Translate

Selasa, 30 Agustus 2016

Pribadi yang Gampangan



Islam adalah agama paripurna, penyempurna semua agama serta berintikan aturan yang suci sesuai fitrah manusia serta penuh dengan kemudahan. Prinsip ini ditegaskan dalam hadits:  “Sesungguhnya Allah rela akan kemudahan bagi umat ini, dan Dia tidak menyukai kesulitan bagi mereka”HR Thabarani, juga firman Allah Swt: “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan Dia tidak menghendaki kesulitan bagi kalian”QS al Baqarah: 185, “Allah berkehendak meringankan dari kalian…”QS an Nisa’: 28.

Prinsip mudah dan ringan dalam berislam tergambar jelas dalam aturan–aturan syariat. Sebutlah haji yang hanya wajib dilaksanakan sekali dalam seumur hidup bagi orang yang mampu, zakat yang cuma dikeluarkan jika harta telah mencapai satu nishab serta setahun sekali atau setiap masa panen atau saat terima gaji tiba, puasa yang tidak diwajibkan atas orang yang lemah secara fisik seperti sakit, lanjut usia atau sedang dalam perjalanan, dan shalat yang bisa dilakukan dengan duduk jika memang tidak bisa dengan berdiri. Kemudahan dan keringanan aturan–aturan tersebut sekali lagi membuktikan kebenaran firman Allah: “… Dia sekali–kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama satu kesulitan…”QS al Hajj: 78, serta sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Aku diutus dengan membawa agama yang suci lagi mudah”HR Haitsami.

Mudah dan ringannya aturan agama sangat terkait erat dengan sifat Allah Yang Maha Belas Kasih serta tidak pernah sekalipun menuntut kepada hamba kecuali sebatas kemampuan. Dia Maha Pemurah Maha Pemberi anugerah, anugerahNya terus dan selalu tercurah kepada seluruh makhlukNya, kasih sayangNya luas tiada terbatas, Dia memberi pahala jauh lebih besar daripada amal hambaNya, dan pada lain pihak pintu taubatNya senantiasa terbuka untuk siapa saja yang mengakui dan menyesali dosa–dosa. Dia terus menanti dan memberi kepada setiap orang yang serius meminta dan memohon kepadaNya, bahkan Dia marah terhadap orang yang tidak mau meminta kepadaNya. Ini semua adalah kemurahan dan kemudahan Allah kepada hambaNya, maka melalui Rasul yang paling Dia cintai ada pesan: “Permudahlah, jangan kalian mempersulit…”Muttafaq Alaihi.

Sifat pemurah Allah yang terwujud dalam syariatNya yang mudah, berlanjut pada anjuran dan tuntutan kepada para hambaNya agar mereka menjadi pribadi–pribadi murah hati yang gampangan kepada sesama dalam berbagai aspek dan dimensi kehidupan, antara lain gampangan dalam menjual, membeli, memberi, menagih dan melunasi hutang. Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Sesungguhnya Allah mencintai kemudahan jual beli dan pelunasan hutang”HR Turmudzi, “Semoga Allah mengasihi seorang yang gampangan ketika menjual, membeli, dan menagih hutang “HR Bukhari, “Semoga Allah memasukkan surga orang yang gampangan ketika membeli, menjual, melunasi hutang, dan menagih hutang”HR Nasa’i.

Tentang membayar hutang, Islam bahkan menjadikan hal ini sebagai salah satu standar kebaikan seorang pribadi, “Belilah( unta yang lebih tua itu ) dan berikan kepadanya, sebab sebaik–baik kalian adalah yang paling baik pelunasannya!”HR Turmudzi, ini bermula ketika seorang lelaki yahudi menagih hutang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan kata–kata kasar hingga para sahabat hendak melakukan tindakan kepada lelaki tersebut, tetapi dicegah oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Biarkanlah, sebab pemilik hak berhak untuk berbicara!”. Selanjutnya Beliau memerintahkan supaya para sahabat membeli unta untuk melunasi hutang unta Beliau kepada lelaki yahudi itu. Para sahabat lalu mencari unta, tetapi tidak menemukan kecuali unta yang lebih tua daripada unta yahudi yang dihutang oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dalam hal menagih hutang juga demikian, seseorang sangat dianjurkan untuk bersikap santun serta tetap bisa mengontrol diri, “Barang siapa yang menuntut hak maka hendaknya dia menuntutnya dalam sikap menjaga diri (Afaaf), baik saat mendapat atau tidak mendapatkan haknya!”HR Ibnu Majah – Ibnu Hibban, bahkan jika bisa dan mungkin atau dalam kondisi tertentu maka sebaiknya hutang itu diputihkan saja, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Para malaikat menyambut roh seorang lelaki sebelum kalian, mereka: Adakah sedikit amal yang kamu lakukan? Lelaki itu menjawab: Saya memerintahkan para pemudaku supaya menangguhkan orang kaya dan membebaskan orang yang susah”HR Bukhari, “Ada seorang pedagang yang memberi hutang kepada orang–orang, lalu ketika pedagang itu melihat ada orang yang kesulitan maka segera dia berkata kepada para anak buah: Bebaskanlah dia, semoga Allah juga membebaskan dari kita!, Allah lalu membebaskan pedagang itu (dari dosa–dosa) “Muttafaq Alaihi. Sikap ini sebagai implementasi dari firman Allah, “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedakahkan (sebagian atau seluruh piutang) itu, lebih baik bagimu jika kamu mengetahui “QS al Baqarah: 280.



Surat al Maa’uun

Sikap murah hati dan gampangan juga diajarkan dalam Alqur’an surat al Maa’uun yang artinya, ”dan mereka mencegah (ogah atau tidak mau menolong dengan) barang berguna“QS al Maa’uun: 7, di sini Allah memasukkan orang yang ogah menolong dengan barang berharga dalam kategori orang yang mendustakan agama, artinya Allah memmerintahkan seseorang agar menjadi seorang pemurah dan menjadi penolong orang lain dengan barang–barang berharga (salah satu tafsir dari kata al Maa’uun) miliknya. Dalam tafsir at Tahriir Wat Tanwiir, Syekh Muhammad Thohir bin Asyur menuturkan:

[Kata al Maa’uun, menurut Said bin Musayyib dan Ibnu Syihab, adalah salah satu istilah untuk harta benda yang berlaku di kalangan suku Quresy. Kaitannya dengan mereka, saat itu mereka enggan mengeluarkan sedekah,  padahal ketika itu (periode Makkah) mengeluarkan sedekah untuk para fakir dan miskin hukumnya wajib meski tiada batasan–batasan tertentu (sebelum diwajibkan zakat). Menurut Imam Malik, seperti dinukil oleh Asyhab, al Maa’uun artinya adalah zakat sebagaimana syair gembala berikut ini:

قَوْمٌ عَلَي اْلإِسْلاَمِ لَمَّا يَمْنَعُوْا   مَاعُوْنَهُمْ وَيُضَيِّعُوا التَّهْلِيْلاَ
Kaum yang memeluk islam, ketika mereka mencegah (tidak  mau) berzakat maka mereka menyia – nyiakan sholat

Tafsiran al Maa’uun yang umum dimengerti oleh khalayak ialah perabot rumah tangga dan alat lain untuk pertanian seperti sabit, cangkul dsb di mana tiada kerugian bagi pemilik jika dia meminjamkan perabot atau alat–alat tersebut. Termasuk al Maa’uun adalah tempat berteduh atau tanah kosong yang bisa dipakai untuk menaruh barang].

Sikap pemurah dan gampang memberikan harus juga diambil dalam urusan air, api dan garam. Aisyah ra bertanya: “Wahai Rasulullah, sesuatu apakah yang tidak boleh dicegah? Beliau bersabda: “Air, garam dan api”, Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, kalau air kami sudah memaklumi, lantas kenapa dengan garam dan api? Beliau menjawab: “Wahai Humaira’!, barang siapa yang memberikan api maka sungguh sama halnya dia bersedekah dengan seluruh yang matang karena api tersebut, dan barang siapa yang memberikan garam maka sama halnya dia bersedekah dengan semua yang lezat karena garam itu”, Beliau melanjutkan: “dan barang siapa yang memberikan minum seteguk kepada seorang muslim pada saat ada (banyak) air maka sama halnya dia memerdekakan budak, dan barang siapa yang memberikan minum seteguk seorang muslim pada saat tiada air maka sama halnya dia menghidupkannya (seorang budak)”HR Ibnu Majah.

