Translate

Selasa, 14 Juli 2026

Dapatkanlah Cinta-Nya

Dapatkanlah cinta-Nya





جِدْ مَحَبَّةَ اللَّهِ يَكْفِكَ الْقَلِيلُ

Dapatkanlah cinta Allah, niscaya yang sedikit akan mencukupimu.” (Abu Na'ma)

“Raihlah cinta Allah, meski dengan amal yang pas-pasan. Sebab, ketika Allah mencintaimu, keberkahan dunia akan menyertaimu dan kebahagiaan akhirat telah menantimu.”

Cinta itu bisa didapat dari: memperbanyak taubat, ikhlas dalam beramal, Istiqomah mengingat-Nya (dzikir), dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.

Allah berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali 'Imran: 31)

المَحْبُوبُ لَا يَبْقَى عَلَيْهِ ذَنْبٌ ، وَالمَبْغُوضُ لَا تَبْقَى عَلَيْهِ طَاعَةٌ

"Orang yang dicintai Allah, tidak akan ada dosa yang menetap padanya. Dan orang yang dibenci Allah, tidak akan ada ketaatan yang menetap padanya." (Salafuna Shalih - Tafsir Ash-Shawi)


Al Mahbub (Yang Dicintai)

Orang yang dicintai Allah, jika ia tergelincir dalam dosa maka Allah akan segera mengampuninya, memberinya taufik untuk bertaubat, dan menghapus dosanya. Karena cinta Allah akan menariknya kembali. Seperti anak yang disayang ayahnya, kalaupun salah pasti dimaafkan dan dibimbing.

Dalam satu hadits Nabi ﷺ bersabda: “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril, lalu Allah mengabarkan “Aku mencintai hamba-Ku ini” , Lalu Jibril mengabarkan ke penduduk langit dan bumi. lalu Allah jadikan ia diterima di bumi.”

> Kisah Nabi Adam 'alaihissalam:

Adam tergelincir makan buah khuldi. Tapi karena Allah cinta, langsung diberi jalan taubat:

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah: 37)

> Kisah Nabi Yunus 'alaihissalam:

Beliau marah lalu meninggalkan kaumnya. Masuk ke perut ikan. Tapi karena dia orang sholeh yang dicintai Allah, maka:

فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ° فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ

Lalu dia berdoa dalam kegelapan... maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan” (QS. Al-Anbiya: 87-88)


Al Mabghudh (Yang Dimurkai)

Sebaliknya orang yang dibenci Allah, kalaupun ia melakukan ketaatan, maka tidak akan diterima dan tidak akan istiqomah. Bisa jadi riya', ujub, atau Allah cabut keikhlasannya. Ketaatannya tidak membekas di hati.

> Kisah Orang Munafik

Mereka sholat, sedekah, jihad. Tapi Allah katakan:

وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

Dan mereka tidak mengerjakan sholat, melainkan dengan malas dan tidak pula menafkahkan harta, melainkan dengan rasa enggan” (QS. At-Taubah: 54)

> Kisah Kaum Bani Israil

Mereka diberi Taurat, disuruh amalkan. Tapi karena hati mereka berpaling:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab” (QS. Al-Jumu'ah: 5).

  • Ada “ketaatan” tapi tidak ada ruh. Tidak diterima karena Allah tidak ridha.


قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: وَاجْعَلْ سَيِّئَاتِنَا سَيِّئَاتِ مَنْ أَحْبَبْتَ، وَلَا تَجْعَلْ حَسَنَاتِنَا حَسَنَاتِ مَنْ أَبْغَضْتَ، فَالإِحْسَانُ لَا يَنْفَعُ مَعَ الْبُغْضِ مِنْكَ، وَالإِسَاءَةُ لَا تَضُرُّ مَعَ الْحُبِّ مِنْكَ.

Sebagian ahli makrifat berkata: “Ya Allah, jadikanlah keburukan-keburukan kami seperti keburukan orang yang Engkau cintai, dan janganlah Engkau jadikan kebaikan-kebaikan kami seperti kebaikan orang yang Engkau benci. Sebab, kebaikan tidak akan bermanfaat apabila disertai kemurkaan-Mu, dan keburukan tidak akan mencelakakan apabila disertai kecintaan-Mu.” (Tafsir Ash-Shawi)

Ungkapan ini bukan bermaksud bahwa orang yang dicintai Allah bebas berbuat dosa, atau dosa menjadi tidak berdampak. 

Maksudnya adalah: Orang yang dicintai Allah, apabila berbuat dosa, Allah membimbingnya untuk segera bertobat, mengampuni, dan merahmatinya.

Orang yang dimurkai Allah, walaupun memiliki banyak amal lahiriah, amal itu tidak diterima karena rusak oleh kekufuran, kesyirikan, kemunafikan, atau sebab lain yang menghalangi diterimanya amal.


اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ  

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ.

Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ 

Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu”.

Senin, 06 Juli 2026

Renungan Tauhid

Renungan Tauhid



حَسۡبِيۡ رَبِّيۡ جَلَّ الله، مَا فِيۡ قَلۡبِيۡ إِلَّا الله، عَلَى الۡهَادِيۡ صَلَّى اللهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ (٣×)، مُحَمَّدٌ رَسُوۡلُ اللهِ، عَلَيۡهِ صَلَاةُ اللهِ (٣×).


Wahai hati, kepada siapa lagi engkau akan bersandar jika bukan kepada Rabb yang menciptakanmu? Dialah yang mengenal setiap bisikanmu sebelum engkau mengucapkannya, mengetahui setiap air matamu sebelum ia menetes, dan telah menetapkan setiap rezekimu sebelum engkau dilahirkan.

Setiap kali lisan kita mengucapkan:

حَسۡبِيۡ رَبِّيۡ...

Cukuplah Allah bagiku. 

Bukan karena aku tidak memiliki kesulitan, tetapi karena aku memiliki Tuhan Yang Mahakuasa. Barang siapa mengenal Allah, niscaya musibah menjadi ringan, kefakiran menjadi kekayaan hati, dan kesendirian berubah menjadi keakraban bersama-Nya.

Manusia boleh datang dan pergi, harta boleh bertambah lalu berkurang, kedudukan bisa naik lalu jatuh, tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bersandar kepada-Nya.

Ketika mengucapkan :

مَا فِيۡ قَلۡبِيۡ إِلَّا الله...

Tiada yang memenuhi hatiku selain Allah.

Bersihkanlah hatimu. Jangan usir dunia dari tanganmu, tetapi usirlah dunia dari hatimu. Hati ibarat cermin; setiap dosa mengotorinya, setiap dzikir mengilapkannya, dan setiap taubat mengembalikan cahayanya.

Jangan biarkan hati dipenuhi kecemasan, iri, dendam, atau cinta dunia yang berlebihan. Hati diciptakan untuk mengenal, mencintai, dan mengingat Allah. Bila hati telah dipenuhi cahaya ma'rifat kepada Allah, maka dunia tidak lagi memikat, pujian manusia tidak lagi membesarkan, dan celaan mereka tidak lagi meruntuhkan. Sebagaimana yang selalu Abina KH. M. Ihya' Ulumiddin ajarkan pada santri dan jama'ah beliau “Dipuji ora' mekrok, dicaci ora' melerok”

لَا إِلٰهَ إِلَّا الله...

Kalimat ini bukan sekadar diucapkan, tetapi dihayati. Menafikan segala sesuatu yang membuat hati bergantung pada selain Allah. Selama masih ada sesuatu yang lebih dicintai daripada Allah, perjalanan menuju-Nya belum sempurna.

Perbaruilah tauhid dalam jiwa. Tiada tempat bergantung selain Allah, tiada yang mampu memberi manfaat atau menolak mudharat kecuali Allah, dan tiada tujuan hidup yang lebih mulia selain mencari ridha-Nya.

Kemudian saat bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw, hadirkan rasa syukur karena Allah telah mengutus seorang Rasul yang menunjukkan jalan keselamatan. Barang siapa mengikuti sunnah beliau, niscaya akan memperoleh cahaya dalam hidup, ketenangan dalam hati, dan keselamatan di akhirat.

Jadikan dzikir ini bukan sekadar bacaan di bibir, tetapi keyakinan yang hidup di dalam hati:

Semoga Allah menjadikan hati kita dipenuhi tauhid, lisan kita senantiasa berdzikir, langkah kita mengikuti Rasulullah Saw, serta mengakhiri kehidupan kita dengan kalimat :

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوۡلُ اللهِ 

sehingga kita dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintai Allah di surga-Nya.

Wahai jiwa, engkau diciptakan bukan untuk menetap di dunia, tetapi untuk berjalan menuju Allah. Dunia hanyalah persinggahan, sedangkan akhirat adalah kampung halaman. Jangan habiskan umurmu mengejar bayangan, hingga lupa kepada Matahari yang meneranginya.

Ya Allah, hidupkan hati kami dengan mengenal-Mu, hiasi lisan kami dengan mengingat-Mu, terangilah langkah kami dengan mengikuti Nabi-Mu, dan wafatkan kami dalam tauhid yang murni, hingga kelak kami memandang wajah-Mu dengan penuh kerinduan. Aamiin.

Sabtu, 04 Juli 2026

Renungan Dzikir Tauhid di Setiap Kedipan Mata dan Hembusan Napas

Renungan Dzikir Tauhid di Setiap Kedipan Mata dan Hembusan Napas



لَآ إِلٰهَ إِلَّا الله مُحَمَّدٌ رَسُوۡلُ الله فِيۡ كُلِّ لَمۡحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلۡمُ اللهِ (٣×)

“Tiada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad adalah utusan Allah; pada setiap kedipan mata dan hembusan napas sebanyak apa yang tercakup dalam ilmu Allah.”

Dalam dzikir jama'i Abina KH. M. Ihya Ulumuddin memasukkan dzikir tauhid di setiap kedipan mata, dalam setiap hembusan nafas.

Dari sini hendaknya pengamal dzikir jama'i bisa merenungi dan mengambil pelajaran dari setiap saat apa-apa yang telah dibacanya: Bahwa setiap kedipan mata adalah umur yang berkurang. Setiap tarikan napas adalah kesempatan yang belum tentu kembali.

Ketika lisan mengucap “Laa Ilaaha illallah Muhammadur Rasuulullah”, hati diingatkan bahwa hidup ini bukan sekadar mencari dunia, tetapi mencari ridha Allah.

Harta akan ditinggal, jabatan akan hilang, pujian manusia akan pudar. Namun satu hal yang tidak akan sia-sia adalah hati yang mengenal Allah , menyebut nama-Nya dan mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ.

Maka jangan putus asa ketika hidup terasa berat. Selama napas masih berhembus, pintu taubat masih terbuka, pintu amal masih tersedia, dan rahmat Allah masih luas tak berbatas.

Jadikan setiap detik bernilai ibadah. Setiap langkah bernilai kebaikan. Setiap napas dihiasi dzikir. Sebab kita tidak tahu napas yang mana, yang menjadi napas terakhir.

Semoga di setiap kedipan mata dan hembusan napas, Allah meneguhkan kita dalam kalimat tauhid, memperindah akhlak kita dengan sunnah Nabi ﷺ, dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah.

Aamiin ya Rabbal 'Aalamiin.