Translate

Jumat, 31 Januari 2014

SINGKIRKAN RASA TAKUT


Jalan keberhasilan ini adalah milik anda. Pada saat anda menyadari bahwa anda bertanggung jawab sepenuhnya atas segala sesuatunya. Dan anda tak menemukan alasan apa pun untuk menyalahkan orang lain, atau alam sekitar. Disaat itulah anda menemukan jalan anda sendiri, disaat itulah anda menyadari perlunya hilangkan rasa ketakutan. Hanya anda yang mampu memikul hidup anda, bukan orang lain. Tak ada etika yang lebih buruk, lebih rendah, melebihi sifat takut ataupun pengecut. Betapa bijak apa yang dikatakan oleh Ferdinand Foch “Tidak ada kata yang tidak mungkin yang membuat sesuatu menjadi tidak mungkin, adalah manusianya sendiri”.

 أنا عَنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِى. 

“Aku bersama prasangka hambaku” 

Ketakutan atau rasa takut adalah KONDISI PIKIRAN dimana kebanyakan pikiran kawatir atau takut akan sesuatu yang belum di kenalnya. Ketakutan adalah KONDISI MENTAL, SIKAP MENTAL, dan bisa dipelajari. Jika anda ingin berani, anda harus berani. Jadi keberanian itu dihasilkan oleh keputusan anda, ide pikiran anda, dan sikap anda. Bukan oleh suatu objek dan bukan pula oleh kondisi lingkungan anda. Bila anda menganggap hidup adalah tugas, tunaikanlah. Bila anda menganggap hidup adalah beban, pikullah. Bila anda menganggap hidup adalah harta karun yang tak terhingga, berbagilah. Kerjakan yang terbaik dari diri anda. Tujuan hidup akan anda temukan disaat anda menjalani perjalanan anda. Dan yang terpenting, anda takkan menemukan apa-apa bila diam tak melakukan sesuatu. Anda harus berani mengambil sikap.

BERBAGI GEMBIRA DENGAN ORANG LAIN



  كُنْ جَمِيْلاً تَرى الكَوْنَ جَمِيْلاً

 “Berbuatlah indah, maka Alam sekitar akan nampak indah” Bayangkan, hidup akan terasa indah jika kita mau berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar kita. Senyum ramah dan manis akan selalu menghiasi setiap bibir yang kita temui. Sapaan yang akrap akan sering terdengar di telinga kita. Jabat tangan yang bersahabat akan selalu kita temui, Keakrabaan akan semakin dekat nan hangat, sehingga semangat tolong menolong dan kebersamaan begitu terasa.

 Aaaah.... itu hanya angan –angan belaka...?? itu terserah anda, apakah anda mau mewujudkannya atau tidak . namun tidak ada salahnya untuk mencoba, memberikan kontribusi kesejukan meskipun hanya setetes. Bisa jadi yang setetes itu akan membawa manfaat baik bagi diri kita maupun orang-orang di sekitar kita. Tidak ada usaha yang sia-sia. 
Dalam sebuah Hadis dikatakan “Janganlah kau meremehkan kebaikan sedikitpun”

 تعاونوا على البِرّ والتقوى . 

“Saling tolong menolonglah kalian dalam hal kebaikan dan taqwa” Dalam ayat ini Alloh memerintahkan hambanya agar saling tolong menolong dalam berbuat baik pada sesamanya terlebih dahulu dari pada perintah takwa. Karena berbuat baik adalah hal yang lebih memberi manfaat pada orang lain ataupun alam lingkungan. Sementara sikap takwa bersifat lazim (bermanfaat untuk diri sendiri). Monggo hidup gotong royong….

Menyorot Kondisi Akidah Kita

Opini global seperti pluralisme ( paham kemajemukan ), humanisme ( paham kemanusiaan ), dan feminisme ( paham kesetaraan jenis kelamin ), dan lain sebagainya tampak cukup mewarnai kehidupan ummat manusia saat ini. Dengan opini-opini global itu jadinya tidak ditemukan lagi perbedaan yang signifikan ( berarti ) antara haq dengan batil. Opini yang selalu lahir dari negara maju ( Barat ) ini ternyata kini berimbas kepada pemahaman akidah yang dianut oleh sebagaian kaum muslimin. Akidah yang harus dibanggakan itu kini mengalami proses penggerogotan, pelunturan, dan pendangkalan. Beberapa waktu lalu kita mendapati gejala ummat Islam mengikuti natalan bersama pengikut Kristen, makan makanan mereka, hadir di gereja mereka dan tidak segan mengucapkan: selamat natal, 1 termasuk juga doa bersama antar agama, ta’jil puasa di vihara dan musik kosidah di hari Natal. Kita juga mendapati fenomena ridlo terhadap keberadaan Yahudi yang jahat, berikut para penyokongnya, China dan Amerika. Anehnya itu justru dilakukan oleh tokoh-tokoh yang dijadikan panutan oleh sebagian besar kaum muslimin. Dalam beberapa waktu mendatang jika ini tidak diantisipasi tentu fenomena ini akan semakin marak seiring dengan mendalamnya ide kemanusiaan dan kemajemukan. Dan pada akhirnya akan kaburlah identitas kaum muslimin yang luhur. Opini-opini yang menyesatkan di atas mendapat penerimaan yang baik di kalangan kaum muslimin seringkali dengan menggunakan alasan “serba fiqh”. Fiqh yang dalam sistem hukum Islam memiliki daya kelenturan, keluwesan, akomodasi dan kompromi yang tinggi kerap dipakai sebagai alat pembenaran (justifikasi) terhadap suatu sikap. Persoalannya kemudian adalah bagaimana teknis (standart) memilah antara urusan fiqh dan urusan akidah? Contoh soal asas organisasi dan natalan bersama itu kaitannya dengan akidah atau dengan fiqh? Imam Al Ghazali menyebut penerapan fiqh yang diikuti hilah (rekayasa) adalah fiqh dloror (fiqh yang berbahaya). Sementara Soekarno menyebut muslim yang meletakkan fiqh di depan tauhid dan akhlak sebagai muslim sontoloyo.(Di bawah Bendera Revolusi,493) Selain alasan fiqh, alasan yang sering digunakan untuk menerima opini-opini di atas ialah alasan sejarah. Kita melihat betapa Piagam Madinah (mitsaq Al Madinah) selalu dipakai alasan terhadap absahnya kesatuan ummat manusia tanpa memandang unsure agamanya. Jonathan Swift, seorang pastor menyatakan bahwa agama hanya membuat ummat manusia saling membenci tidak saling mencintai. Hal yang masih samar di sini ialah alasan sejarah itu sudah pas dan tepatkah penempatannya? Walhasil,kini kita melihat kecenderungan sebagian besar arus kaum muslimin dengan berbagai alasan agamanya untuk menerima ide-ide yang bertentangan dengan akidahnya, sebagai akibat dari proses penipisan akidah, setelah mendapati gempuran berbagai opini global berikut tuntunan sikap para tokoh panutannya. Farqon dan Nur Diantara sifat yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa ialah furqon, yaitu petunjuk yang dengan itu dapat dibedakan antara yang hak dan yang batil. Dengan memiliki sifat ini maka orang yang bertakwa dan beriman akan mendapati kejelasan hukum dalam perilakunya. Sehingga ia tidak sampai terkena jebakan upaya pengkaburan. Di dalam A Qur’an Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqon dan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah mempunyai karunia yang besar.” (Q.R. Al Anfaal: 29) Anugerah furqon ini dalam sifat-sifat orang yang beriman dan bertakwa lainnya disebutkan dengan nur yang dengan nur ini dia mampu menapaki jalan yang terang dan lurus. Alloh subhanahu wata’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada RasulNya, niscaya Alloh memberikan rahmatNya kepadamu dua bagikan, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu bisa menapaki jalan dan Dia mengampuni kamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al Hadid: 28) Dengan adanya furqon dan nur ini berarti sebagai orang yang beriman dan bertakwa dituntut memiliki prinsip yang jelas sekaligus tegas di tengah arus besar (mainstream) kelembekan banyak orang dalam berakidah. Hal ini diperlukan supaya tergambarkan bahwa tidak pernah ketemu haq dan kebatilan dengan segala perbedaannya yang tajam. Berbagai upaya pengkaburan tentu dapat diantisipasi lewat sini. Sahabat Umar bin Khattab dalam hal ini adalah teladan kita yang begitu kuat intuisi (feeling) furqonnya sehingga ayah Sayyidah Hafshah ini mendapati gelar Al Faaruuq. Kecenderungan meniadakan antara hak dan batil serta kecenderungan menipiskan pemisah antara iman dan kekufuran memang berangkatnya dari minimnya keimanan dan ketakwaan (akidah). Untuk mereformasi ihwal ini tentulah dibutuhkan generasi yang memiliki akidah yang mapan sehingga bersamaan denga kemapanan akidahnya itu dianugrahkanlah kepadanya Furqon dan Nur dari Allah swt. Lewat organ kejama’ahan, semoga kita menjadi generasi model begini. Wallohu A’lam

