Translate

Senin, 29 Juli 2013

KEDENGKIAN

Untuk Buah hati, Anak dalam impianku.. Anakku…Orang yang berhati mulia berjiwa besar, mereka tidak akan pernah berbuat kedengkian (Hasud) terhadap siapa saja, karena kedengkian adalah perilaku orang-orang hina, orang yang berjiwa rendah, bertabi’at tercela, dan lemahnya keinginan, orang yang berjiwa besar, agung, yang enggan mau dihina karena tahu akan harga dirinya, adalah mereka yang memberi jarak, menerapkan perbedaan antara dirinya dan tabiat yang rendahan (Hasud) itu, karena buah hasud tidak lain hanyalah kedongkolan hati, mereka tidak akan pernah memperoleh sesuatu yang mereka hasudi, melainkan sakit hati semata. seperti halnya kalam hikmah yang berlaku di kalangan masyarakat kita : ( Al Hasuud La Yasuudu ) “Orang yang hasud tidak akan dapat memperolih apa yang dihasudi”, kalau kita cermati, kita angan, maka kita akan dapati betapa besar makna yang terkandung di dalamnya dan mulia, sekalipun kecil dari segi lafath-nya. Anakku...kedengkian adalah perbuatan yang dapat menyia-nyiakan pekerti yang mulia, etika yang luhur, menyesakkan dada, mengkacaukan pikiran. Karena para pelaku kedengkian, apa bila melihat seseorang yang berada dalam kenikmatan, menyaksikan seseorang yang memperolih kedudukan tinggi yang pantas dan patut untuknya, mereka memasang kuda-kuda, menyiapkan tipu-daya, mereka senang kalau nikmat tersebut terlimpahkan dalam diri mereka, mereka gembira kalau kedudukan tersebut berpindah dalam kekuasaannya. Anakku...Bersabarlah jika pada suatu sa’at engkau mendapati mereka yang sedang berbuat hasud terhadapmu, hadapi dengan senyuman, hadapi dengan lapang dada, hadapi dengan kepala tegak, karena kamu berada di jalan kebenaran, kamu berada di jalan yang di ridhoi oleh Alloh swa. Karena sampai kapanpun pelaku kedengkian mereka tidak akan pernah puas dengan keberadaanmu sekarang ini, mereka akan terpuaskan setelah apa yang kamu peroleh, apa yang kamu dapat, berpindah kepada mereka. Hal senada di dendangkan seorang penyair dalam gubahan syairnya : Semua orang dapat aku beli hatinya Tetapi orang yang dengki kepadaku amat merepotkan aku Dan sulit ku beli hatinya Bagaimana mungkin seseorang dapat membujuk Orang yang dengki melihat keberhasilannya Sementara dia belum merasa puas kecuali lenyapnya keberhasilan itu. Penyair lain juga mendendangkan : Bersabarlah terhadab perbuatan hasud seseorang, Karena kesabaranmu, merupakan senjata yang bisa membunuhnya layaknya api yang membakar dirinya setelah ia tak lagi mendapati sebatang kayu yang bisa dibakarnya.

Wanita dan Pendidikan

Alloh SWT tidak menciptakan wanita kecuali bersama dengan pasangannya untuk melestarikan taman kehidupan, hanya saja setiap individu dari dua jenis ini mempunyai wadhifah (tanggung jawab) yang berbeda , yang gak baik bagi setiap individu menyalahi atau melangar tanggung jawabnya masing - masing. Sebagai contoh lelaki dalam taman ini (rumah tangga) adalah sebagai pengolah lahan, mencangkul, membajak, menanam dan menabur benih . sementara tugas perempuan dalam taman kehidupan ini adalah sebagai penjaga , merawat tanaman yang ada, menghalau hama yang mendekat maupun yang telah merusaknya. Tiadalah kebun kehidupan tersebut melainkan rumah tangga, pun tiada tanggung jawab bagi lelaki kecuali usaha guna menopang kelestarian rumah tangganya, dan tidaklah tanggung jawab perempuan kecuali mengatur rumah, mendidik anak, menanamkan akhlak – akhlak yang mulia ke dalam jiwa buah hatinya dan menepis segala hal yang merusak akhlak. Salah satu persoalan yang dihadapi bangsa ini khususnya dan umat islam umumnya selain ekonomi, politik dan persoalan – persoalan lainnya, adalah pendidikan, lihat saja tawuran antar pelajar marak terjadi di berbagai kota, di tambah lagi dengan deretan sejumlah prilaku mereka yang sudah tergolong kriminal, penyalah gunaan narkoba dan seks bebas (free sex), di kalangan pelajar misalnya “kompas denagan risetnya mendapati ”- saat ini 35% pelajar di kota madiun sudah pernah berhubungan layaknya suami istri , muncul kabar dari jawa pos , fenomena siswi – siswi di kota malang yang menjadi ‘cewek cabutan’, belum lagi yang datang dari kota gudek jogjakarta yang 97,5% mahasiswinya sudah tidak perawan lagi, dan masih banyak fenomena – fenomena lain yang sangat memperihatinkan. Dunia pendidikan kembali dituding telah gagal membentuk watak mulia pada anak didiknya Dalam hal ini Rosululloh bersabda : ما نحَل والدُ ولدَه أفضلُ من أدب حسنٍ “ Tiadalah suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua pada anaknya , selain etika yang luhur ” ما يسُر الوالدَيْنِ إلا نجا بة الأبناء “ Tiadalah sesuatu yang menggembirakan kedua orang tua kecuali kecerdasan anak – anaknya ”

Cemburu itu indah

Pepatah ‘arab mengatakan “ Setiap manusia yang memakai baju gamis (baju tanpa lengan) - BH untuk sekarang ini – adalah bibi “ dalam arti sebagian dari kewajiban setiap laki – laki adalah, hendaklah mereka menaruh rasa cemburu atas setiap wanita, seperti halnya mereka menaruh rasa cemburu terhadab sanak kerabatnya, karena wanita pada dasarnya adalah saudara ibu_nya dari segi jenis kewanitaannya, maka hal itu sudah cukuplah menjadikan wanita itu sebagai bibi_nya. Di dalam kitabnya “Adabul_Islam fi Nidlomil_Usroh” Abuya Al Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas Al Malikky Al Hasany mengatakan “ Seseorang bisa dikatakan telah mati sifat kelakiannya (Ganten Man) ketika orang tersebut sudah tidak lagi mempunyai rasa cemburu (terhadap para wanita)” Dalam arti ketika seseorag melihat para wanita – wanita muslihah berbuat sesuatu yang melanggar syara’ lalu dia diam tanpa mengambil tindakan pencegahan, maka cukuplah orang tersebut boleh dikatakan telah mati ke_Gantel_annya, Sejauh ini dalam pengamatan saya. Jadi sebagai sesama muslim hendaklah kita merasa cemburu ketika melihat saudara-saudara mulimah dengan asyiknya melakukan hal-hal yang di nilai syara’ salah, entah itu disadarinya atau tidak.

Wanita & Ekonomi

Untuk hak-hak yang bersifat ekonomis, Al-Qur’an mengenal adanya hak penuh bagi wanita sebelum dan sesudah menikah. Jika sebelum menikah seorang wanita memiliki kekayaan pribadi, maka begitupun setelah dia menikah. Dia mempunyai hak kontrol penuh terhadap kekayaannya. Berkenaan dengan hak ekonomis bagi wanita, Badawi (1995) menyebutkan bahwa di Eropa, sampai akhir abad 19, wanita tidak mempunyai hak penuh untuk memiliki kekayaan. Ketika seorang wanita menikah, secara otomatis harta seorang wanita menjadi milik sang suami atau kalau si isteri mau mempergunakan harta yang sebenarnya milik dia ketika belum menikah, harus mempunyai ijin dari sang suami. Badawi menunjuk kasus hukum positif Inggris sebagai contoh. Di Inggris, hukum positif tentang wanita mempunyai hak kepemilikan baru diundangkan pada sekitar tahun 1860-an yang terkenal dengan undang-undang “Married Women Property Act”. Padahal Islam telah mengundangkan hukum positif hak pemilikan wanita 1300 tahun lebih awal ( Lihat QS 4:7dan 4:32).

Minggu, 28 Juli 2013

HARAPAN SANG PENDOSA


Lantunan tasbih warnai setiap hembusan,
Pejamkan mata menyusup makna kesucian,
Resapi bagian terkecil kehidupan,
Tersentak kuteringat akan dosa masa silam,

Terkeruk pasrah sucikan diri,
tersungkur sujut dalam munajah ilahi,
di separuh ramadhan kuberharap ampunan,
hapus coretan dosa-dosa yg terkumpulkan,

kunanti lailatul qadar di ujung malamku
Malam hilang terbitlah fajarku,
Kunanti hari fitri kan datang,
Penuh harap kan fitrah diri.

MENUNGGU LAILATUL QADAR DI UJUNG MALAM

 

Jika kau mengantuk tidurlah dulu, 
usah paksakan diri menemani aku, 
aku tahu matamu sudah berat, 
mukamu pucat dan kau juga sering menguap, 
rapatkanlah…, tidurlah segera, 
tapi jangan lupa sunah yang ada, 
agar malaikat-malaikat malam menjaga dan sampaikan salam padaNya. 
biarkan aku menunggu Lailatul Qadar dengan harapanku, 
malam seribu bulan yang menjadi impianku, 
Biarkan aku menyambutnya di ujung malam, 
Aku tak tau akan esok hari, 
adakah aku dapat memperolih kesempatan.

Sabtu, 27 Juli 2013

OPTIMIS & PESIMIS

Untuk Buah hatiku. anak yang sangat kunantikan. Anakku...yang membentuk karakter diri kita adalah pola pikir kita sendiri, kalau kita berpikir positif, maka hidup ini akan terasa enjoe dan bahagia, tapi kalau pikiran kita senantiasa berfikir hal-hal yang negative, maka kesedihan, kepiluan yang justru kita dapat. Percayalah anakku, hidup kamu tersusun oleh pikiran-pikiran kamu, sebab hidup tak lain adalah rangkaian keputusan kamu untuk mencinta atau membenci sesuatu Anakku orang yang berjiwa pesimis akan selamanya memandang siang hari terasa gelap, segala sesuatu disangkanya hitam mencekam , madu disangkanya racun, mereka memandang dunia ini dengan tatapan kebencian, pandangan yang membosankan Wahai anakku... pernahkah engkau mendengar cerita Rasululloh saw saat beliau menengok orang arab badui yang sedang sakit terserang deman, lalu beliau saw. menghiburnya dengan mengatakan “Tak mengapa, Insya Alloh akan sembuh.” akan tetapi, orang badui tersebut tidak menerima pengharapan baik tersebut dan justru Ia berkata “ Ini deman yang hebat.” Maka Nabi saw. pun berkata “Baiklah kalau demikian” Seperti itulah yang akan dirasa olehnya. Anakku... bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan nampak terasa sempit, dan tindakan anda pun jadi kerdil, Namun, bila kamu memandang diri anda besar, maka dunia akan nampak luas, dan anda pun akan melakukan hal-hal penting dan berharga. Tindakan anda adalah cermin bagai mana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pada pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berperasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanyalah memantulkan apa yang ingin kita pikirkan, dan menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, maka sebenarnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.

TAWAKAL (PASRAH)

 


Teruntuk kekasih surgaku. Istri yang semoga setia mendampingiku.

Istriku.....apa yang membuat malam-malammu jadi begitu panjang, hari-harimu penuh kekawatiran, janganlah hari esok membuatmu menangis, menjadikan hatimu gundah dan penuh ketakutan. Istriku, hidup ini akan terasa enjoy, semuanya akan terasa indah jika kita pasrahkan kepada Alloh, karna Dialah yang pantas kita serahi urusan kita, karena Dialah tempat bergantung semua makhluk. 

“....dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S At-Tholaq: 3)

“(Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.” (Q.S At Taghobun: 13)

Jika Alloh menciptakan malam tentu Alloh menciptakan siang pula, susah dan senang, miskin dan kaya, laki dan perempuan, kanan dan kiri, bawah dan atas, dan semua berpasang-pasangan, maka jika Alloh menciptakan kita tentulah Alloh menciptakan rizki bagi kita, Allah berfirman: 

“.. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)" (Q.S Ali Imron : 27)

Dalam satu kesempata Kekasih kita Baginda Nabi Agung Muhammad Saw. Berkata:

 لوأنّكُمْ توَكّلْتُمْ على الله حقَّ توكُّلِهِ لرَزَقَكُمْ كما يرزُق الطيرَ تَغْدُو خِماصاًوتَرُوْحُ بِطاناً

“Sungguh apabila kalian bertakwa kepada Alloh dengan sebenar-benar takwa, niscaya Alloh akan menanggung rizki kalian, seperti halnya Alloh menanggung rizki seekor burung yang waktu pagi dalam kondisi lapar dan pada sore harinya dengan kadaan kenyang”

Senin, 22 Juli 2013

Kapankah Kita Berbeda Agar Bisa Bersatu?

 

Allah ta’aalaa berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan , tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat…“QS al An’aam:159. Setelah berpesan melalui RasulNya agar umat ini meniti shirathal mustaqim dan bukan mengikuti berbagai jalan selainnya sebagaimana dalam firmanNya, “dan bahwa adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan , karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (QS al An’aam:153)

Maka dalam ayat ini Allah memberikan peringatan kepada umat ini tentang apa yang kelak akan mereka alami sebagai satu garis kehidupan berupa tindakan menyia-nyiakan agama, setelah sebelumnya berada di jalan yang benar, yang muncul dalam fenomena perpecahan sekian banyak madzhab, aliran-aliran dan bid’ah-bid’ah di mana hal ini menjadikan mereka terkotak-kotak dalam fanatisme berbagai macam kelompok dan golongan. Akibatnya kebenaran pun lenyap, ikatan persatuan terputus dan persaudaraan seiman berubah menjadi umat yang saling berlawanan dan bermusuhan sebagaimana pernah terjadi pada umat-umat terdahulu. Realitas tersebut dilatar belakangi oleh beberapa hal seperti berikut: 

1. Perebutan Kekuasaan. Ini telah terjadi semenjak akhir pemerintahan Khilafah Ar Rasyidah dan berlanjut hingga masa sekarang. 

2. Fanatik Ras dan Semboyan Kebangsaan 

3. Fanatisme Madzhab dan Aliran dalam dasar-dasar dan cabang-cabang agama sehingga satu sama lain saling mencela. 

4. Berkata tentang agama berdasarkan pendapat 

5. Penyusupan dan rekayasa musuh-musuh agama 

Sebagian ahli tafsir generasi terdahulu (Salaf) berpendapat bahwa ayat ini turun terkait ahli kitab yang telah memecah belah agama Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa alaihissalaam serta merubahnya menjadi agama-agama yang berbeda pula dan masing-masing memiliki madzhab-madzhab dan aliran-aliran yang fanatik di mana antara mereka saling memusuhi dan memerangi (bunuh membunuh). Dua tafsiran ini bisa saja dipadukan karena ayat tersebut mencakup ahli kitab dan kelompok-kelompok dalam kaum muslimin. Jadi ayat tersebut memiliki misi memberikan peringatan (Tahdziir) akan bahaya perpecahan/perbedaan (Tafriiq) yang tidak diperbolehkan (tercela) sebagaimana disebut dalam firman Allah: 
"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat," (QS Ali Imra:105.)

Jadi Tafriiq yang diperingatkan oleh Allah adalah memisahkan dasar-dasar Islam yang telah menjadi satu kesatuan sebagaimana dilakukan sebagian orang Arab yang menolak mengeluarkan zakat pasca Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat sehingga Abu Bakar ra berkata: “Sungguh aku pasti akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat”. Sementara Tafriiq dalam pendapat, sebab akibat (Ta’liilaat), penjelasan-penjelasan (Tabyiinaat) dan cabang-cabang fiqih maka tidak menjadi masalah. Akhirnya semua Tafriiq yang tidak menyebabkan sikap saling mengkafirkan (Takfiir), saling memerangi (Taqaatul), berpecah belah dan fitnah maka itu hanyalah sebatasTafriiq dalam pemikiran, pencarian dalil dan usaha maksimal menemukan kebenaran. Sebaliknya Tafriiq yang mengantarkan kepada tindakan Takfiir dan saling menyerang dalam masalah agama maka inilah yang diperingatkan oleh Allah kepada kita untuk dijauhi.

Abu Asyur dalam at Tahrirr wa At Tanwiir 8/196 mengatakan: [Adapun perebutan kekuasaan dan harta dunia di kalangan kaum muslimin maka bukan termasuk Tafriiq (perpecahan) dalam agama. Hanya saja ini termasuk kondisi yang menjadikan jamaah (persatuan umat) terancam] Karena itulah suatu keharusan bagi seluruh kelompok untuk berdiri dalam satu barisan demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Tetapi, perselisihan senantiasa terjadi di kalangan mereka. Dari Sa’ad (bin Abi Waqqash) ra bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: 
“Aku memohon kepada Tuhanku agar tidak menghancurkan umatku dengan paceklik. Diapun Mengabulkannya. Dan aku lalu memohon kepadaNya agar tidak Menghancurkan umatku dengan banjir. Dia pun Mengabulkannya. Lalu aku memohon kepadaNya agar tidak Menjadikan perselisihan di antara mereka. (permohonanku) ini ditolak”. HR Ibnu Abi Syaibah. (Khashaish al Ummah al Muhammadiyyah hal 42.) 

Lalu kapankah kita berbeda agar bisa bersatu? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang harus dibarengi dengan usaha serius dan berat yang dituntun oleh sikap Istiqamah, jiwa dermawan, hati yang bersih dan rahmat kepada umat dengan berbagai macam sarana di mana sarana memiliki hukum sama seperti tujuan. 
= والله يتولى الجميع برعايته =

Senin, 08 Juli 2013

Muhasabah Diri di Bulan Suci

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.QS al Hasyr:18-19. Sayyid al Walid Abuya al Habib Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani dalam bukunya Dzikrayat wa Munasabat hal 183 berkata: Di antara berkah-berkah Ramadhan adalah hembusan Nafahat Qudsiyyah yang menerpa orang yang berpuasa hingga khalwah terasa manis baginya guna Muhasabah (evaluasi diri), melihat dan menelaah kembali amal-amal perbuatan serta mengingatnya dari berbagai aspek kebaikan dan kebajikan, dosa dan keburukan hingga akhirnya merasa damai dan tentram atau sebaliknya merasa rugi dan menyesal. Selanjutnya ia berusaha keras menutupi keteledoran yang berupa hal-hal yang tidak diridhoi Allah. Ia pun merubah jalan hidup, meniti kebenaran, memperbanyak ketaatan demi melebur dosa yang dilakukan dan sebagai pengganti yang dikerjakan di masa silam. Maqam tersebut adalah buah perasaan selalu diawasi Allah (Muraqabatullah) dan rasa takut siksaan di hari perhitungan (Yaumul Hisab). Itulah Maqam para ahli makrifat (al Arifin) yang tidak bisa tergapai kecuali oleh orang-orang yang meyakini bahwa Allah Maha Melihat yang tersimpan dalam hati dan Maha Mengetahui segala rahasia. Al Habib Abdullah bin Alawi al Haddad berkata: [Tiada orang beriman kecuali dalam posisi mendahului atau didahului (Sabiq/Masbuq). Orang beriman yang berada dalam kebaikan adalah orang yang bertemu dengan Allah dalam keadaan beriman sehingga ia langsung ke surga. Atau dengan membawa dosa-dosa sehingga untuk membersihkannya Allah Memasukkannya ke neraka sesuai kadar dosa-dosa. Manusia, kebanyakan manusia, adalah ahli keteledoran akan hak-hak Allah meski mereka juga telah melakukan sekian banyak kebaikan] (Tatsbiitul Fuaad 2/326). Evaluasi diri adalah tanaman pohon yang berbuah Taubat. Salah satu pintu dari berbagai pintu kasih sayang Tuhan (Rahmat Ilaahiyyah). Pintu keluar dari kemarahan Allah dan memasuki halaman luas maaf dan keridhoannya. Di antara hal yang mengantarkan kepada Evaluasi diri di bulan penuh berkah ini adalah menyambut NafahatNya seperti berikut:   1 Nuzul Alqur’an: (Banyak membaca dan Tadarrusan Alqur’an) 2 Perang Badar&Pembebasan Makkah: (Merenung dalam mempersiapkan diri berkorban di jalan meninggikan Kalimat Allah yang paling mulia) 3 Lailatul Qadar: (Qiyamullail Ramadhan untuk menghidupkannya) 4 Berkumpul untuk Qiyamullail (Shalat Tarawih): (Menghindarkan diri dari melaksanakannya dengan terlalu cepat selesai -I’tikaf) 5 Bulan Berdo’a (QS al Baqarah:186): (a.Banyak Membaca do’a tersebut yang artinya: “Saya bersaksi tiada tuhan selain Allah. Saya memohon ampunan kepada Allah. Saya memohon kepadaMu surga dan perlindunganMu dari neraka” b.Banyak Berdo’a yang lain) 6 Bulan Kedermawanan: (Banyak sedekah dengan harta dan segala macam kebaikan) 7 Bulan Kesabaran: (Semua anggota tubuh ikut berpuasa) 8 Bulan Penuh Berkah: (Memproduksi anak yang diberkahi. Allah berfirman: “…Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu… “QS al Baqarah:187.) Muslim yang terbina - ketika mengerti bulan ini ada pahala berlipat ganda, ampunan mudah didapatkan dan Nafahat Rabbaniyyah yang semestinya harus diimbangi dengan susah payah dan kerja keras seperti dikatakan, “Pahala sesuai kadar kepayahan” - tentunya merasa malu kepada diri sendiri apabila tidak berjuang keras menyusul keteledoran, melakukan hal yang tidak diridhoi Allah, dan mengevalusi diri agar masuk dalam satu pintu di antara pintu-pintu rahmatNya yang luas. Hanya kepada Allah kita memohon agar Dia Menerima Shiyam dan Qiyam kita, agar Dia memberikan TaufiqNya kepada kita menuju kecintaan dan ridhaNya.