Translate

Rabu, 24 Juni 2020

COVID-19


ISLAM MENYIKAPI VIRUS CORONA

 

 

الحمدلله الذي شرّح صُدُوْرَ المُؤْمِنِيْنَ لِطَاعَتِه، وهَدَاهُمْ اِلَى تَحْكِيْمِ كِتَابِه والعَمْلِ بِه، نَحْمَدُهُ ونَسْتَعِيْنُه ونَسْتَغْفِرُه, ونَعُوْذ ُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِى اللهُ فلا مُضِلَّ لَه، ومَن يُضْلِلْ فلا هادِىَ لَه، أشهد أن لا إلهَ إلاّ الله وَحدَهُ لا شَرِيكَ لَه، وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله لانبيَ بعده.

أللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد. أَمَّا بَعْدُ : فَياَ أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اتَّقُوا الله مَااسْتَطَعْتُمْ,اتَّقُواالله لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.

قاَلَ الله تَعَالَى: وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ.

وقاَلَ تَعَالَى أيضاً: وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا.

v     Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

Adalah kewajiban bagi kita agar senantiasa memupuk rasa iman dan takwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Oleh karenanya marilah kita menguatkan dan meningkatkan ketakwa kita kepada Allah, dengan berjuang sekuat tenaga, untuk mematuhi segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan tekad seperti ini, Allah pastilah akan menjaga kita dari berbagai macam hal negatif, baik yang kasat mata maupun yang tak terlihat oleh kita.

Takwa adalah solusi persoalan paling jitu, takwa merupakan pintu keluar dari problem yang menghimpit, sebagaimana Allah firmankan dalam kitab suci-Nya.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا.

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar (solusi hidup).

v     Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

Perlu kita sadari, bahwa banyak hikmah yang bisa kita petik bersama, dari setiap kepatuhan kita terhadap perintah dan larangan yang Allah berikan, di antara contoh kepatuhan pada Allah adalah; dengan senantiasa menjaga kebersihan dan menjauhi perilaku hidup kotor dan tidak sehat, begitu pentingnya perilaku ini, sampai Allah sangat cinta kepada hamba-Nya yang suci, dan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

اِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ  

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. al-Baqarah ayat 222)

Nabi juga menegaskan dalam satu sabdanya:

اَﻻِسْلَامُ نَظِيْفٌ فَتَنَظَّفُوْا فَاِنَّهُ ﻻَيَدْحُلُ الْجَنَّةَ اِلاَّ نَظِيْفٌ.

Agama Islam itu (agama) yang bersih, maka hendaklah kamu menjaga kebersihan, karena sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih” (HR al-Baihaqi).  

v     Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

Pola hidup sehat dan bersih, saat ini menjadi topik utama pembahasan dipenjuru dunia, terkait dengan mewabahnya virus Corona. Virus yang pertama kali muncul di Wuhan China ini, cukup merisaukan dunia. Virus ini adalah kelompok virus yang umumnya menjangkiti hewan. Dalam beberapa kasus jarang terjadi dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Namun seiring dengan pola hidup manusia, virus yang dinamakan Covid-19 ini sudah dapat menular dari hewan ke manusia dan dari manusia ke manusia, melalui kontak dekat dan tetesan. Bagian tubuh yang terserang biasanya adalah saluran pernapasan, mirip seperti flu biasa. Gejala-gejala yang muncul meliputi pilek, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam.

Menghadapi virus ini, ada dua ikhtiar yang harus kita lakukan yakni “ikhtiar bumi” dengan melakukan tindakan fisik yang bersifat medis dan “ikhtiar langit” atau usaha yang berhubungan dengan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala.

Ikhtiar bumi dapat dilakukan seperti melakukan standar yang sudah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan pencegahan dengan melaksanakan pola hidup yang higienis, bersih dan sehat, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah yang terangkum dalam syari’at Islam; seperti daimul wudhu, membiasakan wudhu dengan tata cara wudhu yang diajarkan Rasulullah; cuci tangan, berkumur, menghirup air dengan hidung, menutup mulut saat bersin, batuk dan menguap. Semua itu telah diajarkan dalam islam.

Dan jagalah makanan yang kita konsumsi, jaga diri dari konsumsi makanan yang tidak baik, terlebih makan produk binatang mentah, atau tidak dimasak lebih dahulu. Hindari makan daging hewan yang secara fiqih diharamkan.

Allah berfirman dalam QS AL Baqarah: 57:

كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ  

Artinya: “Makanlah dari makanan yang baik-baik, yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

v     Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

Selain ikhtiar bumi, ikhtar langit juga harus kita lakukan, di antaranya sesuai dengan maklumat yang diajarkan Rasulullah dan apa yang diamalkan salafus shalih, antara lain; tawakal terhadap takdir Allah SWT atas musibah dan bencana yang terjadi,  menjaga Allah Azza wajalla dalam melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, agar Allah menjaga hamba-Nya yang ta’at kepada-Nya.

Tawakal tidak hanya diartika berpasrah kepada Allah SWT,  namun diringi dengan ikhtiar, ikhlas, dan sabar dengan tetap waspada terhadap penyebaran virus corna mengikuti arahan ahli kesehatan dan lembaga-lembaga terkait. Hindari bepergian ke tempat di mana penyakit mewabah atau ada orang yang baru saja pulang dari daerah tersebut, sebagaimana Allah memerintahkan untuk  menghindarkan diri dari bencana:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al Anfal:25)

v     Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

Dalam menghadapi dan menangkal virus corona, sebaiknya semua elemen bangsa, khususnya umat Islam untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Di antaranya dengan bertaubat, memohon ampun dan meninggalkan perilaku dhalim, karena bisa jadi wabah ini merupakan peringatan dari Allah subhanahu wata’ala agar umat Islam semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagai seorang muslim, kita tak perlu menyikapinya dengan penuh ketakutan dan kepanikan yang berlebihan, sebab hal tersebut akan bikin imun kita justru semakin melemah, saat imun kita lemah akan mudah tertular, akan mudah terserang.

Maka Allah meminta kita untuk selalu bersabar dan bergembira atas musibah atau cobaan apa saja yang menimpa, yaitu; dengan tidak lemah, tidak lesu, tidak putus asa. Dan kesabaran akan lahir jika kita memiliki kesadaran, bahwa semuanya adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Dan bagi mereka yang sabar akan diberi keberkahan, rahmat dan petunjuk.

Jangan terlalu panik dengan corona, apalagi sampai menghentikan aktifitas keagamaan seperti tidak boleh jum’atan, tapi diganti dengan shalat dhuhur, tidak boleh berjamaah dimasjid diganti di rumah saja, majlis ta’lim libur sementara, ini adalah sikap yang berlebihan dalam merespon mushibah. Corona adalah makhluk Allah, corona adalah salah satu tho’un yaitu wabah penyakit yang bisa menyebabkan kematian secara masal. Sebagai wujut ujian / peringatan atas kesalahan kita, yang mestinya kita sikapi dengan sabar, tunduk dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Sang Pemberi musibah:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan penyakit, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.

Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَنْزَلَ عَاهَةً مِنَ السَّمَاءِ عَلَى أَهْلِ الأرْضِ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ.

Sesungguhnya apabila Allah ta'ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi, maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid.

إذا أرَادَ الله بِقَوْمٍ عَاهَةً نَظَرَ إِلَى أهْلِ المَساجِدِ فَصَرَفَ عَنْهُمْ.

Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.

Al-Imam al-Sya'bi, ulama salaf dari generasi tabi'in berkata:

كَانُوا إِذَا فَرَغُوا مِنْ شَيْءٍ أَتَوُا الْمَسَاجِدَ.

Mereka (para sahabat) apabila ketakutan tentang sesuatu, maka mereka mendatangi masjid. Al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman (juz 3 hlm 84 [2951]).

Riwayat di atas mengantarkan pada kesimpulan, bahwa dalam situasi wabah dan virus yang mengancam masyarakat ini, umat Islam dianjurkan semakin rajin ke masjid. Bukan malah meninggalkan masjid. Kecuali bagi mereka yang memang sudah dipastikan terjangkit penyakit menular. Maka mereka tidak boleh baginya untuk pergi ke masjid, mereka harus hidup dalam karantina, sebagai upaya memutus penyebaran yang lebih meluas.

Selain itu, hendaknya kita sebagai bangsa mayoritas ber-Agama Islam, harus memperbanyak doa-doa yang diajarkan Rasulullah dalam menghadapi virus corona, sebagai bentuk tawakal kepada Allah SWT. Doa yang di-iringi dengan tawakal menjadikan masyarakat lebih tenang dan tidak khawatir berlebihan dalam menghadapi-nya. Di antara amalan yang bisa dibaca untuk menangkal virus corona, seperti:  

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ.

Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala keburukan/kejahatan makhluk yang tercipta.”(3x)

بِسْمِ الله الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فِي الاَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

Dengan nama Alloh dengan menyebut asma-Nya, tiada sesuatu pun di bumi dan di langit dapat menimpakan bahaya dan Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”(3x)

Dendaknya dibaca 3X pagi dan sore, dan masih banyak bacaan-bacaan lainnya, seperti Al Ma’tsurat, Wirdul Lathif, Ratibul Athas, Ratibul Haddad dll.

Agama memiliki peran penting dalam mengendalikan psikologi masyarakat menghadapi musibah. Sehebat apapun manusia,  baik ilmu dan teknologi yang dimilikanya, tidak akan sanggup mengelak jika Allah SWT  memberikan ketentuan atas kuasa-Nya. Oleh karena itu, apabila segala daya dan upaya telah dikerahkan, kemudian di-iringi juga dengan memohon perlindungan kepada Allah SWT dan musibah tetap dijumpai, maka langkah terbaik adalah menghadapinya dengan menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT,”

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا.

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

v     Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,

Untuk menutup khutbah ini, kita tak perlu menghentikan aktifitas keagamaan, tapi kita perlu ikuti himbauan dari Majlis Ulama Indonesia (MUI) khususnya yang ada di wilayah jawa timur; hendaknya takmir masjid; menggulung karpet masjid untuk memudahkan disinfeksi (pemusnahan bakteri), melakukan pembersihan masjid, melakukan pembersihan lantai  dengan cairan disinfektan (kimia), menyediakan sabun tangan di tempat wudhu, sedapat mungkin menyediakan anti septik (hand sanitizer) di depan pintu masjid, dan meminta jama’ah untuk memakai masker.

Inilah ikhtiar dan sikap yang seharusnya kita lakukan dalam menghadapi kondisi bangsa kita ini. Sehingga Allah melindungi kita semua dari berbagai marabahaya dan penyakit,

Semoga bermanfaat, dan mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala menjauhkan kita dari virus Corona atau virus lainnya, termasuk virus angkuh dan sombong yang menutup diri kita untuk senantiasa berikhtiar secara fisik dan spiritual, serta bertawakal kepada Allah. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ .

بارَك اللهُ لىِ ولكُم ونفَعَنِيَ اللهُ وإياكم بهُدَي كتابِه, أقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العظيم لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ من كلِّ ذنبٍ فاسْتَغْفِرُوه إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

الخطبة الثانية

 

الحمدُ للهِ مالِكِ الـمُلْكِ وَ هُوَ عَلَي كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، و أشهدُ أنْ لا إله إلا لله وَحْدَه لا شَريكَ له، وَ أشهد أنَّ سيدَنا محمداً عبدُه وَ رَسولُه، أفضَلُ بَشِيرٍ وَ خَيْرُ نَذِيْرٍ. اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّم علي عبدِك وَ رسولِك محمّدٍ وَ عَلَي ألِه و صَحْبِه أجمعين، أمابعد.

فياعبادَ الله ، نُقِل عن بعضِ العارفين بالله قولُه : إنَّ الكَيِّسَ – الفَطِنَ الذَكِيَّ – مَن لا تَزِيْدُه النِعَمُ إلاَّ إنكِسَاراً وَ ذُلاًّ وَ تَوَاضُعاً وَ مَحبّةً للمُنعِم ، وَ كُلَّمَا جَدَّد له نِعْمَة أحدَث لها عُبودِيةً وَ خُضوعاً، فكونوا يا عبادَ الله مِمَّن لا تَزيده النِعَمُ إلاَّ طاعةً لله ، وَ إقبالاً عليه وَ تَوَجُّها إليه ، وَ لَا تكونوا مِمَّنْ أبْطَرَته النِّعمَةُ ، وَ اتَّبَعَ هَوَاهُ فَكانَ مِنَ اْلغَاوِيْن .

وَ صَلُّوا علي رَسُولِ رَبِّ العالمين، سيدِنا محمدٍ النبيِّ اْلأمِين فَقَدْ أمَركم الله بذلك في كتابهِ الـمُبِين ( انّ الله وَ مَلآئِكتَهُ  يُصَلّون علي النبي  يا اَيُّهَا  الَّذِين آمنوا  صلُّوا  عليه  وسلِّموا  تسليما) .

اللهم صلِّ وَ سلِّم علي عبدِك وَ رَسُولِكَ وَ حَبيبِكَ محمَّدٍ البَشِير النَّذِير وَ السِّراجِ اْلـمُنير، وَ ارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلُفَاءِ الراشِدِين العَادِلِيْن، سادَاتِنا ابي بكرٍ وَ عمرَ وَ عثمانَ و عَلِي، وَ عَنْ بَقِيَةِ صَحابةِ رسولِ الله اجمعِين، والتابعِينَ وَ تابعِي التَّابعين وَ مَنْ تَبِعَهُم بإحْسَانٍ إلى يومِ الدِّين، وَ عَنَّا مَعَهُم بعَفْوِيكَ وَ كَـرَمِكَ وَ إحسَانِكَ يا ارْحَمَ الرَّاحِمين.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلمُؤمِنِين والمؤمِنات، والمسلِمين والمسلمات، الأحْيَاءِ مِنهم وَ الأَمْوَاتِ، إنَّكَ سَمِيعٌ قريبٌ مجيبُ الدّعَوَات، يا قاضِيَ اْلحاجات، يا غافِرَ الذُّنوبِ وَ الخَطِيئات , يا أرحَم الرَّاحمين .

اللهم أعِزِّ اْلإسْلامَ والمسلِمِين x٣ وَ احْمِ حَوْزَةَ الدِّين، وَ دَمِّرِ اليَهُودَ وَ أعْوَانَهُمْ مِنَ الـمُسْتَعْمِرِيْن، وَ ألِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ اْلـمُؤْمِنِين وَ وَحِّدْ صُفوفَهم، وَ أصْلِحْ قَادَتَهُم وَ اجْمَعْ كَلِمَتَهُم علىَ الحَقِّ يارَبَّ العالَمِين، وَاجْعَلْ هَذا البَلَدَ آمِناً مُطْمَئِنّاً، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عاَمَّة يارَحْمنُ يارَحِيم.

أللَّهُمّ آمَنَّا فى أوْطَانِنَا وَ أصْلِحْ أئِمَتَنا وَ وُلاةَ أُمُوْرِنا، و اجْعَلْ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خَافَكَ و اتَّقَاكَ و اتَّبَعَ رِضَاكَ، يا أرحَم الرَّاحمين .

أللَّهُمَّ انْصُرْنا على مَنْ عَادَانا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنا فِي دِيْنِنا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّـنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ .

اَللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَآءَ وَالْوَبَآءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْغَلَآءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالْمِحَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بَلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً اِنَّكَ عَلَى كُلِّى شَيْئٍ قَدِيْرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فيِ الأخِرَةِ حسَنةً وَ قِنَا عَذابَ النار .

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 عباد الله !! ان الله يَأمُرُ بالعَدْلِ وَالإحْسَان، وَإيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبَي وَيَنْهَي عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالـمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون، فاذْكُرُوا اللهَ علي نِعَمِهِ وَ اشْكرُوهُ علي آلائِه،  وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَر.


Senin, 15 Mei 2017

MENGUNTAI DZIKIR TERINDAH




Setiap mukjizat yang diberikan kepada seorang rosul, pastilah disesuaikan dengan tantangan zaman .Cerita heroisme nabi musa u dengan tongkatnya , lahir ditengah suasana merebaknya ilmu sihir yang menjadi primadona . begitu juga nabi isa yang menyembuhkan banyak penyakit. Sebab, beliau diutus kala banyak tabib menyebar ‘kesakitan’  

Adapun nabi Muhammad ,yang menerima mukjizat terbesar berupa al-Qur’an , beliau diutus untuk seluruh umat manusia, yang secaranalar dan konsep hidup sudah sempurna, sehingga kitab yang sempurna pulalah bekal terbaiknya.  WA bil khusus pada zaman beliau masih hidup sastra menjadi instrumen penting nilai dan peradapan ,sehingga mestinya mereka akan mudah memahami al-Qur’an untuk para kafir Quraisy celakalah mereka, yang memahami kebesaran al-Qur’an, tapi tak mau menggunakannya sebagai sarana menjemput hidayah.
 Biar saya ulangi kalimat di atas , celakalah mereka, yang memahami kebesaran al-Qur’an, tapi tak mau menggunakannya sebagai sarana menjemput hidayah. Kata kafir Quraisy sengaja ditampilkan dan saya bermaksud mengajak anda menggantinya dengan frese seorang muslim miris hati ini melihat bagaimana nasib al-Qur’an, secara fisik maupun secara ajaran, diperlukan oleh orang zaman sekarang, Perlakuan tidak senonoh itu, celakanya, dimulai dari umat islam sendiri.
Seolah tak sesiapa menyadari, bahwa ini mukjizat terbasar yang pernah diturunkan kepada rasul. Bahkan nabi r pernah menolak menuruti permintaan orang-orang kafir Quraisy yang ingin melihat bulan terbelah, sebab sejatinya al-Qur’an itu sudah lebih dari cukup dibandingkan semua mukjizat yang lain. Pantaslah jika nabi menjerit lirih, yang diabadikan dalam al-Qur’an, “Ya Rabbaka, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan.”
Al-Qur’an merupakan dzikir terindah, yang memberikan ketenangan bagi sesiapa yang mendengarnya, bahkan yang tak paham sekalipun. Barang siapa yang membacanya, ia akan ditemani malaikat kiramin bararah untuk yang tak lancar membaca, alias terbata-bata, akan memborong dua pahala. Pahala membaca dan pahala perjuangannya. Mau tahu pahalanya? Satu huruf berbanding sepuluh kebaikan. Silahkan ambil kakulator sendiri untuk satu halaman yang anda baca.
Di antara yang membuat betah berlama-lama membaca al-Qur’an adalah susunan bahasa dan bunyinya yang indah dan rapi. Maka celakalah, yang lancar membaca al-Qur’an, tapi tak mau membacanya. Ia bukan saja terjauhkan dari pahala bejipun, tapi juga mengingkari nikmat Rabb.
Al-Qur’an merupakan zikir terindah, yang memberi kita kesempatan untuk tenggelam dalam perenungan-perenungan produktif. Ulama menyebutnya tadabur. Di sini pula kemukjizatan al-Qur’an bisa dirasakan. Terkadang dalam satu  ayat yang sama, orang yang berbeda akan menemukannya makna perenungan yang berbeda. Bahkan oleh orang yang sama, apa yang ia renungi sekarang mungkin berbeda dengan inspirasi yang ia dapat kemarin. Padahal, ia tak beranjak dari ayat yang sama. Maka celakalah, yang tak mau merenungi al-Qur’an. Padahal ia memiliki akal sehat sebagai modal merenung.
Al-Qur’an merupakan dzkir terindah, yang memberi jawaban untuk semua masalah hidup. Sebab, di dalamnya terkandung semua yang mungkin diarungi manusia hidup. Ia memang disiapkan untuk mengatur hidup dan kehidupan. Bermula dari keyakinan, lantas peribadatan, kemudian merambah ke ranah perbaikan pekerti diri, lalu meluas ke wilayah-wilayah publik dan kehidupan sosial.
Metodenya pun kaya inovasi dan beragam. Ada cerita, ada nasihat, ada dialog, ada kabar gembira dan peringatan. Semua itu dalam rangka memudahkan manusia untuk memahaminya, kemudian menjadikan al-Qur’an sebagai pendomannya. Maka celakalah, yang hidup di muka bumi di atas nikmat Allah, tak mau menjadikan al-Qur’an sebagai pendoman.

Al-Qur’an, sekali lagi, adalah warisan kenabian terbesar. Betapa celakanya kalau kita sebagai muslim sampai tak menyadarinya. Benarlah ketika rosulullah r bersabda bahwa ada kaum yang ditinggikan derajatnya dengan al-Qur’an, tapi ada pula yang di rendahkan derajatnya karena al-Qur’an. 

AGAR KEBAIKAN MENJADI KARAKTER (Islam dan Konsistensi)



فَاسْتَـقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

Salah satu perintah terberat yang diterima Nabi Saw adalah Istiqamah, yang maknanya terumuskan dalam satu kata: Konsistensi. Sifat baik ini menjadi ukuran sejauh mana intensitas kedekatan kita dengan Allah Swt. Sebab, sebagian besar penyimpangan yang terjadi di dunia ini, disebabkan ketiadaan konsistensi. Seseorang mengetahui aturan, tapi  kekuatanya untuk berpegang pada aturan itu kalah oleh hawa nafsunya. Akhirnya ia melakukan penyimpangan.

Dalam hal menjaga dan meninggalkan istiqomah, Allah bisa saja memberi karamah (kemulyaan) pada seorang budak yang menjaga keistiqamahannya (Konsisten) dalam beramal. Dan Allah juga tidak menutup kemungkinan akan mencabut karamah dari seorang wali sekalipun yang telah meninggalkan keistiqomahan. Jaga dan jagalah istiqomah.
Dalam hikmah dikatakan:

اَلْإِسْتِقَامَةِ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ كَرَامَةٍ # ثُبُوْتُ الْكرَامَةِ بدَوَامِ الْإِسْتِقامَةِ

“Istiqamah itu lebih baik dari pada seribu karamah (kemulyaan) # sebab langgengnya karamah karena konsistensi menjaga istiqamah”

Istiqomah dalam hidup seorang muslim yang terbina bukanlah hiasan budi pekerti ( Hilyah Khuluqiyyah ) yang bisa dipilih apakah akan dipakai sebagai perhiasan atau ditanggalkan, melainkan Suluk yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya yang menempati posisi dan tingkatan terpenting ( Ahmiyyah ) di bawah keimanan. Alloh berfirman, “  Maka beristiqomahlah sebaimana kamu diperintahkanQS Hud : 112.

Sedikit menggambarkan bagian dari dimensi istiqamah, melalui sabda Rasulullah Saw:

وَ أَنَّ أَحَبَّ الأعْمَالِ إِلى اللهِ أَدْوَمَهَا و إِنْ قَلَّ.

“Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang langgeng, meskipun sedikit” (HR. Bukhari)

Dalam hadis di atas Rasulullah Saw lebih menekanannya pada kontinuitasnya, bukan pada sedikitnya. Artinya, jika mampu langgeng dan banyak, itu jauh lebih mulia. Pertanyaannya mengapa kontinuitasnya yang ditekankan dan kuantitasnya urusan berikutnya?

Sebab hal itu menunjukkan sejauh mana rentetan amal yang kita lakukan tertanam menjadi karakter yang menyatu dalam kepribadian. Maka, sedikit tapi konsisten itu jauh lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada amal banyak, tapi hanya sekali waktu saja tanpa menimbulkan bekas sedikit pun. Sebab dengan istiqamah ini menunjukkan keberhasilan amal tersebut menjadi life style (gaya hidup).

Tahapan-tahapan berikut mungkin bisa jadi panduan, sebagai upaya menuju istiqamah.

1.      Keikhlasan niat dan motivasi: Niat adalah ruh sebuah amal, dengan niat yang ikhlas maka sebuah amal akan menjadi perbuatan yang berkarakter kuat.
ما كان لله دام واتصل وما كان لغير الله انقطع وانفصل
“Segala sesuatu yang berdasarkan karena Allah akan langgeng nan abadi, sementara sesuatu yang berdasarkan selain Allah akan putus sampai disini.”

Ada beberapa kekuatan yang mendasari atau mendorong seseorang untuk menjalankan suatu amal.
1.      Quwwah Ar Ruuhiyah (قوة الروحية) adalah sebuah dorongan yang ada pada diri seseorang yang beramal berdasarkan pada mencari Ridha Allah semata.

2.      Quwwah Al Madiyah ( قوة المادية) adalah sebuah dorongan yang ada pada diri seseorang yang beramal berdasarkan pada mencari materi semata.
3.      Quwwah Al Ma’ani (قوة المعاني) adalah sebuah dorongan yang ada pada diri seseorang yang beramal berdasarkan pada mencari popularitas semata.
Itulah beberapa dorongan yang mandasari manusia untuk melakukan sebuah amal perbuatan. Manusia adalah makhluk yang lemah. Maka, jika ada orang yang beramal hanya untuk manusia, akan mudah putus harapan, gampang berhenti amalnya. Begitu juga jika dia beramal karena materi, atau mencari popularitas saja, tunggu saja saat kehancurannya.

2.      Mengikuti sunatullah:

Kehidupan ini berjalan mengikuti rumus-rumus tertentu. Ada Dzat Mahadetil yang mengatur semuanya, lewat Rasul-Nya Allah mengatul kehidupan, mana yang patut untuk dilakukan dan mana sepantasnya ditinggalkan. Sebuah perbuatan baik akan menjadi amal shalih dan mendapat pahala manakala perbuatan tersebut sesuai dengan aturan Agama.

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (QS. Al Hasyr:7)

Maka dengan mengikuti aturan Allah kita sebagai hamba yang mempunyai kekuranga dan batas pengetahuan, kita mempunyai pegangan yang baku, dengan begitu amalan akan mengalir karna kemantaban hati, jauh dari keraguan; apakah amalan saya ini bener atau tidak sesuai harapan Sang Pembuat aturan.

3.      Menghindari berlebih-lebihan (ghuluw

Berlebihan itu tidak proporsional. Bersikap yang berlebih-lebihan yang hanya akan memberatkan diri, merupakan tindakan yang kurang dibenarkan dalam Agama.

Nabi Saw bersabda: “Janganlah kalian memberat-beratkan diri kalian sendiri, nanti Allah akan menjadikannya berat.....” Al Hadits.

Nabi Saw juga bersabda: “Agama itu mudah, setiap orang yang memberat-beratkan diri dalam Agama ini pasti akan kalah. Maka bersikaplah istiqomah.....” Al Hadits.
Seperti itulah salah satu dimensi istiqamah mengajari kita, yakni karakterisasi amal. Yang Allah inginkan adalah setiap ritual dan rutinitas amal ibadah kita membentuk kepribadian. Menjadikan pelakunya sebagai sosok yang tekun, ulet, dan konsisten, apa pun kondisi yang meliputinya.

 Allahu a’lam bis shawab.