Translate

Sabtu, 09 Mei 2026

Akhlak: Keseimbangan Hidup

Akhlak: Keseimbangan Hidup di Era Globalisasi dan Kemajuan Zaman

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَحَ صُدُورَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِطَاعَتِهِ، وَهَدَاهُمْ إِلَىٰ تَحْكِيمِ كِتَابِهِ وَٱلْعَمَلِ بِهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي ٱلْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ .

قال اللهُ تعالى : { یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ }


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Mari kita meningkatkan iman, amal dengan terus melakukan introspeksi , muhasabah, sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Teknologi berkembang pesat, informasi begitu mudah diakses, dan dunia seakan tanpa batas. Inilah yang disebut globalisasi. Namun, di balik kemajuan itu, ada satu hal yang sering terabaikan: akhlak.

Padahal, akhlak adalah inti ajaran Islam.

Allah ﷻ berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan Rasulullah ﷺ bukan hanya pada ilmu dan ibadahnya, tetapi juga pada akhlaknya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Di era globalisasi, manusia sering kehilangan keseimbangan. Banyak orang canggih dalam teknologi, tetapi lemah dalam moral. Pintar dalam ilmu, tetapi miskin adab.

Padahal Islam mengajarkan keseimbangan:

  • antara dunia dan akhirat

  • antara ilmu dan akhlak

  • antara kemajuan dan nilai-nilai spiritual

Allah ﷻ berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا.

“Carilah negeri akhirat dengan apa yang telah Allah berikan kepadamu, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ini adalah prinsip keseimbangan hidup dalam Islam.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Kemajuan zaman tanpa akhlak akan membawa kerusakan:

  • media sosial tanpa adab melahirkan fitnah

  • ilmu tanpa akhlak melahirkan kesombongan

  • kekuasaan tanpa akhlak melahirkan kezaliman, keangkuhan.

Seorang ulama besar, Imam Al-Ghazali berkata: “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”

Dan beliau juga menekankan bahwa inti agama adalah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dari sinilah lahir akhlak mulia,

Para salaf juga berkata: “Kami mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu.”

Kenapa demikian karena akhlak adalah fondasi.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Akhlak adalah penyeimbang dalam kehidupan modern:

  • Sabar menahan diri dari hawa nafsu

  • Jujur di tengah budaya manipulasi

  • Amanah di tengah krisis kepercayaan

  • Tawadhu’ di tengah kesombongan intelektual

Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Maka jelas, akhlak bukan sekadar pelengkap, tapi inti keimanan.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Sebagai penutup khutbah, mari kita renungkan, bagaimana cara menjaga akhlak di era modern?

Pertama: Menguatkan iman
Karena akhlak yang baik lahir dari hati yang bersih. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Asy-Syu’ara: 88–89:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Kedua: Meneladani Rasulullah ﷺ
Karena beliau adalah standar akhlak terbaik.

Ketiga: Mengontrol diri di era digital
Bijak dalam berbicara, menulis, dan menyebarkan informasi. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Qaf: 18

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Keempat: Bergaul dengan orang saleh
Karena lingkungan sangat mempengaruhi akhlak.

Seorang ulama, Abdullah bin Mas'ud, berkata:

“Seseorang akan mengikuti agama temannya, maka lihatlah dengan siapa ia berteman.”

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Mari kita jadikan akhlak sebagai:

  • identitas diri

  • benteng dari kerusakan zaman

  • jalan menuju ridha Allah

Karena pada akhirnya, yang paling berat di timbangan amal adalah akhlak.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)


Jumat, 08 Mei 2026

NISFU SYA'BAN


NISFU SYA’BAN

MOMENTUM MUHASABAH DAN PERSIAPAN RAMADHAN



ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَحَ صُدُورَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِطَاعَتِهِ، وَهَدَاهُمْ إِلَىٰ تَحْكِيمِ كِتَابِهِ وَٱلْعَمَلِ بِهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي ٱلْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ .

قال اللهُ تعالى : { یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ }


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,


Pada kesempatan yang penuh makna ini, dari atas mimbar saya mengajak hadirin sekalian, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita, marilah kita mematangkan ketakwaan kita dengan terus melakukan introsfeksi, sebagai sarana menjaga ketaqwaan kita kepada Allah SWT.; menghisab diri sendiri sebelum dihisab di hadapan Alloh, apakah selama ini perbuatan kita sudah sejalan dengan tatanan agama, apakah selama ini perbuatan kita sudah sesuai dengan tuntunan Nabi mulia, atau justru jauh dari ajaran agama, jauh dari syari’ah yang dibawa Nabi mulia, agama hanya di bibir saja, agama hanya sebatas KTP semata.

   Mari kita semakin meningkatkan keyakinan kita, untuk membulatkan tekat berpegang teguh hanya semata pada ajaran agama Allah. Jadikan ajaran Islam satu-satuNya pedoman hidup kita, niscaya ketenangan akan menyelimuti kehidupan kita.


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,


Alhamdulillah saat ini kita berada pada hari-hari yang agung, di bulan yang mulia, yaitu bulan Sya‘ban, bulan yang sering dilalaikan oleh banyak manusia. Padahal Allah Ta‘ala menjadikannya sebagai waktu diangkatnya amal-amal perbuatan, sekaligus sebagai pengantar menuju bulan Al-Qur’an, yaitu bulan Ramadhan.


Kita berada di tengah bulan yang terdapat satu malam yang dikenal oleh kaum muslimin sebagai Nisfu Sya’ban, malam pertengahan bulan Sya’ban.


Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus pada bulan ini, sebagaimana sabda beliau:


ذَٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan ini amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku senang ketika amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. an-Nasā’i)


Hadits ini menunjukkan bahwa Sya’ban adalah bulan pengangkatan amal, bulan evaluasi, bulan muhasabah sebelum Ramadhan tiba.


Maka marilah kita Menghisab diri sendiri sebelum dihisab di hadapan Allah , menimbang amal sebelum ditimbang di hadapan Allah , mendisiplinkan diri sebelum disiplinkan Allah, sadar diri sebelum Allah memaksa kita dengan peringatan-Nya untuk kita sadar. Orang yang berbahagia adalah yang mau mengambil pelajaran, sedangkan yang celaka adalah yang terus-menerus dalam dosa dan lalai akan akhir kehidupannya.


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,


Tentang malam Nisfu Sya’ban, Rasulullah ﷺ bersabda:


يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ، إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ


“Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang menyimpan permusuhan.” (HR. Ibnu Mājah, ath-Thabrani – hasan menurut sebagian ulama)


Hadits ini mengajarkan bahwa penghalang ampunan Allah bukanlah dosa besar semata,  hati yang dipenuhi kebencian, dendam, dan permusuhan juga menjadi penyebab terhalangnya Ampunan Allah..


Maka Nisfu Sya’ban adalah waktu tepat untuk membersihkan hati, memenej dan mengoreksi hati , memperbaiki hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia. Ulama mengatakan:


طُوْبَى لِمَنْ كَانَ عَقْلُهُ أَمِيْرًا وَهَوَاهُ أَسِيْرًا وَوَيْلٌ لِمَنْ كَانَ هَوَاهُ أَمِيرًا وَعَقْلُهُ أَسِيْرًا.


Maknanya: kebahagiaan sejati ada pada orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan akal dan iman, sedangkan kebinasaan menanti orang yang hidupnya dikendalikan oleh hawa nafsu.


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,


Sesungguhnya malam Nisfu Sya‘ban adalah sebuah persinggahan iman, sebuah perhentian ruhani, dan kesempatan besar untuk melakukan muhasabah diri, meninjau kembali kondisi hati, serta meluruskan arah kehidupan sebelum kita memasuki bulan puasa.


Pada malam nisfu sya'ban hendaklah seorang hamba merenungi dosa - dosa dan kesalahannya, memperbarui tobatnya, serta memperbaiki hubungannya dengan Allah dan hubungannya dengan sesama manusia.


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,


Nisfu Sya’ban sejatinya adalah alarm rohani bahwa Ramadhan sudah dekat. Siapa yang lalai di Sya’ban, biasanya akan berat di Ramadhan. Siapa yang santai-santai di sya'ban akan berat menjalani Ramadhan.

Para salaf berkata:

إِنَّ شَهْرَ شَعْبَانَ كَانَ كَالْمُقَدِّمَةِ لِرَمَضَانَ.

“Bulan Sya’ban itu seperti pendahuluan menuju Ramadhan.”


Maka persiapan terbaik adalah:


  1. Memperbaiki shalat

  2. Membiasakan puasa sunnah

  3. Membersihkan hati dari syirik, dendam, dan permusuhan

  4. Memperbanyak istighfar dan taubat

  5. Meluruskan niat menyambut Ramadhan


Allah ﷻ berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ

“Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian.” (QS. Āli ‘Imrān: 133)


بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.



الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ مالِكِ الْمُلْكِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ نَبِيٍّ وَخَيْرُ نَذِيرٍ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ، نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ قَوْلُهُ: إِنَّ الْكَيِّسَ الْفَطِنَ الذَّكِيَّ: مَنْ لَا تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا انْكِسَارًا وَذُلًّا وَتَوَاضُعًا وَخُضُوعًا لِلْمُنْعِمِ، وَكُلَّمَا جُدِّدَتْ لَهُ نِعْمَةٌ أَحْدَثَ لَهَا عُبُودِيَّةً وَخُضُوعًا. فَكُونُوا يَا عِبَادَ اللَّهِ مِمَّنْ إِنْ زَادَتْهُ النِّعَمُ إِلَّا طَاعَةَ اللَّهِ، وَإِقْبَالًا عَلَيْهِ، وَتَوَجُّهًا إِلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا مِمَّنْ أَبْطَرَتْهُ النِّعْمَةُ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ.

وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأَمِينِ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِذٰلِكَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ وَحَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ الْبَشِيرِ النَّذِيرِ وَالسِّرَاجِ الْمُنِيرِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ ، سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَن سَائِرِ صَحَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، يَا غَافِرَ الذُّنُوبِ وَالْخَطِيئَاتِ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ عَلَى نِعَمِهِ وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.


KEMATIAN TIDAK MENUNGGU TUA

Kematian Tidak Menunggu Tua


ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَحَ صُدُورَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِطَاعَتِهِ، وَهَدَاهُمْ إِلَىٰ تَحْكِيمِ كِتَابِهِ وَٱلْعَمَلِ بِهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي ٱلْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ .

قال اللهُ تعالى : { یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ }


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Mari kita meningkatkan iman, amal dengan terus melakukan introspeksi , muhasabah, sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Karena hanya bekal takwa yang akan menyelamatkan kita ketika menghadap Allah nanti.

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Saat ini kita berada di bulan Dzulqa’dah, salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ.

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama menjelaskan bahwa dosa pada bulan haram lebih besar, dan amal shalih lebih agung pahalanya.

Imam Qatadah رحمه الله berkata:

إِنَّ الظُّلْمَ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ خَطِيئَةً وَوِزْرًا

“Sesungguhnya kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar dosa dan kesalahannya.”

Oleh karena itu, bulan Dzulqa’dah hendaknya menjadi momentum memperbaiki diri, memperbanyak amal shalih, dan bertaubat. Banyak orang menunggu waktu luang untuk bertaubat, padahal kematian tidak pernah menunggu kesiapan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ.

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan sesungguhnya pahala kalian disempurnakan pada hari kiamat.” (QS. Āli ‘Imrān: 185)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Kematian adalah kepastian. Tidak ada seorang pun yang mampu menolaknya. Yang tua akan mati, yang muda pun demikian. Yang sehat bisa meninggal tiba-tiba, yang sakit belum tentu wafat hari ini.

Betapa banyak anak muda yang lebih dahulu dipanggil Allah sebelum sempat menikmati masa tua. Betapa banyak orang yang pagi hari masih tertawa, sore harinya sudah terbujur kaku.

Allah Ta’ala berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ.

“Di mana saja kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, walaupun kalian berada di benteng yang kokoh. (QS. An-Nisā’: 78)

Oleh karena itu, orang yang cerdas bukanlah mereka yang banyak hartanya, bukan pula yang panjang angan dan cita-citanya. Tetapi orang cerdas adalah mereka yang mempersiapkan amal sebelum datang kematian, memanfaatkan sisa umurnya sebelum terlambat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Sering kali kita menunda taubat dengan alasan masih muda. Kita berkata: “Nanti kalau sudah tua saya akan berubah.” Padahal tidak ada jaminan kita sampai pada usia tua.

Maka janganlah kita menunda taubat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتُوبُوٓا إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An-Nūr: 31)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ.

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Untuk bertaubat tidak perlu menunggu menjadi orang baik, justru taubat adalah jalan menuju perbaikan diri.

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Dunia hanyalah tiga hari:

Hari kemarin telah pergi bersama amalnya, Hari esok belum tentu engkau temui, Dan hari ini adalah kesempatanmu.”

Boleh jadi… air mata taubat hari ini lebih Allah cintai daripada berjuta-juta rencana beramal shalih di kemudian hari.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah shalat kita benar…?

Sudahkah kita menjaga lisan…?

Sudahkah kita membaca Al-Qur'an…?

Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua, sesama…?

Sudahkah kita meninggalkan kebiasaan buruk kita, yang selama ini menjadi penghalang antara kita dengan Tuhan…?

Oleh karenanya, mari perbaiki shalat kita, perbanyak amal shaleh kita, … 

Menjaga Salat

Karena salat adalah amal pertama yang dihisab.

Memperbanyak Sedekah

Sebab sedekah akan menjadi naungan di hari kiamat.

Membaca Al-Qur’an

Jangan sampai umur habis tetapi Al-Qur’an jauh dari kehidupan kita.

Memperbanyak Zikir dan Istighfar

Karena Nabi ﷺ sendiri yang ma’shum beristighfar lebih dari 70 kali sehari.

Janganlah kita tertipu dengan panjang angan-angan. Banyak orang yang seusia kita sudah mendahului kita ke alam kubur.

karena kita tidak pernah tahu, apakah esok masih menjadi milik kita, ketika kematian datang, penyesalan tidak lagi berguna.

Allah Ta’ala menggambarkan penyesalan manusia ketika sakaratul maut:

قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ ۝ لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku agar aku dapat beramal shaleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al-Mu’minūn: 99–100)


Kita bisa membayangkan betapa beratnya penyesalan yang dirasakan orang “sakaratul maut” 

Semoga Allah membimbing , menuntun dan memberi kita semua “husnul khatimah”. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ.

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari)

Karena itu jangan merasa aman dari dosa, dan jangan pula putus asa dari rahmat Allah.

Tanda orang yang husnul khatimah adalah mereka yang menjaga iman, menjaga shalat, menjaga taubat, dan istiqamah dalam kebaikan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.



الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ مالِكِ الْمُلْكِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ بَشِيرٍ وَخَيْرُ نَذِيرٍ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ قَوْلُهُ: إِنَّ الْكَيِّسَ الْفَطِنَ الذَّكِيَّ: مَنْ لَا تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا انْكِسَارًا وَذُلًّا وَتَوَاضُعًا وَخُضُوعًا لِلْمُنْعِمِ، وَكُلَّمَا جَدَّدَ لَهُ نِعْمَةً أَحْدَثَ لَهَا عُبُودِيَّةً وَخُضُوعًا. فَكُونُوا يَا عِبَادَ اللَّهِ مِمَّنْ لاَ تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا طَاعَةَ اللَّهِ، وَإِقْبَالًا عَلَيْهِ، وَتَوَجُّهًا إِلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا مِمَّنْ أَبْطَرَتْهُ النِّعْمَةُ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، يَا غَافِرَ الذُّنُوبِ وَالْخَطِيئَاتِ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ عَلَى نِعَمِهِ وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.


Kamis, 16 April 2026

Ketika Keseimbangan Tuhan Mulai Diusik

Ketika Keseimbangan Tuhan Mulai Diusik



الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ الشَّرِيعَةَ هُدًى وَنُورًا، وَجَعَلَهَا مِيزَانَ الْحَيَاة ، وَصِرَاطَ النَّجَاة ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه ، الْمَبْعُوثُ بِالشَّرِيعَةِ الْكَامِلَة ، وَالرَّحْمَةِ الشَّامِلَة ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاسْتَمْسَكَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ القِيامَة.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ شَرِيعَةَ الْإِسْلَامِ هِيَ مَنْهَجُ الْحَيَاةِ، وَنِظَامُ النَّجَاةِ، بِهَا تَسْتَقِيمُ الْقُلُوبُ، وَتُصْلَحُ الْأَحْوَالُ، وَتُحْفَظُ الْمَصَالِحُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ شَرِيعَةَ اللَّهِ مِيزَانَ أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ اسْتَبْدَلَ هَدْيَ السَّمَاءِ بِأَهْوَاءِ الْبَشَرِ.

قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ: ﴿وَٱبْتَغِ فِيمَا آتَاكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْآخِرَةَ، وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا، وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ، وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِي ٱلْأَرْضِ، إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ﴾

وَقَالَ تَعَالَىٰ أَيْضًا: ﴿وَٱلْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ، وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ، وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ﴾


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

 Mari kita meningkatkan Iman, amal dengan terus melakukan introsfeksi, sebagai sarana menjaga ketaqwaan kita kepada Allah SWT.; Menghisab diri sendiri sebelum dihisab di hadapan Alloh, apakah selama ini perbuatan kita sudah sejalan dengan tatanan agama, apakah selama ini perbuatan kita sudah sesuai dengan tuntunan Nabi mulia, atau justru jauh dari ajaran agama, jauh dari syari’ah yang dibawa Nabi mulia.

 Oleh karenanya, mari kita semakin meningkatkan keyakinan kita, untuk membulatkan tekat berpegang teguh hanya semata pada ajaran agama Allah. Jadikan ajaran Islam satu-satunya pedoman hidup kita, niscaya kelestarian lingkungan dan kesejahteraan hidup akan terwujud.

 Syariat Islam adalah sistem keselamatan. Dengannya hati menjadi lurus, keadaan menjadi baik, dan kemaslahatan terjaga, baik di dunia maupun di akhirat.

  Sesungguhnya berpegang teguh pada syariat Allah adalah rahasia keberhasilan serta sumber kemuliaan dan ketenteraman. Dan sebaliknya, berpaling dari syariat-Nya adalah kerugian yang nyata.

 Maka berbahagialah orang yang menjadikan syariat Allah sebagai pedoman hidup nya. Dan celakalah orang yang menukar petunjuk langit dengan hawa nafsu manusia.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Akhir-akhir ini kita sering disuguhi berita-berita televisi; Dimana saudara saudara kita di Aceh yang sedang berjuang mengatasi bencana. hari ini, kita hidup di zaman di mana bumi sering menangis, langit seakan murka, dan keseimbangan alam semakin rapuh. Bencana datang silih berganti: gempa, banjir, kekeringan, dan kerusakan lingkungan yang meluas. Semua adalah akibat ulah manusia-manusia serakah yang mulai mengusik keseimbangan Tuhan. Allah menciptakan alam ini dengan ukuran, ketetapan, dan keseimbangan (almizan) yang sempurna. Sebagaimana firman-Nya 

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ ۝ أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

“Dan Dia lah yang telah meninggikan langit, dan Dia pula yang meletakkan keseimbangan, agar kalian tidak merusak keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman: 7–8)

Dalam ayat tersebut Allah mengabarkan “Dialah yang meletakkan Keseimbangan”, di alam raya ini dan memperingatkan “janganlah kalian merusak keseimbangan tersebut”

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Kita semua tau fungsi dari hutan, Allah Swt menciptakan hutan bukan sekedar melengkapi keindahan bumi saja, namun ada fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia, yaitu “Keseimbangan”

Ketika manusia mulai melampaui batas, ketika keserakahan menjadi prinsip hidup, ketika amanah diabaikan dan hukum Allah disisihkan, itu sama halnya mengusik keseimbangan Tuhan, maka keseimbangan itu pun terguncang.

Ketika keseimbangan Tuhan mulai diusik, jangan salahkan jika bencana datang dari detik perdetik; dimana pembakaran, perusaan hutan, penebangan ilegal, terjadi dimana-mana, sementara salah satu tugas kita sebagai manusia adalah kholifah fil ardh, sebagai pengelola bumi, sebagai petugas memakmurkan bumi, bukan penghancur bumi. Sebagaimana firman Allah Swt:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Huud:61)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,

Bumi adalah anugerah Allah Swt yang dipercayakan kepada umat manusia. Manusia diberikan kesempatan oleh Allah Swt untuk tinggal di Bumi dan memakmurkannya. Bahkan Allah Swt menyatakan; bahwa Bumi dan se-isinya diciptakan memang untuk umat manusia.

Hutan dan fungsi-nya adalah karunia Allah, hutan merupakan paru-paru bumi yang memiliki potensi dan fungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Potensi dan fungsi tersebut mengandung manfaat bagi populasi manusia bila dikelola secara benar dan bijaksana. Dan diantara fungsinya adalah sebagai penghasil oksigen bagi kehidupan, penyerap karbon-dioksida, dan mencegah erosi (pengikisan). Dan hutan juga berfungsi sebagai daerah resapan dan tangkapan air, hutan yang berfungsi untuk mengendalikan banjir di waktu musim hujan dan menjamin ketersediaan air di waktu musim kemarau.

Permasalahan yang sering kita temui adalah menurunnya fungsi dan potensi hutan seiring dengan makin berkurangnya luasan yang dapat dipertahankan. Berbagai aktifitas manusia dilakukan untuk mengubah fungsi hutan secara ekologis, menjadi pemanfaatan lahan secara ekonomis. 

Manusia yang serakah seringkali meng-eksploitasi lingkungan demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tanpa memperhatikan kelestariannya; pembakaran dan penebangan hutan secara liar dan membabi buta, mereka telah merusak apa yang diperintahkan oleh Allah Swt agar dijaga, mereka juga tidak peduli akibat apa yang akan terjadi setelah kerusakan itu.

Allah Swt telah memperingatkan bahwa terjadinya kerusakan di daratan dan di lautan adalah akibat keserakahan manusia, sebagaimana dalam firman-Nya.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada sebagian dari mereka (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar Ruum: 41)

Banjir, longsor, kekeringan, krisis air, dan rusaknya hutan bukan sekadar bencana alam, tetapi sering kali merupakan akibat kelalaian (ulah) manusia yang mengusik keseimbangan ciptaan Allah. ketika bumi dan hutan dikeruk dan ditebang demi keuntungan, maka bencana alam seperti saat ini akan terus terulang.

Islam dengan tegas melarang perusakan:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A‘rāf: 56)

Maka merusak alam, menebang hutan sembarangan, mencemari sungai, dan mengabaikan lingkungan bukan hanya pelanggaran sosial, tetapi dosa di sisi Allah.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ، وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash: 77)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

 Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tetapi agama yang mengatur kehidupan secara menyeluruh, termasuk hubungan manusia dengan alam. Syariat Islam hadir untuk menjaga lima tujuan utama (maqāṣid asy-syarī‘ah): agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Kelestarian lingkungan termasuk bagian penting dari penjagaan tersebut.

Allah ﷻ berfirman:

وَالأرْضَ وَضَعَهَا لِلأَنَامِ

“Dan bumi telah Dia hamparkan untuk seluruh makhluk.” (QS. Ar-Raḥmān: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa alam bukan milik segelintir manusia, tetapi amanah untuk seluruh makhluk dan generasi. Maka syariat Islam menuntut kita mengelola alam dengan adil, bijak, dan bertanggung jawab, agar kesejahteraan hidup terwujud.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْخَلْقُ عِيَالُ اللَّهِ، فَأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِعِيَالِهِ

“Makhluk adalah keluarga Allah, dan yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi makhluk-Nya.” (HR. al-Baihaqi)

Menjaga lingkungan berarti memberi manfaat bagi seluruh makhluk, dan itulah inti dari syariat Islam. Karena itu, jika manusia ingin pemberian Allah Swt itu menjadi berkah, dapat dirasakan dan dinikmati juga oleh anak cucu-nya, maka manusia harus melestarikan semua pemberian Allah Swt, menjaga nikmat tersebut, bukan sekedar menikmati saja apalagi dengan keserakahan, tapi juga harus menjaga dan melestarikannya.

Dalam firman-Nya Allah mengabarkan.

وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ. وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ.

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (QS. Al Hijr: 19–20)

Ayat ini menyebutkan bahwa kehidupan manusia tergantung kepada bumi, yakni Allah menjadikan bumi sarana untuk mendapatkan rizki. Maka, Alangkah bodohnya jika manusia merusaknya, padahal bumi adalah sumber kebutuhan hidupnya. Karena itu, manusia harus menjaga dan memelihara kelestariannya agar dapat dinikmati sampai ke anak cucu nanti.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullLOH,

Dalam Islam memakmurkan bumi itu tidak sekedar membuat penduduk bumi makmur secara ekonomi, tetapi manusia hidup dalam keteraturan dan ketertiban, baik menyangkut buminya, maupun penghuninya. Baik yang di darat maupun yang di laut.

Dalam pandangan Islam menjaga dan melestarikan bumi, bercocok tanam, khususnya penghijauan ladang dan hutan (Reboisasi) sangatlah dianjurkan, bahkan hal tersebut merupakan catatan ibadah tersendiri bagi yang menanamnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam:

Beliau menganjurkan umatnya agar menanam pohon walaupun di hari terjadinya kiamat, yakni kiamat bagi dirinya (yaitu kematian) atau kiamat secara umum (kiamat alam semesta). Bahkan bagi siapa yang menanamnya, Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda dan terus bertambah.

عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَاسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا، فَلَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ».

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Kendatipun hari kiamat terjadi, sementara di tangan salah satu di antara kamu masih ada bibit pohon korma, lalu ia memiliki kemampuan untuk menanamnya sebelum hari kiamat terjadi, maka hendaklah ia menanamnya, karena dengan demikian ia mendapatkan pahala”.

عن أنس قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من مسلم يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim yang menanam dan menabur benih, lalu ada sebagian yang dimakan oleh burung atau manusia, ataupun oleh binatang, niscaya semua itu akan menjadi sedekah baginya”.(Silsilah ash-Shahihah no. 7).

Dalam riwayat lain dari Jabir secara marfu’:
“Seorang muslim yang menanam suatu tanaman, niscaya apa yang termakan akan menjadi sedekah, apa yang tercuri akan menjadi sedekah, apa yang termakan oleh burung akan menjadi sedekah, dan apa pun yang diambil oleh seseorang dari tanaman akan menjadi sedekah pula bagi (pemilik)nya (sampai hari kiamat datang)”. (Silsilah ash-Shahihah No. 8).

Ini menunjukkan betapa tingginya nilai reboisasi dalam Islam, sebagai wujud iman, tanggung jawab, dan harapan.

Semoga kita semua senantiasa dikaruniai Allah kesadaran diri, sehingga mampu menjaga amanah yang dibebankan pada kita, selalu menjaga kelestarian lingkungan, pada akhirnya keberkahan yang kita peroleh. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.



الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ مالِكِ الْمُلْكِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ نَبِيٍّ وَخَيْرُ نَذِيرٍ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ، نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ قَوْلُهُ: إِنَّ الْكَيِّسَ الْفَطِنَ الذَّكِيَّ: مَنْ لَا تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا انْكِسَارًا وَذُلًّا وَتَوَاضُعًا وَخُضُوعًا لِلْمُنْعِمِ، وَكُلَّمَا جدّدَ لَهُ نِعْمَة أَحْدَثَ لَهَا عُبُودِيَّةً وَخُضُوعًا. فَكُونُوا يَا عِبَادَ اللَّهِ مِمَّنْ لا تَزِيدُ النِّعَمُ إِلَّا طَاعَةَ اللَّهِ، وَإِقْبَالًا عَلَيْهِ، وَتَوَجُّهًا إِلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا مِمَّنْ أَبْطَرَتْهُ النِّعْمَةُ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ.

وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأَمِينِ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِذٰلِكَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ وَحَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ الْبَشِيرِ النَّذِيرِ وَالسِّرَاجِ الْمُنِيرِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ ، سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَن سَائِرِ صَحَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، يَا غَافِرَ الذُّنُوبِ وَالْخَطِيئَاتِ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ عَلَى نِعَمِهِ وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Syawal, Menjaga Nyala Ketaatan


Syawal, Menjaga Nyala Ketaatan

Oleh: M. Zajery elnuri


ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَعَ لَنَا مَوَاسِمَ ٱلْخَيْرَاتِ، وَجَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مَيْدَانًا لِلتَّزْكِيَةِ وَٱلطَّاعَاتِ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِشَهْرِ شَوَّالٍ لِيَكُونَ مَيْدَانًا لِلثَّبَاتِ بَعْدَ ٱلْمُجَاهَدَةِ، وَٱلِٱسْتِقَامَةِ بَعْدَ ٱلتَّرْبِيَةِ، وَٱلْوَفَاءِ بِٱلْعَهْدِ بَعْدَ تَمَامِ ٱلْعِبَادَةِ.


نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.


أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَىٰ نَهْجِهِ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ.


أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ ٱللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَإِنَّهَا خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ ٱلْمَعَادِ.


قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,


 Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah mensyariatkan bagi kita musim-musim kebaikan.

 

 Dia menjadikan bulan Ramadhan sebagai madrasah penyucian jiwa, ladang ketaatan, dan medan perjuangan melawan hawa nafsu.


  Kemudian Dia iringi Ramadhan dengan bulan Syawal, agar menjadi medan keteguhan setelah perjuangan, istiqamah setelah pembinaan, dan bukti kesetiaan seorang hamba kepada Rabb-nya setelah selesainya musim ibadah.


 Maka marilah kita bersama - sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ.

Karena sesungguhnya takwa adalah sebaik - baik bekal untuk menghadapi hari kembali kepada-Nya.


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,


 Kita telah meninggalkan satu bulan yang agung. Bulan yang penuh dengan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.


Bulan yang di dalamnya hati-hati dilembutkan, jiwa-jiwa dididik, lisan-lisan dibiasakan berdzikir, mata-mata dibiasakan menangis karena takut kepada Allah. Lisan-lisan dibasahi dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan langkah-langkah diringankan untuk menuju ke masjid, menuju pada kebaikan dan bertaubat.

Bulan itu adalah Ramadhan.


 Namun, hadirin sekalian… selesainya Ramadhan bukan berarti selesainya penghambaan kita kepada Allah SWT.


 Perginya Ramadhan bukanlah berarti berakhirnya ketaatan kita kepada Allah SWT.


  Datangnya Syawal bukan sekadar penanda berakhirnya puasa dan kebaikan lain. Namun, melainkan awal ujian yang sesungguhnya.


 Syawal bukanlah sekadar penutup Ramadhan, tetapi ia adalah awal perjalanan hati yang telah dibersihkan.


  • Apakah hati yang telah dibersihkan di bulan Ramadhan akan tetap dijaga?

  • Apakah jiwa yang telah dididik akan tetap istiqamah?

  • Apakah cahaya yang telah menyala akan terus dipelihara?

  • Ataukah semua itu kembali redup… padam… lalu tenggelam dalam kelalaian dunia?


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,


 Ketahuilah, nilai sejati Ramadhan bukan hanya pada bagaimana kita menjalaninya,

tetapi pada bagaimana kita menjaga buah didikannya, setelah Ramadhan berlalu.


 Jika Ramadhan telah mendidik jiwa kita, menundukkan hawa nafsu kita, melembutkan hati kita, dan membiasakan diri kita dalam ketaatan. Maka Syawal adalah bukti yang nyata:

  • Apakah kita tetap menjaga cahaya hati itu, atau justru ia kembali redup oleh gemerlap dunia?

  • Apakah hati yang telah dibersihkan itu tetap hidup dengan dzikir dan ketaatan, atau kembali tertutup oleh lalai dan maksiat?

  • Apakah langkah yang kemarin — selama Ramadhan — ringan menuju masjid, masih tetap ringan menuju kebaikan?, ataukah kembali berat karena dominasi syahwat dan kebiasaan lama?


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,


   Syawal adalah cermin yang menampakkan:

siapa yang benar-benar mengambil manfaat dari Ramadhan, dan siapa yang hanya beribadah karena suasana saja.


  Betapa banyak orang yang rajin ketika musim kebaikan datang, namun ketika musim itu berlalu, ia pun kembali kepada kebiasaan lama.


  • Shalat berjamaah yang dahulu terjaga, menjadi longgar.

  • Tilawah yang dahulu rutin, menjadi jarang.

  • Qiyamul-lail yang dahulu hidup, menjadi sunyi.

  • Lisan yang dahulu sibuk dengan dzikir, kembali sibuk dengan perkara sia-sia.


Padahal, hadirin sekalian, “Rabb Ramadhan adalah Rabb Syawal, Rabb yang kita sembah di malam-malam Lailatul Qadr kemarin, adalah Rabb yang sama yang kita sembah hari ini, saat ini. 


Dia tidak berubah. 


  Maka tidak pantas penghambaan kita berubah hanya karena musim telah berganti. Tidak sepantasnya Masjid menjadi sepi hanya karena bulan telah berganti.


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

  

 Mari di bulan Syawal ini, kita kembali memperbarui ketakwaan kita kepada Allah ﷻ.


Sesungguhnya orang yang benar-benar mendapatkan manfaat dari Ramadhan, adalah mereka yang istiqamah setelah berlalunya Ramadhan.


 Karena sesungguhnya “orang yang beruntung bukanlah orang yang hanya sempat merasakan manisnya ibadah di bulan Ramadhan” , tetapi orang yang mampu menjaga manisnya ketaatan setelah berlalunya Ramadhan.


 Bukan mereka yang rajin beribadah hanya karena musim, tetapi mereka yang tetap teguh, Istiqomah dalam ketaatan karena Allah.


  • Jika Ramadhan adalah madrasah, - maka Syawal adalah lembar ujian.

  • Jika Ramadhan adalah masa pembinaan - maka Syawal adalah masa pembuktian.

  • Dan jika Ramadhan telah menyalakan cahaya di dalam hati, - maka Syawal adalah saat untuk memastikan bahwa cahaya itu tidak padam oleh kelalaian.


Sebagaimana nasihat yang masyhur:


لَا تَكُنْ عَبْدَ رَمَضَانَ، وَلَكِنْ كُنْ عَبْدَ اللَّهِ، وَاسْتَمِرَّ عَلَى الطَّاعَةِ بَعْدَهُ. فيما بدأتَ فيه 


“Janganlah engkau menjadi hamba Ramadhan, tetapi jadilah hamba Allah, dan teruslah istiqamah di atas ketaatan setelahnya.”


  Karena itu, di bulan Syawal yang mulia ini, marilah kita bermuhasabah:


  • Apakah shalat kita tetap terjaga?

  • Apakah tilawah kita masih berlanjut?

  • Apakah lisan kita masih indah dengan doa dan dzikir?

