Translate

Senin, 13 Februari 2017

Tiga kesadaran pencapai kesempurnaan



الحمد لله الذي شرّح صُدُوْرَ المُؤْمِنِيْنَ لِطَاعَتِه, وهَدَاهُمْ اِلَى تَحْكِيْمِ كِتَابِه والعَمْلِ بِه, نَحْمَدُهُ ونَسْتَعِيْنُه ونَسْتَغْفِرُه, ونَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِى اللهُ فلا مُضِلَّ لَه, ومَن يُضْلِلْ فلا هادِىَ لَه, أشهد أن لاإلهَ إلاّ الله وحده لاشريك له, وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله لانبيَ بعده.
أللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.
أما بعد: فيا أيها الناس, إتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه إتَّقُوا اللهَ وَلاتَمُوتُنَّ اِلاَّ وَأنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وقال الله تعالى : قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إنَّكَ أنْتَ اْلعَلِيْمُ اْلحكيم. وقال أيضاً : يا ايها الذين امنوا استعينوا  بالصبر والصلاة  ان الله مع الصابرين

v  Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Pada kesempatan yang penuh makna ini, dari atas mimbar saya mengajak hadirin sekalian, khususnya diri saya pribadi. Marilah kita meningkatkan ketakwaan kita, karena sesungguhnya hanya taqwalah yang dapat menghantarkan kita melampaui minggu demi minggu, bulan demi bulan tanpa kurang suatu apapun dan dengan ketakwan pula segala yang sulit akan menjadi mudah.
Dengan problem kehidupan sehari-hari, dan seringnya kita memburu dunia dan mengabaikan akhirat, mengakarlah dalam diri kita cinta terhadap dunia, lalu hati menjadi gelap. Maka kegelapan ini bisa sirna apabila diterangi oleh taqwa. Bagaimana bisa taqwa meneranginya, karena subtansi taqwa adalah “takut” takut akan terjatuh pada larangan-Nya. Sehingga seseorang hanya akan mengerjakan apa yang menjadi perintah-Nya saja, bagai mana cara meningkatkan kualitas ibadahnya.
v  Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Untuk mencapai kualitas kesempurnaan hidup dan Ibadah kita, hendaklah minimal ada 3 kesadaran yang -mau tidak mau, suka atau terpaksa- harus mampu kita munculkan didalam setiap detak dan detik kehidupan kita. Seseorang yang mengharapkan kehidupan akhirat tentulah menilai 3 kesadaran tersebut adalah suatu yang urgen:

1.    Untuk mencapai kualitas ibadah yang lebih baik, agama mengajarkan kepada kita agar dalam melaksanakan semua aktivitas ibadah, apapun bentuk dan manifestasinya, hendaknya kita bisa memunculkan sebuah kesadaran bahwa Allah dekat dengan kehidupan kita, kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap gerak kita, Allah pasti mendengar setiap ucapan kita, dan bahkan Allah Maha tahu akan segala sesuatu yang tersembunyi dalam benak dan bathin kita semua. Tidak ada sesuatu pun diatas dunia ini yang samar apalagi luput dari pantauan Allah. Sebagai mana Firman Allah:
وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ
“dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi, tidak ada satu halpun yang samar bagi Allah, semuanya jelas bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.”
Nah, orang yang memiliki kesadaran bahwa Allah dekat dengan dirinya, maka dampak dan imbasnya akan segera terasa, ketika shalat, maka shalat yang ia lakukan pasti akan berkualitas, dikatakan:
صَلِّ صَلاَةَ مُوَدَّعٍ فإنَّهُ اِنَّ كُنْتَ لاَ تَرَاهُ فَإنَّهُ يَرَاكَ
“shalatlah engkau dengan shalat perpisahan, (apa itu shalat perpisahan ) yaitu sebuah kesadaran bahwa jika engkau tidak bisa melihat-Nya maka yakinlah Allah pasti melihatmu.”
dengan kesadaran itulah maka ruku’nya menjadi tertib, sujudnya thuma’ninah, bacaannya tartiil, tahiyyatnya merasuk sukma, dan pada klimaksnya, orang yang seperti ini, hidupnya akan semakin tertata indah.
v  Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Lebih jauh dari itu, orang yang memiliki kesadaran bahwa Allah dekat dalam hidupnya, maka hidupnya hari demi hari akan semakin berkualitas, muncullah sebuah kesadaran “Muroqobah” semakin berhati hati dalam bersikap, semakin mawas diri dan memiliki kedisiplinan yang sangat tinggi. Kenapa demikian? karena pengawasan yang dirasakan oleh orang seperti ini bersumber kepada Allah Dzat Yang Maha Menatap setiap kehidupan. Setiap kebaikan yang ia lakukan bukanlah karena ada sahabat yang melihat, bukan karena atasan yang menyaksikan, dan juga bukan karena ada orang yang memandang. Tapi sekali lagi, itu semua muncul karena ia sadar bahwa Allah selalu memantau setiap detak dan detik kehidupannya.


v  Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
2.    Hidup dan ibadah kita akan semakin berkualitas jika kita memiliki kesadaran bahwa ibadah yang kita lakukan itu adalah kebutuhan ruhani setiap kita. Kesadaran seperti ini akan menggiring kita untuk merasa butuh shalat seperti halnya kita butuh makanan, kita akan merasa butuh puasa seperti halnya kita butuh minuman, kita butuh zakat sama seperti halnya jasmani kita butuh refreshing (penyegaran), dan memang untuk tujuan itulah Allah hadhirkan Agama bagi manusia. Paket Rukun Islam yang kita jalankan, Shalat, puasa, hajji, zakat dan perbuatan-perbuatan baik lainnya, hakikatnya adalah merupakan santapan bagi ruhani, makanan bagi jiwa kita, penyegar dahaga batin kita.
Jadi hadirin sekalian, jika demikian adanya, maka semakin sering kita berbuat baik, semakin sering kita shalat, semakin sering kita berpuasa, semakin sering kita beribadah dalam arti yang seluas-luasnya, maka secara otomatis akan semakin sehatlah ruhani kita, semakin subur pulalah tanaman Iman kita, disamping itu, dalam sebuah ayat Allah telah mengingatkan kepada kita:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا
“Barangsiapa berbuat kebaikan maka (dampak kebaikan itu) kembali kepada dirinya, dan barangsiapa berbuat kejahatan maka efek kejahatan itupun akan berimbas atas dirinya” ( QS. al- Jaatsiyah ; 15 )
Mari kita lihat kebenaran wahyu Allah ini, bukankah ada kebahagiaan bathin yang tak terlukiskan dengan kata-kata ketika kita bisa membuat orang lain bahagia, sebaliknya, bukankah ketika kita berbuat keburukan seperti meninggalkan shalat misalnya hati kita menjadi gelisah, jiwa kita bertambah resah. Bukankah kalau kita kikir dan bakhil, enggan dan segan mengeluarkan zakat, maka tidak cuma Allah yang akan menjauhi kita tapi semua orang akan ikut membenci kita, siapa yang mau membantu orang kikir yang sedang tertimpa kesulitan?. Kesadaran seperti inilah yang harus segera kita bangun, guna tercapainya peningkatan kualitas amal Ibadah.


v  Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
3.    Kualitas hidup kita akan semakin meningkat jika kita memiliki kesadaran bahwa ada akhirat setelah dunia. Maka manusia yang visi dan orientasinya jauh kedepan, yang menyadari bahwa setelah kita mati nanti akan ada hari perhitungan, akan ada hari penghisaban, maka dalam menghadapi hidup yang penuh dengan goncangan ini, mereka pasti akan lebih tegar dan tetap stabil (tetap konsisten dengan prinsip hidupnya), ketika ia sukses dalam semua urusan dan –katakanlah– ia menjadi orang kaya, ia pasti tidak akan bangga diri dan lupa daratan, ia akan sadar bahwa harta itu cuma titipan, ia juga sadar bahwa hidup yang sebenarnya bukan disini, bukanlah di dunia ini tapi di akhirat nanti. Bahkan saya percaya, orang yang meyakini akan kehidupan sesudah mati dengan keyakinan yang sebenarnya, ketika ia kaya maka ia akan gunakan kekayaannya itu, ia akan manfaatkan kesuksesannya itu, demi untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan yang lebih sejati, di Negeri keabadian nanti. Namun sebaliknya, jika ia gagal dalam hidup ini, maka orang seperti ini tidak akan mudah kecewa, tidak akan gampang frustrasi apalagi sampai bunuh diri, kenapa demikian, karena ia masih punya harapan, bahwa masih ada kebahagiaan pada episode kehidupan berikutnya; kalau sekarang saya gagal dalam kehidupan dunia ini, kenapa harus resah, bukankah masih ada surga dan para bidadari yang sudah menanti. Begitulah pikiran mereka.
v  Hadirin Jama’ah Jum’ah hafidhokumuLLOH,
Yang menjadi renungan buat kita sekarang adalah, kenapa kita korbankan kepentingan jangka panjang hanya untuk kesenangan jangka pendek, mengapa kita musnahkan kebahagiaan abadi hanya untuk kesenangan sesaat di dunia ini, ingatlah bahwa Allah I telah berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
 “Ketahuilah oleh kalian!, bahwasanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, tipudaya, perhiasan dan berbangga-bangga di antara kalian” (al- Hadid: 20)
Oleh karena itu silahkan Cari harta sebanyak-banyaknya, kejar dunia dan gapailah cita-cita setingi-tingginya, namun ingatlah! CARI, KEJAR dan GAPAI semua itu dengan tanpa mengorbankan kehidupan akhirat kita. Sekecil apapun penghasilan kita, pasti akan cukup bila digunakan untuk kebutuhan hidup, sebesar apapun penghasilan kita, pasti akan kurang bila digunakan untuk menuruti gaya hidup.

Sebagai catatan sekaligus sebagai penutup khutbah saya ini; Untuk mencapai kualitas kesempurnaan hidup dan Ibadah kita, ada 3 kesadaran yang harus mampu kita munculkan didalam setiap langkah kita, yaitu:
1. Bahwa Allah dekat dengan kehidupan kita.
2. Bahwa ibadah yang kita lakukan itu adalah kebutuhan ruhani setiap makhluk, dan
3. Bahwa ada akhirat setelah dunia ini.
Semoga Allah melindungi dan membimbing kehidupan kita di bawah naungan keridhoan-Nya, Amin Allahumma Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.

Rabu, 11 Januari 2017

Bulatnya Bumi Dalam Sudut Pandang Ulama Tafsir



Sekarang ini kita dibuat takjub - seiring dengan kemajuan ilmu di era penemuan dan penciptaan - oleh sebagian orang yang mengingkari hal-hal yang bersifat aksiomatis (dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian; bersifat aksioma). Mereka masih saja berkata bahwa bumi adalah bidang datar bukan bulat, mereka selalu mengklaim pendapat tersebut kepada agama. Padahal ulama-ulama kita yang terdahulu Rahimahumullah, telah menyatakan bahwa bumi adalah bulat dengan mengemukakan dalil-dalil ilmiah dan rasional, jauh sebelum para astronaut mengelilingi bumi pada masa sekarang ini.

Di antara dalil-dalil rasional yang bersifat aksiomatis, yang dijadikan argumentasi oleh para ulama terdahulu atas bulatnya bumi adalah ungkapan mereka “Seandainya bumi berbentuk datar dan rata, maka matahari pasti terbit di seluruh negeri dalam waktu yang sama dan juga terbenam dalam waktu yang sama pula, karena matahari jauh lebih besar berjuta-juta kali dari bumi”.

Menurut ahli astronomi ukuran Matahari adalah 330.330 kali lebih besar daripada Bumi, Pelanet yang kita singgahi ini dihadapan Matahari hanyalah ibarat sebuah titik. Seandainya Bumi ini berbentuk menghampar seperti permadani, maka dapat dipastikan matahari akan menyinari penduduk Indonesia, Malaysia, Baghdad, Kairo, Makah, Damaskus, dan penduduk Spanyol bahkan dunia dalam waktu yang sama, dan juga terbenam pada waktu yang sama pula. Lalu mengapa terjadi perbedaan terbit dan terbenamnya matahari yang kadang sampai 12 jam; dengan asumsi jika waktu terbit matahari di Indonesia atau Asia misalnya, adalah waktu terbenamnya matahari di Amerika atau Kanada, maka yang demikian itu merupakan bukti nyata atas bulatnya bumi. Bagaimana dengan pandangan para Ulama Islam, Ahli tafsir terkemuka di masa Islam.

PANDANGAN IBNU TAIMIYAH TENTANG BULATNYA BUMI

Syeikh Al Islam Ibnu Taimiyah lahir 661 H /1263 – 728 H / 1328 M. Dalam kitabnya Al-Fatawa, mengatakan: “ada kesamaan bulan dan tahun dengan hari dan minggu; hari secara alami ditentukan sejak terbitnya matahari hingga terbenam, sedangkan minggu adalah bersifat bilangan yang berpatokan pada enam hari dimana Allah telah menciptakan langit dan bumi di dalamnya. Sehingga terjadilah keseimbangan antara matahari dan bulan, hari dan minggu berdasarkan perjalanan matahari, sementara bulan dan tahun berdasarkan perjalanan bulan. Berdasarkan keduannya itu, sempurnalah hitungan hari”

Sementara menurut Al Alusi “Semuanya yang dipaparkan Al Qur’an telah diperkuat dengan serangkaian bukti dari ahli-ahli astronomi moder” dikutip dari syiehk Muhammad Mahmud Ash shawwaf, Al Muslimun wa ‘Ilmu Al-Falak, hal.44.

Menurut Syieh Ali Ash Shobuni dalam karyanya Harakat Al-Ardh wa Dauranuha, beliau mengatakan: “mengenai Pengertian (حُسْبَانًا) dalam firman Allah SWT:

وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا

“Dan (Allah) telah menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan.” (Al An’am (06) : 96). Dan dalam ayat yang lain.

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” (S. Arrahman (55) : 5)
Ada yang mengatakan dari “Al-Hisabu” ‘Matematis’, dan yang lain berpendapat dengan makna “Husbanu” ‘Perhitungan’ , sebagai mana perhitungan gerak dan putaran batu penghiling, yaitu peredaran lintasan benda-benda langit. Pendapat ini sudah tidak diperselisihkan lagi, karena memang sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Para ulama telah bersepakat, bahwa berdasarkan hasil penelitian para pakar astronomi, bentuk pelanet bumi adalah bulat, bukan datar”.

Pada kesempatan lain dalam kitab Al-Fatawa: VI/586, Ibnu Taimiyah ditanya mengenai bentuk langit dan bumi, “Apakah keduanya bulat?” Beliaunya menjawab, “Menurut para ilmuan muslim, bentuk langit adalah bulat, dan dikisahkan dari ijma’ umat Islam, bahwa yang mensetujui pendapat ini dari kalangan para ulama tidaklah sedikit, mereka itu seperti Ahmad bin Ja’far Al-Munadi; salah seorang ulama dari pengikut Imam Ahmad yang telah menulis sekitar 400 buku, Imam Ibnu Hazm dan Abu Al-Fajar bin Al-Jauzi. Mereka menguraikannya dengan dalil yang telah popular.” adalah firman Allah SWT.

كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ.

“Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” (QS. Al-anbiyaa’ (21): 33).
Masih dalam kitab Harakat Al-Ardh wa Dauranuha; Ibnu Abbas dan ulama salaf yang lain berkata: “Garis edar adalah seperti tempat pusaran alat pemintal. Ungkapan ini memperjelas, bahwa garis edar adalah berbentuk bulat dan berputar.
Adapun kata Falak “فلك” secara etimologis berarti; sesuatu yang bulat. Ada sebuah ungkapan:

تَفَلَّكَ ثَدْيُ الجاريَةِ إذاَ اسْتَدَارَ.

“Buah dada gadis itu akan disebut ‘Tafallaka’ bila mana telah membulat”
Demikian alat pemintal; disebut falakah “فلكة”, karena bentuknya bulat.”
Para Mufasir dan pakar bahasa telah sepakat bahwa pengertian Falak “فلك” adalah sesuatu yang bulat. 

Adapun untuk mengetahui makna-makna dari kitab suci Al-Qur’an, senantiasa didasarkan pada dua cara sebagai berikut:

1. Dari ahli tafsir yang terpercaya dari ulama salaf.
2. Dari bahasa yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa tersebut, yaitu bahasa arab.
Allah SWT telah berfirman:

يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ.

“Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam.” (QS. Azzumar (39) : 5)
Pengertian at-takwir “التكوير” adalah at-tadwir “التدوير” yaitu menjadikan bulat. Sebagaimana dikatakan oleh orang Arab:

كَوَّرْتُ اْلعِمَامَةَ إذا دَوَّرَتْهَا.

“Surban (yang ada dikepala) akan dikatakan ‘kuwwirat’ bilamana berbentuk bulat”
Dan sesuatu yang melingkar atau bulat akan disebut kaaratun “كارة” dari kata kauratun “كورة”
PENDAPAT MUFASSIR AL-QUR’AN TENTANG BUMI YANG BULAT
Disini saya akan mencoba mengutip beberapa pendapat para ahli tafsir seputar bulatnya bumi, agar para pelajar kita, generasi penerus kita yang sedang mempelajari ilmu-ilmu modern mengetahui bahwa tidak ada pertentangan antara ilmu modern dan agama:
Pertama: Imam Al-Baidhawi -Seorang mufassir dari kelompok mutaqaddimin, lahir kurun 13, wafat 1286 - menafsirkan firman Allah:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً

“Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap” (Q.S Al-Baqarah (02): 22)

Yakni, Bumi disediakan untuk manusia agar dapat duduk dan tidur di atasnya, seperti tikar yang terhampar. Hal ini tidaklah mengandung pengertian bahwa bentuk bumi itu menghampar walaupun bumi itu bundar (bulat), namun oleh karena fisiknya yang amat besar, hal ini tidak berarti bahwa ia tidak bisa digunakan untuk tempat duduk, tidur dan sebagainya. (وَالسَّمَاءَ بِنَاءً) Dan langit sebagai bangunan, Yakni atap yang tinggi dan berada jauh di atas bumi sebagaimana halnya keadaan kubah. (Tafsir Al-Baidhawi, Surah Al Baqarah :22)

Kedua: Firman Allah SWT dalam surat Ar-Ra’d:

وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الأرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا

“Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya.” (Q.S Ar-Ra’d (13): 3)

Yakni, Allah SWT dengan kekuasaan-Nya telah membentangkan bumi dan memanjangkan lagi luas, agar manusia dapat bertempat tinggal di atasnya. Seandainya seluruh bumi berupa jurang-jurang, bukit-bukit dan tidak ada tanah-tanah datar yang membentang, maka dapat dipastikan manusia tidak mungkin dapat hidup disana. Berkenaan dengan hal itu Ibnu Jazyi mengatakan dalam kitab tafsirnya; yang bernama At tashil Fi Ulum At Tanzil sebagai berikut, “Kata membentang , memanjang dan melingkar tidaklah menafikan akan bentuk bumi yang bulat, karena masing-masing bagian dari bumi memang datar, namun secara kesatuan bumi itu bulat” (Ibnu Jazyi Al Kalabi 1321 – 1357 ( 36 – 35) dalam At tashil Fi Ulum At Tanzil, II/130)

Ketiga: Imam Al Alusi saat mentafsirkan firman Allah SWT:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ بِسَاطًا

“Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan”
Beliau mengungkapkan, “Ayat di atas sama sekali tidak menunjukkan bahwa bentuk bumi itu datar bukan bulat. Karena bola bumi yang sedemikian besar, menjadikan orang-orang yang berada di dalamnya akan melihat kondisi sekelilingnya datar terhampar. Sebenarnya keyakinan tentang bulat atau tidak bulatnya bentuk bumi, bukanlah merupakan suatu keharusan dalam syari’at Islam. Akan tetapi, bulatnya bentuk bumi telah menjadi sesuatu yang diyakini kebenarannya. Adapun maksudnya ‘Allah telah menjadikannya terhampar’ adalah; bahwa kamu semua dapat berhilir mudik di dalamnya sebagaimana engkau berhilir mudik di atas hamparan. (Al Alusi  10 Des 1802 - 29 july 1854., Tafsir Ruh Al Ma’ani, XXIX/76)

Perhatikanlah ulama kita terdahulu betapa ilmu dan pengetahuan mereka telah sedemikian luasnya, dan betapa pandangan serta pemahaman mereka telah sedemikian cemerlang, pada saat umat manusia belum ada yang mengetahui ilmu-ilmu alam, kecuali hanya sedikit saja. Semua itu tidak lain karena keluasan ilmu pengetahuan, wawasan serta cahaya nurani dan keikhlasan hati mereka. Adalah sangat mengherankan apa yang kami dengar bahwa separuh dari para pelajar, mengingkari sesuatu yang bisa dilihat dengan mata kepala serta menyangkal sesuatu yang sudah pasti dan telah menjadi kenyataan pada masa sekarang ini.

Allahu A’lam bis Shawab

Minggu, 08 Januari 2017

Wanita Jatuh Cinta



Dalam studi ilmu Fiqih pendapat terkuat mengatakan bahwa hukum lelaki melihat wanita lain (Ajnabiyyah) adalah haram. Sebaliknya wanita melihat lelaki lain (Ajnabi) cuma sampai pada batas Makruh. Ini karena lelaki lebih bisa untuk melaksanakan dan menuruti rasa tertarik yang muncul akibat memandang. Sementara wanita tidaklah demikian, meski dari segi dorongan keinginan lebih kuat daripada lelaki. Sungguh sebesar apapun dorongan dan syahwat wanita kepada lelaki, hal itu tidak akan banyak berpengaruh sebab rasa malu dalam diri wanita juga sangat tinggi. Dari sinilah kemudian kebanyakan pertemuan dan perjodohan yang lebih banyak memainkan peranan adalah pihak pria dan jarang sekali sebaliknya.

Nabi SAW bersabda:

فَضُلَتْ الْمَرْأَةُ عَلَى الرَّجُلِ بِتِسْعَةٍ وَتِسْعِيْنَ جُزْأً مِنَ اللَّذَّةِ وَلَكِنَّ اللهَ أَلْقَى عَلَيْهِنَّ الْحَيَاءَ

“Kaum wanita mengalahkan pria dengan 99 bagian dari kelezatan (Syahwat), hanya saja Alloh menuangkan rasa malu atas mereka( HR Baihaqi dari Abu Huroiroh)

Ini menunjukkan bahwa ketika rasa malu telah lepas dari wanita maka dengan mudahnya ia menuruti perasaan dan tanpa kontrol lagi ia berbuat apa saja untuk mendapatkan keinginannya dari pria. Inilah yang terjadi dan dialami oleh Zulaikho ketika ia jatuh cinta kepada Nabi Yusuf as. Gagal dengan keinginannya maka tanpa sungkan ia mengatakan bahwa ia tidak bersalah dan bahkan melakukan makar untuk menjebloskan Nabi Yusuf as ke dalam penjara.

Peristiwa hilangnya rasa malu dari wanita dan menjadikannya lupa diri untuk selanjutnya melakukan upaya  demi memuaskan hasrat juga tergambar dengan jelas dalam kisah masyhur Rojul Miski,  seorang yang dari tubunya mengeluarkan aroma wangi.

Kisahnya adalah pemuda yang terkenal sangat tampan menjaga toko kain ayahnya. Seorang wanita tua datang membeli kain. Setelah jual beli selesai wanita tua itu berkata, Maaf, aku tidak membawa uang cukup. Maukah kamu ikut denganku untuk mengambil uang ke rumahku? Pemuda itupun mengikuti wanita tua tersebut ke rumahnya. Ternyata sebuah rumah megah yang indah seperti istana. Sesudah pemuda itu masuk maka semua pintu rumah dikunci dan muncul - lah seorang wanita muda yang cantik jelita. Wanita itu mendekat dan mengajak berbuat mesum si pemuda dengan berkata, Kemarilah, aku sudah lama merindukan anda! pemuda itupun tanpa sadar mendesis, Alloh. Selanjutnya ia mencari akal untuk melepaskan diri. Ia lalu pamit ke kamar mandi dan di sana ia berak dan lalu melumurkan semua kotoran ke tubuhnya sehingga saat keluar dari kamar mandi, wanita muda yang memaksanya untuk berbuat zina segera mengusirnya karena menganggapnya sebagai orang gila.

Mulai saat itu dari tubunya keluar bau wangi hingga ia terkenal sebagai seorang lelaki berbau minyak misik (Rojul Miski) .

Pemberani, Keponakan Para Pemberani


Zuber bin Awam



Ibunya adalah Shofiyyah binti Abdul Muttolib, sedang ayahnya adalah Awam bin Khuwailid. Ini berarti dari ibu Zuber adalah keponakan Abu Tholib, Abbas dan Hamzah. Sedang dari ayah ia adalah keponakan Khodijah al Kubro dan Naufal. Kisah keislaman Zuber bermula pada suatu hari saat dia berkunjung ke rumah bibinya Khodijah dan menyaksikan Ali bin Abi Tholib sedang sholat.

Karena belum mendengar mengenai Dakwah Nabi Saw, apa yang dilakukan oleh Ali tersebut membuat Zuber terheran – heran dan bergumam: “Apa yang dilakukan oleh Ali ini, apa maksud gerakan – gerakan ruku, sujud dan berdiri ini?”  setelah Ali menyelesaikan sholatnya, Zuber segera bertanya: “Wahai sepupuku, apa yang barusan kamu lakukan?” Ali menjawab: “Barusan aku sholat kepada Tuhan semesta alam” dengan suara mengeras Zuber membantah: “Bukankah kamu dulu sholat kepada tuhan – tuhan kita di Ka’bah?” dengan agak gemetar Ali menjawab: “Apakah berhala – berhala itu kamu sebut Tuhan?”  dengan bingung Zuber menjawab: “Aku tidak menyebutnya demikian, tetapi yang para orang tua dan nenek moyang kami” Ali bertanya: “Lalu apakah kamu mengikuti agama nenek moyangmu?” Zuber menjawab: “Ia, dan kamu wahai Ali, apakah tidak mengikuti agama nenek moyangmu sepertiku?” dengan marah Ali menjawab: “Sesungguhnya nenek moyang kita berada dalam kesesatan yang nyata, mereka menyembah batu – batu bisu yang tak membawa manfaat juga tak bisa membahayakan, bahkan tidak bisa merasa. Kamu juga bisa melempari wajahnya dengan batu dan ia tak akan pernah membuka mulut, atau juga bisa kamu injak dan ia tak akan pernah bergerak”. Melihat Zuber yang ternganga dan melototinya, Ali terus berkata: “Wahai Zuber jika kucing kamu pukul maka ia akan mengeong dan bila anjing kamu pukul maka dia akan menyalak, tetapi jika kamu pukul berhala itu dengan tongkat atau kamu lempar dengan batu maka ia akan dia saja”

Sampai di sini Ali diam, Zuber lalu bertanya dengan lirih: “Jika begitu, lantas siapa Tuhanmu yang tadi kamu sholat kepadanya?” Ali menjawab: “Dia Pencipta langit dan bumi, Tuhan semesta alam”  “Terus di mana Dia bisa ditemukan?” tanya Zuber. Ali menjawab: “Dia bisa ditemukan di segala tempat dan masa di seluruh dunia, Dia ada dalam roh yang menghidupkanmu”  saat itulah Khodijah datang dan menyaksikan wajah – wajah yang terlibat dalam debat sengit. Khodijah bertanya: Ada apa wahai Ali dan Zuber? Zuber menjawab: “Sepupuku ini memberitahukan kepadaku tentang Tuhan Pencipta langit dan bumi, Tuhan semesta alam” Khodijah berkata: “Benar,  wahai keponakanku. Sungguh kami telah beriman dengan Tuhan itu, dan kami telah masuk ke dalam agama islam yang turun kepada Muhammab bin Abdillah al Amiin”  “Muhammad putera pamanku Abdulloh, Muhammad yang jujur dan terpercaya?” tanya Zuber setengah menjerit. Selanjutnya Zuber bertanya: “Lalu apa yang harus saya lakukan untuk masuk ke dalam islam wahai bibiku? Khodijah menjawab: “Ucapkanlah: “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh”!. Zuber lalu mengucapkan syhadat dan ketika Nabi Saw datang di rumah pada sore hari, Khodijah membawa Zuber ke hadapan Beliau, lalu Zuber kembali mengulang mengucap syahadat.

Sesampai di rumah, Shofiyyah melihat aura wajah anaknya berbeda, ia bertanya: Ada apa denganmu wahai anakku? Zuber balik bertanya: “Memangnya apa yang engkau lihat wahai ibuku?”  Shofiyyah menjawab: Aku melihat ada sinar cerah di dadamu dan binar kegembiraan di wajahmu. Zuber berkata: “Memang begitulah Bu, itu adalah cerah islam dan cahaya iman”  mendengar ini Shofiyyah kaget dan bertanya agak keras: Kamu menyebut “Islam” wahai anakku? Zuber menjawab: “Benar wahai ibuku, sungguh saya telah masuk islam di hadapan Muhammad, sungguh Alloh telah mengutusnya dengan agama baru yaitu islam, sebuah agama yang menuntun manusia kepada terang dan kebaikan, mengajak mereka mengenal Alloh Pencipta dunia seisinya dan menunjukkan mereka jalan lurus serta menjauhkan mereka dari jalan sesat dan gelap” Shofiyyah terdiam, hatinya seakan menerima dan akalnya pun tunduk. Beberapa saat keheningan tercipta dan lalu terpecah oleh pertanyaan Zuber: “Apakah Ibu tidak menyukai islam?” Shofiyyah menjawab: Wahai anakku, kamu memiliki paman – paman pemimpin dan orang mulia Quresy, mereka, utamanya Abu Tholib, Abbas dan Hamzah, aku belum mendapat kejelasan bagaimana sikap mereka terhadap islam, sudah pasti mereka akan mempertimbangkan hal ini dan akupun akan mengikuti mereka.

Berita keislaman Zuber terdengar dan menjadi bahan perbincangan penduduk Makkah. Saat orang – orang Quresy sedang memperbincangkan masalah tersebut di sisi Ka’bah, Naufal bin Khuwailid datang dan bertanya: Apa yang sedang kalian bicarakan? Abu Jahal menjawab: Kami sedang membicarakan keislaman keponakanmu Zuber. Terkejut dengan berita ini, Naufal berkata: “Zuber keponakanku masuk islam, selamanya dia tak akan lepas dari hukumanku”. Naufal pun berhasil menangkap Zuber, pada suatu hari dia memanggil Zuber dan ketika Zuber datang maka kemudian dia mengurungnya dan dimulailah drama penganiayaan. Zuber dikurung di dalam kamar sempit dan gelap, di kamar itu kemudian Naufal membakar kayu – kayu dan tikar hingga Zuber tercekik oleh asap. Setelah merasa puas membuat sesak nafas Zuber, Naufal membuka pintu kamar dan asap pun keluar. Akan tetapi berulang kali Naufal mengulang – ulang perlakukan tersebut sambil berkata: Wahai Zuber, kamu akan terus menerima hukuman ini selama islam tidak kamu tinggalkan dan kembali kepada agama nenek moyang. Zuber menjawab: “Aku tak akan pernah kembali kepada agama kalian, agama sesat dan kebodohan” dengan marah Naufal membalas kata – kata Zuber ini: Kalau begitu kamu akan terus mendapat siksaan ini sampai kamu mampus. Tanpa rasa takut Zuber berkata: “Sungguh indah mati di jalan islam dan iman” Naufal berkata: Tetapi aku adalah pamanmu yang juga harus kamu taati seperti ayahmu. Zuber menjawab: “Aku akan taat kepadamu pada sesuatu yang meridhokan Alloh dan RosulNya”


Perdebatan antara Naufal dan Zuber terus berlangsung sampai pada titik akhir kesabaran Zuber, anak muda itu secara mengagetkan dan dengan suara keras berkata di muka pamannya: “Sekarang usiaku sudah tujuh belas tahun, tak ada kekuasaan apapun bagimu atas diriku, jika kamu tidak membebaskanku dari siksaan ini maka aku akan melawanmu seakan kamu bukan pamanku, aku akan membela diri dengan pedang dan kekuatanku, dan jangan anda lupakan bahwa aku juga memiliki paman – paman pemuka Quresy; Abu Tholib, Hamzah dan Abbas” Ancaman Zuber ini berhasil membuat Naufal berubah fikiran, pamannya itu melihat keseriusan melawan dan membalas di wajah sang keponakan hingga akhirnya Naufal memutuskan melepaskan Zuber. 

Si Bocah Penggembala Domba


Abdulloh bin Mas’ud


Saat sedang asyik menggembalakan domba – domba milik tuan Uqbah bin Abi Mu’ith, bocah  bernama Abdulloh itu dikejutkan oleh dua orang yang datang dalam keadaan seperti habis lari dari pengejaran. Kedua orang itu tiada lain adalah Nabi Saw dan Abu Bakar ra. Memang keduanya baru saja melarikan diri dari orang – orang musyrik. Keduanya bertanya: Wahai bocah, adakah susu yang bisa kamu berikan untuk kami minum? Abdulloh menjawab: Maaf saya hanya orang yang mendapat kepercayaan (kambing – kambing ini bukan milik saya sendiri). Keduanya bertanya: Apakah ada anak kambing betina yang belum pernah dikawini oleh pejantan? Abdulloh menjawab: Ia, ada. Abdulloh segera membawa anak kambing yang diminta dan oleh Abu Bakar kambing itu segera diikat.

Nabi Saw kemudian memegang kantong susunya dan berdo’a dan ajaib, mendadak kantong susu anak kambing itu membesar. Abu Bakar lalu mengambil batu berlubang tengah yang bisa dijadikan sebagai tempat memeras. Nabi Saw lalu memeras susu anak kambing itu dan meminum susunya bersama Abu Bakar dan kemudian memberikan sisanya kepada Abdulloh. Selesai minum Nabi Saw bersabda: “Berkerutlah!” maka kantong susu anak kambing itupun kembai seperti semula.


Tak lama sesudah kejadian itu Abdulloh datang kepada Rosululloh Saw dan menyatakan diri masuk islam serta meminta: “Ajarilah saya dari ungkapan yang indah itu (Alqur’an)” Nabi Saw menjawab: “Sesungguhnya kamu adalah seorang bocah yang diberi ilmu”. Dalam sebuah kesempatan Abdulloh bin Mas’ud berkata: Aku lalu mengambil dari Rosululloh Saw tujuh puluh surat yang tak seorangpun menentangku tentang tujuh puluh tersebut”.

Kamis, 29 Desember 2016

Titipan Syair dari Pendeta Himyar



Abdurrohman bin Auf


Setelah menyatakan diri beriman memang tak ada tekanan fisik maupun psikologis berarti yang diterima oleh Abdurrohman, karena memang dia bukan berasal dari Quresy. Hanya saja kini orang – orang Quresy tidak lagi meneruskan kerjasama dagang dengannya. Nama Askalan bin Awakin, pendeta Nashroni yang tinggal di Himyar daerah Yaman mungkin tak pernah bisa hilang dari ingatan Abdurrohman, sebab dari Askalan lah dia mengerti tentang kenabian Nabi Muhammad Saw.

Perkenalan itu bermula ketika Abdurrohman dalam beberapa misi dagangnya di Yaman seringkali singgah dan menginap di tempat Askalan. Kepada tamunya, pendeta itu selalu bertanya tentang Makkah, Ka’bah dan Zam – zam. Kakek yang sudah lanjut usia itu juga bertanya: “Apakah seseorang yang berbeda agama dengan kalian telah muncul?” dan Abdurrohman selalu menjawab belum. Sampai pada tahun ketika Nabi Muhammad Saw telah diutus dan kebetulan Abdurohman sedang berada di tempat Askalan. Sayang ketika itu Askalan sudah sangat renta, tubunya lemah dan pendengarannya pun juga demikian. Mengetahui Abdurrohman datang, anak dan cucu Askalan akhirnya memapah Askalan untuk keluar menemui Abdurohman. Askalan meminta: “Tolong sebutkan garis keturunanmu!” Abdurrohman menjawab: “Aku bernama Abdurrohman bin Auf bin Abdul Harita bin Zahroh” Askalan menyahut: “Cukup wahai orang Bani Zahroh, sudikah kamu mendengar dariku berita gembira yang lebih baik bagimu daripada perniagaanmu?” Askalan melanjutkan: “Telah diutus seorang Nabi pilihanNya dari kaummu, Dia menurunkan kitab kepadanya, menjadikan untuknya pahala, Nabi itu melarang dari berhala dan mengajak kepada islam, menyuruhmu berbuat baik dan melarang dari yang jelek” Abduurohman bertanya: “Darimana Nabi itu?” Askalan menjawab: “Dia tidak dari Azdi dan sepadannya serta tidak pula dari Sarof dan misalnya, Nabi itu dari Bani Hasyim” Askalan lalu berpesan: “Selesaikanlah segera urusanmu di sini dan cepatlah pulang, datanglah kepada Nabi itu dan jadilah kamu sebagai pembelanya” sebelum mengakhiri pesan, Askalan juga membacakan beberapa bait syair yang dengan mudah dihafal oleh Abdurrohman untuk segera disampaikan kepada Rosululloh Saw.


Sesampai di Makkah, Abdurrohman menemui Abu Bakar dan menceritakan perihal yang ditemuinya di Yaman. Abu Bakar lalu mengatakan: “Ini Muhammad, sungguh Alloh telah mengutusnya. Cepatlah datang kepadanya!” Abdurrohman lalu menuju rumah Khodijah untuk bertemu dengan Rosululloh Saw. Melihatnya datang, Nabi Saw tertawa dan bersabda: “Aku melihat muka berseri, semoga ada kebaikan setelah ini” Nabi Saw lalu bertanya: “Memangnya ada apa?” Abdurrohman menjawab: “Saya membawa titipan” Nabi Saw betanya: “Apakah ada yang mengirim surat untukku?” Abdurrohman lalu menceritakan kabar dan pesan yang dibawanya dari Askalan dan setelah itu diapun mengucapkan  Syahadat. Nabi Saw kemudian bersabda: “Teman dari Himyar (Askalan bin Awakin) adalah manusia yang beriman dan membenarkan aku”

Abu Yazid Al Busthami dan Seekor Anjing

 http://elzajery.blogspot.co.id/



Dikisahkan; Seorang Pemimpin aliran tasawwuf yang bernama Abu Yazid Al Busthami, seperti biasa Abu Yazid suka berjalan sendiri di malam hari. Lalu ia melihat seekor anjing berjalan ke arahnya, anjing tersebut jalan tidak menghiraukan sang sufi tersebut, namun ketika sudah lewat hampir dekat, Abu Yazid Al-Busthomi mengangkat gamisnya kuatir terkena najis anjing tersebut. 

Spontan anjing itu berhenti dan memandangnya. Entah bagaimana Abu Yazid seperti mendengar anjing itu berkata padanya,

"Tubuhku kering tidak akan menyebabkan najis padamu, kalo pun engkau merasa terkena najis, engkau tinggal basuh 7X (tujuh kali)  dengan air & tanah, maka najis di tubuhmu itu akan hilang. Namun jika engkau mengangkat gamismu karena menganggap dirimu yang berbaju badan manusia lebih mulia, dan menganggap diriku yang berbadan anjing ini najis dan hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tidak akan bersih walau kau basuh dengan air tujuh samudra".

Abu Yazid tersentak dan minta ma'af, lalu sebagai permohonan ma'afnya dia mengajak anjing itu untuk bershahabat & jalan bersama. dengan suasana hati yang masih sedih dan kecewa si anjing itu menolaknya. 

"Engkau tidak pantas berjalan denganku, mereka yang memuliakanmu akan mencemoohmu dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tau mengapa mereka menganggapku begitu hina, padahal aku berserah diri pada sang pencipta wujud ini, lihatlah aku juga tidak menyimpan dan membawa sebuah tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum", lalu anjing itu pun berjalan meninggalkan abu yazid. 

Abu Yazid masih terdiam, " Yaa Allah, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-MU saja aku tak pantas, bagaimana aku merasa pantas berjalan dengan-MU, ampuni aku dan sucikan hatiku dari najis ".

Senin, 26 Desember 2016

Kabar Baik dari Sang Rahib



Tholhah bin Ubaidillah


Dia datang di pasar Bashroh, dan tanpa di sangka ada pengumuman dari Rahib di gereja: “Siapakah di antara kalian ini yang berasal dari tanah Haram?” Tholhah pun segera datang ke gereja menghadap sang Rahib. Kepadanya Rahib bertanya: “Apakah Ahmad telah menampak?” karena bingung, Tholhah balik bertanya: Memangnya siapa Ahmad yang anda maksud? Rahib menjawab: “Putera Abdillah bin Abdul Muttholib, bulan ini adalah bulan kemunculannya, dia akhir para nabi yang keluar dari tanah Haram dan berhijroh ke daerah penuh kurma, bebatuan hitam dan tanah yang subur, maka jangan sampai kamu kedahuluan (untuk beriman kepadanya)”

Kata – kata Rahib ini begitu menyentuh hati Tholhah hingga secepatnya dia kembali lagi ke Makkah. Dia lalu segera bertanya: “Apakah ada kejadian?” orang – orang berkata: Ia, Muhammad bin Abdillah al Amiin mengaku sebagai seorang Nabi dan kini putera Abi Quhafah (Abu Bakar) telah percaya dan mengikutinya. Mendengar hal ini Tholhah lekas datang kepada Abu Bakar dan menyatakan diri: “Kamu mengikuti lelaki ini (Rosululloh Saw)?” Abu Bakar menjawab: Ia, karenanya cepatlah kamu datang kepadanya dan ikutilah dia, sebab sungguh dia mengajak kepada kebenaran! Tholhah lalu memberitahukan kepada Abu Bakar perihal kabar yang diterimanya dari Rahib di Bashro. Keduanya kemudian datang kepada Rosululloh Saw dan di hadapan Beliau Tholhah menyatakan diri beriman serta juga mengabarkan soal kabar dari Rahib di Bashro. Hal ini tentu saja sangat menggembirakan hati Rosululloh Saw.


Mendengar Abu Bakar dan Tholhah mengikuti agama Nabi Muhammad Saw, Naufal bin Khuwailid sangat marah, dia berfikir keras bagaimana membuat Abu Bakar dan Tholhah jera dan meninggalkan agama Muhammad serta kembali kepada agama nenek moyang. Akhirnya orang yang disebut singa Quresy ini menangkap kedua orang itu serta mengikatnya dalam satu ikatan. Setelah kabar tentang hal ini sampai kepada Nabi Saw maka Beliau Saw berdo’a: “Ya Alloh, cukupkanlah kami dari keburukan putera Adawiyyah (Naufal)!” dan karena kejadian itulah Abu Bakar dan Tholhah disebut al Qoriinain

Minggu, 30 Oktober 2016

Memendam Rasa, Mengikat Asa



Utsman bin Affan


Dua orang lelaki sedang bercengkrama di samping Ka’bah. Orang pertama bertanya: “Apakah kamu telah mendengar berita penting yang sekarang banyak dibicarakan oleh penduduk Makkah?” orang kedua menjawab: “Ia, aku mendengar Muhammad mengumumkan kepada seluruh orang bahwa dirinya adalah utusan Allah untuk menunjukkan bangsa Arab dan mengentas mereka dari sesat kekafiran menuju cahaya keimanan” orang pertama bertanya: “Lalu bagaimana menurutmu?”  “Demi Allah, Muhammad pasti jujur, sungguh dia sebaik - baik pemuda Quresy serta sudah dikenal dengan sifat amanahnya” jawab orang kedua.

Saat kedua orang itu asyik berbicara, tiba - tiba semerbak bau harum tercium. Mereka lalu menoleh ke arah datangnya bau harum tersebut dan mata mereka pun segera menemukan seorang pemuda dengan penampilan indah, penuh ketenangan dan tampak sekali bahwa pemuda bertubuh sedang itu adalah orang kaya raya dan terhormat. Salah seorang dari mereka bertanya: “Siapa pemuda berwibawa itu?” temannya menjawab: “Apakah kamu belum mengenalnya? dia adalah Utsman bin Affan, tokoh pemuda Quresy yang terkenal sangat dermawan” mendengar ini, si penanya dengan tersenyum - senyum berkata: “Ia, ia, aku pernah mendengar tentangnya, tetapi baru kali ini aku melihatnya”  temannya bertanya: “Lalu apalagi yang kamu dengar tentangnya? “ Si penanya menjawab: “Aku mendengar bahwa pemuda itu selalu memuliakan tamu, menolong orang yang membutuhkan, membantu orang miskin, gemar sekali meringankan beban orang yang kesusahan, dan rumahnya menjadi tempat tujuan para pengembara serta tempat istirahat para tamu. Sungguh pemuda itu suka memberi dengan rahasia dan tak pernah bangga dengan apa yang telah dia berikan”

Begitulah Utsman bin Affan sebelum islam, dia pemuda yang terpandang dan kaya raya. Perdagangannya meluas merambah Jazirah Arabia dari mulai Syam, Yaman hingga Iraq dengan angkutan ratusan unta. Pada ketika itu Utsman adalah konglomerat papan atas suku Quresy. Meski demikian, Utsman tetaplah pemuda yang pemalu dan suka merendah. Sampai pada akhirnya sifat pemalu ini harus dibayarnya mahal dengan perasaan, dengan hasratnya sebagai pemuda yang mendamba seorang dara jelita.

Ruqayyah, demikian nama gadis berparas elok dan indah tersebut. Maklum ayahnya adalah Muhammad Saw dan ibundanya adalah Khadijah. Semua pemuda Quresy bermimpi bisa menyuntingnya sebagai isteri, termasuk pemuda kaya raya Utsman bin Affan. Akan tetapi rasa malu menjadikan Utsman surut langkah, lidahnya keluh untuk berkata mengungkapkan hasrat keinginannya. Sampai akhirnya putaran waktu membawa Ruqayyah menjadi isteri Utbah bin Abu Lahab. Kabar pernikahan Ruqayyah  tentu saja sangat memukul Utsman. Hatinya sangat sedih dan kecewa. Kenyataan ini terus saja menghantui dan mengusik ketenangannya hingga ia datang mengeluh kepada bibinya yang bernama Su’daa, wanita yang selama ini dikenal sebagai pemilik firasat jitu dan apa yang ia ucapkan senantiasa benar.

Kepada saudara ibundanya itu, Utsman menumpahkan kesedihannya: “Wahai bibiku, sejak lama saya merindukan bisa memperistri  Ruqayyah, tetapi justru dia kini menjadi isteri orang lain. Apa yang harus saya lakukan? “ Sang bibi balik bertanya: “Lalu kenapa kamu tidak datang melamar Ruqayyah kepada ayahnya sebelum Utbah menikahinya?”Utsman menjawab: “Bibi telah mengerti bahwa saya sangat pemalu, tak mungkin ada keberanian muncul untuk datang kepada ayahnya, seorang yang sangat mulia dan berwibawa” Su’da berkata: “Jangan sedih Utsman, suatu hari nanti Ruqayyah pasti menjadi milikmu” dengan penuh ragu Utsman bertanya: “Bagaimana bisa, Utbah telah menyuntingnya” Su’da menjawab: “Wahai Utsman, ayah Ruqayyah adalah manusia agung, kelak nanti akan terjadi suatu hal besar, dunia akan berubah sebab ayah Ruqayyah, dan Ruqayyah akan menjadi isterimu”

Beberapa hari berlalu sedang kata - kata Su’da masih terngiang di telinga. Utsman terus bertanya:  “Terjadi ini terjadi itu, lalu apa hubungannya dengan diriku yang akan bisa memiliki Ruqayyah, sementara kenyataannya wanita rupawan itu telah menjadi milik orang?” Sampai pada suatu hari Utsman bertemu dengan Abu Bakar yang sejak lama menjadi kawan karibnya. Kepada Abu Bakar, Utsman menceritakan perihal perkataan Su’daa.Mendengar cerita Utsman, Abu Bakar menegaskan: “Bibimu benar, Muhammad adalah Utusan Allah, dia mengajak kepada RisalahNya dengan rahasia. Maukah kamu datang menghadap kepadanya bersamaku?” ajakan ini langsung disambut Utsman dengan gembira hati berbunga. Mereka beduapun segera datang kepada Nabi Saw. Nabi Saw bersabda: “Wahai Utsman, patuhilah Allah, sungguh aku adalah utusanNya kepadamu dan seluruh manusia!” Utsman menjawab: “Ia, wahai Rasulullah, saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusanNya “

Setelah menyatakan diri masuk islam di rumah Arqam bin al Arqam tersebut, Utsman beberapa hari tidak muncul hingga membuat hati Abu Bakar tercekam resah. Akhirnya pada suatu saat ketika Abu Bakar sedang membaca Alqur’an di rumahnya, Utsman datang dengan raut muka seperti kelelahan. Abu Bakar segera menyambutnya dengan sangat senang. “Di mana kamu wahai Utsman, kenapa lama tidak kelihatan. Aku khawatir kesusahan menimpamu. Kiranya ada apa, tolong ceritakan!”  Utsman pun bercerita:

Setelah mengetahui keislamanku, Hakam bin al Ash pamanku bertanya: “Apakah kamu meninggalkan tuhan - tuhan kami dan mengikuti agama baru yang belum pernah dikenal oleh nenek moyang kita?” Aku menjawab: “Wahai paman, tuhan - tuhan kalian itu hanyalah bebatuan bisu yang tidak bisa memberi manfaat atau menolak bahaya. Sebaiknya engkau meninggalkannya dan mengikuti agama Muhammad, agama kebenaran dan keadilan. Mendengar ini paman memukulku dan kemudian mengurungku di kamar gelap tanpa sama sekali memberiku makan dan minum. Aku bersabar dan mengatakan kepada paman bahwa aku tak akan meninggalkan agama Muhammad meski dia membunuhku. Melihat keteguhanku, dengan kemarahan masih meluap paman akhirnya melepaskanku. Aku berkata kepadanya: Saya sama sekali tidak peduli dengan kemarahan dan kerelaanmu. Hal terpenting bagiku adalah mendapat ridha Allah dan RasulNya”.


Setelah Rasulullah Saw berdakwah dengan terang - terangan maka tekanan orang - orang kafir semakin menjadi. Salah satu wujud tekanan itu adalah dengan memutuskan hubungan besan dengan Nabi Saw. Isteri Abu Lahab, Ummu Jamil datang kepada Nabi Saw dan berkata: “Aku mengembalikan puterimu Ruqayyah isteri anakkku Utbah, dan Ummu Kultsum istri anakku Utaibah” Ummu Jamil melanjutkan: “Kami tak sudi punya besan sepertimu yang membodohkan agama kami dan menghinan berhala - berhala kami” Akhirnya apa yang dulu dikatakan oleh Su’daa menjadi kenyataan. Ruqayyah kemudian diperistri oleh Utsman setelah diceraikan oleh Utbah. Dalam Sirah Ibnu Hisyam disebutkan bahwa Ruqayyah belum sempat tersentuh oleh Utbah. Setelah menceraikan Ruqayyah, Utbah lalu menikahi puteri Said bin al Ash. 

Orang Pertama yang Menampakkan Islam




Abu Bakar ra


Dalam perjalanan mengajak manusia untuk mengesakan Allah, ajakan Nabi Saw senantiasa terhalang. Tak ada yang mulus dan begitu saja diterima kecuali ajakan Beliau kepada Abu Bakar. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Nabi Saw: “Tak seorangpun yang aku ajak kepada islam kecuali dalam dirinya terlebih dahulu dirasuki keraguan kecuali Abu Bakar. Kketika aku mentawarkan islam kepadanya maka tanpa basa basi dia langsung menerimanya”(Lihat Bidayah Wan Nihayah: 1/ 108, 3/ 27.

Keislaman Abu Bakar terjadi saat dirinya bertemu dengan teman akrabnya yang telah beberapa lama tidak dijumpainya. Dalam perjumpaan itulah Abu Bakar bertanya tentang desas - desus yang didengarnya: “Wahai Muhammad, benarkah apa yang dikatakan oleh orang - orang Quresy bahwa engkau telah meninggalkan tuhan - tuhan kami dan mengatakan bahwa kami telah bertindak bodoh?” Nabi Saw menjelaskan: “Benar, aku adalah Nabi dan Utusan Allah, Dia telah Mengutusku untuk menyampaikan risalahNya dan mengajakmu kepada Allah. Demi Allah, sungguh ini adalah kebenaran. Aku mengajakmu kepada Allah Maha Esa tiada sekutu bagiNya dan jangan menyembah selainNya!” Nabi Saw lalu membacakan Alqur’an dan Abu Bakar langsung menerima ajakan Beliau Saw tanpa sama sekali ingkar atau menganggap temannya ini mengajaknya kepada sesuatu yang asing. Dia segera menyatakan diri masuk islam yang karena itulah dia mendapat julukan Ash Shiddiiq.

Salah satu sebab, seperti dituturkan oleh Imam Suhaili, yang melatar belakangi sikap Abu Bakar yang dengan mudah dan sangat antusias menerima dakwah Nabi Saw adalah mimpi yang dialami oleh Abu Bakar sebelumnya. Dalam mimpi itu dia melihat rembulan turun di Makkah dan berpecah - pecah lalu memencar ke seluruh rumah - rumah Makkah. Setiap rumah dihampiri oleh satu bagian hingga seluruhnya kemudian berkumpul di pangkuannya. Mimpi ini oleh Abu Bakar kemudian diceritakan kepada seorang ahli kitab Taurat dan Injil yang kemudian ditafsirkan kepadanya bahwa: “Sesungguhnya Nabi Saw yang dinantikan telah datang masanya, ikutilah dia maka kamu akan menjadi manusia yang paling beruntung”

Setelah masuk Islam Abu Bakar segera menampakkan Islam dan berdakwah menyiarkan islam. Sikap seperti ini secara akal memang sangat mungkin diambil oleh Abu Bakar, sebab Beliau termasuk seorang yang memiliki wibawa dan disegani di kalangan Quresy. Abu Bakar terkenal sebagai seorang yang paling ahli nasab di kalangan Quresy (Ansabu Quresy), seorang pedagang berhati mulia dan Beliau juga menjadi tempat mengadu bagi banyak orang yang sedang terhimpit masalah. Usaha menampakkan dan mengajak kepada Islam yang dilakukan oleh Abu Bakar  ternyata cukup banyak menuai hasil hingga ada beberapa orang yang masuk Islam karena dakwahnya; antara lain Utsman bin Affan, Zuber bin Awam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah.

Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar ini membuat Beliau tercatat sebagai sahabat yang pertama kali menampakkan dan mendakwahkan Islam. Hal ini diakui sendiri oleh Ali bin Abi Thalib: “Abu Bakar mendahuluiku dalam empat hal yang tak mungkin aku mengejarnya; 1) dalam menampakkan dan menyebarkan (Ifsya’) islam, 2) terlebih dahulu berhijrah, 3) menemani Nabi Saw di gua, dan 4) saat aku melakukan shalat di lereng - lereng gunung dan menyembunyikan Islam justru dia secara terang terangan memproklamirkan diri sebagai seorang muslim

Kendati meraih hasil, dakwah Abu Bakar bukan nyaris tanpa aral melintang, sebab sesudah mengetahui dirinya dan Thalhah bin Ubaidillah masuk islam, Naufal bin Khuwailid yang terkenal sebagai singa Quresy sempat menangkap dan mengikat keduanya dalam satu ikatan yang karena itulah mereka berdua disebut al Qorinain.

Abu Bakar dan Ibnu Daghinah

Tekanan kafir Quresy semakin hebat hingga Nabi Saw menyarankan agar kaum muslimin  berhijrah ke Habasyah untuk beroleh kedamaian dalam beribadah. Abu Bakar pun ikut ambil bagian dalam berhijrah, akan tetapi ketika sampai di suatu daerah Yaman bernama Barkul Ghimad dia bertemu dengan Ibnu Daghinah, seorang kepala suku al Qooroh. “Hendak ke manakah engkau wahai Abu Bakar?” tanya Ibnu Daghinah. Abu Bakar menjawab: “Kaumku mengusirku, karena itu aku ingin berkelana di bumi untuk menyembah Tuhanku”  Ibnu Daghinah menyahut: “Orang seperti anda tidak layak keluar atau diusir, sebab anda selalu memberi yang kekurangan, menyambung tali kerabat, membantu orang kesusahan, dan menyuguh tamu. Saya akan memberi suaka kepada anda karenanya marilah kita kembali dan sembahlah Tuhan anda di negeri sendiri”

Sesampai di Makkah, Ibnu Daghinah datang kepada para tokoh Quresy dan mengatakan: “Sesungguhnya orang seperti Abu Bakar tidak layak keluar atau diusir. Pantaskah kalian mengusir manusia yang gemar memberi orang yang kekurangan, menyambung tali kerabat, membantu yang kesusahan dan menyuguh tamu?” Para tokoh Quresy akhirnya menerima pemberian suaka kepada Abu Bakar, akan tetapi mereka tetap memberi syarat kepada Ibnu Daghinah: “Katakan kepada Abu Bakar agar menyembah Tuhannya, shalat atau membaca yang dia mau di rumah saja, jangan sampai dia menampakkan hal - hal ini, sebab kami khawatir anak dan isteri kami terhasut olehnya”

Pada mulanya Abu Bakar tidak shalat atau membaca Alqur’an kecuali di dalam rumah, tetapi kemudian Beliau berubah fikiran dan lalu membangun sebuah tempat shalat di halaman rumah. Di tempat inilah Beliau melakukan shalat dan membaca Alqur’an  hingga bacaan Beliau mampu menyedot simpati para wanita dan anak - anak kaum musyrikin untuk datang mendekat supaya bisa mendengar bacaan Alqur’an. Mereka semakin ternganga keheranan begitu menyaksikan air mata Abu Bakar mengalir deras ketika bacaan - bacaan Alqur’an keluar dari lisannya.


Keadaan tersebut tak urung membuat para pemuka Quresy semakin marah dan tidak menerima hingga mereka kemudian memanggil Ibnu Daghinah. Kepadanya mereka berkata: “Kami memberi suaka kepada Abu Bakar agar dia menyembah Tuhannya di dalam rumahnya, tetapi sekarang dia telah melanggar dengan membangun sebuah tempat di halaman rumah serta menampakkan shalat dan bacaannya. Sungguh kami khawatir dengan anak - anak dan para wanita kami, karena itu datanglah kepadanya dan katakan agar dia kembali beribadah di dalam rumah saja. Jika dia membantah maka mintalah supaya dia mengembalikan suakamu, sebab kami tidak ingin melepas perjanjian denganmu “ Ibnu Daghinah lalu datang kepada Abu Bakar dan mengatakan: “Anda telah mengerti perjanjian kita, anda tetap setia dengan janji atau mengembalikan jaminan suaka yang saya berikan, sebab saya tak ingin orang Arab mengatakan bahwa saya telah membatalkan perjanjian?” Abu Bakar menjawab: “Sungguh aku mengembalikan kepada anda jaminan suaka itu dan kini aku merasa cukup dengan jaminan suaka Allah dan RasulNya “