Translate

Rabu, 22 Mei 2013

QONA’AH

Teruntuk Kekasih Surgaku. Istriku... selama kita masih dibodohi oleh hasrat keinginan nafsu kita maka selamanya kita tidak akan pernah mampu meraih kebahagiaan yang hakiki, kita tidak akan pernah maju, selamanya kita akan terpuruk dan menjadi pecundang, kita harus mampu menaklukkan diri kita dari rasa kerakusan kita, kita harus mampu menahan diri kita dari keinginan menumpuk-numpuk harta, rumah, emas dan asesoris-asesoris duniyawi, mencobalah untuk puas dengan apa yang ada di tangan kita, karna sesungguhnya dunia seisinya adalah terlaknat, sayang, إنّ الدنيامَلعونةٌملعونُ مافيهاإلاّذكرَللهِ ومَاوَالَاه وعالِماًومتعلّماً “Sesungguhnya dunia itu terlaknat; sesuatu yang ada padanya juga terlaknat, kecuali dzikir kepada Alloh, sesuatu yang memfasilitasinya, orang ‘Alim dan orang yang menuntut ilmu.”(HR. Nasa’i dan Ibn Najah) Ahmad bin Muhammad Al Qurthubi berdendang dalam bait syairnya: Perhatikanlah, sesungguhnya dunia itu bagaikan indahnya pohon-pohon yang bila salah satu sisinya menghijau, maka , sisi yang lain akan kering. Orang yang banyak berharap terhadap dunia, pasti Ia lapar. Dan tiada keni’matan dunia kecuali merupakan mushibah. Maka janganlah kamu mencelak kedua matamu dengan air mata, Karena menangisi sebagian dunia yang lenyap, karena sesungguhnya engkau pun akan lenyap. Istrku… janganlah engkau pernah mengeluhkan kesulitan hidup, jangan pula engkau sedih di pagi hari, karna mengeluhkan kesulitan, problematika kehidupan, kepada tetangga adalah wujud ketidak puasan kita kepada sang-pemberi. Maka hiasilah hari-harimu dengan kepuasan diri, dan tetaplah tersenyum.

Aspek Kepemimpinan Wanita

Oleh Abina KH Muhammad Ikhya' Ulumiddin Hadits Rasululloh Shollallohu 'alaihi wasallam: عن ابىبكرة رضى الله عنه قا ل : لَما بَلَغَ رَسول الله صلى الله عليه وسلّم أنّ اهل فا رس قد ملَّكُو عليهم بِنتَ كِسْرَى قال : "لَنْ يُفْلِحَ قَوْمً ولّو أَمرَهُم إِمْرَءَةً" Dari Abu Bakrah ra. Ia berkata: "ketika sampai kabar kepada Rasululloh saw bahwa penduduk Persia telah mengangkat puteri Kisra menjadi raja, maka beliau bersaba: "Tidak akan beruntung kaum yang menyerahkan urusan pemerintahan mereka kepada wanita." Sanad Hadits Imam Bukhori meriwayatkan hadits ini dari Usman bin Haitsam, dari Auf, dari Hasan, dari Abu bakrah ra (Shohih Al Bukhori : III/360 nomor 2365), Imam Nasa'i dan Imam Ahmad. Mereka sepakat atas keshahihan hadits ini. Perawi pertama hadits ini adalah sahabat Abu Bakrah ra. Menurut Imam Ibnu Hajar Al Asqolani, nama aslinya ialah Nufai' bin harits bin Kaldah At Tsaqofi. Dia masuk Islam di Thaif lalu tinggal (berdomisili) di Bashrah dan wafat di situ tahun 52 H. (Taqribut Tahdzib: II/306 dan 401) Dalam periwayatan ini, sebagian orang menuduh sahabat Abu bakrah ra tendensius, yakni dia mengungkap hadits ini agar dukungan terhadap kepemimpinan Sayyidah Aisyah ra di perang Jamal luntur. Namun, melihat kapasitas beliau sebagai sahabat, rasanya tuduhan itu mengada-ada. Jumhur Ulama mengatakan bahwa para sahabat seluruhnya adalah adil. (Al Awashim minal Qowashim, Ibnul Arobi : 31) Bisa saja, sahabat Abu Bakrah ra mengemukakan hadits ini di saat terjadi perang Jamal karena momentumnya tepat. Wallohu a'lam. Sabab Wurud (Latar Belakang Hadits) Pada saat gencaran senjata sebagai tindak lanjut perjanjian Hudaibiyah, Rasululloh saw mengirim surat seruan masuk islam kepada raja-raja di sekitar Semenanjung Arabia. Di antara raja itu adalah Kisra Abrawis (Choesroe Obrewis II), penguasa imperium Persia. Anak dari Hurmus bin Anusyirwan ini menolak mentah-mentah surat seruan itu bahkan merobek-robeknya dengan penuh keangkuhan. Kala mendengar itu, rasululloh saw bersabda: "Semoga Alloh swt merobek-robek kerajaannya." (Shohih Al Bukhori: III/90) Tidak berapa lama, Kisra Abrawis yang angkuh itu dibunuh dengan hina dina oleh Syiruyah, anaknya sendiri. Kerajaannya direbut. Saudara-saudara sekandung pun dibunuh oleh anak yang ambisius ini. Syiruyah berkuasa hanya selama enam bulan karena mati lantaran menelan racun yang dipasang ayahnya di istana sebelum ayahnya dibunuhnya. Syiruyah tidak meninggalkan anak laki-laki, juga tidak meninggalkan saudara, karena saudara-saudara kandungnya keburu dia habisi. Karena takut kekuasaaan diambil alih oleh keturunan lain, maka naiklah anak perempuan Syiruyah yang bernama Buron. Pergantian kepemimpinan dari Syiruyah kepada puteri bernama Buron di negara adikuasa ini menjadi pergunjingan ramai dunia, termasuk di kota Madinah waktu itu. Dan mendengar berita ini, Rasululloh saw lalu mengeluarkan hadits di atas bahwa tidak akan beruntung, sukses, dan berhasil pemerintahan yang dipimpin oleh wanita. Prediksi Rasululloh saw terbukti nyata. Di bawah kepemimpinan Buron, imperium Persia menjadi laksana pesakitan. Mucul fitanh, huru-hara, keonaran, dan berbagai kerusakan. Selama empat tahun, kerajaan yang menjadi pesaing Romawi Timur (Byzantium) ini berpindah tangan sampai kepada 10 penguasa. Dan tepat delapan tahun setelah Kisra Abrawis merobek-robek surat seruan masuk Islam dari Rasululloh saw, Persia di bawah pimpinan Kisra Yazdajird (raja Persia terakhir) jatuh ke tangan kaum muslimin. Berikutnya setelah kematian Khalifah Utsman bin Affan, terjadilah perang berunta (waq'atul jamal). Saat itu Sayyidah Aisyah (mengendarai unta), Tholhah, dan Zubair di satu pihak dan sahabat Ali bin Abi Thalib di pihak lain. Abu Bakrah ra tatkala hendak turut serta berada di barisan Sayidah Aisyah untuk unjuk rasa kepada khalifah Ali menuntut diadilinya khalifah utsman, niat ini dia urungkan karena ingat akan hadits yang di dengarnya langsung dari Rasululloh saw di muka yang menyebut dipimpin wanita tidak akan beruntung. *** Hadits di atas menyiratkan prediksi Rasululloh saw bahwa akan ada pemimpin wanita. Kini prediksi itu benar-benar menjadi kenyataan. Ada pemimpin seperti Margaret Tatcher (Eropa), Indira Gandhi (India), Benazir Bhutto (Pakistan), Corazon Aquino (Philipina), Bandaranaike (Srilanka), dsb. Namun seperti antisipasi beliau, masyarakat di bawah kepemimpinan wanita tidk akan beruntung, sukses, dan berhasil. Contohnya imperium Persia dipimpin Buron binti Syiruyah bin Kisra Abrawis justru hancur lebur, dirundung fitnah dan kerusakan. Hal yang barangkali masih menggelayut ialah tidak mungkinkah hadits tersebut bersifat waqi'atul hal atau kasuistik yakni berkaitan dengan kasus naiknya Buron binti Syiruyah bin Kisra Abrawis menjadi penguasa Persia saja? Seperti diketahui, Persia jauh-jauh hari sudah didoakan oleh Rasululloh bakal terobek-robek, maka wajar saja penguasa wanita yang memimpin negara yang hendak terobek-robek itu dinyatakan tidak beruntung, sukses dan berhasil. Namun, melihat bahasa yang digunakan bahasa yang bersifat umum seperti lafadz "qaum" dan "imro'ah", dan tidak ditemukan indikasi-indikasi yang sifatnya mengkhususkan, apalagi dikuatkan dengan huruf depan "lan", maka kaidah Ushul mengatakan: "Pedomannya dengan keumuman lafadz (bahasa) bukan dengan kekhususan sebab (latar belakang)" Ketentuan syara' bahwa wanita tidak bisa menjadi pemimpin bukan berarti menunjukkan superioritas laki-laki, diskriminasi terhadap jenis kelamin (gender) wanita, menunjukkan posisi subordinasi wanita (di bawah dominasi laki-laki), dan menghambat karir kaum feminin, seperti gugatan yang sering diucapkan petualang kesetaraan gender: "Mengapakah wanita dilarang menjadi pemimpin?" Di sini rasanya syara' justru hendak menundukkan perkara dalam proporsinya. Tugas dan kewajiban wanita pada prinsipnya banyak persamaan dengan apa yang dibebankan kepada laki-laki. Bahkan selama ini syara' telah memberikan penghargaan tinggi terhadap tugas khusus wanita dengan dilindunginya hak-hak mengandung, reproduksi (melahirkan), menyusui, mendidik anak, megurus rumah tangga, dsb. Di situlah kodrat dan fitrah wanita. Keadilan kiranya tidak harus dibagi sama rata dan rata semua, namun disesuaikan dengan proporsi masing-masing. Laki-laki dan wanita diciptakan untuk saling memberi dan saling mencukupi dengan segala kelebihan dan kekurangan. Hak-hak reproduksi dibebankan menjadi tanggung jawb wanita karena kelebihannya di situ, sementara laki-laki karena kelebihannya di sini dibebani tanggung jawab kepemimpinan. Alloh swt berfirman: الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. (QS An Nisaa' : 34) Dari hadits di atas dan juga atas dasar ayat ini, mayoritas Ulama sepakat secara bulat bahwa wanita haram menjadi pemimpin dalam Al Imamah Al Udzma atau khilafah (kepemimpinan skala besar dan luas). Dalam qadla (bidang yang berkaitan dengan pengadilan dan persaksian), Jumhur Ulama (madzhab Syafi'i, Maliki dan Hambali) juga mengaharamkan wanita memimpinnya, atas dasar diqiaskan pada jabatan Al Imamah Al udzma atau khilafah. Sementara Madzhab hanafi membolehkan wanita memegang qadla yang berkaitan dengan harta benda (perdata) karena persaksian wanita di sini diperkenankan, tetapi wanita memegang qadla di bidang pidana tidak diperkenankan karena persaksiannya di situ tidak diterima. Sedang Imam Ibnu Jarir At Thobari dan satu riwayat dari Imam Malik membolehkan wanita berkecimpung di bidang qadla secara mutlak. Dari pendapat Madzhab Hanafi, At Thobari, dan satu riwayat dari Imam Malik inilah wanita diperbolehkan menduduki jabatan kepemimpinan yang sifatnya kolektif tapi berskala lokal, seperti kepala desa, ketua RT, dsb. Mungkinkah ini menjadi dasar tampilnya Ratu Kalinyamat (Demak) dan Cut Nyak Din (Aceh)? (Sumber: Al Fiqh Al Islami, Az Zuhaili, VI/745; Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd, II/384; Tuhfatul Ahwadzi, Al Mubarakfuri, VI/541; Syu'abul Iman, As Shoghorji, IV/152; Al Ahkam As Sulthohiyah, Al Mawardi, 59; Al Ahkam As Sulthohiyah, Abu Ya'la Al Hanbali, 31 dan 60; Majmu' Syarah Muhadzab, An Nawawi, XX/127, Aunul Bari, Al Qannjuni, IV/595, dan Faidul Qadir, Al Munaqi, V/303)

Jumat, 17 Mei 2013

LINGKARAN HIDUP

Manusia dalam hidupnya senantiasa dilingkupi oleh dua lingkaran 1. LINGKARAN (wilayah) YANG DIKUASAI OLEH MANUSIA Lingkaran ini adalah lingkaran yang ada di bawah batasan tingkah laku manusia. Di dalamnya terdapat perbuatan – perbuatan yang timbul karna keinginannya sendiri. Seperti berjalan, makan, minum dan bepergian disaat kapan saja dia kehendaki. Didalam lingkaran ini manusia bebas memilih perbuatan yang disyari’atkan atau yang tidak disyari’atkan. Dan dia akan dimintai laporan pertanggungjawaban atas perbuatannya tersebut. Karna dia memiliki akal yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Alloh Ta’ala menjadikan akal sebagai sandaran pembebanan kewajiban syara’ (taklif syar’y). Oleh karna itu Dia memberikan pahala terhadap pelaku perbuatan baik dan memberikan siksa terhadap pelaku perbuatan buruk. Di dalam lingkaran inilah tempatnya hadits Nabi SAW yang berbunya: “Jika perbuatan itu baik maka dibalas dengan kebaikan dan apabila perbuatan itu buruk maka akan dibalas dengan keburukan” Dalam Al_Qur’an (Q.S. Al Balad: 10) Alloh berfirman : (النَّجْدَيْنِ وَهَدَيْنَاهُ) “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” Juga di dalam surat As Syams Alloh berfirman : (وَتَقْوَاهَا فُجُورَهَا فَأَلْهَمَهَا) “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” 2. LINGKARAN (wilayah) YANG MENGUASAI MANUSIA Lingakaran kedua ini adalah lingkaran dimana manusia tidak dapat menguasai dirinya tetapi dirinya terkuasai oleh kekuatan diluar dirinya, sehingga ia tidak dapat menolak. Sementara lingkaran yang kedua ini terbagi menjadi dua : 1. Kejadian yang ditentukan oleh nidhomul wujud (hukum alam). Sebagai contoh manusia datang ke dunia ini dan meninggalkannya bukanlah atas kemauannya sendiri, 2. Perbuatan yang diluar kemampuan manusia. Perbuatan ini timbul dari dirinya atau menimpa dirinya, tetapi dia tidak dapat menolaknya. Seperti orang yang terjatuh dari atas tembok , terpeleset sampai jatuh dan mati. Dalam lingkaran ini manusia mengalaminya dengan keadaan terpaksa (majbur) dan tersetir (musayyar), ia tidak bisa dapat memilih (ikhtiar). Inilah yang dinamakan qodlo’ . dan manusia wajib mengimaninya Alloh Ta’ala telah menciptakan naluri (ghorizah) dan kebutuhan anggota tubuh (hajatul udlwiyah) dengan kekhususannya, seperti menciptakan akal untuk berfikir, api berkasiat untuk membakar, terkait dengan biologis Alloh SWT menciptakan naluri lawan jenis (ghorizatuh nau’) , dan juga naluri bertahan hidup (ghorizah baqo’) guna untuk melestarikan kehidupan ini, untuk bertahan hidup atau membela diri, sedangkan hajatul udlwiyah diciptakan rasa haus, lapar, ingin buang air kecil atau besar. Hadirin jama’ah jum’ah hafidhokumuLLOH Kekhususan ini telah ditentukan oleh Alloh SWT dan dijadikan sebagai kebiasaan menurut aturan alam (nidlomul wujud) inilah yang disebut dengan qodar. Manusia diwajibkan mengimani bahwa sesungguhnya qodar itu dari Alloh SWT, melalui perantara kekhususan ini manusia dapat melakukan perbuatan baik dan buruk, yang semuanya itu nantinya akan mendapatkan hisab Beriman kepada qodlo’ dan qodar menyebabkan manusia tidak akan merasa resah terhadap sesuatu yang dialaminya, tidak susah terhadap musibah yang menimpanya dan tidak takabbur ketika mendapatkan anugerah. (تَقْدِيرًا فَقَدَّرَهُ شَيْءٍ كُلَّ وَخَلَقَ) Maka dengan Akal manusia dibedakan dengan hewan. Dan dengan Nafsu pula manusia dibedakan dengan malaikat.

MENGAPA KITA MEMINTA TUHAN YANG BUKAN MILIK KITA?

 

Sering manusia itu bersikap kurang bijak, banyak waktu yang mereka lakukan untuk berdoa pada Tuhan, hanya agar dijadikan yang nomor satu. Menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap event, untuk mengabulkan setiap permintaan hanya karena sebuah kemenangan, entah perebutan tender atau perebutan kursi kekuasaan, atau hanya sebatas ujian. Sadarkah kita? dengan sikap kita meminta pada Tuhan agar dijadikan nomer satu, tidak secara langsung kita telah mendo’akan lawan kita supaya kalah. Sepertinya kurang adil bila kita memohon pada Tuhan untuk menolong kita mengalahkan orang lain. Padahal kemenangan tersebut belum tentu milik kita. Dan mestinya yang kita minta dari Tuhan agar diberi kekuatan saat menghadapi itu semua. Kita berdoa agar di beri kemulyaan, dan menyadari kekurangan dengan rasa percaya diri. Alangkah bijaknya jika kita mengadu pada Tuhan; supaya kita diberi rasa bersyukur terhadap apa yang akan kita perolih (sebuah kemenangan) dan mampu menjaga nikmat tersebut. Dan agar kita diberi kesabaran, lapang dada, jika kenyataannya tidak sesuai dengan keinginan kita (Kalah) serta tidak putus asa. Karena tujuan kita dalam mengarungi kehidupan ini dan menjawab setiap tantangan yang sebenarnya bukanlah untuk mendahului atau mengalahkan pencapaian orang lain. Lebih dari itu, tujuan kita adalah untuk melampaui diri kita sendiri, untuk memecahkan rekor yang telah kita buat, atau poin yang kita perolih pada hari kemarin dengan hari ini.

 مَنْ كانَ يَوْمُهُ خَيْراً مِنْ أمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ مَنْ كان يومه سوأً مِنْ أمْسِهِ فهو خُسْرانٌ مَنْ كان يَوْمُه شرّاً مِنْ أمْسِهِ فهو هالكٌ 

“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari pada hari kemarin, maka mereka tergolong orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dari pada hari kemarin, maka mereka tergolong orang yang merugi. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin, maka mereka tergolong orang yang celaka” Sejauh ini tak banyak manusia yang faham betul arti sebuah kemenangan, sebuah keberhasilan. Seorang pemenang sejati bukanlah mereka yang bangga diri, bukan Messi, bukan pula Roony dan juga bukan Ronaldo yang kesemuanya tak jarang merayakan kemenangannya, dengan meluapkan emosinya sesaat setelah mencetak gool, bahkan terkada merayakannya degan cara mengejek lawan. Tapi pemenang yang sejati adalah mereka yang berjiwa besar, tidak bangga dengan pencapaian. Pemanang sejati bukanlah seseorang yang telah mengalahkan sesuatu, akan tetapi pemenang sejati adalah seseorang yang berani mengalah demi melawan nafsu dan menghinakannya. Anda tau mengapa? Karena di dalam diri kita yang terdalam, kita tahu dan kita faham betul bahwa: Dalam kehidupan ini tak ada yang jauh lebih berharga, tak ada sesuatu yang lebih mulia dari pada kemenangan bersama, kemenangan bagi kita semua, yang terpenting dalam kehidupan ini adalah tolong menolong dalam meraih kemenangan, meski kita harus mengalah . 

Wallahu A’lam bis Showab

Rabu, 15 Mei 2013

KHUTBAH KEDUA



  الخطبة الثانية

الحمد لله مالكُ المُلْكِ وهوعلي كلِّ شئٍ قديرٌ، أشهد أن لا إله إلالله وحده لا شريك له وأشهد أنّ سيّدَنا محمدا عَبْدُهُ ورَسُوْلُه لانبيَ بَعْدَهْ، أَفْضَلُ بَشِيْرٍ وخَيْرُ نَذِيْر، اللهم صل وسلم علي عبدك ورسولك وحبيبك محمدٍ وعلي أله و صحبه أجمعين أمابعد ،

 فياعباد الله ، نُقِل عن بعض العارفين بالله قوله : إن الكيس - الفطن الذكي - مَنْ لاتَزِيدُهُ النِعَمُ إلّا إنْكِسَاراً وذُلّاً وتَوَاضُعاً ومَحَبّةً للمُنْعِم ، وكُلَّمَا جدَّدَ له نعمةً أحْدَثَ لَها عُبُودِيةً وخُضُوعا، فكونوا يا عبادَالله مِمَّنْ لاتَزِيْدُه النِعَمُ إلّاطاعَةً لِلّه ، وإِقْبَالاً عَليه وتَوَجُّهاً إليه ، ولا تكونوا مِمَّنْ أبْطَرَتْهُ النِّعْمَة ، واتَّبَعَ هَوَاهُ فكان مِنَ الْغاوِيْنَ .

 وصلوا علي رسول رب العالمين سيدنامحمدٍالنبِيّ الأمين, وفقدأمركم اللهُ بِذَلِكَ فى كِتابِهِ اْلـمُبِيْن - إنَّ الله ومَلائِكَتَهُ يُصَلّون علي النبي يا ايها الذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما اللهم صل وسلم علي عبدك ورسولك وحبيبك محمدٍ البشير النذير والسراج المنير, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفاءِ الرّاشِدِيْن , سَادَاتِنا ابي بكرٍ وعمرَ وعثمانَ و علِي , وعن بَقِيَّةِ صَحابَةِ رسولِ اللهِ اَجْمَعِين , والتابِعينَ وتابِعِي التّابِعين وعَلَيْنا مَعَهُم وفيهم , برَحمتك يا ارحم الراحمين.

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات, والمسلمين والمسلمات, الاحياء منهم والاموات, انك سميع قريب مجيب الدعوات, يا قاضي الحاجات، يا غافر الذنوب والخطيئات ,يا أرحم الراحمين .

اللهم أعزّالإسلام والمسلمين.(3) وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّين , ودمِّرِ اليَهُدَى وأعوانَهُم من المُسْتَعْمِرِين, وألِّفْ بين قلوبَ المؤمنين وَوَحِّدْ صُفوفَهم, وأصلِحْ قادَتَهم واجْمَعْ كلمتَهم على الحقِّ ياربّ العالمين,

 أللَّهُمَّ يَسِّرْ لَنَا أُمُوْرَنَا مَعَ الرَّاحَةِ لِقُلُوْبِنَا وَأَبْدَانِنَا وَالسَّلاَمَةِ وَالْعَافِيَةِ فِي دِيْنِنَا وَدُنْيَانَا وَكُنْ لَنَا صَاحِبًا فِي سَفَرِنَا وَحَضَرِنَا وَخَلِيْـفَةً فِي أَهْلِـنَا, وَاطْمِسْ عَلَى وُجُوْهِ أَعْـدَائِنَا وَامْسَخْهُمْ عَلَى مَكَانَتِـهِمْ فَلاَ يَسْتَطِيْعُـوْنَ الْمُضِيَّ وَلاَ الْمَجِئَ إِلَيْـنَا.

أللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ مَانَحْنُ فِيْهِ وَمَا نَطْلُبُـهُ وَنَرْتَجِيْـهِ مِنْ رَحْمَتِكَ فِي أَمْرِنَا كُلِّهِ فَيَسِّرْ لَنَا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ سَفَرِنَا وَمَا نَطْلُبُهُ مِنْ حَوَائِجِـنَا وَقَرِّبْ عَلَيْنَا الْمَسَافَاتِ وَسَلِّمْنَا مِنَ الْعِلَلِ وَاْلآفَاتِ وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّـنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .

 ربنا ا تنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار . سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ  وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 عباد الله !! ان الله يامر بالعدل والاحسان , وايتاء ذي القربي وينهي عن الفحشاء والمنكر والبغي , يعظكم لعلكم تذكرون , ولذكر الله اكبر , والله يَعلَم ما تصنعون.

Doa agar dikaruniai Anak Sholih/Sholihah


 Do’a kehamilan (untuk ibu hamil agar dikaruniai anak sholih/sholihah) dibaca setiap sujud sholah.
atau kalau tidak mampu membaca dalam shalat boleh dibaca setiap pagi dan sore sambil mengusap-usap perutnya.

.رَبِّ هَبْ لِى مِنَ الصَّالِحِيْن

 .لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحاً لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الشَّاكِرِيْنَ

.وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيَّا -.رَبِّ إِنِّى أُعِيْذُهُ بِكَ وَذُرِّيَّتَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ وَلَدًا صَالِحاً بَارًّا لِوَالِدَيْهِ قُرَّةَ عَيْنٍ لَهُمَا 

.رَبِّ هَبْ لِى مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً,إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاء.

اللَّهُمَّ ارْزُقْ لَهُ الصَّلاَحَ وَالنَّجَابَةَ وَالذَّكَاءَ وَحِفْظَكَ لَهُ فِيْهِ -.اللَّهُمَّ حَسِّنْ خَلْقَهُ وَخُلُقَهُ يَامُصَوِّرْ يَاحَكِيْم،  اللهمّ يَسِّرْ وِلاَدَتَهُ بحَقِّ  ( ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَة x7) مَعَ السَّلَامَةِ وَالْلُطْفِ وَالْعَافِيَةِ بِجَاهِ خَيْرِ اْلبَرِيَّةِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

 Do’a persalinan (agar peralinannya di permudah) dibaca waktu melahirkan.

 -.حَنَّةْ وَلَدَتْ مَرْيَـمَ , مَرْيَـمُ وَلَدَتْ عِيْسَى, أُخْرُجْ أَيُّهَا الْمَوْلُوْد بِقُدْرَةِ الْمَلِكِ الْمَعْبُوْد -

.اللًّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ, سَهِّلْ وَيَسِّرْ مَاتَعَسَّرْ 

Do’a klimaks: di baca saat klimaks (keluar mani)

 ربِّ وَسِعْتَ كُلَّ شَيْئٍ عِلْماً 

Do’a agar cepat dikaruniai anak:

 وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ 

 Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri[968] dan Engkaulah waris yang paling Baik (Q.S Al Anbiya’ :89)

Minggu, 12 Mei 2013

Ajaran Wafa' (Loyalitas) dalam Pertemanan

 


Sungguh Rosululloh Shollllohu 'Alaihi Wasallam senantiasa mengawasi dan merawat hati kaum muslimin. Menanamkan di sana tanaman-tanaman kesetiaan (al-wafa') dalam setiap kesempatan. Kepada mereka Beliau terus-menerus memperdengarkan petunjuk dan pengarahan. Ini karena wafa' merupakan salah satu konsekuensi dari kecintaan karena Alloh yang menjadi syarat kesempuranaan iman. Dan kiranya sudah tidak diragukan lagi bahwa masyarakat Islam sangat membutuhkan sesuatu yang bisa menguatkan hubungan dan mengikat setiap individu di antara mereka.

Di anatra wafa' adalah berbuat baik (ishthina'ul ma'ruf) yang merupakan sebab utama dan pintu terdekat guna memperkuat hubungan cinta sehingga Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam memberikan dorongan agar dilakukan dan selalu dirindukan serta dicari kesempatan untuk melaksanakannya dengan berbagai model dan bentuk yang dimiliknya yang antara lain seperti berikut ini: Jangan kamu meremehkan sedikit dari kebaikan meski kamu hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri. (H.R. Muslim) Barangsiapa menunjukkan kebaikan maka baginya seperti pahala orang yang melakukan. (H.R. Ahmad Muslim, Abu Dawud dan Turmudzi)

Semua kebaikan adalah sedekah. (H.R. Ahmad Muslim dan Abu Dawud) Barangsiapa yang membawa kebaikan kepadamu maka berikanlah balas jasa. Jika tidak menemukan (apapun ntuk membalas) maka berdoalah untuknya. (H.R. Thobaroni) Alloh senantiasa menolong hamba selama hamba itu mau menolong saudaranya. (H.R. Turmudzi) Dan sebagai wujud perhatian penuh Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam akan kesetiaan pertemanan ini, maka beliau memberikan petunjuk guna mengimpelementasikannya dalam dunia nyata. Petunjuk ini antara lain:

1. Beliau menghidupkan ikatan perasaan dan kesatuan hati di antara para sahabat. Misalnya, Beliau menyuruh agar Sulek Al Ghothofani bangkit dan melakukan sholat di tengah banyak orang sehingga semua mata tertuju ke arahnya dengan pandangan penuh simpati dan kasihan.

2. Beliau membagi tugas di antara mereka hanya dalam urusan seekor kambing yang dipotong di tengah berwisata (rihlah) dan kebetulan beliau sendiri bertugas mengumpulkan kayu bakar.

3. Beliau mengajarkan kepada kita Sholawat Ibrohimiyyah karena memperhatikan dan memandang permohonan Nabi Ibrohim 'Alaihissalam: وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآَخِرِينَ Dan jadikan untuk saya sebutan baik di kalangan orang-orang yang terakhir. (Q.S. Asy Syuaro' : 84) Beliau juga memerintahkan agar kesetiaan mencakup teman-teman akrab orang tua. Beliau bersabda: Sesungguhnya bakti yang paling utama adalah seseorang menyambung teman akrab ayahnya. (H.R. Muslim) 

4. Beliau menyembelih kambing, memotong-motong dan kemudian mengirimkannya kepada teman-teman Khodijah RA. Hal inilah yang sempat membuat Aisyah RA marah karena cemburu dan mengatakan, 'Aku tidak pernah cemburu kepada salah satu isteri Rosululloh Shollalohu 'Alaihi Wasallam seperti aku cemburu kepada Khodijah RA. Aku tidak pernah melihatnya sekalipun, tetapi Rosululloh seringkali menyebutnya." Terkadang Beliau menyembelih kambing, memotong, dan lalu membagi-bagikan kepada teman-teman Khodijah. Terkadang aku berkata, "Sepertinya di dunia ini tidak ada wanita kecuali Khodijah!" 

Beliau lalu bersabda, "Dia begini dan begini dan darinya aku mendapat anak." (H.R. Muslim) Itulah ajaran Islam, wafa' yang tiada bandingnya yang manfaatnya menyeluruh dan bisa dirasakan teman-teman yang jauh, apalagi teman yang dekat. Dan sudah pasti hal ini adalah buah dari pembinaan dan kaderisasi untuk mencetak pribadi yang istimewa dalam anggota jamaah. Perbuatan baik bisa menjaga pelakunya dari kejelekan dan menolak darinya bencana dan keburukan. Jadi, dengan kebaikan maka pelaku kebaikan berada dalam benteng yang kokoh dan tempat perlindungan yang aman. Pemilik kebaikan di dunia adalah pemilik kebaikan di akhirat. Nama mereka dikenal dan dipanggil di hadapan banyak mata seperti disabdakan Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam: Pekerjaan baik bisa menjaga dari mati su'ul khotimah, afat dan kerusakan. Pemilik kebaikan di dunia adalah pemilik kebaikan di akhirat. (H.R. Hakim dalam Al Mustadrok) 

Muslim adalah saudara muslim; tidak mendzolimi, dan tidak pula menghinakannya. Barangsiapa dalam kebutuhan saudaranya maka Alloh ada dalam kebutuhannya. Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari orang beriman maka Alloh pasti menghilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa menutupi seorang muslimmaka Alloh pasti menutupinya pada hari kiamat. (H.R. Muslim)

Maksud tidak menghinakannya adalah tidak menjatuhkannya dalam kehancuran serta memberikan pertolongan kepadanya. Pintu-pintu dan jalan kebaikan begitu banyak dan luas yang tiada kewajiban bagi kita kecuali melakukannya dengan semangat, ikhlas dan jujur. Sebab, penerimaan (qobul) hanya didapatkan dengan kejujuran bersama Alloh dan bila sudah didapatkan maka yang kecil menjadai besar, yang sediit menjadi banyak, dan yang terakhir menjadi dahulu. "Itulah anugerah dari Alloh dan cukup Alloh sebagai Dzat Yang Mencukupi.

" Kaum muslimin dalam pandangan Islam laksana bangunan yang batu batanya saling bertaut dan menyatu. Para kader umat ini adalah tak ubahnya seperti bata-bata yang dimilikinya harus kuat dan kokoh, bersatu, dan menyatu dalam keterpautan yang kuat. Jika tidak, berarti dalam kondisi akan roboh. Karena inilah Islam membalut bata-bata tersebut dengan balutan yang kuat berupa semen kekuatan ruhiyyah dengan harapan keterikatan dan keterpautan bisa dijaga dan dilestarikan demi langgengnya kekuatan bangunan kaum muslimin dan tidak tergoyahkan oleh kejadian dan tantangan apapun. Dikatakan: Wahai para putera Islam, sungguh kita semua adalah satu tubuh. Jika satu anggota mengeluh sakit maka seluruhnya merasakan panas.

Sabtu, 11 Mei 2013

MINTA 1% DIBERI 100%



 فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ 

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S Ar Rahman :13) 

Sebagai seorang muslim yang terbina hendaklah kita menyadari, dan meningkatkan mutu ketakwaan kita dan menjadikan Allah sebagai tujuan hidup, semua ini sangat ringan untuk diucap, namun tidak mudah melakukannya. Betapa banyak orang yang fasih mengatakan takwa, namun prilakunya jauh dari kata-kata yang dia ucapkan. Kita akan lebih mudah memahami persoalan ini dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari ketika telah tumbuh jiwa syukur dalam hati kita. Dengan memahami betapa pemurahnya Allah terhadap diri kita, betapa banyaknya anugrah yang telah dicucurkan pada kita, dengan bersyukur beban seberat apapun insya Allah akan terasa ringan dipikulnya. 

Allah telah menciptakan dan memelihara kita dengan limpahan karunia-Nya. Allah yang mendetakkan jantung kita, Allah pula yang menakdirkan kita menjadi manusia seperti ini. Allah telah membentuk dan memformat kita dengan rupa dan keadaan yang sebaik-baiknya. 

Sering kali kita melupakan kemurahan Allah, setiap kita minta kepada-Nya agar dihilangkannya satu beban, betapa Allah justru menghilangkan beberapa beban. Kita minta kesembuhan sakit mata kita, Allah pun menyembuhkannya dan memberi kesehatan pula anggota tubuh kita yang lain, Kita meminta satu permintaan, tapi Allah mengkabulkan permintaan tersebut dengan menyertakan 99 pemberian tanpa kita minta. lalu nikmat mana yang hendak kita ingkari?. 

Kita melakukan satu kebaikan Allah pun membalasnya dengan sepuluh pahala kebaikan, bahkan lebih. Tapi dikala kita melakukan satu keburuk, Allah hanya membalasnya denga satu keburukanpul, atau malah mengampuninya. Lalu nikmat mana yang hendak kita ingkari? 

Allah berfirman dalam sebuah Hadis kudsi; “Yabna Adam, selama engkau masih mau memohon dan berharap pada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosa yang ada pada dirimu, Aku tidak peduli (Sebanya apa dosa itu). Yabna Adam andai saja dosamu sebanya awan yang ada di langgit, lalu engkau masih mau meminta ampun terhadap-Ku, maka Aku akan mengampuninya. Yabna Adam andai saja engkau mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, lalu engkau menemui Aku tanpa mensekutukan Aku, maka Aku akan berbuat sama terhadapmu dengan sepenuh pengampunan” (dikeluarkan oleh At Tirmidzi, Juz: 5 Hal: 3540) 

Di Hadis yang lain Allah berfirman “Satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat atau lebih, satu kejelekan akan dibalas dengan satu kejelekan atau Aku ampuni, barang siapa yang menemui-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi maka Aku akan berbuat sama terhadapnya dengan sepenuh pengampunan” (di keluarkan Imam Ahmad juz: 5 Hal: 155, kedudukan Hadis Hasan). 

Coba renungkan pula dikala kita lapar, Allah yang menyediakan makan. Di kala lelah, Allah memberi kita rasa kantuk, lalu kita tertidur dengannya. Tatkala tidur, kita tak berdaya, dan Allah mengutus Malaikat-Nya agar menjaga dan menentramkan tidur kita, lalu nikmat mana yang hendak kita ingkari?. 

Andai bukan Allah, siapa lagi yang memberi rasa nyenyak ketika tidur? Allah-lah yang telah menjaga segala-galanya. Sungguh, Dia tidak pernah lalai dalam mengurus kita semua. Dia memberi kita kecerdasan, walaupun bisa jadi kita jarang mengingat-Nya. Allah pulalah yang memberi keimanan kepada kita. Di kala sebagian manusia hidup dengan tidak mengenal Islam, tidak mengenal agama. Dia-lah memudahkan punggung kita rukuk, dan Dia tundukkan kening kita untuk melakukan sujud. Sungguh, nikmat mana lagi yang akan kita dustakan? 

Allah memberi kepada kita nikmat yang amat berharga. Dia berkenan menutupi aib-aib kita, sehingga orang lain tidak tahu siapa diri kita yang sebenarnya. Orang lain masih ada yang menunduk dan menghormat kepada kita, padahal kita sendiri sangat tahu siapa sebenarnya diri kita ini. Allah tidak membeberkan catatan-catatan buram itu, malah Dia memberi kesempatan pada kita untuk bertaubat. Dikala orang bergelimpang dengan dosa, kita malah dituntun agar bisa untuk bertaubat. Dari mana semua itu bermula? Tidak ada jawaban lain selain karena kemurahaan Allah saja. Maka alangkah nistanya andai kita sudah dijamu lahir-bathin, tenggelam dalam samudra nikmat yang tak bertepi, lalu kita mengkufuri semua kebaikan itu. Sudah sewajarnya jika kita harus membulatkan tekad meniti hidup semata-mata hanya untuk Allah. Tetes-tetes keringat keluar dari tubuh kita adalah untuk Allah. Allah-lah tujuan kita, Allah pemberi yang tidak pernah putus kemurahan-Nya. Dia ampunkan dosa-dosa melimpah yang selama ini kita perbuat. Cukuplah Allah menjadi sebaik-baik Wakil, sebaik-baik Pelindung dan Penolong. 

Jadi sebenarnya apa-apa yang kita pinta dari Allah hanyalah 1% saja dari 100% pemberian-Nya, dan yang 99% adalah pemberian Allah kepada kita secara Cuma-Cuma, itu adalah kemurahan-Nya, agar manusia sekalian mau bersyukur. Lalu nikman mana yang hendak kita kufuri?. 

“Apabila kamu diberi sesuatu tanpa kamu minta maka pergunakanlah (makanlah) dan sedekahkanlah sebagiannya (sebagai ungkapan rasa syukur)”. (HR. Muslim) 

Wallahu A’lam Bis Showab.

Jumat, 10 Mei 2013

KOLABORASI MANUSIA DAN SETAN MENYERU KE NERAKA JAHANAM

Belakangan ini kita melihat gejala perpecahan menimpa sekian banyak partai politik dan ormas. Gejala ini banyak disebabkan oleh perbedaan pemikiran dan pandangan diantara individu-individu mereka. Ketika perbedaan itu menggumpal dan tidak ada titik temu, maka terjadilah sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan visi lahirnya partai politik dan ormas tersebut, yaitu perpecahan. Kita tentu tidak menginginkan perpecahan terjadi pada jamaah dakwah kita. Untuk mengantisipasi hal itu, tauhidul fikroh (penyatuan pemikiran) harus senantiasa di bina diantara individu-individu jamaah. Hindari ikhtilaf yang menjurus kepada pertentangan, percecokan, perceraian, dan perpecahan. Hal ini sering kita peringatkan agar tidak ada yang memiliki pemikiran yang menyimpang, berdiri sendiri, atau mbalela, keluar dari arus pemikiran jamaah yang kita telorkan. Dalam hal ini, tansiq atau tandzim kejam’ahan adalah acuan kita. Tauhidul fikroh merupakan sumber kekuatan sebuah jamaah. Dalam tubuh manusia, tauhidul fikroh ibarat nyawa. Sebuah jamaah betapapun besar dan memiliki banyak pengikut, tidak akan banyak berarti, bila tidak di tompang oleh tauhidul fikroh masing-masing individu di dalamnya. Terbentuknya jama’atul muslimin di kota Madinah duhulu rasanya hanya satu khayalan belaka seandainya tidak ada tauhidul fikroh di kalangan sahabat atas ide-ide dari pemimpin mereka, Rasulullah saw. Ada dua aspek pemikiran yang harus kita satukan pikiran, arah, persepsi, dan pandangan kita didalamnya, yaitu aspek fiqh (tauhidul fikroh fiqhiyyan) dan aspek politik (tauhidul fikrah siyasiyan). Tauhidul fikroh dengan demikian tidak hanya dalam hal norma-norma agama yang sifatnya baku, namun juga mencakup cara pandang terhadap dinamika politik yang selalu berubah dari waktu ke waktu, yang diperlukan ijtihad baru di dalamnya, yang semuanya mengacu kepada dalil-dalil syara’. Kesatuan pemikiran kita dalam dua hal ini merupakan cermin persatuan hati dan persatuan perasaan diantara kita. Penyeru Ke Neraka Jahanam Pemikiran yang harus kita persepsikan secara sama diantaranya ialah membentengi diri sekaligus melawan arus sekularisasi dengan segala jenisnya yang diperkirakan akan menjadi trend di masa-masa yang akan datang. Paham ini berupaya memisahkan persoalan agama (syariat) dari wilayah negara dan kehidupan sehari-hari. Padahal Islam adalah agama sekaligus panduan bagi bernegara (al-islam din wa daulah). Paham yang mendistorsi syariat Islam ini anehnya banyak di propagandakan oleh tokoh-tokoh dari kalangan umat Islam sendiri. Mereka mempergunakan dalil-dalil agama untuk membenarkan propagandanya. Tersebarnya paham sekular di kalangan umat Islam agaknya tak lepas dari peran serta mereka. Sebagian tokoh dari kalangan umat Islam memandang bahwa negara harus dilepaskan dari campur tangan agama. Mereka tidak menginginkan syariat islam melembaga pada negara. Agama, menurunya, adalah urusan pribadi dan keluarga, sedeang agama adalah wilayah publik yang plural. Umat Islam, serunya, harus menjadi umat yang terbuka dan toleran, memahami agama tidak saja secara tekstual dan literal, melainkan kontekstual, karena masyarkat keberadaanya majemuk. Mereka mencap buruk orang Islam yang fanatik dan komit dengan Islam sebagai muslim radikal, ekstrim, dan tradisional. Mereka membiarkan kema’siatan dan kekufuran merajalela atas nama hak asasi, padal ridlo terhadap kekufuran hakikatnya adalah sesuatu kekufuran juga. Mereka memandang bahwa tata kehidupan sekular-lah yang dicita-citakan oleh para pendahulu. Terbukti, menurut mereka, para pendahulu sepakat membuang Piagam Jakarta yang telah mereka rumuskan dari perundang-undangan negara. Propoganda semacam ini, karena dibungkus dengan retorika dan dalih-dalih keagamaan disamping karena oleh orang yang ditokohkan, seakan-akan tampak manis dan benar padahal berbisa dan menggelincirkan. Propoganda ini telah melepas keterikatan sebagaian umat Islam pada ajaran agamanya. Propoganda ini juga mendatangkan nilai-nilau universitas syariat Islam. Propaganda ini di sambut gembira oleh kalangan non-Islam, karena menguntungkan bagi mereka, apalagi di alukan oleh orang dalam umat Islam sendiri. Mereka dengan begitu bisa memukul umat Islam dengan meminjam tangan umat Islam sendiri. Rasulullah saw memprediksikan bahwa akan muncul propaganda-propaganda yang menjerumuskan manusia ke neraka jahanam. Propadangan itu menurut beliau, dilakukan oleh kalangan umat Islam sendiri dan mempergunakan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits. Beliau menyatakan bahwa serbuan propaganda itu merupakan fitnah beragama terbesar yang menimpa umat islam di akhir zaman. Sabda beliau sebagaimana diceritakan sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman (shohibis sirr): Ada orang-orang yang menyeru ke neraka jahanam barang siapa menyambut seruan mereka, maka dia akan dilemparkan oleh mereka ke neraka jahanam. Aku (hudzaifah) bertanya, “terangkanlah kepada kami ciri-ciri mereka”. Beliau bersabda,”mereka sekulit dengan kami dan lisannya berdalih dengan dalih kami (Al Qur’an dan Hadits). “apa yang engkau perintahakan bila kami menjumpai hal itu.?” “kamu harus bergabung dengan jamaatul muslimin berikut imamnya”. “bila mereka tidak memiliki jamaah dan tidak juga memiliki imam ?”. “tanya Hudzaifah mengantisipasi. Beliau bersabda, “berlepaslah kamu dari semua kelompok (para penyeru) itu, walaupun kamu harus menggigit akar pohon sampai kamu mati.”(H.R. Bukhari muslim) Propoganda ke neraka jahannam tersebut menjadi fitnah beragama yang terbesar didinding fitnah-fitnah beragama sebelumnya karena fitnah ini: 1) mampu menyerang langsung ke pusat sistem kepercayaan umat Islam. 2) aslinya bukan datang dari dalam Islam tapi dari luar Islam lalu diselundupkan secara paksa pada Islam (sekularisasi misalnya adalah berasal dari gerakan dalam agama Kristen). Dan 3) itu terjadi di saat kaum muslimin di dunia mengalami perpecahan karena tidak adanya insintusi Daulah Islamiyah. Tidak Terperosok pada Lubang yang Sama Dua Kali Melanjutkan tradisi Islam di masa-masa kerajaan, tokoh-tokoh umat Islam yang mendirikan negara Indonesa telah berusaha meletakkan dasar-dasar bernegara yang baik bagi negeri ini yang juga telah disetujui oleh kelompok-kelompok lain. Dasar-dasar bernegara itu seperti: “negara berdasarkan atas ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya (selanjutnya disebut Piagam Jakarta),” “presiden ialah orang Indonesia asli dan beragama Islam,” dan digunakannya kata”mukaddimah”bukan”pembukaan” atau “preambule”. Dasar-dasar ini telah dirumuskan pada sidang-sidang BPUPKI yang alot pada bulan juni 1945. Piagam Jakarta sebagai kompromi politik ditandatangani 9 orang, yaitu Sukarno, Hatta, Maramis (kristen), Abikusno Cokrosuyoso (Syarikat Islam), Haji Agus Salim (Islam), Ahmad Subarjo, Abdul Kahar Muzakkir (Muhammadiyah), Abdul Wahid Hasyim (NU), dan Muhammad Yamin. Namun, pada sidang PPKI tanggal 8 Agustus 1945, Piagam jakarta dicoret, sekaligus disusun pula rumusan apapun yang berbau Islami. Pada peristiwa pencoretan itu tidak ada satupun wakil Islam yang menandatangani piagam jakar diundang, kecuali Abdul Wahid Hasyim. Itu pun putra KH.Hasyim Asy’ari yang waktu itu baru berusia 32 tahun ini tidak hadir karena dalam perjalanan pulang ke Jawa Timur. (Piagam Jakarta,Endang Saifudin Anshari:52). Sementara wakil umat Islam yang hadir dalam sidang PPKI adalah Ki bagus Hadikusumo (Muhamadiayah), Kasman Singodimejo (Muhammadiyah,komandan PETA), dan M. Hasan (Aceh). Kasman Singodimejo diundang baru pagi hari itu. Ketiganya diminta dengan sangat dan bujuk rayu oleh hatta untuk toleransi dan berkorban (mencatat piagam jakarta) demi keutuhan bangsa dan agar kaum kristen tidak merasa di diskriminasi (Dosa-dosa politik,Firdaus A.N: 71) Awalnya bermula dari opsir jepang.la sore hari,tanggal 17 agustus 1945, mendatangi Hatta dan membawa pesan dari orang-orang Katholik dan Protestan di Indonesia bagian Timur bahwa mereka keberatan dengan dasar-dasar negara yang berbau Islami. Bila diteruskan juga apa adanya, maka mereka mengancam lebih suka berdiri di luar negara Indonesia. Atas dasar ini bencana pencoretan itu berawal. Padahal siapa nama opsir itu Hatta tidak mengenal dan bagaimana opsir Jepang ini begitu cepat membawa pesan dari kawasan Indonesia bagian timur, sedang baru beberapa jam saja proklamasi dibacakan, ini juga patut dipertanyakan. Pencoretan Piagam Jakarta yang tergesa-gesa sesungguhnya syarat dengan gerak tipu dan penelikungan terhadap umat Islam. Umat Islam ditinggalkan.Pencoretan Piagam Jakarta juga sarat dengan gertakan dan ultimatum dari kalangan Kristen dan Jepang. Umat Islam menjadi korban dari toleransi dan ketidaktegasannya. Pada saat itu terjadilah apa yang disebut kapitulasi, yaitu penyerahan kalah ummat Islam kepeda musuh-musuhnya. Ketika proses awal negeri ini buram maka akhirnya buramlah proses-proses berikutnya hingga kini. Peristiwa itu adalah sejarah. Jangan lupakan sejarah. Kenali sejarah itu agar tidak terjadi pengulangan kesalahan dua kali pada tempat yang sama. Proses pengesahan UU Sisdiknas beberapa waktu lalu rasanya juga hendak mengulang peristiwa Piagam Jakarta, sarat dengan ultimatum pada penelikungan yang akan berakhir kerugian, kalau saja umat Islam tidak tegas mengawalnya. Orang beriman tidak boleh tersengat dalam satu lubang dua kali. Sabda Rasulullah saw: Orang beriman tidak tersengat dua kali dalam satu lubang. (Q.S. Bukahari Muslim) Mewaspadai Kolaborasi Manusia Dan Setan Di dalam gerakan penyesatan, setan biasa mengambil rekanan dari kalangan manusia. Setan mengeluarkan bisikan-bisikan jahatnya kepada manusia. Setelah manusia terperangkap bisikan setan, maka jadilah dia sebagai mitra kerja setan. Apa yang keluar dari lidah manusia itu kemudian adalah suara setan. Apa yang dilakukannya itu lalu adalah kelakuan setan. Ia ibarat menjadi perantara (makelar) setan dalam menyesatkan manusia, walaupun tanpa dia sadari. Karena bisikan jahat setan sifatnya halus dan samar. Allah swt berfirman: `ÏB Ìhx© Ĩ#uqó™uqø9$# Ĩ$¨Ysƒø:$# ÇÍÈ “Ï%©!$# â¨Èqó™uqム†Îû Í‘r߉߹ ÄZ$¨Y9$# ÇÎÈ z`ÏB Ïp¨YÉfø9$# Ĩ$¨Y9$#ur ÇÏÈ Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia. (Q.S. An-Naas: 4-6) Dengan kolaborasi (kerja sama) setan dan manusia ini, program penjerumusan manusia ke neraka tampak berjalan mulus. Hal ini terbukti dengan dijumpainya sekian banyak penyeru (propagandis) ke neraka jahanam yang justru berasal dari dalam komunitas kaum muslimin sendiri, berstatus tokoh, dan fasih dalam mempergunakan dalil-dalil agama. (walau tidak pada tempatnya), sebagaimana prediksi Rasulullah saw di atas. Mengenai pengaruh bisikan-bisikan jahat setan, tingkatan manusia berbeda-beda. Ada yang sedikit saja dari jiwanya telah dipengaruhi setan, ada yang separuhnya, dan ada yang seluruh jiwanya telah dikuasai setan. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menyimpulkan bentuk-bentuk kejahatan bisikan setan menjadi enam tingkatan (dimulai dari tingkatan yang terberat), yaitu: 1) jahatnya kekufuran dan syirik (syarrul kufri was syirki). Kejahatan ini adalah yang paling dikehendaki oleh setan dari manusia, karena kekufuran dan syirik menutup manusia dari masuk surga. 2) Jahatan perilaku bid’ah (syarrul bid’ah). Perilaku bid’ah menjadi pintu masuk bagi kekufuran dan syirik. Bahaya bid’ah hakikatnya adalah bahaya bagi agama. Ia bahaya yang dapat menjalar ke mana-mana. Ia dosa yang bertaubat di dalamnya sulit diterima. 3) Dosa-dosa besar (al-kabair) dengan segala ragam dan jenisnya. Setan sangat loba di dalam menjatuhkan manusia pada dosa-dosa besar, apalagi bila manusia itu statusnya adalah orang alim nan ahli ibadah. Kita bisa memperhatikan kisah Barsesa. 4) Dosa-dosa kecil (ash-shaghair). Kadangkala setan menggoda manusia agar melakukan dosa-dosa kecil sampai manusia itu memandang remeh dosa-dosa kecil itu. Sementara dosa-dosa kecil bila dilakukan terus-menerus dan dipandang remeh jadilah ia bahaya yang besar. Orang yang berbuat dosa besar sekali dan ia menyesali lebih baik daripada orang yang biasa melakukan dosa kecil dan ia memandang ringan kelakuannya itu. Dosa kecil bila berhimpun maka ia akan berubah menjadi dosa besar. 5) Kesibukan manusia dengan hal-hal mubah yang tidak ada pahala dan dosa di dalamnya. Waktunya diarahkan setan agar berlalu sia-sia, tanpa ada pahala di dalamnya. 6) Kesibukan manusia dengan kegiatan-kegiatan yang tidak penting dan tidak mendesak untuk dilakukan, sementara ada kegiatan-kegiatan yang bernilai afdhol (mendesak dan penting). Bila manusia melakukan enam hal di atas dengan segala tingkatannya, hal itu merupakan petunjuk bahwa bisikan jahat setan (yang selalu bekerja sama dengan manusia) telah menguasai dirinya dengan segala tingkatannya. Hati dan pikirannya dikendalikan setan. Kita berlindung kepada Allah dari bisikan-bisikan jahat setan. Menghadapi kolaborasi setan dan manusia dalam program penyesatan, kita harus bersikap mawas diri dan berhati-hati di samping harus meningkatkan ketajaman firasat yang kita ikatkan dengan kaidah-kaidah yang ditetapkan syariat Islam. Firman Allah swt : žcÎ) šúïÏ%©!$# (#öqs)¨?$# #sŒÎ) öNåk¡¦tB ×#Í´¯»sÛ z`ÏiB Ç`»sÜø‹¤±9$# (#r㍞2x‹s? #sŒÎ*sù Nèd tbrçŽÅÇö7•B ÇËÉÊÈ Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was (bisikan jahat) dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (Q.S. Al-A’raaf: 201)

BUAH FANATISME PARTAI ADALAH NERAKA

ليس مِنّا مَنْ دعا إلى عصبيّة, وليس مِنا مَن قاتل على عصبيّة, وليس مِنا مَن مات على عصبيّة “Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada fanatisme kesukuan, Bukan termasuk golongan kami orang yang berperang demi fanatisme kesukuan, Bukan termasuk golongan kami orang yang mati atas nama fanatisme kesukuan” Pernahkah terpikir dalam benak kita, bahwa saat ini kita dalam anugerah terindah yaitu dalam ajara islam, kita dalam tengah-tengah anugerah yang paling agung yaitu agama islam, kita dalam anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang maha bijak sana, dimana lewat Nabi-Nya Allah mengajarkan kita hidup damai, kasih sayang, tidak fanatik terhadap satu suku, golongan, etnis. Seluruh jenis manusia yang ada di muka bumi ini berkedudukan sama, sebagai khalifah yang bertugas memakmurkan kehidupan. Islam melarang yang namanya fanatisme, apapun bentuknya. Bahkan Islam pun mencela “Qotzma” sebagai “sang pahlawan neraka”. Adalah Sahabat Nabi yang harum namanya dalam kalangan pasukan islam saat itu, beliau adalah “Primadona perang”. Tidak seorang pun di antara sahabat yang dapat menandingi kehebatan Qotzman. Tapi sayang beliau berperang tidak untuk mengagungkan kalimah Allah atau atas nama agama Islam, tapi sebaliknya beliau berperang menurut Rasulullah S.A.W. sebelum dia mati, Qotzman mengatakan, katanya, “Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak karena itu, aku tidak akan berperang.” Alkisah; Setelah berjihad dalam perang Uhud, Nabi Muhammad dan para sahabat telah berkumpul dan membincangkan tentang pertempuran yang telah lewat itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di dalam benak mereka. Dalam perbincangan itu, mereka sangat kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka, yaitu Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor harimau lapar yang ingin terus memangsa musuh. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah bibir di kala itu. Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, “Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka.” Lalu pertanyaannya bagaimana dengan realita yang ada pada bangsa kita ini ?. Sebagaimana kita lihat pada setiap kampanye Pemilu di zaman Orde Baru yang selalu menelan korban jiwa dan harta sebagai akibat dari fanatisme buta terhadap sebuah partai. Demikian pula halnya pada Pemilu yang akan dilaksanakan pada tahun mendatang, dimana setiap partai politik peserta Pemilu akan bersaing guna mencari dukungan masyarakat yang sebesar-besarnya ketika masa kampanye mulai berjalan, maka masalah fanatisme akan muncul kembali, potensi terjadinya konflik antar pendukung partai sangat besar. Lalu bagaimana dengan korban-korban yang ada, apakah mereka lebih mulia dari pada Qotzman?. Marilah kita berfikir sejenak, kita merenung sesaat.