  • Apakah hati kita masih lembut terhadap sesama?

  • Apakah semangat kita untuk taat masih menyala?


Semoga di bulan Syawal ini:


  • Hati kita tetap ikhlas dalam taat,

  • Lisan kita tetap indah dalam doa,

  • Langkah kita tetap ringan dalam kebaikan,

  • Dan cinta kita kepada Allah SWT terus tumbuh dari hari ke hari.


Jangan biarkan cahaya yang telah Allah nyalakan di dalam hati kita menjadi padam hanya karena kita kembali tenggelam dalam kelalaian. Karena sesungguhnya:

وَمِنْ عَلَامَاتِ قَبُولِ الْحَسَنَةِ: الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا

“Di antara tanda diterimanya satu kebaikan adalah adanya kebaikan setelahnya.”


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,


 Syawal mengajarkan kita bahwa hidup ini tidak diukur dari “Ledakan semangat sesaat” , tetapi dari keteguhan langkah yang terus berjalan, Istiqomah dan kontinyu.


  • Mungkin kita tidak mampu melakukan semua amalan Ramadhan secara utuh.

  • Mungkin kita tidak lagi mampu qiyam sepanjang malam.

  • Mungkin kita tidak mampu membaca Al-Qur’an sebanyak dulu.


Namun ketahuilah, yang Allah cintai bukan sekadar banyaknya amal,

tetapi amal yang terus hidup, walaupun sedikit.

Nabi ﷺ bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, walaupun sedikit.”


Maka setelah berlalunya Ramadhan, janganlah pernah meremehkan:


  • satu lembar Al-Qur’an setiap hari,

  • dua rakaat di sepertiga malam,

  • sedekah kecil namun rutin,

  • istighfar yang terus diulang,

  • langkah menuju masjid yang terus dipertahankan.


 Boleh jadi amalan yang sedikit namun terus dijaga, itu lebih berat timbangannya daripada amalan besar yang hanya sesaat.


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,


 Sebagai penutup khutbah pertama ini, marilah kita renungkan:

إِنَّ شَوَّالًا مَوْسِمٌ لِصِدْقِ الْعُبُودِيَّةِ، لَا لِفُتُورِ الْهِمَمِ، وَمَيْدَانٌ لِدَوَامِ الطَّاعَةِ، لَا لِلرُّجُوعِ إِلَى الْغَفْلَةِ. فَمَنْ كَانَ قَدْ أَحْسَنَ فِي رَمَضَانَ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَلْيَثْبُتْ، وَمَنْ كَانَ قَدْ قَصَّرَ، فَبَابُ التَّوْبَةِ مَفْتُوحٌ.

  “Sesungguhnya bulan Syawal adalah musim untuk membuktikan ketulusan penghambaan, bukan masa melemahnya semangat. Ia adalah medan untuk terus menjaga ketaatan, bukan untuk kembali tenggelam dalam kelalaian. Maka barang siapa telah berbuat baik di bulan Ramadhan, hendaklah ia memuji Allah dan terus istiqamah. Dan barang siapa masih memiliki kekurangan, maka pintu taubat tetap terbuka.”

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ مالِكَ الْمُلْكِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ بَشِيرٍْ وَخَيْرُ نَذِيرٍ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ، نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ قَوْلُهُ: إِنَّ الْكَيِّسَ الْفَطِنَ الذَّكِيَّ: مَنْ لَا تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا انْكِسَارًا وَذُلًّا وَتَوَاضُعًا وَمَحَبَّةً لِلْمُنْعِمِ ، وَكُلَّمَا جَدَّدَ لَهُ نِعْمَة أَحْدَثَ لَهَا عُبُودِيَّةً وَخُضُوعًا. فَكُونُوا يَا عِبَادَ اللَّهِ مِمَّنْ لا تَزيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا طَاعَةَ اللَّهِ، وَإِقْبَالًا عَلَيْهِ، وَتَوَجُّهًا إِلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا مِمَّنْ أَبْطَرَتْهُ النِّعْمَةُ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، يَا غَافِرَ الذُّنُوبِ وَالْخَطِيئَاتِ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَدُعَاءَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُوْمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَعْبُدُوْنَكَ فِيْ مَوَاسِمَ، ثُمَّ يَفْتُرُوْنَ عَنْ طَاعَتِكَ بَعْدَهَا.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ، الَّذِيْنَ إِذَا أَحْسَنُوا اسْتَبْشَرُوا، وَإِذَا أَذْنَبُوا اسْتَغْفَرُوا، وَإِذَا ابْتُلُوا صَبَرُوا، وَإِذَا أُعْطُوا شَكَرُوا.

اَللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا فِيْ شَوَّالٍ نُوْرًا مِنَ الطَّاعَةِ لَا يَنْطَفِئُ، وَقَلْبًا لَا يَرْجِعُ إِلَى الْغَفْلَةِ، وَرُوْحًا تَسْتَمِرُّ فِيْ طَرِيْقِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ عَلَى نِعَمِهِ وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.


   
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.


فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.


Selasa, 14 April 2026

Dari Masjid , Umat Bangkit

Dari Masjid , Umat Bangkit”


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمَسَاجِدَ بُيُوتًا لِلطَّاعَةِ، وَمَنَازِلَ لِلْعِبَادَةِ، وَمَجَالِسَ لِلْعِلْمِ وَالذِّكْرِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المسلمون ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

إِنَّمَا یَعْمُرُ مَسَـاجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْیَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ یَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ، فَعَسَىٰۤ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ أَن یَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِینَ 


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

   Mari kita meningkatkan Iman, amal dengan terus melakukan introsfeksi, sebagai sarana menjaga ketaqwaan kita kepada Allah SWT.; menghisab diri sendiri sebelum dihisab di hadapan Alloh, apakah selama ini perbuatan kita sudah sejalan dengan tatanan agama, apakah selama ini perbuatan kita sudah sesuai dengan tuntunan Nabi mulia, atau justru jauh dari ajaran agama, jauh dari syari’ah yang dibawa Nabi mulia, agama hanya di bibir saja, agama hanya sebatas KTP semata.

   Mari kita semakin meningkatkan keyakinan kita, untuk membulatkan tekat berpegang teguh hanya semata pada ajaran agama Allah. Jadikan ajaran Islam satu-satuNya pedoman hidup kita, niscaya ketenangan akan menyelimuti kehidupan kita.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH, 

  Mari sejenak kita mentadabburi firman Allah dalam surat At-taubah ayat 18 :

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰاجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّاا للّٰهَ ، فَعَسٰۤى اُولٰٓئِكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

  "Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah, hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Semoga mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Taubah 9: Ayat 18)

  Kata “Ya‘mur” dalam bahasa Arab mencakup dua makna:

  1. ‘Imarah hissiyyah (fisik): membangun, menjaga kebersihan, memperindah, merawat bangunan masjid.

  2. ‘Imarah ma‘nawiyyah (spiritual): bisa dengan dzikir, shalat berjamaah, majelis ilmu, dan amal saleh² lain.

Dalam ayat di atas Allah menegaskan: orang yang memakmurkan masjid hanyalah mereka yang beriman kepada-Nya dan percaya kehidupan akhirat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya takut kepada Allah.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

Dari ayat di atas kita bisa mendapat pelajaran, ada tahapan dalam memakmurkan Masjid

 Yang pertama: ʿImārah Qalbiyyah (Pemakmuran Hati) artinya menumbuhkan rasa cinta , ketertarikan pada masjid dan keterikatan hati dengan masjid, atau dalam ayat diatas dengan sebutan iman. Seseorang tidak akan pernah mencintai sesuatu, kecuali tertanam dalam hatinya keimanan, rasa suka kepada sesuatu tersebut.

   Artinya sebelum tangan dan kaki melangkah memakmurkan masjid, hati terlebih dulu harus mencintai dan rindu padanya; Rindu datang ke masjid. Merasa gelisah dan ada yang terlewatkan jika tak sempat berjama’ah di masjid. Menyisihkan waktu dan harta untuk kepentingan masjid.

   Dan orang yang mempunyai hati seperti inilah yang kata Rasulullah, besok di hari kiamat akan mendapatkan naungan Allah SWT.

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ... وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ»

  "Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya… salah satunya adalah seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.”

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

 Tahap kedua:ʿImārah ʿIbādiyyah ( Pemak muran Ibadah ) menghidupkan masjid dengan ibadah; Seperti shalat 5 waktu, dzikir, membaca Al-Qur’an, i’tikaf, dan ibadah - ibadah lainnya. Khususunya adalah shalat berjamaah di masjid “Masjid tanpa shalat berjamaah, ibarat jasad tanpa ruh.”

لا صلاةَ لجارٍ المسجد إلا في المسجد

  “Tidak sempurna shalatnya tetangga masjid kecuali di masjid”

 Hadits ini ada yang mengatakan dhoif kedudukannya, tapi pesan yang terkandung di dalamnya, tidak bertentangan dengan kandungan hadits shahih yang ada. Sama² menilai betapa pentingnya shalat berjamaah.

