Ketika Keseimbangan Tuhan Mulai Diusik
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ الشَّرِيعَةَ هُدًى وَنُورًا، وَجَعَلَهَا مِيزَانَ الْحَيَاة ، وَصِرَاطَ النَّجَاة ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه ، الْمَبْعُوثُ بِالشَّرِيعَةِ الْكَامِلَة ، وَالرَّحْمَةِ الشَّامِلَة ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاسْتَمْسَكَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ القِيامَة.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ ، اتَّقُوا ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ شَرِيعَةَ الْإِسْلَامِ هِيَ مَنْهَجُ الْحَيَاةِ، وَنِظَامُ النَّجَاةِ، بِهَا تَسْتَقِيمُ الْقُلُوبُ، وَتُصْلَحُ الْأَحْوَالُ، وَتُحْفَظُ الْمَصَالِحُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ شَرِيعَةَ اللَّهِ مِيزَانَ أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ اسْتَبْدَلَ هَدْيَ السَّمَاءِ بِأَهْوَاءِ الْبَشَرِ.
قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ: ﴿وَٱبْتَغِ فِيمَا آتَاكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْآخِرَةَ، وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا، وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ، وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِي ٱلْأَرْضِ، إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ﴾
وَقَالَ تَعَالَىٰ أَيْضًا: ﴿وَٱلْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ، وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ، وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ﴾
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Mari kita meningkatkan Iman, amal dengan terus melakukan introsfeksi, sebagai sarana menjaga ketaqwaan kita kepada Allah SWT.; Menghisab diri sendiri sebelum dihisab di hadapan Alloh, apakah selama ini perbuatan kita sudah sejalan dengan tatanan agama, apakah selama ini perbuatan kita sudah sesuai dengan tuntunan Nabi mulia, atau justru jauh dari ajaran agama, jauh dari syari’ah yang dibawa Nabi mulia.
Oleh karenanya, mari kita semakin meningkatkan keyakinan kita, untuk membulatkan tekat berpegang teguh hanya semata pada ajaran agama Allah. Jadikan ajaran Islam satu-satunya pedoman hidup kita, niscaya kelestarian lingkungan dan kesejahteraan hidup akan terwujud.
Syariat Islam adalah sistem keselamatan. Dengannya hati menjadi lurus, keadaan menjadi baik, dan kemaslahatan terjaga, baik di dunia maupun di akhirat.
Sesungguhnya berpegang teguh pada syariat Allah adalah rahasia keberhasilan serta sumber kemuliaan dan ketenteraman. Dan sebaliknya, berpaling dari syariat-Nya adalah kerugian yang nyata.
Maka berbahagialah orang yang menjadikan syariat Allah sebagai pedoman hidup nya. Dan celakalah orang yang menukar petunjuk langit dengan hawa nafsu manusia.
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,
Akhir-akhir ini kita sering disuguhi berita-berita televisi; Dimana saudara saudara kita di Aceh yang sedang berjuang mengatasi bencana. hari ini, kita hidup di zaman di mana bumi sering menangis, langit seakan murka, dan keseimbangan alam semakin rapuh. Bencana datang silih berganti: gempa, banjir, kekeringan, dan kerusakan lingkungan yang meluas. Semua adalah akibat ulah manusia-manusia serakah yang mulai mengusik keseimbangan Tuhan. Allah menciptakan alam ini dengan ukuran, ketetapan, dan keseimbangan (almizan) yang sempurna. Sebagaimana firman-Nya
وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ
“Dan Dia lah yang telah meninggikan langit, dan Dia pula yang meletakkan keseimbangan, agar kalian tidak merusak keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman: 7–8)
Dalam ayat tersebut Allah mengabarkan “Dialah yang meletakkan Keseimbangan”, di alam raya ini dan memperingatkan “janganlah kalian merusak keseimbangan tersebut”
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,
Kita semua tau fungsi dari hutan, Allah Swt menciptakan hutan bukan sekedar melengkapi keindahan bumi saja, namun ada fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia, yaitu “Keseimbangan”
Ketika manusia mulai melampaui batas, ketika keserakahan menjadi prinsip hidup, ketika amanah diabaikan dan hukum Allah disisihkan, itu sama halnya mengusik keseimbangan Tuhan, maka keseimbangan itu pun terguncang.
Ketika keseimbangan Tuhan mulai diusik, jangan salahkan jika bencana datang dari detik perdetik; dimana pembakaran, perusaan hutan, penebangan ilegal, terjadi dimana-mana, sementara salah satu tugas kita sebagai manusia adalah kholifah fil ardh, sebagai pengelola bumi, sebagai petugas memakmurkan bumi, bukan penghancur bumi. Sebagaimana firman Allah Swt:
هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Huud:61)
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullOH,
Bumi adalah anugerah Allah Swt yang dipercayakan kepada umat manusia. Manusia diberikan kesempatan oleh Allah Swt untuk tinggal di Bumi dan memakmurkannya. Bahkan Allah Swt menyatakan; bahwa Bumi dan se-isinya diciptakan memang untuk umat manusia.
Hutan dan fungsi-nya adalah karunia Allah, hutan merupakan paru-paru bumi yang memiliki potensi dan fungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Potensi dan fungsi tersebut mengandung manfaat bagi populasi manusia bila dikelola secara benar dan bijaksana. Dan diantara fungsinya adalah sebagai penghasil oksigen bagi kehidupan, penyerap karbon-dioksida, dan mencegah erosi (pengikisan). Dan hutan juga berfungsi sebagai daerah resapan dan tangkapan air, hutan yang berfungsi untuk mengendalikan banjir di waktu musim hujan dan menjamin ketersediaan air di waktu musim kemarau.
Permasalahan yang sering kita temui adalah menurunnya fungsi dan potensi hutan seiring dengan makin berkurangnya luasan yang dapat dipertahankan. Berbagai aktifitas manusia dilakukan untuk mengubah fungsi hutan secara ekologis, menjadi pemanfaatan lahan secara ekonomis.
Manusia yang serakah seringkali meng-eksploitasi lingkungan demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tanpa memperhatikan kelestariannya; pembakaran dan penebangan hutan secara liar dan membabi buta, mereka telah merusak apa yang diperintahkan oleh Allah Swt agar dijaga, mereka juga tidak peduli akibat apa yang akan terjadi setelah kerusakan itu.
Allah Swt telah memperingatkan bahwa terjadinya kerusakan di daratan dan di lautan adalah akibat keserakahan manusia, sebagaimana dalam firman-Nya.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada sebagian dari mereka (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar Ruum: 41)
Banjir, longsor, kekeringan, krisis air, dan rusaknya hutan bukan sekadar bencana alam, tetapi sering kali merupakan akibat kelalaian (ulah) manusia yang mengusik keseimbangan ciptaan Allah. ketika bumi dan hutan dikeruk dan ditebang demi keuntungan, maka bencana alam seperti saat ini akan terus terulang.
Islam dengan tegas melarang perusakan:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A‘rāf: 56)
Maka merusak alam, menebang hutan sembarangan, mencemari sungai, dan mengabaikan lingkungan bukan hanya pelanggaran sosial, tetapi dosa di sisi Allah.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ، وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash: 77)
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tetapi agama yang mengatur kehidupan secara menyeluruh, termasuk hubungan manusia dengan alam. Syariat Islam hadir untuk menjaga lima tujuan utama (maqāṣid asy-syarī‘ah): agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Kelestarian lingkungan termasuk bagian penting dari penjagaan tersebut.
Allah ﷻ berfirman:
وَالأرْضَ وَضَعَهَا لِلأَنَامِ
“Dan bumi telah Dia hamparkan untuk seluruh makhluk.” (QS. Ar-Raḥmān: 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa alam bukan milik segelintir manusia, tetapi amanah untuk seluruh makhluk dan generasi. Maka syariat Islam menuntut kita mengelola alam dengan adil, bijak, dan bertanggung jawab, agar kesejahteraan hidup terwujud.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْخَلْقُ عِيَالُ اللَّهِ، فَأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِعِيَالِهِ
“Makhluk adalah keluarga Allah, dan yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi makhluk-Nya.” (HR. al-Baihaqi)
Menjaga lingkungan berarti memberi manfaat bagi seluruh makhluk, dan itulah inti dari syariat Islam. Karena itu, jika manusia ingin pemberian Allah Swt itu menjadi berkah, dapat dirasakan dan dinikmati juga oleh anak cucu-nya, maka manusia harus melestarikan semua pemberian Allah Swt, menjaga nikmat tersebut, bukan sekedar menikmati saja apalagi dengan keserakahan, tapi juga harus menjaga dan melestarikannya.
Dalam firman-Nya Allah mengabarkan.
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ. وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ.
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (QS. Al Hijr: 19–20)
Ayat ini menyebutkan bahwa kehidupan manusia tergantung kepada bumi, yakni Allah menjadikan bumi sarana untuk mendapatkan rizki. Maka, Alangkah bodohnya jika manusia merusaknya, padahal bumi adalah sumber kebutuhan hidupnya. Karena itu, manusia harus menjaga dan memelihara kelestariannya agar dapat dinikmati sampai ke anak cucu nanti.
❖ Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumullLOH,
Dalam Islam memakmurkan bumi itu tidak sekedar membuat penduduk bumi makmur secara ekonomi, tetapi manusia hidup dalam keteraturan dan ketertiban, baik menyangkut buminya, maupun penghuninya. Baik yang di darat maupun yang di laut.
Dalam pandangan Islam menjaga dan melestarikan bumi, bercocok tanam, khususnya penghijauan ladang dan hutan (Reboisasi) sangatlah dianjurkan, bahkan hal tersebut merupakan catatan ibadah tersendiri bagi yang menanamnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam:
Beliau menganjurkan umatnya agar menanam pohon walaupun di hari terjadinya kiamat, yakni kiamat bagi dirinya (yaitu kematian) atau kiamat secara umum (kiamat alam semesta). Bahkan bagi siapa yang menanamnya, Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda dan terus bertambah.
عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَاسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا، فَلَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ».
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Kendatipun hari kiamat terjadi, sementara di tangan salah satu di antara kamu masih ada bibit pohon korma, lalu ia memiliki kemampuan untuk menanamnya sebelum hari kiamat terjadi, maka hendaklah ia menanamnya, karena dengan demikian ia mendapatkan pahala”.
عن أنس قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من مسلم يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim yang menanam dan menabur benih, lalu ada sebagian yang dimakan oleh burung atau manusia, ataupun oleh binatang, niscaya semua itu akan menjadi sedekah baginya”.(Silsilah ash-Shahihah no. 7).
Dalam riwayat lain dari Jabir secara marfu’:
“Seorang muslim yang menanam suatu tanaman, niscaya apa yang termakan akan menjadi sedekah, apa yang tercuri akan menjadi sedekah, apa yang termakan oleh burung akan menjadi sedekah, dan apa pun yang diambil oleh seseorang dari tanaman akan menjadi sedekah pula bagi (pemilik)nya (sampai hari kiamat datang)”. (Silsilah ash-Shahihah No. 8).
Ini menunjukkan betapa tingginya nilai reboisasi dalam Islam, sebagai wujud iman, tanggung jawab, dan harapan.
Semoga kita semua senantiasa dikaruniai Allah kesadaran diri, sehingga mampu menjaga amanah yang dibebankan pada kita, selalu menjaga kelestarian lingkungan, pada akhirnya keberkahan yang kita peroleh. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ مالِكِ الْمُلْكِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ نَبِيٍّ وَخَيْرُ نَذِيرٍ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ، نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ قَوْلُهُ: إِنَّ الْكَيِّسَ الْفَطِنَ الذَّكِيَّ: مَنْ لَا تَزِيدُهُ النِّعَمُ إِلَّا انْكِسَارًا وَذُلًّا وَتَوَاضُعًا وَخُضُوعًا لِلْمُنْعِمِ، وَكُلَّمَا جدّدَ لَهُ نِعْمَة أَحْدَثَ لَهَا عُبُودِيَّةً وَخُضُوعًا. فَكُونُوا يَا عِبَادَ اللَّهِ مِمَّنْ لا تَزِيدُ النِّعَمُ إِلَّا طَاعَةَ اللَّهِ، وَإِقْبَالًا عَلَيْهِ، وَتَوَجُّهًا إِلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا مِمَّنْ أَبْطَرَتْهُ النِّعْمَةُ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ.
وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأَمِينِ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِذٰلِكَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا).
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ وَحَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ الْبَشِيرِ النَّذِيرِ وَالسِّرَاجِ الْمُنِيرِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ ، سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَن سَائِرِ صَحَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، يَا غَافِرَ الذُّنُوبِ وَالْخَطِيئَاتِ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاهْدِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَدَمِّرِ الْيَهُودَ وَأَعْوَانَهُمْ مِنَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُم ، وَاصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ آمَنَّا فِي أَوْطانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ إِندُونِيسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ عَلَى نِعَمِهِ وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar