الْحَمْدُ للهِ الْمَحْمُوْدِ بِنِعْمَتِهِ الْمَعْبُوْدِ بِقُدْرَتِهِ الْمُطَاعِ بِسُلْطَانِهِ الْمَرْهُوْبِ مِنْ عَذَابِهِ وَسَطْوَتِهِ النَّافِذِ أَمْرُهُ فِى سَمَائِهِ وَأَرْضِهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ بِقُدْرَتِهِ وَمَيَّـزَهُمْ بِأَحْكَامِهِ وَأَعَزَّهُمْ بِدِيْنِهِ وَأَكْرَمَهُمْ بِنَبِـيِّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَتْ عَظَمَـتُهُ جَعَلَ الْمُصَاهَرَةَ سَبَبًا لاَحِقًا وَأَمْرًا مُفْتَرَضًا أَوْشَجَ بِهِ اْلأَرْحَامَ وَأَلْزَمَ اْلأَنَامَ فَقَالَ عَـزَّ مِنْ قَائِلٍ :[وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشًرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا] فَأَمْرُاللهِ يَجْرِيْ عَلَى قَضَائِهِ وَقَضَاؤُهُ يَجْرِيْ إِلَى قَدَرِهِ وَلِكُلِّ قَضَاءٍ قَدَرٌ وَلِكُلِّ قَدَرٍ أَجَلٌ وَلِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ يَمْحُوْ اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ . خطبة النكاح
للشيخ محمد خليل البنكلاني
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا، فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا، خَلَقَ آدَمَ ثُمَّ خَلَقَ زَوْجَهُ حَوَّاءَ مِنْ ضِلْعٍ مِنْ أَضْلَاعِهِ الْيُسْرَى، فَلَمَّا سَكَنَ إِلَيْهَا قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: مَهْ يَا آدَمُ حَتَّى تُؤَدِّيَ لَهَا مَهْرًا. قَالَ: وَمَا مَهْرُهَا؟ قَالُوا: أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَإِمَامِ الْمُرْسَلِينَ. فَوَفَّى الْمَهْرَ، وَخَطَبَ الْأَمِينُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَزَوَّجَهَا لَهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ، وَشَهِدَ لَهُ إِسْرَافِيلُ وَمِيكَائِيلُ وَبَعْضُ الْمُقَرَّبِينَ بِدَارِ السَّلَامِ، فَصَارَ ذَلِكَ سُنَّةً فِي أَوْلَادِهِ عَلَى تَعَاقُبِ السِّنِينَ.
أَحْمَدُهُ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا، وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، وَأَشْكُرُهُ أَنْ جَعَلَكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ بِالتَّنَاسُلِ الَّذِي أَصْلُ كُلِّ نِعْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُبْدِعُ نِظَامِ الْعَالَمِ عَلَى أَكْمَلِ حِكْمَةٍ، لَا إِلَهَ إِلَّا تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَمُجْتَبَاهُ، الْقَائِلُ: «حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ»، وَقَالَ: «يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ»، فَطُوبَى لِمَنْ أَقَرَّ بِذَلِكَ عَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ النِّكَاحَ مِنَ السُّنَنِ الْمَرْغُوبَةِ الَّتِي عَلَيْهَا مَدَارُ الِاسْتِقَامَةِ، إِذْ مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ كَمُلَ نِصْفُ دِينِهِ كَمَا أَخْبَرَ بِذَالِكَ الْحَبِيبُ الْمَبْعُوثُ مِنْ تِهَامَةَ، وَقَالَ: «تَنَاكَحُوا تَنَاسَلُوا فَإِنِّي مُبَاهٍ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»، وَقَدْ حَثَّ عَلَيْهِ الْمَنَّانُ بِقَوْلِهِ: ﴿وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ﴾.
وَهَذَا عَقْدٌ مُبَارَكٌ مَيْمُونٌ، وَاجْتِمَاعٌ يُرْجَى حُصُولُ الْخَيْرِ بِهِ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ الَّذِي إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِوَالِدَيَّ وَوَالِدِيكُمْ، وَمَشَايِخِي وَمَشَايِخِكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
أَجَازَنِي هَذِهِ الْخُطْبَةَ الشَّيْخُ مَأْمُونُ مُخْتَارُ الْحَاجِينِيُّ، كَمَا أَجَازَهَا وَقَرَأَهَا جُلُّ عُلَمَاءِ حَاجِينَ، أَمْثَالُ الشَّيْخِ مُحَمَّدِ أَحْمَدَ سَهْلٍ مَحْفُوظٍ، وَالشَّيْخِ مُحَمَّدِ نَافِعٍ بْنِ الشَّيْخِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشَّيْخِ عَبْدِ السَّلَامِ الْحَاجِينِيِّ.
الْفَقِيرُ زُلْفَى مُصْطَفَى بْنُ مُقَرَّبِينَ يُوسُفَ.
Segala puji bagi Allah yang menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya memiliki hubungan nasab dan pernikahan. Dia menciptakan Adam, kemudian menciptakan istrinya Hawa dari salah satu tulang rusuk kirinya. Ketika Adam merasa tenteram kepadanya, para malaikat berkata: “Wahai Adam, tunggulah sampai engkau menunaikan maharnya.” Ia bertanya: “Apa maharnya?” Mereka menjawab: “Engkau bershalawat kepada Muhammad, penutup para nabi dan imam para rasul.” Maka ia pun menunaikan mahar tersebut. Malaikat Jibril yang terpercaya berkhutbah (menjadi wali/pengucap akad), dan Allah Raja Yang Maha Suci lagi Maha Sejahtera menikahkannya atas dasar itu. Disaksikan oleh Israfil, Mikail, dan sebagian malaikat yang didekatkan di negeri keselamatan. Maka hal itu menjadi sunnah bagi keturunannya sepanjang zaman.
Aku memuji-Nya yang telah menciptakan bagi kalian pasangan dari diri kalian sendiri agar kalian merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang. Aku bersyukur kepada-Nya yang menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku melalui keturunan yang menjadi asal setiap nikmat.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, yang menciptakan tatanan alam dengan hikmah yang paling sempurna. Tiada Tuhan selain Allah, Maha Suci Allah Tuhan semesta alam.
Dan aku bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad adalah hamba dan pilihan-Nya, yang bersabda:
“Dijadikan aku mencintai dari dunia kalian: wanita dan wewangian, dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.”
Dan beliau juga bersabda: “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu, maka hendaklah ia menikah.” Maka beruntunglah orang yang dengan itu menyenangkan hati Rasulullah ﷺ beserta keluarga, sahabat dan para tabi’in.
Amma ba'du: Sesungguhnya pernikahan termasuk sunnah yang sangat dianjurkan, yang menjadi poros tegaknya istiqamah. Barang siapa menikah, maka sungguh telah sempurna separuh agamanya, sebagaimana dikabarkan oleh sang Kekasih yang diutus dari Tihamah. Dan beliau bersabda: “Menikahlah kalian dan perbanyaklah keturunan, karena aku berbangga dengan kalian di hadapan umat-umat pada hari kiamat.” Dan Allah Yang Maha Pemberi karunia telah menganjurkannya dengan firman-Nya: “Nikahkanlah orang-orang yang belum menikah di antara kalian dan orang-orang yang saleh.”
Ini adalah akad yang penuh berkah dan membawa kebaikan, serta pertemuan yang diharapkan menghasilkan kebaikan, insya Allah — Tuhan yang apabila menghendaki sesuatu hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.
Aku mengatakan perkataanku ini dan memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian, untuk kedua orang tuaku dan orang tua kalian, untuk guru-guruku dan guru-guru kalian, serta untuk seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Al-Faqir: Zulfā Musthafa bin Muqarrabin Yusuf.
Khutbah ini diijazahkan kepadaku oleh Syekh Ma’mun Mukhtar Al-Kajeni, sebagaimana juga diijazahkan dan dibaca oleh banyak ulama Kajen seperti Syekh Muhammad Ahmad Sahl Mahfudz dan Syekh Muhammad Nafi’ bin Syekh Abdullah bin Syekh Abdul Salam Al-Kajeni.
Takhrij hadits-hadits yang disebut dalam khutbah
1. Hadits:
«حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ»
Takhrij:
Diriwayatkan oleh Ahmad ibn Hanbal dalam Al-Musnad
Juga oleh An-Nasa'i dalam As-Sunan
Dan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak
Derajat Hadits:
Dishahihkan oleh Al-Hakim
Disepakati kesahihannya oleh Adh-Dhahabi
Statusnya: Shahih
2. Hadits:
«يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ...»
Lafaz lengkapnya:
«يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ...»
Takhrij:
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5066)
Dan Muslim ibn al-Hajjaj (no. 1400)
Derajat:
✔ Muttafaq ‘alaih (Shahih tanpa keraguan)
3. Hadits:
«تَنَاكَحُوا تَنَاسَلُوا فَإِنِّي مُبَاهٍ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
Dalam riwayat lain:
«تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ»
Takhrij:
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2050)
An-Nasa'i
Ahmad ibn Hanbal
Derajat:
Dishahihkan oleh Ibn Hibban
Statusnya: Shahih
4. Hadits:
«مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ دِينِهِ...»
Lafaz lengkap:
«مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ دِينِهِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي»
Takhrij:
Diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi dalam Syu‘ab al-Iman
At-Tabarani dalam Al-Mu‘jam al-Awsath
Derajat:
Sebagian ulama menilainya hasan li ghairihi
Statusnya: Hasan (memiliki penguat)
5. Riwayat tentang Mahar Nabi Adam adalah shalawat kepada Nabi ﷺ
Bagian khutbah:
أن مهر حواء كان الصلاة على محمد ﷺ
⚠ Takhrij & Status:
Riwayat ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu‘tabar seperti Shahih Bukhari, Muslim, Sunan Arba‘ah, Musnad Ahmad, dll.
Disebutkan dalam sebagian kitab kisah dan riwayat isra’iliyyat.
Para ulama hadits menilai kisah ini tidak memiliki sanad shahih.
Statusnya:
❌ Tidak tsabit sebagai hadits marfu‘ yang sahih
Paling jauh: atsar atau kisah tanpa sanad kuat.
Penjelasan syarah (ulasan) dari para imam besar terhadap hadits-hadits nikah
1. Hadits: «يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ...»
📖 Sumber
Muttafaq ‘alaih (Al-Bukhari & Muslim ibn al-Hajjaj)
✦ Penjelasan An-Nawawi
Dalam Syarh Shahih Muslim, beliau menjelaskan:
Makna “الباءة”
An-Nawawi menyebutkan dua tafsiran ulama:
Kemampuan jimak (kemampuan biologis)
Kemampuan nafkah (biaya pernikahan)
Beliau menyimpulkan bahwa makna yang paling kuat adalah mencakup keduanya, karena orang yang tidak mampu secara finansial biasanya juga kesulitan menjaga diri.
Hukum menikah
Menurut beliau:
Jika seseorang takut terjerumus ke zina → wajib menikah
Jika tidak → sunnah muakkadah
Beliau menegaskan:
فيه الأمر بالنكاح لمن استطاعه، وهو عندنا مستحب، وقد يجب على من يخاف الزنا
✦ Penjelasan Ibn Hajar
Dalam Fath al-Bari, Ibn Hajar menjelaskan:
Perintah dalam hadits ini menunjukkan anjuran kuat
Hikmah nikah:
أَغَضُّ لِلْبَصَرِ → lebih menundukkan pandangan
أَحْصَنُ لِلْفَرْجِ → lebih menjaga kehormatan
Beliau juga menjelaskan bahwa perintah puasa bagi yang belum mampu adalah bentuk pengganti sementara (بدل مؤقت) sampai mampu menikah.
2. Hadits: «تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ...»
(riwayat Abu Dawud)
✦ Penjelasan Ulama (diringkas dari syarah para muhaddits)
Makna:
الودود → wanita yang penuh kasih
الولود → wanita yang subur
Hikmahnya:
Memperbanyak umat Nabi ﷺ
Menunjukkan kemuliaan umat Islam pada hari kiamat
Ibn Hajar menjelaskan dalam pembahasan nikah di Fath al-Bari bahwa membanggakan jumlah umat bukan sekadar kuantitas, tetapi karena:
كثرة الصالحين من أمته
Yakni banyaknya orang shalih dari umat beliau.
3. Hadits: «حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُم...»
✦ Penjelasan Ulama
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan:
Islam tidak menolak fitrah
Cinta kepada istri bukan tanda kelemahan ruhani
Namun tetap ditutup dengan:
“وجعلت قرة عيني في الصلاة”
Ibn Hajar menjelaskan bahwa urutan ini menunjukkan:
Hal-hal duniawi boleh dicintai
Tetapi kedudukan ibadah (shalat) tetap paling tinggi
4. Hadits: «مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ دِينِهِ»
✦ Penjelasan Ulama
Makna “setengah agama” dijelaskan sebagai:
Sebagian besar godaan manusia berasal dari syahwat
Nikah menjaga setengah terbesar pintu fitnah
Sebagian ulama menjelaskan bahwa:
Agama terbagi dua: menjaga kemaluan & menjaga lisan
Nikah membantu menutup salah satunya
5. Catatan Penting dari An-Nawawi
Dalam pembahasan nikah, An-Nawawi menegaskan:
النكاح سنة مؤكدة عند جماهير العلماء
“Pernikahan adalah sunnah muakkadah menurut jumhur ulama.”
Dan beliau membantah kelompok zuhud ekstrem yang meninggalkan nikah dengan alasan ibadah, karena Nabi ﷺ sendiri menikah.
Pembahasan fiqh 4 madzhab tentang hukum khutbah nikah dan isinya
APA ITU KHUTBAH NIKAH
Khutbah nikah adalah khutbah singkat sebelum akad yang berisi:
Hamdalah
Syahadat
Shalawat
Wasiat taqwa
Ayat atau hadits tentang nikah
Dalil umumnya adalah khutbah yang diajarkan Nabi ﷺ yang dikenal sebagai Khutbatul Hājah.
Haditsnya diriwayatkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, dan juga oleh Abu Dawud serta At-Tirmidhi.
HUKUM KHUTBAH NIKAH MENURUT 4 MADZHAB
1. Madzhab Hanafi
Tokoh rujukan: Abu Hanifa
Hukum:
Sunnah (mustahabb)
Bukan rukun dan bukan syarat sah akad.
Akad tetap sah walau tanpa khutbah.
Keterangan:
Dalam literatur Hanafi disebutkan bahwa khutbah adalah bentuk:
إظهار لشرف العقد
Menampakkan kemuliaan akad.
2. Madzhab Maliki
Tokoh rujukan: Malik ibn Anas
Hukum:
Mandub / Sunnah
Tidak termasuk rukun.
Jika ditinggalkan → tidak membatalkan akad.
Malikiyyah menekankan bahwa inti nikah adalah:
Ijab
Qabul
Wali
Saksi
Khutbah hanya penyempurna.
3. Madzhab Syafi’i
Tokoh rujukan: Muhammad ibn Idris al-Shafi'i
Hukum:
Sunnah muakkadah
Disebutkan oleh para ulama Syafi’iyyah seperti An-Nawawi bahwa khutbah nikah dianjurkan sebelum akad.
Namun:
Tidak wajib
Tidak mempengaruhi sah akad
Imam Nawawi menyatakan bahwa khutbah nikah:
سنة عند عقد النكاح
4. Madzhab Hanbali
Tokoh rujukan: Ahmad ibn Hanbal
Hukum:
Mustahabb (sunnah)
Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyebutkan:
Dianjurkan membaca khutbah sebelum akad
Tidak wajib
Akad tetap sah tanpa khutbah.
Ijma' Praktis : Khutbah Nikah Bukan Rukun dan Bukan Syarat Sah Akad
Isi yang disunnahkan
Para ulama menyebutkan isi minimal yang dianjurkan:
1. Hamdalah
الحمد لله
2. Dua Kalimat Syahadat
3. Shalawat kepada Nabi ﷺ
4. Wasiat Taqwa
Biasanya dengan ayat:
QS. An-Nisa:1
QS. Ali Imran:102
QS. Al-Ahzab:70–71
Ini diambil dari hadits khutbatul hajah.
Apakah Harus Menggunakan Redaksi Tertentu?
Mayoritas ulama mengatakan:
Tidak wajib lafaz tertentu
Tidak harus bahasa Arab
Tidak harus panjang
Selama mengandung makna pujian dan taqwa.
Bagaimana Dengan Kisah Adam & Mahar Shalawat?
Keempat madzhab tidak mensyaratkan isi kisah tertentu dalam khutbah nikah.
Bahkan:
Jika khutbah mengandung riwayat yang tidak shahih, hukumnya makruh jika diyakini sebagai hadits sahih.
Namun tidak membatalkan akad.
Ringkasan Fiqh
Khutbah nikah = sunnah menurut seluruh madzhab.
Tidak mempengaruhi sahnya akad.
Isi terbaik = khutbatul hajah.
Tidak wajib bahasa Arab.
Tidak ada batasan panjang tertentu.
⚖ Catatan Fiqh 4 Madzhab
Para imam madzhab seperti:
Abu Hanifa
Malik ibn Anas
Muhammad ibn Idris al-Shafi'i
Ahmad ibn Hanbal
Sepakat bahwa:
✔ Harus ada ijab dan qabul
✔ Harus jelas menunjukkan akad nikah
✔ Harus bersambung (tidak terputus lama)
✔ Didengar saksi
Tidak disyaratkan harus bahasa Arab, tetapi bahasa Arab adalah yang paling utama.
Contoh Lengkap (Simulasi)
Misal:
Nama perempuan: Aisyah binti Abdullah
Mahar: 10 gram emas dibayar tunai
🔹 Wali:
زَوَّجْتُكَ وَأَنْكَحْتُكَ ابْنَتِي عَائِشَةَ بِنْتَ عَبْدِ اللَّهِ بِصَدَاقٍ قَدْرُهُ عَشْرَةُ غِرَامَاتٍ مِنَ الذَّهَبِ نَقْدًا
🔹 Suami:
قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيجَهَا بِالصَّدَاقِ الْمَذْكُورِ نَقْدًا لِلَّهِ تَعَالَى
⚖ Catatan Penting Sesuai Praktik KUA
Harus satu majelis (tidak terputus lama).
Lafadz harus jelas (tidak boleh bercanda).
Tidak boleh ada syarat yang membatalkan.
Harus disaksikan minimal dua saksi laki-laki.
Jawaban qabul tidak boleh ragu atau tertunda.
Tambahan
Secara praktik di KUA Indonesia, akad biasanya dilakukan dalam bahasa Indonesia agar tidak terjadi kesalahan lafadz. Bahasa Arab tetap sah, tetapi harus benar dan tidak keliru.
Syarat Sighat Menurut Syafi’iyyah
Ijab dan qabul harus satu majelis.
Tidak boleh ada jeda panjang.
Tidak boleh digantungkan syarat yang merusak.
Lafadz harus didengar saksi.
Harus sesuai antara ijab dan qabul.
Contoh Format Lengkap Klasik Syafi’i
🔹 Wali:
زَوَّجْتُكَ ابْنَتِي عَائِشَةَ بِنْتَ عَبْدِ اللَّهِ عَلَى صَدَاقٍ قَدْرُهُ عَشَرَةُ دَنَانِيرَ
🔹 Suami:
قَبِلْتُ نِكَاحَهَا عَلَى الصَّدَاقِ الْمَذْكُورِ
Catatan Penting
Dalam madzhab Syafi’i:
Tidak disyaratkan menyebut mahar dalam akad (boleh disebut, boleh tidak).
Tidak wajib bahasa Arab jika kedua pihak tidak mampu.
Yang penting ada lafadz nikah/tazwij yang jelas.
Catatan Penting Menurut Madzhab Syafi’i
Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Syafi’iyyah seperti Muhammad ibn Idris al-Shafi'i dan disyarah dalam Fath al-Qarib karya Ibn Qasim al-Ghazzi:
✔ Harus menggunakan lafadz zawwajtuka atau ankahtuka
✔ Tidak sah dengan lafadz sindiran
✔ Harus satu majelis
✔ Harus ada dua saksi
✔ Qabul tidak boleh terpisah lama dari ijab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar