Translate

Minggu, 21 Juni 2026

Berkurban Bekal Mudik ke Kampung Abadi

Berkurban Bekal Mudik ke Kampung Abadi


الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر،

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر،

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، 

لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَعْيَادَ لِلْمُسْلِمِينَ مَوَاسِمَ لِلْخَيْرَاتِ وَالطَّاعَاتِ، وَشَرَعَ فِيهَا الذِّكْرَ وَالتَّكْبِيرَ وَالْقُرْبَانَ ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا النَبِيَ بَعْدَه. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَاعْلَمُوا…أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمُ عِيدٍ وَتَكْبِيرٍ ، وَيَوْمُ تَعْظِيمٍ لِشَعَائِرِ اللَّهِ ، وَيَوْمُ إِحْيَاءٍ لِسُنَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي الْبَذْلِ وَالتَّضْحِيَةِ وَالِاسْتِسْلَامِ لِأَمْرِ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

  • Ma’asyiral Muslimin hafidhokumullah,

Hari ini kita berada pada hari yang agung, hari bersejarah; yaitu hari raya Idul Adha, hari ketika lisan bertakbir, hati berdzikir, dan jiwa kembali mengingat tujuan hidup yang sesungguhnya.

Hari ini takbir dan tahmid berkumandang di seluruh penjuru dunia, menyebut Nama Allah, mengagungkan Asma Allah SWT.

Gema takbir itu pula yang pagi ini kita hidupkan di tempat kita bersujud kepada Allah SWT. Suaranya menggema di antara langit dan bumi, menggetarkan hati orang-orang beriman, melembutkan jiwa yang haus akan rahmat Allah, dan membangkitkan kerinduan untuk kembali mendekat kepada-Nya.

Idul Adha bukan sekadar hari raya penuh kebahagiaan, tetapi juga hari pengorbanan, hari ketundukan, dan hari pembuktian cinta seorang hamba kepada Allah SWT. 

Pada hari ini kita mengenang keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS; bagaimana keduanya mendahulukan perintah Allah di atas segala cinta dan keinginan dunia.

Maka melalui mimbar Idul Adha ini, marilah kita bertanya kepada diri masing-masing: sudahkah kita rela mengorbankan hawa nafsu kita, kesombongan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia demi meraih ridha Allah SWT?

  • Ma’asyiral Muslimin hafidhokumullah,

Idul Adha adalah hari kepulangan  hati menuju Allah ﷻ. Idul Adha bersama dengan Amaliah di dalamnya; seperti puasa, shalat Ied, ritual berkurban dan amal mulia lainnya adalah fasilitas yang Allah sediakan untuk kita ummat Muhammad sebagai bekal kita untuk mudik kekampung abadi.

Hakikat kehidupan manusia di dunia ini adalah safar / perjalanan panjang menuju kampung akhirat, mudik ke kampung abadi.

Betapa banyak manusia sibuk mudik ke kampung dunia; pulang ke desa, pulang ke rumah orang tua, dan pulang ke tanah kelahiran. Namun sering kali manusia lupa bahwa sejatinya kehidupan ini adalah perjalanan pulang menuju negeri abadi, yaitu negeri akhirat.

Dunia ini - tempat dimana siang dan malam kita beraktivitas - hakikatnya hanyalah tempat persinggahan sementara, bukan tujuan akhir kehidupan. Sedangkan akhirat adalah kampung halaman yang sesungguhnya.

Di dunia ini kita hanyalah musafir, bukan penduduk mukim. Kita hidup di dunia ini “mong sebatas ngombe” kapan saja kita akan pulang, kapan saja kita akan mudik ke kampung yang sejati, yaitu kampung akhirat, kampung keabadian, kampung sebaik-baiknya tempat kembali bagi mereka yang bertakwa; mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin saat masih di dunia.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ﴾

“Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)

Oleh karenanya, janganlah berlebihan dalam mencintai dunia, janganlah kita tertipu dan terlena, hingga melupakan mencari bekal untuk mudik ke kampung akhirah.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tidaklah kehidupan dunia itu, kecuali hanya kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran 3:185)

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain daripada permainan dan senda gurau belaka.” (QS. Al An’am 6:32)

Maka persiapkanlah diri kita untuk menyambutnya kedatangan hari tersebut, yaitu datangnya hari kiamat.

Pada hari dimana kekayaan, jabatan, kedudukan dan anak tidak dapat dibanggakan, kecuali amal sholih dengan hati yang bersih dari pada dosa, sebagaimana Allah firmankan:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) Hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Maka orang yang cerdas bukanlah mereka yang berpendidikan tinggi, bukan profesor, dokter, insinyur maupun presiden.

“Orang cerdas adalah mereka yang mampu memenej (mengendalikan/mengatur) nafsunya dan mempersiapkan diri untuk bekal akhiratnya.”

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ.

  • Ma’asyiral Muslimin hafidhokumullah,

Ketika musim mudik tiba, manusia rela mengorbankan harta-benda, tenaga, dan waktu demi bisa pulang ke kampung halaman.

