Translate

Sabtu, 16 Maret 2013

KHUTBAH NIKAH

بسم الله الرحمن الرحيم خطبة النكاح الْحَمْدُ للهِ الْمَحْمُوْدِ بِنِعْمَتِهِ الْمَعْبُوْدِ بِقُدْرَتِهِ الْمُطَاعِ بِسُلْطَانِهِ الْمَرْهُوْبِ مِنْ عَذَابِهِ وَسَطْوَتِهِ النَّافِذِ أَمْرُهُ فِى سَمَائِهِ وَأَرْضِهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ بِقُدْرَتِهِ وَمَيَّـزَهُمْ بِأَحْكَامِهِ وَأَعَزَّهُمْ بِدِيْنِهِ وَأَكْرَمَهُمْ بِنَبِـيِّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَتْ عَظَمَـتُهُ جَعَلَ الْمُصَاهَرَةَ سَبَبًا لاَحِقًا وَأَمْرًا مُفْتَرَضًا أَوْشَجَ بِهِ اْلأَرْحَامَ وَأَلْزَمَ اْلأَنَامَ فَقَالَ عَـزَّ مِنْ قَائِلٍ :[وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشًرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا] فَأَمْرُاللهِ يَجْرِيْ عَلَى قَضَائِهِ وَقَضَاؤُهُ يَجْرِيْ إِلَى قَدَرِهِ وَلِكُلِّ قَضَاءٍ قَدَرٌ وَلِكُلِّ قَدَرٍ أَجَلٌ وَلِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ يَمْحُوْ اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ . 
 إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْـنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِـنَا وَسَيِّـآتِ أَعْمَالِـنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ . أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ . قَالَ الله تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :[يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ] [يَآأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْـبًا] [يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا] أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ الْلأُمُـوْرَ كُلَّهَا بِيَدِ اللهِ يَقْضِيْ فِيْهَا مَا يَشَاءُ وَيَحْكُمُ مَا يُرِيْدُ لاَ مُقَدِّمَ لِمَا أَخَّرَ وَلاَ مُؤَخِّرَ لِمَا قَدَّمَ وَلاَ يَجْتَمِعُ اثْنَانِ وَلاَ يَفْتَرِقَانِ إِلاَّ بِقَضَاءٍ وَقَدَرٍ وَكِتَابٍ مِّنَ اللهِ قَدْ سَبَقَ .أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ . أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّوْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ (3x) أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ (3x) . آمَـنَّا بِالشَّرِيْعَةِ وَصَدَّقْـنَا بِالشَّرِيْعَةِ وَتَبَـرَّأْنَا مِنْ كُلِّ دِيْنٍ يُخَالِفُ دِيْنَ اْلإِسْلاَمِ 


Khutbah Nikah Segala puji hanya milik Allah Dzat yang terpuji karena nikmatNya , yang disembah karena kuasaNya, yang ditaati karena kekuasaanNya, yang ditakuti akan siksa dan balasanNya , yang lestari perintahNya di langit dan di bumiNya. Dia lah dzat yang menciptakan makhluk dengan kuasaNya, yang mengistimewakan mereka dengan hukum-hukumNya, yang mengagungkan mereka dengan agamaNya dan yang memuliakan mereka dengan nabiNya shallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya Allah Maha Baik NamaNya dan Maha tinggi keagunganNya telah menjadikan hubungan mushaharah sebagai sebab berkelanjutan dan urusan yang diwajibkan. Dengannya Allah memperbanyak ranting-ranting pohon keluargai dan menetapkan (eksistensi) manusia. Maka Allah Maha Agung firmanNya berfirman: “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa”QS al Furqan:54. Maka urusan Allah berjalan di atas qadha’Nya dan qadha’Nya berjalan menuju qadarNya. Setiap qadha’ memiliki qadar dan setiap qadar memiliki ajal dan seluruh ajal memiliki tulisan (kitab). Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisiNya ada Ummul Kitab. Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kami memohon pertolongan dan ampunan dariNya. Kami memohon perlindungan Allah dari keburukan-keburukan diri kami dan kejelekan-kejelekan amal-amal kami. Barang siapa ditunjukkan Allah maka tak ada siapapun yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah maka tak ada siapapun yang bisa menunjukkannya. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dzat Maha Esa tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusanNya shallallahu alaihi wasallam wa alaa aalihi wa ash haabihii. Allah ta’aalaa berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” QS Ali Imran:102. “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”QS An Nisa’:1. ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. QS al Ahzaab:70-71. Amma ba’du Sesungguhnya seluruh urusan berada di tangan Allah. Dia membuat keputusan di dalamnya dan memberikan hukum sesuai kehendak dan kemauanNya. Tiada siapapun bisa memajukan apa yang Dia akhirkan dan tak ada siapapun yang mampu mengakhirkan apa yang Dia majukan. Dan dua orang tak akan berkumpul atau berpisah kecuali dengan qadha’ dan qadar dan tulisan yang terdahulu dari Allah. Aku mengucapkan ucapan ini dan aku memohon ampunan Allah Maha Agung untuk diriku dan diri kalian dan bagi seluruh kaum muslimin muslimat, maka mohonlah ampunan kepadaNya karena sesunguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Saya memohon ampunan Allah Maha Agung Dzat yang tiada Tuhan selainNya, Maha Hidup dan Maha mengurus segalanya. Dan aku bertaubat kepadaNya (3x) Saya bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi sesungguhnya Muhammad utusan Allah (3x) Kami beriman dengan syariat. Kami membenarkan syariat. Dan kami berlepas diri dari seluruh agama yang berbeda dengan agama Islam.