Al KHOUF WAT TAWAQQUF

Setiap manusia tidak lepas dari memiliki naluri mempertahankan hidup (gorizatul baqo’). Ekspresi dari naluri itu bahwa sejak dulu manusia memiliki sikap Al khouf (takut).Dan adanya sikap ini pada diri manusia dengan berbagai tingkatanya; sedikit atau banyak,sama sekali tidak mempengaruhi tingkat keimanan.Namun begitu,sebagaimana naluri lawan jenis dan naluri ber agama,Islam tidak melenyapkan sikap itu di satu sisi,dan di sisi lain Islam juga tidak membiarkannya.Islam dengan ajaranya mengarahkan ekspresi naluri itu kepada yang benar ,yaitu hendaknya Al khouf tidak menghalangi aktivitas jihad fi sabilillah. Dari berbagai bentuk ketakutan-ketakutan yang ada,sesungguhnya yang paling ditakuti manusia adalah datangnya kematian.Al Qur'an menggambarkan bahwa kematian adalah musibah terbesar yang akan dialami manusia.Dari sinilah meski sadar bahwasanya kematian berada di tangan Allah SWT semata,manusia pada umumnya takut melakukan atau memasuki hal-hal yang menjadi jalaran datangnya musibah tersebut.Manusia tidak sadar,tentunya akan lebih ketakutan lagi.Karena itu,kenyataan menunjukan manusia takut dibunuh,takut disantet,takut diculik, takt diteror,dan lain sebagainya .Ini semua manusiawi,asal tidak berlanjut kepada sifat jubn.(lemah,bahasa jawa:jerih) Kepada kaum muslimin,khususnya kepada mereka yang berniat menjadi da'i,Islam mengarahkan hendaknya jangan takut mati manakala berdakwah di jalan Allah SWT.Karena menurut para ulama ,mati tak lebih adalah terputusnya hubungan ruh dengan badan ,pergantian suasana ,atau perpindahan dari rumah satu ke rumah yang lain.(Lihat; at Tadzkiroh.Imam al Qurthubi.hal 4.Juga Ar-Ruh.Imam Ibnul Qoyyim al JAuziyyah,hal 45).Mati bahkan adalah penghapus dosa bagi setiap orang Islam.(HR.Abu Nu’aim) Dalam berdakwah tidak boleh berharap bertemu musuh,tetapi jika bertemu,tawakkal dan bersabarlah.Berlari saat bertemu musuh (A l firor ninaz zahfi) adalah dosa besar dan termasuk perbuatanya orang-orang munafik. Arahan di atas memang tampak agung,namun amat berat rasanya.Tetapi dibalik itu Alloh SWT menyediakan balasan yang luar biasa bagi da'i yang mati syahid.(1) Kelak ruhnya berada pada burung hijau yang memiliki lampu-lampu bergantungan di arasy yang membawanya pergi dari surga kemana disukai.Nilai-nilai inilah yang mendorong para sahabat menyingkirkan perasaan takutnya manakala genderang jihad di tabuh bertalu-talu dengan penuh ketegaran .Sampai-sampai menjelang jihad yang paling sulit ,peperangan badar sekalipun mereka dahului dengan sikap kantuk massal, Sahabat abu Talhah bercerita; "aku termasuk salah seorang yang di landa rasa kantuk berat ,sampai pedangku lepas dari tanganku berulang-ulang .Tiap kali jatuh aku ambil,jatuh lagi, aku ambil lagi dan seterusnya" Sahabat Abdullah bin mas'ud berkata; (......................................................) “Kantuk dalam peperangan itu dari Allah SWT sedang kantuk dalam shalat itu dari syaitan” Ketidaktakutan pada kematian di atas tentu pas apabila di aktualisasikan pada saat merebak upaya teror dan isu penculikan aktivis pembinaan Islam yang langsung atau tidak langsung berkait dengan strategi Yahudi dan Nasrani memecah belah umat Islam itu.Kondisi yang mengarah pada percaturan siyasah yang cenderung kotor (2) ini menuntut kita semua membangkitkan sifat syajaa'ah (yang adil).Dalam arti sikap khouf jangan di jadikan alasan, misalnya,untuk tidak aktif mengaji,meliburkan pembinaan,dan mengurung diri di dalam rumah.Jika pasifitas ini yang di pilih ,dikhawatirkan proses dakwah membina umat yang teramat penting justru mengalami kemunduran .Sebuah kondisi yang di harap-harapkan oleh musuh-musuh Islam .Padahal jika tidak salah inilah kesempatan yang tepat untuk mulai memasukan materi pendidikan sabar,tawakkal,dan syaja'ah serta dzikir-dzikir, sehingga terbentuk kader untuk kejayaan Islam.Toh kita tidak akan mati ,jika ajal belum waktunya.Allah SWT berfirman: (......................................................................) “Janganlah kamu bersikap lemah ,dan janganlah kamu bersedih hati,padahal kamulah orang-orang yang paling berjaya,jika kamu orang-orang yang beriman” .(QS Ali Imron: 139) ***** Sikap at tawaquf yang kita telurkan sebagai ijtihad jama'ah menyikapi kondisi siyasah yang mengabaikan akhlakul karimah saat ini ,seperti tidak ikut (mendukung) partai berbasis umat Islam dan menghindari adanya tanazzu' kerap kali menimbulkan berbagai pertanyaan ,apalagi ketika partai politik saat ini di sebut – sebut sebagai sarana peruangan Islam di pentas nasional yang efektif ,sementara jamaah dakwah ini prioritasnya hanya tafaqquh fiddin.Pertama,jamaah dakwah ini tidak bergerak dengan menjadikan waaqiatul haal (kondisi yang ada) sebagai dalil, sehingga hukum di buat lentur menurut zaman dan tempat. Kedua,khittoh (garis perjuangan ) jamaah dakwah sekaligus konsep-konsepnya selama ini insya Allah ijtihadnya berdiri di atas landasan Al Quran dan as Sunnah .Sehingga ia adalah hukum syara' yang di situ terdapat maslahah ,yang mengikat setiap anggota jamaah atau individu yang lain berbeda. Mudah-mudahan dua sikap ini (al khouf tidak menjadi alasan menghentikan aktifitas dakwah dan keteguhan dalam at tawaqquf),menjadi modal kita semua menghadapi kondisi fitnah dalam percaturan siasah sekarang ini. Wallohu A’lam

