Translate

Senin, 26 Januari 2015

God




Tuhan...
Ketika aku merasa kecewa atas sesuatnya, aku memilih untuk memendamnya sendiri, ketika semua itu memaksaku untuk dilahirkannya dan sudah tak bisa kubendung lagi, aku memilih untuk menungkan-nya dalam lembaran bisu, bukan aku ingin menceritakan atau berkeluh kesah pada sunyinya malam.

Tuhan...
Aku berusaha belajar tuk tak memaksakan apa-apa yang telah Engkau tetapkan atas-ku, aku belajar tuk terus berharap apa yang terbaik untuk-ku, bersabar, mengerti, dan percaya akan datangnya hari dimana aku akan tersenyum kembali. Aku yakin akan datangnya pertolonganmu, bukankah janji-Mu suatu hal yang nyata.? 

Tuhan...
Ku-akui terkadang aku memang sering mengeluh, tapi aku tak pernah menuntut hal yang berlebih, hal yang di luar batas manusia. Aku sadar, aku adalah orang yang jauh dari sempurna, bahkan aku adalah hamba yang sedikit sekali berbakti pada-Mu. Kebenaranku merupakan anugerah dari-Mu, sementara kesalahanku adalah murni kebodohanku.

Tuhan...
Tolong tenangkan hati ini dalam menghadapi sesuatunya dan dewasakan pula diri ini dalam menyikapinya ... amiin...



Sabtu, 22 November 2014

Kaulah Pahlawanku



Hai kau pahlawan bangsa...!!!
Sungguh jasatmu telah tiada
Namun Jasamu tak akan pernah sia-sia,
Dan akan terkenang sepanjang masa.

Hai kau yang telah membebaskan kami...!!!
Sungguh kiranya darahmu akan menjadi saksi
Atas terusirnya penjajah dari negeri ini,
Dan biarlah kami sebagai generasi yang akan meneladani.

Hai kau yang telah ikhlas mengusir penjajah...!!!
Kan kulanjutkan perjuanganmu yang penuh himmah
Kan ku bangun negeri ini dengan gemah ripah,
Hingga terciptanya Kesedihan tiada akan pernah.

Hai kau yang telah kujadikan tauladan ...!!!
Ucap syukur tak henti-hentinya kupanjatkan
Atas setiap hirup napas kebebasan
Sampai ajal kan jelang, nyata dalam keindahan.

Hai kau yang menjadi pahlawan kami...!!!
Jasa-jasamu telah  terpatri
Pengorbananmu tak akan pernah tertandingi
Dan semoga pahala bagimu mengalir tiada henti.

Amiiin...



 M. Zajery El Nuri,  22  November  2014  

Jumat, 10 Oktober 2014

JIKALAH



Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka kenapa meski dijalani dengan sedih rasa, sedang ketegaran akan lebih indah dikenang hati, Kesabaran akan lebih mudah menghantarkan kita pada apa yang menjadi harapan dan melalui setiap peristiwa yang kita temui. Bukankah para pendahulu-pendahulu kita untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya, mereka berupaya untuk bersabar dari setiap rintangan.
بالصَبْرِ تَنالُ ما تُرِيد.
“Dengan kesabaran akan kita perolih setiap harapan”

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, lalu mengapa tidak dinikmati saja, sedang ratap tangis tak akan mengubah segalanya. Bukankah Allah telah menjanjikan di Setiap kesulita bersamanya kemudahan.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا.
Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa meski dibiarkan meracuni jiwa, sedangkan ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama dan terpuji, Sementara kecewa dan trauma tercela Agama, dan akan melahirkan demotivasi dalam menjalani hidup dan berujung pada kegagalan.

Jikalah harta dan perhiasan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa meski berpelit diri, sedangkan berdermawan jelas lebih membawa untung. Bukankah sikap terlalu mencintai harta merupakan biang kekeliruan dan malapetaka yang mengancam, sementara kedermawanan mengundang kawan dan membawa aman.

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى. وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى. وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى.
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.”
Sementara dalam Hadis Nabi, dikatakan;
طَعامُ الجَوادِ دَواءٌ وَطعامُ البَخِيلِ دَاءٌ
 “Makanan orang yang pemurah adalah obat, sedangkan makanan orang yang kikir adalah penyakit”

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa meski membusungkan dada kerana sombong, sedangkan rendah hati lebih mengundang cinta Tuhan.
Dalam hadis dikatakan:

“Celakalah anak Adam, bagaimana mungkin dia berlaku sombong. Padahal dia hanyalah akan menjadi bangkai yang menyebarkan aroma tidak sedap bagi orang lain yang lewat di dekatnya. Anak Adam itu diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah pula.” (HR. Dailami)

Apa kita masih ingin sombong ??

Jikalah kebahagiaan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa meski dirasa sendiri, sedangkan berbagi akan membuatnya lebih bermakna. Tidaklah seorang mukmin menghilangkan duka saudaranya kecuali Allah akan membalas yang sama, karena Allah menginginkan hamba-hamba-Nya untuk bahagia dan berbagi kebahagiaan.

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa meski kita gemar dengan sikap atau perbuatan-perbuatan yang tak mengenakkan Tuhan. Bukankah hanya Dia yang akan kekal nan abadi.
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ. وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar Rahmaan: 26-27)
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ.
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan. (Al Qoshosh: 88)

Sadarkah Kita....???


Sabtu, 27 September 2014

Moderasi Islam dan Keistimewaannya



Sikap mengambil jalan tengah (Wasathiyyah) adalah termasuk di antara keistimewaan-keistimewaan umat ini. Keistimewaan ini diisyaratkan oleh firman Allah: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi-saksi atas( penyimpangan perbuatan) manusia (umat terdahulu) dan agar Utusan (Rasulullah Saw) menjadi saksi atas kalian
Dan kiranya keistimewaan ini bisa difahami dari manhajnya, yaitu manhaj wasath bagi umat wasath, tepatnya manhaj i’tidal dan tawazun (sebanding dan seimbang) yang selamat dari ifrath dan tafrith (terlalu dan teledor),  ghuluww dan taqshir (melewati batas dan meremehkan) serta inqibadh dan inbisath (eksklusif dan inklusif).
Termasuk makna Wasathiyyah adalah seperti berikut:
1.      al Khairiyyah, sungguh telah dikatakan: “Sebaik-baik perkara adalah yang paling tengah-tengah),  sebagaimana sebagian ahli tafsir menafsirkan firman Allah (ummatan wasathan) yaitu umat-umat yang pilihan.
2.      al Adlu, yaitu bersikap tengah-tengah di antara dua kelompok yang berlawanan tanpa cenderung atau mendukung kepada salah satu di antara keduanya. Esensi keadilan adalah bertindak secara obyektif. Orang yang adil adalah orang yang mengambil jalan tengan dalam keputusannya tanpa ada kecenderungan (ke salah satu kkelompok), dan mempertimbangkan segala aspek sehingga bisa memberikan hak masing-masing tanpa ada penyimpangan sebagaimana dalam Shahih Bukhari tentang tafsir firman Allah ta’ala (ummatan wasathan) yaitu umat-umat yang adil.
3.      al Istiqamah, yaitu jauh dari penyimpangan dan penyelewengan. Jadi menetapi manhaj wasath adalah berjalan di atas jalan lurus seperti yang dijalani oleh orang-orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah dari para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Sungguh mereka adalah kawan-kawan terbaik. Dari sinilah kemudian Allah memerintahkan kita agar memohon kepadaNya keteguhan berada di jalan lurus tidak kurang tujuh belas kali dalam setiap hari ketika kita membaca alfatihah dalam shalat.
4.      al Hikmah, dengan makna meletakkan segala sesuatu di tempatnya dan memposisikan semua urusan pada jalurnya. Tentang makna hikmah, Ibnul Qayyim berkata: (Melakukan hal yang semestinya dengan cara semestinya pada waktu yang semestinya) beliau berkata: (Hikmah adalah kamu memberikan segala sesuatu akan haknya dan tidak pula kamu membawanya melewati batasnya)
5.      at Taisir dan Raf’ul Charaj, memudahkan dan menghilangkan kesusahan. Islam adalah agama yang tengah-tengah, tak ada ghuluww, jafa’ (susah menerima saran), ifrath, tafrith, tanatthu’  (mempersulit diri) dan takalluf (memaksakan diri). Allah berfirman: “dan Allah tidak menjadikan atas kalian kesusahan dalam beragama
     “Allah berkehendak memudahkan kalian dan Dia tidak berkehendak mempersulit kalian” “Allah berkehendak meringankan kalian, dan adalah manusia diciptakan dalam keadaan lemah”
Dan di antara keistimewaan bersikap moderat adalah mewujudkan hal-hal berikut:
1-      Keamanan dan jauh dari bahaya. Sikap-sikap ekstrem bisa membawa kepada bahaya, berbeda dengan tengah-tengah, maka sungguh ia akan terjaga.
2-      Pusat kekuatan. Masa muda (syabab) adalah masa kekuatan yang berada di tengah-tengah dua masa lemah; lemah masa kecil dan lemah masa tua.
3-      Pusat persatuan dan titik pertemuan. Pemikiran yang tengah-tengah (moderat) adalah titik keseimbangan dan kesebandingan yang di situlah pemikiran-pemikiran ekstrem harus bertemu karena ia (pemikiran-pemikiran ekstrem) telah memicu sebuah hal yang tidak akan dipicu oleh pemikiran yang tengah-tengah, yaitu berupa perpecahan, perselisihan dan konflik di antara putera-putera umat yang satu.
Semua makna ini adalah termasuk di antara keistimewaan dan hasil yang ditunjukkan oleh Wasathiyyah (moderasi islam). Ayat-ayat dan hadits-hadits kiranya menguatkan hal tersebut. Dan kiranya kita tidak mungkin bisa mendapatkan hakikat Wasathiyyah kecuali kita memahami makna-makna tersebut. Jika tidak demikian halnya maka Wasathiyyah hanya akan menjadi sekedar  wacana yang tidak pernah adalah dalam realita.


= والله يتولي الجميع برعايته =

Jumat, 12 September 2014

Ihsan dan Itqon dalam Ibadah, Karya, dan Kecakapan



 Sabda Rasulullah saw:
“Sesungguhnya Allah swt mewajibkan (menuntut) ihsan atas segala sesuatu. Bila kamu membunuh, maka lakukanlah ihsan dalam cara membunuhmu. Bila kamu menyembelih, lakukanlah ihsan dalam cara menyembelihmu”. (HR.Muslim dari Saddad bin Aus)
                Hadits Shahih ini mengajurkan berbuat ihsan atau itqon (melakukan sesuatu pada tingkat yang terbaik dan sempurna) dalam segala hal, termasuk dalam cara membunuh dan cara menyembellih sekalipun. Imam Nawawi menyebut hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Syaddad bin Aus (keponakan sahabat Hassan bin Tsabit) ini sebagai prinsip dasar (kaidah) agama yang penting, sehingga beliau meletakannya dalam jajaran 42 hadits di kitab Al Arbain.
Ihsan dan Itqon dalam Ibadah
                Ibadah yang kita sembahkan kepada Allah swt hendaknya berupa amal ibadah yang ihsan. Menurut para ulama amal ibadah yang ihsan standarnya ialah memenuhi  unsur  ikhlas dan unsure ittiba’ (sesuai dengan sunnah). Upamanya sholat. Praktek ibadah ini tidak hanya sekedar bangun dan duduk di atas sajadah beberapa saat saja. Agar sampai pada tingkat ihsan, maka aspek shuroh dzohiroh seperti sunnah gerakan dan bacaan mesti diperhatikan selain mesti diperhatikan aspek hakikat batiniah seperti khusyu’, khudlur, dan tadabbur.
                Amal ibadah apapun seperti sholat, puasa, tilawah, dzikir, dan lainnya bila pelaksanaannya tidak sampai pada tingkat ihsan, itqon atau ihkam seperti hilangnya adab dan rasa pengagungan (taqdis), agaknya nilai ibadah yang didapat tak lebih dari sekedar kepayahan dan kecapekan. Hal ini sebagaimana tersirat dari ungkapan hadits :
“Betapa banyak orang berpuasa tidak ada nilai baginya kecuali lapar dan dahaga. Dan betapa banyak orang bangun malam tidak ada nilai baginya selain selain terjadi (tidak tidur) dan kepayahan”.(HR.Nasa’I,Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Huroiroh)
                Sahabat Ali bin Abi Thalib berkata:
“Tidak ada baiknya tilawah (Al Qur’an) yang tidak ada tadabbur (perenungan makna ) di dalamnya”.
                Berkaitan puasa di bualn Ramadhan, menahan makan dan minum selama kurang lebih 14 jam terasa tidak tidak terlalu berat seperti dikatakan oleh Maimun bin Mihran. Namun bagaimana dalam puasa juga mengendalikan nafsu kema’shiatan dan mengekang ego kebinatangan agar mencapai maqom takwa ini yang penting, namun pelaksanaannya susah dan berat. Sementara pengendalian nafsu itulah nilai ihsan dan itqon dalam ibadah puasa. Sahabat Jabir bin Abdillah Al Anshari berkata:
“Bila kamu berpuasa hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu, dan lidahmu juga turut berpuasa dari tindak jujur dan dosa. Tinggalkan menyakiti tetangga. Hendaklah kamu tenang pada hari puasamu. Jangan kamu jadikan hari puasa dengan hari tidak puasamu sama saja”(Fiqhus Shiyam.Dr Yusuf Qordlowi.Hal   87)
                Amal ibadah yang dilakukan dengan mengabaikan ihsan dan itqon kadangkala tidak sekedar terlarang mendapatkan nilai pahala, boleh jadi justru bisa mengakibatkan dosa, seperti beramal atas dasar riya’ atau sholat tanpa ihsan dalam ruku’ dan sujud sesuai dengan yang diwajibkan. Contoh yang lain ialah melakukan ibadah namun tidak ada dasarnya (bid’ah), seperti melakukan I’tikaf di masjid Ampel atas dasar keyakinan I’tikaf di situ lebih mulia daripada di masjid lain para umumnya. Ini malah suatu kesalahan yang diperoleh.
                Ibadah yang berupa meninggalkan hal- hal yang terlarang (attarku) pun menuntut dilakukan secara ihsan dan itqon. Perbuatan dosa, haram, syubhat, dan syahwut ditinggalkan semata-mata karena Allah swt, pengagungan terhadap-Nya, malu dan takut kepada-Nya. Bukan meninggalkan hal-hal yang dilarang itu atas dasar riya’, malu, atau takut kepada manusia.
                Menjauhi atau setidak-tidaknya mewaspadai bergaul dengan orang-orang yang kebiasaannya berbuat dosa, haram, syubhat, dan syahwat termasuk bagian pula dari upaya ihsan dan itqon dalam ibadah yang sifatnya attarku. Karena dengan kewaspadaan itu kita dapat menghindari kecenderungan yang mendorong diri untuk meniru perbuatan-perbuatan yang terlarang itu akibat berdekat-dekat dengannya.
Ihsan dan Itqon dalam Karya dan Kecakapan
                Dalam hidup ini kita dituntut berkarya dan memiliki imkaniyah (kecakapan), ahliyah (keahlian), dan kafa’ah (kemampuan) tertentu. Aktifitas dakwah adalah bagian dari tuntutan dan kecakapan itu. Karya yang akan kita lakukan dalam kecakapan yang kita miliki,sebagaimana ibadah, hendaknya di upayakan sampai pada tingkat ihsan dan itqon. Karya betul-betul kita buat sesempurna mungkin (ekselen).Terarah,terencana dan utuh.Tidak asal-asalan.Kecakapan yang kita miliki pun betul-betul kita dalami dan kita seriusi hingga kita benar-benar piawai,ahli,dan cakap (professional) dibidangnya.Tidak setengah-setengan,mentah,dan tanggung.Rosululloh bersabda:
“Sesungguhnya Alloh swt menyukai bila salah satu dari kamu beramal melakukan amal itu secara sempurna dan terbaik.” (HR Baihaqi dari A’isyah)
Pada riwayat lain disebutkan:
“Sesungguhnya Alloh menyukai orang beramal yang sempurna dan bagus amalnya.”(HR Baihaqi dari  Kulaib bin Syihab)
Untuk menuju itqon dalam berkarya kiranya perlu langkah-langkah yang kreatif (mampu menciptakan hal baru),taktis (pertimbangan dan perhitungan matang),dan respontif (tanggap dan cekatan).Ide-ide tidak boros,tidak pula ide disia-siakan.Kreasi-kreasinya terpogram,terarah dan utuh.Selalu ada kontrol dan evaluasi.Sedang agar imkaniyah (kecakapan), ahliyah (keahlian)dan kafa’ah (kemampuan) tertentu bisa ihsan dan itqon, perlu meningkatkan potensi yang pasti dimiliki setiap pribadi manusia dan mengasahnya.Membuka diri dari kekurangan dan kelemahan.Misalnya dengan membaca,diskusi,ikut training,kursus,uji coba,serta upaya-upaya peningkatan pengetahuan dan penambahan pengalaman yang lain.
Dalam rangka menuju profesionalisasi,dunia modern saat ini menuntut spesialisasi (pendalaman suatu bidang keahlian) dan kompetensi (kecakapan dan kemampuan) dibidang tertentu.Bukan generalisasi (kemampuan menguasai beberapa bidang tapi tidak secara serius dan mendalam).Menekuni suatu bidang tertentu sehingga cakap dan piawai di dalamnya akan sangat dibutuhkan daripada generalisasi.Ketekunan dalam suatu bidang sehingga piawai,hasilnya niscaya tidak akan tersia-siakan atau terbuang dengan percuma.
Di tengah persaingan (perlombaan) menuju kebaikan,kita membutuhkan tim kerja (team work) yang kokoh,lengkap,dan komplit yang bisa masuk semua lini dan merambah di segala bidang kehidupan bersamaan dengan karunia keberkahan dari Alloh swt.Kebutuhan posisi dapat dipenuhi dengan pembagian job-job yang jelas dan tidak mesti harus sama.Untuk ini sangat diutuhkan kader-kader yang itqon dalam karya dan kecakapannya,yaitu sumber daya manusia yang berkompeten dan spesialis dibidangnya masing-masing,seperti administrator,negarawan,pendidik,dai,kiyai,ahli Al Quran,ahli fiqh,ekonom,advokat,teknokrat,dokter,jurnalis,konglomerat,dan bidang-bidang lain yang membutuhkan kecakapan tertentu semacam pertukangan,persopiran,pertanian,keperawatan,konveksi,dan masak-memasak.Jika kebutuhan ini dipenuhi dan potensi tersebut dikumpulkan dalam wadah jama’ah serta dikelola secara baik,maka akan terwujud sebuah konfigurasi (bentuk) yang indah,laksana konfigurasi pelangi.
Posisi dan job yang jelas sesuai dengan spesialisasi dan kompetensi masing-masing,demikian ini adalah menejemen ilahiyah yang diterapkan dikalangan Malaikat dan hasilnya sangat mengesankan.Imam Ibnu Katsir berkata: “Setiap Malaikat pasti memiliki posisi tertentu di langit serta mempunyai  job-job dalam ibadah dan tanggung jawab (taklif dan wadzifah) tertentu yang tidak mereka sia-siakan dan tidak pula batasnya mereka lampaui “.(Aqidatul Muslim,Kholid Abdurrohman.Hal: 67) Alloh berfirman:
“Tiada seseorangpun diantara kami (Malaikat) melainkan mempunai kedudukan (posisi dan job) yang tertentu.” (QS As Shoffaat: 164)
Usaha-usaha ihsan dan itqon dalam segala hal,utamanya dalam hal ibadah,karya dan kecakapan ini sangat perlu dilakukan dalam rangka membentuk kader-kader dai yang diharapkan siap hati (mental) nya sekaligus fisik (skill) nya.apalagi ihsan dan itqon sendiri merupakan sifat dan karakter Alloh swt kala menciptakan makhluk-Nya.Di dalam Al Quran:
(Alloh yang membuat secara itqon segala sesuatu.” (QS An Naml: 88)
Sementara dalam hikmah dikatakan: “Takhollaquu bi akhlaqillah” (berakhlaklah kamu sesuai dengan akhlak yang menjadi sifat-sifat Alloh swt)


Wallohu A’lam

Selasa, 09 September 2014

Komitmen Beramal Sholeh



                Sekian banyak Allah swt memberikan kasih sayang materi maupun nonmateri kepada kita. Salah satu diantara kasih sayang non materi ialah dilebur dan dihapusnya dosa-dosa ( kecil ) yang disebut “al lamam” cukup dengan melakukan amal sholeh, tanpa harus bertaubat dan memohon ampunan. Rasulullah saw bersabda kepada Amr bin Ash yang hendak berbaiat memeluk islam :
“Apakah kamu tidak tahu sesungguhnya Islam menghapus dosa sebelumnya; hijrah menghapus dosa sebelumnya; dan haji juga menghapus dosa sebelumnya?!”  ( H.R. MuslimI: 71)
                Ada dua hal yang bisa digali dari pengertian hadits ini sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
                Pertama, seseorang bisa diampuni dosanya tanpa harus bertaubat dan minta ampun manakala dia melakukan amal sholeh. Amal sholeh artinya bisa menjadi sebab pengampunan. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt:
“Sesungguhnya pebuatan yang baik menghapuskan ( dosa ) perbuatan-perbuatan yang buruk. ( QS.Hud: 114 )
                Kedua, bila seseorang beramal sholeh dan meninggal dunia setelahnya maka hal itu cukup menjadi indikasi dia mati dalam khusnul khotimah. Maka tidak diperlukan lagi baginya keharusan meminta ampun dan memohon maaf.
                Disinilah arti dan perlunya amal sholeh. Ungkapan keimanan yang banyak dirangkai dengan amal sholeh dalam Al-Qur’an menambah kepentingan dan keperluan itu. Atas dasar ini amal sholeh seharusnya menjadi komitmen hidup kita sampai akhir hayat sehingga kita mencapai husnul khotimah., bukan su’ul khotimah, apalagi mati dalam keadaan kafir.
                Komitmen beramal sholeh dengan demikian menuntut terus dipelihara, dipupuk, dan dijaga lebih-lebih pada saat kita lagi sehat dan sempat, tengah dikaruniai umur panjang, berjiwa muda, hidup segar, cukup, aman, tentram dan sebagainya. Mumpung-mumpung. Sebab bisa saja bencana ( musibah, fitnah) dan kendala yang tidak diingini datang menjadi penghambat, pemutus bahkan perusak kita dalam melakukan amal sholeh. Sabda Rasulullah saw :
“Bersegeralah melakukan amal-amal ( sholeh) dalam rangka mengantisipasi tujuh keadaan. Bukankah kamu tidak menunggu kecuali kefaqiran yang menjadikan lupa, atau kekayaan yang membuat durhaka, atau sakit yang merusak, atau pikiran yang melemahkan akal, atau kematian yang cepat, atau dajjal, maka dajjal adalah seburuk-buruk hal ghaib yang ditunggu, atau hari Kiamat padahal hari kiamat itu lebih dahsyat dan pahit”. ( H.R. Tirmidzi )
                Hadits ini menyebut tujuh kendala dan rintangan yang bisa menghambat dan merusak komitmen kita beramal sholeh leluasa.
                Pertama, kefaqiran yang melupakan. Kefaqiran kerap membuat orang tidak ingat akan komitmet beramal sholeh disebabkan pikiran kacau, keprihatinan mendalam, dan kosentrasi hidup ( sibuk) mengejar sumber penghidupan. Kefaqiran sering melepas dan melalaikan banyak orang dari iltizamat beramal sholeh tertentu yang diseriusinya. Apalagi bila ditambah dengan beban tanggungan dan tekanan hutang. Kebangkrutan mendadak menyebabkan komitmen beramal sholeh goyah. Kadang bahkan sampai ketingkat merusak keimanan. Disebutkan dalam hadits dlaif:
“Hampir saja kefaqiran itu ( berubah) menjadi kekufuran.”(HR Ahmad bin Mani’)
                Kedua, kekayaan yang membuat durhaka. Kekeyaan memang dominan memperpurukkan orang pada kedurhakaan. Apalagi bila OKB ( orang kaya baru ). Hidup hedonis dan konsumtif ( menjadikan kenikmatan sebagai ukuran kebahagiaan). Sibuk ( syughul) dengan perputaran modal sehingga komitmen beramal sholehnya tidak diperhatikan. Waktunya habis mengurus kekayaan. Tsa’labah yang setelah menjadi kaya enggan berzakat dan berjamaah bisa dijadikan ibrah dalam hal ini.
                Ketiga, sakit yang merusak. Keadaan sakit biasanya diikuti dengan keluhan dan kelemahan fisik. Apalagi bila sakit itu menahun dan ada organ-organ tubuh yang tidak berfungsi secara normal. Usaha berobat yang melelahkan banyak menyita waktunya. Keadaan ini optimis menjadi hambatan secara leluasa.
                Keempat, pikun yang melemahkan akal. Pikun membuat daya pikir melemah, konsentrasi pecah, dan fungsi akal berkurang. Otomatis dalam keadaan pikun aktivitas beramal sholeh terhambat.
                Kelima, kematian yang cepat. Kematian membuyarkan harapan dan angan-angan. Hal ini banyak tidak didasari bila kematian itu benar-benar tiba ( ilmul yaqin ). Dengan kematian, amal sholeh menjadi putus. Sementara ajal kematian tidak memperhitungkan umur. Banyak orang mati di usia muda dan mendadak.
                Keenam, dajjal. Dia dicipta khusus mampu menjelajah bumi dengan kekuatan yang luar biasa. Dia menekan keimanan dan memberikan kekuasaan pada kekufuran. Komitmen beramal sholeh tidak aman bahkan bisa hancur pada saat itu. Karenanya dia dinyatakan sebagai hal ghaib terburuk yang di tunggu kedatangannya. Tidak ada Nabi kecuali memperingatkan keberadaan dajjal ini kepada ummatnya. Dia klimak fitnah bagi ummat manusia kecuali mereka yang dijaga oleh Allah swt seperti orang-orang yang menetap Mekkah-Madinah atau melazimkan membaca sepuluh ayat pertama surat Al Khafi.
                Tidak menjumpai Dajjal pun belum menjadi jaminan aman dalam beramal sholeh. Karena sebelum  Dajjal turun, sekian banyak fitnah ( bencana dan huru-hara) disinyalir merajalela di muka bumi oleh perilaku dajajilah ( dajjal-dajjal kecil) sebagai pendahuluan. Saat itu kemungkaran mewabah. Persepsi-persepsi ( mafahim ) menyesatkan menggejala. Dan pada saat bersamaan muncul para penyeru keneraka jahanam yang memakai dalih-dalih agama sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw kepada sahabat Hudzaifah Ibnu Yaman :
“Para penyeru kepintu-pintu neraka jahanam. Barang siapa menyambut seruan mereka, dia akan terlempar kepintu jahanam itu”. (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’I )
                Ada dua kalangan yang diduga kuat sebagai pemeran dajajilah, yaitu ulama ( suu’) dan umaro ( dzalim dan fasiq ). Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya aku mengkhawatirkan atas ummatku ulah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan.” (H.R. Tirmidzi)
                Dugaan peranan dua kalangan ini sebagai dajajilah dikuatkan dengan ungakapan Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar generasi Tabiin:
“Dan tidaklah menodai agama kecuali raja-raja ( penguasa) dan para pendeta buruk serta para birawannya ( ulama )”.
                Keadaan mewabahnya fitnah inilah yang diantisipasi oleh Rasulullah saw sejak dini dengan menyeru kita semua terus konsis dalam komitmen beramal sholeh. Sabda beliau :
“Bersegeralah melakukan amal-amal sholeh. Sebab akan ada fitnah datang laksana bagian-bagian malam yang gelap gulita. Seseorang pagi-pagi mukmin sorenya kafir. Sore-sore mukmin dan pagi-pagi kafir. Dia menjual agamanya dengan kekayaan dunia.” (H.R. Muslim)
                Ketujuh, hari kiamat. Hari akhir ini keberadaanya justru lebih dahsyat dan lebih mengerikan dibandingkan dengan bencana dan rintangan dalam bentuk apa saja di dunia. Menunggu beramal sholeh hingga kedatangannya tentu pemikiran konyol dan bernilai sangat rendah.
                Sebelum tiba tujuh kendala dan rintangan tersebut  idealnya semenjak dini ada komitmen atau ikrar beramal sholeh secara sungguh-sungguh, giat, semangat, dan serius. Senyampang masih diberikan umur panjang, kesehatan, kesempatan, kekuatan, keamanan, ketentraman, dsb. Hal yang dikhawatirkan ialah ketika ajal tiba sedang waktu itu kita kebetulan beramal tidak sholeh. Menyesal. Pada hal sebagaimana disebutkan di muka amal sholeh bisa melebur dosa dan melakukan menjelang ajal tiba cukup menjadi indikasi mati khusnul khotimah.
                Peri kehidupan Sahabat Amr bin Ash, perawi pertama yang meriwayatkan hadits dimuka kiranya dapat dijadikan renungan. Dia membagi hidupnya tiga bagian. Petama, saat jahiliyah ketika ia membenci Islam dan Rasulullah saw. Bila mati saat itu ia meyakini akan masuk neraka. Kedua, saat masuk Islam dan dia berbaiat di hadapan Rasulullah saw, berjuang dan membela agama. Dia optimis bila mati saat itu ia akan meraih khusnul khotimah. Sementara ketiga, saat dia bergelut dengan politik dan kekuasaan yang menjadikan komitmen beramal sholehnya tidak sebagus tingkatan kedua. Dia ingkar, pesimis. “Maa adri maa haali fiiha “ ( aku tidak tahu apa kondisi diriku), katanya. ( H.R. Muslim )
                Sebagai renungan ada baiknya kita perhatikan gubahan syair berikut ini:
Sesungguhnya Allah ta’alaa mempunyai hamba-hamba yang cerdas.
Mereka mentalak dunia dan mencemasi berbagai fitnah ( agar tehindar darinya )
Mereka memperhatikan dunia itu.
Ketika menyadari dunia bukan tempat menetap bagi orang hidup maka mereka menjadikan dunia bak lautan dan menjadikan amal sholeh di dalamnya menjadi kapal.


Wallohu A’lam

Minggu, 31 Agustus 2014

33 Kiat Menggapai Ketenangan Jiwa



Situasi kesehatan jiwa saat ini ,sebagaimana dinyatakan oleh badan Kesehatan Dunia ( WHO) ,merupakan krisis yang tidak terungkap yang akan semakin buruk di masa-masa yang akan datang.
Di zaman maju ini,betapa banyak orang menderita ketegangan, kecemasan, panik, depresi, tidak puas, disharmoni, gelisah,kecewa,curiga berlebihan, dan lainnya sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang mengganggu jiwa atau batinnya. Dengan kenyataan ini, ketenangan jiwa semakin mahal harganya dan akan semakin didamba banyak orang.
Dulu, ada pepatah : “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (men sana in corpora sano),” kini  justru dipercaya kebalikannya, bahwa “ dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat,” karena ternyata banyak orang yang tubuhnya segar bugar tapi jiwanya sakit, sementara ada orang yang meski tubunya sakit tapi jiwanya tetap sehat.
Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. merupakan modal utama mencapai dan menjaga kesehatan jiwa. Penelitian menunjukkan masyarakat yang religius lebih kecil resiko terkena gangguan kejiwaan di banding mereka yang tidak religius dalam kehidupan sehari-harinya.
Berikut ini adalah kiat-kiat untuk menggapai ketenangan jiwa sebagaimana diajarkan atau disemangati oleh agama kita, Islam, yang bersumber dari al Qur’an dan hadits Nabi saw. Dalil-dalilnya terpaksa tidak kami tulis demi kepraktisan.

UMUM

1.       Tidak memaksakan diri diluar batas kemampuan.tidak ada “ takalluf “ ( pemaksaan diri ) dalam agama Islam.Islam justru menyeru bermadya ( al-qosda); berlaku sedang, tengah, dan wajar.
2.       Menghindari dosa. Pelanggaran terhadap aturan agama atau dosa memberikan pengaruh yang tidak baik pada jiwa. Dosa menjadikan kita tidak tenang, takut, dan was-was. Kita takut dosa itu diketahui orang lain.
3.       Dzikir, mengingat Allah swt. Ia menumbuhkan keyakinan diri, mendekatkan komunikasi diri kepada Allah swt., dan menjadikan hati tidak kering. Dzikir bisa berupa sholat, ( paling tidak sholat lima waktu, apalagi bila ditambah tahajjud ), membaca al-Qur’an, membaca doa-doa, dan sebagainya.
4.       Melihat,membaca, menyimak, dan memperhatikan perilaku atau sejarah keteladanan orang-orang shaleh. Pepatah mengatakan, “ saat orang-orang shaleh dituturkan, turunlah rahmat-rahmat.”
5.       Ringan tangan, suka menolong, dan demawan ( sakho’). Tidak melihat diri. Tidak melihat apa yang dia keluarkan bagi orang lain. Bermanfaat bagi orang banyak.
6.       Lapang dada ( salamatus sadhri ). Hatinya dijauhkan dari dengki, iri hati, dendam, takabur, prasangka buruk, dan semacamnya.
7.       Menasehati khalayak ( an-nushu lil ummah ) atau berdakwah atau ta’lim. Alangkah bahagia melihat ilmu yang kita berikan diterima dan diamalkan orang lain. Orang-orang awam menjadi lepas dari kebodohannya. Dikatakan, “ amal yang menyebar manfaatnya kepada khalayak lebih utama daripada amal yang manfaatnya terbatas pada diri sendiri.”
8.       Berlaku santun ( al-hilmu ) dan tidak tergesa-gesa ( al-anah ). Teburu-buru dan reaktif terhadap situasi yang mengelilinginya merupakan tanda ketidak tenangan jiwa. Dengan berfikir jernih, terencana, dan tidak gegabah, jiwa menjadi tenang.
9.       Puasa dalam arti khusus maupun puasa dalam arti umum yaitu menahan diri ( imsak ). Puasa bisa menstabilkan jiwa. Para ulama memaknai sabar dalam al-Qur’an sebagai puasa.

TERKAIT DENGAN KEILMUAN

10.   Menambah ilmu. Wawasan menjadi luas, tidak berpikiran sempit. Kapan dan dimana pun kita adalah tholib ( pencari ilmu ). Tidak meras puas diri ibarat merasa besar di dalam akuarium kecil. Di atas orang yang alim ada yang lebih alim lagi. Betapa tinggi ilmu Nabi Musa as., namun Allah swt, memerintahkannya tetap memburu ilmu dari Nabi Khidlir as.
11.   Memahkotai ilmu yang di miliki dengan akhlak tepuji, meliputi makrifat ( kesadaran ), tawadhu’ ( kerendahan hati ), amal, dan taqwa. Ilmu tidak akan bermanfaat dengan sendirinya. Orang yang berilmu harus sadar diri. Ikhlash. Berilmu tapi sombong dibenci masyarakat. Ilmu tanpa amal, jiwa terasa dikejar-kejar.Dan seandainya ilmu menjadi baik tanpa taqwa, maka makhluk termulia di bumi adalah Iblis.

TERKAIT DENGAN KEKAYAAN / MATERI

12.   Melihat kepada orang/ tingkatan yang berada di bawahnyA.
13.   Menyadari kekayaan yang hakiki dan atau tempat kembali yang hakiki, bahwa harta yang kita makan akan menjadi kotoran dan yang kita pakai akan menjadi rusak,dan begitu kita mati, itu semua menjadi milik ahli waris, sementara yang kekal adalah sedikit harta yang kita sedekahkan untuk perjuangan/ dhuafa’.
14.   Ridho dan puas terhadap pembagian yang diterimannya. Apa yang ada ini dinikmati.

TERKAIT DENGAN UJIAN

15.   Sabar dan tegar menerima ujian, karena semua telah diatur oleh Allah swt.
16.   Ihtisab, yakni mengharap pahala dari Allah swt, atas musibah yang menimpanya.
17.   Menyakini di balik ujian anda pelajari ( hikmah ) dan setelah kesusahan pasti ada kegembiraan.

TERKAIT DENGAN KEHIDUPAN BERUMAH TANGGA

18.   Suami tasamuh ( toleran ) terhadap isteri
19.   Suami taghoful ( melupakan perangai isteri yang tidak disukai) karena dibalik satu hal yang tidak dia sukai masih begitu banyak hal yang dia sukai dari isterinya.
20.   Suami memenuhi hak-hak isteri.
21.   Suami tabah,sabar, dan tahan atas gangguan dari isterinya.
22.   Suami mendidik dan membimbing isteri dengan baik dan lembut, sebab bila pendidikan dilakukan dengan keras niscaya terjadi cerai, sedangkan bila tidak dididik atau dibiarkan sama sekali,isteri akan tetap pada kebengkokannya
23.   Isteri patuh pada suami.
24.   Isteri tidak banyak bicara.
25.   Isteri tekun beribadah.
26.   Isteri menjaga kehormatan dirinya, memelihara kehormatan suami dan hartanya, serta menjaga anak-anaknya.

TERAIT DENGAN KEHIDUPAN BERJAMAAH

27.   Hidup berjamaah dengan suatu misi kebenaran  yang mengikatnya.Indah.Penelitian menyatakan hidup mengisolir diri atau individual  adalah sumber berbagai penyakit kejiwaan. Di setiap jamaah manapun pasti ada konflik. Tapi bila kita pandai mensikapinya, itu akan membuat kita dewasa dan matang. “ seburuk-buruk kehidupan berjamaah lebih baik daripada hidup sendrian”.
28.   Taat pada Murabbi sekaligus pada sistem yang dibina olehnya.Kita bergaul dengan orang-orang yang jujur. Kita mempunyai pembibing. Ada yang meningkatkan begitu kita teledor dan menyimpang. Perhatikanlah orang yang tidak patuh pada komondan/komando, jauh dari murobbi, jiwanya bisa goncang.
29.   Silaturrahim. Memperbanyak teman, melenyapkan permusuhan.
30.   Menghilangkan ghill dan mengedepankan husnuddzon kepada sesama jamaah. Kedengkian dan prasangka buruk adalah belengu dalam jiwa.

UMUM

31.   Tafakkur dan tadabbur alam dalam rangka menyegarkan jiwa yang lelah (refreshing).
32.   Istiqomah dalam arti ulet, tekun, konsisten, teguh memegang prinsip, dan bersungguah-sungguh. Tanguh.
33.   Optimis. Percaya diri. Tidak berputus asa. Patang menyerah. Ibarat dian (pelita) yang  tak kunjung padam. Tentu,setelah kiat-kiat tersebut di atas dilaksanakan. Sebab, optimisme tanpa kerja keras tak ubahnya mimpi.


Wallahu subhanahu wata’ala a’lam


Senin, 25 Agustus 2014

TERNYATA RUMPUT TETANGA TAK LEBIH HIJAU DARI RUMPUT KITA




Hidup bahagia adalah bentuk seni yang mengagumkan, termasuk didalamnya adalah kepuasan diri, kedamaian dan ketenangan jiwa. Kebahagiaan bukan terletak disebelah sana, kanan atau kiri, depan maupun belakang, melainkan di sini, di dalam hati sini. Kebahagiaan adalah kondisi pikiran kita, Kebahagiaan adalah suasana hati, Jika kita ingin bahagia, kapanpun dan di manapun kita bisa bahagia.
Jadi kebahagiaan itu dihasilkan oleh keputusan kita, ide pikiran kita, dan sikap kita. Bukan oleh suatu objek, bukan oleh seseorang dan bukan pula oleh keadaan atau kondisi lingkungan kita. janganlah bahagia karean suatu objek, jangan karena seseorang, jangan juga karena suatu keadaan maupun lingkungan.
Sering kita selalu memandang ke tetangga sebelah kita, mengapa kita selalu beranggapan kalau orang lain lebih bahagia. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa mereka yang di sebelah sana melihat kita yang di sebelah sini, juga berpikir demikian, berpikir bahwa kita yang ada di sini lebih bahagia.
Sebenarnya kesukaran dan kesulitan yang ada pada kita, yang selalu menimpa kita adalah akibat opini kita yang salah tentang apa yang terjadi.
Kita sering berpikir “ dengan segala tenaga dan kemampuan sudah aku curahkan, tapi hasilnya selalu mengecewakan. Kita bersikeras, berpikir di sebelah sana lebih bagus dan lebih baik, sambil terus bergantung pada bayang-bayang indah.
Ternyata emang benar apa yang dikatakan orang-orang tua dahulu bahwa “Rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput kita” pernahkah kita menyadari akan pepatah tersebut.

Marilah kita sadar diri, Tuhan menciptakan kita dan menempat kita sudah pada posisi yang pas dan benar, kitanya aja yang masih selalu menuruti ego,..