Keuntungan yang Besar


Dengan menjadi pribadi yang murah hati, seseorang sangat berpeluang meringankan atau menghilangkan derita dan beban saudara seiman, dan ini berarti dia berhak menerima janji dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Barang siapa yang meringankan dari orang beriman satu derita dari berbagai derita dunia maka Allah pasti meringankan darinya satu darita dari berbagai derita hari kiamat. Barang siapa yang memudahkan orang yang kesulitan maka Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat…”HR Muslim. Syekh Ali Ahmad at Thohthowi berkata: “Ada rahasia tersimpan dalam hadits ini, yaitu janji bahwa seorang yang meringankan derita atau mumudahkan kesulitan orang lain pasti mendapat keuntungan besar berupa menutup ajal dengan baik atau mati dengan membawa Islam, Husnul Khatimah, sebab seorang kafir di akhirat sama sekali tidak dikasihi olehNya serta tiada sedikitpun derita dan kesulitan mereka diringankan. Beliau melanjutkan: Dari hadits ini juga bisa dipetik sebuah pengertian mengenai anjuran mengeluarkan uang tebusan untuk seorang muslim yang ditawan oleh orang kafir, menyelamatkan seorang muslim dari tangan orang-orang zhalim serta membebaskannya dari penjara. Disebutkan bahwa ketika keluar dari penjara, maka Nabi Yusuf as menuliskan di pintu penjara: “Ini adalah kuburan orang yang hidup, kepuasan para musuh,  dan bahan ujian (kesetiaan) bagi teman – teman”. 

Memaknai Ucapan “Insya Allah”



Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Nabi Sulaiman Alaihissalaam bersabda yang artinya, “Sungguh pada malam ini aku pasti akan mengelilingi (menggauli) seratus wanita (para isterinya. dengan harapan )  setiap wanita akan melahirkan  seorang anak lelaki yang akan berperang di jalan Allah”. Malaikat berkata kepada Nabi Sulaiman, “Ucapkanlah Insya Allah!” Nabi Sulaiman lupa dan tidak mengucapkannya. Maka ketika dia menggauli isterinya, tak ada yang melahirkan kecuali seorang isteri yang hanya melahirkan bayi separuh manusia (keguguran)” HR Bukhari.

Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini. Antara lain, dalam menjalani pernikahan hendaknya seseorang tidak semata–mata menjadikan kepuasan Libido sebagai rencana utama. Tetapi dalam pernikahan, seharusnya niat mendapatkan generasi yang akan memperjuangkan agama Allah menjadi prioritas utama. Demikian yang bisa dipelajari dari seorang Nabi Sulaiman Alaihissalaam.
Dengan jelas hadits di atas juga mengajarkan agar dalam setiap kali mengabarkan akan menjalani suatu aktivitas yang diharapkan hasilnya, seseorang hendaknya tidak meninggalkan ucapan Insyaa  Allah. Allah Mengajarkan dalam firmanNya: “Dan jangan sekali–kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi”, kecuali (dengan menyebut) ”Insyaa Allah” QS al Kahfi: 23. Dengan begitu hasil yang ditargetkan akan lebih bisa diharapkan dapat tercapai. Mengomentari kealpaan Nabi Sulaiman Alaihissalaam, Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam bersabda:    
لَوْ قَالَ "إِنْ شَاءَ اللهُ" لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ أَرْجَى لِحَاجَتِهِ
“Andai Sulaiman berkata, “Insyaa Allah” maka dia tidak melanggar sumpah dan lebih besar peluang mendapatkan keinginannya” HR Bukhari.

Kegagalan Nabi Sulaiman Alaihissalaam memperoleh seratus anak dari seratus isterinya adalah pelajaran berharga bagi siapa saja bahwa Usaha bukanlah sebab yang memastikan hasil. Semua hasil yang didapat dan target yang terpenuhi tidak lebih adalah anugerah Allah semata. Inilah maksud ucapan Insyaa Allah yang artinya jika Allah Menghendaki. Kendati demikian setiap orang dianjurkan bahkan diwajibkan berusaha dan mengambil sarana. Setiap orang diwajibkan bekerja supaya mendapatkan harta benda untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan orang–orang yang menjadi tanggung jawabnya. Meski begitu ia tidak selayaknya meyakini bahwa harta benda yang ia peroleh adalah karena pekerjaannya. Sebab pada kenyataannya tidak semua orang yang bekerja memperoleh harta benda. Bahkan tidak sedikit seorang yang bekerja harus pulang dengan tangan hampa.

Bila ingin memiliki ilmu kepandaian maka seseorang harus mencarinya, tetapi kelak jika ilmu didapat jangan sampai meyakini bahwa itu hasil dari pencariannya. Sungguh banyak orang yang telah menghabiskan waktu, tenaga dan harta benda untuk mendapatkan kepandaian, tetapi ternyata tidak seluruh dari mereka bisa memiliki kepandaian. Ini menujukkan bahwa kepandaian adalah anugerah  dari Allah semata, dan bukan dari usaha dan pencarian yang dilakukan. Seorang yang mempunyai anak juga demikian halnya, dia harus menikah dan berkumpul dengan isterinya. Meski begitu, realita membuktikan tidak semua pasangan mendapatkan keturunan. Ini artinya anak yang menjadi buah hati orang tua tidak lain adalah anugerah dari Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa.
Akhirnya harus diketahui, disadari dan selalu diingat  bahwa setiap manusia diwajibkan berusaha dan menjalankan sarana untuk memperoleh anugerah dariNya. Dalam hikmah disebutkan, “Sebab anugerah kamu mendapat kemuliaan, tetapi anugerah tidak bisa didapatkan kecuali dengan kesungguhan (Usaha dan mengambil sarana) “ Dalam hikmah lain juga disebutkan, “Ambil sebab / sarana tetapi jangan pernah bersandar kepada sarana tersebut” .

Ketika seseorang meyakini bahwa segala yang ia dapatkan adalah sebagai hasil dari usaha yang dilakukan, berarti ia termasuk orang yang sombong, mengkufuri nikmat Allah dan yang paling berbahaya lagi ialah menjadikan apa yang telah didapatkan berada di ambang kehancuran. Orang seperti inilah yang layak diberi stigma sebagai pewaris Qarun yang menyatakan kesombongannya:
إِنَّمَا أُوْتِيْـتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِى
“Sesungguhnya aku diberi harta itu adalah karena ilmu yang ada padaku”QS al Qashash : 78.


Dari sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam di atas - yang memberikan harapan besar kepada orang yang mengucapkan Insyaa Allah – dapat difahami bahwa seseorang yang mengucapkan Insyaa Allah akan tertuntun hatinya untuk menyandarkan hasil dari usaha yang dilakukan kepada Allah. Hatinya dengan mudah menyadari bahwa hasil yang ia peroleh semata atas kehendak Allah. Ini adalah bentuk kepasrahan, Tawakkal kepada Allah. Dan barang siapa ber  -Tawakkal kepadaNya maka Dia pasti mencintai dan mencukupinya. “Sesungguhnya Allah mencintai orang–orang yang bertawakkal” QS Ali Imran: 159.  “Barang siapa ber –Tawakkal kepada Allah maka Allah pasti mencukupinya “ QS ath Thalaaq : 3.

Rabu, 17 Agustus 2016

Ar Rahman Ar Rahim





Memper indah diri dengan bersikap lunak terhadap sesama  muslim bisa terwujud melalui kasih sayang dan penuh perhatian kepada sesama. Ketahuilah, bahwa hal ini termasuk akhlak terbaik. Bahkan Allah swt mensifatkan Rasul-Nya dengan sifat ini.
Hal ini sebagaimana firman Allah swt dalam al-Qur’an:
(لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ)
Artinya: _Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”_ (Qs. at-Taubah ayat: 128).
Rasulullah saw bersabda:
الراحمون  يرحمهم الرحمن. ومن لا يرحم لا ير حم
Artinya: _“Orang-orang yang penyayang akan disayang Tuhan yang Maha Penyayang. Barangsiapa yang tidak menyayangi orang lain tidak akan disayang.”_
Nabi saw juga bersabda:
إن أبدال أمتى لا يدخلون الجنة بكثرة صلاة ولا صيام بل بسلامة الصدور وسخاوة النفوس والرحمة بكل مسلم
Artinya: _“Sesungguhnya para wali abdal dikalangan umatku bukan memasuki surga karena banyaknya shalat maupun puasa. Akan tetapi mereka masuk surga karena hati yang bersih, jiwa yang derma dan menyayangi setiap muslim."_
Hadits ini tidak berarti para abdal itu bukan orang yang banyak shalat dan puasanya justru mereka adalah orang-orang yang banyak menjalankan kedua ibadah itu dan ibadah lainnya, tetapi sifat-sifat mereka yang disebutkan oleh Nabi saw itulah yang lebih mendekatkan mereka kepada Allah swt. Karena kemuliaan sifat-sifat itu dibanding amal shaleh mereka lainnya karena termasuk amalan hati dan sifat-sifatnya.
Perlu diketahui, apabila ditimbang amalan hati tidak dapat ditandingi oleh amalan fisik baik dalam kebaikan dan keburukan melainkan yang akan unggul adalah amalan hati ketimbang amalan fisik dengan hasil yang lebih nampak.
Oleh karena itulah para ulama tasawuf lebih menitik beratkan pada perkara kebersihan hati dan mengutamakan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji dan amalan shaleh ketimbang kalangan ulama dan para ahli ibadah lainnya yang tidak terlalu memperhatikan urusan batin seperti yang dilakukan oleh ulama tasawuf.


Senin, 15 Agustus 2016

ISTIQOMAH






Jika engkau bukan termasuk orang yang menghabiskan seluruh waktu siang dan malam dengan aktifitas ibadah, maka jadikanlah bagi dirimu beberapa aktifitas ibadah yang engkau tekuni di waktu-waktu tertentu dan jika tidak sempat engkau lakukan, maka engkau menggantinya (Di qadha.’) agar dirimu terbiasa menjaganya. Dan jika dirimu meninggalkannya, maka engkau akan segera menggantikannya kapan saja dan jikalau sedemikian, pasti engkau akan selalu melakukannya tepat pada waktunya.
Dalam hal ini, Sayyidi Syeikh al-Imam al-Habib Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah ra berkata: “Barangsiapa yang tidak memiliki istiqamah wirid yang dipegangnya berarti ia tak ubahnya seperti seekor kera.
Dalam sebuah kesempatan, salah seorang ‘Arifin Billah berkata: “Curahan-curahan rahmat Allah swt tergantung dari wirid-wirid. Maka barangsiapa yang lahirnya tidak memiliki wirid, sudah dapat dipastikan bahwa batinnya tidak memiliki wirid.
Hendaknya engkau mengambil langkah serius dan jalan tengah dalam setiap perkara. Ambillah dari aktifitas ibadah yang mampu engkau tekuni. Dalam hal ini Baginda Rasulullah saw bersabda:
أحبّ الأعما ل إلى الله أدومها وإن قلّ
Artinya: “Amal perbuatan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling terus menerus meskipun hal itu sedikit.”
Dalam kesempatan lain, Nabi Muhammad saw bersabda:
خذوا من الأ عمال ما تطيقون فإ ن الله لا يملّ حتى تملوّا
Artinya: “Ambillah dari amal perbuatan itu yang kalian mampu, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan.”
Risalatul Mu'awanah.

SAATNYA BERSATU






Upaya menyambut Hari Kemerdekaan NKRI
(وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ)
Artinya: _"Dan janganlah engkaumenyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat."_ (Qs. Ali Imran ayat: 105).
Larangan dari Allah swt kepada para hamba-Nya yang beriman untuk tidak menyerupai orang-orang yang suka bercerai berai dalam agamanya yaitu Ahlul Kitab dan mereka yang selalu berselisih dalam urusan agama mereka, bagi mereka siksa yang besar.
Coba bayangkan kedahsyatan siksa yang Allah swt sendiri menyebutnya sebagai siksa yang berat, renungkanlah dan selamatkan dirimu dari-Nya dengan cara mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah, menjauhi kesesatan dan berbagai pendapat yang berselisih.
Ketahuilah bahwa sebagaimana Ahlul Kitab tercerai berai dan berselisih dalam urusan agama mereka, umat ini sendiri juga bercerai berai dan berselisih pendapat. Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah saw dalam sabda-Nya:
افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على إثنتين وسبعين فرقة، وستفترق أمتى على ثلاث وسبعين فرقة كلّها في النار إلاّ فر قة واحدة
Artinya: _“Orang-orang Yahudi terpecah belah dalam tujuh puluh satu golongan, orang-orang Nasrani terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, sedangkan umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan._
Umat ini telah terpecah belah menjadi seperti jumlah di atas sejak zaman dahulu dan sudah nyata terbukti apa yang dijanjikan oleh nabi terpercaya mengemban wahyu Allah swt. Hal ini sebagaimana ketika Baginda Nabi Muhammad saw ditanya tentang golongan yang selamat itu siapa mereka? Kemudian beliau saw menjawab:
التي تكون على مثل ما أنا عليه وأصحابي
Artinya: _“Golongan yang tetap berada di jalan yang aku tempuh beserta para sahabatku.”_
Nabi Muhammad saw menyuruh kita untuk mengikuti *golongan terbanyak kaum muslimin* apabila terjadi perselisihan, dan alhamdulillah sejak dulu sampai sekarang Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mayoritas terbanyak, dan memang merekalah berkat karunia Allah swt adalah golongan yang selamat dan berkat mereka mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah juga jejak para salafunasshalihin dari kalangan sahabat dan tabiin semoga Allah swt meridhai mereka semua.
Semoga kebahagiaan selalu menyertai bangsa ini...  Amiin...

Minggu, 14 Agustus 2016

SAHABAT UMAR ADALAH PELAKU BIDAH ULUNG YG DI CINTAI NABI SAW.






Perubahan Masa
Masalah perubahan hukum bersama masa (menyesuaikan masa) memang tidak bisa diingkari, sebab jika kita hanya terpaku kepada zhahir Nash maka agama ini akan membeku. Sebaliknya jika kita merubah sampai pada al Ushul maka kita akan menjadi seperti Yahudi dan Nashrani. Ini berarti yang benar adalah tengah  tengah antara ini dan itu. al Ushul tidak boleh dirubah oleh siapapun. Artinya hanya segala sesuatu yang tergali (al Mustanbathath) dari al Ushul itulah yang terkadang berubah menyesuaikan masa selama tidak bertabrakan dengan Nash Syari.
Abu Nuaim dalam al Hilyah  meriwayatkan dari Arzab al Kindi sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
سَيَكُوْنُ بَعْدِيْ أَشْيَاءُ فَأَحَبُّهَا إِلَيَّ أَنْ تُلْزِمُوْا مَا أَحْدَثَ عُمَرُ
“Akan ada setelahku banyaknya sesuatu, maka yang *paling aku sukai* dari sesuatu itu adalah kalian menetapkan diri kalian pada *apa yang diperbaruhi oleh Umar*”
Dalil keabsahan adanya perubahan ini banyak sekali yang sebagian di antaranya telah disebutkan di berbagai kitab:
Pengumpulan Alquran (padahal tidak mungkin ada wahyu baru turun atau nasakh yang terdahulu pasca Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat)
Mengumpulkan orang untuk shalat Tarawih (padahal tidak mungkin akan turun perintah kewajibannya pasca Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat)
Fatwa Umar ra terkait Thalaq. Ibnu Abbas ra meriwayatkan: [Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar, dan dua tahun pertama pemerintahan Umar, Thalaq tiga hanya jatuh satu. Umar kemudian mengatakan, Sesungguhnya orang  orang terburu  buru dalam urusan yang sebenarnya mereka harus pelan  pelan. Andai kita mengesahkan atas mereka Umar kemudian mengesahkan atas mereka. Ia lalu menghitung tiga Thalaq tiga tersebut karena niat (maksud) orang sudah berbeda. Dulu mereka mengucapkan Thalaq tiga hanya sebagai bentuk penguat (Ta’kid)  pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. (HR Muslim)
Fatwa Umar ra terkait hasul bumi daerah taklukan: Beliau berkata:
لَوْلاَ آخِرُ الْمُسْلِمِيْنَ مَا فَتَحْتُ قَرْيَةً إِلاَّ قَسَّمْـتُهَا سُهْمَانًا كَمَا قَسَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم خَيْبَرَ سُهْمَانًا , وَلَكِنِّي أَرَدْتُ أَنْ يَكُوْنَ جِرْيَةً تَجْرِيْ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ وَكَرِهْتُ أَنْ يُتْرَكَ آخِرُ الْمُسْلِمِيْنَ لاَ شَيْءَ لَهُمْ
“Andai bukan karena kaum muslimin masa akan datang niscaya tidak kutaklukkan suatu daerah kecuali aku akan membaginya sesuai bagian – bagiannya  seperti Rasullah shallallahu alaihi wasallam telah membagi Khaibar. Akan tetapi aku bermaksud agar  daerah itu terus mengalir (hasilnya. pent) untuk kaum muslimin dan aku tidak suka kaum muslimin akan datang dibiarkan tidak memiliki sesuatu apapun (HR Bukhari)
Sanksi bagi para pemabuk (Sakran). Dari Anas ra sesungguhnya didatangkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam seorang lelaki yang telah meminum Khamar. Beliau kemudian (memerintahkan agar itu dipukul) memukul orang itu dengan dua pelepah kurma *sebanyak kira  kira 40 kali.* Ini diikuti dan juga dilakukan oleh Abu Bakar ra.
Sampai pada masa khilafah Umar ra, Beliau meminta pendapat kepada orang  orang. Abdurrahman bin Auf ra lalu memberikan pendapat: *Had paling ringan adalah 80.* Umar ra lalu menetapkan usulan ini.
Sebab atau illat dari hal itu adalah seperti dalam riwayat Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas ra yang berkata: Lalu kami khawatir musuh datang kepadanya dalam kerumunan manusia dan lalu membunuhnya. Maka kami jadikan pukulan dengan cemeti itu secara terang  terangan.
Lalu bid'ah yang bagai mana yang hendah engkau ingkari...???

Senin, 27 Juni 2016

I'tikaf

AYO I'TIKAF

Kini memasuki sepuluh akhir Ramadhan yang ketiga,  tinggal beberapa hari lagi...  Sudahkah kita memaksimalkan sepuluh terakhir itu dengan berbuat amal shalih, begitu banyak keutamaan dan keitsimewaan di bulan Ramadhan khususnya sepuluh akhir,  pahala sunnah ditulis menjadi pahala fardhu, dan pahala fardhu menjadi berlipat-lipat, terutama di malam-malam ganjilnya.

I’tikaf menjadi ibadah pilihan di dalam menemui dan mencari malam kemuliaan tersebut, melihat begitu besarnya pahala yang Allah janjikan bagi orang yang beri’tikaf terlebih lagi di bulan Romadhan.  Tradisi yang ada di Indonesia biasanya saat sepuluh malam terakhir, trutama di malam-malam ganjilnya, umat muslim berangkat ke masjid umum atau pun masjid jami’ untuk melakukan ibadah I’tikaf yang di isi dengan berbgaia macam ketaatan.

#Definisi I’tikaf :

Secara syare’at adalah :
مكث مخصوص لشخص مخصوص فى مكان مخصوص بنية مخصوصة
“ Berdiam diri secara tertentu, bagi orang tertentu di tempat tertentu dengan niat tertentu “

#Keutamaannya :

Nabi Saw bersabda :
من مشى فى حاجة اخيه كان خيرا له من اعتكاف عشر سنين ومن اعتكف يوما ابتغاء وجه الله عزوجل جعل الله بينه وبين النار ثلاث خنادق كل خندق ابعد مما بين الخافقين
(رواه الطبراني, المعجم الاوسط : 7322
و قال ايضا " من اعتكف عشرا فى رمضان كان كحجتين وعمرتين
رواه البيهقي, شعب الايمان ۳: ۴۲۵
“ Barangsiapa yang berjalan di dalam membangtu keperluan saudara muslimnnya, maka itu lebih baik baginya dari I’tikaf sepuluh tahun lamanya. Dan barangsiapa yang beri’tikaf satu hari karena mengharap ridho Allah Swt, maka Allah menjadikan di anatara dia dan api neaka jarak sejauh tiga khondaq / parit. Setiap khondaq dari khondak lainnya jaraknya sejauh langit dan bumi “
(HR. Thabrani, mu’jam Al-Awsath : 7322)
Nabi juga bersabda “ Barangsiapa yang beri’tikaf sepuluh hari di bulan Romadhan, maka baginya apahala dua haji dan dua umroh “
(HR. Al-Baihaqi, Syu’abil iman : 3 : 425)

#Hukum I’tikaf  ada 4 :

1. WAJIB, jika dinadzarkan
2. SUNNAH, dan inilah hukum asalnya dan lebih dtekankan lagi di bulan Romadhan
3. MAKRUH, Yaitu I’tikafnya perempuan yang masih memiliki body dengan idzin suami dan aman dari fitnah.
4. HARAM tapi sah yaitu I’tikafnya perempuan tanpa idzin suami atau dengan idzin suami tapi tidak aman dari fitnah.
   Haram dan tidak sah yaitu I’tikafnya orang yang junub atau perempuan yang haidh.

#Syarat I’tikaf :

1. Niat. Yaitu dalam hati mengatakan :
نويت الاعتكاف في هذا المسجد لله تعالى
“ Saya niat I’tikaf di masjid ini karena Allah Ta’ala “
2. Suci dari hadats besar.
3. Berakal. Jika di tengah-tengah I’tikaf dia menjadi gila, maka batal I’tikafnya.
4. Islam
5. Berdiam diri minimal seukuran tuma’ninah sholat lebih sedikit ( Sekitar 5 detikkan )
6. Berada di dalam masjid. Maka tidak sah I’tikaf di mushollah, ribath atau pesantren. (menurut pendapat yg kuat)

Jumat, 17 Juni 2016

Ramadhan kareem, bulan penuh ampun

*معصية اورثت ذلا وافتقارا خير , من طاعة اورثت عزا واستكبارا.*

"Kemaksiatan yang menimbulkan rasa rendah diri dan harapan (akan rahmat Alloh dan belas kasih Alloh) itu lebih baik dari pada ta'at yang membangkitkan rasa mulia diri dan keangkuhan"

Perasaan hina dan rasa rendah diri karena perbuatan maksiat yang melekat pada diri,  adalah sifat hamba (ubudiyah). Dan perasaan maha mulia dan maha besar adalah sifat Tuhan (Rububiyah).

