Translate

Sabtu, 11 April 2015

Amar Ma'ruf nahi Munkar dalam Bernegara





الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره علي الدين كله ولو كره الكافرون.
أشهد ان لاإله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
اللهم صل علي سيدنا محمد و علي آله صحبه اجمعين.
أما بعد: فياأيها المسلمون، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فازالمتقون.
قال الله تعالى في القرآن العظيم:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
وقال النبي ص.م :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ


Jama’ah Sidang Jumat Rahimakumullah…
Pada kesempatan yang penuh makna ini, dari atas mimbar ini saya mengajak hadirin sekalian, marilah kita meningkatkan Iman, amal dengan terus melakukan introsfeksi, menghisab diri sendiri sebelum dihisab dihadapan Alloh , apakah selama ini perbuatan kita sudah sejalan dengan tatanan-tatanan agama atau justru jauh dari ketetapan agama jauh dari syari’ah , dalam hal ini introsfeksi sangatlah peting, karna baik dan tidaknya hati seseorang, terkait sering dan tidaknya mereka melakukan introsfeksi. 
 Jama’ah Sidang Jumat Rahimakumullah…
Akhir-akhir ini kita menyaksikan betapa banyak tindak kekerasan atas nama agama terjadi di negeri ini oleh kelompok-kelompok tertentu yang mengusung simbol-simbol ke-Islaman. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tersebut tentu didorong oleh semangat melakukan amar ma’ruf nahi munkar, sebagai bagian dari ajaran Islam. Namun, sayangnya hal itu dilakukan tanpa didasari oleh kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara. 
Aksi-aksi kekerasan tersebut semakin meningkat, ketika otoritas keamanan yang seharusnya memberikan perlindungan kepada setiap warga negara justru kehilangan nyali ketika harus berhadapan dengan massa dari kelompok pelaku aksi kekerasan tersebut. Akibatnya, alih-alih melindungi korban kekerasan, aparat keamanan justru meminta korban kekerasan untuk mengalah dan menghindar. Seolah-olah otoritas keamanan di negeri ini telah ditaklukkan hanya oleh sekelompok orang.
Jama’ah Sidang Jumat yang Berbahagia... Islam memang mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar, seperti dinyatakan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
 Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S: Ali Imran: 104)
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Q.S: Ali Imran: 110)
 Selain kedua ayat di atas, juga terdapat sebuah hadis riwayat Muslim, yang dijadikan dalil tentang ajaran amar ma’ruf nahi munkar, sebagai berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كِلَاهُمَا عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ قَالَ أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ فِي قِصَّةِ مَرْوَانَ وَحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ شُعْبَةَ وَسُفْيَانَ
Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa lagi maka dengan hatinya, dan yang terakhir itu adalah selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim)
Hadirin Rahimakumullah….
 Perlu kita pahami bersama, bahwa ajaran amar ma’ruf nahi munkar tersebut bukan tanpa metode, dan mekanisme yang sesuai dengan tatanan kehidupan masyarakat. Allah swt pun telah mengajarkan bagaimana kita seharusnya melakukan amar ma’ruf nahi munkar, sebagai berikut:
ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S: An-Nahl: 125)
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya). Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S: Ali Imran: 159)
Sementara, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagai bagian warga negara Indonesia, kita pun harus sepenuhnya sadar bahwa bangsa ini bukanlah milik kelompok tertentu, bukan pula hanya milik orang Islam, melainkan bangsa yang dimiliki oleh beragam penduduk, baik dari segi agama maupun suku. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana konsep amar ma’ruf nahi munkar dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara?
Jama’ah Sidang Jumat Rahimakumullah…
Negara Indonesia adalah negara hukum, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 ayat 3 UUD 1945 perubahan ketiga, dalam arti bahwa segala persoalan dan silang sengketa dalam hidup bermasyarakat dan bernegara harus diselesaikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan oleh pemegang otoritas hukum yang sah. Oleh karena itu, dalam negara hukum tidak ditolerir setiap perbuatan main hakim sendiri dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar. Keharusan menyelesaikan perkara oleh otoritas hukum ini juga ditegaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S. An-Nisa: 65)
Kalimat dari ayat di atas yang berbunyi “menjadikan kamu hakim” bukan terbatas kepada pribadi Muhammad Rasulullah saw, melainkan kepada orang/pihak yang diberi otoritas oleh publik untuk menyelesaikan segala perkara secara hukum. Kalau tidak, maka sejak Rasulullah saw meninggal tidak ada lagi yang berhak menyelesaikan sengketa di masyarakat. Nah, orang/pihak yang diberi kewenangan menyelesaikan perkara hukum tersebut dalam istilah fikih disebut dengan ‘qadli’, atau kita biasa menyebutnya dengan ‘hakim’ (Mas’udi, 2011: 52-53).
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah….
Implementasi amar ma’ruf nahi munkar dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan demikian, harus dilakukan melalui mekanisme yang berlaku dengan menghormati otoritas hukum yang berwenang untuk bertindak secara hukum, dan bukannya bertindak sendiri alias main hakim sendiri.
Dalam hal ini, tidak ada kebebasan bagi sembarang orang atau kelompok untuk secara langsung melakukan tindakan kekerasan atas dasar amar ma’ruf nahi munkar, kecuali atas dasar otoritas yang diberikan oleh negara. Otoritas inilah yang dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini dapat dipahami sebagai makna dari “biyadihi/dengan tangan” dalam hadis yang dikutip sebelumnya, tentang anjuran merubah kemungkaran. Selain itu, implementasi amar ma’ruf nahi munkar juga harus didasari dengan penghargaan akan keniscayaan perbedaan dan keragaman yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat bangsa Indonesia yang majemuk. Oleh karenanya, prinsip tasamuh tidak dapat dipisahkan dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan demikian, maka umat muslim Indonesia, sebagai mayoritas di negeri ini, dapat memperkokoh tegaknya negara hukum Indonesia.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Oleh: Ust. Muhamad Isna Wahyudi

Jumat, 10 April 2015

Islam dan Teknologi Imformasi






الحمدلله الذي شرّح صُدُوْرَالمُؤْمِنِيْنَ لِطَاعَتِه, وهَدَاهُمْ اِلَى تَحْكِيْمِ كِتَابِه والعَمْلِ بِه, نَحْمَدُهُ ونَسْتَعِيْنُه ونَسْتَغْفِرُه, ونَعُوْذ ُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا ومِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِى اللهُ فلا مُضِلَّ لَه, ومَن يُضْلِلْ فلا هادِىَ لَه, أشهد أن لا إلهَ إلاّ الله وحده لا شريك له, وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله لانبيَ بعده,
أللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.أما بعد فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون.
 وقال الله تعالى : قالوا سبحانك ما علم لنا إلا ما علمتنا إنك أنت العليم الحكيم.


وقال في آية اُخري : ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Hadirin jama’ah jum’ah Hafidhokumulloh.
Pada kesempatan yang penuh makna ini, dari atas mimbar ini saya mengajak hadirin sekalian, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita. karena sesungguhnya hanya taqwalah yang dapat menghantarkan kita melampaui bulan demi bulan tanpa kurang suatu apapun. karena dengan ketakwan pula segala yang sulit akan menjadi mudah, yang jauh akan terasa dekat.
Takwa dalam arti luas, menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya, diantara sekian banyaknya perintah Allah adalah (memper kokoh Islam dalam menghadapi kemajuan Teknologi Informasi). Hati nurani seorang muslim yang jujur tentu menganggap masalah Teknologi Informasi sebagai hal yang urgen. Maka Pokok pembahasan dalam khutbah kali ini kami fokuskan dalam hal “Islam dalam menghadapi kemajuan Teknologi Informasi.
Hadirin jama’ah jum’ah Hafidhokumulloh
Era global telah menjadikan bumi ini menjadi kampung besar, peristiwa yang terjadi pada hari ini di suatu negeri di belahan dunia akan diketahui serentak oleh seluruh penduduk bumi. Apa yang terjadi di Timur Tengah hari ini pula bisa diketahui di Indonesia.
Arti globalisasi dengan demikian menurut pendapat ahlinya adalah suatu proses fenomena di dunia modern bercirikan adanya peningkatan perdagangan internasional, teknologi informasi, kemajuan transportasi, adanya alat-alat canggih yang seolah mampu melipat jarak dan menerobos waktu.
Selain itu, globalisasi juga bisa membuat orang menjadi mudah dan praktis, mampu membantu pekerjaan manusia, seperti perkembangan dan kemajuan iptek, mempunyai pengaruh signifikan terhadap cara berfikir, bersikap, maupun tingkah laku manusia.
Pada sisi lain, kemajuan iptek justru menimbulkan dampak sampingan yang kurang menguntungkan bahkan mengancam kehidupan mereka, misalnya polusi biologi, kimia, perusakan, distrupsi fisik dan social serta memburuknya sumber tanah atau hutan ada indikasi semakin merosostnya nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana Allah swt berfirman dalam surah Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). 
Ayat ini jelas menjelaskan bahwa terjadinya kerusakan di belahan bumi akibat dari ulah perbuatan manusia.
Hadirin jama’ah jum’ah Hafidhokumulloh
Al Imam As Syafi’i berkata:
من أراد الدنيا فعليه بالعلم ومن أراد الأخرة فعليه بالعلم ومن أرادهما فعليه بالعلم
Barang siapa yang menghendaki dunia, maka ia hanya dapat meraihnya dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki akhirat, maka harus dengan ilmu dan barang siapa yang inginkan kedua-duanya juga harus dengan ilmu
Pernyataan ini memuat pesan moral Rasulullah saw untuk menuntut ilmu sebagai benteng hidup dalam kancah percaturan era globalisasi, di masa tersebut menuntut bekal agar mampu bersaing dan bertahan hidup dalam dunia global.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa masa ini disebut sebagai “peradaban masyarakat informasi” informasi menjadi kebutuhan primer dan bahkan menjadi sumber kekuasaan, sebab informasi dapat mempengaruhi dan mengemdalikan pikiran, sikap dan perilaku manusia. Ada pendapat bahwa siapa yang dapat menguasai informasi dialah pengendali atau penguasa dunia. Dan pertanyaannya apakah ada seorang atau Negara muslim yang menguasai informasi? Jika tidak ada, maka bisa jadi kita terus menjadi bahan pemberitaan yang selalu dipojokkan. Hal ini karena kita sebagai muslim lemah dalam penguasaan teknologi informasi. Berikut saya sebutkan beberapa sisi kelemahan kita sebagai seorang muslim.
Pertama. Islam lemah dalam penguasaan IT (informasi teknologi). Pada era informasi ini, arus informasi dunia dikuasai dan dikendalikan non muslim yang memandang Islam sebagai musuh yang harus dihancurkan. Mereka menggunakan sarana informasi untuk mengangkat isu-isu global dan kepentingan mereka sendiri. Seperti isu HAM, demokrasi, lingkungan hidup, terorisme, jender, syari’at islam, khilafah islamiyah yang semuanya itu dijadikan alat propaganda demi kepentingan mereka.
Sedangkan umat Islam tidak mempunyai media massa yang memadai untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai Islam atau membela kepentingan agama dan umat. Akibatnya yang terjadi tidak tersalurkannya aspirasi umat, umat Islam hanya menjadi konsumen dan rebutan media massa lain yang tidak jarang membawa informasi yang tidak seimbang dan terkadang menyesatkan.
Umat Islam kini dibidik oleh medi massa yang tidak islami. Akibatnya umat dikuasai dan dijejali oleh nilai-nilai, budaya, sekulerisme, materialism, hedonism, kekerasan dan sebagainya. Akibat dari itu, tentunya dapat mempengaruhi pola pokir, sikap, sehingga lambat laun dapat terbentuk karakter muslim yang fanatic.
Hadirin jama’ah jum’ah Hafidhokumulloh
Kedua. adanya pemojokan terhadap Islam, yakni melalui media massanya mereka kaum kafir yang dipelopori oleh Yahudi telah memberitakan hal yang tidak seimbang dan memojokkan islam di dunia internasional. Agar dunia membenci dan memandang negative kepada Islam. Di samping itu media massa kaum kafir gencar menyosialisasikan nilai-nilai, pemikiran, dan budaya mereka ke dunia Islam, agar pola pikir dan gaya hidup umat Muslim bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Mereka menciptakan pendapat umum bahwa Islam dan umatnya sebagai agama berbahaya, intoleran, anti demokrasi, ortodoks, haus darah dan entah apalagi.
Ketiga. Fobia terhadap Islam, yakni adanya pengaruh dari pemberitaan yang terus memojokkan dan mengopinikan Islam mengakibatkan terjadinya fobia terhadap Islam. penyakit ini pernah ditularkan oleh kaum kafir Quraisy. Ketakutan yang menimbulkan rasa benci terhadap Islam yang berasal dari ketidak tahuan mereka tentang Islam. Dan lebih dari itu mereka khawatir dengan Islam sebagai agama yang memiliki potensi mengancam kelangsungan hidup.
Boleh jadi, jika sekarang wajah Islam terkesan menakutkan, di samping karena banyak umat yang tidak melaksanakan Islam secara baik dan benar, juga akibat keberhasilan propaganda kaum Salibis-Zionis  lewat jaringan media massa yang mereka kuasai. Diantaranya dengan mempopulerkan istilah fundamentalis, radikalis, militant, ekstrimis, bahkan teroris. Hal seperti inilah yang membangun citra Islam sebagai agama yang menakutkan.
Oleh karena itu, melalui khotbah ini mari senantiasa kita tingkatkan terus belajar ilmu pengetahuan terutama teknologi informasi dan media massa. Karena keduanya merupakan senjata yang mampu membentuk image agam islam sebagai rahmatan lil alamin. agama yang toleran, cinta damai, sadar HAM.
قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُواْ عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدِّارِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan. (al-An’am 135)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Selasa, 07 April 2015

