Translate

Jumat, 06 Februari 2015

KEBIJAKAN POLITIK & KAITANNYA DENGAN SHOLAT,SYAHWAT DAN RIZKI






Firman Alloh Suhanahu Wata’ala:
“Maka datanglah sesudah mereka,kholfun (sosok generasi pengganti yang buruk) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan syahwatnya,maka kelak mereka akan menemui ghayyi (keburukan atau lembah di neraka)”.(QS Maryam: 59)
Proses peralihan kepemimpinan dari generasi satu ke generasi berikutnya di kalangan ummat Islam biasanya diikuti dengan pergeseran nilai.Contohnya peralihan kepemimpinan dari Nabi Musa as kepada Nabi Harun as.Pergantian kepemimpinan dari Rosululloh saw kepada para Sahabat.Dan proses peralihan kepemimpinan lainnya dari masa ke masa.Sampai akhirnya pergeseran nilai itu di tandai,salah satunya,dengan munculnya kholfun (sosok generasi yang buruk,lawan dari kholafun,generai penerus yang baik).
Ayat tersebut menggambarkan secara jelas dua perangai dari sosok generasi yang buruk itu.Pertama,menyia-nyiakan sholat (idlo’atus sholah).Menyia-nyiakan sholat bisa jadi maksudnya ialah tidak melaksnakan sholat sama sekali atau melaksanakannya namun diluar waktu yang di tentukan.Menyia-nyiakan sholat bisa berarti mengabaikan sisi ruhiyah (hakikat bathiniyah) sholat sebagai sarana komunikasi dengan Alloh agar terbentuk kepribadian yang terdidik dalam menghindari perilaku menyeleweng,dzalim,dan sifat buruk lainnya.
Pelaksanaan sholat masih sering dipandang,Cuma memenuhi beban kewajiban,belum sampai ketahap kesadaran,apalagi sebagai sebuah kebutuhan.
Ajaran yang menjadi tiang penegak agama ini jika sudah diabaikan berakibat ajaran-ajaran yang lain akan lebih diabaikan lagi.
Kedua,sebagai efek dari menyia-nyiakan sholat,generasi buruk itu selalu memperturutkan syahwat.Apakah itu syahwat al jaah atau ar riaasah (jabatan,kekuasaan),syahwat al maal (harta benda) syahwat al mar’ah (lawan jenis),syahwat al atbaa’ (banyak pengikut),dan sebagainya.
Imam Ibnu Qudamah mengatakan bahwa bermula dari syahwat perut (syahwat al bathn) akan timbul syahwat al farj (syahwat berhubungan dengan lawan jenis) dan syahwat al maal.Berikutnya dari syahwat al farj dan syahwat al maal akan memicu munculnya syahwat lanjutan,yaitu syahwat al jaah atau syahwat ar riaasah. (Minhajul Qosidin 153 dan 199)
Akan dominasinya syahwat harta dan jabatan,Rosululloh saw bersabda:
“Dua serigala lapar yang dilepas di kandang domba tidaklah merusak mangsa itu melebihi ketamakan seseorang atas harta dan jabatan dalam merusak agamanya.”(HR,Tirmidzi)
Sementara tentang dominasinya syahwat al farj,diriwayatkan:
“Aku tidak meninggalkan fitnah bagi kaum laki-laki setelah wafatku yang lebih berbahaya dari pada wanita”.(HR.Bukhori Muslim)
Kaitannya dengan kholfun (generasi buruk),para pemimpin muslim di setiap masa yang meneruskan kepemimpinan sebelumnya,kebanyakan selalu berkecenderungan mengejar syahwat- syahwat duniawi itu.Sedang sholatnya tidak lagi menjiwai hati nurani sehingga kuasa membatasi syahwat tersebut.Ibadah yang menjadi tolok ukur amal itu justru seakan-akan menjadi kegiatan upacara belaka.Hambar.Tidak ada makna ruhiyah.Jika tidak sholat sama sekali.
Atas nama dakwah agama mereka merengkuh simpati rakyat demi kekuasaan.Ketika berkuasa dan kena ‘pangku”,mereka memilih diam dan hidup tarof (bermewah-mewahan).Serakah.Menuntut fasilitas lebih dari apa yang dibutuhkan.Mengesampingkan misi utamanya,yaitu berpolitik demi dakwah.
Ketika kepentingan syahwat duniawi ini dominan,maka efeknya di angkatlah bithonah yang dirasa dapat melindungi lestarinya kepentingan syahwat itu terlepas dari layak atau tidaknya.Efek berikutnya,rakyat yang semestinya di ayomi dijadikan rival (musuh),bukan sebgai mitra bahkan di bodohi,padahal lazimnya pemimpin adalah abdi (khadim) yang dituntut melayani rakyat.
Sikap seperti ini pernah dijalankan oleh Fir’aun.Firman ALloh swt:
“Fir’aun memandang rendah kaumnya (dengan pengaruh kata-kata),lalu mereka tunduk patuh kepadanya.”(QS Az Zukhruf: 54)
Ketika pejabat cenderung rakus harta dan tahta,maka lahirlah gejala korupsi dan penggelapan dimana-mana di samping pertentangan dan percekcokan yang tidak selesai-selesai.Akibatnya terjadilah krisis multidimensi yang tidak kunjung mampu diatasi sebagai peringatan di dunia.Sementara di akhirat tentu ada yang lebih pedih.Dari sini rasanya sulit muncul Negara adil nan makmur disebabkan keberkahan saat itu telah dicabut sebagai efek kedzaliman dan kekufuran.Sebagai mana kelanjutan ayat:
“Kelak mereka akan menemui keburukan (di dunia dan akhirat)”.(QS.Maryam 59)
Fenomena perpolitikan Indonesia saat ini rasanya terdapat benang merah dengan konteks ayat di muka.Pasca peralihan kepemimpinan,muncul generasi penerus yang pada satu sisi mengabaikan ideologi tauhid yang tercermin dari ibadah sholatnya.Ajaran yang menuntun tegas dalam bersikap,teguh prinsip,dan pantang menyerah itu terabaikan.Pada sisi yang lain generasi yang diharapkan berlaku lurus untuk kepentingan ummat tersebut justru memperturutkan syahwat.
Kerap disuguhkan pada kita sandiwara politik,permainan politik pat-gulipat (petak umpet,sembunyi-sembunyi),politik zig zag (berbelok-belok),dan politickling (jegal menjegal) yang disebut dengan mukhoda’ah,atas nama persetujuan damai,rekonsiliasi,toleransi,kompromi (jalan tengah),hasil runding,dan lainnya atau yang disebut dengan musaalamah.Padahal apa yang kebanyakan dilakukan justru oleh duta-duta partai berbasis massa muslim ini seluruhnya tersirat disitu nuansa ketidakjujuran,tidak konsisten,oportunis (Cuma cari untung),dan mengejar kepentingan sesaat dalam aktifitas dakwah dan perjuangan.
Dalam sidang MPR 1978 (hasil pemilu 1977) kala membicarakan P4,fraksi PPP walk out (keluar meninggalkan sidang) di pimpin tokoh NU,yaitu KH Bisri Syamsuri Jombang.(Dosa-dosa  politik,KH Firdaus AN).Dan teguh memegang prinsip dengan sikap pentang menyerah ini rasanya belum kita jumpai saat ini.Kecuali pantang menyerah dalam persoalan yang bukan prinsip  ideologis seperti fanatisme golongan.
Apa yang dilakukan oleh para pemimpin muslim itu rasanya berbeda dengan kebijakan politik yang dijalankan oleh Rosululloh saw.Kebijakan politik beliau penuh dengan hikmah.Hikmah tidak sama dengan mukhoda’ah dan musaalamah karena hikmah diikat erat dengan ideologi yang prinsip,yaitu aqidah Islamiyah.
Pada peristiwa siyasah Mufawadloh (perundingan dan bujuk rayu) misalnya,tokoh-tokoh kafir Quraisy menawarkan pada beliau jabatan,harta benda,wanita dan tabib,ternyata beliau menolak.Beliau justru maju terus pantang mundur di dalam aktifitas dakwah.Mungkin bisa saja beliau menerima tawaran itu agar dengan kekuasan dakwah terangkat,dengan harta dakwah terjamin,dan sebagainya,asal misi dakwah tetap.Namun kebijakan itu tidak beliau lakukan karena yang tersirat disitu bukan hikmah,tetapi kalau tidak musaalamah maka mukhoda’ah yang keduanya menafikan prinsip dan esensi dakwah.
Seandainya tergoda atau paling tidak tercapai kompromi dan toleransi dengan tawaran menggiurkan itu,niscaya luntur keagungan dakwah yang diemban.Tawaran yang disampaikan oleh tokoh-tokoh kafir Quraisy dan tawaran-tawaran semacam itu hakikatnya adalah tawaran-tawaran yang semu dan palsu (fatamorgana),karena hal itu justru dimaksudkan sebagai rekayasa untuk mematikan dakwah.(Fiqhus siroh,Dr.Said Romadlon al-Buthi.115)
Dalam sejarah pernah terjadi musaalamah dan mukhoda’ah pada tanggal 18 agustus 1945 yang mengkibatkan kita kehilangan kesempatan yang baik,ketika Soekarno berkata dengan janji-janji:”nanti kalau kita telah bernegara dalam suasana yang lebih tenteram,kita tentu akan mengumpulkan kembali Majelis Perwakilan Rakyat yang dapat membuat Undang-Undang yang lebih lengkap dan sempurna.”Piagam Jakarta,48.Endang Saifuddin anshari).Dengan rayuan itu kita rela melepas Piagam Jakarta.
Hal-hal diatas agaknya terkait dengan problem rizki dalam maknanya yang luas.Kebanyakan diantara kita hendak meraih rizki sebanyak-banyaknya,dengan segala cara kalau perlu.Sementara rizki masing-masing telah ditakar dengan ukurannya sendiri-sendiri.Sebagian dijadikan maqdur (sempit),sebagian yang lain mabsuth (luas),dan sebagian yang lain dijadikan makfuf (cukup).Hanya saja,apakah takaran masing-masing itu diterima dengan jiwa besar,lapang dada dan lega hati yang menghantarkannya diberkahi atau justru diterima dan diambil dengan tamak,rakus,serakah,dan berlebih-lebihan yang mengakibatkan tidak diberkahi.Dengan tanpa menafikan aspek kerja yang wajar,apapun,rizki yang baik adalah rizki yang berkah (cukup).Sabda Rosululloh saw:
“Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam,diberikan rizki yang cukup (kafaf) serta dijadikan menerima oleh Alloh swt terhadap apa yang diberikan-Nya”.(HR.Muslim)
Jalan mencari rizki yang berkah,salah satunya ialah dengan memfokuskan terus perhatian hidup pada dakwah sebagai aktifitas yang mulia.Dengan dakwah yang optimal persoalan rizki insyaAlloh tercukupi,asal jiwanya pas,walaupun tentu saja harus melalui proses yang boleh jadi berangsur-angsur.Dan untuk mendapatkan jalan keluar manakala dilanda kesusahan (rizki sempit),bisa bersegera memanfaatkan sarana doa dan sholat untuk taqorrub kepada-Nya.(Usul at Tarbiyah an Nabawiyah,53.Abuya Muhammad Alawy al Maliki)
Diriwayatkan dalam hadis:
“Barang siapa pagi-pagi dan akhirat menjadi perhatian besarnya,maka Alloh mengumpulkan kebutuhan umumnya,menjadikan kekayaan dihatinya,dan dunia datang kepadanya dengan memaksa-maksa.Sedang barang siapa pagi-pagi dunia menjadi perhatian terbesarnya,maka Alloh mengkocar-kacirkan hartanya,menjadikan kekikiran di depan matanya,dan dunia tidak datang kecuali yang telah ditentukan baginya.”(HR.Tirmidzi)

Wallohu a’lam

Senin, 02 Februari 2015

MENGINTIP PERIBADI IBLIS




Dahulukala Makhluk yang bernama Iblis sebelum dilaknat Allah, Iblis adalah merupakan makhluk yang mulia disisi Allah dan merupakan salah satu makhluk yang paling di hormati oleh Malaikat. Kasih sayang Allah terbesar kepada Iblis adalah bahwa yang pertama dia telah mendapatkan taufik untuk menyembah Allah SWT. Yang kedua karena ibadahnya yang banyak, dia dimasukkan ke dalam kumpulan para malaikat. Ia pernah melakukan tugas-tugas mulia yang diperintahkan Allah kepadanya yaitu:

1. Iblis sebagai penjaga surga dalam kurun waktu 40.000 tahun.
2. Iblis pernah hidup bersama bergabung dengan Malaikat selama 80.000 tahun.
3. Iblis diangkat menjadi penasehat Malaikat selama 20.000 tahun.
4. Iblis menjadi pemimpin malaikat karobiyyun dalam waktu 30.000 tahun.
5. Iblis melakukan thowaf (mengelilingi) arasy bersama para malaikat dalam waktu 14.000 tahun.

Jadi, keseluruhan Iblis beribadah melakukan semua perintah Allah dalam kurun waktu 185.000 tahun lebih. Selama dalam ibadahnya seperti kita umat Islam, melakukan sholat, puasa, thowaf dengan para malaikat (mengelilingi baitul makmur di Arsy).

Iblis tidak merasa lelah dan mengeluh dalam menjalankan perintah Allah yang mulia ini. Iblis menjalankan dengan ikhlas, tidak ada niat apapun kecuali karena Allah semata.

Pada masa itu malaikat dan lainnya memberi gelar kepada Iblis Al A'ziz (makhluk Allah yang termulia), ada yang memberi gelar A'zazil (panglima besar malaikat).

Menurut kitab tafsir Munir dan Showi, Iblis beribadah pada Allah dalam masa 80.000 tahun, thowaf di baitul Makmur dan Arsy selama 14.000 tahun. Oleh karenanya dilangit pertama sampai ketujuh Iblis begitu dihormati oleh para Malaikat.

Malaikat di penjuru alam semesta, dari bumi, langit, baitul makmur, arsy, dan sebagainya, mereka semua menghormati pada Iblis sebagai makhluk Allah yang terhormat dan termulia, sehingga bila Iblis lewat di depan para malaikat, maka malaikat menghormati pada Iblis, bagaikan penghormatan prajurit kepada komandannya, pengawal istana pada rajanya, sehingga terhormatlah nama Iblis di penjuru alam semesta.

Namun sayang, di lauhul mahfudz, tulisan Iblis terselubung rapi tidak satupun makhluk yang tahu kecuali Allah, tertera Al-kafir Al-mal'un (Iblis inkar terkutuk). Dalam sumber lain, Iblis pada mulanya bernama Azazil dan tinggal di bumi. Azazil adalah jin yang taat kepada Allah dan memang Iblis sebenarnya adalah dari golongan Jin seperti pada firman Allah,

"Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat 'Sujudlah kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan Jin, maka ia mendurhakai Tuhannya" [QS. Al-Kahfi ayat 50]

Dia menyembah Allah selama 1000 tahun, lalu Allah swt mengangkatnya ke langit pertama. Di langit pertama, Azazil beribadah menyembah Allah selama 1000 tahun. Kemudian dia diangkat ke langit kedua, begitu seterusnya hingga akhirnya dia diangkat menjadi imam para malaikat.

Apa pun perintah Allah kepada malaikat juga adalah perintah baginya, karena dialah imam para malaikat yang memimpin malaikat. Azazil adalah imam dari seluruh malaikat (Al-muqorrobun, imamul jami'il malaikat).

Ada riwayat yang menyatakan Azazil beribadah kepada Allah selama 80.000 tahun dan tiada tempat di dunia ini yang tidak dijadikan tempat sujudnya ke hadirat Allah SWT.

Dalam satu riwayat menceritakan, malaikat Israfil melihat yang tersurat di Luh Mahfuz ada tercatat satu suratan yang berbunyi: "Adanya satu hamba Allah yang beribadah selama 80.000 tahun tetapi hanya kerana satu kesalahan, maka ibadah hamba itu tidak diterima Allah dan hamba itu terlaknat sehingga hari Kiamat.".

Maka menangislah Israfil karena bimbang makhluk yang tersurat di Loh Mahfuz itu adalah dirinya. Maka diceritakanlah Israfil kepada segala malaikat pengalamannya melihat apa yang tersurat di Loh Mahfuz.

Maka menangislah sekelian para malaikat karena takut dan bimbang dengan nasib mereka. Lalu semua malaikat datang menemui Azazil yang menjadi imam para malaikat, agar Azazil mendoakan keselamatan dunia dan akhirat kepada seluruh malaikat.

Azazil pun mendoakan keselamatan di dunia dan akhirat kepada seluruh malaikat dengan doa: "Ya Allah, janganlah Engkau murka terhadap mereka (para malaikat)." Namun, Azazil lupa untuk mendoakan keselamatan untuk dirinya. Setelah mendoakan semua para malaikat, Azazil terus menuju ke surga. Di atas pintu surga, Azazil terlihat suratan yang menyatakan: "Ada satu hamba dari kalangan hamba-hamba Allah yang muqarrabin yang telah diperintahkan Allah untuk membuat satu tugasan, tapi hamba tersebut mengengkari perintah Allah. Lalu dia tergolong dalam golongan yang sesat dan terlaknat.".

Lalu Allah Menciptakan Adam as, dan memerintahkan malaikat untuk sujud menghormat kepada Adam. Azazil, sebagai imam para malaikat, sepatutnya lebih dahulu bersujud memimpin para malaikat. Tetapi, dia menolak, karena dia merasa bahawa dirinya lebih baik dari pada Adam. Sementara para malaikat lain terus sujud tanpa dipimpin oleh Azazil.

Bukan saja enggan sujud, Azazil malah sombong dan menjawab kepada Allah: "Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: 'Sujudlah kamu semua kepada Adam', lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: 'Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?'" [QS. Al-Isra ayat 61]

Kesombongan Iblis ini berpuncak pada iri hati dan kedengkian Iblis terhadap Adam. Ia tidak terima karena Allah akan menciptakan Adam sebagai khalifah di bumi. Karena ia merasa lebih mulia dari Adam yang diciptakan dari tanah, sedangkan ia lebih mulia karena diciptakan dari api.

Ia durhaka kepada Allah, takabur dan lupa akan dirinya dimata Allah. Tak seharusnya ia membangkang perintah Tuhannya. Maka setelah itu, Iblis akhirnya diusir dari surga. Namanya dirubah menjadi Iblis dan dia bersumpah akan menyesatkan manusia dibumi.

"Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil". [QS. Al-Isra ayat 62]

Kemudian Allah berfirman, "Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup." [QS. Al-Isra ayat 63]

Dari kisah ini kita bisa mendapatkan pelajaran bahwa Iblis yang dulunya adalah ahli Ibadah dan makhluk Allah yang mulia sekalipun bisa menjadi makhluk yang dilaknat oleh Allah karena kesalahannya. Untuk itu, sebaiknya kita menjauhi sifat-sifat Iblis seperti sombong, angkuh iri dengki dan yang lainnya agar kita terhindar dari laknat Allah.


Allahu a'lamu bish shawaab


Senin, 26 Januari 2015

God




Tuhan...
Ketika aku merasa kecewa atas sesuatnya, aku memilih untuk memendamnya sendiri, ketika semua itu memaksaku untuk dilahirkannya dan sudah tak bisa kubendung lagi, aku memilih untuk menungkan-nya dalam lembaran bisu, bukan aku ingin menceritakan atau berkeluh kesah pada sunyinya malam.

Tuhan...
Aku berusaha belajar tuk tak memaksakan apa-apa yang telah Engkau tetapkan atas-ku, aku belajar tuk terus berharap apa yang terbaik untuk-ku, bersabar, mengerti, dan percaya akan datangnya hari dimana aku akan tersenyum kembali. Aku yakin akan datangnya pertolonganmu, bukankah janji-Mu suatu hal yang nyata.? 

Tuhan...
Ku-akui terkadang aku memang sering mengeluh, tapi aku tak pernah menuntut hal yang berlebih, hal yang di luar batas manusia. Aku sadar, aku adalah orang yang jauh dari sempurna, bahkan aku adalah hamba yang sedikit sekali berbakti pada-Mu. Kebenaranku merupakan anugerah dari-Mu, sementara kesalahanku adalah murni kebodohanku.

Tuhan...
Tolong tenangkan hati ini dalam menghadapi sesuatunya dan dewasakan pula diri ini dalam menyikapinya ... amiin...



Sabtu, 22 November 2014

Kaulah Pahlawanku



Hai kau pahlawan bangsa...!!!
Sungguh jasatmu telah tiada
Namun Jasamu tak akan pernah sia-sia,
Dan akan terkenang sepanjang masa.

Hai kau yang telah membebaskan kami...!!!
Sungguh kiranya darahmu akan menjadi saksi
Atas terusirnya penjajah dari negeri ini,
Dan biarlah kami sebagai generasi yang akan meneladani.

Hai kau yang telah ikhlas mengusir penjajah...!!!
Kan kulanjutkan perjuanganmu yang penuh himmah
Kan ku bangun negeri ini dengan gemah ripah,
Hingga terciptanya Kesedihan tiada akan pernah.

Hai kau yang telah kujadikan tauladan ...!!!
Ucap syukur tak henti-hentinya kupanjatkan
Atas setiap hirup napas kebebasan
Sampai ajal kan jelang, nyata dalam keindahan.

Hai kau yang menjadi pahlawan kami...!!!
Jasa-jasamu telah  terpatri
Pengorbananmu tak akan pernah tertandingi
Dan semoga pahala bagimu mengalir tiada henti.

Amiiin...



 M. Zajery El Nuri,  22  November  2014  

Jumat, 10 Oktober 2014

JIKALAH



Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka kenapa meski dijalani dengan sedih rasa, sedang ketegaran akan lebih indah dikenang hati, Kesabaran akan lebih mudah menghantarkan kita pada apa yang menjadi harapan dan melalui setiap peristiwa yang kita temui. Bukankah para pendahulu-pendahulu kita untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya, mereka berupaya untuk bersabar dari setiap rintangan.
بالصَبْرِ تَنالُ ما تُرِيد.
“Dengan kesabaran akan kita perolih setiap harapan”

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, lalu mengapa tidak dinikmati saja, sedang ratap tangis tak akan mengubah segalanya. Bukankah Allah telah menjanjikan di Setiap kesulita bersamanya kemudahan.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا.
Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa meski dibiarkan meracuni jiwa, sedangkan ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama dan terpuji, Sementara kecewa dan trauma tercela Agama, dan akan melahirkan demotivasi dalam menjalani hidup dan berujung pada kegagalan.

Jikalah harta dan perhiasan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa meski berpelit diri, sedangkan berdermawan jelas lebih membawa untung. Bukankah sikap terlalu mencintai harta merupakan biang kekeliruan dan malapetaka yang mengancam, sementara kedermawanan mengundang kawan dan membawa aman.

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى. وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى. وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى.
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.”
Sementara dalam Hadis Nabi, dikatakan;
طَعامُ الجَوادِ دَواءٌ وَطعامُ البَخِيلِ دَاءٌ
 “Makanan orang yang pemurah adalah obat, sedangkan makanan orang yang kikir adalah penyakit”

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa meski membusungkan dada kerana sombong, sedangkan rendah hati lebih mengundang cinta Tuhan.
Dalam hadis dikatakan:

“Celakalah anak Adam, bagaimana mungkin dia berlaku sombong. Padahal dia hanyalah akan menjadi bangkai yang menyebarkan aroma tidak sedap bagi orang lain yang lewat di dekatnya. Anak Adam itu diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah pula.” (HR. Dailami)

Apa kita masih ingin sombong ??

Jikalah kebahagiaan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa meski dirasa sendiri, sedangkan berbagi akan membuatnya lebih bermakna. Tidaklah seorang mukmin menghilangkan duka saudaranya kecuali Allah akan membalas yang sama, karena Allah menginginkan hamba-hamba-Nya untuk bahagia dan berbagi kebahagiaan.

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa meski kita gemar dengan sikap atau perbuatan-perbuatan yang tak mengenakkan Tuhan. Bukankah hanya Dia yang akan kekal nan abadi.
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ. وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar Rahmaan: 26-27)
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ.
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan. (Al Qoshosh: 88)

Sadarkah Kita....???


Sabtu, 27 September 2014

Moderasi Islam dan Keistimewaannya



Sikap mengambil jalan tengah (Wasathiyyah) adalah termasuk di antara keistimewaan-keistimewaan umat ini. Keistimewaan ini diisyaratkan oleh firman Allah: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi-saksi atas( penyimpangan perbuatan) manusia (umat terdahulu) dan agar Utusan (Rasulullah Saw) menjadi saksi atas kalian
Dan kiranya keistimewaan ini bisa difahami dari manhajnya, yaitu manhaj wasath bagi umat wasath, tepatnya manhaj i’tidal dan tawazun (sebanding dan seimbang) yang selamat dari ifrath dan tafrith (terlalu dan teledor),  ghuluww dan taqshir (melewati batas dan meremehkan) serta inqibadh dan inbisath (eksklusif dan inklusif).
Termasuk makna Wasathiyyah adalah seperti berikut:
1.      al Khairiyyah, sungguh telah dikatakan: “Sebaik-baik perkara adalah yang paling tengah-tengah),  sebagaimana sebagian ahli tafsir menafsirkan firman Allah (ummatan wasathan) yaitu umat-umat yang pilihan.
2.      al Adlu, yaitu bersikap tengah-tengah di antara dua kelompok yang berlawanan tanpa cenderung atau mendukung kepada salah satu di antara keduanya. Esensi keadilan adalah bertindak secara obyektif. Orang yang adil adalah orang yang mengambil jalan tengan dalam keputusannya tanpa ada kecenderungan (ke salah satu kkelompok), dan mempertimbangkan segala aspek sehingga bisa memberikan hak masing-masing tanpa ada penyimpangan sebagaimana dalam Shahih Bukhari tentang tafsir firman Allah ta’ala (ummatan wasathan) yaitu umat-umat yang adil.
3.      al Istiqamah, yaitu jauh dari penyimpangan dan penyelewengan. Jadi menetapi manhaj wasath adalah berjalan di atas jalan lurus seperti yang dijalani oleh orang-orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah dari para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Sungguh mereka adalah kawan-kawan terbaik. Dari sinilah kemudian Allah memerintahkan kita agar memohon kepadaNya keteguhan berada di jalan lurus tidak kurang tujuh belas kali dalam setiap hari ketika kita membaca alfatihah dalam shalat.
4.      al Hikmah, dengan makna meletakkan segala sesuatu di tempatnya dan memposisikan semua urusan pada jalurnya. Tentang makna hikmah, Ibnul Qayyim berkata: (Melakukan hal yang semestinya dengan cara semestinya pada waktu yang semestinya) beliau berkata: (Hikmah adalah kamu memberikan segala sesuatu akan haknya dan tidak pula kamu membawanya melewati batasnya)
5.      at Taisir dan Raf’ul Charaj, memudahkan dan menghilangkan kesusahan. Islam adalah agama yang tengah-tengah, tak ada ghuluww, jafa’ (susah menerima saran), ifrath, tafrith, tanatthu’  (mempersulit diri) dan takalluf (memaksakan diri). Allah berfirman: “dan Allah tidak menjadikan atas kalian kesusahan dalam beragama
     “Allah berkehendak memudahkan kalian dan Dia tidak berkehendak mempersulit kalian” “Allah berkehendak meringankan kalian, dan adalah manusia diciptakan dalam keadaan lemah”
Dan di antara keistimewaan bersikap moderat adalah mewujudkan hal-hal berikut:
1-      Keamanan dan jauh dari bahaya. Sikap-sikap ekstrem bisa membawa kepada bahaya, berbeda dengan tengah-tengah, maka sungguh ia akan terjaga.
2-      Pusat kekuatan. Masa muda (syabab) adalah masa kekuatan yang berada di tengah-tengah dua masa lemah; lemah masa kecil dan lemah masa tua.
3-      Pusat persatuan dan titik pertemuan. Pemikiran yang tengah-tengah (moderat) adalah titik keseimbangan dan kesebandingan yang di situlah pemikiran-pemikiran ekstrem harus bertemu karena ia (pemikiran-pemikiran ekstrem) telah memicu sebuah hal yang tidak akan dipicu oleh pemikiran yang tengah-tengah, yaitu berupa perpecahan, perselisihan dan konflik di antara putera-putera umat yang satu.
Semua makna ini adalah termasuk di antara keistimewaan dan hasil yang ditunjukkan oleh Wasathiyyah (moderasi islam). Ayat-ayat dan hadits-hadits kiranya menguatkan hal tersebut. Dan kiranya kita tidak mungkin bisa mendapatkan hakikat Wasathiyyah kecuali kita memahami makna-makna tersebut. Jika tidak demikian halnya maka Wasathiyyah hanya akan menjadi sekedar  wacana yang tidak pernah adalah dalam realita.


= والله يتولي الجميع برعايته =