Dzikir Jama'i Ugemanku
يَالَطِيۡفًا بِخَـلۡقِهِ يَاعَلِيۡـمًا بِخَلۡقِهِ يَاخَبِيۡرًا بِخَـلۡقِهِ اُلۡطُفۡ بِنَا يَا لَطِيۡفُ يَاعَلِيۡمُ يَاخَبِيۡرُ (٣×)
يَالَطِيۡفًا لَمۡ يَزَلۡ اُلۡطُفۡ بِنَا فِيۡمَا نَزَلۡ إِنَّكَ لَطِيۡفٌ لَمۡ تَزَلۡ اُلۡطُفۡ بِنَا وَالۡمُسۡلِمِيۡنَ (٣×)
الۡطُفۡ بِنَا يَا لَطِيۡفُ ۞ يَا مَنۡ هُوَ دَائِمُ ۞ يَا مَنۡ لَا لَهُ التَّوۡصِيۡفُ ۞ يَا مَنۡ هُوَ عَالِمُ ۞ يَا مَنۡ لَا يَخۡفَاهُ الۡحَالُ ۞ بِأَمۡرِهِ قَائِمُ ۞ خَفِّفۡ عَنَّا مَا نَزَلَ ۞ وَكُنۡ بِنَا رَاحِمٌ ۞ لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ ۞ مُحَمَّد رَسُولُ اللهُ ۞ لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ ۞ عَلَيۡهِ صَلاَةُ اللهِ
Terkadang hidup tidak berjalan sebagaimana yang kita rencanakan. Ada hari-hari yang penuh kemudahan, ada pula waktu-waktu ketika hati terasa sempit, pikiran dipenuhi kegelisahan, dan langkah terasa berat. Namun seorang mukmin tidak berjalan sendirian. Ia berpegang kepada Rabb yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan.
Ketika kita mengucapkan:
يَا لَطِيْفًا بِخَلْقِهِ، يَا عَلِيْمًا بِخَلْقِهِ، يَا خَبِيْرًا بِخَلْقِهِ
“Wahai Dzat Yang Maha Lembut terhadap makhluk-Nya, Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui makhluk-Nya, Wahai Dzat Yang Maha Mengenal secara mendalam keadaan makhluk-Nya.”
Maka sesungguhnya kita sedang mengingat tiga pegangan hidup yang agung.
1. Allah Maha Lembut (اللَّطِيف)
Tidak semua kelembutan Allah tampak di hadapan mata. Ada musibah yang ternyata menyelamatkan kita dari keburukan yang lebih besar. Ada penundaan yang ternyata merupakan penjagaan. Ada kehilangan yang ternyata menjadi jalan mendekat kepada-Nya.
Maka jangan tergesa-gesa menyangka bahwa Allah meninggalkanmu. Bisa jadi pertolongan-Nya sedang datang melalui cara yang paling lembut, yang belum mampu engkau pahami hari ini.
Tetaplah berharap, karena Rabb-mu adalah Al-Lathîf.
2. Allah Maha Mengetahui (الْعَلِيم)
Allah mengetahui air mata yang tidak dilihat manusia. Dia mengetahui niat baik yang belum sempat terwujud. Dia mengetahui perjuangan seorang ayah, kesabaran seorang ibu, kegelisahan seorang anak, dan doa-doa yang dipanjatkan di penghujung malam.
Tidak ada amal yang sia-sia di sisi-Nya.
Jika manusia tidak memahami perjuanganmu, cukuplah Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu.
Tetaplah berbuat baik, karena Rabb-mu adalah Al-'Alîm.
3. Allah Maha Mengenal Segala Keadaan (الْخَبِير)
Allah bukan sekadar mengetahui apa yang terjadi, tetapi Dia mengetahui hakikatnya secara sempurna; baik yang tampak maupun yang tersembunyi, beserta hakikat, sebab, akibat, rinciannya dan apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Sering kali kita meminta sesuatu karena menganggap itu baik, padahal Allah mengetahui bahwa waktu itu belum tepat. Kadang kita membenci suatu keadaan, padahal di baliknya tersimpan pelajaran, penghapus dosa, dan pengangkat derajat.
Tetaplah ridha dan bertawakal, karena Rabb-mu adalah Al-Khabîr.
Maka ketika hidup terasa berat, bisikkanlah kepada hati:
اُلْطُفْ بِنَا يَا لَطِيْفُ، يَا عَلِيْمُ، يَا خَبِيْرُ
“Limpahkanlah kelembutan-Mu kepada kami, wahai Yang Maha Lembut, wahai Yang Maha Mengetahui, wahai Yang Maha Mengenal.”
Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, tetapi kita mengenal siapa Rabb yang mengatur esok hari.
Karena itu:
Jangan putus asa ketika doa belum terkabul.
Jangan menyerah ketika ujian belum berakhir.
Jangan berhenti berbuat baik meskipun tidak dihargai manusia.
Jangan takut menghadapi masa depan selama masih bergantung kepada Allah.
Sebab orang yang berpegang kepada Allah tidak berarti hidupnya tanpa ujian, tetapi hatinya tidak akan kehilangan harapan.
Ya Lathiif… lembutkan takdir-Mu untuk kami.
Ya 'Aliim … tuntun kami dengan ilmu dan hikmah-Mu.
Ya Khabiir… pilihkan bagi kami apa yang terbaik menurut-Mu.
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ، عَلَيْهِ صَلَاةُ اللهِ وَسَلَامُهُ.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tenang menghadapi takdir, sabar dalam ujian, bersyukur dalam nikmat, serta senantiasa yakin bahwa di balik setiap ketetapan-Nya terdapat kelembutan, ilmu, dan hikmah yang sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar