Translate

Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2026

RENUNGAN DZIKIR DI ZAMAN YANG SERBA TRANSPARAN

RENUNGAN DZIKIR DI ZAMAN YANG SERBA TRANSPARAN


يَا عَالِـمَ السِّرِّ مِنَّا، لَا تَكْشِفِ السِّتْرَ عَنَّا، وَعَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا، وَكُنْ لَنَا حَيْثُ كُنَّا


"Wahai Dzat Yang Mengetahui segala rahasia kami, jangan Engkau singkap tabir aib kami. Sehatkan dan selamatkan kami, ampunilah kami, dan jadilah Engkau bersama kami di mana pun kami berada."


Di zaman dahulu, ketika seseorang melakukan kesalahan, mungkin hanya beberapa orang yang mengetahuinya.


Tetapi hari ini berbeda.


• Satu kesalahan bisa direkam.

• Satu ucapan bisa discreenshot.

• Satu kekhilafan bisa diviralkan.

• Satu aib bisa tersebar ke seluruh dunia hanya dalam hitungan menit.


Kita hidup di zaman yang serba transparan.


Orang bisa melihat apa yang kita makan, ke mana kita pergi, siapa yang kita temui, apa yang kita beli, bahkan apa yang sedang kita rasakan semuanya dipamerkan melalui media sosial.


Namun ada satu hal yang sering kita lupakan:


Yang paling berbahaya bukan ketika manusia mengetahui rahasia kita, tetapi ketika Allah membuka rahasia kita di hadapan manusia. Karena manusia hanya mengetahui apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui apa yang tersembunyi.


• Allah mengetahui air mata yang kita sembunyikan.

• Allah mengetahui dosa yang tidak pernah diketahui siapa pun.

• Allah mengetahui niat yang tidak pernah terucapkan.

• Allah mengetahui keburukan yang kita sembunyikan di balik senyum dan penampilan yang baik.


Maka ketika kita membaca:


يَا عَالِمَ السِّرِّ مِنَّا


"Wahai Dzat Yang Mengetahui segala rahasia kami…"


Seakan-akan kita sedang mengakui:


"Ya Allah, Engkau tahu siapa aku yang sebenarnya. Engkau tahu apa yang tidak diketahui manusia."


Kemudian kita memohon:


لَا تَكْشِفِ السِّتْرَ عَنَّا


"Janganlah Engkau singkap tabir kami."


Ini bukan permohonan agar kita bebas melakukan dosa.


Bukan.


Justru ini adalah do’a agar Allah menutupi aib kita sekaligus memberi kita kekuatan untuk meninggalkan dosa tersebut.


Sebab terkadang Allah menutupi aib kita bukan karena kita layak ditutupi, tetapi karena Allah masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri.


Maka jangan gunakan tertutupnya aib sebagai kesempatan untuk mengulang dosa. Tetapi gunakanlah sebagai kesempatan untuk “bertaubat”.


Jangan sampai Allah menutup aib kita di hadapan manusia, tetapi kita justru tidak malu kepada Allah.


ZAMAN INI MENGAJARKAN KITA UNTUK MENJAGA DUA HAL


1️⃣ - Jangan gemar membuka aib orang lain.


Karena kita sendiri hidup dari rahmat Allah dzat yang menutupi aib kita. Kalau Allah membuka seluruh keburukan kita, mungkin tidak ada seorang pun yang mau duduk bersama kita.


Maka jangan merasa suci hanya karena aib kita belum diketahui. Bisa jadi bukan karena kita lebih baik. Tetapi karena Allah masih menutupi kita.


2️⃣ - Jangan terlalu sibuk membangun citra di hadapan manusia.


Di media sosial kita bisa memilih foto terbaik. Kita bisa memilih kata-kata terbaik. Kita bisa menampilkan kehidupan yang terlihat sempurna.


Tetapi di hadapan Allah,


• Tidak ada filter.

• Tidak ada editan.

• Tidak ada pencitraan.


Allah tidak melihat seberapa indah kehidupan yang kita tampilkan kepada manusia.

Allah melihat apa yang sebenarnya ada di dalam hati kita.


Karena itu, di tengah zaman yang sibuk memperlihatkan segala sesuatu kepada manusia, mari kita belajar memiliki satu ruang kehidupan yang hanya diketahui oleh Allah:


• amal yang tersembunyi,

• sedekah yang tidak diketahui orang,

• air mata taubat di malam hari,

• dzikir yang tidak dipamerkan,

• dan kebaikan yang tidak membutuhkan tepuk tangan manusia.


Sebab boleh jadi, yang menyelamatkan kita di akhirat bukanlah apa yang banyak diketahui manusia, tetapi kebaikan yang hanya diketahui oleh Allah.


Maka bacalah dzikir ini dengan hati:


يَا عَالِـمَ السِّرِّ مِنَّا، لَا تَكْشِفِ السِّتْرَ عَنَّا


"Ya Allah, Engkau mengetahui rahasia kami. Janganlah Engkau buka aib kami".


وَعَافِنَا

"Selamatkan kami…"


وَاعْفُ عَنَّا


"Ampunilah kami…"


وَكُنْ لَنَا حَيْثُ كُنَّا


"Dan jadilah Engkau bersama kami di mana pun kami berada."


Ketika dunia semakin transparan, semakin mudah merekam, semakin cepat menyebarkan, dan semakin sulit menyembunyikan kesalahan , sementara diri tak sanggup untuk memendam nya sendiri , jangan lupa bahwa ada satu tempat paling aman untuk menyimpan rahasia:


Allah.


Maka jangan ceritakan semua hal kepada dunia.


• Ceritakan luka kepada Allah.

• Ceritakan dosa kepada Allah dalam taubat.

• Ceritakan harapan kepada Allah dalam doa.

• Dan serahkan hidup kita kepada Allah.


اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا، وَاعْفُ عَنَّا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا وَأَعْمَالَنَا، وَكُنْ لَنَا حَيْثُ كُنَّا.


"Ya Allah, tutupilah aib-aib kami, tenangkanlah ketakutan kami, ampunilah kami, perbaikilah hati dan amal kami, dan jadilah Engkau bersama kami di mana pun kami berada."


اللهم آمين…

Selasa, 14 Juli 2026

Dapatkanlah Cinta-Nya

Dapatkanlah cinta-Nya





جِدْ مَحَبَّةَ اللَّهِ يَكْفِكَ الْقَلِيلُ

“Dapatkanlah cinta Allah, niscaya yang sedikit akan mencukupimu.” (Abu Na'ma)

“Raihlah cinta Allah, meski dengan amal yang pas-pasan. Sebab, ketika Allah mencintaimu, keberkahan dunia akan menyertaimu dan kebahagiaan akhirat telah menantimu.”

Cinta itu bisa didapat dari: memperbanyak taubat, ikhlas dalam beramal, Istiqomah mengingat-Nya (dzikir), dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.

Allah berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali 'Imran: 31)

المَحْبُوبُ لَا يَبْقَى عَلَيْهِ ذَنْبٌ ، وَالمَبْغُوضُ لَا تَبْقَى عَلَيْهِ طَاعَةٌ

"Orang yang dicintai Allah, tidak akan ada dosa yang menetap padanya. Dan orang yang dibenci Allah, tidak akan ada ketaatan yang menetap padanya." (Salafuna Shalih - Tafsir Ash-Shawi)


Al Mahbub (Yang Dicintai)

Orang yang dicintai Allah, jika ia tergelincir dalam dosa maka Allah akan segera mengampuninya, memberinya taufik untuk bertaubat, dan menghapus dosanya. Karena cinta Allah akan menariknya kembali. Seperti anak yang disayang ayahnya, kalaupun salah pasti dimaafkan dan dibimbing.

Dalam satu hadits Nabi ﷺ bersabda: “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril, lalu Allah mengabarkan “Aku mencintai hamba-Ku ini” , Lalu Jibril mengabarkan ke penduduk langit dan bumi. lalu Allah jadikan ia diterima di bumi.”

> Kisah Nabi Adam 'alaihissalam:

Adam tergelincir makan buah khuldi. Tapi karena Allah cinta, langsung diberi jalan taubat:

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah: 37)

> Kisah Nabi Yunus 'alaihissalam:

Beliau marah lalu meninggalkan kaumnya. Masuk ke perut ikan. Tapi karena dia orang sholeh yang dicintai Allah, maka:

فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ° فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ

“Lalu dia berdoa dalam kegelapan... maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan” (QS. Al-Anbiya: 87-88)


Al Mabghudh (Yang Dimurkai)

Sebaliknya orang yang dibenci Allah, kalaupun ia melakukan ketaatan, maka tidak akan diterima dan tidak akan istiqomah. Bisa jadi riya', ujub, atau Allah cabut keikhlasannya. Ketaatannya tidak membekas di hati.

> Kisah Orang Munafik

Mereka sholat, sedekah, jihad. Tapi Allah katakan:

وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

“Dan mereka tidak mengerjakan sholat, melainkan dengan malas dan tidak pula menafkahkan harta, melainkan dengan rasa enggan” (QS. At-Taubah: 54)

> Kisah Kaum Bani Israil

Mereka diberi Taurat, disuruh amalkan. Tapi karena hati mereka berpaling:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab” (QS. Al-Jumu'ah: 5).

  • Ada “ketaatan” tapi tidak ada ruh. Tidak diterima karena Allah tidak ridha.


قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: وَاجْعَلْ سَيِّئَاتِنَا سَيِّئَاتِ مَنْ أَحْبَبْتَ، وَلَا تَجْعَلْ حَسَنَاتِنَا حَسَنَاتِ مَنْ أَبْغَضْتَ، فَالإِحْسَانُ لَا يَنْفَعُ مَعَ الْبُغْضِ مِنْكَ، وَالإِسَاءَةُ لَا تَضُرُّ مَعَ الْحُبِّ مِنْكَ.

Sebagian ahli makrifat berkata: “Ya Allah, jadikanlah keburukan-keburukan kami seperti keburukan orang yang Engkau cintai, dan janganlah Engkau jadikan kebaikan-kebaikan kami seperti kebaikan orang yang Engkau benci. Sebab, kebaikan tidak akan bermanfaat apabila disertai kemurkaan-Mu, dan keburukan tidak akan mencelakakan apabila disertai kecintaan-Mu.” (Tafsir Ash-Shawi)

Ungkapan ini bukan bermaksud bahwa orang yang dicintai Allah bebas berbuat dosa, atau dosa menjadi tidak berdampak. 

Maksudnya adalah: Orang yang dicintai Allah, apabila berbuat dosa, Allah membimbingnya untuk segera bertobat, mengampuni, dan merahmatinya.

Orang yang dimurkai Allah, walaupun memiliki banyak amal lahiriah, amal itu tidak diterima karena rusak oleh kekufuran, kesyirikan, kemunafikan, atau sebab lain yang menghalangi diterimanya amal.


اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ  

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu”

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ.

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci”

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ 

“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu”.

Senin, 06 Juli 2026

Renungan Tauhid

Renungan Tauhid



حَسۡبِيۡ رَبِّيۡ جَلَّ الله، مَا فِيۡ قَلۡبِيۡ إِلَّا الله، عَلَى الۡهَادِيۡ صَلَّى اللهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ (٣×)، مُحَمَّدٌ رَسُوۡلُ اللهِ، عَلَيۡهِ صَلَاةُ اللهِ (٣×).


Wahai hati, kepada siapa lagi engkau akan bersandar jika bukan kepada Rabb yang menciptakanmu? Dialah yang mengenal setiap bisikanmu sebelum engkau mengucapkannya, mengetahui setiap air matamu sebelum ia menetes, dan telah menetapkan setiap rezekimu sebelum engkau dilahirkan.

Setiap kali lisan kita mengucapkan:

حَسۡبِيۡ رَبِّيۡ...

Cukuplah Allah bagiku. 

Bukan karena aku tidak memiliki kesulitan, tetapi karena aku memiliki Tuhan Yang Mahakuasa. Barang siapa mengenal Allah, niscaya musibah menjadi ringan, kefakiran menjadi kekayaan hati, dan kesendirian berubah menjadi keakraban bersama-Nya.

Manusia boleh datang dan pergi, harta boleh bertambah lalu berkurang, kedudukan bisa naik lalu jatuh, tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bersandar kepada-Nya.

Ketika mengucapkan :

مَا فِيۡ قَلۡبِيۡ إِلَّا الله...

Tiada yang memenuhi hatiku selain Allah.

Bersihkanlah hatimu. Jangan usir dunia dari tanganmu, tetapi usirlah dunia dari hatimu. Hati ibarat cermin; setiap dosa mengotorinya, setiap dzikir mengilapkannya, dan setiap taubat mengembalikan cahayanya.

Jangan biarkan hati dipenuhi kecemasan, iri, dendam, atau cinta dunia yang berlebihan. Hati diciptakan untuk mengenal, mencintai, dan mengingat Allah. Bila hati telah dipenuhi cahaya ma'rifat kepada Allah, maka dunia tidak lagi memikat, pujian manusia tidak lagi membesarkan, dan celaan mereka tidak lagi meruntuhkan. Sebagaimana yang selalu Abina KH. M. Ihya' Ulumiddin ajarkan pada santri dan jama'ah beliau “Dipuji ora' mekrok, dicaci ora' melerok”

لَا إِلٰهَ إِلَّا الله...

Kalimat ini bukan sekadar diucapkan, tetapi dihayati. Menafikan segala sesuatu yang membuat hati bergantung pada selain Allah. Selama masih ada sesuatu yang lebih dicintai daripada Allah, perjalanan menuju-Nya belum sempurna.

Perbaruilah tauhid dalam jiwa. Tiada tempat bergantung selain Allah, tiada yang mampu memberi manfaat atau menolak mudharat kecuali Allah, dan tiada tujuan hidup yang lebih mulia selain mencari ridha-Nya.

Kemudian saat bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw, hadirkan rasa syukur karena Allah telah mengutus seorang Rasul yang menunjukkan jalan keselamatan. Barang siapa mengikuti sunnah beliau, niscaya akan memperoleh cahaya dalam hidup, ketenangan dalam hati, dan keselamatan di akhirat.

Jadikan dzikir ini bukan sekadar bacaan di bibir, tetapi keyakinan yang hidup di dalam hati:

Semoga Allah menjadikan hati kita dipenuhi tauhid, lisan kita senantiasa berdzikir, langkah kita mengikuti Rasulullah Saw, serta mengakhiri kehidupan kita dengan kalimat :

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوۡلُ اللهِ 

sehingga kita dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintai Allah di surga-Nya.

Wahai jiwa, engkau diciptakan bukan untuk menetap di dunia, tetapi untuk berjalan menuju Allah. Dunia hanyalah persinggahan, sedangkan akhirat adalah kampung halaman. Jangan habiskan umurmu mengejar bayangan, hingga lupa kepada Matahari yang meneranginya.

Ya Allah, hidupkan hati kami dengan mengenal-Mu, hiasi lisan kami dengan mengingat-Mu, terangilah langkah kami dengan mengikuti Nabi-Mu, dan wafatkan kami dalam tauhid yang murni, hingga kelak kami memandang wajah-Mu dengan penuh kerinduan. Aamiin.

Sabtu, 04 Juli 2026

Renungan Dzikir Tauhid di Setiap Kedipan Mata dan Hembusan Napas

Renungan Dzikir Tauhid di Setiap Kedipan Mata dan Hembusan Napas



لَآ إِلٰهَ إِلَّا الله مُحَمَّدٌ رَسُوۡلُ الله فِيۡ كُلِّ لَمۡحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلۡمُ اللهِ (٣×)

“Tiada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad adalah utusan Allah; pada setiap kedipan mata dan hembusan napas sebanyak apa yang tercakup dalam ilmu Allah.”

Dalam dzikir jama'i Abina KH. M. Ihya Ulumuddin memasukkan dzikir tauhid di setiap kedipan mata, dalam setiap hembusan nafas.

Dari sini hendaknya pengamal dzikir jama'i bisa merenungi dan mengambil pelajaran dari setiap saat apa-apa yang telah dibacanya: Bahwa setiap kedipan mata adalah umur yang berkurang. Setiap tarikan napas adalah kesempatan yang belum tentu kembali.

Ketika lisan mengucap “Laa Ilaaha illallah Muhammadur Rasuulullah”, hati diingatkan bahwa hidup ini bukan sekadar mencari dunia, tetapi mencari ridha Allah.

Harta akan ditinggal, jabatan akan hilang, pujian manusia akan pudar. Namun satu hal yang tidak akan sia-sia adalah hati yang mengenal Allah , menyebut nama-Nya dan mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ.

Maka jangan putus asa ketika hidup terasa berat. Selama napas masih berhembus, pintu taubat masih terbuka, pintu amal masih tersedia, dan rahmat Allah masih luas tak berbatas.

Jadikan setiap detik bernilai ibadah. Setiap langkah bernilai kebaikan. Setiap napas dihiasi dzikir. Sebab kita tidak tahu napas yang mana, yang menjadi napas terakhir.

Semoga di setiap kedipan mata dan hembusan napas, Allah meneguhkan kita dalam kalimat tauhid, memperindah akhlak kita dengan sunnah Nabi ﷺ, dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah.

Aamiin ya Rabbal 'Aalamiin.

Minggu, 14 Juni 2026

Dzikir Jama'i Ugemanku

Dzikir Jama'i Ugemanku 


يَالَطِيۡفًا بِخَـلۡقِهِ يَاعَلِيۡـمًا بِخَلۡقِهِ يَاخَبِيۡرًا بِخَـلۡقِهِ اُلۡطُفۡ بِنَا يَا لَطِيۡفُ يَاعَلِيۡمُ يَاخَبِيۡرُ (٣×)

يَالَطِيۡفًا لَمۡ يَزَلۡ اُلۡطُفۡ بِنَا فِيۡمَا نَزَلۡ إِنَّكَ لَطِيۡفٌ لَمۡ تَزَلۡ اُلۡطُفۡ بِنَا وَالۡمُسۡلِمِيۡنَ (٣×)

الۡطُفۡ بِنَا يَا لَطِيۡفُ ۞ يَا مَنۡ هُوَ دَائِمُ ۞ يَا مَنۡ لَا لَهُ التَّوۡصِيۡفُ ۞ يَا مَنۡ هُوَ عَالِمُ ۞ يَا مَنۡ لَا يَخۡفَاهُ الۡحَالُ ۞ بِأَمۡرِهِ قَائِمُ ۞ خَفِّفۡ عَنَّا مَا نَزَلَ ۞ وَكُنۡ بِنَا رَاحِمٌ ۞ لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ ۞ مُحَمَّد رَسُولُ اللهُ ۞ لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ ۞ عَلَيۡهِ صَلاَةُ اللهِ

Terkadang hidup tidak berjalan sebagaimana yang kita rencanakan. Ada hari-hari yang penuh kemudahan, ada pula waktu-waktu ketika hati terasa sempit, pikiran dipenuhi kegelisahan, dan langkah terasa berat. Namun seorang mukmin tidak berjalan sendirian. Ia berpegang kepada Rabb yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan.

Ketika kita mengucapkan:

يَا لَطِيْفًا بِخَلْقِهِ، يَا عَلِيْمًا بِخَلْقِهِ، يَا خَبِيْرًا بِخَلْقِهِ

“Wahai Dzat Yang Maha Lembut terhadap makhluk-Nya, Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui makhluk-Nya, Wahai Dzat Yang Maha Mengenal secara mendalam keadaan makhluk-Nya.”

Maka sesungguhnya kita sedang mengingat tiga pegangan hidup yang agung.

1. Allah Maha Lembut (اللَّطِيف)

Tidak semua kelembutan Allah tampak di hadapan mata. Ada musibah yang ternyata menyelamatkan kita dari keburukan yang lebih besar. Ada penundaan yang ternyata merupakan penjagaan. Ada kehilangan yang ternyata menjadi jalan mendekat kepada-Nya.

Maka jangan tergesa-gesa menyangka bahwa Allah meninggalkanmu. Bisa jadi pertolongan-Nya sedang datang melalui cara yang paling lembut, yang belum mampu engkau pahami hari ini.

Tetaplah berharap, karena Rabb-mu adalah Al-Lathîf.

2. Allah Maha Mengetahui (الْعَلِيم)

Allah mengetahui air mata yang tidak dilihat manusia. Dia mengetahui niat baik yang belum sempat terwujud. Dia mengetahui perjuangan seorang ayah, kesabaran seorang ibu, kegelisahan seorang anak, dan doa-doa yang dipanjatkan di penghujung malam.

Tidak ada amal yang sia-sia di sisi-Nya.

Jika manusia tidak memahami perjuanganmu, cukuplah Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu.

Tetaplah berbuat baik, karena Rabb-mu adalah Al-'Alîm.

3. Allah Maha Mengenal Segala Keadaan (الْخَبِير)

Allah bukan sekadar mengetahui apa yang terjadi, tetapi Dia mengetahui hakikatnya secara sempurna; baik yang tampak maupun yang tersembunyi, beserta hakikat, sebab, akibat, rinciannya dan apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Sering kali kita meminta sesuatu karena menganggap itu baik, padahal Allah mengetahui bahwa waktu itu belum tepat. Kadang kita membenci suatu keadaan, padahal di baliknya tersimpan pelajaran, penghapus dosa, dan pengangkat derajat.

Tetaplah ridha dan bertawakal, karena Rabb-mu adalah Al-Khabîr.

Maka ketika hidup terasa berat, bisikkanlah kepada hati:

اُلْطُفْ بِنَا يَا لَطِيْفُ، يَا عَلِيْمُ، يَا خَبِيْرُ

“Limpahkanlah kelembutan-Mu kepada kami, wahai Yang Maha Lembut, wahai Yang Maha Mengetahui, wahai Yang Maha Mengenal.”

Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, tetapi kita mengenal siapa Rabb yang mengatur esok hari.

Karena itu:

  • Jangan putus asa ketika doa belum terkabul.

  • Jangan menyerah ketika ujian belum berakhir.

  • Jangan berhenti berbuat baik meskipun tidak dihargai manusia.

  • Jangan takut menghadapi masa depan selama masih bergantung kepada Allah.

Sebab orang yang berpegang kepada Allah tidak berarti hidupnya tanpa ujian, tetapi hatinya tidak akan kehilangan harapan.

Ya Lathiif… lembutkan takdir-Mu untuk kami.
Ya 'Aliim … tuntun kami dengan ilmu dan hikmah-Mu.
Ya Khabiir… pilihkan bagi kami apa yang terbaik menurut-Mu.

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ، عَلَيْهِ صَلَاةُ اللهِ وَسَلَامُهُ.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tenang menghadapi takdir, sabar dalam ujian, bersyukur dalam nikmat, serta senantiasa yakin bahwa di balik setiap ketetapan-Nya terdapat kelembutan, ilmu, dan hikmah yang sempurna.

Sabtu, 13 Juni 2026

Shalawat; Solusi Akhir Zaman

Shalawat; Solusi Akhir Zaman 

Di akhir zaman, manusia diburu oleh kegelisahan, dihimpit oleh kesibukan, dan disesakkan oleh berbagai masalah kehidupan. Banyak orang mencari ketenangan ke berbagai arah, padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan salah satu pintu solusi yang agung: memperbanyak shalawat kepada beliau, Sebagaimana yang tercantum dalam kitab Abwabul faraj karya Abuya Sayyid Muhammad Al Maliky

صَلَّى اللهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

“Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad.”