MENJADIKAN SHALAT SEBAGAI SOLUSI HIDUP





“Tidaklah aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah”


Bicara masalah Ibadah bicara pula masalah Shalat, shalat adalah hal yang menakjubkan karena shalat dapat menyusub keseluruh aspek kehidupan kita. Shalat adalah cahaya yang memancar dari hati seorang mukmin, dengan cahaya inilah Allah membimbing para pendamba ridha-Nya. Ketika hati terselimuti kegelapan, hanya percikan cahaya Ilahi sajalah yang mampu meneranginya. Ketika mata hati telah dibutakan oleh nafsu, dan hasrat telah menguasai jiwa, tak ada lagi yang bisa di tunggu selain kehancuran. Hati hanya bisa di bersihkan dengan cahaya tauhid. Tauhid bisa kita perolih dengan beriman, dengan ketakwaan, dengan melaksanakan perintahnya. Jiwa akan selalu tenang jika selalu conek dengan mengingat Allah. Jika hati telah menjadi suci dan jiwa terbebaskan, maka keduanya akan dapat terbang menuju keharibaan Ilahi Robbi, Dzat Pemilik Tunggal Alam ini.
dan Jarak paling dekat antara PROBLEM dan SOLUSI adalah sejauh jarak antara DAHI dengan LANTAI tempat untuk berSujud. Sebanyak apapun persoalan yang telah membebani hari-hari kita, jika kita mau meluangkan sebentar saja untuk mengambil air wudhu dan lalu menunaikan Shalat, maka tidak ada yang akan tersisa kecuali hanyalah ketenangan hati dan keteduhan jiwa.
Tidaklah Rasulullah dilanda suatu masalah kecuali beliau melaksanakan shalat.
Maka disaat permasalahan hidup menimpa, kebimbangan menerpa dan harus memilih antara dua hal maka shalatlah sebagai solusi yang tepat. Dengan melakukan shalat Istikharah jalan terang akan menanti kita, ketenangan jiwa, kepuasan hati akan kita dapati.
Rasulullah SAW pernah berkata: “Istikharah pasti mendatangkan kebaikan.”
Tatkala kita dalam kenikmatan, maka shalat dhuha sebagai sikap yang tepat untuk menjaga akan kelanggengan nikmat tersebut.

إذا كنتَ فى نِعْمةٍ فارْعَها # إنّ المَعَاصِىَ تُزِيْلُ النِعَمَ

“Apa bila kamu dalam suatu nikmat, maka jagalah, kerana sesungguhnya kedurhakaan dapat menyirnakannya”
Pada saat bahagiapun Alloh memerintahkan untuk menunaikan shalat, sebagai penjaga atas nikmat yang telah Alloh limpahkan, sebagaimana kegembiraan menyambut kemenangan Idul Fitri Alloh memerintahkan hamba-Nya untuk menunaikan shalat dua rakaat.
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra., ia berkata: Ketika Rasulullah saw. bersama kami, tiba-tiba beliau terlena sesaat, kemudian mengangkat kepala beliau sambil tersenyum. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang membuat Anda tertawa? Beliau menjawab: Baru saja satu surat diturunkan kepadaku. Lalu beliau membaca: Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar "nikmat yang banyak". Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.... Al Hadis. (Shahih Muslim No.607)
Sebagai mana Allah setelah memberi nikmat pada Nabi SAW. Allah lalu memerintahkan Nabi SAW untuk melaksanakan shalat, sebagai ungkapan syukur, sebagai penjaga nikmat sekaligus mengharap akan tambahnya nikmat yang lain.
Dalam ayat-Nya, Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Disaat permasalahan hidup menimpa,  dikala kemarau panjang mempersulit turunnya hujan, sementara keberadaan air suatu kebutuhan yang tak dapat dihindari. maka shalat Istisqa lantas menjadi solusi untuk mewujudkan setiap tetesnya.
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid Al-Mazini, bahwasanya ia berkata: Rasulullah keluar menuju tempat salat untuk mengerjakan salat istisqa' (permohonan hujan). Beliau memindahkan selendangnya (rida) ketika menghadap kiblat. (Shahih Muslim No.1486).
Dalam Hadis yang lain yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra. menyebutkan : Bahwa seorang sahabat memasuki mesjid pada hari Jumat dari pintu searah dengan Darulqada. Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang berdiri berkhutbah. Sahabat tersebut menghadap Rasulullah saw. sambil berdiri, lalu berkata: Ya Rasulullah, harta benda telah musnah dan mata penghidupan terputus, berdoalah kepada Allah, agar Dia berkenan menurunkan hujan. Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya dan berdoa: "Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami". Kata Anas: Demi Allah, di langit kami tidak melihat mendung atau gumpalan awan. Antara kami dan gunung tidak ada rumah atau perkampungan (yang dapat menghalangi pandangan kami untuk melihat tanda-tanda hujan). Tiba-tiba dari balik gunung muncul mendung bagaikan perisai. Ketika berada di tengah langit mendung itu menyebar lalu menurunkan hujan. Demi Allah, kami tidak melihat matahari sedikit pun pada hari Jumat berikutnya. Kemudian kata Anas lagi: Pada Jumat berikutnya seseorang datang dari pintu yang telah di sebut di atas ketika Rasulullah saw. sedang berkhutbah. Orang itu menghadap beliau sambil berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, harta-harta telah musnah dan mata pencarian terputus (karena hujan terus menerus), berdoalah agar Allah berkenan menghentikannya. Rasulullah saw. mengangkat tangannya dan berdoa: "Ya Allah, di sekitar kami dan jangan di atas kami. Ya Allah, di atas gunung-gunung dan bukit-bukit, di pusat-pusat lembah dan tempat tumbuh pepohonan". Hujan pun reda dan kami dapat keluar, berjalan di bawah sinar matahari. (Shahih Muslim No.1493)
demikianlah Rasulullah dalam menyikapi setiap permasalahan. Beliau selalu lari pada Tuhannya dengan bermunajah melakukan shalat, Beliau jadikan shalat tersebut sebagai solusi setiap permasalahan hidup.
Sholat Fardhu Lima Waktu jika dilakukan dengan berjama’ah dapat sebagai sarana mempererat tali kasih antar sesama, belum lagi sebagai penghilang keluh-kesah yang dalam diri setiap insan.
Kita juga bisa melakukan Shalat Jum’at sebagai sarana pertemuan mingguan  diantara sesama muslim. Disaat kesibukan kita sehari-hari telah membuat hati kita letih dengan urusan masing-masing, maka Shalat Lima waktu maupun Shalat Jum’at-lah dapat menjawab setiap permasalahan sosial kita.
Alhasil apapun aktivitas yang telah menurunkan semangat dan tenaga kita, ataupun permasalahan sehari yang telah membuat penat diri kita, shalat merupakan sumber energi baru, dan pemecah masalah yang jitu. Kerap kali seseorang ketika tertimpa berbagai persoalan hidup minuman sebagai jalan keluarnya, mereka menganggap minuman dapat menjadi solusi yang peraktis, tentu itu merupakan ansumsi yang salah.
Untuk di ketahui hidup kita berawal dengan adzan saat kita dilahirkan dan akan ditutup dengan shalat jenazah. Kejadian paling akhir dalam kehidupan manusia bahkan diberi nuansa ibadah berupa shalat jenazah, sebagai peringatan bagi yang masih bernafas, supaya kita selalu sadar bahwa kita akan disholatkan disaat ajal menjemput kita.


Wallohu A'lam