Menuju Masyarakat Madani Islami

بسم الله الرحمن الرحيم Pada tanggal 14 Mei 1998 bangsa ini dikejutkan oleh sebuah peristiwa kerusuhan yang menelan banyak korban; terpanggangnya ratusan orang, kerugian materiil mencapai triliunan, pemerkosaan dan lain-lain.peristiwa tersbut sangat memprihatinkan. Peristiwa itu dan peristiwa-peristiwa serupa yang lainnya adalah simbol dari masyarakat vandalis atau masyarakat jahiliyah, suatu msyarakat yang bersistem materialis-kapitalis. Masyarakat Jahiliyah pada jaman Rasululloh SAW diubah ke arah masyarakat Madani Islami, yaitu masyarkat yang seluruh sistemnya berdasarkan pada nilai-nilai Islam. Masyarakat Madani Islami merupakan masyarakat yang berbeda dengan masyarakat manapun, baik keberadaannya maupun karakternya. Ia merupakan masyarakat yang 1) rabbani, 2) insani, 3) akhlaqi, dan 4) masyarakat yang berlaku seimbang (tawazun) Umat Islam dituntut untuk mendirikan masyarakat seperti ini sehingga mereka bisa memperkuat agama mereka, membentuk kepribadian mereka dan bisa hidup dibawah naunganNya dengan kehidupan Islami yang sempurna. Suatu kehidupan yang diarahkan oleh Aqidah Islamiyah dan dibersihkan dengan ibadah, dituntun oleh pemahaman yang shahih, digerakkan oleh semangat yang menyala, terikat kepada Adab Islami, serta diwarnai oleh nilai-nilai Islam, diatur oleh hukum Islam dalam perekonomian, seni, politik, dan seluruh sendi kehidupannya. Masyarakat inilah yang pernah dibangun oleh Rasululloh SAW di Madinah, suatu masyarakat yang benar-benar ideal dan belum ada yang bisa menandinginya pada jamannya. Kemudian yang dimaksud masyarakat Madani Islami yang tegak diatas nilai rabbani adalah masyarakat yang tegak di atas aqidah Islam, yaitu "Laailaaha Illallah wa Muhammadur Rasululloh.” Makna dari ungkapan tersebut adalah bahwa masyarakat Islam benar-benar memuliakan dan menghargai aqidah itu, dan berusaha memperkuatnya di dalam akal maupun hati. Serta dengan aqidah itu seorang muslim harus memiliki komitmen yang teguh dengan melepas setiap ikatan yang bertentangan dengan aqidah Islam. Sesungguhnya Aqidah Islamiyah dengan segala rukun-rukunnya adalah dasar yang kokoh untuk membangun masyarakat Madani Islami. Oleh karena itu, bangunan yang tidak tegak diatas Aqidah Islamiyah akan hancur. Lebih buruk lagi jika bangunan itu nampak Islami, namun fondasinya bukan aqidah Islam, maka bangunan itu bakal hancur seluruhnya dan menimpa seluruh yang ada di dalamnya. أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ "Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar taqwa kepada Alloh dan keridhaanNya itu yang baik ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannnya itu jatuh bersama dengannya di dalam neraka Jahannam? Dan Alloh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzalim. (QS. At-Taubah : 109) Lalu yang dimaksud masyarakat Madani Islami yang tegak diatas nilai kemanusiaan (Al Qiyam Al Insany) adalah masyarakat yang tegak berdasarkan penghormatan terhadap hak-hak asasi dan kemuliaan manusia. Baik kebebasan dan kemerdekaannya, nama baik, eksistensinya, kehormatannya, juga memelihara darah, harta serta kerabat dan keturunannya dalam kedudukan mereka sebagai individu masyarakat. Rasulullah SAW bersabda: "orang-orang Islam itu darahnya saling menyuplai; yang lemah di antara mereka berusaha membebaskan tanggungannya dan yang kuat di antara mereka berusaha menyelamatkan yang lemah. Mereka adalah satu tangan (kekuatan) untuk menghadapi pihak-pihak selain mereka (musuh-musuh mereka); yang kuat membantu yang lemah dan yang cepat menolong yang lambat. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) Inilah nilai-nilai kemanusiaan yang harus tegak di atas masyarakat Madani Islami. Jika terjadi perampasan hak, pembunuhan atau pelanggaran yang lain, maka masyarakat itu telah melakukan kedzoliman. Jika kedzoliman itu diakibatkan oleh kedzoliman penguasa (sistem) maka masyarakat Madani Islami harus mencegah kedzoliman itu melalui Amar Ma'ruf Nahi Munkar, supaya kedzoliman itu tidak menjadi semakin menyebar, laksana ungkapan Al Bala' Yaumm, sebagaimana sabda Rasululloh SAW : "Sesungguhnya manusia itu apabila melihat oarang yang dzlim, lalu mereka tidak memegang kedua tangannya (mencegahnya), maka Alloh akan meratakan azab dari sisiNya." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i) Adapun akhlak juga merupakan unsur penting yang turut membentuk masyarakat Madani Islami. Karena masyarakat yang tidak berakhlak (bermoral) akan menghasilkan masyarakat seperti kasus Jakarta di atas. Oleh karena itu, masyarakat Madani Islami sangat menekankan perbaikan hubungan antar manusia dengan saling tolong menolong, saling mengasihi, bersikap sabar dan tawakkal dalam mengahdapi setiap ujian dari Alloh SWt, serta semakin mendekatkan diri padaNya dengan selalu melakukan setiap kebajikan yang terikat pada hukum syara'. Namun demikian, masyarakat Madani Islami adalah masyarakat yang juga tegak pada prinsip tawazun, yaitu keseimbangan. Suatu masyarakat Islami yang mementingkan akhirat, tapi juga tidak melupakan bagiannya di dunia. Oleh karena itu Islam memerintahkan setiap individu muslim yang berada pada masyarakat Madani Islami untuk berlaku adil terhadap dirinya, yaitu dengan menyeimbangkan antara haknya dan hak Tuhannya, dan hak-hak orang lain. Sebagaimana sabda Rasululloh kepada Abdulloh bin Amr ketika mengurangi haknya sendiri yaitu dengan terus menerus berpuasa di siang hari dan sholat di malam hari. "Sesungguhnya untuk tubuhmu kamu punya hak (untuk beristirahat) dan sesungguhnya bagi kedua matamu kamu punya hak dan kepada keluargamu kamu punya hak, dan untuk orang yang menziarahimu juga kamu punya hak. (Muttafaq Alaih) Dari uraian di atas cukup jelas bahwa kondisi masyarakat di dunia ini, terlebih di Indonesia telah mengabaikan prinsip-prinsip masyarakat Madani Islami, yang pernah ditegakkan oleh Rasululloh SAW, sahabat-sahabatnya dan para tabi'in. Untuk itu Jama'ah Dakwah kita memiliki tugas penting utnuk mengantarkan masyarakat ini ke arah masyarakat Madani Islami, melalui thoriqoh-thoriqoh yang juga dilakukan oleh Rasululloh SAW yaitu pembinaan umat. والله أعلم