Shalawat bukan sekadar rangkaian lafaz di lisan, tetapi cahaya yang menghidupkan hati, penenang bagi jiwa yang gelisah, dan sebab datangnya rahmat Allah kepada seorang hamba.

Ketika urusan terasa rumit, bershalawatlah.

Ketika rezeki terasa sempit, bershalawatlah.

Ketika hati dipenuhi kesedihan, bershalawatlah.

Ketika dosa-dosa terasa menumpuk, bershalawatlah.

Jika dunia membuatmu lelah, bershalawatlah.

Jika manusia mengecewakanmu, bershalawatlah.

Jika masa depan membuatmu takut, bershalawatlah.

Karena shalawat adalah amal yang menghubungkan bumi dengan langit, menghubungkan hati kita dengan manusia terbaik yang paling dicintai Allah, Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka'ab, ketika beliau bertanya tentang memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi menjawab:

إِذًا تُكْفَى هَمُّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

“Jika demikian, niscaya kegundahanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.”

Betapa banyak masalah yang tidak selesai dengan kekuatan akal, tetapi Allah selesaikan dengan keberkahan shalawat.

Betapa banyak pintu yang tertutup, lalu Allah bukakan karena seorang hamba tidak berhenti mengucapkan:

صَلَّى اللهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

Di zaman yang penuh fitnah ini, jangan hanya memperbanyak keluhan. Perbanyaklah shalawat.

Jangan hanya menghitung masalah. Hitunglah shalawatmu.

Jangan hanya mencari solusi di bumi. Ketuklah pintu langit dengan shalawat kepada Nabi.

Maka jadikan shalawat sebagai teman perjalanan hidupmu, penyejuk hatimu, dan amalan harianmu.

صَلَّى اللهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

Semakin banyak shalawat yang engkau baca, semakin dekat hatimu kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan semakin besar harapanmu mendapatkan syafaat beliau di hari ketika tidak ada pertolongan selain pertolongan Allah.

Inilah rahasia besar shalawat. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan bahwa seluruh masalah akan hilang seketika, tetapi Allah sendiri yang akan mencukupkan segala kegundahan hamba yang memperbanyak shalawat kepada Nabi-Nya.

Shalawat bukan sekadar wirid. Shalawat adalah solusi hidup akhir zaman.


Selasa, 02 Juni 2026

Hasbanah Selawase

Hasbanah Selawase


Hasbanah 450 bukan sekadar hitungan dzikir, tetapi latihan hati untuk melepaskan kegelisahan, mengikis rasa takut, dan menumbuhkan keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

"Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali 'Imran: 173)

Ketika rezeki terasa sempit, bacalah dengan penuh harap.

Ketika masalah terasa berat, bacalah dengan penuh yakin.

Ketika jalan keluar belum terlihat, bacalah dengan penuh tawakal.

Sebab kalimat ini bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan pengakuan bahwa kekuatan manusia terbatas, sedangkan pertolongan Allah tidak pernah terbatas.

Di penghujung malam, saat dunia mulai sunyi dan banyak mata terlelap, Hasbanah mengajarkan kita untuk meletakkan seluruh beban di hadapan Allah. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekuatan diri, tidak semua kesulitan harus ditanggung sendirian. Ada saatnya seorang hamba berserah diri sepenuhnya kepada Rabb-nya, lalu menyaksikan bagaimana pertolongan-Nya datang dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.

Maka jangan pernah lelah mengulang-ulang:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Karena siapa yang menjadikan Allah sebagai sandaran, tidak akan dibiarkan berjalan sendirian. Siapa yang bertawakal kepada-Nya, akan dicukupkan kebutuhannya. Dan siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah, niscaya akan menemukan ketenangan yang tidak mampu diberikan oleh dunia.

Hasbanah di penghujung malam bukan hanya dzikir, tetapi cara seorang mukmin menguatkan hati, memperbarui tawakal, dan mengetuk pintu pertolongan Allah Yang Maha Kuasa.

مَنْ كَانَ اللَّهُ حَسْبَهُ فَلَا يَضُرُّهُ مَنْ خَذَلَهُ، وَمَنْ كَانَ اللَّهُ مَعَهُ فَلَا يَغْلِبُهُ أَحَدٌ

"Barang siapa Allah menjadi Penolongnya, maka tidak akan membahayakannya siapa pun yang meninggalkannya. Dan barang siapa Allah bersamanya, maka tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya.”

Lathifiyah Selawase

Lathifiyah Selawase


يَا لَطِيفُ يَا لَطِيف ، يَا لَطِيف اَللّٰه لَطِيف

Ada saatnya hidup terasa berat. Jalan terasa sempit. Ikhtiar sudah dilakukan, tetapi hasil belum terlihat. Doa telah dipanjatkan, tetapi jawaban seakan tertunda.

Pada saat itulah seorang mukmin belajar mengenal salah satu nama Allah yang agung:

 Al Lathif - Yang Maha Lembut, Maha Halus pengaturan-Nya, dan Maha Mengetahui kebutuhan hamba-Nya hingga perkara yang paling tersembunyi.

Allah berfirman:

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

"Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya. Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. Asy-Syura: 19)

Sering kali kita mengira bahwa pertolongan Allah harus datang dengan cara yang besar dan terlihat. Padahal banyak nikmat Allah datang dengan kelembutan yang hampir tidak terasa.

Tiba-tiba hati menjadi tenang.
Tiba-tiba masalah menemukan jalan keluar.
Tiba-tiba bertemu orang yang membawa kebaikan.
Tiba-tiba mendapat rezeki dari arah yang tidak disangka.

Itulah sentuhan Al-Lathif.

Ketika engkau membaca:

يَا لَطِيفُ يَا لَطِيفُ ، يَا لَطِيف اَللّٰه لَطِيف

sebanyak 129 kali, bukan sekadar mengulang lafaz, tetapi sedang mengingatkan hati bahwa:

  • Allah mengetahui kesulitanmu.

  • Allah mendengar keluhanmu.

  • Allah tidak pernah meninggalkanmu.

  • Allah mampu memperbaiki keadaanmu dengan cara yang tidak pernah engkau bayangkan.

Boleh jadi sesuatu yang engkau anggap keterlambatan adalah bentuk kelembutan Allah agar engkau tidak terjatuh pada waktu yang salah.

Boleh jadi sesuatu yang hilang darimu adalah cara Allah menyelamatkanmu dari keburukan yang tidak engkau ketahui.

Boleh jadi sesuatu yang belum engkau dapatkan adalah karena Allah sedang menyiapkan yang lebih baik.

Maka ketika hati mulai gelisah, bacalah Lathifiyah dengan penuh keyakinan. Lalu serahkan segala urusan kepada-Nya. Karena sesungguhnya “Allah Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya.”

Renungan Lathifiyah 129

"Tidak semua pertolongan Allah datang dengan suara gemuruh. Sebagian hadir dalam bentuk ketenangan hati, kemudahan urusan, dan jalan keluar yang tidak pernah terlintas dalam pikiran. Itulah kelembutan Allah. Maka jangan putus berharap, karena Al-Laṭīf selalu bekerja untuk kebaikan hamba-Nya, meski mata belum melihatnya."

