seluruh makhluk, dan itulah inti dari syariat Islam. Karena itu, jika manusia ingin pemberian Allah Swt itu menjadi berkah, dapat dirasakan dan dinikmati juga oleh anak cucu-nya, maka manusia harus melestarikan semua pemberian Allah Swt, menjaga nikmat tersebut, bukan sekedar menikmati saja apalagi dengan keserakahan, tapi juga harus menjaga dan melestarikannya.

Dalam firman-Nya Allah mengabarkan.

وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ. وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ.

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (QS. Al Hijr: 19–20)

Ayat ini menyebutkan bahwa kehidupan manusia tergantung kepada bumi, yakni Allah menjadikan bumi sarana untuk mendapatkan rizki. Maka, Alangkah bodohnya jika manusia merusaknya, padahal bumi adalah sumber kebutuhan hidupnya. Karena itu, manusia harus menjaga dan memelihara kelestariannya agar dapat dinikmati sampai ke anak cucu nanti.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullLOH,

Dalam Islam memakmurkan bumi itu tidak sekedar membuat penduduk bumi makmur secara ekonomi, tetapi manusia hidup dalam keteraturan dan ketertiban, baik menyangkut buminya, maupun penghuninya. Baik yang di darat maupun yang di laut.

Dalam pandangan Islam menjaga dan melestarikan bumi, bercocok tanam, khususnya penghijauan ladang dan hutan (Reboisasi) sangatlah dianjurkan, bahkan hal tersebut merupakan catatan ibadah tersendiri bagi yang menanamnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam:

Beliau menganjurkan umatnya agar menanam pohon walaupun di hari terjadinya kiamat, yakni kiamat bagi dirinya (yaitu kematian) atau kiamat secara umum (kiamat alam semesta). Bahkan bagi siapa yang menanamnya, Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda dan terus bertambah.

عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَاسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا، فَلَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ».

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Kendatipun hari kiamat terjadi, sementara di tangan salah satu di antara kamu masih ada bibit pohon korma, lalu ia memiliki kemampuan untuk menanamnya sebelum hari kiamat terjadi, maka hendaklah ia menanamnya, karena dengan demikian ia mendapatkan pahala”.

عن أنس قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من مسلم يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim yang menanam dan menabur benih, lalu ada sebagian yang dimakan oleh burung atau manusia, ataupun oleh binatang, niscaya semua itu akan menjadi sedekah baginya”.(Silsilah ash-Shahihah no. 7).

Dalam riwayat lain dari Jabir secara marfu’:
“Seorang muslim yang menanam suatu tanaman, niscaya apa yang termakan akan menjadi sedekah, apa yang tercuri akan menjadi sedekah, apa yang termakan oleh burung akan menjadi sedekah, dan apa pun yang diambil oleh seseorang dari tanaman akan menjadi sedekah pula bagi (pemilik)nya (sampai hari kiamat datang)”. (Silsilah ash-Shahihah No. 8).

Ini menunjukkan betapa tingginya nilai reboisasi dalam Islam, sebagai wujud iman, tanggung jawab, dan harapan.

Semoga kita semua senantiasa dikaruniai Allah kesadaran diri, sehingga mampu menjaga amanah yang dibebankan pada kita, selalu menjaga kelestarian lingkungan, pada akhirnya keberkahan yang kita peroleh. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.



الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ مالِكِ الْمُلْكِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ نَبِيٍّ وَخَيْرُ نَذِيرٍ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ، نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ قَوْلُهُ: إِنَّ الْكَيِّسَ الْفَطِنَ الذَّكِيَّ: مَنْ لَا تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا انْكِسَارًا وَذُلًّا وَتَوَاضُعًا وَخُضُوعًا لِلْمُنْعِمِ، وَكُلَّمَا جدّدَ لَهُ نِعْمَة أَحْدَثَ لَهَا عُبُودِيَّةً وَخُضُوعًا. فَكُونُوا يَا عِبَادَ اللَّهِ مِمَّنْ لا تَزِيدُ النِّعَمُ إِلَّا طَاعَةَ اللَّهِ، وَإِقْبَالًا عَلَيْهِ، وَتَوَجُّهًا إِلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا مِمَّنْ أَبْطَرَتْهُ النِّعْمَةُ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ.

وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأَمِينِ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِذٰلِكَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ وَحَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ الْبَشِيرِ النَّذِيرِ وَالسِّرَاجِ الْمُنِيرِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ ، سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَن سَائِرِ صَحَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، يَا غَافِرَ الذُّنُوبِ وَالْخَطِيئَاتِ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ عَلَى نِعَمِهِ وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.