Kamis, 30 Januari 2014

JENJANG PERJUANGAN

Bismillahirrahmanirrahim Dalam berdoa memang afdholnya memakai Alfaadz Nabawiyah, namun mengingat tingkat hajat yang kompleks, maka diperbolehkan memakai lafadz doa apa pun sesuai dengan hajatnya. Alloh Ta’ala Berfirman : اُدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Berdoalah kalian kepadaKu, niscaya Aku akan kabulkan untuk kalian (QS. Al-Ghofir : 60) Sahabat Ala’ bin Al Hadramy minta kepada Alloh Ta’ala bisa menguasai negeri Bahrain, minta diberi air dan berwudhlu tatkalan tiada air, minta bisa berjalan di atas lautan, dan minta tidak ditampakkan mayatnya, dengan membaca doa yang bukan Alfaadz Nabawiyah, ternyata permintaannya dikabulkan. Doanya berbunyi : “Wahai Dzat Yang Maha Ilmu, Wahai Dzat Yang Maha Santun, Wahai Dzat Yang Maha Luhur, Wahai Dzat Yang Maha Agung” Secara tersirat, doa jami’ yang bernuansa Asma’ul Husna ini juga meggambarkan secara global bagaimana jenjang (tahapan) perjuangan Islam yang mesti dilalui Jama’ah Dakwah dalam kaitannya dengan Izzul Islam wal Muslimin. Jenjang Pertama Dari lafadz “Ya Alimu” tersirat bahwa fundamen pertama adalah ilmu. Oleh karena itu anggota jama’ah dakwah dituntut memenuhi fundamen pertama ini. Dengan demikian upaya memacu ilmu melalui tatsqif bagaimanapun mesti dilakukan secara konsisten demi menyambut peran berikutnya. Jenjang Kedua Bersama memacu ilmu, ada kewajiban mengamalkannya. Peran sebagai bentuk mengamalkan ilmu adalah berdakwah merupakan peran khusus orang yang berilmu. Sementara dalam amanah mengamalkan ilmu mesti berjumpa tantangan dan hambatan yang menuntut dihadapi secara tabah dan sabar. Disiniah Jama’ah Dakwah harus memiliki sifat hilm (santun) sepert ditunjukkan oleh lafadz Halimu. Lantaran sifat hilm, Rasululloh memberikan pujian kepada sahabat Al-Asyaj Abdil Qais bin ‘Aid dalam sabdanya : “Sesungguhnya dalam dirimu ada dua perangai yang dicintai Alloh, yaitu Hilm dan sabar.” (HR. Muslim) Salah satu manifestasi dari sifat hilm adalah terbuka dalam mengamalkan ilmu, sementara saat ini tumbuh arah eksklusifisme ilmu yang berbahaya. Akan berbahayanya sikap eksklusifisme ini, khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata : “Sesungguhnya ilmu tidak bersifat merusak kecuali ilmu yang dirahasiakan” (Riyadus Sholihin) Jenjang Ketiga Seperti ditunjukkan oleh lafadz Ya Aliyyu, maka sesuai dengan kedudukan Islam yang luhur. Jama’ah dakwah mesti mempunyai program-pogram Dakwah yang luhur pula. Program luhur artinya program yang bagus dan rapi yang ditunjang dengan keseriusan dan optimisme. Pada dasarnya dibalik menjalankan setiap ajaran Islam pasti ada keluhuran, sekalipun ajaran terlihat remeh, karena Islam itu luhur dan tidak ada yang lebih luhur daripadanya. Oleh karena itu Khalifah Umar bin Khottob ketika melihat Abu Ubaidah terkesan meremehkan Islam, beliau berkata : “Wahai Abu Ubaidah ! Sesungguhnya kamu dulu termasuk orang yang paling terbelakang dan terhina, lalu Alloh memuliakanmu dengan Islam. Oleh karena itu manakala kamu mencari kemuliaan dengan selain islam maka Alloh akan kembali merendahkan kamu.” Jenjang Keempat Bila ketiga jenjang diatas telah tercapai secara optimal, maka Insyaalloh secara otomatis akan tercapai cita-cita keagungan (keberhasilan) Dakwah Islam, sebagaimana ditunjukkan lafadz “Ya Adzim” , berkat fadlullah setelah ada kerja keras akhdzul asbaab di atas. Oleh karena bagusnya makna doa sahabat Al Alaa’ Al Hadramy tersebut maka adalah layak bagi setiap Anggota Jama’ah Dakwah untuk mengiltizaminya, sekaligus mengamalkan makna tersiratnya. Wa Allohu A’lamu Bis Showab

BERLAYARLAH DAN TERUS BERLAYAR

 

 Don’t till tomorrow what you can do taday ! 
 jangan menunggu hari esok apa-apa yang bisa kau kerjakan hari ini ! (Ibnu Umar)

 حرّك يدك أُنْزِلْ عليك الرزق 

“ Gerakkan tangan_mu niscaya aku akan menurunkan rizki atas_mu” “Allah memberi rezeki kepada hambaNya sesuai dengan kegiatan dan kemauan kerasnya serta ambisinya.” (HR. Aththusi) 
Anda adalah ibarat perahu kokoh yang sanggup menahan beban , terbuat dari kayu terbaik, dengan layar gagah menentang angin. Kesejatian hidup anda adalah berlayar mengarungi samudra, menembus badai dan menemukan pantai harapan. Sehebat apapun perahu diciptakan, tak ada guna bila hanya tertambat di dermaga pengangguran. 

Dermaga adalah masa lalu anda. Tali penambat adalah ketakutan dan penyesalan anda . Jangan buang percuma seluruh daya kekuatan yang dianugerahkan pada anda. Jangan biyarkan masa lalu menambat anda disitu. Lepaskan diri anda dari ketakutan dan penyesalan. Berlayarlah, bekerjalah dan terus bekerja. Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). 

Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad) Janganlah kau biarkan dirimu terkuasai oleh kemalasan, terperdaya oleh rayuan kemalasan. “Pengangguran menyebabkan hati keras (keji dan membeku)”. (HR. Asysyihaab) Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan dan badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan anda dengan keberhasilan anda adalah masalah yang menantang. 

Di situlah tanda kesejatian teruji. Hakikatnya perahu adalah berlayar menembus segala rintangan. Hakikat diri anda adalah berkereasi dan berkarya menemukan kebahagiaan. yah memang yang dinamakan hidup itu adalah sebuah pergerakan, tidak bergerak berarti tiadanya unsur kehidupan, jika unsur kehidupan lenyap maka yang ada hanya sebuah kematian. 

Namun, agar manusia hidup itu tidak melonjak menjadi makhluq yang sombong, di penghujung suroh al Insyiroh itu Allah mengajarkan : “ dan kepada Tuhanmu, maka berharaplah hanya kepada-Nya “, sehebat apapun usaha yang kita lakukan, secepat apapun langkah yang kita gerakkan, secanggih apapun alat yang kita gunakan, semua itu tidak pernah lepas dari ketentuan Sang Maha Penentu Pemilik kehidupan. Memang Usaha tanpa do’a hampa, kerja keras tanpa tawakkal sia sia, bergerak tanpa berpasrah diri kepada-Nya, bersiap siaplah untuk kecewa ! Ayo kerjaaaaaaa.

Rabu, 29 Januari 2014

JANGAN PERNAH BOSAN MENCINTAIKU

 

 Istriku… Taatlah engkau kepada Alloh dalam mentaati suamimu, maka Alloh akan memuliakanmu, janganlah engkau membangkang perintah Alloh dengan jalan mengingkari perintah suamimu, karenanya Alloh akan menghinakanmu, jadikanlah engkau sumber kenikmatan baginya, dan janganlah engkau merasa menjadi sumber bencana baginya. Janganlah engkau pernah membangkang perintahnya sebagai bentuk kesetiaanmu padanya.
Menurut Ibn hazm : “Kedudukan sikap setia itu adalah salah satu naluri yang terpuji, pengertian yang mulia, dan akhlaq yang luhur”.