   Dalam sebuah hadits shahih dikatakan:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ … إِلْخِ. الحديث رواه البخاري

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku hampir saja memerintahkan seseorang untuk mengambil kayu bakar sehingga ia mengambilnya, kemudian aku memerintahkan agar dikumandangkan adzan untuk shalat, lalu aku memerintahkan seseorang untuk memimpin (imam) shalat bagi manusia, kemudian aku berpaling kepada beberapa orang dan membakar rumah-rumah mereka (karena meninggalkan shalat berjamaah)...... (HR al-Bukhari).”

   Bahkan di dalam QS. An-nisa ayat 102, Allah tetap memerintahkan Rasul-Nya. shalat berjamaah, sekalipun dalam keadaan tidak aman, yaitu saat berperang melawan musuh. 

  Pertanyaannya untuk saat ini, adalah, apakah saat ini keadaan umat muslim lebih genting dari pada masa Rasulullah, atau-kah kita lebih mulia dari Rasulullah Saw..?? hingga sampai banyak masjid yang kosong.

“Jika saat ini ada laki-laki yang enggan shalat berjamaah di masjid, sungguh dia shalat pakai mukena, itu jauh lebih layak baginya.” karena tidak ada bedanya dengan prempuan.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

 Tahap ketiga: ʿImārah Ijtimāʿiyyah (Pemakmuran Sosial) yaitu dengan menjadikan masjid pusat solidaritas sosial dan kemanusiaan, tempat bersatunya hati dan berbagi ; Seperti menyantuni fakir miskin, menggalang infak, zakat, dan sedekah untuk umat, menjadi tempat silaturahmi antar jama’ah.

  Hadirin… masjid yang makmur adalah masjid yang melahirkan perubahan positif di tengah masyarakat sekitarnya.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

 Yang keempat : ʿImārah ʿIlmiyyah (Pemakmuran Ilmu) yaitu menjadikan masjid sebagai pusat dakwah dan pembinaan umat, bukan hanya tempat sujud saja, tetapi lebih dari itu, masjid juga menjadi tempat pendidikan, tempat musyawarah, tempat sosial, dan pusat pembinaan umat.

   Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْبِلادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا

  “Tempat yang paling dicintai Allah di muka bumi adalah masjid-masjidnya.” (HR. Muslim)

   Artinya, dari tempat yang dicintai Allah inilah seharusnya lahir kebaikan dan kemajuan. Masjid bukan sekadar bangunan megah dengan menara tinggi, tetapi tempat yang menumbuhkan keimanan, ukhuwah, dan semangat beramal.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

 Masjid pada masa Rasulullah adalah madrasah pertama bagi umat Islam, dan dari situ Rasulullah ﷺ mengajar para sahabat; mengajarkan akidah, Al-Qur’an, fiqih, dan akhlak.

قال رسول الله ﷺ: «وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ» (رواه مسلم)

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca kitab Allah dan mempelajarinya bersama, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut (membanggakan) mereka di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

   Maka, hendaknya masjid tidak hanya ramai oleh shalat, tapi juga oleh majelis ilmu. Karena dari ilmu, lahir iman yang benar dan amal yang lurus. Dan akhirnya dari masjid lahirlah ulama, pemimpin, dan pejuang umat. Masjid menjadi pusat nilai moral, keadilan, dan kemajuan.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

  Masjid adalah rumah Allah, Allah adalah kekasih setiap hamba, setiap hamba pasti merindukan pertemuan dengan-Nya kecuali orang² yang tak beriman dan yang imamnya lemah. Maka jaga dan rawatlah rumah Allah, harumilah rumah Allah dengan berdzikir, shalat berjamaah dan amalan-amalan shaleh lainnya. Apa bukti kita dihadapan Allah nanti, jika hanya sekedar meramaikan rumah-Nya saja kita enggan..???

   Masjid adalah jantung kehidupan umat Islam. Sejarah telah mencatat, bahwa kebangkitan umat Islam selalu berawal dari masjid. Dari masjidlah Rasulullah ﷺ membangun peradaban Islam yang agung.

  Ketika beliau hijrah ke Madinah, yang pertama kali beliau lakukan bukan membangun istana, bukan pasar, tetapi membangun masjid; Masjid Nabawi.

   Dari masjid itulah lahir generasi sahabat yang kokoh imannya, lurus akhlaknya, dan besar pengorbanannya. Dari masjid itu juga lahir keputusan² besar , dakwah menyebar, umat Islam bangkit menaklukkan hati manusia dengan cahaya Islam, dan Islam tumbuh menjadi peradaban besar yang menerangi dunia.

   Oleh karenanya , mari kita hidupkan kembali semangat memakmurkan masjid, bukan sekadar berdinding megah, berkarpet indah , tapi berjiwa taqwa, dan pemurah. Setiap langkah menuju masjid adalah tanda bahwa kita termasuk yang disebut Allah dalam ayat di atas - yaitu hamba-hamba yang sebenarnya beriman dan mendapat petunjuk.

   Yang terakhir , saya ulangi kembali, mari kita jadikan masjid bukan sekadar bangunan indah, tetapi tempat bersujud, tempat perjuangan dan pembentukan karakter umat; Bawalah keluarga kita ke masjid, didik anak-anak kita mencintai masjid, bersedekahlah untuk kegiatan masjid, dan jadikan masjid pusat persaudaraan dan pusat penyebaran ilmu.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.



الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ مالِكَ الْمُلْكِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ نَبِيٍّ وَخَيْرُ نَذِيرٍ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ ، نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ قَوْلُهُ: إِنَّ الْكَيِّسَ الْفَطِنَ الذَّكِيَّ: مَنْ لَا تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا انْكِسَارًا وَذُلًّا وَتَوَاضُعًا وَمَحَبَّةً لِلْمُنْعِمِ، وَكُلَّمَا جَدَّد لَهُ نِعْمَة أَحْدَثَ لَهَا عُبُودِيَّةً وَخُضُوعًا. فَكُونُوا يَا عِبَادَ اللَّهِ مِمَّنْ لا تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا طَاعَةً للَّهِ، وَإِقْبَالًا عَلَيْهِ، وَتَوَجُّهًا إِلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا مِمَّنْ أَبْطَرَتْهُ النِّعْمَةُ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ.

وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأَمِينِ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِذٰلِكَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا).

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ ، سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَن سَائِرِ صَحَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، يَا غَافِرَ الذُّنُوبِ وَالْخَطِيئَاتِ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ عَلَى نِعَمِهِ وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.


Ramadhan dan Revolusi Akhlak


 "Ramadhan dan Revolusi akhlak"


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْنَا صِيَامَ رَمَضَانَ، لِنَتَّقِيَ بِهِ الرَّحْمٰنَ، وَنُزَكِّيَ بِهِ النُّفُوسَ وَالْإِيْمَانَ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، 

فَيَا أَيُّهَا المسلمون ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ،إِعلَمُوا إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ لَيْسَ مُجَرَّدَ شَهْرِ الْجُوعِ وَالْعَطَشِ، وَلَا مُجَرَّدَ تَغْيِيرِ مَوَاعِيدِ الطَّعَامِ وَالنَّوْمِ، بَلْ هُوَ مَدْرَسَةٌ إِيمَانِيَّةٌ كُبْرَى، وَمَعْمَلٌ لِتَهْذِيبِ النُّفُوسِ، وَمِيدَانٌ لِثَوْرَةٍ أَخْلَاقِيَّةٍ شَامِلَةٍ.

قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

وقال تعالى أيضا: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

  Alhamdulillah, semata karena Taufik Allah, kita dapat menjalankan ibadah puasa,  sekaligus menunaikan ibadah shalat Jum'ah

 Marilah kita sama - sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. Dia-lah dzat yang telah mewajibkan puasa untuk membersihkan jiwa kita dan memperbaiki akhlak, serta menjadikan tujuan akhirnya adalah ketakwaan, karena hanya dengan takwa segala sesuatunya akan terwujud.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

   Segala puji bagi Allah yang telah mewajibkan kepada kita puasa Ramadhan, agar dengan puasa itu kita bertakwa kepada-Nya, serta menyucikan jiwa dan keimanan kita.

 Ketakwaan adalah tujuan utama dalam pelaksanaan puasa Ramadhan. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar ada ketakwaan dalam diri kalian.” (QS. Al-Baqarah: 183)

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

  Dari ayat di atas bisa kita pahami, puasa Ramadhan yang kita jalani saat ini ada kebutuhan rohani kita, puasa Ramadhan disyariatkan adalah untuk terwujudnya ketakwaan dalam setiap individu kaum muslimin.

 Ramadhan hadir bukan sekadar untuk menahan lapar dan dahaga. Ramadhan datang membawa misi besar: membangun manusia yang bertakwa dan berakhlak mulia.

 Ramadhan Adalah Momentum Revolusi ; Revolusi berarti perubahan besar. Perubahan total. Ramadhan bukan hanya perubahan jadwal makan, bukan pula hanya perubahan jam tidur, akan tetapi Ramadhan adalah perubahan hati, perubahan sikap, perubahan karakter.

 Puasa Ramadhan adalah madrasah besar pembinaan akhlak. Ia adalah momentum revolusi ruhani, perubahan total dalam diri seorang mukmin;

  • Jika sebelum Ramadhan kita mudah marah — maka Ramadhan harus menjadikan kita sabar.

  • Jika sebelumnya lisan kita tajam — maka Ramadhan harus melembutkannya.

  • Jika sebelumnya kita lalai — maka Ramadhan harus membangunkan kita.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

 Jadi sudah jelas, tujuan disyariatkannya kewajiban puasa Ramadhan adalah agar terlahir Takwa dan Akhlak mulia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

  “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. (yakni puasanya tidak bernilai di sisi Allah).” (HR. Sahih al-Bukhari)

  Artinya apa, Hadis ini menegaskan: esensi puasa adalah perubahan akhlak (revolusi akhlak) , bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan lisan dari dusta, menahan hati dari dengki, dan menahan tangan dari kedhaliman.

  Jika revolusi dunia mengubah sistem dan kekuasaan, maka Ramadhan datang untuk mengubah hati, memperbaiki perilaku, dan membentuk manusia baru dengan akhlak mulia. Ramadhan membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu, menanamkan kejujuran, kesabaran, keikhlasan, serta kasih sayang.

  Inilah makna sejati Ramadhan, revolusi dalam diri, perubahan dalam akhlak, dan kebangkitan iman yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

  • Dari dusta menjadi jujur

  • Dari amarah menjadi sabar

  • Dari bakhil menjadi dermawan

  • Dari lalai menjadi taat

  Rasulullah ﷺ adalah teladan Revolusi Akhlak, Nabi kita Muhammad ﷺ adalah contoh nyata akhlak yang agung. Allah ﷻ berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ .

“Sungguh engkau Muhammad benar-benar berakhlak yang agung”

  Dalam sebuah hadits sahih disebutkan; bahwa akhlak beliau Rasulullah adalah Al-Qur’an (HR. Sahih Muslim). 

  Bahkan dalam hal kedermawanan, di bulan Ramadhan beliau semakin dermawan:

كَانَ رَسُولُ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ .... الحديث

  “Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan dalam kebaikan. Dan beliau paling dermawan lagi pada bulan Ramadhan......”  (HR. Muslim)

Artinya, Ramadhan telah meningkatkan kualitas akhlak beliau yang sudah mulia.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

     Ramadhan adalah pengendali Nafsu, puasa adalah latihan pengendalian diri. Nabi ﷺ bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

   “ Puasa adalah perisai ”. Perisai dari apa? Dari hawa nafsu, dari maksiat, dari api neraka.

   Maka revolusi akhlak di bulan Ramadhan ini, dimulai dari kemenangan atas diri sendiri.

   Jika setelah Ramadhan:

  • Shalat tetap terjaga

  • Lisan tetap santun

  • Hati tetap bersih

  • Sedekah tetap berjalan

Maka itulah tanda Ramadhan berhasil merevolusi akhlak kita. Maka bersyukurlah siapa saja yang telah berhasil terbina di madrasah Ramadhan.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

 Misi “revolusi akhlak” lewat madrasah Ramadhan, bukan hanya perubahan pribadi, tetapi perubahan sosial.

Bayangkan jika:

  • Pedagang jujur , tanpa tipu-tipu 

  • Pemimpin sebuah negeri, amanah, bersih dari KKN 

  • Suami lembut , penuh kasih sayang.

  • Istri taat terhadap pasangannya.

  • Anak berbakti pada kedua orang tuanya.

  • Tetangga saling peduli pada sesama.

 Maka lahirlah dalam negeri tersebut , istilah “بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ , Gemah Ripah Loh Jinawi”. yaitu Negara ideal: makmur lahir dan batin, sejahtera penduduknya di dunia dan akhirat. Dan semua itu , kuncinya ada pada ketawaan setiap individu.

❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

 Dunia tidak akan berubah, jika kita tidak berubah.

 Keluarga tidak akan harmonis, jika kita tidak memperbaiki akhlak kita.

 Masyarakat tidak akan damai, jika hati kita masih penuh kebencian.

 Oleh karenanya, Mari… jangan jadikan Ramadhan tahun ini hanya sebagai ritual tahunan, tanpa perubahan karakter pada diri pribadi kita masing-masing.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ ٱللّٰهَ ٱلْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ ٱلْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَٱسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ



الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ مالِكَ الْمُلْكِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ بَشِيرٍْ وَخَيْرُ نَذِيرٍ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ قَوْلُهُ: إِنَّ الْكَيِّسَ الْفَطِنَ الذَّكِيَّ: مَنْ لَا تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا انْكِسَارًا وَذُلًّا وَتَوَاضُعًا وَخُضُوعًا لِلْمُنْعِمِ، وَكُلَّمَا جَدَّدَ لَهُ نِعْمَة أَحْدَثَ لَهَا عُبُودِيَّةً وَخُضُوعًا. فَكُونُوا يَا عِبَادَ اللَّهِ مِمَّنْ لا تَزيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا طَاعَةَ اللَّهِ، وَإِقْبَالًا عَلَيْهِ، وَتَوَجُّهًا إِلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا مِمَّنْ أَبْطَرَتْهُ النِّعْمَةُ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ.

وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأَمِينِ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِذٰلِكَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ وَحَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ الْبَشِيرِ النَّذِيرِ وَالسِّرَاجِ الْمُنِيرِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ ، سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَن سَائِرِ صَحَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، يَا غَافِرَ الذُّنُوبِ وَالْخَطِيئَاتِ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

اللَّهُمَّ سَلِّمْنَا لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لَنَا وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلًا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هَذَا الشَّهْرِ الشَّرِيفَة الْمُبَارَكَة مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُولِينْ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُودِينْ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ رَمَضَانَ هٰذَا نُقْطَةَ تَحَوُّلٍ فِي حَيَاتِنَا وَحَيَاةِ أُمَّتِنَا

Ya Allah, jadikan Ramadhan ini sebagai titik balik kehidupan kami, bangsa kami.

اللَّهُمَّ أَحْدِثْ فِي أَخْلَاقِنَا ثَوْرَةً تُحَوِّلُهَا إِلَى أَخْلَاقٍ تَرْضَاهَا عَنَّا.

Ya Allah, revolusikan akhlak kami menjadi akhlak yang Engkau ridhai.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ عَلَى نِعَمِهِ وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Do'a Walimatul Haml


تُنصَحُ الْمَرْأَةُ الْحَامِلُ بِالإِكْثَارِ مِنْ قِرَاءَةِ القُرْآنِ الكَرِيمِ، لِأَنَّ تَأْثِيرَهُ الرُّوحِيَّ قَوِيٌّ جِدًّا عَلَى الْجَنِينِ. وَمِنَ السُّوَرِ الَّتِي يُسْتَحَبُّ قِرَاءَتُهَا لِلْمَرْأَةِ الْحَامِلِ:

  • سُورَةُ مَرْيَمَ (١٩): لِلتَّطْمِينِ وَتَيْسِيرِ الْوِلَادَةِ.

  • سُورَةُ يُوسُفَ (١٢): لِيَكُونَ الْوَلَدُ حَسَنَ الْخُلُقِ وَالْوَجْهِ.

  • سُورَةُ لُقْمَانَ (٣١): لِيَكُونَ الْوَلَدُ حَكِيمًا وَبَارًّا بِوَالِدَيْهِ.

  • سُورَةُ الشَّرْحِ (أَلَمْ نَشْرَحْ): لِلسَّكِينَةِ وَرَاحَةِ الْقَلْبِ.

  • سُورَةُ الفَاتِحَةِ وَسُورَةُ الإِخْلَاصِ وَسُورَةُ الفَلَقِ وَسُورَةُ النَّاسِ : لِلحِفَاظِ وَالحِمَايَةِ مِنَ الْوَسَاوِسِ وَالأَذَى وَكُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ.

Ibu hamil dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an karena pengaruh spiritualnya sangat kuat pada janin. Surah yang sering dibaca:

  • Surah Maryam (19) → untuk ketenangan dan kemudahan melahirkan.

  • Surah Yusuf (12) → agar anak berakhlak dan berwajah indah.

  • Surah Luqman (31) → agar anak menjadi bijak dan berbakti.

  • Surah Al-Insyirah → untuk kelapangan hati dan ketenangan jiwa..

  • Surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas → perlindungan dari gangguan.


Pertama tawasul dengan surat Alfatihah.

الفَاتِحَةْ بِنِيَّةِ الْقَبُوْل وَتَمَامِ كُلِّ سُوْلٍ وَمَأْمُوْل وَصَلاَحِ الشَّأْنِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فِى الدِّينْ وَالدُّنْيَا وَاْلأخِرَةْ دَافِعَةً لِكُلِّ شَرٍّ جَالِبَةً لِكُلِّ خَيْرٍ لَنَا وَلِوَالدِيْنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَحْبَابِنَا وَمَشَايِخِنَا فِى الدِّيْن مَعَ اللُّطْفِ وَالْعَافِيَةْ ، وَعَلىَ نِيَّةِ أَنَّ اللَّهَ أَنْ يَقْضِيَ حَاجَتَهَا…. وَيُتِمَّ حَمْلَهَا عَلَى خَيْرٍ، وَيَرْزُقَهَا وَلَدًا صَالِحًا سَلِيمًا مُبَارَكًا فِيهِ ، وَعَلىَ نِيَّةِ أَنَّ اللهَ يُنَوِّرُ قُلُوْبَنَا وَقَوَالِبـَنَا مَعَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافْ وَالْغِنَى وَالْمَوْتِ عَلَى دِيْنِ اْلإِسْلاَمِ وَاْلإِيْمَانْ بِلاَ مِحْنَةٍ وَلاَ امْتِحَانْ بِحَقِّ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانْ وَلِكُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ وَإِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى صَلَّي الله عَلَيْهِ وَسَلَّم بِسِرِّ الْفَاتِحَةْ...



الدعاء

أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ وَبِاللّٰهِ وَمِنَ اللّٰهِ وَإِلَى اللّٰهِ، وَلَا غَالِبَ إِلَّا اللّٰهُ، وَلَا مَفْقُوْدَ إِلَّا مِنَ اللّٰهِ، وَهُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ، نُعِيْذُ هٰذَا الْحَمْلَ الْبَالِغَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ بِاللّٰهِ اللَّطِيْفِ الْخَبِيْرِ ، الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ، هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ، وَنُعِيْذُهُ بِكَلِمَاتِ اللّٰهِ التَّامَّاتِ ، وَأَسْمَائِهِ الْمُبَارَكَةِ ، وَآيَاتِهِ الْكَرِيْمَةِ ، وَحُرُوْفِهَا الْمُنَارَكَةِ ، مِنْ شَرِّ الإنْسِ وَالجَانِّ وَمِن مَكْرِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالأَوَانِ ، وَمِنْ جَمِيعِ الفِتَنِ وَالبَلَايَا وَالعِصْيَانِ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي العُقَدِ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْهُ وَلَدًا صَالِحًا كَامِلًا عَاقِلًا عَلِيْمًا نَافِعًا مُبَارَكًا حَلِيْمًا، اللّٰهُمَّ زَيِّنْهُ بِزِينَةِ الأَخْلَاقِ الكَرِيْمَةِ ، وَالصُّوْرَةِ الجَمِيْلَةِ ، ذِي الهَيْبَةِ وَالهَيْئَةِ المَلِيْحَةِ ، وَالرُّوْحِ عَلَى الفِطْرَةِ الجَمِيْلَةِ ، اللّٰهُمَّ اكْتُبْهُ فِي زُمْرَةِ العُلَمَاءِ الصَّالِحِيْنَ وَحَمَلَةِ القُرْآنِ العَامِلِيْنَ ، وَارْزُقْهُ عَمَلًا قَرِيْبًا إِلَى الجَنَّةِ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ ، وَاجْعَلْهُ مِنْ أَكْرَمِ الأَكْرَمِيْنَ وَمِنْ خَيْرِ الَّذِيْنَ رَزَقْتَهُمْ ، اللّٰهُمَّ ارْزُقْهُ طَاعَتَكَ المَقْبُوْلَةَ وَذِكْرَكَ وَشُكْرَكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ المَرْضِيَّةِ ، وَاحْفَظْهُ مِنَ السُّقُوْطِ وَالتَّقْصِيْرِ وَالعِلَّةِ وَالكَسَلِ وَالخُلُقِ المَذْمُوْمَةِ حَتَّى تَضَعَهُ أُمُّهُ عَلَى صِحَّةٍ وَعَافِيَةٍ وَسَهُوْلَةٍ وَسُرُوْرٍ مِنْ غَيْرِ مَرَضٍ وَتَعَبٍ وَعُسْرَةٍ بِشَفَاعَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

اللّٰهُمَّ يَا مُبَارِكُ بَارِكْ لَنَا فِي العُمْرِ وَالرِّزْقِ وَالدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْوَلَدِ، اللّٰهُمَّ يَا حَافِظُ اِحْفَظْ وَلَدَها………. مَا دَامَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ وَاشْفِهِ مَعَ أُمِّهِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ ولَا تُقَدِّرْهُ سَقَمًا وَلَا قُرُوْحًا وَلَا مَحْرُوْمًا،
اللّٰهُمَّ صَوِّرْ مَا فِي بَطْنِهَا……. صُوْرَةً حَسَنَةً جَمِيْلَةً كَامِلَةً ، وَثَبِّتْ فِي قَلْبِهِ إِيْمَانًا بِكَ وَبِرُسُلِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ،
اللّٰهُمَّ طَوِّلْ عُمُرَهُ وَصَحِّحْ جَسَدَهُ وَحَسِّنْ خُلُقَهُ وَأَفْصِحْ لِسَانَهُ وَأَحْسِنْ صَوْتَهُ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَالْحَدِيْثِ بِنَبِيِّكَ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْ قِرَاءَةَ الفاتحة وسورةِ لقمان ومريٰم و… لِمَنْ قَرَأَها ولِمَنْ قُرِئَت علي….. الفَ شفاءٍ وألف دواءٍ وألف نعمةٍ وألف لُطْفَةٍ وألفَ عِصْمَةٍ وألف رحمةٍ 

رَبِّ هَبۡ لِيۡ مِنَ الصَّالِحِيۡنَ . لَئِنۡ آتَيۡتَنَا صَالِحًا لَّنَكُوۡنَنَّ مِنَ الشَّاكِرِيۡنَ . وَاجۡعَلۡهُ رَبِّ رَضِيًّا . رَبِّ إِنِّيۡ أُعِيۡذُهُ بِكَ وَذُرِّيَتَهُ مِنَ الشَّيۡطَانِ الرَّجِيۡمَ . رَبِّ هَبۡ لِيۡ مِنۡ لَدُنۡكَ ذُرِّيّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيۡعُ الدُّعَآءَ . اللّٰهُمَّ اجۡعَلۡهُ وَلَدًا صَالِحًا بَارًّا لِوَالِدَيۡهِ قُرَّةَ عَيۡنٍ لَهُمَا . اللّٰهُمَّ ارۡزُقۡ لَهُ الصَّلَاحَ وَالنَّجَابَةَ وَالذَّكَاءَ وَحِفۡظَكَ فِيۡهِ . اللّٰهُمَّ حَسِّنۡ خَلۡقَهُ وَخُلُقَهُ يَا مُصَوِّرُ يَا حَكِيۡمُ . اللّٰهُمَّ يَسِّرۡ وِلَادَتَهَا بِحَقِّ (ثُمَّ السَّبِيۡلَ يَسَّرَهُ ٧×) مَعَ السَّلَامَةِ وَاللُّطۡفِ وَالۡعَافِيَةِ يَامُؤۡمِنُ يَاسَلَامُ.


اللّٰهُمَّ صل على سيدِنا محمد سهّل ويسّر ما تعسّر.

اللّٰهُمَّ صل على سيدِنا محمد وأفتح من الخير كلَّ مُغلَقٍ.



Do’a Suami Saat Istri Hamil 7 Bulan


اللّٰهُمَّ احْفَظْ وَلَدِي مَا دَامَ فِي بَطْنِ زَوْجَتِي وَاشْفِهِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا، اللّٰهُمَّ صَوِّرْهُ فِي بَطْنِ زَوْجَتِي صُورَةً حَسَنَةً، وَثَبِّتْ قَلْبَهُ إِيمَانًا بِكَ وَبِرُسُلِكَ، اللّٰهُمَّ أَخْرِجْهُ مِنْ بَطْنِ زَوْجَتِي وَلاَدَةً سَهْلَةً وَسَلِيْمَةً، اللّٰهُمَّ اجْعَلْهُ صَحِيْحًا كَامِلًا، وَعَاقِلًا حَاذِقًا عَالِمًا عَامِلًا، اللّٰهُمَّ طَوِّلْ عُمُرَهُ وَصَحِّحْ جَسَدَهُ وَحَسِّنْ خُلُقَهُ وَأَفْصِحْ لِسَانَهُ وَأَحْسِنْ صُوْتَهُ لِقِرَاءَةِ الْحَدِيْثِ وَالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ بِبَرَكَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.