Translate

Sabtu, 04 Juli 2026

Renungan Dzikir Tauhid di Setiap Kedipan Mata dan Hembusan Napas

Renungan Dzikir Tauhid di Setiap Kedipan Mata dan Hembusan Napas



لَآ إِلٰهَ إِلَّا الله مُحَمَّدٌ رَسُوۡلُ الله فِيۡ كُلِّ لَمۡحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلۡمُ اللهِ (٣×)

“Tiada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad adalah utusan Allah; pada setiap kedipan mata dan hembusan napas sebanyak apa yang tercakup dalam ilmu Allah.”

Dalam dzikir jama'i Abina KH. M. Ihya Ulumuddin memasukkan dzikir tauhid di setiap kedipan mata, dalam setiap hembusan nafas.

Dari sini hendaknya pengamal dzikir jama'i bisa merenungi dan mengambil pelajaran dari setiap saat apa-apa yang telah dibacanya: Bahwa setiap kedipan mata adalah umur yang berkurang. Setiap tarikan napas adalah kesempatan yang belum tentu kembali.

Ketika lisan mengucap “Laa Ilaaha illallah Muhammadur Rasuulullah”, hati diingatkan bahwa hidup ini bukan sekadar mencari dunia, tetapi mencari ridha Allah.

Harta akan ditinggal, jabatan akan hilang, pujian manusia akan pudar. Namun satu hal yang tidak akan sia-sia adalah hati yang mengenal Allah , menyebut nama-Nya dan mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ.

Maka jangan putus asa ketika hidup terasa berat. Selama napas masih berhembus, pintu taubat masih terbuka, pintu amal masih tersedia, dan rahmat Allah masih luas tak berbatas.

Jadikan setiap detik bernilai ibadah. Setiap langkah bernilai kebaikan. Setiap napas dihiasi dzikir. Sebab kita tidak tahu napas yang mana, yang menjadi napas terakhir.

Semoga di setiap kedipan mata dan hembusan napas, Allah meneguhkan kita dalam kalimat tauhid, memperindah akhlak kita dengan sunnah Nabi ﷺ, dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah.

Aamiin ya Rabbal 'Aalamiin.