Senin, 25 Januari 2016

KRITIKAN





Istriku...terimalah setiap kritikan yang membangun dengan jiwa yang sportif, karna kritik yang lahir dari mulut orang bijak akan melahirkan manfaat yang besar, janganlah kau sikapi setiap kritikan adalah celaan belaka yang justru akan menimbulkan permusuhan, kedengkian, kebencian. Belajarlah untuk selalu tersenyum, abaikan setiap cercaan, betapa indah wasiat yang diberikan oleh seorang penya’ir berikut ini :

Wahai hati... celaka kamu tidak mau mendengarkan orang yang menasehatimu, Ketika kau tersudutkan
Dan tidak dapat menghindari celaan.
Penyair lain melantunkan:
Ketika pikiran tidak sejalan denganmu
Berhentilah berbicara
Dengarlah beberapa buah lagu
Bacalah buku yang sudah lama
Dan, belajarlah untuk selalu tersenyum

Tidak ada yang perlu kita risaukan atau kita kawatiri dari kritikan seseorang yang bebal dan dungu, yang disertai dengan fitnah dan sumpah serapah, sebab hanya orang tertentu saja yang mendapatkan kehormatan seperti ini. Orang yang hidup pasti mendapati keritikan, sedangkan untuk seonggok bangkai tidak ada kritik sama sekali, anggaplah semua itu tidak pernah ada, tutup matamu dari melihatnya, sumbat telinganmu dari mendengarkan,
Al-Qorni pernah melantunkan syairnya:

Mengapa kau bakar air mata yang telah mengering
Yang membuat kecemasan selalu mengintai kalbu
Serahkan kepada Robb yang mahamulia
Dan setiap kali orang yang pernah bersedih mulai tidur
Terbukalah pintu-pintu itu
Istriku... apa kau kira orang yang suka mengeritik atas dasar kebencian, kedengkian atau pun fitnah, mereka itu terlepas dari kesalahan, apa kau anggap mereka itu bersih tanpa nista, akan tetapi kalau kita lihat lebih dalam lagi, maka akan kita dapati bahwa mereka adalah lebih hina dari pada bangkai,
Istriku abaikan kedengkian itu, marilah kita cobalah untuk tersenyum, biarlah mereka hanyut bersama kedengkiannya, karna selamanya mereka tidak akan puas atas keberhasilan kita, atas ni’mat yang kita dapat, sebelum ni’mat itu berpindah kepadanya.
Di dalam syair dikatakan:
Semua orang dapat aku beli hatinya
Tetapi  orang yang dengki kepadaku amat merepotkan aku
Dan sulit ku beli hatinya
Bagaimana mungkin seseorang dapat membujuk
Orang yang dengki melihat keberhasilannya
Sementara dia belum merasa puas kecuali lenyapnya keberhasilan itu
Janganlah bakar amal-amal baikmu selama ini dengan membalar umpatan orang yang mengumpatmu, hilangkan keinginan membalas dendam, hasud, iri-hati, hanya ingin balik mencerca, mengkritik dan memaki-maki.

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلا

"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jahuilah mereka dengan cara yang baik (QS. Al Muzzammil : 10)

Istriku apa bila kita tetap dalam kesabaran, tidak ada sedikit pun balasan terhadap kita, kecuali limpahan rahmah , kasih sayang dari Alloh dan ridhonya. Bukankah ini kesudahan yang menggairahkan hati,Istriku entramkan pikiran , penyejuk mata , penghibur jiwa, , pemantap iman menepis kecemasan, pengusir keraguan. Menyapu ketakutan. Alloh berjanji dalam Al Qur’an:

šأُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلامًا

 "Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya (QS. Al Furqon : 75)

تجوّز لي عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه، وما حدّثوا به أنفسهم مالم يقولوا أويعملوا

Artinya: “Dimaafkan untuk umatku atas ketidak sengajaan, kelupaan dan keterpaksaan mereka. Serta apa yang mereka simpan dalam benak mereka selama mereka tidak mengucapkannya atau melakukannya.”

Rabu, 29 Januari 2014

JANGAN PERNAH BOSAN MENCINTAIKU

 

 Istriku… Taatlah engkau kepada Alloh dalam mentaati suamimu, maka Alloh akan memuliakanmu, janganlah engkau membangkang perintah Alloh dengan jalan mengingkari perintah suamimu, karenanya Alloh akan menghinakanmu, jadikanlah engkau sumber kenikmatan baginya, dan janganlah engkau merasa menjadi sumber bencana baginya. Janganlah engkau pernah membangkang perintahnya sebagai bentuk kesetiaanmu padanya.
Menurut Ibn hazm : “Kedudukan sikap setia itu adalah salah satu naluri yang terpuji, pengertian yang mulia, dan akhlaq yang luhur”.

Istriku... kesetiaan adalah petunjuk yang kuat, bukti yang paling jelas, sumber yang paling baik, dan unsur yang mulia. Siapa pun orangnya pasti mengharapkan pasangan yang setia, tetapi terkadang manusia larut dalam hawanafsunya dan mengingkari nalurinya.

Naluri dasar manusia adalah:
 Menghormati kebiasaan orang yang dicintai
 Memelihara diri kala dia tidak ada
 Menutupi keburukanya dan menceritakan kebaikannya
 Tidak menghiraukan kekhilafan yang tidak disengaja

Dalam Hadis dikatakan: “ Janganlah seorang isteri minta cerai dari suaminya tanpa alasan (sebab yang dibenarkan), niscaya dia tidak akan mencium bau surga yang baunya dapat dirasakan pada jarak tempuh empat puluh tahun.” (HR. Ibnu Majah) 

Untukmu yang setia menemaniku, 
Aku masih mencintaimu, seperti saat-saat kita bertemu dulu. 
Untukmu yang setia mendampingiku, 
Aku masih menyayangimu, Laksana bintang malam yang tak bosan-bosannya mendampingi rembulan. 
Untukmu yang tak bosan mencintaiku, 
Aku ingin mencintaimu dengan indah, seindah aneka bunga taman surga, sayang. 
Untukmu yang selalu mengagung-agungkanku, 
Aku masih mencintaimu, Layaknya embun pagi yang tak bosan-bosannya sejukkan alam. 
Untukmu yang termuliakan oleh-Nya, 
Aku masih menyayangimu, Cintaaa, Laksana atmosfir yang kokoh yang setia melindungi dari sengatan matahari. 

Istriku... aral dan rintangan dalam kehidupan rumah tangga selaksa ujian kesetiaan, sebagai pematang kesetiaan dalam berumah tangga. ulama’ salaf berpendapat: “Cinta pasangan suami istri yang tanpa diiringi dengan ujian dan cobaan, maka cinta itu ibarat sebuah bangunan yang tinggi terbuat dari batu bata yang dibubuhi jerami, sedangkan ujian dan cobaan seperti api yang didekatkan pada bangunan cinta itu, maka api itu akan mematangkannya” 

Terhadap istriku... 
jangan pernah takut sayang karena aku selalu disisimu.

Terhadap istriku... 
Aku ingin mencintaimu dengan tulus Layaknya malam menyambut sang rembulan.

Terhadap istriku... 
Aku ingin menyayangimu Laksana sang surya yang tak bosa-bosanya menyinari bumi. 

Terhadap istriku... 
Aku merasa puas dengan keberadaanmu sayang, Layaknya aku puas terhadap kehidupan ini.

Terhadap istriku... 
Aku ingin melihat engkau tetap tegar, Setegar mentari yang terbit dari timur dan tenggelam ke barat. 

Terhadap istriku... 
Jangan pernah bosan untuk tetap menyayangiku.

Heee kira-kira...

Sabtu, 02 November 2013

HIRSH (RAKUS)

Istriku... untuk yang kesekian kalinya aku menasehati dirimu, bahwa jiwa yang luhur, agung adalah jiwa yang senantiasa puas dengan apa yang dia dapat, jiwa yang tidak menjatuhkan harga dirinya ke dalam lembah keserakahan, menghinakan diri dengan kerakusan dalam mengejar-ngejar keinginan semu, untuk apa kita mengejar-ngejar dunia dan asesorisnya, seseorang yang mengenal dunia pasti akan membencinya, sebaliknya seseorang yang mengenal Alloh pasti akan mencintai-Nya. Hal yang senada dikatakan oleh Asy-Syafi’i r.a melalui bait-bait syairnya: Dunia itu tiada lain hanyalah seonggok bangkai dengan bentuk lain Menjadi rebutan anjing-anjing yang siap melahapnya Jika engkau menjahuinya Berarti engkau beroleh kedamaian dari penghuninya Tetapi jika engkau ikut merebutnya Engkau harus bersaing dengan anjing-anjing yang mengejarnya Istriku... untuk apa engkau menjatuhkan dirimu ke api keserakaha, dengan menumpuk-numpuk harta, Ibnu ‘Umar r.a. meriwayatkan dari Rasulalloh saw, Bahwa Beliau bersabda “Barang siapa menimbun bahan makanan selama empat puluh hari, sungguh ia telah lepas dari Alloh dan Alloh pun telah lepas darinya” ada yang menambahkan “Seolah-olah ia telah membunuh semua orang”. Ali r.a. mengatakan “Barang siapa menimbun bahan makanan selama empat puluh hari, niscaya hatinya menjadi keras”. Masih dari Ali r.a. Bahwasanya Ia pernah membakar makanan yang di timbun oleh pemiliknya. Coba lihat teladan para shahabat dan generasi setelahnya, contohlah mereka, jadikanlah teladan mereka, selain Al Qur’an dan Hadis sebagai pedoman hidup maka kamu akan selamat sayank…

Selasa, 22 Oktober 2013

TUNGGULAH SAATNYA


Anakku… kunci kesuksesan dalam segala urusan adalah ketika ‎seseorang dapat menguasai urusan tersebut, dalam arti “kesuksesan ‎suatu urusan adalah ketika urusan tersebut ditangani oleh ahlinya”. ‎

Sementara kegagalan dalam suatu urusan adalah ketika urusan ‎tersebut dilimpahkan pada yang bukan ahlinya.‎ Saya tidak pernah melihat suatu perbuatan yang sukses ditangan ‎seseorang kecuali oleh ahlinya, dan tidak pula kusaksikan ‎kemaslahatan yang gagal dimanfaatkan kecuali kemaslahatan tersebut ‎ditangani oleh orang yang tidak pecus mengelolanya.‎

Sungguh setiap urusan yang diserahkan kepada yang bukan ahlinya itu ‎mempunyai akhir waktu, akhir waktu tersebut adalah “Kehancuran”, ‎dan ada saat dimana sipelaku harus berhenti, yaitu kegagalan baginya. ‎Hal tersebut jauh-jauh hari Rasulullah pernah mengingatkan: “Ketika ‎sebuah urusan diserahkan pada yang bukan Ahlinya, maka tunggulah ‎saatnya (saat kehancurannya)”‎

Anakku… apa bila alam ini telah rusak, dan penghuninya terus menerus ‎berbuat kemunafikan, dosa gampang sekali lahir, dan memperluas ‎langkah perceraian setelah sebelumnya bersatu padu, dan berlaku ‎kehancuran setelah sebelumnya gemah ripah loh jinawi, dan berbuat ‎kekufuran setelah mengecap manisnya iman. Maka tunggulah saat ‎kehancurannya, datangnya kiyamat, beberapa goncangan konflik, lalu ‎diikuti dengan musibah-musibah yang melanda, sampai pada akhirnya ‎tiupan sangsakala pertama akan dikumandangkan, lalu tiupan yang ‎kedua, pada saat itu semua hati akan berdebar ketakutan, setiap mata ‎akan menunduk khusyuk.

Hal tersebut terjadi di karenakan penghuni ‎bumi ini sudah tak ada lagi orang-orang shalih, orang yang patut ‎mengelola, orang yang patut mengemban tugas untuk memakmurkan ‎bumi Allah, di karenakan keangkuhan mereka dalam bersikap, ‎seringnya mereka berbuat melenceng, keluar dari rel kebenaran yang ‎telah ditata oleh Sang Pemilik Alam ini. Mereka menyimpang dari jalur ‎Tuhan dan menapaki jalur Syetan la’natullah. Sungguh Allah akan ‎menelantarkan , dan membiarkan mereka terus berbuat kerusakan, ‎sehingga pada saatnya, ketika di bumi ini sudah tak ada lagi panah ‎harapan yang tersisa (guna memperbaiki kerusakan), maka Allah akan ‎mengambil orang-orang fasik dengan paksa.‎

SEMANGAT & MALAS

Anakku... katakanlah kepada teman-temanmu yang sedang duduk ‎termenung, terbuai dalam lamunannya, “mengapa kamu tidak bekerja ‎dan berusaha ?” katakan kepada pemuda yang sehat badannya, elok ‎parasnya “mengapa tidak kau manfaatkan masa mudamu pada hal-hal ‎yang berguna, pada hal-hal yang berfaidah ?” katakan pada temanmu ‎yang notabennya sarjana “mengapa kamu tidak membuka lahan kerja ‎sendiri saja ?” katakan pada mereka berapa jam yang mereka sia-‎siakan dalam lamunan, obrolan panjang yang tiada arti dan ujungnya ‎nan membosankan, kenapa mereka membiarkan dirinya terpenjara ‎oleh kemalasan yang mengerikan, terbelenggu oleh tabiat mereka ‎yang hina.‎ Anakku...Semangat adalah energi yang senantiasa bergerak, deru ‎ombak yang senantiasa bergemuruh, dan kegigihan yang luar biasa, Ia-‎lah yang melakukan lompatan ke puncak dan terbang ke tempat yang ‎tertinggi, menggerakkan orang yang lemah menjadi gagah perkasa, ‎membuat orang lumpuh menjadi tidak putus-asa. Bangkitlah anakku, ‎kobarkan semangatmu, engkaulah penggerak nadi umat manusia, ‎engkaulah merah api, pembakar semangat bangsa, pelopor kemajuan ‎zaman, engkau bukan tumpukan jerami yang berdebu dan ‎menyebalkan.‎ ‎ Wahai anakku yang berotak cerdas nan pandai, janganlah engkau ‎mendekam saja di kamar, jangan lah engkau terbiasa dengan ‎berpangku tangan, jaganlah engkau merasa yaman bersama gelapnya ‎masa. Lihatlah berbagai burung terbang meninggalkan sarangnya ‎untuk mencari rizki, musang keluar dari sarangnya untuk mencari ‎mangsa, katak pun pasang mulut untuk mendapatkan seekor lalat. ‎Sedang Anda, apa yang Anda tunggu ?‎ bangkitlah segera ke gelanggang pekerjaan, singkirkan waktu lowong ‎ganti dengan aktifitas yang bermanfaat, dahului roda zaman dan ‎bergabunglah bersama-sama orang yang rajin.‎ Anakku percepatlah langkah,‎ sebab dibelakangmu maut sigap memburu,‎ Tiada tempat untuk berlindung dari-nya,‎ Atau untuk menghindarinya Anakku...Semangat adalah hati yang penuh gairah, jiwa yang penuh ‎rindu, hasrat yang mengelora, Ia mampu membawa pemiliknya ‎mengembara kemana saja, berusahalah untuk selalu bergairah, ‎bersegeralah untuk semangat, sekali lagi bersegeralah, sebab siang ‎dan malam dapat melapukkan kamu tanpa kamu sadari. santai-santai, ‎malas-malas, banyak tidur dan banyak makan itu justru dapat ‎mengeraskan hati, melemahkan pikiran. Dapatkah seseorang meraih ‎cita-cita hanya dengan bersingkur tangan ?‎ Janganlah kau anggap keagungan itu bagaikan kurma Yang setiap saat dapat kau makan.‎ Engkau selamanya tidak akan sangup mencapai keagungan,‎ Sebelum engkau menjilat ketabahan.‎ Penyair lain mengatakan.‎ Janganlah engkau pernah merindukan beberapa kedudukan,‎ Sebelum engkau penuhi sarana dan prasarananya.‎