Istriku... kesetiaan adalah petunjuk yang kuat, bukti yang paling jelas, sumber yang paling baik, dan unsur yang mulia. Siapa pun orangnya pasti mengharapkan pasangan yang setia, tetapi terkadang manusia larut dalam hawanafsunya dan mengingkari nalurinya.

Naluri dasar manusia adalah:
 Menghormati kebiasaan orang yang dicintai
 Memelihara diri kala dia tidak ada
 Menutupi keburukanya dan menceritakan kebaikannya
 Tidak menghiraukan kekhilafan yang tidak disengaja

Dalam Hadis dikatakan: “ Janganlah seorang isteri minta cerai dari suaminya tanpa alasan (sebab yang dibenarkan), niscaya dia tidak akan mencium bau surga yang baunya dapat dirasakan pada jarak tempuh empat puluh tahun.” (HR. Ibnu Majah) 

Untukmu yang setia menemaniku, 
Aku masih mencintaimu, seperti saat-saat kita bertemu dulu. 
Untukmu yang setia mendampingiku, 
Aku masih menyayangimu, Laksana bintang malam yang tak bosan-bosannya mendampingi rembulan. 
Untukmu yang tak bosan mencintaiku, 
Aku ingin mencintaimu dengan indah, seindah aneka bunga taman surga, sayang. 
Untukmu yang selalu mengagung-agungkanku, 
Aku masih mencintaimu, Layaknya embun pagi yang tak bosan-bosannya sejukkan alam. 
Untukmu yang termuliakan oleh-Nya, 
Aku masih menyayangimu, Cintaaa, Laksana atmosfir yang kokoh yang setia melindungi dari sengatan matahari. 

Istriku... aral dan rintangan dalam kehidupan rumah tangga selaksa ujian kesetiaan, sebagai pematang kesetiaan dalam berumah tangga. ulama’ salaf berpendapat: “Cinta pasangan suami istri yang tanpa diiringi dengan ujian dan cobaan, maka cinta itu ibarat sebuah bangunan yang tinggi terbuat dari batu bata yang dibubuhi jerami, sedangkan ujian dan cobaan seperti api yang didekatkan pada bangunan cinta itu, maka api itu akan mematangkannya” 

Terhadap istriku... 
jangan pernah takut sayang karena aku selalu disisimu.

Terhadap istriku... 
Aku ingin mencintaimu dengan tulus Layaknya malam menyambut sang rembulan.

Terhadap istriku... 
Aku ingin menyayangimu Laksana sang surya yang tak bosa-bosanya menyinari bumi. 

Terhadap istriku... 
Aku merasa puas dengan keberadaanmu sayang, Layaknya aku puas terhadap kehidupan ini.

Terhadap istriku... 
Aku ingin melihat engkau tetap tegar, Setegar mentari yang terbit dari timur dan tenggelam ke barat. 

Terhadap istriku... 
Jangan pernah bosan untuk tetap menyayangiku.

Heee kira-kira...

MUNGKIN INI SAATNYA

 
Mungkin ini saatnya... 
Jiwa ini terikat cinta... 
Tak lagi sekedar mainan... 
Namun sebuah perjanjian,, 
Cinta tulus ini... 
semoga terwujud dalam sebuah akad... 
Ikatan hati tuk saling setia... 
Sehidup semati, satukan jiwa... 
Saat akad terucap... 
Sebagai wujud cinta kita... 
Sepenuh hati ku... 
Resmi jiwa ini ku-serahkan untukmu... 
Sebagai buah akad... 
Sebagai bentuk setia... 
Berjanjilah Sayank,,, 
katakan yang sebenarnya... 
Bahwa kita saling CINTA... I Love U Honey.....

Dia Anugrah Terindah


Ya… Dina namanya,
Dia lembut budi pekertinya,
Dia indah bagai kuntum bunga,
Dia anugerah terindah yang pernah ada.
Parasnya teduhkan jiwa rapuhku,
Tutur katanya sejukkan nadiku,
Senyumnya hiasi taman hatiku,
Dan canda tawanya menghangatkan hidupku.
Dialah kekasih hatiku,
Aku mencintainya,
Aku menyayanginya,
Sepanjang usia.
Kini aku dapat mengenal cinta,
Kini aku mengerti artinya cinta,
Karenanya aku dapat merasakan indahnya cinta,
Dan kini hidupku penuh dengan cinta. Terima kasih Tuhan…
Kau telah kirimkan Dina untukku,
Walau aku tau aku belum tentu memilikinya,
Aku bahagia telah mengenalnya.
Thank you God…