Translate

Minggu, 08 Januari 2017

Wanita Jatuh Cinta



Dalam studi ilmu Fiqih pendapat terkuat mengatakan bahwa hukum lelaki melihat wanita lain (Ajnabiyyah) adalah haram. Sebaliknya wanita melihat lelaki lain (Ajnabi) cuma sampai pada batas Makruh. Ini karena lelaki lebih bisa untuk melaksanakan dan menuruti rasa tertarik yang muncul akibat memandang. Sementara wanita tidaklah demikian, meski dari segi dorongan keinginan lebih kuat daripada lelaki. Sungguh sebesar apapun dorongan dan syahwat wanita kepada lelaki, hal itu tidak akan banyak berpengaruh sebab rasa malu dalam diri wanita juga sangat tinggi. Dari sinilah kemudian kebanyakan pertemuan dan perjodohan yang lebih banyak memainkan peranan adalah pihak pria dan jarang sekali sebaliknya.

Nabi SAW bersabda:

فَضُلَتْ الْمَرْأَةُ عَلَى الرَّجُلِ بِتِسْعَةٍ وَتِسْعِيْنَ جُزْأً مِنَ اللَّذَّةِ وَلَكِنَّ اللهَ أَلْقَى عَلَيْهِنَّ الْحَيَاءَ

“Kaum wanita mengalahkan pria dengan 99 bagian dari kelezatan (Syahwat), hanya saja Alloh menuangkan rasa malu atas mereka( HR Baihaqi dari Abu Huroiroh)

Ini menunjukkan bahwa ketika rasa malu telah lepas dari wanita maka dengan mudahnya ia menuruti perasaan dan tanpa kontrol lagi ia berbuat apa saja untuk mendapatkan keinginannya dari pria. Inilah yang terjadi dan dialami oleh Zulaikho ketika ia jatuh cinta kepada Nabi Yusuf as. Gagal dengan keinginannya maka tanpa sungkan ia mengatakan bahwa ia tidak bersalah dan bahkan melakukan makar untuk menjebloskan Nabi Yusuf as ke dalam penjara.

Peristiwa hilangnya rasa malu dari wanita dan menjadikannya lupa diri untuk selanjutnya melakukan upaya  demi memuaskan hasrat juga tergambar dengan jelas dalam kisah masyhur Rojul Miski,  seorang yang dari tubunya mengeluarkan aroma wangi.

Kisahnya adalah pemuda yang terkenal sangat tampan menjaga toko kain ayahnya. Seorang wanita tua datang membeli kain. Setelah jual beli selesai wanita tua itu berkata, Maaf, aku tidak membawa uang cukup. Maukah kamu ikut denganku untuk mengambil uang ke rumahku? Pemuda itupun mengikuti wanita tua tersebut ke rumahnya. Ternyata sebuah rumah megah yang indah seperti istana. Sesudah pemuda itu masuk maka semua pintu rumah dikunci dan muncul - lah seorang wanita muda yang cantik jelita. Wanita itu mendekat dan mengajak berbuat mesum si pemuda dengan berkata, Kemarilah, aku sudah lama merindukan anda! pemuda itupun tanpa sadar mendesis, Alloh. Selanjutnya ia mencari akal untuk melepaskan diri. Ia lalu pamit ke kamar mandi dan di sana ia berak dan lalu melumurkan semua kotoran ke tubuhnya sehingga saat keluar dari kamar mandi, wanita muda yang memaksanya untuk berbuat zina segera mengusirnya karena menganggapnya sebagai orang gila.

Mulai saat itu dari tubunya keluar bau wangi hingga ia terkenal sebagai seorang lelaki berbau minyak misik (Rojul Miski) .

Pemberani, Keponakan Para Pemberani


Zuber bin Awam



Ibunya adalah Shofiyyah binti Abdul Muttolib, sedang ayahnya adalah Awam bin Khuwailid. Ini berarti dari ibu Zuber adalah keponakan Abu Tholib, Abbas dan Hamzah. Sedang dari ayah ia adalah keponakan Khodijah al Kubro dan Naufal. Kisah keislaman Zuber bermula pada suatu hari saat dia berkunjung ke rumah bibinya Khodijah dan menyaksikan Ali bin Abi Tholib sedang sholat.

Karena belum mendengar mengenai Dakwah Nabi Saw, apa yang dilakukan oleh Ali tersebut membuat Zuber terheran – heran dan bergumam: “Apa yang dilakukan oleh Ali ini, apa maksud gerakan – gerakan ruku, sujud dan berdiri ini?”  setelah Ali menyelesaikan sholatnya, Zuber segera bertanya: “Wahai sepupuku, apa yang barusan kamu lakukan?” Ali menjawab: “Barusan aku sholat kepada Tuhan semesta alam” dengan suara mengeras Zuber membantah: “Bukankah kamu dulu sholat kepada tuhan – tuhan kita di Ka’bah?” dengan agak gemetar Ali menjawab: “Apakah berhala – berhala itu kamu sebut Tuhan?”  dengan bingung Zuber menjawab: “Aku tidak menyebutnya demikian, tetapi yang para orang tua dan nenek moyang kami” Ali bertanya: “Lalu apakah kamu mengikuti agama nenek moyangmu?” Zuber menjawab: “Ia, dan kamu wahai Ali, apakah tidak mengikuti agama nenek moyangmu sepertiku?” dengan marah Ali menjawab: “Sesungguhnya nenek moyang kita berada dalam kesesatan yang nyata, mereka menyembah batu – batu bisu yang tak membawa manfaat juga tak bisa membahayakan, bahkan tidak bisa merasa. Kamu juga bisa melempari wajahnya dengan batu dan ia tak akan pernah membuka mulut, atau juga bisa kamu injak dan ia tak akan pernah bergerak”. Melihat Zuber yang ternganga dan melototinya, Ali terus berkata: “Wahai Zuber jika kucing kamu pukul maka ia akan mengeong dan bila anjing kamu pukul maka dia akan menyalak, tetapi jika kamu pukul berhala itu dengan tongkat atau kamu lempar dengan batu maka ia akan dia saja”

Sampai di sini Ali diam, Zuber lalu bertanya dengan lirih: “Jika begitu, lantas siapa Tuhanmu yang tadi kamu sholat kepadanya?” Ali menjawab: “Dia Pencipta langit dan bumi, Tuhan semesta alam”  “Terus di mana Dia bisa ditemukan?” tanya Zuber. Ali menjawab: “Dia bisa ditemukan di segala tempat dan masa di seluruh dunia, Dia ada dalam roh yang menghidupkanmu”  saat itulah Khodijah datang dan menyaksikan wajah – wajah yang terlibat dalam debat sengit. Khodijah bertanya: Ada apa wahai Ali dan Zuber? Zuber menjawab: “Sepupuku ini memberitahukan kepadaku tentang Tuhan Pencipta langit dan bumi, Tuhan semesta alam” Khodijah berkata: “Benar,  wahai keponakanku. Sungguh kami telah beriman dengan Tuhan itu, dan kami telah masuk ke dalam agama islam yang turun kepada Muhammab bin Abdillah al Amiin”  “Muhammad putera pamanku Abdulloh, Muhammad yang jujur dan terpercaya?” tanya Zuber setengah menjerit. Selanjutnya Zuber bertanya: “Lalu apa yang harus saya lakukan untuk masuk ke dalam islam wahai bibiku? Khodijah menjawab: “Ucapkanlah: “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh”!. Zuber lalu mengucapkan syhadat dan ketika Nabi Saw datang di rumah pada sore hari, Khodijah membawa Zuber ke hadapan Beliau, lalu Zuber kembali mengulang mengucap syahadat.

Sesampai di rumah, Shofiyyah melihat aura wajah anaknya berbeda, ia bertanya: Ada apa denganmu wahai anakku? Zuber balik bertanya: “Memangnya apa yang engkau lihat wahai ibuku?”  Shofiyyah menjawab: Aku melihat ada sinar cerah di dadamu dan binar kegembiraan di wajahmu. Zuber berkata: “Memang begitulah Bu, itu adalah cerah islam dan cahaya iman”  mendengar ini Shofiyyah kaget dan bertanya agak keras: Kamu menyebut “Islam” wahai anakku? Zuber menjawab: “Benar wahai ibuku, sungguh saya telah masuk islam di hadapan Muhammad, sungguh Alloh telah mengutusnya dengan agama baru yaitu islam, sebuah agama yang menuntun manusia kepada terang dan kebaikan, mengajak mereka mengenal Alloh Pencipta dunia seisinya dan menunjukkan mereka jalan lurus serta menjauhkan mereka dari jalan sesat dan gelap” Shofiyyah terdiam, hatinya seakan menerima dan akalnya pun tunduk. Beberapa saat keheningan tercipta dan lalu terpecah oleh pertanyaan Zuber: “Apakah Ibu tidak menyukai islam?” Shofiyyah menjawab: Wahai anakku, kamu memiliki paman – paman pemimpin dan orang mulia Quresy, mereka, utamanya Abu Tholib, Abbas dan Hamzah, aku belum mendapat kejelasan bagaimana sikap mereka terhadap islam, sudah pasti mereka akan mempertimbangkan hal ini dan akupun akan mengikuti mereka.

Berita keislaman Zuber terdengar dan menjadi bahan perbincangan penduduk Makkah. Saat orang – orang Quresy sedang memperbincangkan masalah tersebut di sisi Ka’bah, Naufal bin Khuwailid datang dan bertanya: Apa yang sedang kalian bicarakan? Abu Jahal menjawab: Kami sedang membicarakan keislaman keponakanmu Zuber. Terkejut dengan berita ini, Naufal berkata: “Zuber keponakanku masuk islam, selamanya dia tak akan lepas dari hukumanku”. Naufal pun berhasil menangkap Zuber, pada suatu hari dia memanggil Zuber dan ketika Zuber datang maka kemudian dia mengurungnya dan dimulailah drama penganiayaan. Zuber dikurung di dalam kamar sempit dan gelap, di kamar itu kemudian Naufal membakar kayu – kayu dan tikar hingga Zuber tercekik oleh asap. Setelah merasa puas membuat sesak nafas Zuber, Naufal membuka pintu kamar dan asap pun keluar. Akan tetapi berulang kali Naufal mengulang – ulang perlakukan tersebut sambil berkata: Wahai Zuber, kamu akan terus menerima hukuman ini selama islam tidak kamu tinggalkan dan kembali kepada agama nenek moyang. Zuber menjawab: “Aku tak akan pernah kembali kepada agama kalian, agama sesat dan kebodohan” dengan marah Naufal membalas kata – kata Zuber ini: Kalau begitu kamu akan terus mendapat siksaan ini sampai kamu mampus. Tanpa rasa takut Zuber berkata: “Sungguh indah mati di jalan islam dan iman” Naufal berkata: Tetapi aku adalah pamanmu yang juga harus kamu taati seperti ayahmu. Zuber menjawab: “Aku akan taat kepadamu pada sesuatu yang meridhokan Alloh dan RosulNya”


Perdebatan antara Naufal dan Zuber terus berlangsung sampai pada titik akhir kesabaran Zuber, anak muda itu secara mengagetkan dan dengan suara keras berkata di muka pamannya: “Sekarang usiaku sudah tujuh belas tahun, tak ada kekuasaan apapun bagimu atas diriku, jika kamu tidak membebaskanku dari siksaan ini maka aku akan melawanmu seakan kamu bukan pamanku, aku akan membela diri dengan pedang dan kekuatanku, dan jangan anda lupakan bahwa aku juga memiliki paman – paman pemuka Quresy; Abu Tholib, Hamzah dan Abbas” Ancaman Zuber ini berhasil membuat Naufal berubah fikiran, pamannya itu melihat keseriusan melawan dan membalas di wajah sang keponakan hingga akhirnya Naufal memutuskan melepaskan Zuber. 

Si Bocah Penggembala Domba


Abdulloh bin Mas’ud


Saat sedang asyik menggembalakan domba – domba milik tuan Uqbah bin Abi Mu’ith, bocah  bernama Abdulloh itu dikejutkan oleh dua orang yang datang dalam keadaan seperti habis lari dari pengejaran. Kedua orang itu tiada lain adalah Nabi Saw dan Abu Bakar ra. Memang keduanya baru saja melarikan diri dari orang – orang musyrik. Keduanya bertanya: Wahai bocah, adakah susu yang bisa kamu berikan untuk kami minum? Abdulloh menjawab: Maaf saya hanya orang yang mendapat kepercayaan (kambing – kambing ini bukan milik saya sendiri). Keduanya bertanya: Apakah ada anak kambing betina yang belum pernah dikawini oleh pejantan? Abdulloh menjawab: Ia, ada. Abdulloh segera membawa anak kambing yang diminta dan oleh Abu Bakar kambing itu segera diikat.

Nabi Saw kemudian memegang kantong susunya dan berdo’a dan ajaib, mendadak kantong susu anak kambing itu membesar. Abu Bakar lalu mengambil batu berlubang tengah yang bisa dijadikan sebagai tempat memeras. Nabi Saw lalu memeras susu anak kambing itu dan meminum susunya bersama Abu Bakar dan kemudian memberikan sisanya kepada Abdulloh. Selesai minum Nabi Saw bersabda: “Berkerutlah!” maka kantong susu anak kambing itupun kembai seperti semula.


Tak lama sesudah kejadian itu Abdulloh datang kepada Rosululloh Saw dan menyatakan diri masuk islam serta meminta: “Ajarilah saya dari ungkapan yang indah itu (Alqur’an)” Nabi Saw menjawab: “Sesungguhnya kamu adalah seorang bocah yang diberi ilmu”. Dalam sebuah kesempatan Abdulloh bin Mas’ud berkata: Aku lalu mengambil dari Rosululloh Saw tujuh puluh surat yang tak seorangpun menentangku tentang tujuh puluh tersebut”.

Kamis, 29 Desember 2016

Titipan Syair dari Pendeta Himyar



Abdurrohman bin Auf


Setelah menyatakan diri beriman memang tak ada tekanan fisik maupun psikologis berarti yang diterima oleh Abdurrohman, karena memang dia bukan berasal dari Quresy. Hanya saja kini orang – orang Quresy tidak lagi meneruskan kerjasama dagang dengannya. Nama Askalan bin Awakin, pendeta Nashroni yang tinggal di Himyar daerah Yaman mungkin tak pernah bisa hilang dari ingatan Abdurrohman, sebab dari Askalan lah dia mengerti tentang kenabian Nabi Muhammad Saw.

Perkenalan itu bermula ketika Abdurrohman dalam beberapa misi dagangnya di Yaman seringkali singgah dan menginap di tempat Askalan. Kepada tamunya, pendeta itu selalu bertanya tentang Makkah, Ka’bah dan Zam – zam. Kakek yang sudah lanjut usia itu juga bertanya: “Apakah seseorang yang berbeda agama dengan kalian telah muncul?” dan Abdurrohman selalu menjawab belum. Sampai pada tahun ketika Nabi Muhammad Saw telah diutus dan kebetulan Abdurohman sedang berada di tempat Askalan. Sayang ketika itu Askalan sudah sangat renta, tubunya lemah dan pendengarannya pun juga demikian. Mengetahui Abdurrohman datang, anak dan cucu Askalan akhirnya memapah Askalan untuk keluar menemui Abdurohman. Askalan meminta: “Tolong sebutkan garis keturunanmu!” Abdurrohman menjawab: “Aku bernama Abdurrohman bin Auf bin Abdul Harita bin Zahroh” Askalan menyahut: “Cukup wahai orang Bani Zahroh, sudikah kamu mendengar dariku berita gembira yang lebih baik bagimu daripada perniagaanmu?” Askalan melanjutkan: “Telah diutus seorang Nabi pilihanNya dari kaummu, Dia menurunkan kitab kepadanya, menjadikan untuknya pahala, Nabi itu melarang dari berhala dan mengajak kepada islam, menyuruhmu berbuat baik dan melarang dari yang jelek” Abduurohman bertanya: “Darimana Nabi itu?” Askalan menjawab: “Dia tidak dari Azdi dan sepadannya serta tidak pula dari Sarof dan misalnya, Nabi itu dari Bani Hasyim” Askalan lalu berpesan: “Selesaikanlah segera urusanmu di sini dan cepatlah pulang, datanglah kepada Nabi itu dan jadilah kamu sebagai pembelanya” sebelum mengakhiri pesan, Askalan juga membacakan beberapa bait syair yang dengan mudah dihafal oleh Abdurrohman untuk segera disampaikan kepada Rosululloh Saw.


Sesampai di Makkah, Abdurrohman menemui Abu Bakar dan menceritakan perihal yang ditemuinya di Yaman. Abu Bakar lalu mengatakan: “Ini Muhammad, sungguh Alloh telah mengutusnya. Cepatlah datang kepadanya!” Abdurrohman lalu menuju rumah Khodijah untuk bertemu dengan Rosululloh Saw. Melihatnya datang, Nabi Saw tertawa dan bersabda: “Aku melihat muka berseri, semoga ada kebaikan setelah ini” Nabi Saw lalu bertanya: “Memangnya ada apa?” Abdurrohman menjawab: “Saya membawa titipan” Nabi Saw betanya: “Apakah ada yang mengirim surat untukku?” Abdurrohman lalu menceritakan kabar dan pesan yang dibawanya dari Askalan dan setelah itu diapun mengucapkan  Syahadat. Nabi Saw kemudian bersabda: “Teman dari Himyar (Askalan bin Awakin) adalah manusia yang beriman dan membenarkan aku”

Abu Yazid Al Busthami dan Seekor Anjing

 http://elzajery.blogspot.co.id/



Dikisahkan; Seorang Pemimpin aliran tasawwuf yang bernama Abu Yazid Al Busthami, seperti biasa Abu Yazid suka berjalan sendiri di malam hari. Lalu ia melihat seekor anjing berjalan ke arahnya, anjing tersebut jalan tidak menghiraukan sang sufi tersebut, namun ketika sudah lewat hampir dekat, Abu Yazid Al-Busthomi mengangkat gamisnya kuatir terkena najis anjing tersebut. 

Spontan anjing itu berhenti dan memandangnya. Entah bagaimana Abu Yazid seperti mendengar anjing itu berkata padanya,

"Tubuhku kering tidak akan menyebabkan najis padamu, kalo pun engkau merasa terkena najis, engkau tinggal basuh 7X (tujuh kali)  dengan air & tanah, maka najis di tubuhmu itu akan hilang. Namun jika engkau mengangkat gamismu karena menganggap dirimu yang berbaju badan manusia lebih mulia, dan menganggap diriku yang berbadan anjing ini najis dan hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tidak akan bersih walau kau basuh dengan air tujuh samudra".

Abu Yazid tersentak dan minta ma'af, lalu sebagai permohonan ma'afnya dia mengajak anjing itu untuk bershahabat & jalan bersama. dengan suasana hati yang masih sedih dan kecewa si anjing itu menolaknya. 

"Engkau tidak pantas berjalan denganku, mereka yang memuliakanmu akan mencemoohmu dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tau mengapa mereka menganggapku begitu hina, padahal aku berserah diri pada sang pencipta wujud ini, lihatlah aku juga tidak menyimpan dan membawa sebuah tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum", lalu anjing itu pun berjalan meninggalkan abu yazid. 

Abu Yazid masih terdiam, " Yaa Allah, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-MU saja aku tak pantas, bagaimana aku merasa pantas berjalan dengan-MU, ampuni aku dan sucikan hatiku dari najis ".

Senin, 26 Desember 2016

Kabar Baik dari Sang Rahib



Tholhah bin Ubaidillah


Dia datang di pasar Bashroh, dan tanpa di sangka ada pengumuman dari Rahib di gereja: “Siapakah di antara kalian ini yang berasal dari tanah Haram?” Tholhah pun segera datang ke gereja menghadap sang Rahib. Kepadanya Rahib bertanya: “Apakah Ahmad telah menampak?” karena bingung, Tholhah balik bertanya: Memangnya siapa Ahmad yang anda maksud? Rahib menjawab: “Putera Abdillah bin Abdul Muttholib, bulan ini adalah bulan kemunculannya, dia akhir para nabi yang keluar dari tanah Haram dan berhijroh ke daerah penuh kurma, bebatuan hitam dan tanah yang subur, maka jangan sampai kamu kedahuluan (untuk beriman kepadanya)”

Kata – kata Rahib ini begitu menyentuh hati Tholhah hingga secepatnya dia kembali lagi ke Makkah. Dia lalu segera bertanya: “Apakah ada kejadian?” orang – orang berkata: Ia, Muhammad bin Abdillah al Amiin mengaku sebagai seorang Nabi dan kini putera Abi Quhafah (Abu Bakar) telah percaya dan mengikutinya. Mendengar hal ini Tholhah lekas datang kepada Abu Bakar dan menyatakan diri: “Kamu mengikuti lelaki ini (Rosululloh Saw)?” Abu Bakar menjawab: Ia, karenanya cepatlah kamu datang kepadanya dan ikutilah dia, sebab sungguh dia mengajak kepada kebenaran! Tholhah lalu memberitahukan kepada Abu Bakar perihal kabar yang diterimanya dari Rahib di Bashro. Keduanya kemudian datang kepada Rosululloh Saw dan di hadapan Beliau Tholhah menyatakan diri beriman serta juga mengabarkan soal kabar dari Rahib di Bashro. Hal ini tentu saja sangat menggembirakan hati Rosululloh Saw.


Mendengar Abu Bakar dan Tholhah mengikuti agama Nabi Muhammad Saw, Naufal bin Khuwailid sangat marah, dia berfikir keras bagaimana membuat Abu Bakar dan Tholhah jera dan meninggalkan agama Muhammad serta kembali kepada agama nenek moyang. Akhirnya orang yang disebut singa Quresy ini menangkap kedua orang itu serta mengikatnya dalam satu ikatan. Setelah kabar tentang hal ini sampai kepada Nabi Saw maka Beliau Saw berdo’a: “Ya Alloh, cukupkanlah kami dari keburukan putera Adawiyyah (Naufal)!” dan karena kejadian itulah Abu Bakar dan Tholhah disebut al Qoriinain

Minggu, 30 Oktober 2016

Memendam Rasa, Mengikat Asa



Utsman bin Affan


Dua orang lelaki sedang bercengkrama di samping Ka’bah. Orang pertama bertanya: “Apakah kamu telah mendengar berita penting yang sekarang banyak dibicarakan oleh penduduk Makkah?” orang kedua menjawab: “Ia, aku mendengar Muhammad mengumumkan kepada seluruh orang bahwa dirinya adalah utusan Allah untuk menunjukkan bangsa Arab dan mengentas mereka dari sesat kekafiran menuju cahaya keimanan” orang pertama bertanya: “Lalu bagaimana menurutmu?”  “Demi Allah, Muhammad pasti jujur, sungguh dia sebaik - baik pemuda Quresy serta sudah dikenal dengan sifat amanahnya” jawab orang kedua.

Saat kedua orang itu asyik berbicara, tiba - tiba semerbak bau harum tercium. Mereka lalu menoleh ke arah datangnya bau harum tersebut dan mata mereka pun segera menemukan seorang pemuda dengan penampilan indah, penuh ketenangan dan tampak sekali bahwa pemuda bertubuh sedang itu adalah orang kaya raya dan terhormat. Salah seorang dari mereka bertanya: “Siapa pemuda berwibawa itu?” temannya menjawab: “Apakah kamu belum mengenalnya? dia adalah Utsman bin Affan, tokoh pemuda Quresy yang terkenal sangat dermawan” mendengar ini, si penanya dengan tersenyum - senyum berkata: “Ia, ia, aku pernah mendengar tentangnya, tetapi baru kali ini aku melihatnya”  temannya bertanya: “Lalu apalagi yang kamu dengar tentangnya? “ Si penanya menjawab: “Aku mendengar bahwa pemuda itu selalu memuliakan tamu, menolong orang yang membutuhkan, membantu orang miskin, gemar sekali meringankan beban orang yang kesusahan, dan rumahnya menjadi tempat tujuan para pengembara serta tempat istirahat para tamu. Sungguh pemuda itu suka memberi dengan rahasia dan tak pernah bangga dengan apa yang telah dia berikan”

Begitulah Utsman bin Affan sebelum islam, dia pemuda yang terpandang dan kaya raya. Perdagangannya meluas merambah Jazirah Arabia dari mulai Syam, Yaman hingga Iraq dengan angkutan ratusan unta. Pada ketika itu Utsman adalah konglomerat papan atas suku Quresy. Meski demikian, Utsman tetaplah pemuda yang pemalu dan suka merendah. Sampai pada akhirnya sifat pemalu ini harus dibayarnya mahal dengan perasaan, dengan hasratnya sebagai pemuda yang mendamba seorang dara jelita.

Ruqayyah, demikian nama gadis berparas elok dan indah tersebut. Maklum ayahnya adalah Muhammad Saw dan ibundanya adalah Khadijah. Semua pemuda Quresy bermimpi bisa menyuntingnya sebagai isteri, termasuk pemuda kaya raya Utsman bin Affan. Akan tetapi rasa malu menjadikan Utsman surut langkah, lidahnya keluh untuk berkata mengungkapkan hasrat keinginannya. Sampai akhirnya putaran waktu membawa Ruqayyah menjadi isteri Utbah bin Abu Lahab. Kabar pernikahan Ruqayyah  tentu saja sangat memukul Utsman. Hatinya sangat sedih dan kecewa. Kenyataan ini terus saja menghantui dan mengusik ketenangannya hingga ia datang mengeluh kepada bibinya yang bernama Su’daa, wanita yang selama ini dikenal sebagai pemilik firasat jitu dan apa yang ia ucapkan senantiasa benar.

Kepada saudara ibundanya itu, Utsman menumpahkan kesedihannya: “Wahai bibiku, sejak lama saya merindukan bisa memperistri  Ruqayyah, tetapi justru dia kini menjadi isteri orang lain. Apa yang harus saya lakukan? “ Sang bibi balik bertanya: “Lalu kenapa kamu tidak datang melamar Ruqayyah kepada ayahnya sebelum Utbah menikahinya?”Utsman menjawab: “Bibi telah mengerti bahwa saya sangat pemalu, tak mungkin ada keberanian muncul untuk datang kepada ayahnya, seorang yang sangat mulia dan berwibawa” Su’da berkata: “Jangan sedih Utsman, suatu hari nanti Ruqayyah pasti menjadi milikmu” dengan penuh ragu Utsman bertanya: “Bagaimana bisa, Utbah telah menyuntingnya” Su’da menjawab: “Wahai Utsman, ayah Ruqayyah adalah manusia agung, kelak nanti akan terjadi suatu hal besar, dunia akan berubah sebab ayah Ruqayyah, dan Ruqayyah akan menjadi isterimu”

Beberapa hari berlalu sedang kata - kata Su’da masih terngiang di telinga. Utsman terus bertanya:  “Terjadi ini terjadi itu, lalu apa hubungannya dengan diriku yang akan bisa memiliki Ruqayyah, sementara kenyataannya wanita rupawan itu telah menjadi milik orang?” Sampai pada suatu hari Utsman bertemu dengan Abu Bakar yang sejak lama menjadi kawan karibnya. Kepada Abu Bakar, Utsman menceritakan perihal perkataan Su’daa.Mendengar cerita Utsman, Abu Bakar menegaskan: “Bibimu benar, Muhammad adalah Utusan Allah, dia mengajak kepada RisalahNya dengan rahasia. Maukah kamu datang menghadap kepadanya bersamaku?” ajakan ini langsung disambut Utsman dengan gembira hati berbunga. Mereka beduapun segera datang kepada Nabi Saw. Nabi Saw bersabda: “Wahai Utsman, patuhilah Allah, sungguh aku adalah utusanNya kepadamu dan seluruh manusia!” Utsman menjawab: “Ia, wahai Rasulullah, saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusanNya “

Setelah menyatakan diri masuk islam di rumah Arqam bin al Arqam tersebut, Utsman beberapa hari tidak muncul hingga membuat hati Abu Bakar tercekam resah. Akhirnya pada suatu saat ketika Abu Bakar sedang membaca Alqur’an di rumahnya, Utsman datang dengan raut muka seperti kelelahan. Abu Bakar segera menyambutnya dengan sangat senang. “Di mana kamu wahai Utsman, kenapa lama tidak kelihatan. Aku khawatir kesusahan menimpamu. Kiranya ada apa, tolong ceritakan!”  Utsman pun bercerita:

Setelah mengetahui keislamanku, Hakam bin al Ash pamanku bertanya: “Apakah kamu meninggalkan tuhan - tuhan kami dan mengikuti agama baru yang belum pernah dikenal oleh nenek moyang kita?” Aku menjawab: “Wahai paman, tuhan - tuhan kalian itu hanyalah bebatuan bisu yang tidak bisa memberi manfaat atau menolak bahaya. Sebaiknya engkau meninggalkannya dan mengikuti agama Muhammad, agama kebenaran dan keadilan. Mendengar ini paman memukulku dan kemudian mengurungku di kamar gelap tanpa sama sekali memberiku makan dan minum. Aku bersabar dan mengatakan kepada paman bahwa aku tak akan meninggalkan agama Muhammad meski dia membunuhku. Melihat keteguhanku, dengan kemarahan masih meluap paman akhirnya melepaskanku. Aku berkata kepadanya: Saya sama sekali tidak peduli dengan kemarahan dan kerelaanmu. Hal terpenting bagiku adalah mendapat ridha Allah dan RasulNya”.


Setelah Rasulullah Saw berdakwah dengan terang - terangan maka tekanan orang - orang kafir semakin menjadi. Salah satu wujud tekanan itu adalah dengan memutuskan hubungan besan dengan Nabi Saw. Isteri Abu Lahab, Ummu Jamil datang kepada Nabi Saw dan berkata: “Aku mengembalikan puterimu Ruqayyah isteri anakkku Utbah, dan Ummu Kultsum istri anakku Utaibah” Ummu Jamil melanjutkan: “Kami tak sudi punya besan sepertimu yang membodohkan agama kami dan menghinan berhala - berhala kami” Akhirnya apa yang dulu dikatakan oleh Su’daa menjadi kenyataan. Ruqayyah kemudian diperistri oleh Utsman setelah diceraikan oleh Utbah. Dalam Sirah Ibnu Hisyam disebutkan bahwa Ruqayyah belum sempat tersentuh oleh Utbah. Setelah menceraikan Ruqayyah, Utbah lalu menikahi puteri Said bin al Ash. 