Tidak sedikit dari mereka jauh jauh hari mempersiapkan bekal demi untuk memuaskan orang di kampung halaman.

Jika bekal persiapan mudik dunia saja kita bersungguh-sungguh, bersusah-payah dan luar biasa menyiapkannya, lalu bagaimana dengan persiapan kita mudik ke kampung akhirat...???

Hari ini marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: sudahkah kita menyiapkan bekal untuk mudik panjang menuju alam kubur? Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk perjalanan menuju akhirat?

Bekal apakah yang akan kita bawa ketika menghadap Allah ﷻ? Bekal apa yang bisa menggembirakan Allah, yang dapat membuat Allah ridho.

Karena kelak tidak ada yang menemani kita di alam kubur kecuali amal saleh yang pernah kita lakukan.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى﴾

“Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

  • Ma’asyiral Muslimin hafidhokumullah,

Salah satu bekal terbesar  untuk mudik ke kampung akhirat , negeri abadi adalah ibadah kurban.

Maka Idul Adha hadir untuk mengingatkan kita bahwa seorang hamba tidak akan sampai kepada Allah kecuali dengan pengorbanan.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam rela mengorbankan apa yang paling beliau cintai demi mentaati Rabb-nya. Nabi Ismail ‘alaihissalam tunduk dan pasrah kepada perintah Allah tanpa ragu.

Dari sinilah kita belajar bahwa jalan menuju surga, bukanlah dengan jalan hawa nafsu, tetapi jalan ketakwaan, kesabaran, dan keikhlasan.

Idul Adha mengajarkan kepada kita bahwa kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Tetapi juga menyembelih kesombongan, menyembelih sifat bakhil, kikir, kerakusan, cinta dunia, dan segala sifat yang menjauhkan hati kita dari Allah SWT.

Takbir yang kita kumandangkan hari ini seakan mengingatkan bahwa Allah lebih besar daripada jabatan, lebih besar daripada harta, dan lebih besar daripada seluruh urusan dunia yang sering melalaikan kita dari akhiratnya.

Pelaksanaan kurban saat ini adalah latihan keikhlasan, bukti cinta, serta tanda ketaatan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam rela mengorbankan sesuatu yang paling beliau cintai demi menjalankan perintah Allah, demikian pula seorang mukmin dituntut untuk mendahulukan perintah Allah di atas hawa nafsu dan kepentingan dunia.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ﴾

“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

  • Ma’asyiral Muslimin hafidhokumullah,

Hari ini kita hidup di zaman yang aneh; banyak manusia berlomba memperindah rumah, memperbanyak kendaraan, dan menumpuk harta untuk kehidupan dunia. Namun sedikit dari mereka yang sibuk memperindah dan memperbanyak amal untuk kehidupan akhirat.

Padahal kehidupan dunia hanyalah sementara. Jabatan akan ditinggalkan, kekayaan akan diwariskan, dan tubuh yang kita banggakan akan kembali menjadi tanah.

Dan yang tersisa hanyalah amal; Ketaqwaan atau sebaliknya, kedurhakaan.

Karena itu, jadikanlah Idul Adha ini, sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, memperbanyak sedekah, membantu sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dengan bertaubat.

Belajarlah dari Nabi Ibrahim tentang ketundukan, belajarlah dari Nabi Ismail tentang ketaatan, dan belajarlah dari Siti Hajar tentang kesabaran.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tunduk, ikhlas, dan siap berkorban di jalan-Nya.

Bisa jadi ini adalah Idul Adha terakhir dalam hidup kita.

Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bertakbir bersama kita, namun hari ini mereka telah berada di alam kubur.

Maka jangan tunda taubat. Jangan tunda ibadah. Jangan tunda berbuat baik.

Sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi berguna. Allah berfirman:

فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَاۤ اَخَّرْتَنِيْۤ اِلٰۤى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۙ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

"Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Munafiqun 63: 10)

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.”

يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَـيَاتِى 

"Dia berkata, "Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini."" (QS. Al-Fajr 89: Ayat 24)

Dan semua penyesalan tersebut hanyalah tinggal penyesalan yang menyakitkan, teramat sakit bagi mereka.

وَسَارِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَ لِسَائِرِ المُسلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


Khutbah Kedua


اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،  

اللَّهُ أَكْبَرُ.  وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.  

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

  • Ma’asyiral Muslimin hafidhokumullah,

Untuk menutup khutbah ini marilah kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum hijrah hati menuju Allah. Jangan sampai kita hanya menikmati daging kurban, tetapi lupa mengambil pelajaran dari pengorbanan.

Kalau hari ini kita rela mengeluarkan harta untuk kurban, maka semoga kelak Allah mudahkan setiap langkah kita untuk menginjak surga-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin; diri dan harta mereka dengan balasan surga.” (QS. At-Taubah: 111)

Mari kita doakan kaum muslimin, saudara-saudara kita yang lemah, fakir miskin, dan mereka yang sedang mendapat ujian, semoga selalu dalam kesabaran.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا أُضْحِيَّتَنَا، وَاجْعَلْهَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ… إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Tidak ada komentar: