Translate

Kamis, 14 Agustus 2014

AR-RUH



                Masalah yang maha penting tentang manusia adalah tentang ruh atau roh . Tubuh manusia sekalipun susunannya demikian hebat, penuh dengan rahasia di balik rahasia, tetapi bila dibanding dengan ruh, maka ruh jauh lebih hebat, lebih rahasia, dan lebih penting. Karena itu, keberadaan ruh menjadi lebih penting untuk diperhatikan dan direnungkan .

Ruh Sebagai Rahasia Kehidupan

 Firman Allah subhanahu wata`ala dalam Al-Qur`an surat Al-Isra` ayat 85; “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh . Katakanlah:”Ruh itu termasuk perintah Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan melainkan hanya sedikit saja.”
                Makna dari “arruh min amri rabbi” adalah “arruh makhluqatun bi amrin minallah”, yakni bahwa ruh itu diciptakan dengan suatu perintah dari Allah swt .
        Keberadaan ruh sebagai suatu perintah dari Allah swt . ini dapat dibuktikan antara lain :
(1)    Diciptakan Nabi Adam as. Dari tanah. Setelah telah itu disempurnakan kejadiannya, maka pada saat itu, ditiupkan ruh pada tanah itu. Dalam A-Qur`an disebutkan : (Ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku menciptakan seorang manusia dari tanah . Maka apabila Aku telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku , maka tundulah kamu kepadanya dengan bersujud.”(Q.S. Shaad:71-72)
        Ruh yang ditiupkan oleh Allah swt. Pada tanah (asal kejadian Adam as.) itu adalah ruh ciptaan Allah swt. Ruh itu bukanlah bagian dari Zat Allah swt. Kata “min ruuhi” maknanya adalah “ruuhan min khalqi” yakni suatu ruh yang berasal dari ciptan Allah swt. Ruh di sini berarti makhluk. Ditiupkannya ruh pada Adam berarti Allah swt. Memerintahkan kepadanya untuk hidup .
(2)    Proses kejadian manusia pada umumnya. Empat bulan setelah terjadinya proses ( talqih ), yaitu pertemuan sperma laki – laki dengan ovum perempuan, Allah swt. Mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin, seperti di terangkan pada sebuah hadis shahih, maka sejak itu hiduplah manusia dengan adanya ruh tersebut. Dia lalu lahir, tumbuh, dan berkembang menjadi manusia yang sempurna setelah menggalami sekian banyak fase. Begitu pula kehidupan makhluk selain manusia.
(3)    Proses kejadian Nabi Isa as. Allah swt. Meniupkan ruh pada putera Maryam ini tanpa proses Perkawinan (talqih), yaitu ketika Allah swt. Memerintahkan ruh untuk berdiam pada jiwanya spontanitas. Allah swt dengan perintah –Nya menitipkan ruh pada Isa as. dari yang asalnya tidak ada, sebagaimana Allah swt.menitipkan ruh pada tanah yang dari tanah itu di ciptakan Nabi Adam as.
Firman Allah swt:
Sesungguhnya missal (penciptaan) Isa disisih Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah.(Q.S.Ali Imran:59)
                Manusia tidak sangup memahami dan mengindera hakikat dari ruh tersebut. Namun,mereka memahami dan mempercayai keberadaan (eksitensi) ruh itu, karena mereka dapat merasakan fenomena dan indikasi dari keberadaan ruh, seperti bergerak,berkembang,bersaing,dan sebagainya, yang semuanya menunjukan eksitensi dari ruh. Selama manusia bisa bergarak,berkambang dan bersaing,di katakan lah bahwa manusia itu hidup. Ada ruh didalam nya. Sementara bila frnomena dan indikasi itu tidak ada pada diri manusia,maka dikatakan dia adalah mati, tidak memiliki ruh.
                Dari sini, ruh adalah suatu rahasia kehidupan . ia merupakan suatu perintah dari Allah swt. Kepada jasad untuk hidup. Dia berhak meletakan ruh itu pada manusia, sekaligus berhak mencabutnya. Di sinilah peran malaikat Izrail sebagai petugas Allah swt .

Opini Umum Manusia Terbentuk dari Jasad dan Ruh

                Opini umum yang berkembang menyatakan bahwa manusia terbentuk dari jasad dan ruh. Opini ini agaknya dipengaruhi oleh falsafah Yunani .
                Bangsa Yunani memiliki persangkaan bahwa ruh merupakan bagian dari manusia. Mereka katakan bahwa manusia terbentuk dari jasad dan ruh; bahwa ruh berasal dari limpahan Zat Allah; bahwa bila ruh bisa mengalahkan materi maka luhurlah manusia dan perilakunya mendekati kesempurnaan ilahiah, sebaliknya bila materi mengalahkan ruh maka terpuruklah perilaku manusia .
                Opini ini perlu diluruskan, pertama, karena alasan-alasan yang telah disebutkan di muka . Kedua, ruh yang disangka mereka seperti itu faktanya adalah tidak ada, karena fakta menyatakan bahwa manusia terbentuk hanya dari materi belaka. Ketiga, persangkaan itu membatalkan ruh sebagai rahasia kehidupan, karena sesungguhnya rahasia kehidupan tidaklah bisa bertambah dan berkurang disebabkan terpuruk atau luhurnya manusia .

Makna Lain dari Ruh, yaitu :

          Ruh di sini adalah suatu sifat yang datang dan baru yang untuk meraihnya harus diupayakan oleh manusia dalam rangka mempengaruhi perilakunya. Dengan ruh ini manusia bisa menjadi luhur dalam memenuhi naluri-naluri dan kebutuhan-kebutuhan anggota badannya .
Sifat ini tidak akan datang pada manusia kecuali manusia bisa menguasai amal perbuatannya sehingga sesuai dengan aturan atau kekuatan yang lebih tinggi dari manuia, yaitu allah swt. Ini hanya bisa terjadi bila manusia beriman kepada Allah swt. dan selalu menjalin shilah (hubungan) dengan-Nya. Dengan demikian ruh yang penting untuk dicari yang bisa menjadikan manusia luhur bukanlah suatu rahasia kehidupan, melainkan adanya shilah billah ( hubungan dengan Allah swt )
Sementara itu, shilah billah pada diri manusia tidak akan terwujud sehingga manusia mengimani bahwa di balik alam semesta ( makhluk ) ini ada Pencipta yang menciptakan sekaligus mengerti ada hubungan antara makhluk itu dengan Pencipta. Jika manusia melihat bulan misalnya dan ia memahami bahwa bulan itu di ciptakan oleh Allah swt, maka pemahaman inilah yang di namakan ruh pada diri manusia. Jika ia tidak memahami hubungan ini maka jadilah dia tidak memiliki ruh.

     
Orang Kafir Tidak Memiliki Ruh
                                                                                                                                                                              Oleh karena orang – orang kafir tidak beriman, tidak memahami bahwa ada keterkaitan alam  semesta ini dengan Allah swt. Maka mereka di dalam Al – Qur`an di sebut sebagai al-Mauta ( orang – orang yang mati ), di anggap tidak memiliki ruh meski hidup.
  Firman Allah swt :                                                                                                                          Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang – orang yang mati itu mendengar dan ( tidak pula ) menjadikan orang – orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. ( Q. S. An – Naml : 80 )
                Di samakannya orang kafir dengan orang mati, karena orang mati tidak mempunyai ruh sebagai Sirrul Hayah, sementara orang kafir tidak mempunyai ruh dalam arti shilah billah.

Ruhaniah dan Ruhiyah

                Berangkat dari shilah billah ini, manusia akan merasakan kebesaran, kekuasaan, dan ilmu Pencipta yang tiada tara. Perasaan ini disebut ruhaniah. Perasaan ini bila berlanggsung terus-menerus pada diri manusia, maka manusia akan hidup dalam nuansa dan suasana keimanan, yang bisa membantunya untuk terikat dengan segala perintah dan larangan allah secara teguh dan legawa.
                Selain ruhaniah, ada juga istilah yang disebut sisi-sisi ruhiah (nahiyah ruhiyah) sesuatu, yakni bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Pencipta. Sisi ruhiyah gunung, bintang, atau manusia adalah bahwa adanya makhluk-makhluk itu diciptakan oleh Allah swt. Sisi ruhiyah ini hanya bisa dipahami orang yang beriman kepada wujudnya Allah swt.

Panduan Islam

                Pertama, al-Islam menekankan manusia memahami sisi-sisi ruhiyah sesuatu dan sisi-sisi ruhiyah dirinya sendiri. Hal ini dalam rangka memperkuat ruh (taqwiyatur ruh) yang berarti memahami adanya shilah semua makhluk dengan allah swt.
Firman-Nya dalam A-Qur`an:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan . Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? (Q.S. al-Ghasyiyah:17-20)
                Segera setelah rangkaian ayat-ayat ini, allah swt. Memerintahkan Rasulullah saw. Untuk memberi perigatan manusia akan adanya shilah antara Allah dan semua makhluk. Ini dalam rangka memperkuat ruh pada jiwa mereka .
Maka berilah perigatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. (Q.S. al-Ghasyiyah:21)
                Aktivitas kita sehari-hari, sholat, misalnya, puasa, zakat, dakwa, infaq, dan lainnya, dengan demikian haruslah dicari sisi-sisi ruhiyahnya, agar tercapai keluhuran, bisa menunaikan ruhus sholah, ruhus shiyam, ruhur jihad, dll.
                Selain memahami ruhiyah sesuatu, a-Islam juga menekankan perlunya memahami sisi-sisi ruhiyah diri manusia sendiri. Allah swt. Berfirman:
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (Q.S. Al- Alaq:1-2)

                Kedua, memadukan materi dan ruh. Al-Islam menyeru kita berupaya memadukan antara materi dan ruh, sekali lagi ruh yang dimaksudkan di sini adalah shilah billah, dengan cara mengikatkan diri pada perintah dan larangan Allah swt. Firman Allah swt:
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. (Q.S. al-A`raaf: 3)
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (Q.S. al-Ahzaab:36)
                Allah swt. Telah menjelaskan hukum perbuatan dan hukum sesuatu pada kita secara lengkap.
Firman-Nya:
Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (Q.S. al-A`raaf:157)
                Terikat dengan hukum pada saat melakukan suatu amal perbuatan adalah bentuk memadukan ruh dengan materi, karena orang yang terikat dengan hukum pada saat melakukan suatu amal perbuatan, dia berarti memahami shilahnya dengan Allah swt. Di samping melaksanakan adab-adabnya, yang kemudian menjadikannya orang yang bertakwa kepada Allah swt.
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa. (Q.S. Al-Baqarah:197)



Ususut Tahaabub Fillah



(Dasar-Dasar Saling Mencintai karena Alloh)

                Dalam memberikan tarbiyah untuk jiwa seorang muslim, manhaj Islam berlandaskan  kepada rasa saling mencintai, saling mengasihi, bersikap lemah,dan saling menyambung satu sama lain. Oleh karena inilah, Islam memberantas sikap saling membenci, iri hati, berpaling, memutuskan hubungan, menjauhi, mendzolimi, menghina, merendahkan, meneliti keburukan, dan sikap berlomba serta saling berbangga dan berburuk sangka seperti sabda Rosululloh Sahllallohu 'Alaihi Wasallam:

Dan jadilah kalian para hamba Alloh yang bersaudara. (H.R. Muslim)

                Bagaimana mungkin slaah satu dari karakter negative tersebut bisa berada dalam hidup seorang muslim yang terbina, sementara ia mengerti bahwa keberadaan tersebut merusak amal, menyia-nyiakan pahala dan melebur kebaikan, kalau bukan karena penyakit dalam hatinya, kekolotan dalam watak, dan pelencengan dalam karakter aslinya. Karena itulah, Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam menegaskan bahwa dua orang yang betul-betul saling mencintai tidak akan pernah bisa terpisahkan oleh halangan dan rintangan apapun. Sebab tali cinta karena Alloh sangat kuat dan tidak akan terputus hanya karena permulaan dosa yang dilakukan salah seorang diantara keduanya. Beliau bersabda:

Tiada dua orang saling mencintai karena Alloh 'azza wa jallla atau karena Islam lalu mereka akan dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang diantara keduanya. (H.R. Bukhori dalam Al Adab Al Mufrod)

                Dari sinilah kemudian bisa dimengerti adanya ancaman keras bagi mereka yang kaku dan keras kepala serta menyimpang dari jalur lurus moralitas Islam dan tertutup dari keramahan serta kemurahan Islam. Di akherat mereka di ancam dengan halangan dari ampunan dan kasih sayang Alloh. Pintu-pintu surga tertutup bagi mereka seperti disebut dalam sabda Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wasallam:

Pintu-pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis lalu diberikan ampunan kepada seluruh hamba yang tidak menyekutukan apapun dengan Alloh, kecuali seseorangn yang diantaranya dan saudaranya ada kebencian. Lalu di ucapkan 'Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai. Tunggulah dua orang ini sampia mereka berdamai." (H.R. Muslim)

                Abu Darda' RA berkata, "Maukah ku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik bagi kalian daripada sedekah dan puasa? (yaitu) mendamaikan antara dua orang yang saling berseteru. Dan sungguh kebencian adalah pencukur (yang menghapus pahala)." (Diriwayatkan Imam Bukhori dalam Al Adab Al Mufrod)
                Seorang muslim yang terbina tentu akan menahan kemarahan terhadap saudaranya, tidak mendongkol, serta tidak enggan untuk segera memberikan maaf dan menutup mata dari kesalahan saudaranya yang dengan begitu ia termasuk orang-orang yang berbuat ihsan. Ia senantiasa menyambut saudaranya dengan wajah penuh senyum karena hal demikian ini merupakan cerminan hati yang bersih dan jernih. Ia juga selalu memberikan nasehat kepada saudaranya, kepada Alloh, kitab, dan Rosul-Nya, serta umat Islam pada umumnya sebagai realisasi prinsip nasihat dalam agama ini.
                Demi memuliakan tali persaduaraan dan pertemanan maka seorang muslim yang terbina juga memiliki watak setia kepada saudaranya. Memberikan pertolongan kepadanya dalam kondisi ketika berlaku dholim atau di dholimi. Pada waktu berbuat dholim maka ia mencegah dan saat di dholimi maka ia melakukan pembelaan. Ini semua sebagai bukti dan realisasi ajaran islam yang berupa mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri.
                Muslim yang terbina akan bersikap lemah lembut kepada saudaranya karena kelembutan menjadi hiasan sesuatu dan apabila ditinggalkan oleh kelembutan maka sesuatu itu menjadi tidak terlihat elok. Ia juga bersikap pemurah kepada saudaranya yang akhirnya kemurahan dan kelembutan tersebut akan menumbuhkan cinta untuknya dalam hati manusia yang hal ini menjadi tanda keridhoan, ampunan, dan kasih sayang Alloh. Ia juga menjaga saudaranya dalam kondisi sedang tidak bersamanya dalam arti tidak menggunjingnya karena mengerti bahwa mengunjungi hukumnya haram dan juga karena enggan memakan daging saudaranya serta menjaga diri agar tidak dijerumuskan lisan ke neraka.
                Muslim yang terbina akan selalu menjauhkan diri dari terlibat dalam perdebatan tiada guna dengan saudaranya. Ia tidak mudah tersayat hati atau merasa berat dengan gurauan saudaranya yang pada suatu saat mungkin menyakitkan. Ia juga tidak melanggar janji kepada saudaranya. Hal ini karena perdebatan sama sekali tidak akan membuahkan kebaikan. Gurauan yang menyakitkan akan memunculkan keengganan, perasaan benci, dan menjatuhkan kewibawaan. Sedang melanggar janji menyebabkan hati kecewa dan hilang rasa cinta.
                Muslim yang terbina selalu mendahulukan saudaranya karena sifat pemurah, dermawan, dan pemberian menjadikan pemiliknya terlihat indah dan mulia sehingga dekat dan dicintai oleh manusia. Jika bertemu maka ia mengucapkan salam. Memenuhi undangannya. Berdoa untuknya (tasymit) jika bersin. Membesuknya bila sakit. Menghadiri dan mengantar jenazah. Mendoakannya dari jauh, karena hal ini semakin mengokohkan bukti kecintaan kepadanya serta meneguhkan tali persaudaraan. Doa sepeti inilah yang semakin cepat dikabulkan karena penuh keihlasan dan kesungguhan.
                Semua hal tersebut adalah percikan arahan-arahan Islam terkait dorongan terhadap budi pekerti mulia dalam rangka menyebar luaskan cinta, persaduaraan, kasih sayang dan saling memberikan perhatian. Sungguh Rosululloh Sholalllohu 'Alaihi Wasallam senantiasa mengembangkan ruh kebersamaan dan mengobarkan perasaan peduli kepada orang lain. Dalam setiap kesempatan beliau selalu mengarahkan mereka kepada rasa persaudaraan secara total sehingga tidak tersisa dalam diri seorang muslim sifat egois dan hanya memikirkan diri sendiri yang hal ini menjadikan mata tertutup dan hati terkunci dan jiwa menjadi keruh.

                Inilah dasar-dasar saling mencintai karena Alloh seperti diinginkan Islam.

Rabu, 13 Agustus 2014

Butuh Pelayanan?


Alloh Tabaaroka  wa Ta’aalaa berfirman:  “ ....dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. ” QS al Hajj :  77.

Sungguh seorang muslim yang terbina niscaya selalu bergegas melakukan kebajikan, memiliki semangat luar biasa agar bisa memberi manfaat kepada orang lain  dalam komunitasnya.  Jika melihat ada kesempatan melakukan hal itu maka ia tidak betah jika tidak segera menjarahnya karena ia mengerti bahwa berbuat kebajikan bisa mendatangkan keberuntungan. Sementara pintu – pintu kebaikan itu terbuka di depannya dan bisa dimasuki kapanpun ia menginginkan seraya berharap turunnya rohmat  Alloh yang luas dan memperkaya diri dengan pahalaNya yang agung dan anugerahNya yang melimpah sebagai upah dari sedekah – sedekah tersebut. .(  lihat Kasyful Ghummah  fi Ishthina’il Ma’ruuf wa Rohmatul Ummah  milik Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani bab Fadhlus Sa’yi fi Naf’il Ibaad wa Qodhoi Hawaa’ijihim )  sehingga berbuat kebajikan itu menjadi kebiasaannya dalam berkhidmah / melayani saudara – saudaranya. Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: ”  Alloh senantiasa ada dalam hajat seorang hamba selama hamba itu ada dalam hajat saudaranya   ” HR Thobaroni.  ”  Segala perbuatan baik adalah sedekah   ” Muttafaq alaih.   ” Jangan pernah menghina perbuatan baik sedikitpun, meski kamu hanya berjumpa dengan saudaramu dengan wajah yang ramah   ” HR Muslim.

Arahan Nabawi ( Taujih Nabawi ) ini semakin heboh dalam menyebarkan jiwa saling tolong menolong ( Ruh Ta’awun ) ketika Taujih Nabawi ini menjadikan perjalanan seseorang ( langkah usaha ) dalam memenuhi kebutuhan saudaranya lebih baik dibandingkan dengan I’tikaaf panjang ( sepuluh tahun ) seperti diriwayatkan Imam ath Thobaroni  dalam al Ausath dan seperti dikatakan: ” Yang menjalar lebih utama daripada yang terbatas ”
Taujih Nabawi juga menjadikan rasa bosan ( Tabarrum ) di saat mampu melayani orang lain  sebagai ancaman akan hilangnya nikmat – nikmat seperti disabdakan Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam: “ Tiada hamba yang diberikan nikmat oleh Alloh lalu menyempurnakan nikmat itu atasnya kemudian Dia Menjadikan kebutuhan – kebutuhan orang lain kepadanya lalu ia merasa bosan maka sungguh ia telah memaparkan nikmat – nikmat itu kepada kesirnaan “ HR Thobaroni.
Sungguh Alloh telah memberikan pujian Itsaar  kepada para sahabat  Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam karena kecintaan mereka dalam melayani orang lain ( Ikhwan mereka ). Dia berfirman: “... dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan....” QS al Hasyr : 9. Ikrimah bin Abi Jahal, Suhail bin Amar, Harits bin Hisyam dan beberapa orang dari Bani Mughiroh wafat sebagai syahid dalam perang Yarmuk. ( Sebelum itu ) diberikan air kepada mereka saat dalam keadaan tergelatak di atas tanah.  Merekapun saling menolak sehingga mereka mati dan belum sempat mencicipinya Rohimahulmulloh.
Dari sini bisa kita mengerti keutamaan dan kepentingan berkhidmah seperti dikatakan: ” Ilmu bisa disusul sementara Khidmah tidak bisa disusul  ” lebih utama dari itu semua adalah apabila Khidmah ada di jalan Alloh. Adiyy bin Hatim at Tho’i bertanya kepada Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam: Sedekah apakah yang paling utama? Beliau Shollallohu alaihi wasallam bersabda: ” Khidmah seorang hamba di jalan Alloh...  ” HR Turmudzi. (   Tuhfatul Ahwadzi  5 / 254 ). Penyair berkata:

( Kamu melihat wajahnya berseri –seri saat kamu mendatanginya, seolah – olah kamu akan memberinya sesuatu yang justru kamu meminta darinya )

- والله يتولى الجميع برعايته -

Ya Allah... berikanlah tambahan, jangan pernah mengurangi!




Seorang mukmin yang terbina wajib memahami bahwa setiap ibadah memiliki dimensi eksoteris dan esoteris (zhahir dan bathin) atu memiliki kulit dan isi sebagaimana diisyaratkan oleh sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada seorang yang berbuat jelek dalam shalatnya; “Kembalilah melakukan shalat, sebab engkau belum melakukan shalat!” Muttafaq alaih

Juga sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berikut ini: “Betapa banyak seorang yang melakukan Qiyamullail tetapi tidak mendapatkan apapun selain kecapekan dan kepayahan” HR Ahmad.

Betapa banyak orang yang berpuasa dan tidak ada bagian untuknya dari puasa tersebut kecuali lapar dan dahaga”HR Thabarani.

Ulama zhahir menetapkan syarat-syarat zhahir bagi suatu amal ibadah karena keterkaitan syarat-syarat tersebut dengan kemurahan dan kemudahan agama ini. Bagi mereka, yang terpenting adalah segala bentuk beban syariat (Takaalif) bisa mudah dilaksanakan oleh mayoritas orang-orang yang lupa. Jadi fokus perhatian mereka adalah bagaimana ibadah itu sah dan bisa diterima sebagai sebuah amal ibadah. Sementara perhatian ulama bathin terpusat kepada bagaimana ibadah itu bisa diterima dalam arti bisa membawa kepada maksud dan tujuan pokok yang berupa rahasia-rahasia ibadah sebagai buah dari keikhlasan dalam menjalankannya sebagaiman contoh berikut;

1.Rahasia Thaharah;
a)Mensucikan anggota tubuh dari kriminalitas dan dosa-dosa
b)Mensucikan hati dari etika-etika tercela
c)Mensucikan hati dari segala sesuatu selain Allah
Ini semua berdasarkan firman Allah; “ ...Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.QS al Maidah:6

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Bersuci adalah separuh keimanan”HR Turmudzi.

2.Rahasia Shalat;
Shalat disyariatkan sebagai media bermunajat kepada Allah ta’aalaa, menyegarkan kembali dzikir, takbir, ta’zhiim, tahmid dan pujian kepadaNya. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. QS al Baqarah:45-46. Karena itulah Imam al Ghazali rahimahullah berkata: [Shalat menjadi sempurna bila disertai konsentrasi hati (Hudhuur), berusaha memahami makna bacaan, perasaan ta’zhiim, haebah, pengharapan dan rasa malu]
 
3.Rahasia Zakat & Sepadannya
Berakhlak dengan salah satu akhlak Allah berupa rahmat yang seringkali diucapkan oleh lidah setiap muslim, Bismillaahirrahmaanirrahiim. Hal ini memiliki maksud terciptanya suasana saling menyayangi satu dengan yang lain dalam komunitas kaum muslimin meski hanya dengan sedikit kebaikan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam; “Sungguh janganlah kalian meremehkan sedikit apapun kebaikan”HR Abu Dawud. Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya para wali Abdaal umatku tidak masuk surga dengan amal ibadah, tetapi mereka masuk surga hanya karena rahmat Allah, jiwa yang dermawan (lowprofile), hati yang bersih dan kasih sayang kepada seluruh kaum muslimin” (al Mundziri berkata: Hadits Mursal riwayat Ibnu Abi Dun’ya/Kasyful Ghummah hal 54)

4. Rahasia Puasa
a) Berakhlak dengan salah satu akhlak Allah yang berupa shamadiyyah yang memiliki arti dzat yang tidak makan. Abu Amar mengatakan dalam Lisanul Arab: Shamad adalah seorang yang tidak merasakan haus dan lapar di medan peperangan.
b) Menteladani malaikat dalam mencegah diri dari syahwat sebisa mungkin. Atas dasar inilah para ulama membagi puasa menjadi tiga tingkatan;


- Puasa Umum.  Mengekang perut dan kemaluan dari dorongan syahwat
- Puasa Khushush. Menjaga pendengaran, penglihatan,lidah,tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari dosa-dosa
- Puasa Khushuushul khushush. Hati berpuasa dari segala keinginan rendah, pemikiran-pemikiran keduniaan, menjaga hati dari segala hal selain Allah  serta hal-hal lain dari berbagai rahasia ibadah yang menjadi rencana utama terciptanya kita umat manusa di mana hal ini justru sedikit orang yang memahaminya kecuali kelompok al Aarifuun, para pemilik mata hati yang terang benderang. Ini bertolak belakang dengan kondisi orang-orang yang lupa dan orang-orang yang mencampur adukkan kebaikan dan keburukan yang mayoritas keinginan mereka adalah segala sesuatu yang menopang urusan penghidupan, memudahkan mereka memperturutkan syahwat dan kelezatan badan dari urusan makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan biologis serta mengumpulkan dan menyimpan harta benda.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu kesehatan dalam keimanan. Keimanan dalam keindahan budi pekerti. Kebershasilan yang diikuti keberuntungan. Kasih sayang, afiyah, maghfirah dan ridha dariMu. Semoga rahmat ta’zhim selalu tercurah atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya selama orang-orang yang berdzikir mengingatNya dan orang-orang yang lupa melupakanNya.
-والله يتولى الجميع برعايته-

Selasa, 12 Agustus 2014

CARA PANDANG SERBA MATERI



                Dengan model pemerintahan seperti ini,agaknya kita tidak bisa menaruh harapan yang besar kepada mereka.Kecenderungan-kecenderungan komentar yang ada selama ini kesannya mengingkari kehendak untuk tegak berdirinya khilafah islamiyah.Oleh karena itu,apapun kita mesti memulai perjuangan ini dari pertemanan dan pengelompokan kita untuk lebih beradakwah secara lebih serius dan konsisten.
                Menapaki jalan dakwah memang bukan seperti menapaki jalan pintas yang lurus dan halus.Diibaratkan dalam Al Quran,aktifitas dakwah itu rasanya seperti menempuh aqobah (jalan mendaki yang terjal nan sukar),seperti halnya aksi membebaskan hamba sahaya dari perbudakan,aksi memberi makan pada hari kelaparan,aksi membantu anak yatim yang ada hubungan kerabat dan aksi menolong orang miskin yang sangat fakir.(QS. Al Balad: 12-17)
                Pencerahan pemikiran lewat aktifitas ta’lim dan tasqif serta tathbiq amali,dari aktifitas itu yang kita tempuh selama ini,kiranya merupakan jalur pokok dalam meniti langkah dakwah.Berbagai upaya dan usaha yang kita rancang bangun,kita kembangkan dan kita sebarluaskan lewat pertemanan dan pengelompokan kita,agaknya semata demi tujuan dakwah itu.Tidak ada maksud lain,misalnya untuk membangun kerajaan bisnis maupun mengeksplorasi sumber daya masyarakat,walaupun itu juga kerap menjadi tuntutan dalam siyasat dakwah.
                Oleh karena itu,dalam meniti jalan ini,kita selayaknya menghindari praktik-praktik yang memandang segala sesuatu dari ukuran materi.Kita mau berbuat dan bertindak dalam dakwah kalau menguntungkan dan tidak merugikan kita dari segi materi.Ingatlah,cara pandang matrealis ini sangat lemah,karena itu kebanyakan salah.Sosok manusia tampak dari segi materi bagus,nyatanya tercipta dari air mani yang tak bernilai secara materi.Begitu pula benda yang istimewa,seperti minyak kesturi berbau wangi,madu yang manis dan susu yang lezat,padahal secara materi nilainya rendah.Minyak kesturi berasal dari darah Kijang,madu dari tahi Tawon dan susu keluar dari tempat anatara tahi dan darah.
                Cara pandang atau model pemikiran (paradigma) materialis adalah cara pandang atau model pemikiran setan.Setan selalu menjadikan ukuran materi sebagai alasan pembenar bagi perbuatannya.Dia tidak melakukan aktifitas kecuali disana kelihatan keuntungan secara materi.Setan selalu mengabaikan nilai immaterial,seperti pahala,kepatuhan dan ketundukan.
                Tatkala diperintahkan bersujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam Iblis membangkang.Illat (alas an) yang dijadikan pembenaran atas pembangkangannya itu ialah alasan materi,bahwa dicipta dari api lebih berharga daripada dicipta dari tanah liat.
Alloh Ta’ala berfirman:

“Alloh Ta’ala berfiman: apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?, Dia menjawab: Saya lebih baik daripadanya,Kau ciptakan saya dari api,sedang dia kau ciptakan dari tanah.”(QS.Al A’rof:12)
                Setan,dalam hal ini menafikan unsur lain yang terdapat pada perintah bersujud pada Nabi Adam ‘alaihissalam,yaitu unsur ruh dan unsur berserah diri.Alloh ta’ala tidak menyuruh setan bersujud kecuali setelah jiwa ayah Qobil dan Habil ini disempurnakan dengan menambahkan unsur ruh.Alloh ta’ala berfirman:

(ingatlah) kala Tuhanmu berfirman kepad malaikat: “sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan) Ku,maka hendaklah kamu bersujud kepadanya.” (QS. Shood: 71-72)
                Jebakan pada paradigma kapitalisme yang keliru ini selalu terbuka manakala dalam dakwah target pengejaran kita kepada sisi ghorizah baqo’ dan ghorizah nau’ berada di atas segala-galanya.Kita mau berangkat atau tidak berangkat berdakwah,misalnya,manakala kita mengukur dipuaskan atau tidak dipuaskan dari sisi kebendaan dan kewanitaan.Dari doa sehari-hari kita diajarkan jangan kepentingan dunia dijadikan sebagai orientasi terbesar,dan jangan aktifitas keilmuan dijadikan sebagai alat pembenar memperoleh dunia:

“Ya Alloh,jangan Engkau jadikan musibah kami dalam agama kami,jangan jadikan dunia sebagai cita besar kami.” (Matan Amalul Yaum wal Lailah,An Nasa’I,hal:134hadis no;404)
                Dari sejarah masa lalu,banyak aktifitas dakwah bubrah,bahkan hancur-hancuran,tatkala para personilnya berebutan barang dan jasa inventaris milik lembaga dakwahnya.Kekuatan dakwahnya surut manakala kekuatan materi begitu dominan.Kelak suatu saat bila aktifitas dakwah kita besar dan memiliki unit-unit kegiatan yang luas,suatu kekhawatiran adalah kita tidak lagi memikirkan dakwah,melainkan mengurus untuk-ruginya aktifitas dan unitnya.Jadilah lembaga dakwah berubah orientasi menjadi lembaga bisnis,dan aktifitas kita tak lebih dari aktifitas ekonomi.Akhirnya,mari kita merenungkan hadis berikut ini:

“Demi Alloh,tidak kefeqiran aku khawatir kepadamu.Tetapi aku khawatir manakala dibentangkan kepadamu dunia sebagaimana dahulu dunia dibentangkan kepada orang-orang sebelummu.Kalian bersaing dan berebutan sebagaimana mereka,dan dunia itu menghancurkanmu sebagaimana dunia menghancurkan mereka.”

(HR.Bukhori.Jawahir Al Bukhori,hal 350,hadis no 427)

Ta’tsirul Hubb Fillah fi Hayatil Mutahaabbaini Fiih



(Pengaruh Cinta dalam Kehidupan Dua Pecinta karena Alloh)

                Sungguh Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam telah memahami suatu ikatan yang bisa mengikat seorang muslim dengan sudaranya dalam perbedaan jenis, warna, dan bahasa mereka. Ikatan yang dimaksud adalah ikatan keimanan kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala. (robithoh iman billah) seperti ditunjukkan oleh firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara. (Q.S. Hujarot :10)

                Ikatan inilah yang menjadi dasar persaudaraan istimewa atas nama cinta karena Alloh dalam pandangan Islam. Cinta yang didambakan adalah cinta yang agung dan terlepas dari segala kepentingan, bersih dari semua bentuk tendensi, serta steril dari semua jenis kotoran. Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam juga memahami bahwa cinta seperti itulah yang bisa memberikan pengaruh sangat kuat dan signifikan dalam membangun masyarakat dan umat. Karena itulah, beliau tidak melewatkan kesempatan kecuali disana menyuarakan dan mendorong kaum muslim agar saling mencintai sekaligus menguatarakan keresahan ini demi membuka kunci-kunci hati dan menyebar luaskan cinta, kasih sayang, saling menasehati, kerukunan dan keramahan.
                Sebaliknya, makar, penghinaan, iri hati, saling menyerang dan membenci harus musnah hingga suasana yang jernih tercipta dalam suatu komunitas. Anas RA meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki di sisi Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam. Seseorang kemudian lewat dan lelaki itu segera berkata: "Wahai Rosululloh, sungguh saya mencintai orang ini." Beliau bertanya, "Apakah kamu sudah memberitahukannya?" Lelaki itu menjawab, "belum!´Beliau bersabda, "beritahukan kepadanya!" Lelaki itu lalu menyusul orang tersebut dan mengatakan, "sungguh, saya mencintaimu karena Alloh!" orang itu menjawab, "semoga Alloh mencintai anda yang telah mencintai saya karena-Nya." (H.R. Abu Dawud)
                Dalam rangka memberikan pelajaran kepada kaum muslimin bagaimana membangun masyarakat penuh cinta, kasih sayang, dan persaudaraan, Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam sendiri telah melakukan hal tersebut saat beliau memegang tangan Mu'adz dan bersabda,
 "Wahai Mu'adz, demi Alloh sungguh aku mencintaimu. Lalu aku berwasiat kepadamu, setiap selesai sholat maka jangan pernah meninggalkan doa:

Ya Alloh, berikanlah pertolongan kepadaku untuk berdzikir, besyukur , dan beribadah dengan baik kepada-Mu!" (H.R. Ahmad)

                Sebelum itu, beliau Shollallohu 'Alaihi Wasallam juga telah mengikat tali persaduaraan antar sesama individu para sahabat Anshor dan Muhajirin dengan ikatan persaudaraan dan kesetiaan secara umum. Beliau mempersaudarakan Ja'far bin Abi Tholib dengan Mu'adz bin Jabal; Hamzah bin Abdul Mutholib dengan Zaid bin Haritsah; Abu Bakar dan Khorijah bin Zuhair; Umar dengan Itban bin Malik; Abdurrohman bin Auf dengan Sa'ad bin Robi', dan seterusnya.
                Dalam kehidupan dunia yang penuh dengan ambisi, syahwat, dan keinginan, cinta karena Alloh dan bukan karena sesuatu yang lain tentu saja akan sangat sulit dan tidak bisa dicapai kecuali oleh orang yang berjiwa bersih, memiliki ruhiyah tinggi dan sadar betapa dunia sangat rendah dibandingkan dengan keridhoan Alloh. Maka bisa dimaklumi jika Alloh menyiapkan untuk mereka derajat dan nikmat yang sesuai seperti disebutkan dalam hadits berikut:

Alloh berfirman, "Kecintaan-Ku wajib (pasti menjadi milik) bagi orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, orang-orang yang duduk bersama karena-Ku, orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku, orang-orang yang saling memberi karena Aku." (H.R. Malik dalam Al Muwaththo')

Alloh berfirman, "Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, bagi mereka mimbar-mimbar dari cahaya (hingga) para Nabi dan Syuhada' merasa iri kepada mereka." (H.R. Turmudzi)

Sesungguhnya diantara para hamba Alloh ada manusia-manusia yang mereka bukanlah para nabi dan bukan syuhada', tetapi para nabi dan syuhada' iri kepada mereka pada hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Alloh. Para sahabat bertanya, "Wahai Rosululloh, beritahukanlah kami siapa mereka?" Beliau menjawab, "mereka adalah kaum yang saling mencintai dengan ruh1 Alloh tanpa ada ikatan kerabat antara mereka dan juga tanpa harta benda yang bisa mereka gunakan untuk saling memberi. Demi Alloh, wajah mereka adalah cahaya2 dan mereka di atas cahaya3. Mereka tidak takut4 atau susah5 ketika manusia merasa takut dan susah.6" Beliau lalu membaca firman Alloh, "Ingatlah sesungguhnya para kekasih Alloh tidak ada takut atau susah atas mereka." (H.R. Abu Dawud)

                Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam juga menegaskan dalam hadits yang lain bahwa cinta seperti ini diantara orang beriman adalah salah satu syarat keimanan yang bisa menjadikan pemiliknya masuk surga. Beliau bersabda:

Demi Dzat yang diriku dalam kuasa-Nya, kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sebelum kalian mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Suarakan salam dianatara kalian! (H.R. Muslim)

                Berangkat dari sini marilah kita mantapkan tekad untuk membangun fikroh kita atas dasar ini, yaitu dasar cinta yang murni yang ditanamkan sendiri oleh muslim dalam hati pemeluknya. Cinta inilah yang menjadikan kaum muslimin generasi awal mampu berpegang teguh dan tabah memikul beban jihad fii sabilillah dan memberikan pengorbanan besar dalam membangun dan menyebarkan kekuasaan Islam. Sungguh, tidak ada pilihan bagi seorang muslim yang terbina di hadapan arahan dan petunjuk Nabawi ini kecuali membuka hati untuk mencintai saudaranya karena Alloh dengan seutuh hati dan sepenuh perasaan guna menuju satu fikroh (pemikiran). Sementara merintis sebuah jamaah (komunitas) adalah sarana yang harus dilaukan seperti disebut dalam kaidah ushlul, "Suatu yang menyempurnakan hal wajib hukumnya wajib" agar tujuan bisa di dapatkan meksi melalui proses terhadap atau tadrij, sebiji demi sebiji.

Sebiji, sebiji yang mendapatkan berkah dari Alloh akan menumbuhkan banyak biji.

                Ini semua adalah nikmat besar yang di anugerahkan oleh Alloh kepada kita yang harus kita jaga agar tidak sirna sebagai akibat maksiat atau pelanggaran yang kita lakukan. Hadits Mu'adz di atas telah memberikan petunjuk atas hak penjagaan ini dengan memohon pertolongan untuk selalu kepada Alloh karena Dia Dzat Pemberi Anugerah atas nikmat ini tanpa ada upaya dan kekuatan dari kita , untuk selalu bersyukur kepada-Nya dengan mengetahui kadar nikmat ini dan memahami bahwa itu hanya dari Alloh semata dan memahami bahwa Dia memberi sebagai anugerah dan bukan karena seorang hamba berhak menerimanya, dan untuk selalu beribadah dengan baik dan tidak terperdaya dengan melihat diri karena telah bisa melakukan ibadah, tapi lebih melihat sisi bahwa ibadah itu adalah penghubung antara seorang hamba dan Tuhannya. Jadi, yang dilihat hanyalah Alloh karena mengerti bahwa dasar ibadah adalah ikhlash. Karena Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Dan mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Alloh seraya memurnikan agama untuk-Nya (Q.S. Al Bayyinah: 5)

Di samping itu juga harus mengikuti ajaran Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam (ittiba').
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: Jika kalian mencintai Alloh maka ikutilah aku dan Alloh akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian. (Q.S. Ali Imron: 31)
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Alloh) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang dholim itu akan memperoleh azab yang amat pedih." (Q.S. As Syuro: 20)

                Dan taushiyah ini kami tutup dengan syair hikmah:

Jika anginmu telah bertiup maka raihlah karena setelah angin kencang adalah angin yang tenang.

Jika urusan telah sempurna maka masa menyusut telah dekat. Khawatirkan sirna jika telah dikatakan sempurna.


Jika berada dalam nikmat maka jagalah sebab maksiat bisa menghilangkan nikmat.

Sabtu, 09 Agustus 2014

BILA UKHUWAH TIDAK TERAJUT.




Firman Alloh Subhanahu Wata’ala:
“Adapun orang-orang kafir,sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain,jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Alloh itu (yakni keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin),niscaya akan terjadi fitnah (kekacauan) di muka bumi dan kerusakan yang besar.(QS al-Anfal:73)
Orang-orang kafir,meski lahirnya kelihatan padu,mereka sesungguhnya suka berpecah belah dan sulit bersatu.Antar satu kelompok mereka dengan kelompok lain mudah berselisih paham,berbeda pendapat dan bertengkar.Betapa banyak api peperangan tersulut di antara mereka.Romawi (Kristen) pernah berperang melawan Persia (Majusi).Kristen selalu bermusuhan dengan Yahudi,sementara di dalam masyarakat Kristen sendiri yang terdiri dari sekian banyak sekte,perpecahan dan pertentangan (friksi) selalu terjadi.Pada masa sebelum kenabian,orang-orang kafir tidak memiliki ideologi pemersatu yang sama.Mereka tidak diikat oleh satu prinsip yang sama.Keyakinan tauhid telah mereka rusak,sedang kitab suci pegangan mereka telah hilang kemurniaannya.Maka permusuhan dan perpecahan yang selalu menimpa mereka dari masa ke masa adalah suatu hal yang wajar.Alloh swt berfirman:
“Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat.Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.(QS al Hasyr: 14)
Namun satu hal yang mengherankan adalah,ketika orang-orang kafir itu menghadapi kaum muslimin,mereka sama bersatu padu,berkoalisi dan bahu-membahu.Mereka memandang Islam adalah musuh bersama.Mereka tidak lagi mempedulikan agama,kelompok,sekte,suku atau bangsanya.Mereka berkoalisi menjadi satu kekuatan melawan orang-orang Islam.
Fakta ini bisa diurai dari sejarah perang ahzab,perang salib,hancurnya khilafah,penjajahan di dunia Islam,dan berdirinya negara Israel di Palestina.Di negri ini,fakta itu bisa disaksikan dengan bersekutunya Kristen,hindu,budha dan konghuchu melibas apa saja yang berbau Islam dan menguntungkan kaum Muslimin.Maka benarlah ungkapan yang menyatakan bahwa kekufuran merupakan sebuah agama yang satu,meski bentuknya berbeda-beda.
“Kekufuran itu merupakan sebuah agama yang satu”.
Kaum muslimin,apapun bangsa,kelompok dan partainya adalah ummat yang berdiri di atas ideologi yang sama,panji Rosululloh saw,dan berlandaskan kitab yang sama,yaitu kitab suci Al Quran.Mereka sepatutnya bersatu padu,bergabung dalam satu kekuatan,bersaudara,bahu-membahu,dan berkoalisi,tanpa memandang suku,partai,dan golongan.Sebagian kaum Muslimin harus menampakkan Wala’ (loyalitas) kepada sebagian kaum Muslimin yang lain.Saling dukung-mendukung.Mereka tidak boleh sama dengan orang-orang kafir yang selalu berpecah belah sesama mereka akibat tidak memiliki kesamaan ideologi.
Akan tetapi,kenyataan yang ada menujukkan sebaliknya.Ummat Islam suka berpecah belah.Tidak akur.Berselisih paham dan pendapat.Mereka terkotak-kotak dalam sekian banyak wadah,partai,aliran dan golongan.Dan itu tetap mereka lakukan,meski di depan mereka ada kekuatan nyata menyerangnya atau meski ada suatu kepentingan … bersama yang menuntuk koalisi dan persamaan persepsi di dalamnya.Kepentingan kelompok dan partai atau kepentingan materi dan kekuasaan kelihatan lebih menonjol dari pada kepentingan Islam.Fanatisme,mereka terjebak pada politik praktis demi kepentinagn sesaat.
Hal yang bertambah ganjil adalah ketika tidak akur sesama muslim,sebagian kaum muslimin menjadikan orang-orang kafir sebagai teman karib.Mereka loyal dengan orang-orang kafir itu melebihi loyalitas kepada saudara sesama Muslim.Mereka bergandengan tangan dengan musuh sedang sesama saudara mereka membelakangi.Ayat tersebut diatas memberikan suatu pengertian bahwa kaum muslimin bila tidak merajut persaudaraan dan persatuan antar sesama mereka serta memutus hubungan dengan kalangan orang-orang kafir, sebagaimana diperintahkan oleh Alloh swt,mereka justru berpecah belah antar sesama dan kepada orang-orang kafir mereka menjalin hubungan mesra,maka akan lahir kekacauan besar di bumi,yaitu merosotnya keimanan dan menangnya kekufuran.
Keimanan umat Islam merosot karena mereka tidak lagi berpegang teguh kepada akidah Islam.Prinsip hidup yang diyakini dicampakkan begitu saja.Umat Islam makin jauh dengan ajaran agamanya.Kendor dan longgar.Ummat Islam seakan-akan menjadi ummat yang lain.Tidak berciri khas.Disisi lain kemaksiatan merajalela.Tumbuh jiwa-jiwa tebal yang tidak tersentuh oleh nasehat-nasehat spiritual.Majelis-majelis pengajian sepi,orang-orang hanya berfikir duniawi;materi,kenikmatan dan kekuasaan.
Pada saat yang sama kekufuran mendapatkan kemenangan.Propaganda mereka makin terang-terangan.Gereja tumbuh di mana-mana.Pemeluk agama Hindu dan aliran kepercayaan semakin meningkat.Pos-pos strategis mereka kuasai.Dan hal yang paling kita khawatirkan adalah manakala presiden kafir akan memimpin negeri ini.
Inilah berbagai dampak buruk bila kaum muslimin tidak mengindahkan seruan Alloh untuk bersatu padu,bahu-membahu,merajut persaudaraan sesama mereka,dan tidak menjalin hubungan mesra dengan orang-orang kafir.Kekuatan ummat Islam menjadi lumpuh dan harapan yang di dambakannya menjadi gagal.Firman Alloh swt;
“Dan janganlah kamu berebutan,yang menyebabkan kamu menjadi gagal dan hilang kekuatanmu”.(QS.al-Anfal 46)
Adanya kelompok dan partai sebagai cermin perbedaan pendapat di tubuh kaum muslimin memang bukan halangan untuk terajutnya persaudaraan,selama ada niat tulus ikhlas untuk memperjuangkan Islam lewat jalur itu,tidak menjadikan kelompok dan partai sebagai tujuan akhir,melainkan sebagai sarana perjuangan.Bila niat ini dipegang teguh niscaya antar kelompok dan partai di tubuh kaum muslimin akan mudah berkoalisi manakala ada kepentingan Islam yang luhur yang menuntut untuk koalisi itu.
Adakah ketulusan niat itu dalam politik praktis dewasa ini?? Susahnya adalah bila materi dan kekuasaan telah turun.Prinsip perjuangan biasanya menjadi luntur.Apalagi bila sejak awal niatnya memang tidak tulus.Kisah tiga orang di zaman Nabi Isa as bisa dijadikan pelajaran.Ketiganya adalah orang-orang baik,namun begitu datang harta melimpah,mereka terperdaya.Mereka berusaha saling membunuh dan akhirnya mati semua.
Di bagian lain kita melihat sekian banyak kaum muslimin masih terbelakang (bodoh) khususnya dibidang pendidikan dan keagamaan.Di antara mereka masih banyak yang masih awam terhadap ajaran agamanya.Siapakah yang akan peduli terhadap mereka?.
Maka,terus bergiat dalam dakwah inilah jalur yang kita pilih dan tekuni.Jutaan muslim yang masih awam  dinegri ini adalah lowongan yang terbuka lebar bagi kita untuk memasukinya,mendidik dan membinanya.Ini hasilnya akan lebih jelas,yaitu tumbuhnya kader-kader muslim yang baik.Bukankah lahirnya satu orang yang mendapatkan hidayah lantaran kita nilainya lebih berharga daripada harga unta kemerah-merahan?? Bukankah dai adalah penerus misi Nabi?? Adakah kebanggaan lebih dari pada ini??
                Boleh jadi usia kita seluruhnya tidak akan cukup untuk mendidik dan membina umat itu,apalagi bila sebagian usia kita sia-siakan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.Seruan Alloh swt;
“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya kaumnya itu dapat menjaga diri”.(QS at Taubah 122)
                Imam Abdulloh bin Alawi al-Haddad menyatakan bahwa tidak ada alasan bagi orang awam untuk tidak mau belajar,sedang bagi orang yang berilmu tidak ada alasan baginya untuk tidak mengamalkan ilmunya (mengajarkannya).Beliau menambahkan bahwa kewajiban mengamalkan Ilmu hukumnya menjadi lebih tegas bila keadaan masyarakat banyak yang awam,kemaksiatan merajalela dan kekufuran meningkat.(ad-Dakwah at-Tammah..10-16)
                Tentang keutamaan mencari ilmu dan mengjarkannya,Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan dalam rangka menempuh ilmu maka Alloh akan memudahkan baginya jalan menuju surga.Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya menaungi penuntut ilmu,karena malaikat itu merasa suka dengan apa yang diperbuatnya (mencari ilmu).Sesungguhnya makhluk di langit dan di bumi sama memintakan ampun kepada orang yang berilmu,hingga ikan-ikan di air.Keutamaan orang berilmu dibanding dengan orang beribadah laksana keutamaan bulan dibanding dengan seluruh bintang-bintang.Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi.Para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham,namun mereka mewariskan ilmu.Barangsiapa mengambil (mencari) ilmu,dia berarti mengambil bagian yang sempurna.(HR.Ahmad,Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Darda’ ra)
                Meski fokus kita adalah pendidikan dan pembinaan,namun politik yang bersifat luhur tidak boleh kita abaikan.Hal ini ada kaitannya dengan proses legislasi hukum,apalagi bila dikaitkan dengan semangat otonomi daerah.Ada beberapa kader diharapkan dapat memasuki semua lini secara netral,dengan mengemban visi perbaikan,perdamaian dan menyebarkan ide-ide Islam.Kita berharap unsur-unsur syariat Islam setahap demi setahap dapat di serap menjadi hokum positif di negri ini.
Mudah-mudahan langkah kita senantiasa diridloi oleh Alloh swt.


Bagaimana Manghargai Pendapat Orang Lain



Mengawali pembahasan ini,ada sebuah kisah.Ada orang datang dan bertanya kepada ulama besar.”Apa hukumnya mandi dan istinja’ dengan air zamzam?” tanyanya,Ulama itu menjawab,”masalah ini adalah masalah khilaf.Ada yang membolehkan dan ada pula yang tidak membolehkan”.Menurut pendapatmu sendiri bagaimana?” Tanya ulama itu.”Menurut saya,boleh-boleh saja mandi dan beristinja’ dengan air zamzam,karena tidak ada nash dalam soal ini”,jawab orang tadi.”Bagi saya hukumnya tidak boleh,karena juga tidak ada nash dalam soal ini.Air zamzam itu air yang mulia maka sepatutnya digunakan untuk hal-hal yang mulia.
Di dunia Islam,kita menemukan dua jenis perbedaan pendapat atau perbedaan madzhab.
Pertama,perbedaan pendapat dalam masalah-masalah prinsip keyakinan atau keimanan (ikhtilaf fil madzahib al I’tiqodiyyah).
Kedua,perbedaan pendapat dalam masalah-masalah fiqhiyah (ikhtilaf fil madzahib al fiqhiyah)
Jenis pertama,perbedaan pendapat (perpecahan) dalam masalah prinsip-prinsip keyakinan hakikatnya merupakan malapetaka bagi kaum muslimin.Perbedaan ini mengakibatkan terpecah belahnya persatuan ummat Islamyang tidak ada titik temunya.Perbedaan pendapat ini semestinya tidak ada.Kaum muslimin seharusnya hanya meyakini satu madzhab saja,yakni Ahlus Sunnah wal Jamaah,yang merupakan model golongan yang menggambarkan pemikiran Islam yang asli dan murni seperti pada masa Rosululloh saw dan masa al Khilafah ar Rosyidah.
Adapun jenis kedua,perbedaan pendapat dalam masalah fiqhiyah,keberadaannya merupaka suatu keniscayaan,sesuatu yang mesti terjadi dan sulit dihindari..Perbedaan pendapat dalam masalah fiqh ini berangkat bahwa nash-nash syara’ yang ada sebagian besar membuka penafsiran (interpretasi) tidak tunggal.Disisi lain,nash-nash itu tidak memuat keseluruhan realitas permasalahan yang terjadi di dunia secara detail,karena jumlah nash terbatas sedang realitas permasalahan terus berkembang.Untuk ini diperlukan qiyas,memahami illat suatu hukum,memperhatikan tujuan Alloh swt,menetapkan suatu hukum,memperhatikan visi dan misi dasar syari’at dan sebagainya (ijtihad).Sementara dalam masalah ini,potensi akal para ulama,kapasitas pengetahuan dan interpretasi mereka serta lingkunagn di mana mereka berada berbeda antara satu dengan lainnya.Dari sinilah terjadi perbedaan pendapat itu.Namun,mereka semuanya sama dalam upaya dan mencari kebenaran.Selanjutnya kelak,barang siapa pendapatnya benar maka mendapatkna dua pahala,sedang barangsiapa yang salah mendapatkan satu pahala.
Imam Malik bin Anas berkata:
“Tidak ada diantara kita kecuali bisa diterima dan ditolak  (pendapatnya),kecuali penghuni makam ini (Rosululloh saw).
Imam Asy Syafi’I berkata,
“Barangsiapa telah tampak jelas sunnah Rosululloh saw baginya,maka tidak halal baginya menigggalkan sunnah itu dan beralih kepada pendapat seseorang”
Perbedaan pendapat dalam masalah-masalah furu’iyah ini kalau dipaksa harus disatukan justru bertentangan dengan karakteristik agama Islam.Alloh menghendaki agar agama ini bertahan abadi dan mampu mengikuti perkembangan zaman,Oleh karena itu,masalah-masalah yang tidak prinsipil dalam agama ini dibuat elastis,luwes,mudah,tidak mandeg dan tidak kaku.
Perbedaan pendapat dalam masalah fiqh tidaklah mengurangi nilai keunggulan agama Islam,sebaliknya justru menjadi berkah dan rahmat bagi ummat Islam.Seperti diketahui,dalam bidang fiqh,munculnya dua atau lebih pendapat adalah suatu hal yang lazim.”Fiihi Qoulaani…fiihi tsalatsatu aqwal,dst) Suatu ketika,bila didapati kesempitan dalam suatu madzhab,ummat Islam bisa mendapati kemudahan dalam madzhab yang lain,apakah dalam bidang ibadah,muamalah,munakahah,maupun jinayah,yang kesemuanya berdasar pada dalil-dalil syara’ dan dibenarkan.
Kholifah Ja’far al Manshur pernah menggagas untuk menetapkan Madzhab Maliki berikut al Muwaththo’ saja sebagai Undang-Undang Khilafah Abbasiyah.Imam Malik bin Anas justru menolak dan berkata,”Sesungguhnya para sahabat Rosululloh saw berpendar-pencar di wilayah Islam yang sangat luas padahal masing-masing kaum mempunyai pengetahuan.Apabila anda membawa mereka hanya pada satu pendapat saja maka bisa terjadi kekacauan.”
Dalam masalah perbedaan pendapat fiqh ini yang kemudian dituntut dari kita adalah sikap toleran (tasamuh),berlapang dada,dan saling menghargai,karena semuanya didasarkan pada dalil-dalil syara’ dan hasil kesungguhan berijtihad.Tidak fanatik (ta’ashshub) buta dan mengklaim benar sendiri.Kita harus memandang perbedaan ini bukanlah suatu sekat yang meretakkan hubungan batin dan kendala untuk bekerja sama dalam kebaikan.Para sahabat dan ulama salaf dahulu pun kadang-kadang berbeda pendapat,namun hal itu tidak menjadikan mereka retak hubungan,berselisih dan berpecah.
Imam Syafi’I tatkala melaksanakan sholat subuh bersama jamaah pengikut madzhab Hanafi di Bagdad,beliau tidak melakukan qunut,padahal qunut subuh merupakan madzhab beliau.Artinya beliau memahami bahwa diluar madzhab beliau pun ada kebenaran.
Imam Abu Hanifah semula berpendapat bahwa bersedekah lebih utama daripada haji tathowwu’ (haji sunnah).Namun ketika beliau melaksanakan haji dan melihat beratnya pelaksanaan ibadah haji,beliau mengubah pendapatnya menjadi mengutamakan haji tathowwu’ atas sedekah.Kebenaran hanya milik Alloh dan rosululloh saw.
Namun,hal ini  bukan berarti bahwa bermadzhab dalam maslah fiqh harus ditinggalkan.Para ulama yang merumuskan sekian banyak madzhab itu sesungguhnya adalah acuan kita dalam memahami agama.Agama Islam ibarat samudara tak bertepi,dan Ulama’ lah yang mengalirkan samudra itu menjadi sungai-sungai dan sumur.Memahami agama tanpa ulama adalah sikap yang tidak benar dan tidak jujur.Apalagi sering didapati kelompok atau orang yang mengaku lepas dari madzhab,kenyataannya dia mengulang dan mengacu juga pada ulama’,ibarat berlari dari air tapi tercebur juga pada air itu.Namun usaha kita untuk terus meningkatkan wawasan keagamaan adalah suatu tuntutan kita beragama juga.Firman Alloh swt:
#sŒÎ)ur öNèduä!%y` ֍øBr& z`ÏiB Ç`øBF{$# Írr& Å$öqyø9$# (#qãã#sŒr& ¾ÏmÎ/ ( öqs9ur çnrŠu n<Î) ÉAqß§9$# #n<Î)ur Í<'ré& ̍øBF{$# öNåk÷]ÏB çmyJÎ=yès9 tûïÏ%©!$# ¼çmtRqäÜÎ7/ZoKó¡o öNåk÷]ÏB 3
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri) QS An Nisa’: 83

Satu hal yang perlu diingat  bahwa dulu kaum muslimin jika berbeda pendapat mereka merujuk kepada Kholifah untuk mencari penyelesaianya.Sedangkan sekarang dimanakah Kholifah itu? Maka sepatutnya kaum muslimin mencari Qodli dan Mufti,tapi dimanakah Qodli dan Mufti itu?
            Kita ingatlkan sekian kalinya bahwa perbedaan pendapat yang mengarah kepada keluasan cara berfikir (sa’atul fikri) adalah suatu perbedaan yang terpuji,sedang perbedaan pendapat yang mengarah kepada perpecahan (syiqoq) adalah suatu yang tercela.
            Akhirnya,prinsip “Kita saling membantu dalam hal-hal yang kita sepakati dan toleran untuk hal yang kita perselisihkan (selama tidak mengarah pada perpecahan)”,senantiasa mari kita lestarikan,seraya kita berusaha meningkatkan wawasan keagamaan kita