Translate

Jumat, 21 Februari 2014

Memelihara Etika dan Integritas Keislaman

 




Jaminan lestarinya kehormatan dan harga diri umat islam ditekankan oleh syara’. Syara’ dengan tegas menjelaskan misi yang diembannya, seperti dirumuskan oleh ulama’ Ushul Fiqh, yaitu melestarikan enam perkara elementer (al ushul as sittah) yang meliputi agama, jiwa, akal, nasab, harta benda, dan kehormatan.
    
Jaminan lestarinya kehormatan, salah satu enam perkara elementer itu, rasanya terkait erat dengan akhlak (etika). Akhlak menjadi ukuran penilaian yang banyak disoroti karena kasat mata. Sementara akhlak tidak dapat dilepaskan dari perilaku hati yang amat samar Kalau hati bagus akan tampak akhlak lahiriah yang bagus pula. Sebaliknya, akhlak kalau jelek, indikasi hati keruh dan kotor. Islam menekankan perbaikan akhlak dengan memelihara dan menjaga hati melalui tasawuf. Konon,derajat keimanan kerap dicapai salah satunya melalui salamatul qolbi (hati yang bersih, selamat) dari penyakit hati. Maka, akhlak Islam hendaknya menjadi perilaku sehari-hari, baik dalam bidang dakwah, kemasyarakatan, ekonomi, politik, maupun lainnya sehingga integritas (kekuatan hati, kejujuran) seorang muslim terpelihara dengan sebenar-benarnya.

Akhlak Islam, agar salamatul qolbi, memandang manusia tak lepas dari kelebihan dan kekurangan.Kelebihan sebagai anugerah Alloh swt hendaknya tidak menjadikan bangga diri, melihat diri, dan arogan. Sementara kekurangan seperti aib, sirri, dosa, dan sebagainya hendaknya ditutupi. Kekurangan orang lain hendaknya tidak dijadikan bahan ekspos, kecuali sesuai haknya. Kalau sesuai haknya pun, tetap dengan mengindahkan aturan-aturan syara’ yang berlaku. Alloh swt berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji tersiar di kalangan orang-orang yang  beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat”. (Q.S. An Nuur: 19)

Syara` menekankan hendaknya aib seseorang tidak diobral di depan orang banyak agar derajatnya jatuh dan hina dalam pandangan mereka, semata-mata atas dasar dengki (hiqid), kebencian, sentimen, dan tendensi lainnya. Kepada mereka hendaknya justru berprasangka baik. Mencela, mencacat, menelanjangi, mengobral aib, dan membuka aurat atau yang disebut dengan ta`yir terhadap harga diri dan kehormatan orang Islam yang bukan kategori fasik besar merupakan pelanggaran berat, lebih berat daripada pelanggaran itu sendiri. Karena itu menahan diri dari mecelahkan kekurangan orang Islam termasuk pemikiran bernilai tinggi yang dipuji. Di dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa menutup aib orang Islam maka Alloh akan menutup aibnya pada hari kiamat.”(Muttafaq alaih. Riyadlus Sholihin hal. 84, An Nawawi)

Pelanggaran jauh lebih besar lagi manakala penelanjangan dilakukan habis-habisan, sementara akar yang ditelanjanginya masih samar, belum jelas, karena tanpa ada bukti dan saksi, atau ada bukti dan saksi namun belum memadai. Rosululloh saw dalam hadits menyebutkan: “Cegahlah hudud karena syubhat-syubhat (ketidakjelasan). (H.R. Baihaqi. Kasyful Khofa wa Muzilul Ilbas I/71, Al Ijlauni)

Secara khusus, para pemimpin dalam hal ini boleh diberikan pertimbangan-pertimbangan tertentu, misalnya kesalahannya tidak diobral, dihilangkan sanksinya, atau paling tidak diringankan sanksinya, mengingat peran dan jasa mereka yang besar. Lebih-lebih pemimpin yang kategori baik-baik, pertama kali berbuat salah, dan atau kesalahannya ringan. Di dalam hadits disebutkan: “Ampuni keterplesetan orang - orang yang memiliki jabatan, kecuali hudud.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasa`I, dan Baihaqi. Subulus Salam IV/30, As Shan`ani)

Sistem demokrasi politik yang lagi trend saat ini tampaknya memberikan rakyat kebebasan seluas-luasnya, termasuk di dalam menelanjanngi borok pemimpinnya, kalau dirasa tidak cocok, dsb, atas dasar sentimen, kebencian, dan tendensi lainnya. Ini tentunya berbeda dengan sistem Islam. Para pemimpin,privasi (rahasia diri) mereka dipelihara. Ahlul Halli wal Aqdi yang terdiri dari beberapa tokoh yang akseptabel (diterima, diakui) diberi tugas untuk ini. Menasehati, berbicara dari hati ke hati, dan sebagainya, yang penting tetap dengan memperhatikan kedudukan dan menimbang peran mereka.

Akhlak islam yang agung ini kalau diabaikan, tidak diindahkan, oleh individu umat Islam atau lembaga mereka,seperti partai dan organisasi, rasanya tak banyak berarti artibut dan simbol Islam yang disandangnya. Justru akhlak jelek yang ditampilkan secara mencolok itu bisa direspon orang dengan kesan yang negatif.
                
Lebih dari itu, ini merupakan perbuatan dzalim,tak ubahnya kedzaliman menghunus pedang di depan kaum muslimin, padahal membuka pedang dari sarungnya saja sudah dilarang. Dalam hal ini sampai diatur tata cara membawa senjata di depan sesama saudara ini. (Sunan Abu Dawud hadits nomor 2588 III/31) Kalau suatu perilaku cenderung dzalim,dibaliknya niscaya ada efek negatif, misalnya adzab ajilah (sanksi segera di dunia) seperti sanksi kedzaliman anak kepada orangtuanya, yaitu pelaku dzalim akan melakukan perbuatan yang sama atau diperlakukan sama sebelum dia mati.
“Barangsiapa mencela saudaranya dengan suatu dosa maka dia tidak akan mati sampai dia sendiri melakukannya”. (HR Tirmidzi. Faidlul Qadir VI/83 dan Asnal Matholib hal. 300, Muhammad Darwisy Al Hut)
                
Apa yang kita sebutkan di muka bukanlah atas dasar pro kontra kelompok yang tengah berseteru pada saat ini. Melainkan antisipasi sikap yang mudah-mudahan berdasarkan hikmah (ilmu yang valid). Karena kalau terjebak pro kontra efeknya cara pandang menjadi membabi buta.Baik,karena atas dasar benci,boleh jadi dikatakan salah, dan salah, karena atas dasar suka,dikatakan baik. Akibat tidak netral. Di dalam syair disebutkan:
“Pandangan suka itu hampir saja tidak melihat segala cela, sebagaimana pandangan benci menampakkan keburukan-keburukan”. (Al Muqtathof hal. 114, Ali As Shobuni)

Wallohu Subhanahuu Wata’ala A’lam

Solusi Masalah Kalangan Berharta

Dalam Alqur’an Allah menyebutkan karakter manusia ketika memiliki kebaikan atau harta benda, yaitu ia menjadi bersikap kikir/emanan (manuu’) kecuali orang yang mendermakan harta bendanya itu, maka ia akan menyaksikan kemudahan yang dijanjikan. Karena bersikap kikir/emanan maka manusia tidak menyalurkan hak harta benda dengan sebaik-baiknya yang merupakan syarat harta benda terbentengi, sehingga harta bendanya dihampiri bencana-bencana dan kerusakan-kerusakan.(akibatnya) iapun bersedih dan mengeluh serta segera bergerak mencari solusi, sementara ia mengerti bahwa tidak ada solusi seperti Taqwa. Lalu jenis Taqwa manakah yang bisa membawanya keluar dari himpitan ini? Di sinilah kemudian Junjungan kita Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menunjukkan solusi tersebut, beliau bersabda: “Haji berturut- turut dan umrah yang beruntun bisa menolak kematian buruk dan sangatnya kemiskinan” (HR Abdurrazzak As Shan’aani dari Amir bin Abdillah bin Zuber ra secara Mursal. Al Jami’ As Shaghir 1/146). Beliau juga bersabda: “Orang-orang yang berhaji dan orang-orang yang berumrah adalah duta Allah; jika meminta maka mereka diberi, jika berdo’a maka mereka dikabulkan, dan jika berinfak maka mereka diberikan ganti...”(HR Baihaqi). Dan sudah dimaklumi bahwa haji dan umrah berturut-turut tidak bisa dijalankan kecuali oleh orang yang memang memiliki kemampuan berupa melimpahnya sarana harta benda. Maka hal itulah yang menjadi cara menutup cacat yang terjadi dalam harta benda sebagai akibat tidak memenuhi haknya. Begitulah sunnah Allah dalam makhlukNya bahwa segala himpitan mesti ada solusi, dan semua kesusahan mesti ada kesenangan sesuai kehendak alamiahNya karena kebaikanNya yang bertubi-tubi dan tambahan anugerah serta kemurahanNya. Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa solusi yang sama sekali tidak terbersit dalam hati akan menjadi kenyataan apabila berusaha diperoleh dengan memperbaiki tujuan serta meluruskan niat dalam menjalani haji dan umrah; yaitu karena Allah dan ikhlash karenaNya, bukan karena pamer, popularitas dan plesiran, berbeda sama sekali dengan realitas yang diiisyaratkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Akan datang kepada manusia, suatu masa di mana orang-orang kaya berhaji untuk wisata, kalangan ekonomi menengah untuk berdagang, para ulama untuk pamer dan popularitas dan orang-orang miskin untuk meminta-minta”(HR Abu Faraj Ibnul Jauzi dalam Mutsiirul Gharam dengan menyebutkan sanad/ Lihat Al Qiroo Li Qaashidi Ummil Quroo tulisan al Hafizh Muhibbuddin At Thabari hal 31). Maka dari itulah hendaknya orang yang berhaji atau berumrah secara serius berusaha menjernihkan tujuannya dari segala hal tersebut kalau memang ia benar-benar mencari solusi. =والله يتولى الجميع برعايته=

ADAKAH AKU SATU DI ANTARANYA


Hidup adalah perjalanan waktu,
Hidup juga sebuah evolusi...
Manusia laksana sekian banyak daun,
Yang tua akan berguguran,
Digantikan tunas-tunas muda,
Dan waktu terus berputar,
Dan terus berputar...
Tiada sesal...
Tiada tangis...
Kan berguna...
Aku laksana sebutir debu,
Di antara sekian banyaknya debu,
Di tengah padang kehidupan,
Yang pasrah pada tiupan angin takdir....
Adakah aku satu di antara pasir-pasir pilihan ...???

LETAK KEKUATAN SEJATI ADA DI…

“Engkau berpikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal di dalam dirimu tersimpan kekuatan tak terbatas.” (Imam Aly ra.) Ada kekuatan di dalam cinta, dan orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat. Karena dia telah mampu mengalahkan keinginannya demi mementingkan yang dicintai. Dia mengorbankan waktunya untuk yang dicintai, dia mengorbankan malam-malamnya hanya untuk munajad kepada-Nya Ada kekuatan di dalam tawa gembira, dan orang yang tertawa gembira adalah orang yang kuat. Karena dia tidak pernah terlarut dalam kesedihan, dia akan selalu gembira dan bersyukur apapun keadaannya. Ada kekuatan di dalam kedamaian diri, dan orang yang dalam dirinya terdapat kedamaian dan kebahagiaan adalah orang yang kuat. Kerana dia tidak pernah tergoyahkan dan tidak mudah terombang-ambingkan. Dia selamanya tenang dan damai dalam menyikapi hidup. Ada kekuatan di dalam kesabaran, dan orang yang sabar adalah orang yang kuat. Karena dia sanggup menanggung beban penderitaan dan dia tidak pernah merasa disakiti. Dia akan sabar terhadap apa yang menimpanya. “Orang yang paling gagah perkasa di antara kalian semua adalah mereka yang dapat mengawal nafsunya di waktu marah dan orang yang tersabar di antara kamu semua itu adalah orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain padahal dia mampu untuk membalasnya.” Ada kekuatan di dalam kemurahan, dan orang yang murah hati adalah orang yang kuat. Kerana dia tidak pernah menahan mulut dan tangannya untuk melakukah yang baik bagi sesama. Ada kekuata di dalam kebaikan, dan orang yang suka berbuat baik adalah orang yang kuat. Kerana dia sanggup dan mampu berbuat baik pada semua orang. Ada kekuatan di dalam kesetiaan, dan orang yang setia adalah orang yang kuat. Kerana dia mampu mengalahkan nafsu dan keinginan pribadinya dengan kesetiannya pada Allah dan sesame. Ada kekuatan di dalam kelemah lembutan, dan orang yang bersikap lemah lembut adalah orang yang kuat. Kerana dia mampu menahan diri untuk tidak berbuat kasar, arogan, maupun sombong. “Tiada seseorang yang congkak dalam dirinya dan sombong cara berjalannya, kecuali dia akan menemui Allah yang murka kepadanya.” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Hakim) Ada kekuatan di dalam penguasaan diri, dan orang yang mampu menahan diri adalah orang yang kuat. Kerana dia mampu menahan diri untuk tidak membalas dendam. Dia tau dendam bukanlah jalan keluar, tapi justru akan menjadi penyaki jika terus menerus dipeliharanya. Disitulah semua letak-letak kekuatan sejati berada. Dan di hati-lah semua itu bersumber. Jadi sebenarnya kekuatan anda adalah ada di dalam hati anda. Hati anda ada di dalam jiwa anda. Kekuatan itu bukanlah dengan kekerasan. Akan tetapi, kekuatan itu adalah penguasaan diri ketika diliputi hal yang berseberangan dengan hati nurani. Dan sadarlah bahwa anda ternyata memiliki cukup kekuatan untuk mengatasi segala masalah anda. Dimanapun, seberat dan serumit apapun masalah itu.