Sabtu, 05 Oktober 2013

SANG PEMENANG


Disaat kelelahan menghampiri anda, luka telah terasa ngilu, tenaga sudah tak lagi mampu. ‎
Cobalah untuk tarung satu ronde lagi.‎
Saat berkali-kali pukulan mendarat di muka anda, dada anda mulai terasa sesak,
Cobalah ‎untuk bertarung satu ronde lagi.‎
Disaat lawan telah menguasai anda, berkali-kali mau menjatuhkan, dan anda berfikir ingin ‎menjatuhkan diri untuk mengakhiri segalanya.
Cobalah untuk bertarung satu ronde lagi. ‎
Mencobalah dan mencoba, bukankah ajaran agama juga melarang umatnya untuk berputus ‎asa.
Sekali lagi cobalah, hanya dengan mencoba anda akan meraih kemenangan, selain ‎pahala yang telah terjanjikan. ‎
Ya … hanya orang yang selalu ingin bertarung satu kali lagilah yang punya potensi untuk ‎menang.
Iya… kemenangan adalah milik mereka yang terus mau mecoba untuk sekali lagi, ‎orang yang senantiasa mengobarkan semangatnya untuk menyambut mahkota ‎kemenangan.
Dialah PEMENANG sebelum kemenangan dinyatakan.‎
Jangan menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat anda berikan.
Tidak ada yang benar-‎bener kalah sampai anda sendiri berhenti dan tak mampu lagi berusaha .‎
Jangan takut menghadapi risiko.
Anggaplah risiko sebagai kesempatan kita untuk belajar ‎bagaimana menjadi pemberani.‎
Sambutlah kemenanganmu shobat...‎

Minggu, 08 September 2013

SHOBR (SABAR)

TERUNTUK BIDADARI HIDUPKU ISTRI DALAM PENANTIANKU: Istriku... apa yang membuat gerak langkahmu mulai lunglai, apa yang menjadikan wajahmu begitu pucat dan apa yang menjadikan senyummu menjadi labil nan hambar, tersenyumlah sayang... hiasilah bibirmu dengan senyuman, bukankah Alloh tidak menciptakan kaum perempuan kecuali untuk menyenangkan suaminya, bagaimana kua bisa menyenangkan suamimu jika dirimu dirundung kesedihan Istriku... ingatlah, siapa pun orangnya, dimana pun tempatnya, kapan pun masanya, bagaimana pun rupa dan kedudukannya, pastilah Alloh memberi ujian padanya dan Alloh tidaklan membebani hambanya berupa ujian melainkan sesuai kadar kemampuannya, Istriku... diantara sekian banyaknya ujian yang diberikan Alloh pada hambanya, kepada kita, bukankah Alloh pula telah menjanjikan pahala yang tinggi, bahwa bersama kesukaran ada kemudahan, dalam satu firmannya dikatakan. •   •  •     Artinya 5. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, 6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.( Al Hasr Bahkan Alloh melipat gandakan kemudahan tersebut, yakinlah dengan kesabaran akan sirna pula mendung kegelapan, dengan kesabaran akan terbit bintang keceriaan dan dengan kesabaran itu pula pintu kesukaran akan terbuka, hilang gelap terbitlah terang, tidak ada satu pun manusia yang hidup di alam ini bersih tanpa ujian, taukah kamu apa yang menimpa kita hanyalah sebagai pengukur iman semata, karena hal semacam ini adalah suatu keniscayaan dari Alloh sebagai jalan ujian, dalam firmannya dikatakan:          •     155. dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(Al Baqoroh: 155)       •     “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” Q.S Ali Imron: 200 Istriku...tenanglah sayang, kita semua senantiasa dalam pengawasannya, sehingga tidak ada satu musibah pun kecuali dengan izinnya, , Apa engkau pernah menyadari berapa banyak pertolongannya yang telah diberikan kepada kita, kita hanya memohon dalam do’a kita satu atau dua saja, sementara yang Alloh berikan melebihi yang kita pinta, Alloh memberi 99% dari 1% yang diminta hambanya  •      •     60. dan bersabarlah kamu, Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.(Q.S Ar Ruum (30) : 60)

Senin, 29 Juli 2013

KEDENGKIAN

Untuk Buah hati, Anak dalam impianku.. Anakku…Orang yang berhati mulia berjiwa besar, mereka tidak akan pernah berbuat kedengkian (Hasud) terhadap siapa saja, karena kedengkian adalah perilaku orang-orang hina, orang yang berjiwa rendah, bertabi’at tercela, dan lemahnya keinginan, orang yang berjiwa besar, agung, yang enggan mau dihina karena tahu akan harga dirinya, adalah mereka yang memberi jarak, menerapkan perbedaan antara dirinya dan tabiat yang rendahan (Hasud) itu, karena buah hasud tidak lain hanyalah kedongkolan hati, mereka tidak akan pernah memperoleh sesuatu yang mereka hasudi, melainkan sakit hati semata. seperti halnya kalam hikmah yang berlaku di kalangan masyarakat kita : ( Al Hasuud La Yasuudu ) “Orang yang hasud tidak akan dapat memperolih apa yang dihasudi”, kalau kita cermati, kita angan, maka kita akan dapati betapa besar makna yang terkandung di dalamnya dan mulia, sekalipun kecil dari segi lafath-nya. Anakku...kedengkian adalah perbuatan yang dapat menyia-nyiakan pekerti yang mulia, etika yang luhur, menyesakkan dada, mengkacaukan pikiran. Karena para pelaku kedengkian, apa bila melihat seseorang yang berada dalam kenikmatan, menyaksikan seseorang yang memperolih kedudukan tinggi yang pantas dan patut untuknya, mereka memasang kuda-kuda, menyiapkan tipu-daya, mereka senang kalau nikmat tersebut terlimpahkan dalam diri mereka, mereka gembira kalau kedudukan tersebut berpindah dalam kekuasaannya. Anakku...Bersabarlah jika pada suatu sa’at engkau mendapati mereka yang sedang berbuat hasud terhadapmu, hadapi dengan senyuman, hadapi dengan lapang dada, hadapi dengan kepala tegak, karena kamu berada di jalan kebenaran, kamu berada di jalan yang di ridhoi oleh Alloh swa. Karena sampai kapanpun pelaku kedengkian mereka tidak akan pernah puas dengan keberadaanmu sekarang ini, mereka akan terpuaskan setelah apa yang kamu peroleh, apa yang kamu dapat, berpindah kepada mereka. Hal senada di dendangkan seorang penyair dalam gubahan syairnya : Semua orang dapat aku beli hatinya Tetapi orang yang dengki kepadaku amat merepotkan aku Dan sulit ku beli hatinya Bagaimana mungkin seseorang dapat membujuk Orang yang dengki melihat keberhasilannya Sementara dia belum merasa puas kecuali lenyapnya keberhasilan itu. Penyair lain juga mendendangkan : Bersabarlah terhadab perbuatan hasud seseorang, Karena kesabaranmu, merupakan senjata yang bisa membunuhnya layaknya api yang membakar dirinya setelah ia tak lagi mendapati sebatang kayu yang bisa dibakarnya.

Sabtu, 27 Juli 2013

OPTIMIS & PESIMIS

Untuk Buah hatiku. anak yang sangat kunantikan. Anakku...yang membentuk karakter diri kita adalah pola pikir kita sendiri, kalau kita berpikir positif, maka hidup ini akan terasa enjoe dan bahagia, tapi kalau pikiran kita senantiasa berfikir hal-hal yang negative, maka kesedihan, kepiluan yang justru kita dapat. Percayalah anakku, hidup kamu tersusun oleh pikiran-pikiran kamu, sebab hidup tak lain adalah rangkaian keputusan kamu untuk mencinta atau membenci sesuatu Anakku orang yang berjiwa pesimis akan selamanya memandang siang hari terasa gelap, segala sesuatu disangkanya hitam mencekam , madu disangkanya racun, mereka memandang dunia ini dengan tatapan kebencian, pandangan yang membosankan Wahai anakku... pernahkah engkau mendengar cerita Rasululloh saw saat beliau menengok orang arab badui yang sedang sakit terserang deman, lalu beliau saw. menghiburnya dengan mengatakan “Tak mengapa, Insya Alloh akan sembuh.” akan tetapi, orang badui tersebut tidak menerima pengharapan baik tersebut dan justru Ia berkata “ Ini deman yang hebat.” Maka Nabi saw. pun berkata “Baiklah kalau demikian” Seperti itulah yang akan dirasa olehnya. Anakku... bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan nampak terasa sempit, dan tindakan anda pun jadi kerdil, Namun, bila kamu memandang diri anda besar, maka dunia akan nampak luas, dan anda pun akan melakukan hal-hal penting dan berharga. Tindakan anda adalah cermin bagai mana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pada pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berperasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanyalah memantulkan apa yang ingin kita pikirkan, dan menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, maka sebenarnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.

