Translate

Rabu, 23 April 2014

MUJAHADATUN NAFSI





Mujaahadah adalah modal sukses disetiap medan perjuangan. Dengan kadar mujaahadah inilah dibedakan derajat orang orang muslim kelak disurga, mulai dari derajat ‘Usshooh (ahli maksiat), derajat Ashaabul Yamin, derajat Muqarrabin, sampai dengan derajat Abraar. Pada dasarnya mujaahadah adalah Mujaahadatun Nafsi (kesungguhan diri). Rosululloh saw bersabda:
Mujahid adalah orang yang ber-mujaahadatun Nafsi. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
                Mujaahadatun Nafsi bisa memberi spirit untuk mengegolkan aktivitas, meskipun berat. Sahabat Ummu Kultsum binti   Uqbah bin Abi Muaith hijrah dari Makkah ke Madinah dengan berjalan kaki. Begitu pun dengan Ummu Aiman. Ia berangkat hijrah tanpa bekal, walaupun setetes air minum. Meski dengan kondisi apa adanya, kedua sahabat wanita itu sukses di dalam aktivitasnya, karena keduanya telah mewujudkan di dalam jiwanya sikap Mujaahadatun Nafsi. Dalam hikmah disebutkan:
Dengan kadar apa yang Engkau bekerja keras, Engkau akan peroleh apa yang Engkau cita-citakan.
Dengan bekerja keras akan diperoleh keluhuran, dan barang siapa mencari keluhuran, maka ia terjaga di waktu malam.
                Bagi seorang muslim, Mujaahadah Nafsi pertama yang mesti harus di lakukan adalah mengerjakan amal-amal wajib dan meninggalkan amal-amal yang dilarang, karena ini dasar daripada seorang muslim untuk memasuki surga, berdasarkan hadist:
Seorang Badui datang kepada Rosululloh saw, lalu berkata: "Ya Rosululloh, tunjukkanlah kepadaku amal yang jika aku kerjakan aku masuk surga." Beliau bersabda: "Kamu menyembah kepada Alloh seraya tidak menyekutukan sesuatu pun denganNya; kamu dirikan sholat maktubah(fardhu); kamu tunaikan zakat fardlu; dan kamu berpuasa ramadlan." Ia berkata: "Demi Dzat yang diriku berada di dalam kekuasaanNya, aku tidak akan menambah apapun atas ini selamanya dan aku tidak juga akan menguranginya."  Tatkala Baduwi berpaling, Nabi saw bersabda: "Barang siapa ingin melihat seseorang dari penduduk surga, maka hendaklah ia melihat orang ini." (HR. Muslim, jilid 1hal. 31)
                Dalam hal (mengerjakan amal-amal wajib dan meninggalkan amal-amal yang dilarang), ada yang sifatnya individu, seperti sholat lima waktu, puasa, zakat, serta ada yang sifatnya jama'y seperti Iqaamatul Khilaafah berikut wasilah-wasilahnya. Sebagaimana amal individu tidak layak diabaikan maka tidak layak pula mengabaikan amal yang sifatnya jama'i.  Karena nilai dari amal jama'y tidak kurang dengan nilai dari amal individu. Bahkan di dalam kaidah fiqih disebutkan:
Amal yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain itu lebih afdhol daripada amal yang bermanfaat hanya untuk diri sendiri.
Dengan bergabung bersama Jamaah Dakwah berarti telah ada Mujaahadatun Nafsi untuk ikut memikirkan Iqaamatul Khilafah sekalipun masih dalam tahap mempersiapkan wasilah dan sekalipun berhukum fardhlu kifayah, tetapi ini tidak kalah dengan amal fardlu yang lain, mengingat dibalik itu ada usaha dan kerja untuk memikirkan nasib banyak orang, terlebih sedikit sekali orang yang punya pemikiran dan kemauan demikian pada saat ini. Imam Al Haromain berpendapat:
Bagi orang yang melakukan fardlu kifayah ada kelebihan atas fardlu ain karena orang yang melakukan fardlu kifayah berarti menggugurkan dosa dari banyak orang."
                Setelah masuk Jamaah Dakwah, maka ada satu konsekuensi sikap Mujaahadatun Nafsi , yaitu memikirkan bagaimana Jamaah Dakwah berfungsi secara optimal. Untuk upaya ini, segala potensi (harta dan jiwa) dan keahlian harus disalurkan untuk memperkuat Jamaah Dakwah, dalam kondisi mansyath (giat) maupun kondisi makrah (enggan), sebagaimana dahulu dibaiatkan oleh Rosululloh saw kepada para sahabat.tidak selayaknya ada sikap Ajzun Nafsi (lemah diri) untuk ini, karena sikap itu bisa menimbulkan efek negatif yaitu pasif dan keloyoan. Dan kemandegan aktifitas Jamaah Dakwah akibat Ajzun Nafsi tentu tidak diharapkan. Rosululloh bersabda:
Berikanlah potensimu dan jangan kamu lemah diri. (HR. Abu Dawud, jilid II Hal.123)
Sementara Jamaah Dakwah telah mempunyai sarana-sarana dakwah baik material maupun non-material, maka sebagai bentuk pengejawantahan Mujaahadatun Nafsi, sarana itu mestinya dioptimalkan untuk mendayagunakan peran Jamaah Dakwah dalam kancah perjuangan pergerakan Islam di dunia, seiring dengan terlaksananya progam dan kegiatan yang esensial, seperti qiyamullail bersama, infaq fii sabilillah, pembinaan anggota, perekrutan kader baru, dan lain sebagainya.
Dengan Mujaahadatun Nafsi, mudah-mudahan diri yang bergabung dalam Jamaah dakwah ini mendapatkan ridlo Alloh Subhanahu wata'ala.
Wallohu A’lam


Cinta Sejati





Jika cinta sejati tak jarang hadapi tantangan,
Kumohon
untuk kali ini pada Tuhan agar hal ini tak berlaku pada kisah yang kuperankan,
Bukan ku tidak mampu lewati fase-fase yang ada,
Cinta suci juga
tak selamanya harus menerima penindasan.

Jika cinta sejati seringkali harus diuji dari sebuah kesendirian,
Kumohon kali ini pada Tuhan untuk tidak memberi
padaku ujian,
Bukan ku tidak ingin membuktikan,
Hanya saja kuingin sungguh bahagia
dengannya kurasakan.

Jika cinta sejati kerapkali harus melalui beribu rintangan,
Kumohon kali ini pada Tuhan untuk memberiku sedikit kelapangan,
Bukan ku tidak mau berjuang dan bertahan,
Niat putih juga butuh
saat untuk diwujudkan.

Kumohon pada-Mu Tuhan...

Ya Allah... berikanlah Kami tambahan, dan jangan pernah menguranginya!






Seorang mukmin yang terbina wajib memahami bahwa setiap ibadah memiliki dimensi eksoteris dan esoteris (zhahir dan bathin) atu memiliki kulit dan isi sebagaimana diisyaratkan oleh sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada seorang yang berbuat jelek dalam shalatnya; “Kembalilah melakukan shalat, sebab engkau belum melakukan shalat!” Muttafaq alaih. Juga sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berikut ini: “Betapa banyak seorang yang melakukan Qiyamullail tetapi tidak mendapatkan apapun selain kecapekan dan kepayahan” HR Ahmad.”Betapa banyak orang yang berpuasa dan tidak ada bagian untuknya dari puasa tersebut kecuali lapar dan dahaga”HR Thabarani.
Ulama zhahir menetapkan syarat-syarat zhahir bagi suatu amal ibadah karena keterkaitan syarat-syarat tersebut dengan kemurahan dan kemudahan agama ini. Bagi mereka, yang terpenting adalah segala bentuk beban syariat (Takaalif) bisa mudah dilaksanakan oleh mayoritas orang-orang yang lupa. Jadi fokus perhatian mereka adalah bagaimana ibadah itu sah dan bisa diterima sebagai sebuah amal ibadah. Sementara perhatian ulama bathin terpusat kepada bagaimana ibadah itu bisa diterima dalam arti bisa membawa kepada maksud dan tujuan pokok yang berupa rahasia-rahasia ibadah sebagai buah dari keikhlasan dalam menjalankannya sebagaiman contoh berikut;

1.Rahasia Thaharah;
a)Mensucikan anggota tubuh dari kriminalitas dan dosa-dosa
b)Mensucikan hati dari etika-etika tercela
c)Mensucikan hati dari segala sesuatu selain Allah
Ini semua berdasarkan firman Allah; “ ...Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.QS al Maidah:6. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Bersuci adalah separuh keimanan”HR Turmudzi.

2.Rahasia Shalat;
Shalat disyariatkan sebagai media bermunajat kepada Allah ta’aalaa, menyegarkan kembali dzikir, takbir, ta’zhiim, tahmid dan pujian kepadaNya. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. QS al Baqarah:45-46. Karena itulah Imam al Ghazali rahimahullah berkata: [Shalat menjadi sempurna bila disertai konsentrasi hati (Hudhuur), berusaha memahami makna bacaan, perasaan ta’zhiim, haebah, pengharapan dan rasa malu]
 
3.Rahasia Zakat & Sepadannya
Berakhlak dengan salah satu akhlak Allah berupa rahmat yang seringkali diucapkan oleh lidah setiap muslim, Bismillaahirrahmaanirrahiim. Hal ini memiliki maksud terciptanya suasana saling menyayangi satu dengan yang lain dalam komunitas kaum muslimin meski hanya dengan sedikit kebaikan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam; “Sungguh janganlah kalian meremehkan sedikit apapun kebaikan”HR Abu Dawud. Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya para wali Abdaal umatku tidak masuk surga dengan amal ibadah, tetapi mereka masuk surga hanya karena rahmat Allah, jiwa yang dermawan (lowprofile), hati yang bersih dan kasih sayang kepada seluruh kaum muslimin” (al Mundziri berkata: Hadits Mursal riwayat Ibnu Abi Dun’ya/Kasyful Ghummah hal 54)

4. Rahasia Puasa
a) Berakhlak dengan salah satu akhlak Allah yang berupa shamadiyyah yang memiliki arti dzat yang tidak makan. Abu Amar mengatakan dalam Lisanul Arab: Shamad adalah seorang yang tidak merasakan haus dan lapar di medan peperangan.
b) Menteladani malaikat dalam mencegah diri dari syahwat sebisa mungkin. Atas dasar inilah para ulama membagi puasa menjadi tiga tingkatan;


- Puasa Umum.  Mengekang perut dan kemaluan dari dorongan syahwat
- Puasa Khushush. Menjaga pendengaran, penglihatan,lidah,tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari dosa-dosa
- Puasa Khushuushul khushush. Hati berpuasa dari segala keinginan rendah, pemikiran-pemikiran keduniaan, menjaga hati dari segala hal selain Allah  serta hal-hal lain dari berbagai rahasia ibadah yang menjadi rencana utama terciptanya kita umat manusa di mana hal ini justru sedikit orang yang memahaminya kecuali kelompok al Aarifuun, para pemilik mata hati yang terang benderang. Ini bertolak belakang dengan kondisi orang-orang yang lupa dan orang-orang yang mencampur adukkan kebaikan dan keburukan yang mayoritas keinginan mereka adalah segala sesuatu yang menopang urusan penghidupan, memudahkan mereka memperturutkan syahwat dan kelezatan badan dari urusan makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan biologis serta mengumpulkan dan menyimpan harta benda.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu kesehatan dalam keimanan. Keimanan dalam keindahan budi pekerti. Kebershasilan yang diikuti keberuntungan. Kasih sayang, afiyah, maghfirah dan ridha dariMu. Semoga rahmat ta’zhim selalu tercurah atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya selama orang-orang yang berdzikir mengingatNya dan orang-orang yang lupa melupakanNya.

-والله يتولى الجميع برعايته-

Selasa, 22 April 2014

Kapankah Kita Berbeda untuk Bersatu?




Allah ta’aalaa berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan , tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat…“QS al An’aam:159.

Setelah berpesan melalui RasulNya agar umat ini meniti shirathal mustaqim dan bukan mengikuti berbagai jalan selainnya sebagaimana dalam firmanNya, “dan bahwa  adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan  , karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.  QS al An’aam:153, maka dalam ayat ini Allah memberikan peringatan kepada umat ini tentang apa yang kelak akan mereka alami sebagai satu garis kehidupan berupa tindakan menyia-nyiakan agama, setelah sebelumnya berada di jalan yang benar, yang muncul dalam fenomena perpecahan sekian banyak madzhab, aliran-aliran dan bid’ah-bid’ah di mana hal ini menjadikan mereka terkotak-kotak dalam fanatisme berbagai macam kelompok dan golongan. Akibatnya kebenaran pun lenyap, ikatan persatuan terputus dan persaudaraan seiman berubah menjadi umat yang saling berlawanan dan bermusuhan sebagaimana pernah terjadi pada umat-umat terdahulu. Realitas tersebut dilatar belakangi oleh beberapa hal seperti berikut:

  1. Perebutan Kekuasaan. Ini telah terjadi semenjak akhir pemerintahan Khilafah Ar Rasyidah dan berlanjut hingga masa sekarang.
  2. Fanatik Ras dan Semboyan Kebangsaan
  3. Fanatisme Madzhab dan Aliran dalam dasar-dasar dan cabang-cabang agama sehingga satu sama lain saling mencela.
  4. Berkata tentang agama berdasarkan pendapat
  5. Penyusupan dan rekayasa musuh-musuh agama

Sebagian ahli tafsir generasi terdahulu (Salaf) berpendapat bahwa ayat ini turun terkait ahli kitab yang telah memecah belah agama Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa alaihissalaam serta merubahnya menjadi agama-agama yang berbeda pula dan masing-masing memiliki madzhab-madzhab dan aliran-aliran yang fanatik di mana antara mereka saling memusuhi dan memerangi (bunuh membunuh).

Dua tafsiran ini bisa saja dipadukan karena ayat tersebut mencakup ahli kitab dan kelompok-kelompok dalam kaum muslimin. Jadi ayat tersebut memiliki misi memberikan peringatan (Tahdziir) akan bahaya perpecahan/perbedaan (Tafriiq) yang tidak diperbolehkan (tercela) sebagaimana disebut dalam firman Allah: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,QS Ali Imra:105.

Jadi Tafriiq  yang diperingatkan oleh Allah adalah memisahkan dasar-dasar Islam yang telah menjadi satu kesatuan sebagaimana dilakukan sebagian orang Arab yang menolak mengeluarkan zakat pasca Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat sehingga Abu Bakar ra berkata: “Sungguh aku pasti akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat”. Sementara Tafriiq dalam pendapat, sebab akibat (Ta’liilaat), penjelasan-penjelasan (Tabyiinaat) dan cabang-cabang fiqih maka tidak menjadi masalah.

Akhirnya semua Tafriiq yang tidak menyebabkan sikap saling mengkafirkan (Takfiir), saling memerangi (Taqaatul), berpecah belah dan fitnah maka itu hanyalah sebatasTafriiq dalam pemikiran, pencarian dalil dan usaha maksimal menemukan kebenaran. Sebaliknya Tafriiq yang mengantarkan kepada tindakan Takfiir dan saling menyerang dalam masalah agama maka inilah yang diperingatkan oleh Allah kepada kita untuk dijauhi. Abu Asyur dalam at Tahrirr wa At Tanwiir 8/196 mengatakan: [Adapun perebutan kekuasaan dan harta dunia di kalangan kaum muslimin maka bukan termasuk Tafriiq (perpecahan) dalam agama. Hanya saja  ini termasuk kondisi  yang menjadikan jamaah (persatuan umat) terancam]
Karena itulah suatu keharusan bagi seluruh kelompok untuk berdiri dalam satu barisan demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Tetapi, perselisihan senantiasa terjadi di kalangan mereka. Dari Sa’ad (bin Abi Waqqash) ra bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku memohon kepada Tuhanku agar tidak menghancurkan umatku dengan paceklik. Diapun Mengabulkannya. Dan aku lalu memohon kepadaNya agar tidak Menghancurkan umatku dengan banjir. Dia pun Mengabulkannya. Lalu aku memohon kepadaNya agar tidak Menjadikan perselisihan di antara mereka. (permohonanku) ini ditolak”HR Ibnu Abi Syaibah. (Khashaish al Ummah al Muhammadiyyah hal 42.)
Lalu kapankah kita berbeda agar bisa bersatu? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang harus dibarengi dengan usaha serius dan berat yang dituntun oleh sikap Istiqamah, jiwa dermawan, hati yang bersih dan rahmat kepada umat dengan berbagai macam sarana di mana sarana memiliki hukum sama seperti tujuan.
= والله يتولى الجميع برعايته =

Manfaat Ketaatan dan Bahaya Kemaksiatan bagi Allah







Dari Abu Dzarr al Ghiffari ra dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa Allah Azza wajalla  berfirman: [ Wahai para hambaKu, andai seluruh orang pertama dan terakhir kalian, manusia dan jin kalian menjadi  seperti paling bertaqwanya hati seorang lelaki di antara kalian maka hal itu tidak menambah sedikitpun kekuasaanKu. Wahai para hambaKu, andai seluruh orang pertama dan terakhir kalian, manusia dan jin kalian menjadi  seperti paling jeleknya hati seorang lelaki di antara kalian maka hal itu tidak mengurangi sedikitpun kekuasaanKu…]  (  HR Muslim. Lihat Hadits Arbain nomer 24 )

Atas dasar ini, ibadah yang karenanya manusia diciptakan merupakan; 1) standar untuk mengetahui kadar syukur dan kufurnya. Allah berfirman:  { Ini adalah termasuk anugerah Tuhanku agar Dia menguji apakah aku bersyukur ataukah kufur. Dan barang siapa yang bersyukur maka itu untuk dirinya sendiri dan barang siapa kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya Maha Mulia } ( QS an -Nahl : 40 ), 2) Hubungan ( shilah ) antara dirinya dengan Tuhannya dalam rangka mendekat kepadaNya sebagai isyarat  ketaatan dan sebagai 3) Sarana ( Wasilah ) mendapatkan cintaNya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “ HambaKu tidak berusaha mendekat kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hambaKu selalu berusaha mendekat kepadaKu dengan amal – amal sunnah sehingga Aku Mencintainya…”  ( HR Bukhari )

Imam Nawawi berkata: Kecintaan Allah kepada hambaNya adalah kehendak baikNya untuk hamba tersebut. Karena itu jika Dia Mencintai hambaNya maka Dia menyibukkannya dengan berdzikir kepadaNya, Dia menjaganya dari setan dan memfungsikan anggota tubuhnya dengan ketaatan dan suka akan kebaikan. Hal ini menjadikan hamba tersebut menjaga pandangannya dari hal – hal haram. Ia tidak melihat sesuatu yang tidak halal baginya. Pandangannya adalah pandangan berfikir dan mengambil pelajaran. Ia tidak melihat sesuatu dari ciptaan – ciptaan kecuali menjadikannya sebagai dalil akan wujud Sang Pencipta. Ali ra berkata: Aku tidak melihat sesuatu apapun kecuali aku melihat Allah sebelumnya.

Makna mengambil pelajaran ( I’tibar )  adalah membawa fikiran kepada kesimpulan akan kekuasaan Allah hingga manusia (pemilik fikiran) pun bertasbih, memuji Allah, bertahlil, mensucikan dan mengagungkan Allah. ( dengan demikian ) menjadi- lah seluruh gerak dan aktivitasnya secara keseluruhan karena Allah. Ia tidak berjalan kecuali dalam hal yang berfaedah baginya. Tangannya tidak berbuat sesuatu yang sia - sia.  Sebaliknya, seluruh gerak dan diamnya adalah karena Allah sehingga seluruh yang dilakukannya menjadi bernilai pahala dan ia tidak menganggap remeh sedikit kebaikan. Ini karena tekadnya adalah mencari Ridha Allah yang berarti tidak ada pilihan baginya kecuali harus bersemangat, ikhlash dan serius ( jujur ) sebab penerimaan Allah ( Qabul ) yang menjadikan hal kecil menjadi besar, hal sedikit menjadi banyak dan yang belakangan menjadi terdepan adalah tergantung keseriusan ( kejujuran ) bersama Allah { Itulah anugerah dari Allah dan cukuplah Allah sebagai Dzat Maha Mengetahui } (QS an – Nisa’ : 70 ), bukan Ridha manusia, bahkan dalam suatu saat terpaksa harus menjadikan manusia marah di jalan mencari Ridha Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam : “ Barang siapa mencari ridha Allah dengan kemarahan manusia maka Allah pasti mencukupinya dari ketergantungan kepada manusia. Barang siapa yang mencari ridha manusia dengan kemarahan Allah maka Allah menjadikannya bergantung kepada manusia “( HR Turmudzi, Qudhai dan Ibnu Asakir dengan sanad Hasan ).

Dan dirinya tidak tertipu oleh amal yang telah dilakukan sesuai dengan bisikan do’anya: “ Ya Allah, tidak akan ada orang yang bisa menolak apa yang Engkau berikan dan tak ada seorang pun yang bisa memberi apa yang Engkau cegah. Dan usaha kuat ( dalam ibadah) orang yang giat ( beribadah ) tidak bermanfaat baginya darimu “, tetapi ia senantiasa berharap anugerah dan rahmatNya dan bergembira karena itu. Allah berfirman: { Katakanlah : Dengan anugerah dan rahmat Allah maka karana itulah hendaknya mereka bergemnbira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka usahakan } (QS Yunus : 58).

Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepadaMu
bisa berbuat kebajikan dan menghindari kemungkaran serta mencintai orang - orang miskin.
 Saya memohon agar Engkau mengampuni dan mengasihiku.
Dan saya memohon kepadaMu bisa mencintaiMu, mencintai orang yang mencintaMu
dan mencintai amalan yang mengantarkan kepada kedekatan denganMu. Amin

والله يتولى الجميع برعايته