Kamis, 20 Februari 2014

KEKASIH SURGAKU

 
Oh... bunga surgaku...
Kasih dalam hayalku...
Maha Cinta telah tetapkan ku disini, Menanti hadirmu...
Risau angan gambarkan wujud semu...
Meski bisik malam telah tawarkan mimpi....
Hembus angin membawa aroma harum tubuhmu...
Namun, tak cukup kumengenal Dikau....
Oh... kekasih Surgaku...
Istri dalam hayalku...
Aku ingin nyata membawamu, Hadir dalam hidupku...
Meski jalan terjal menjadi penghalang...
Aku ingin hadirmu hapus keraguan...
Dan yakinkan dirimu milikku, Diriku milikmu....

ARTI SEBUAH CINTA




Kini aku tau akan makna cinta,
Cinta bukanlah sekedar rasa,
Cinta bukanlah sekedar tutur kata,
Dan juga bukanlah sekedar pengorbanan raga.

Jika cinta sekedar pengorbanan rasa,
Atau sekedar tutur kata,
Maka pasti hati kan tersiksa,
Tentu aku akan musnah oleh-nya.

Disini aku menunggu-mu,
Disini aku merindukan-mu,
Ku-berharap kau setia disana,
Ku-berharap kau menjaga hati-mu.

Meski kadang hati ini merasa sakit,
Karena rindu yang kian melilit,
Kadang pula terlintas tuk mencari yang lain,
Tuk hapus “kesepian” yang tak ku-ingin,
Namun, kesetiaan cegah hayal yang tak adil.

Aku rindu kamu sayank…

Gombal…heeeee

MAAFKANLAH, ANDA AKAN SEHAT



 فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ. 

Memaafkan dapat dijadikan “Obat” mujarab untuk kesehatan jiwa raga, karena memaafkan memicu kerja saraf lebih rilex.Memaafkan dapat menjaga setabilitas fungsi kekebalan tubuh. Mereka yang memaafkan memiliki aktifitas otak yang normal. Sementara orang yang tidak memaafkan berdampak pada penurunan fungsi kekebalan tubuh, karena memiliki aktifitas saraf lebih banyak, tegang. Orang marah membutuhkan 32 otot, sementara sersenyum hanya 17 otot.Jadi Maafkanlah maka anda akan sehat. 

Sebuah penelitian yang menggunakan teknologi canggih pencitraan otak seperti tomografi emisi positron dan pencitraan resonansi magnetic fungsional juga telah berhasil mengungkap perbedaan pola gambar otak orang yang memaafkan dengan yang tidak memaafkan. Orang yang tidak memaafkan terkait erat dengan sikap marah, yang berdampak pada penurunan fungsi kekebalan tubuh. Mereka yang tidak memaafkan memiliki aktifitas otak yang sama dengan otak orang yang sedang mengidap stress, marah. Sebuah penelitian juga dilaporkan dari Universitas Ohio State dengan sengaja membuat luka kecil di lengan beberapa responden yang sehat. Dalam tempo waktu 4 hari, hanya 30% saja pasien dengan sifat pemarah yang lengannya pulih. Sedang 70% pasien yang cinta damai bisa langsung sembuh. 

Sifat pemarah juga membuat orang lebih rentan terhadap serangan depresi parah, demikian menurut sumber yang kami dapat. “Maaf”, sungguh sebuah kata yang sangat sederhana ketika diucapkan, tetapi menjadi sesuatu yang sangat mahal harganya bagi banyak orang untuk disebarkan kepada sesama.
 فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ. 

 “Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al Maidaah (5): 13)
 خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ. 

 “Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (Q.S Al A’Raaf (7) : 199)

 وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

“Dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S An Nuur (24) : 22) 

Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar r.a. bahwa Dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri 'Aisyah. Maka Allah pun menegur Abu Bakar dengan menurunkan ayat ini Allah melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema'afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu. “Tidaklah halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari; keduanya bertemu tapi saling memalingkan mukanya. Dan yang paling baik di antara keduanya ialah yang mulai lebih dahulu mengucapkan salam” (Muttafaq ‘alaih) 

 Dari hadis di atas dapat kita fahami, betapa Agama melarang umatnya memelihara sikap negatif, seperti dendam, iri, dengki, betapapun kecilnya sikap mendendam, amarah, iri dan dengki yang mengendap dalam hati manusia, lama kelamaan ia akan menjadi “Virus” ganas yang dapat menggrogoti pelakunya dan mematikan apabila terus dipelihara. 

Sikap memaafkan selain dampak baiknya pada kesehatan jasmani dan rohani, sikap memaafkan juga terkait erat dengan hubungan antar manusia, seperti hubungan suami istri, anggota keluarga, maupun anggota masyarakat. Tidak ada yang menyangkal, bahwa saling memaafkan adalah tindakan dan sikap yang mulia dan terhormat, yang bukan saja lahir dari jiwa dan hati yang bersih, namun juga sebagai ungkapan kesetiaan yang mendalam, peneguhan cinta, persahabatan yang utuh, atau penyesalan diri atas berbagai kesalahan, kekeliruan, kekhilafan, bahkan dosa yang kerap terurai dalam kata dan sikap. “Orang yang paling gagah perkasa di antara kalian semua adalah mereka yang dapat mengawal nafsunya di waktu marah dan orang yang tersabar di antara kamu semua itu adalah orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain padahal dia mampu untuk membalasnya.” Jadi maafkanlah maka anda akan sehat jasmani maupun rohani. monggoooo

KEWASPADAAN

بسم الله الرحمن الر حيم Dari Abi Hurairah r.a. Ia berkata: Rosululloh saw bersabda: "Barang siapa yang takut disergap musuh di waktu malam, maka ia akan berjalan semenjak awal malam; Dan barang siapa yang berjalan semenjak awal malam, maka ia akan sampai tujuan (dengan selamat dari penyergapan musuh); Ketahuilah sesungguhnya harta dagangan Alloh (sil'atullah) itu mahal harganya; Ketahuilah sesungguhnya sil'atullah itu adalah surga." (HR. Tirmidzi, di dalam sunannya jilid IV hal. 51 hadist no. 2313) Orang yang membawa harta dagangan (sil'ah) yang banyak dan berharga selalu menjadi incaran para perampok dan pembegal jalan. Ketika orang khawatir harta dagangannya di rampas oleh perampok atau pembegal di tengah perjalanannya, maka ia mesti waspada dengan berjalan terus sampai semalam suntuk, ia tidak akan banyak santai dan tidak akan banyak beristirahat. Ketika ia mempunyai kewaspadaan yang tinggi terhadap perampok dan pembegal, akhirnya ia sampai tujuan dengan selamat. Sil'atullah (harta dagangan Alloh ta'ala) tentu lebih berharga daripada sil’ah biasa. Oleh karena itu, di dalam perjalanan membawa sil'atullah pasti dijumpai banyak kendala, rintangan, dan tantangan yang lebih berat dari sekedar perampokan atau pembegalan, sesuai dengan keagungan nilai balasan sil'atullah yang berupa surga. Kendala bisa datang secara internal maupun eksternal, misalnya dari setan, hawa nafsu pribadi, keluarga, teman dan lingkungan, maupun sisi yang lain. Supaya perjalanan menjajakan sil'atullah ini aman sampai tujuan, maka harus ada kewaspadaan ekstra terhadap kendala, rintangan, dan tantangan tersebut. Kewaspadaan dalam hal ini berupa: 1. Ihtimam dan tabattul (habis-habisan) melakukan ketaatan. 2. Bersegera lari dari perbuatan maksiat. 3. Giat mencurahkan harta dan jiwa sesuai dengan kelayakan dibalas surga. Aktifitas dakwah merupakan bagian dari sil'atullah, sebab ibarat dagangan agar laku dijual,maka ia mesti dijajakan (dipromosikan). Dakwah adalah aktifitas menjajakan sil'atullah. Dengan demikian, orang yang berdakwah mesti harus waspada di dalam geraknya dengan melakukan ketiga hal tersebut di atas. Dari sini, untuk meraih kesuksesan berdakwah wajarnya harus siap mencicili kendala dakwah dan selalu siaga mengantisipasinya (mempunyai bashiroh) serta berusaha mencari terobosan baru guna memajukan aktifitas dakwah. Di antara hal yang harus segera diperhatikan sebagai perwujudan sikap waspada adalah: 1. Waspada dari thafasy (kemalasan) yang biasanya bermula dari maksiat kepada Alloh swt atau pelanggaran terhadap iltizamaat. 2. Waspada dari ujub yang dapat merusak amal. 3. Waspada atas terjadinya kemandegan progam, sehingga peningkatan kualitas SDM dan pola kaderisasi merupakan hal yang mendesak. 4. Waspada terhadap ketidakimanan terhadap dakwah sebagai aktifitas yang termulia. 5. Waspada dari belenggu fitnah keluarga. 6. Dan lain lain. Kewaspadaan yang tak kenal menyerah di dalam berdakwah menjajakan sil'atullah, memang suatu kewajaran bila mengingat balasan yang disediakan kelak di akhirat yang luar biasa. Alloh swt berfirman: Adapun yang memberikan dirinya untuk Alloh, dan takut dari apa yang diharamkan oleh Alloh, serta membenarkan adanya balasan, maka Kami akan mempermudah baginya beramal shalih yang mengantarnya ke surga; Dan adapun orang yang bakhil memberikan dirinya untuk Alloh, dan merasa dirinya cukup dengan dunia dan melupakan akhirat, serta mendustakan adanya balasan, maka Kami akan mempermudah baginya beramal buruk yang mengantarnya ke neraka. (QS. Al Lail: 5-10)

AL-WAFA' BIL MITSAQ

وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُم بِهِ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٧) Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan : "Kami dengar dan kami ta'ati". Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati(mu).(QS Al-Maidah:7) Alloh Subhanahu Wataala menyebut terikat dengan mitsaq (perjanjian) sebagai suatu karunia yang agung. Mitsaq dalam arti mengikat diri dalam janji untuk selalu sami'na wa atho'na (loyal) kepada Rasululloh SAW. Mitsaq itulah yang pernah dipraktekkan oleh para sahabat dahulu di awal mula mereka masuk Islam. Ketika para sahabat sedang menggali khandaq (parit) untuk pertahanan Madinah, Nabi berdoa : "Ya Alloh ! Sesungguhnya kebaikan adalah kebaikan di akherat, maka ampunilah orang-orang Anshor dan muhajirin." Mendengar itu, para sahabat langsung berdendang secara spontan : "Kami orang-orang yang berikrar setia kepada Muhammad untuk selalu berjihad selamanya sepanjang masih hidup." Sahabat Ubadah bin Shamit berkata : "Kami berjanji kepada Rasululloh SAW untuk selalu As Sam'u wa Thaa'a di saat susah dan lapang, di waktu mudah dan sulit, untuk selalu mendahulukan orang lain, untuk tidak memprotes pemegang suatu urusan kecuali bila terdapat kekufuran yang nyata disertai argumentasi dari Alloh, untuk selalu berucap yang benar dimana kami berada tanpa takut umpatan orang." (HR. Bukhori, lihat shahihnya jilid IV/245) Al Wafa' bil Mitsaq Sebagaimana setia dengan mitsaq merupakan nikmat yang agung, maka melanggar mitsaq juga termasuk kufur nikmat yang besar. Pelangaran seseorang terhadap mitsaq akan berakibat fatal terhadap dirinya: إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا "Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah . Tangan Allah di atas tangan mereka ,maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar." (QS. Fath :10) Alloh Subahanahu Wata'ala telah memberikan ibroh ummat Yahudi dan nasrani dengan pelanggaran mereka terhadap mitsaqnya. Pelanggaran Umat yahudi Beberapa mitsaq telah diturunkan Alloh Subahanahu Wata'ala kepada Bani israil melalui Nabi Musa Alaihissalam. Mereka diharuskan berpegang dengan kokoh kepada kitab taurat, memilih di antara 12 naqib, dan yakin akan diberikan kemenangan. Pasca tenggelamnya Fir'aun, Alloh Subhanahu Wata'ala memerintahkan Bani Israil untuk berjalan menuju Baitul Maqdis yang saat itu dihuni oleh segolongan pembangkang: FirmanNya "Sesungguhnya aku jadikan negeri itu sebagai tempat tinggalmu. Karena itu pergilah ke sana dan perangi orang-orang yang tinggal di dalamnya. Sesungguhnya Aku akan menolongmu." Kemudian Alloh ta'ala memerintahkan Nabi Musa untuk mengangakat naqib di tiap-tiap kabilah. Masing-masing dari mereka memilih naqibnya sendiri-sendiri. Nabi Musa kemudian menegaskan miitsaq atas mereka untuk tidak melanggarnya. Ketika Baitul Naqdis terlihat dekat, sebelumnya intel-intel yang telah disusupkan melihat penduduk kota itu kuat-kuat, kekar dan pemberani. Maka, mereka pun melarikan diri, urung menyerang baitul Maqdis. Sampai dirumah mereka ceritakan apa adanya kepada kawan-kawannya, padahal sebelumnya Nabi Musa berpesan untuk tidak membocorkan apa yang dilihatnya. Di samping itu, mereka juga melanggar miitsaq amar ma'ruf nahi munkar ( Al-Maidah 78-79) dan berinfaq (Assyuhh:kikir dan Albadzkh:individualistik). Dengan pelanggaran itu, mereka disiksa dengan hukuman dan perangai jelek, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an Surat Al-Maidah ayat 13, yaitu: 1) Terlaknat 2) Hati keras membatu 3) Merubah firman-firman Alloh dari tempatnya 4) Melupakan sebagian peringatan 5) Selalu berkhianat dalam perjanjian Pelanggaran ummat Nasrani Ummat Nasrani mengaku pengikut Nabi Isa Alaihissalam, padahal mitsaq antara mereka dengan beliau berupa kesanggupan mengikuti dan mendukung Nabi Muhammad Shollallohu Alaihi Wasallam tidak ditepati. Maka, mereka sama seperti ummat Yahudi. Karenanya Alloh Subhanahu wata'ala memberikan hukuman berupa kondisi intern mereka yang selalu bermusuhan dan berbencian, sebagaimana FirmanNya dalam Al Qur'an Surat Al-Maidah ayat 14. Lihatlah sekte-sekte agama mereka , seperti Katholik, Protestan, Advent, Yehova, Ortodoks, dll. Antara sekte-sekte itu saling mengkufurkan, saling mengutuk, dilarang kawin, dilarang memasuki gereja, padahal mereka itu seagama. Keteledoran Ummat Islam Ummat Islam pernah juga teledor dalam miitsaq, walaupun tidak sejauh yahudi dan nasrani. Ummat Islam telah terikat dalam miitsaq untuk selalu 'Amar ma'ruf Nahi Munkar. Namun hal itu disepelekan. Akhirnya mereka disiksa (iqaab), sebagai konsekuensi melanggar miitsaq, sebagai berikut : 1) Jaurul Wullaat (kedzaliman pemerintahan) sampai dengan terjadinya Suquutul Khilaafah (hancurnya pemerintahan) tahun 1924 M. 2) Taslithul Udaat (Penguasaan musuh) sampai berlangsung sekarang ini. Rasululloh SAW bersabda: "Demi dzat Yang diriku berada dalam kekuasaanNya. Hendaklah kamu 'Amar Ma'ruf dan hendaknya kamu Nahi Munkar atau Alloh segera melimpahkan iqaab atas kamu, kemudian kamu berdoa , maka tidak dikabulkan." (HR. Tirmidzi) Untuk itulah diperlukan usaha serius untuk kembali wafa' bil miitsaq dengan jalan mengaktifkan dakwah 'Amar Ma'ruf Nahi Munkar, agar tidak seperti Yahudi dan nasrani, serta tidak tertimpa iqaab. والله أعلم

Ususut Tahaabub Fillah (Dasar-Dasar Saling Mencintai karena Alloh)

Dalam memberikan tarbiyah untuk jiwa seorang muslim, manhaj Islam berlandaskan kepada rasa saling mencintai, saling mengasihi, bersikap lemah,dan saling menyambung satu sama lain. Oleh karena inilah, Islam memberantas sikap saling membenci, iri hati, berpaling, memutuskan hubungan, menjauhi, mendzolimi, menghina, merendahkan, meneliti keburukan, dan sikap berlomba serta saling berbangga dan berburuk sangka seperti sabda Rosululloh Sahllallohu 'Alaihi Wasallam: Dan jadilah kalian para hamba Alloh yang bersaudara. (H.R. Muslim) Bagaimana mungkin slaah satu dari karakter negative tersebut bisa berada dalam hidup seorang muslim yang terbina, sementara ia mengerti bahwa keberadaan tersebut merusak amal, menyia-nyiakan pahala dan melebur kebaikan, kalau bukan karena penyakit dalam hatinya, kekolotan dalam watak, dan pelencengan dalam karakter aslinya. Karena itulah, Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam menegaskan bahwa dua orang yang betul-betul saling mencintai tidak akan pernah bisa terpisahkan oleh halangan dan rintangan apapun. Sebab tali cinta karena Alloh sangat kuat dan tidak akan terputus hanya karena permulaan dosa yang dilakukan salah seorang diantara keduanya. Beliau bersabda: Tiada dua orang saling mencintai karena Alloh 'azza wa jallla atau karena Islam lalu mereka akan dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang diantara keduanya. (H.R. Bukhori dalam Al Adab Al Mufrod) Dari sinilah kemudian bisa dimengerti adanya ancaman keras bagi mereka yang kaku dan keras kepala serta menyimpang dari jalur lurus moralitas Islam dan tertutup dari keramahan serta kemurahan Islam. Di akherat mereka di ancam dengan halangan dari ampunan dan kasih sayang Alloh. Pintu-pintu surga tertutup bagi mereka seperti disebut dalam sabda Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wasallam: Pintu-pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis lalu diberikan ampunan kepada seluruh hamba yang tidak menyekutukan apapun dengan Alloh, kecuali seseorangn yang diantaranya dan saudaranya ada kebencian. Lalu di ucapkan 'Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai. Tunggulah dua orang ini sampia mereka berdamai." (H.R. Muslim) Abu Darda' RA berkata, "Maukah ku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik bagi kalian daripada sedekah dan puasa? (yaitu) mendamaikan antara dua orang yang saling berseteru. Dan sungguh kebencian adalah pencukur (yang menghapus pahala)." (Diriwayatkan Imam Bukhori dalam Al Adab Al Mufrod) Seorang muslim yang terbina tentu akan menahan kemarahan terhadap saudaranya, tidak mendongkol, serta tidak enggan untuk segera memberikan maaf dan menutup mata dari kesalahan saudaranya yang dengan begitu ia termasuk orang-orang yang berbuat ihsan. Ia senantiasa menyambut saudaranya dengan wajah penuh senyum karena hal demikian ini merupakan cerminan hati yang bersih dan jernih. Ia juga selalu memberikan nasehat kepada saudaranya, kepada Alloh, kitab, dan Rosul-Nya, serta umat Islam pada umumnya sebagai realisasi prinsip nasihat dalam agama ini. Demi memuliakan tali persaduaraan dan pertemanan maka seorang muslim yang terbina juga memiliki watak setia kepada saudaranya. Memberikan pertolongan kepadanya dalam kondisi ketika berlaku dholim atau di dholimi. Pada waktu berbuat dholim maka ia mencegah dan saat di dholimi maka ia melakukan pembelaan. Ini semua sebagai bukti dan realisasi ajaran islam yang berupa mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri. Muslim yang terbina akan bersikap lemah lembut kepada saudaranya karena kelembutan menjadi hiasan sesuatu dan apabila ditinggalkan oleh kelembutan maka sesuatu itu menjadi tidak terlihat elok. Ia juga bersikap pemurah kepada saudaranya yang akhirnya kemurahan dan kelembutan tersebut akan menumbuhkan cinta untuknya dalam hati manusia yang hal ini menjadi tanda keridhoan, ampunan, dan kasih sayang Alloh. Ia juga menjaga saudaranya dalam kondisi sedang tidak bersamanya dalam arti tidak menggunjingnya karena mengerti bahwa mengunjungi hukumnya haram dan juga karena enggan memakan daging saudaranya serta menjaga diri agar tidak dijerumuskan lisan ke neraka. Muslim yang terbina akan selalu menjauhkan diri dari terlibat dalam perdebatan tiada guna dengan saudaranya. Ia tidak mudah tersayat hati atau merasa berat dengan gurauan saudaranya yang pada suatu saat mungkin menyakitkan. Ia juga tidak melanggar janji kepada saudaranya. Hal ini karena perdebatan sama sekali tidak akan membuahkan kebaikan. Gurauan yang menyakitkan akan memunculkan keengganan, perasaan benci, dan menjatuhkan kewibawaan. Sedang melanggar janji menyebabkan hati kecewa dan hilang rasa cinta. Muslim yang terbina selalu mendahulukan saudaranya karena sifat pemurah, dermawan, dan pemberian menjadikan pemiliknya terlihat indah dan mulia sehingga dekat dan dicintai oleh manusia. Jika bertemu maka ia mengucapkan salam. Memenuhi undangannya. Berdoa untuknya (tasymit) jika bersin. Membesuknya bila sakit. Menghadiri dan mengantar jenazah. Mendoakannya dari jauh, karena hal ini semakin mengokohkan bukti kecintaan kepadanya serta meneguhkan tali persaudaraan. Doa sepeti inilah yang semakin cepat dikabulkan karena penuh keihlasan dan kesungguhan. Semua hal tersebut adalah percikan arahan-arahan Islam terkait dorongan terhadap budi pekerti mulia dalam rangka menyebar luaskan cinta, persaduaraan, kasih sayang dan saling memberikan perhatian. Sungguh Rosululloh Sholalllohu 'Alaihi Wasallam senantiasa mengembangkan ruh kebersamaan dan mengobarkan perasaan peduli kepada orang lain. Dalam setiap kesempatan beliau selalu mengarahkan mereka kepada rasa persaudaraan secara total sehingga tidak tersisa dalam diri seorang muslim sifat egois dan hanya memikirkan diri sendiri yang hal ini menjadikan mata tertutup dan hati terkunci dan jiwa menjadi keruh. Inilah dasar-dasar saling mencintai karena Alloh seperti diinginkan Islam.