TAWAKAL (PASRAH)

 


Teruntuk kekasih surgaku. Istri yang semoga setia mendampingiku.

Istriku.....apa yang membuat malam-malammu jadi begitu panjang, hari-harimu penuh kekawatiran, janganlah hari esok membuatmu menangis, menjadikan hatimu gundah dan penuh ketakutan. Istriku, hidup ini akan terasa enjoy, semuanya akan terasa indah jika kita pasrahkan kepada Alloh, karna Dialah yang pantas kita serahi urusan kita, karena Dialah tempat bergantung semua makhluk. 

“....dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S At-Tholaq: 3)

“(Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.” (Q.S At Taghobun: 13)

Jika Alloh menciptakan malam tentu Alloh menciptakan siang pula, susah dan senang, miskin dan kaya, laki dan perempuan, kanan dan kiri, bawah dan atas, dan semua berpasang-pasangan, maka jika Alloh menciptakan kita tentulah Alloh menciptakan rizki bagi kita, Allah berfirman: 

“.. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)" (Q.S Ali Imron : 27)

Dalam satu kesempata Kekasih kita Baginda Nabi Agung Muhammad Saw. Berkata:

 لوأنّكُمْ توَكّلْتُمْ على الله حقَّ توكُّلِهِ لرَزَقَكُمْ كما يرزُق الطيرَ تَغْدُو خِماصاًوتَرُوْحُ بِطاناً

“Sungguh apabila kalian bertakwa kepada Alloh dengan sebenar-benar takwa, niscaya Alloh akan menanggung rizki kalian, seperti halnya Alloh menanggung rizki seekor burung yang waktu pagi dalam kondisi lapar dan pada sore harinya dengan kadaan kenyang”

Rabu, 12 Juni 2013

TAQWA

Teruntuk Kekasih Surga-ku. Istri yang belum sempat aku Nikahi > Tersenyumlah istriku...hiasilah hari-harimu dengan keceriaan, hiasilah malam-malammu dengan kekhusyu’an munajjah pada Robb kita, hiasilah saat-saatmu dengan mendekatkan pada-Nya, lepaskan persoalan yang membebani dirimu, gantilah setiap duka dengan kebahagiaan, jangan karena sempitnya hidup kau lupakan yang lainnya, bukankah Alloh telah menjanjikan jalan keluar bagi hamba-hambanya yang bertakwa. ...             ...  “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (Q.S At Tholaq: 2-3) ...         “...dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Q.S At Tholaq: 4) ...        •  “dan Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (Q.S At Tholaq: 5) •     “Dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung ” (Q.S Ali Imron: 200) Istriku... apa yang membuat air matamu bercucuran, apa yang membuat dadamu sesak, apa yang membuat pipimu jadi merah layu dan sayup matamu. Istriku...janganlah kau menyibukkan diri dalam kesedihan, jangan pula kau sibuk dalam obrolan yang tiada arti, yang justru akan menambah masalah baru sebelum menyelesaikan yang lama, isilah waktu kosong dengan beribadah, tingkatkan ketakwaan, tingkatkan iman, Alloh menjanjikan pada hamba-hambanya yang bertakwa jalan yang terang, jalan yang di tapaki orang-orang shalih, Alloh menghapus setiap kesalahan yang pernah ada, sekali pun kesalahan tersebut tiada terkira. bukankah itu yang menjadi tujuan hidup setiap manusia? Alloh berfirman dalam satu ayat-Nya:                     Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Qs. al-Anfaal ayat: 29). Ingatlah sayang... bahwa kesedihan dan tangisan akan membuat kita lemah, akan membuat kita tertinggal dan tertingal, bangkitlah , tersenyumlah karna ada saat-saat terindah dalam hidup ini.

Sabtu, 08 Juni 2013

INGATLAH SEJENAK PADA-NYA

teruntuk kekasih surga-ku istri dalam angan-ku. Istriku... jika kekawatiran mulai menyelimuti jiwamu, ketenangan telah hilang dari dadamu, kegelisaha yang tiada pernah bosa-bosanya menghantui, kesempita mulai menghimpit dan ketakutan mulai mencekam, maka dirikanlah sholat, khusyukkan jiwa hanya kepadanya           ” Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,” (Q.S Al Mu’min(23):1-2) Istriku... sholat yang khusyu’ bagaikan mata air yang menyejukkan hati, menenangkan jiwa yang gersang karna persoalan seharian, menenangkan batin yang tercekam kekawatiran karna hutang yang tak kunjung terlunasi, segala masalah, kerisauan, kesedihan dan keterpurukan akan segera teratasi, Di ceritakan ketika Rasululloh saw di timpa kesulitan, maka Beliau memerintahkan Shahabatnya yang bernama Bilal untuk segera mendirikan sholat. يابِلال أرِحْنابِالصَّلاة “ Wahai Bilal , tenangkanlah kami dengan shalat” Istriku... tiada hal yang mengembirakan bagi orang-orang yang beriman pada malam hari, selain munajah pada Tuhan-nya, tiada keindahan bagi-nya pada siang harinnya selain dengan ta’at kepada-Nya, tiada keindahan di dunia ini selain dzikir kepada-Nya, tiada keindahan akhirat selain mendapat ampunan-Nya, dan tiada keindahan surga, kecuali senantiasa melihat dzat-Nya Tuhan. Maka, gunakanlah malam harimu hanya untuk bermunajah kepada-Nya Dalam hal ini Imam Ali ra adalah orang yang senantiasa mengisi malam-malamnya, penuh dengan mendekatkan diri: “Bukankah Engkau telah mendengar dengan kekuatan-Mu Wahai Tuhan yang menjadi kekuatan atas do’a orang yang lemah Yang ditimpa musibah, yang tenggelam dalam lautan kebingungan Penuh dengan keprihatinan. Aku berseru dengan penuh rendah diri setiap hari Dalam kesungguhan berdo’a kepada-Mu. Sungguh terasa sempit bagiku dunia ini, sementara penduduk dunia Tidak mengetahui obatku, maka ambillah tanganku, Karena aku bener-bener memohon keselamatan dengan ampunan-Mu. Aku datang kepada-Mu dengan diiringi cucuran air mata. Oleh karena itu, kasihanilah tangisanku ini karena malu kepada-Mu. Aku terlalu banyak noda dan dosa kepada-Mu Aku sekarang berada dalam kebingungan, Sedang Engkau adalah Dzat pembebas kebingungan. Aku sakit, sedang Engkau adalah obat penawar sakitku. Ya Alloh, bangkitkan diriku ini dengan penuh harapan. Aku katakan kepada-Mu, wahai Tuhanku, aku senantiasa berharap Agar Engkau mau memenuhi harapanku. Balasan yang layak untukku tiada lain Engkau menyiksaku. Akan tetapi, aku berlindung dengan anugerah-Mu yang baik. Wahai tumpuan harapanku Engkau telah mengistimewakan junjunganku (Muhammad) Dengan pemberian ma’af atas diriku, karena aku sekarang Berada di tengah musibah yang menimpaku”