خطبة النكاح 

للشيخ محمد خليل البنكلاني


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا، فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا، خَلَقَ آدَمَ ثُمَّ خَلَقَ زَوْجَهُ حَوَّاءَ مِنْ ضِلْعٍ مِنْ أَضْلَاعِهِ الْيُسْرَى، فَلَمَّا سَكَنَ إِلَيْهَا قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: مَهْ يَا آدَمُ حَتَّى تُؤَدِّيَ لَهَا مَهْرًا. قَالَ: وَمَا مَهْرُهَا؟ قَالُوا: أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَإِمَامِ الْمُرْسَلِينَ. فَوَفَّى الْمَهْرَ، وَخَطَبَ الْأَمِينُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَزَوَّجَهَا لَهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ، وَشَهِدَ لَهُ إِسْرَافِيلُ وَمِيكَائِيلُ وَبَعْضُ الْمُقَرَّبِينَ بِدَارِ السَّلَامِ، فَصَارَ ذَلِكَ سُنَّةً فِي أَوْلَادِهِ عَلَى تَعَاقُبِ السِّنِينَ.

أَحْمَدُهُ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا، وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، وَأَشْكُرُهُ أَنْ جَعَلَكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ بِالتَّنَاسُلِ الَّذِي أَصْلُ كُلِّ نِعْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُبْدِعُ نِظَامِ الْعَالَمِ عَلَى أَكْمَلِ حِكْمَةٍ، لَا إِلَهَ إِلَّا تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَمُجْتَبَاهُ، الْقَائِلُ: «حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ»، وَقَالَ: «يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ»، فَطُوبَى لِمَنْ أَقَرَّ بِذَلِكَ عَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ النِّكَاحَ مِنَ السُّنَنِ الْمَرْغُوبَةِ الَّتِي عَلَيْهَا مَدَارُ الِاسْتِقَامَةِ، إِذْ مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ كَمُلَ نِصْفُ دِينِهِ كَمَا أَخْبَرَ بِذَالِكَ الْحَبِيبُ الْمَبْعُوثُ مِنْ تِهَامَةَ، وَقَالَ: «تَنَاكَحُوا تَنَاسَلُوا فَإِنِّي مُبَاهٍ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»، وَقَدْ حَثَّ عَلَيْهِ الْمَنَّانُ بِقَوْلِهِ: ﴿وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ﴾.

وَهَذَا عَقْدٌ مُبَارَكٌ مَيْمُونٌ، وَاجْتِمَاعٌ يُرْجَى حُصُولُ الْخَيْرِ بِهِ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ الَّذِي إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِوَالِدَيَّ وَوَالِدِيكُمْ، وَمَشَايِخِي وَمَشَايِخِكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


أَجَازَنِي هَذِهِ الْخُطْبَةَ الشَّيْخُ مَأْمُونُ مُخْتَارُ الْحَاجِينِيُّ، كَمَا أَجَازَهَا وَقَرَأَهَا جُلُّ عُلَمَاءِ حَاجِينَ، أَمْثَالُ الشَّيْخِ مُحَمَّدِ أَحْمَدَ سَهْلٍ مَحْفُوظٍ، وَالشَّيْخِ مُحَمَّدِ نَافِعٍ بْنِ الشَّيْخِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشَّيْخِ عَبْدِ السَّلَامِ الْحَاجِينِيِّ.


الْفَقِيرُ زُلْفَى مُصْطَفَى بْنُ مُقَرَّبِينَ يُوسُفَ.


Segala puji bagi Allah yang menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya memiliki hubungan nasab dan pernikahan. Dia menciptakan Adam, kemudian menciptakan istrinya Hawa dari salah satu tulang rusuk kirinya. Ketika Adam merasa tenteram kepadanya, para malaikat berkata: “Wahai Adam, tunggulah sampai engkau menunaikan maharnya.” Ia bertanya: “Apa maharnya?” Mereka menjawab: “Engkau bershalawat kepada Muhammad, penutup para nabi dan imam para rasul.” Maka ia pun menunaikan mahar tersebut. Malaikat Jibril yang terpercaya berkhutbah (menjadi wali/pengucap akad), dan Allah Raja Yang Maha Suci lagi Maha Sejahtera menikahkannya atas dasar itu. Disaksikan oleh Israfil, Mikail, dan sebagian malaikat yang didekatkan di negeri keselamatan. Maka hal itu menjadi sunnah bagi keturunannya sepanjang zaman.

Aku memuji-Nya yang telah menciptakan bagi kalian pasangan dari diri kalian sendiri agar kalian merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang. Aku bersyukur kepada-Nya yang menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku melalui keturunan yang menjadi asal setiap nikmat.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, yang menciptakan tatanan alam dengan hikmah yang paling sempurna. Tiada Tuhan selain Allah, Maha Suci Allah Tuhan semesta alam.

Dan aku bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad adalah hamba dan pilihan-Nya, yang bersabda:
“Dijadikan aku mencintai dari dunia kalian: wanita dan wewangian, dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.”
Dan beliau juga bersabda: “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu, maka hendaklah ia menikah.” Maka beruntunglah orang yang dengan itu menyenangkan hati Rasulullah ﷺ beserta keluarga, sahabat dan para tabi’in.
Amma ba'du: Sesungguhnya pernikahan termasuk sunnah yang sangat dianjurkan, yang menjadi poros tegaknya istiqamah. Barang siapa menikah, maka sungguh telah sempurna separuh agamanya, sebagaimana dikabarkan oleh sang Kekasih yang diutus dari Tihamah. Dan beliau bersabda: “Menikahlah kalian dan perbanyaklah keturunan, karena aku berbangga dengan kalian di hadapan umat-umat pada hari kiamat.” Dan Allah Yang Maha Pemberi karunia telah menganjurkannya dengan firman-Nya: “Nikahkanlah orang-orang yang belum menikah di antara kalian dan orang-orang yang saleh.”

Ini adalah akad yang penuh berkah dan membawa kebaikan, serta pertemuan yang diharapkan menghasilkan kebaikan, insya Allah — Tuhan yang apabila menghendaki sesuatu hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.

Aku mengatakan perkataanku ini dan memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian, untuk kedua orang tuaku dan orang tua kalian, untuk guru-guruku dan guru-guru kalian, serta untuk seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Al-Faqir: Zulfā Musthafa bin Muqarrabin Yusuf.

Khutbah ini diijazahkan kepadaku oleh Syekh Ma’mun Mukhtar Al-Kajeni, sebagaimana juga diijazahkan dan dibaca oleh banyak ulama Kajen seperti Syekh Muhammad Ahmad Sahl Mahfudz dan Syekh Muhammad Nafi’ bin Syekh Abdullah bin Syekh Abdul Salam Al-Kajeni.



Takhrij hadits-hadits yang disebut dalam khutbah


1. Hadits:

«حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ»

Takhrij:

  • Diriwayatkan oleh Ahmad ibn Hanbal dalam Al-Musnad

  • Juga oleh An-Nasa'i dalam As-Sunan

  • Dan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak

Derajat Hadits:

  • Dishahihkan oleh Al-Hakim

  • Disepakati kesahihannya oleh Adh-Dhahabi

Statusnya: Shahih


2. Hadits:

«يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ...»

Lafaz lengkapnya:

«يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ...»

Takhrij:

  • Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5066)

  • Dan Muslim ibn al-Hajjaj (no. 1400)

Derajat:
✔ Muttafaq ‘alaih (Shahih tanpa keraguan)


3. Hadits:

«تَنَاكَحُوا تَنَاسَلُوا فَإِنِّي مُبَاهٍ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

Dalam riwayat lain:

«تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ»

Takhrij:

  • Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2050)

  • An-Nasa'i

  • Ahmad ibn Hanbal

Derajat:

  • Dishahihkan oleh Ibn Hibban

Statusnya: Shahih


4. Hadits:

«مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ دِينِهِ...»

Lafaz lengkap:

«مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ دِينِهِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي»

Takhrij:

  • Diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi dalam Syu‘ab al-Iman

  • At-Tabarani dalam Al-Mu‘jam al-Awsath

Derajat:

  • Sebagian ulama menilainya hasan li ghairihi

Statusnya: Hasan (memiliki penguat)


5. Riwayat tentang Mahar Nabi Adam adalah shalawat kepada Nabi ﷺ

Bagian khutbah:

أن مهر حواء كان الصلاة على محمد ﷺ

⚠ Takhrij & Status:

  • Riwayat ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu‘tabar seperti Shahih Bukhari, Muslim, Sunan Arba‘ah, Musnad Ahmad, dll.

  • Disebutkan dalam sebagian kitab kisah dan riwayat isra’iliyyat.

  • Para ulama hadits menilai kisah ini tidak memiliki sanad shahih.

Statusnya:
❌ Tidak tsabit sebagai hadits marfu‘ yang sahih
Paling jauh: atsar atau kisah tanpa sanad kuat.


Penjelasan syarah (ulasan) dari para imam besar terhadap hadits-hadits nikah


1. Hadits: «يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ...»

📖 Sumber

Muttafaq ‘alaih (Al-Bukhari & Muslim ibn al-Hajjaj)


✦ Penjelasan An-Nawawi

Dalam Syarh Shahih Muslim, beliau menjelaskan:

Makna “الباءة”

An-Nawawi menyebutkan dua tafsiran ulama:

  1. Kemampuan jimak (kemampuan biologis)

  2. Kemampuan nafkah (biaya pernikahan)

Beliau menyimpulkan bahwa makna yang paling kuat adalah mencakup keduanya, karena orang yang tidak mampu secara finansial biasanya juga kesulitan menjaga diri.

Hukum menikah

Menurut beliau:

  • Jika seseorang takut terjerumus ke zina → wajib menikah

  • Jika tidak → sunnah muakkadah

Beliau menegaskan:

فيه الأمر بالنكاح لمن استطاعه، وهو عندنا مستحب، وقد يجب على من يخاف الزنا

✦ Penjelasan Ibn Hajar

Dalam Fath al-Bari, Ibn Hajar menjelaskan:

  • Perintah dalam hadits ini menunjukkan anjuran kuat

  • Hikmah nikah:

    • أَغَضُّ لِلْبَصَرِ → lebih menundukkan pandangan

    • أَحْصَنُ لِلْفَرْجِ → lebih menjaga kehormatan

Beliau juga menjelaskan bahwa perintah puasa bagi yang belum mampu adalah bentuk pengganti sementara (بدل مؤقت) sampai mampu menikah.


2. Hadits: «تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ...»

(riwayat Abu Dawud)


✦ Penjelasan Ulama (diringkas dari syarah para muhaddits)

Makna:

  • الودود → wanita yang penuh kasih

  • الولود → wanita yang subur

Hikmahnya:

  • Memperbanyak umat Nabi ﷺ

  • Menunjukkan kemuliaan umat Islam pada hari kiamat

Ibn Hajar menjelaskan dalam pembahasan nikah di Fath al-Bari bahwa membanggakan jumlah umat bukan sekadar kuantitas, tetapi karena:

كثرة الصالحين من أمته

Yakni banyaknya orang shalih dari umat beliau.


3. Hadits: «حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُم...»


✦ Penjelasan Ulama

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan:

  1. Islam tidak menolak fitrah

  2. Cinta kepada istri bukan tanda kelemahan ruhani

  3. Namun tetap ditutup dengan:
    “وجعلت قرة عيني في الصلاة”

Ibn Hajar menjelaskan bahwa urutan ini menunjukkan:

  • Hal-hal duniawi boleh dicintai

  • Tetapi kedudukan ibadah (shalat) tetap paling tinggi


4. Hadits: «مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ دِينِهِ»


✦ Penjelasan Ulama

Makna “setengah agama” dijelaskan sebagai:

  • Sebagian besar godaan manusia berasal dari syahwat

  • Nikah menjaga setengah terbesar pintu fitnah

Sebagian ulama menjelaskan bahwa:

  • Agama terbagi dua: menjaga kemaluan & menjaga lisan

  • Nikah membantu menutup salah satunya


5. Catatan Penting dari An-Nawawi

Dalam pembahasan nikah, An-Nawawi menegaskan:

النكاح سنة مؤكدة عند جماهير العلماء

“Pernikahan adalah sunnah muakkadah menurut jumhur ulama.”

Dan beliau membantah kelompok zuhud ekstrem yang meninggalkan nikah dengan alasan ibadah, karena Nabi ﷺ sendiri menikah.


Pembahasan fiqh 4 madzhab tentang hukum khutbah nikah dan isinya

APA ITU KHUTBAH NIKAH

Khutbah nikah adalah khutbah singkat sebelum akad yang berisi:

  • Hamdalah

  • Syahadat

  • Shalawat

  • Wasiat taqwa

  • Ayat atau hadits tentang nikah


Dalil umumnya adalah khutbah yang diajarkan Nabi ﷺ yang dikenal sebagai Khutbatul Hājah.

Haditsnya diriwayatkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, dan juga oleh Abu Dawud serta At-Tirmidhi.


HUKUM KHUTBAH NIKAH MENURUT 4 MADZHAB


1. Madzhab Hanafi

Tokoh rujukan: Abu Hanifa

Hukum:

Sunnah (mustahabb)
Bukan rukun dan bukan syarat sah akad.

Akad tetap sah walau tanpa khutbah.

Keterangan:

Dalam literatur Hanafi disebutkan bahwa khutbah adalah bentuk:

إظهار لشرف العقد

Menampakkan kemuliaan akad.


2. Madzhab Maliki

Tokoh rujukan: Malik ibn Anas

Hukum:

Mandub / Sunnah

Tidak termasuk rukun.

Jika ditinggalkan → tidak membatalkan akad.

Malikiyyah menekankan bahwa inti nikah adalah:

  • Ijab

  • Qabul

  • Wali

  • Saksi

Khutbah hanya penyempurna.


3. Madzhab Syafi’i

Tokoh rujukan: Muhammad ibn Idris al-Shafi'i

Hukum:

Sunnah muakkadah

Disebutkan oleh para ulama Syafi’iyyah seperti An-Nawawi bahwa khutbah nikah dianjurkan sebelum akad.

Namun:

  • Tidak wajib

  • Tidak mempengaruhi sah akad

Imam Nawawi menyatakan bahwa khutbah nikah:

سنة عند عقد النكاح


4. Madzhab Hanbali

Tokoh rujukan: Ahmad ibn Hanbal

Hukum:

Mustahabb (sunnah)

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyebutkan:

  • Dianjurkan membaca khutbah sebelum akad

  • Tidak wajib

Akad tetap sah tanpa khutbah.



Ijma' Praktis : Khutbah Nikah Bukan Rukun dan Bukan Syarat Sah Akad


Isi yang disunnahkan 

Para ulama menyebutkan isi minimal yang dianjurkan:

1. Hamdalah

الحمد لله

2. Dua Kalimat Syahadat

3. Shalawat kepada Nabi ﷺ

4. Wasiat Taqwa

Biasanya dengan ayat:

  • QS. An-Nisa:1

  • QS. Ali Imran:102

  • QS. Al-Ahzab:70–71

Ini diambil dari hadits khutbatul hajah.


Apakah Harus Menggunakan Redaksi Tertentu?

Mayoritas ulama mengatakan:

  • Tidak wajib lafaz tertentu

  • Tidak harus bahasa Arab

  • Tidak harus panjang

Selama mengandung makna pujian dan taqwa.


Bagaimana Dengan Kisah Adam & Mahar Shalawat?

Keempat madzhab tidak mensyaratkan isi kisah tertentu dalam khutbah nikah.

Bahkan:

  • Jika khutbah mengandung riwayat yang tidak shahih, hukumnya makruh jika diyakini sebagai hadits sahih.

  • Namun tidak membatalkan akad.


Ringkasan Fiqh

  1. Khutbah nikah = sunnah menurut seluruh madzhab.

  2. Tidak mempengaruhi sahnya akad.

  3. Isi terbaik = khutbatul hajah.

  4. Tidak wajib bahasa Arab.

  5. Tidak ada batasan panjang tertentu.



⚖ Catatan Fiqh 4 Madzhab

Para imam madzhab seperti:

  • Abu Hanifa

  • Malik ibn Anas

  • Muhammad ibn Idris al-Shafi'i

  • Ahmad ibn Hanbal

Sepakat bahwa:

✔ Harus ada ijab dan qabul
✔ Harus jelas menunjukkan akad nikah
✔ Harus bersambung (tidak terputus lama)
✔ Didengar saksi

Tidak disyaratkan harus bahasa Arab, tetapi bahasa Arab adalah yang paling utama.


Contoh Lengkap (Simulasi)

Misal:

  • Nama perempuan: Aisyah binti Abdullah

  • Mahar: 10 gram emas dibayar tunai

🔹 Wali:

زَوَّجْتُكَ وَأَنْكَحْتُكَ ابْنَتِي عَائِشَةَ بِنْتَ عَبْدِ اللَّهِ بِصَدَاقٍ قَدْرُهُ عَشْرَةُ غِرَامَاتٍ مِنَ الذَّهَبِ نَقْدًا

🔹 Suami:

قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيجَهَا بِالصَّدَاقِ الْمَذْكُورِ نَقْدًا لِلَّهِ تَعَالَى


⚖ Catatan Penting Sesuai Praktik KUA

  1. Harus satu majelis (tidak terputus lama).

  2. Lafadz harus jelas (tidak boleh bercanda).

  3. Tidak boleh ada syarat yang membatalkan.

  4. Harus disaksikan minimal dua saksi laki-laki.

  5. Jawaban qabul tidak boleh ragu atau tertunda.


Tambahan

Secara praktik di KUA Indonesia, akad biasanya dilakukan dalam bahasa Indonesia agar tidak terjadi kesalahan lafadz. Bahasa Arab tetap sah, tetapi harus benar dan tidak keliru.



Syarat Sighat Menurut Syafi’iyyah

  1. Ijab dan qabul harus satu majelis.

  2. Tidak boleh ada jeda panjang.

  3. Tidak boleh digantungkan syarat yang merusak.

  4. Lafadz harus didengar saksi.

  5. Harus sesuai antara ijab dan qabul.


Contoh Format Lengkap Klasik Syafi’i

🔹 Wali:

زَوَّجْتُكَ ابْنَتِي عَائِشَةَ بِنْتَ عَبْدِ اللَّهِ عَلَى صَدَاقٍ قَدْرُهُ عَشَرَةُ دَنَانِيرَ

🔹 Suami:

قَبِلْتُ نِكَاحَهَا عَلَى الصَّدَاقِ الْمَذْكُورِ


Catatan Penting

Dalam madzhab Syafi’i:

  • Tidak disyaratkan menyebut mahar dalam akad (boleh disebut, boleh tidak).

  • Tidak wajib bahasa Arab jika kedua pihak tidak mampu.

  • Yang penting ada lafadz nikah/tazwij yang jelas.


Catatan Penting Menurut Madzhab Syafi’i


Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Syafi’iyyah seperti Muhammad ibn Idris al-Shafi'i dan disyarah dalam Fath al-Qarib karya Ibn Qasim al-Ghazzi:

✔ Harus menggunakan lafadz zawwajtuka atau ankahtuka
✔ Tidak sah dengan lafadz sindiran
✔ Harus satu majelis
✔ Harus ada dua saksi
✔ Qabul tidak boleh terpisah lama dari ijab



Tidak ada komentar: