Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya
Dua rakaat sebelum shalat subuh sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Nilai dua rakaat (sebelum subuh) ini, sebagaimana pesan Rasulullah saw lebih baik dari pada jagad seisinya.
ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها
Dua rakaat shalat fajar lebih baik dari dunia seisinya.
Banyak sekali istilah yang digunakan untuk menunjukan dua rakaat sebelum shubuh. Dari redaksi hadits tersebut sebagian ulama mengatakannya shalat sunnah fajar. Adapula yang menamainya sebagai shalat sunnah subuh karena dilakukan sesebelum shalat subun. Ada pula yang mengatakan shalat sunnah barad mungkin karena dilaksanakan ketika hari masih dingin. Ada pula yang menamakan shalat sunnah ghadat yaitu shalat sunnah yang dilakukan pagi-pagi sekali.
Oleh karena itu dalam Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi memperbolehkan niat shalat dua rakaat subuh ini dengan berbagai macam istilah tersebut. Misalkan ushalli sunnatal fajri rok’ataini ada’an lillahi ta’ala. Atau boleh juga ushalli sunnatal barodi rok’ataini ada’an lillahi ta’ala sunnatas subhi, dan seterusnya. Atau boleh juga yang lebih lengkap adalah
اُصَلِّيْ سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Usholli sunnatas shubhi rok'ataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi ta'aala.
Di samping itu yang harus diperhatikan adalah anjuran untuk tidak berlama-lama dalam shalat, mengingat predikat shalat ini adalah shalat sunnah. Walaupun nilainya lebih berharga daripada dunia seisinya.
Selain itu alasan kebergegasan dua rakaat ini adalah mengikuti Rasulullah saw (liitba’I sunnatir rasul) yang cukup membaca surat al-Kafirun dalam rakaat pertama (setelah al-fatihah) dan al-Ikhlash (setelah al-fatihah)pada rakaat kedua. Atau membaca Alam Nasyrakh (surat al-Insyirakh) pada rakaat pertama dan Alam Taro (Surah al-Fiil) pada rakaat ke dua.
Secara praktis, tersebut pula dalam Nihayatuz zain anjuran untuk membaca wirid khusus setelah dua rakaat sambil menunggu shalat subuh. Bacaan itu adalah (1) Ya Hayyu Ya Qayyum La Ilaha Illa anta, 40 kali. (2) Surat Al-Ikhlas, 11 kali (3) Surat Al-Falaq, 1 kali (4) Surat An-Nas, 1 kali dan (5) Subhanallah wa Bihamdihi, Subhanallahil Adhim, Asytaghfirullah, 100 kali.
Demikianlah keterangan dua rakaat sebelum shalat subuh yang menurut sebagian ulama dikategorikan sebagai rawatib (sebagaimana shalat qabliyah lainnya) yang dilaksanakan sebelum shalat subuh
Pastikan hari-hari anda lebih bermanfaat dengan kami, dan jadilah bijak setelah mengunjungi blog kami. (Mohammad Zajery el Nuri)
Translate
Minggu, 24 Februari 2013
DUA RAKAAT SEBELUM SHUBUH MENGALAHKAN DUNIA SEISINYA
Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya
Dua rakaat sebelum shalat subuh sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Nilai dua rakaat (sebelum subuh) ini, sebagaimana pesan Rasulullah saw lebih baik dari pada jagad seisinya.
ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها
Dua rakaat shalat fajar lebih baik dari dunia seisinya.
Banyak sekali istilah yang digunakan untuk menunjukan dua rakaat sebelum shubuh. Dari redaksi hadits tersebut sebagian ulama mengatakannya shalat sunnah fajar. Adapula yang menamainya sebagai shalat sunnah subuh karena dilakukan sesebelum shalat subun. Ada pula yang mengatakan shalat sunnah barad mungkin karena dilaksanakan ketika hari masih dingin. Ada pula yang menamakan shalat sunnah ghadat yaitu shalat sunnah yang dilakukan pagi-pagi sekali.
Oleh karena itu dalam Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi memperbolehkan niat shalat dua rakaat subuh ini dengan berbagai macam istilah tersebut. Misalkan ushalli sunnatal fajri rok’ataini ada’an lillahi ta’ala. Atau boleh juga ushalli sunnatal barodi rok’ataini ada’an lillahi ta’ala sunnatas subhi, dan seterusnya. Atau boleh juga yang lebih lengkap adalah
اُصَلِّيْ سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Usholli sunnatas shubhi rok'ataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi ta'aala.
Di samping itu yang harus diperhatikan adalah anjuran untuk tidak berlama-lama dalam shalat, mengingat predikat shalat ini adalah shalat sunnah. Walaupun nilainya lebih berharga daripada dunia seisinya.
Selain itu alasan kebergegasan dua rakaat ini adalah mengikuti Rasulullah saw (liitba’I sunnatir rasul) yang cukup membaca surat al-Kafirun dalam rakaat pertama (setelah al-fatihah) dan al-Ikhlash (setelah al-fatihah)pada rakaat kedua. Atau membaca Alam Nasyrakh (surat al-Insyirakh) pada rakaat pertama dan Alam Taro (Surah al-Fiil) pada rakaat ke dua.
Secara praktis, tersebut pula dalam Nihayatuz zain anjuran untuk membaca wirid khusus setelah dua rakaat sambil menunggu shalat subuh. Bacaan itu adalah (1) Ya Hayyu Ya Qayyum La Ilaha Illa anta, 40 kali. (2) Surat Al-Ikhlas, 11 kali (3) Surat Al-Falaq, 1 kali (4) Surat An-Nas, 1 kali dan (5) Subhanallah wa Bihamdihi, Subhanallahil Adhim, Asytaghfirullah, 100 kali.
Demikianlah keterangan dua rakaat sebelum shalat subuh yang menurut sebagian ulama dikategorikan sebagai rawatib (sebagaimana shalat qabliyah lainnya) yang dilaksanakan sebelum shalat subuh
Rabu, 13 Februari 2013
HARI KASIH SAYANG VERSI RASULULLOH
HARI KASIH SAYANG ISLAM
هذا ليس يوم الملحمة ,
ولكنّ هذا يوم المرحمة , إذْهبوا فأنـتـم الطلاق
“Hadza laisa yaumul malhamah,
walakinna hadza yaumul marhamah, idzhabuu fa antumut thulaqoo..”
“…..Wahai manusia sekalian,
hari ini bukanlah hari pembantaian, melainkan hari ini adalah HARI KASIH
SAYANG, dan kalian semua merdeka, kembalilah ke keluarga kalian masing-masing, maka
kalian semua dibebaskan….”
Masih
ingatkah sejarah Fathu Makkah?, tersirat jutaan makna dalam fathu makkah, yang
diabadikan dalam Al Qur’an sebagai fathu mubiin (kemenangan yang nyata, red)
terjadi tepat pada bulan suci Ramadhan. Tepatnya tanggal 10 Ramadhan tahun ke 8
Hijriyah. Pasukan islam dari madinah merebut kembali kota makkah dari Kuffarul
Quraisy dan mendapatkan izin dari Alloh untuk memperolih kemenangan yang
gilang-gemilang. Ribuan tawanan musuh masing-masing menundukkan kepala,
menyesali apa yang telah diperbuatnya, menanti keputusan atas dirinya, dalam
hatinya bergumam “selamatkah aku atau mungkin kepalaku akan lepas dari
tubuhku”, selanjutnya Rasululloh berpidato kepada ribuan tawanan perang tersebut
: “Wahai orang-orang Quraisy, apa yang kalian bayangankan tentang apa yang akan
aku lakukan terhadap kalian?” Merekapun menjawab : “Kebaikan, kamu adalah
saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia”. Lalu Beliau bersabda, “Aku
sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada
hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha
penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas”.
Dan lanjut
Beliau “…..Wahai manusia sekalian, hari ini bukanlah hari pembantaian, melainkan
hari ini adalah HARI KASIH SAYANG, dan kalian semua merdeka, kembalilah ke
keluarga kalian masing-masing, maka kalian semua dibebaskan….” Kaffir Quraisy
yang sebelumnya ketakutan melihat sosok Rasululloh saw bersama ribuan
sahabatnya dan khawatir kalau Rasulullah akan membalas dendam atas kelaliman
mereka selama ini, sekarang merasa kagum dan takjub akan kemurahan hati
Rasululloh saw Mendengar pidato itu, pasukan Islam shock berat. Berjuang hidup
mati, diperhinakan dan dilecehkan sekian lama oleh kuffar Quraisy,
bertahun-tahun keringat mereka kucurkan, darah mereka alirkan, harta benda yang
tak sedikit pun mereka tanggalkan, bahkan sanak saudara tercinta pun rela
mereka lepaskan demi medan juang Islam. Namun, ketika kemenangan sudah ada di
genggaman, para tawanan musuh malah dibebaskan. Itupun belum cukup, Rosululloh
memerintahkan ghonimah (Harta rampasan perang) berbagai harta benda dan ribuan
unta di bagikan kepada para tawanan. Sementara pasukan Islam tidak memperolih
apa-apa. Sehingga mengeluh dan memproteslah sebagian pasukan Islam pada
Rasululloh saw. Merekapun dikumpulkan dan Rasululloh bertanya pada mereka
sekalian : “Sudah berapa lamakah kalian bersahabat denganku ?” Mereka menjawab;
“sekian tahun ya Rasululloh…” “Selama kalian bersahabat denganku, apakah
menurut hati kalian, aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian ?” .
tentu saja sanggat mencintai, jawab mereka. Rasululloh mengakhiri pertanyaannya
; “Kalian memilih mendapatkan unta atau memilih cinta-ku pada kalian ?”
Menangislah mereka, karena cinta Rasululloh kepada mereka jauh lebih besar
bahkan bila dibandingkan dengan bumi, langit, beserta seluruh isinya sekalipun.
Itulah salah satu diantara sekian banyak kejadian sejarah yang diizinkan Alloh
berlangsung di muka bumi.
HARI
KASIH SAYANG versi Rasululloh saw, yang mengandung dimensi-dimensi nilai yang
tak terkirakan kadar kemuliaan sosialnya. Eratnya ikatan kasih sayang, strategi
cinta yang tak terbatas. Strategi yang beliau terapkan bukan “Bagaimana
memusnahkan musuh setuntas-tuntasnya” akan tetapi strategi beliau adalah
“Meminimalisir korban sampai sedikit mungkin”.
Yaumul
Marhamah bukanlah hari kemenangan atas musuh, Yaumul Marhamah melainkan HARI
KASIH SAYANG. Karena yang terpenting bukanlah kemenangan atas sesama manusia
atau kelompok, melainkan atas diri sendiri, kemenangan atas amarah, kemenangan
atas nafsu. Jika di hari kasih sayang (Valentine), muda-mudi
mengekspresikan cintanya dengan cokelat, kado-kado berbingkai elok nan cantik
serta serba-serbi berwana pink, mengeksplorasikan bukti cintanya dengan free
sex, bermabuk ria dsb, yang kesemuanya itu hanya mendatangkan murka dan
melahirkan banyak dosa. Maka sebagai pecinta Rasululloh, sebagai hamba Alloh
pun kita butuh ekspresi dan aplikasi, apalah arti sebuah kata “Cinta dan sayang”
jika sang pengungkap tak beraksi dan tak menunjukkan bukti yang setidaknya bisa
dilakukan dengan memperbanyak menyebut nama beliau (bersholawat) atau ihya’us
sunnah (menghidupkan sunnah). BUKTIKAN CINTAMU
Selasa, 08 Januari 2013
PELAKU SEBAGAI POTRET MASA
PELAKU SEBAGAI POTRET MASA
Oleh : Abina Mohammad Ihya' Ulumiddin
Sesungguhnya sesuatu paling mulia yang ada pada seorang muslim setelah agama adalah kehormatannya. Bahkan kehormatan adalah bagian dari agamanya. Dan menjaga kehormatan adalah termasuk tiang terpenting agama. Cemburu akan kehormatan merupakan salah satu tanda pokok keimanan. Sungguh kehormatan memiliki kesucian dan barang siapa terhalang dari kesucian tersebut berarti ia terhalang dari kehidupan yang mulia. Dan barang siapa terhalang dari kehidupan mulia maka ia lebih rendah daripada binatang. Karena itu kesucian tersebut hendaknya ada dalam kehormatan kaum muslimin seperti juga telah ada dalam diri anda. Wajib bagi kita menolak orang – orang hina yang terus merusak harga diri, senantiasa menginjak – injak kemuliaan dan selalu mengotori kehormatan kaum muslimin karena beberapa hal:
1. Sikap meremehkan pemilik kehormatan ( harga diri ) dalam menjaga kehormatan sebagai dampak hilangnya kecemburuan dari diri mereka atau melemahnya keinginan kuat di dalam hati.
2. Performa bebas dan terbuka yang menampak di kalangan wanita dan para remaja puteri dalam model berpakaian, cara bicara dan bahkan cara berjalan dan semua aktivitas mereka.
3. Menyebarnya campur baur antara dua jenis khususnya ketika tidak ada kontrol. Baik kontrol keluarga atau kontrol hati.
4. Pendidikan agama dalam keluarga yang dianggap gampang atau kurang mendapat perhatian
Maka wajib bagi kita memberikan banyak perhatian terhadap pendidikan agama yang sebenarnya. Wajib bagi kita memberantas budaya pergaulan bebas, porno aksi dan pornografi yang sementara ini menjadi ajang perlombaan para wanita dan gadis – gadis muda seperti halnya kita wajib memberantas budaya Ikhtilath muda mudi yang kini menyebar dengan berbagai model dengan alasan persahabatan, bergantian untuk mengunjungi, alasan melamar atau dengan alasan berwisata dan berolahraga dll.
Kita sadar bahwa tindakan melawan arus tersebut merupakan halangan yang sulit dilalui yang merintang di jalan para orang tua ketika mereka hendak mengarahkan putera puteri mereka. Akan tetapi tekad yang kuat, rasa puas dengan apa yang kita perjuangkan, dan tujuan mulia yang ingin kita capai semua itu membuat kita semakin mantap melangkah. apapun bentuk rintangan sulit tersebut.
Nabi Muhammad Shollallohu alaihi wasallam bersabda: “ Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih pencemburu dan Alloh lebih pencemburu dariku “ HR Bukhori. “ Tidak ada seorangpun yang lebih pencemburu daripada Alloh. Karena itulah Dia Mengharamkan perbuatan – perbuatan Fahisyah “ HR Bukhori. “Sesungguhnya Alloh cemburu. Dan kecemburuan Alloh adalah ketika seorang beriman melakukan hal yang diharamkan Alloh “ HR Buklhori.
Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa sesungguhnya Dayyuuts, orang yang menyaksikan keburukan dalam keluarganya tetapi tidak terbakar kecemburuannya, tidak akan masuk surga. “Tiga orang yang Alloh Mengharamkan surga atas mereka; orang yang selalu meminum arak, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya dan Dayyuts, orang yang mengakui keburukan dalam keluarganya “ HR Ahmad.
Alloh Subhaanahu wataa’aalaa Mencintai seorang muslim. Lalu Dia Cemburu kepadanya ketika ia mengikuti setan dan hawa nafsunya. Dia Cemburu ketika Melihat hatinya kosong dari rasa cinta, takut dan berharap kepadaNya. Dia Cemburu ketika lisannya sepi dari menyebutNya dan sibuk menyebut selainNya. Dia Cemburu ketika anggota badannya menganggur dari beramal taat untukNya dan justru sibuk bermaksiat kepadaNya. Sungguh sangat buruk bagi hamba ketika Alloh Tuhannya Cemburu kepadanya sementara ia tidak cemburu kepadaNya.
والله يتولى الجميع برعايته
Buku Rujukan:
1. Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani. Ad Da’wah al Ishlaahiyyah
2. As’ad bin Sa’id As Shoghorji. Silsilah Syu’abul Iiman
Senin, 24 Desember 2012
TANGGUNG JAWAB TUGAS
TANGGUNG JAWAB TUGAS
Oleh: Abina Muhammad Ihya’ Ulumiddin
Pada dasarnya,
manusia mempunyai dua tugas. Tugas pertama tugas dunia dan tugas kedua tugas
akhirat. Dalam menjalankan kedua tugas itu, Alloh telah memberikan ketentuan.
Bila tugas itu bersifat dunia maka kita mengejarnya dengan “ wala tansa “ (
tidak mesti ngoyo ). Berbeda dengan tugas akhirat, maka kita harus berupaya
menjalankannya secara maksimal, disertai keseriusan, sungguh-sungguh (
mujahadah ) dan penuh tanggung jawab . Tanpa keseriusan dan tanggung jawab,
tugas akhirat sulit berhasil dikerjakan. Dan barang kali karena ketidak
seriusan kita, Alloh pun memandang tidak serius kepada kita. Sehingga sulit
bagi kita mencari jalan kemudahan ( solusi ) ketika kita dihadapkan pada
problem-problem yang sulit dipecahkan.
Karena tugas
akhirat merupakan tugas yang besar, maka tanggung jawab yang dibutuhkan makin
besar pula. Dan kita tidak perlu menghidar dari tugas, karena hidup adalah
tempat bertugas bukan tempat menikmati hasil. Siapapun kita akan dimintai
laporan pertanggung jawaban atas tugas-tugasny, Nabi shollallohu alaihi
wasallam bersabda :
“Tiap-tiap kamu adalah pengembala ( orang yang bertugas ) dan akan
di mintai pertanggung jawaban atas gembalaannya ( tugasnya “) . (HR. Muslim )
Hal ini berdasarkan
firmanNya dalam Al-Qashas : 77,
“Dan carilah apa
yang telah dianugrahkan Alloh kepadamu berupa tugas negeri akhirat, dan
jaganlah kamu melupakan bagianmu dari tugas dunia”.
Nabi juga
bersabda :
“Berkerjalah
untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selama-lamanya dan bekerjalah untuk
akhiratmu, seakan-akan kamu mati esok. “(HR.
Tirmidzi)
Tanggung jawab
kita pada tugas bisa dibuktikan melalui kesungguhan kita, melalui pengorbanan
dan melaui keikhlasan. Tugas tidak akan berhasil tanpa kita harus
mengerjakannya dengan mujahadah ( sungguh-sungguh ). Siap berkorban untuk
tugas, baik dengan dana , waktu, tenaga maupun pikiran. Tanpa pengorbanan,
tanggung jawab kita belum bisa disebut
sebagai suatu perjuangan. Dalam melakukan tugas, diperlukan pula keikhlasan,
tanpa keikhlasan tugas tidak akan menjadi tugas sebenarnya, tetapi berubah
menjadi ajang unjuk kebolehan, popularitas pribadi dan ajang mencari kesenangan
dunia yang lain. Kita tidak meniru Yahudi dan Nasrani yang pernah dikabarkan
dalam Al-Qur`an.
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman, untu tunduk
hati mereka mengingat Alloh dan kepada kebenaran yang telah turun. Janganlah
mereka seperti orang-orang sebelumnya yang telah diturunkan Al-Kitab kepadanya,
kemudian berlalulah masa yang panjang, lalu hati mereka menjadi keras. Dan
kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasiq “ QS Al-Hadid : 16
Kebanyakan
mereka disebut fasiq, karena mereka “bermain-main” dengan tugas. Tidak
beranggung jawab. Mereka mewajibkan dirinya membuat-buat kebijakan yang
tujuannya untuk mencari keridhoan Alloh, seperti tidak makan, tidak beristri ( rahbaniyah )
dan lain-lain, yang sebetulnya yang tidak diwajibkan oleh Alloh. Tetapi tugas
yang mereka ada-adakan sendiri itu tidak di jalankan sebagai mana mestinya.
Mereka ingkar pada ketetapannya sendiri. Padahal tugas adalah amanah. Al-Qur`an
menyebutnya :
“Lalu, mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharan yang semestinya”.
(QS. Al-Hadid : 27 )
Ketika kita
mengharuskan diri mengamalkan suatu amalan, maka seharusnya amalan itu kita
laksanakan dengan sempurna. Bila suatu hari kita meninggalkannya karena suatu
udzur, maka kita mengqodlo’nya di lain
waktu. Ijazah-ijazah yang kita terima dari seorang guru kita usahakan bias mengamalkan. Tidak bagus, bila
dihadapan guru kita kelihatan siap mengamalkan, tetapui sepulangnya, kita
kosong amal. Saat kita ada guru kita berucap “ Sami`na wa atho`na”, tetapi bila guru telah kembali, ucapan yang kita keluarkan adalah” sami`na wa`ashoina.”
Kita tidak di perkenankana Alloh meniru
wanita dungu dari Makkah yang bernama Rithoh
binti Sa’ad bin Zaid bin Manat bin Tamim.Ia yang telah bersusah payah
memintal benang sejak pagi sampai sore.Tetapi ketika jadi,pintalan benang itu
ia cerai beraikan kembali.Semata-mata karena kedunguannya,sehingga perbuatan
itu ialakukan setiap hari.Alquran menggambarkan:
“Janganlah kamu seperti seorang peempuan yang menguraikan benangnya
yang sudah dipintal dengan kuat,menjadi cerai berai kembali”.(QS.An-Nahl: 9)
Ayat itu memberikan pelajaran kepada kita:
Secara Khusus
Jangan sampai kita berbuat kebaikan,tetapi
pada sisi yang lain kita tidak menjaga konsekwensi dari kebaikan
itu.Misalnya,kita senantiasa mengeluarkan shodaqoh,tetapi kita tidak menjaga
lisan.Ucapan kita masih sering mengungkit-ungkit pemberian itu.Kita selalu
berdzikir menggunakan lafadz-lafadz suci misalnya,tetapi dari lisan kita tidak
jarang keluar ucapan yang menyakitkan orang lain.
Contoh lainnya,kita berikrar untuk selalu
sholat berjamaah,membaca AlQuran,Qiyamullail,membaca wirid-wirid serta
menghadiri majelis Taushiyah dan Tansiq.Tapi kebaikan itu hanya berupa
ikrar,tidak pernah kita jalankan.Kita tidak beriltizam pada sesuatu yang sebetulnya
kita sendiri dengan sadar telah menetapkannya.
Secara Umum
Jangan samp[ai kita merobohkan bangunan
(baca: kejama’ahan) yang dulu didirikan dengan (…) besar dan kerja keras.Suatu
kesalahan fatal bila kita ikut terlibat menghancurkan sebuah tatanan,apalagi
tatanan itu bertujuan Dakwah Ilalloh (Akhirat).Untuk itu tanggung jawab setelah
ikrar adalah merawat,menjaga dan mengembangkan bangunan itu,tidak malah
meruntuhkannya.Dengan cara menghindari,antara lain:
A.Tafriqul Qulub
Tafriqul
Qulub (perpecahan hati) dan wahnuddin (lemahnya spiritualitas) harus dijauhi.Sebisa mungkin
menerapkan Ta’liful Qulub (Pertautan hati) sesama anggota,dengan jalan praduga
tak bersalah (husnudzdzon),tidak hasud,menghindari ikhtilaf (perbedaan) yang
menjurus kepada mukholafah (perpecahan)menjauhi mujadalah (perdebatan) yang
tidak ada ujungnya dan saling mendoakan.
B. Ifsyaus Sirr
Jangan sampai membongkar rahasia
jama’ah.Karakter munafik yang selalu tajassus
(meneliti) kesalahan dan kemudian mengeksponya untuk menjatuhkan kelompok tertentu,harus
dijauhi.Disamping itu pula jangan membiarkan diri di interogasi orang lain.Kita
harus menjaga amniyah (security) dari
hal-hal yang tidak kita inginkan.
C. Ightiror bil jama’ah
Jangan sampai terhinggapi ightiror bil
jama’ah (terbuai dengan kelompoknya).Anggota yang banyak,kemajuan yang dicapai
dan kemudahan yang diberikan oleh Alloh belum menjadi jaminan keberhasilan.Kita
menjadikan jama’ah sebagai wasilah (sarana) berdakwah,bukan ghoyah
(puncak).Karena itu,kita tidak harus bersifat eksklusif,dengan menyalahkan
kelompok ini dan itu.Ukhuwah harus kita bina dengan prinsip Husnudzdzon bil Muslimin (berbaik
sangkan sesama ummat).
Semua itu adalah tugas,yang tidak lain
adalah amanah yang semestinya dijalankan.Butuh kesiapan mental berupa
keseriusan,kerelaan,pengorbanan dan tanggung jawab.Bila kita siap berikrar maka
harus siap pula menerima konsekwensinya.Karena itu berazamlah dalam
bertugas,dan bertawakkallah kepada Alloh sekaligus berusaha semaksimal mungkin
untuk menjalankan konsekwensinya dalam rangka tugas.
Minggu, 23 Desember 2012
KEEP MOVING
KEEP MOVING
(TERUSLAH
BERGERAK DAN BERKARYA)
حَرِّكْ
يَدَكْ اُنْزِلْ عليك الرِزْقَ
“Gerakkan
tanganmu, maka akan aku turunkan rizki atasmu”
Gerakkan tanganmu, dan teruslah berkarya, janganlah pernah
berhenti, bukan karena berhenti akan memutus sumber rizki anda, bukan pula
karena berhenti itu akan menghambat laju kemajuan anda, namun sesungguhnya alam
mengajarkan bahwa anda tak
akan pernah bisa berhenti. Meski anda berdiam diri disitu, meski anda
tidur-tiduran, bumi tetap mengajak anda mengelilingi matahari. Maka, bergeraklah,
bekerjalah, berkaryalah. Bekerja bukan sekedar meraih sesuatu, lebih dari itu,
bekerja adalah memberi kebahagiaan diri, sebagai ungkapan rasa syukur, kepuasan
hati atas nikmat yang anda peroleh,
itulah yang diharapkan oleh sang pengatur jagat raya.
Coba anda tengok Air yang tak pernah
bergerak, dia akan cepat berbau dan busuk, mesin yang tak pernah dinyalakan
akan mudah berkarat, lihatlah seluruh alam dan isinya mereka selalu bergerak
dan bergerak, ambilah pelajaran darinya, teruslah bergerak, bekerja dan
berkarya sepanjang masa. Penuh kreasi, penuh inovasi, atau anda ingin segera
tua tanpa meninggalkan karya sama sekali dan tak berguna.
Teruslah bergerak, walau hanya
memotong kayu, menimba air, atau hanya sekedar menyapu halaman, karena dalam gerak
terdapat keberkahan tersendiri, dengan bergerak maka akan tersingkap sejuta
rahasia.
قال
الشيخ عَلِى الدَقاق - رضى الله عنه :
حَرَكاتُ
الظَواهرِ تُوجِبُ بَرَكاتِ السرائِرِ .
“Gerakan-gerakan
raga menyebabkan keberkahan pada rahasia-rahasia yang tersimpan”
Ketika orang lain berbicara sejuta
bahasa, tetaplah anda kerja. Cangkulah sawah anda dan taburilah benih. Ketika
orang lain berdiam tak tahu harus bersikap apa, teruskan kerja anda. Sirami dan
airi biji-bijian dan tunas-tunas muda. Ketika orang lain saling tuding
menuding, saling hasud menghasud, bekerjalah dalam istirahat anda. Sebab dunia
bukanlah tempat untuk memanjakan diri, bukan pula bersantai ria.
Betapa bijak apa yang dikatakan oleh
Abuya As-Sayid Muhammad Alawy Al-Maliky Al-Hasany.
قال أبوي السيّد محمّد علوى الملـكى – رحمه الله تعالى :
لا راحةَ
فى الدنيـا .
“Tiada bersantai ria didunia ini”
Ketika orang lain terlelap dalam
tidur nyenyak mereka, jangan putuskan kerja anda. Bekerjalah dengan penuh do’a
dan harapan. “Semoga Ikhtiar ini menjadi kebaikan bagi anda, alam lingkungan
anda atau segenap semesta”. Maka, ketika orang lain tergugah dari peraduannya,
ajaklah mereka untuk berkerja dan berkarya. Bila mereka tak jua berkenan,
jangan kecil hati, terulah berkerja penuh semangat. Apapun yang terjadi di muka
bumi ini, sang mentari tak akan berhenti sedetikpun dari berkerja, dari
tugasnya; menebarkan kehangatan ke seluruh galaksi, seluruh penjuru alam. Maka
tak ada alasan yang lebih baik untuk keberadaan kita di sini, selain bekerja.
Mengubah energi hangat mentari menjadi kebaikan semesta, mengubah segalanya
menjadi berarti. Nilailah setiap hembusan nafas yang tanpa meninggalkan
karya, sebagai kerugian yang amat.
Karena hal tersebut mensia-siakan waktu, mensia-siakannya sama halnya mensia-siakan
anugerah Tuhan.
قال
بعض الصالحين - رضى الله
عنه :
من
علامة المَقْتِ إضاعةُ الوقتِ
“Di antara
tanda kemurkaan Alloh adalah mensia-siakan waktu”
Bukankah Nabi kita Muhammad SAW
memberi motivasi pada umatnya, supaya selalu berkarya. Memanfaatkan waktu untuk
mencari bekal esok hari. Sebagai mana dikatakan didalam Hadis:
“Bekerjalah
untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Dan Beramalah untuk akhiratmu
seolah-olah engkau mati esok hari” (HR. Tirmidzi)
Maka bekerjalah dengan memberi
manfaat untuk dunia dan akhirat anda, pada alam sekitar anda, ukirlah nama anda
dipapan kehidupan, catatlah dalam lembar sejarah kehidupan umat manusia “Orang
paling kreatif” .
He he he.....
Langganan:
Komentar (Atom)