Orang Pertama yang Menampakkan Islam




Abu Bakar ra


Dalam perjalanan mengajak manusia untuk mengesakan Allah, ajakan Nabi Saw senantiasa terhalang. Tak ada yang mulus dan begitu saja diterima kecuali ajakan Beliau kepada Abu Bakar. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Nabi Saw: “Tak seorangpun yang aku ajak kepada islam kecuali dalam dirinya terlebih dahulu dirasuki keraguan kecuali Abu Bakar. Kketika aku mentawarkan islam kepadanya maka tanpa basa basi dia langsung menerimanya”(Lihat Bidayah Wan Nihayah: 1/ 108, 3/ 27.

Keislaman Abu Bakar terjadi saat dirinya bertemu dengan teman akrabnya yang telah beberapa lama tidak dijumpainya. Dalam perjumpaan itulah Abu Bakar bertanya tentang desas - desus yang didengarnya: “Wahai Muhammad, benarkah apa yang dikatakan oleh orang - orang Quresy bahwa engkau telah meninggalkan tuhan - tuhan kami dan mengatakan bahwa kami telah bertindak bodoh?” Nabi Saw menjelaskan: “Benar, aku adalah Nabi dan Utusan Allah, Dia telah Mengutusku untuk menyampaikan risalahNya dan mengajakmu kepada Allah. Demi Allah, sungguh ini adalah kebenaran. Aku mengajakmu kepada Allah Maha Esa tiada sekutu bagiNya dan jangan menyembah selainNya!” Nabi Saw lalu membacakan Alqur’an dan Abu Bakar langsung menerima ajakan Beliau Saw tanpa sama sekali ingkar atau menganggap temannya ini mengajaknya kepada sesuatu yang asing. Dia segera menyatakan diri masuk islam yang karena itulah dia mendapat julukan Ash Shiddiiq.

Salah satu sebab, seperti dituturkan oleh Imam Suhaili, yang melatar belakangi sikap Abu Bakar yang dengan mudah dan sangat antusias menerima dakwah Nabi Saw adalah mimpi yang dialami oleh Abu Bakar sebelumnya. Dalam mimpi itu dia melihat rembulan turun di Makkah dan berpecah - pecah lalu memencar ke seluruh rumah - rumah Makkah. Setiap rumah dihampiri oleh satu bagian hingga seluruhnya kemudian berkumpul di pangkuannya. Mimpi ini oleh Abu Bakar kemudian diceritakan kepada seorang ahli kitab Taurat dan Injil yang kemudian ditafsirkan kepadanya bahwa: “Sesungguhnya Nabi Saw yang dinantikan telah datang masanya, ikutilah dia maka kamu akan menjadi manusia yang paling beruntung”

Setelah masuk Islam Abu Bakar segera menampakkan Islam dan berdakwah menyiarkan islam. Sikap seperti ini secara akal memang sangat mungkin diambil oleh Abu Bakar, sebab Beliau termasuk seorang yang memiliki wibawa dan disegani di kalangan Quresy. Abu Bakar terkenal sebagai seorang yang paling ahli nasab di kalangan Quresy (Ansabu Quresy), seorang pedagang berhati mulia dan Beliau juga menjadi tempat mengadu bagi banyak orang yang sedang terhimpit masalah. Usaha menampakkan dan mengajak kepada Islam yang dilakukan oleh Abu Bakar  ternyata cukup banyak menuai hasil hingga ada beberapa orang yang masuk Islam karena dakwahnya; antara lain Utsman bin Affan, Zuber bin Awam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah.

Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar ini membuat Beliau tercatat sebagai sahabat yang pertama kali menampakkan dan mendakwahkan Islam. Hal ini diakui sendiri oleh Ali bin Abi Thalib: “Abu Bakar mendahuluiku dalam empat hal yang tak mungkin aku mengejarnya; 1) dalam menampakkan dan menyebarkan (Ifsya’) islam, 2) terlebih dahulu berhijrah, 3) menemani Nabi Saw di gua, dan 4) saat aku melakukan shalat di lereng - lereng gunung dan menyembunyikan Islam justru dia secara terang terangan memproklamirkan diri sebagai seorang muslim

Kendati meraih hasil, dakwah Abu Bakar bukan nyaris tanpa aral melintang, sebab sesudah mengetahui dirinya dan Thalhah bin Ubaidillah masuk islam, Naufal bin Khuwailid yang terkenal sebagai singa Quresy sempat menangkap dan mengikat keduanya dalam satu ikatan yang karena itulah mereka berdua disebut al Qorinain.

Abu Bakar dan Ibnu Daghinah

Tekanan kafir Quresy semakin hebat hingga Nabi Saw menyarankan agar kaum muslimin  berhijrah ke Habasyah untuk beroleh kedamaian dalam beribadah. Abu Bakar pun ikut ambil bagian dalam berhijrah, akan tetapi ketika sampai di suatu daerah Yaman bernama Barkul Ghimad dia bertemu dengan Ibnu Daghinah, seorang kepala suku al Qooroh. “Hendak ke manakah engkau wahai Abu Bakar?” tanya Ibnu Daghinah. Abu Bakar menjawab: “Kaumku mengusirku, karena itu aku ingin berkelana di bumi untuk menyembah Tuhanku”  Ibnu Daghinah menyahut: “Orang seperti anda tidak layak keluar atau diusir, sebab anda selalu memberi yang kekurangan, menyambung tali kerabat, membantu orang kesusahan, dan menyuguh tamu. Saya akan memberi suaka kepada anda karenanya marilah kita kembali dan sembahlah Tuhan anda di negeri sendiri”

Sesampai di Makkah, Ibnu Daghinah datang kepada para tokoh Quresy dan mengatakan: “Sesungguhnya orang seperti Abu Bakar tidak layak keluar atau diusir. Pantaskah kalian mengusir manusia yang gemar memberi orang yang kekurangan, menyambung tali kerabat, membantu yang kesusahan dan menyuguh tamu?” Para tokoh Quresy akhirnya menerima pemberian suaka kepada Abu Bakar, akan tetapi mereka tetap memberi syarat kepada Ibnu Daghinah: “Katakan kepada Abu Bakar agar menyembah Tuhannya, shalat atau membaca yang dia mau di rumah saja, jangan sampai dia menampakkan hal - hal ini, sebab kami khawatir anak dan isteri kami terhasut olehnya”

Pada mulanya Abu Bakar tidak shalat atau membaca Alqur’an kecuali di dalam rumah, tetapi kemudian Beliau berubah fikiran dan lalu membangun sebuah tempat shalat di halaman rumah. Di tempat inilah Beliau melakukan shalat dan membaca Alqur’an  hingga bacaan Beliau mampu menyedot simpati para wanita dan anak - anak kaum musyrikin untuk datang mendekat supaya bisa mendengar bacaan Alqur’an. Mereka semakin ternganga keheranan begitu menyaksikan air mata Abu Bakar mengalir deras ketika bacaan - bacaan Alqur’an keluar dari lisannya.


Keadaan tersebut tak urung membuat para pemuka Quresy semakin marah dan tidak menerima hingga mereka kemudian memanggil Ibnu Daghinah. Kepadanya mereka berkata: “Kami memberi suaka kepada Abu Bakar agar dia menyembah Tuhannya di dalam rumahnya, tetapi sekarang dia telah melanggar dengan membangun sebuah tempat di halaman rumah serta menampakkan shalat dan bacaannya. Sungguh kami khawatir dengan anak - anak dan para wanita kami, karena itu datanglah kepadanya dan katakan agar dia kembali beribadah di dalam rumah saja. Jika dia membantah maka mintalah supaya dia mengembalikan suakamu, sebab kami tidak ingin melepas perjanjian denganmu “ Ibnu Daghinah lalu datang kepada Abu Bakar dan mengatakan: “Anda telah mengerti perjanjian kita, anda tetap setia dengan janji atau mengembalikan jaminan suaka yang saya berikan, sebab saya tak ingin orang Arab mengatakan bahwa saya telah membatalkan perjanjian?” Abu Bakar menjawab: “Sungguh aku mengembalikan kepada anda jaminan suaka itu dan kini aku merasa cukup dengan jaminan suaka Allah dan RasulNya “ 

Sabtu, 29 Oktober 2016

Seratus Nyawa Sang Ibunda




Sa’ad bin Abi Waqqosh

Sa’ad bin Abi Waqqosh, salah satu sahabat yang diberi kabar masuk surga ini masuk islam saat berusia sembilan belas tahun. Keislaman Sa’ad tak lain karena peran Abu Bakar yang dengan sangat meyakinkan memberikan penjelasan akan kebenaran islam kepada Sa’ad. Saat datang kepada Nabi Saw untuk menyatakan masuk islam pun Sa’ad mendapat sambutan yang cukup hangat. Ketika menyambut kedatangan Sa’ad Nabi Saw bersabda: “Ini adalah Khol (paman dari ibu) ku, barang siapa mau maka silahkan menampakkan Kholnya kepadaku”. Meski Sa’ad bukan saudara ibunda Nabi Saw, tetapi  Sa’ad berasal dari Bani Zahroh sama dengan ibunda Beliau Saw.

Mendengar keislaman anaknya, ibunda Sa’ad tidak menerima dan berusaha mengajak anaknya supaya kembali dari mengikuti Muhammad.  Sang ibu yang sudah mengakui bahwa anaknya adalah seorang yang sangat berbakti kepada orang tua berkata: “Wahai Sa’ad, bukankah kamu telah mengerti bahwa Alloh memerintahkan supaya sanak kerabat disambung dan supaya seorang anak taat dan berbakti kepada orang tuanya?” Sa’ad mengiyakan, lalu ibundanya berkata: “Demi Alloh aku tak akan makan dan minum sehingga kamu mengingkari agama Muhammad dan kembali menyembah berhala Isaf dan Na’ilah” . Selanjutnya sehari semalam ibunda Sa’ad sama sekali tidak makan dan minum meski keluarganya telah memaksanya makan dan minum dengan membuka paksa mulutnya. Pada hari kedua juga demikian, ibunda Sa’ad tetap melakukan aksi mogok makannya hingga tubuhnya pun lemah. Menyaksikan kondisi ini, Sa’ad dengan mantap berkata kepada ibunya: “Ketahuilah wahai ibuku, demi Alloh andai engkau memiliki seratus nyawa lalu satu persatu keluar maka saya tak akan pernah meninggalkan agama Muhammad. Terserah sekarang apakah engkau mau makan atau tidak”. Merasa bahwa upaya untuk mengembalikan agama anaknya kepada berhala gagal, ibunda Sa’ad akhirnya menghentikan aksi mogok makan.

Disebutkan pula bahwa ibunda Sa’ad juga pernah hendak mengurung Sa’ad. Ini bermula ketika mengerti bahwa anaknya telah menjadi pengikut Muhammad maka begitu anaknya berada di depan pintu rumah, ibunda Sa’ad berteriak: “Tolong barangkali ada orang yang membantuku menangkap dan mengurung anak ini di kamar sampai dia mati atau meninggalkan agama Muhammad”  Mendengar teriakan seperti ini Sa’ad yang hendak masuk rumah bergegas lari menjauh dari rumahnya, tetapi sebelum itu dia sempat berkata kepada ibunya: “Saya tak akan pernah kembali kepadamu juga tak akan mendekati rumahmu”. Untuk beberapa lama Sa’ad benar – benar tidak pulang lagi ke rumah sampai akhirnya ibundanya menyerah dan menyuruh orang agar mencari dan mengajak Sa’ad kembali ke rumah. Kepada orang yang disuruh mencari itu, ibunda Sa’ad berpesan: “Katakan kepada Sa’ad supaya kembali ke rumah, jangan membikin malu keluarga!” 


Sa’ad pun pulang ke rumah dengan segala perlakuan ibundanya yang telah berubah. Kadang baik dan bersahabat, tetapi kadang terlihat begitu jahat. Seringkali ibunya berkata: “Lihatlah saudaramu Amir, dia anak yang berbakti, tidak meninggalkan agamanya dengan menjadi pengikut Muhammad” . Tetapi sikap ibunda Sa’ad kepada Amir juga akhirnya berubah bahkan semakin parah ketika Amir telah mengakui islam sebagai agama kebenaran. Bentakan dan siksaan fisik seringkali dirasakan oleh Amir setiap hari hingga akhirnya Amir terpaksa ikut berhijroh ke Habasyah. Benturan antara anak yang setia dengan islam dan ibunda yang teguh dengan kekafiran pada saatnya juga pernah menimbulkan kegaduhan. Ketika itu Sa’ad pulang ke rumah dan melihat banyak orang berkerumun di depan rumahnya. Sa’ad bertanya ada apa ini? mereka menjawab: “Ini ibumu, dia menyiksa Amir dengan berjanji tak akan berdiri di bawah tempat berteduh, tak akan makan dan minum sehingga Amir kembali dari mengikuti Muhammad” karena jengkel dengan ulah ibunya, Sa’ad lalu berkata: “Demi Alloh wahai ibu, engkau tak akan berteduh, tak makan dan minum sehingga engkau menempati tempatmu di neraka”

Anugerah dalam Derita



Ali bin Abu Tholib ra

Krisis hebat (Azimmah Syadiidah) melanda ekonomi Makkah. Derita semakin terasa menyiksa keluarga - keluarga berpenghasilan rendah dengan banyak anggota keluarga. Salah satu keluarga miskin dengan banyak anggota keluarga adalah keluarga Abu Thalib. Keadaan ini mengundang simpati Nabi shallallahu alaihi wasallam hingga Beliau lalu datang kepada Abbas yang merupakan orang terkaya Bani Hasyim. Kepadanya, Beliau bersabda: “Wahai Abbas, saudaramu Abu Thalib adalah orang miskin yang memliki banyak anggota keluarga, sementara engkau sendiri mengerti akan keadaan sulit ini, karena itu marilah kita ringankan bebannya”. Tawaran dan ajakan ini disambut baik oleh Abbas. Mereka berdua lalu berangkat ke rumah Abu Thalib dan mengutarakan maksud kedatangan mereka: “Kami ingin meringankan beban anda, karena itu biarkanlah sebagian anggota keluarga anda tinggal bersama kami sampai kondisi ekonomi kembali pulih” Menyambut maksud mulia mereka, Abu Thalib berkata: Terserah kalian berdua, hanya saja biarkanlah Uqel tetap tinggal bersamaku ”

Sebuah keberuntungan besar pun menghampiri putera Abu Thalib yang bernama Ali karena ia terpilih untuk tinggal bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, sementara Abbas memilih untuk mengajak Ja’far untuk tinggal di rumahnya. Ali pun tetap tinggal dengan saudara sepepuhnya itu sampai akhirnya malaikat Jibril datang membawa wahyu tentang kenabian sang sepupuh. Ali – pun meraih anugerah besar dengan menjadi salah seorang yang mula - mula masuk islam. Sedang Ja’far juga terus hidup bersama Abbas sehingga Ja’far masuk islam dan bisa berlepas diri dari tanggungan Abbas.   

Kisah keislaman Ali bermula pada suatu hari dirinya memergoki Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Khadijah sedang melakukan shalat secara sembunyi - sembunyi. Melihat sesuatu yang asing, Ali bertanya: “Apakah ini wahai Muhammad? “ Nabi shallallahu alaihi wasallam menjelaskan: “Agama Allah yang Dia pilih untuk diriNya serta mengutus para utusanNya dengan membawa agama ini, karena itu aku mengajakmu kepada Allah Maha Esa tiada sekutu bagiNya dan beribadah kepadaNya serta mengingkari Laata dan Uzzaa”  Ali menjawab: “Ini adalah sesuatu yang sebelum hari ini tak pernah saya mendengarnya, karena itu saya tak bisa memutuskan sebelum meminta pendapat Abu Thalib “ Karena tidak ingin kabar agama ini tersebar sebelum saatnya maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berpesan: “Wahai Ali, jika kamu tidak menerima agama ini maka simpanlah hal ini!”

Malam harinya Ali berfikir tentang ajakan keponakan ayahnya hingga akhirnya Allah membuka hatinya untuk menerima ajakan itu. Pada pagi hari, Ali bergegas datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bertanya: “Wahai Muhammad, apa yang engkau tawarkan kepada saya? “  Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Kamu bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah Maha Esa tiada sekutu bagiNya, kamu ingkari Laata dan Uzza” Ali – pun menuruti perintah ini dan menyatakan diri masuk islam, tetapi untuk sementara waktu keislaman ini berusaha ia sembunyikan dari ayahnya.

Waktu terus berjalan, Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Ali masih terus berusaha menyembunyikan apa yang mereka lakukan dari pandangan mata paman dan ayah mereka serta paman - paman yang lain. Untuk melakukan shalat pada pagi dan sore hari mereka berdua harus rela mengungsi ke lereng - lereng bukit agar tidak terlihat oleh siapapun.  Sampai pada suatu kesempatan Abu Thalib tak urung memergoki mereka sedang melakukan shalat. Dia lalu bertanya: “Wahai keponakanku, agama apa yang kamu anut ini? “ Keponakannya menjawab: “ Wahai paman, ini adalah agama Allah dan agama malaikat, para utusanNya serta agama Ibrahim, dan Allah telah Mengutusku membawa agama ini kepada manusia. Karena itu engkau adalah manusia yang paling berhak menerima nasehat dan ajakanku ini” Abu Thalib berkata: Wahai keponakanku, sesungguhnya aku tak kuasa meninggalkan agama nenek moyangku, tetapi demi Allah tak akan ada sesuatu tidak menyenangkan yang datang kepadamu selama aku masih hidup “. Dalam kesempatan lain Abu Thalib berpesan kepada Ali: “Sesungguhnya Muhammad tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan maka terima dan tetapilah, bela dan tolonglah dia”