Adapun sifat seperti yang dimaksud adalah sikap yang harus dimiliki oleh hamba yang melekat pada dirinya dosa, hendaklah ia tidak merasa hina dan rendah diri,  namun ia harus berpengharapan penuh kepada rahmat Alloh. Orang seperti ini adalah orang yang lebih baik dari orang yang merasa telah banyak beribadah dan ta'at kepada-Nya,  akan tetapi tumbuh rasa angkuh dan tinggi diri dengan amal ibadahnya itu.

Perlu diketahui bahwa rendah diri seorang hamba yang terlibat dalam perbuatan maksiat,  itu lebih baik dari angkuhnya hamba yang berbuat ta'at.

Seorang hamba yang ta'at beribadah, akan tetapi tumbuh rasa angkuh dan riya' , ujub (bangga diri) dalam hatinya, maka kemungkinan Allah swa. akan meremehkan amal ibadahnya.

Ada juga seorang hamba Alloh yang sering terlibat perbuatan dosa, yang membuat sedih hatinya, timbul rasa penuh harap akan ampunan, Allah memberi hidayah kepadanya, lalu tumbuh penyesalannya dan rasa khosyiah (takut) kepada Alloh, pada akhirnya ia berjalan menuju keselamatan.

Banyak kisah yang terceritakan oleh hadis Nabi pada zaman bani israil,  seorang pelacur yang rendah diri dan berakhir mendapat hidayah, sementara seorang hamba yang gemar beribadah akan tetapi muncul rasa bangga diri nan sombong dan berakhir Alloh meremehkan alam ibadahnya.

Semoga kita menjadi manusia yang selalu rendah diri...  Amiiin

Kamis, 16 Juni 2016

CUKUP SATU DETIK KESADARAN

Satu menit belajar yang disertai dengan kesadaran, itu lebih bernilai dari pada seumur hidup belajar yang tidak disertai dengan kesadaran. sebab untuk hidup yang kita butuhkan bukanlah pelajaran yang tinggi, tapi kesadaran yang tinggi. satu detik kesadaran saja dapat mengubah segalanya.

Selasa, 17 Mei 2016

AKU TITIP SATU CINTAKU, YA ALLAH





Semoga cinta ini adalah cinta misi, bukan cinta nafsu.. Sehingga bisa membuatku lebih ikhlas dan bersabar dlm setiap prosesnya, dalam setiap penantiannya.

Ya Allah, Maha Pemilik Cinta
Aku titipkan satu cinta itu padamu, jadikanlah itu sangat indah suatu saat nanti.. ketika waktunya telah tiba.. Waktu yang paling tepat dgn seseorang yg tepat, yang telah Kau persiapkan sejak dulu.

Titip satu cinta itu ya Allah
Cinta yang akan membuatku semakin dekat dengan-Mu, cinta yang membuat Ia pun semakin dekat dengan-Mu.. Cinta yang membuat kami semakin mensyukuri betapa Luas nikmat dan karunia-Mu, dan membuat kami saling membimbing untuk mencapai ke-Ridhoan-Mu.

Titip satu cintaku Ya Mushawwir
Cinta yang bisa menjadikan sebuah keluarga yang sakinah, cinta yang bisa menciptakan sebuah rumah yang hangat yang akan menjadi tempat bangkitnya peradaban agama-Mu.

Titip satu cinta itu ya Rabb
Jagalah kami, bimbing langkah kami,, sehingga kami bisa sama-sama terjaga dan akhirnya sama-sama mendapatkan yg terjaga pula.

Titip satu cinta itu Ya Rahman
Cinta yang dengannya aku bisa banyak belajar dan ia pun bisa banyak belajar, sehingga kami bisa saling mengisi dan semakin berkembang karena cinta.

Titip satu cinta itu Ya Waliyy
Bimbing langkahnya, mudahkan urusannya, luaskan rizkinya dan jaga dia utk tetap berada di jalan-Mu, mudahkanlah jalannya dalam menemukan aku disini.

Titip cinta itu Ya Kariim
Jadikan hidupnya senantiasa bermanfaat, dan jangan lengahkan ia dengan fananya kehidupan dunia.. Semoga saat ini pun ia senantiasa berjuang untuk menggapai Syurga-Mu. Jadikan ia orang yang bersungguh-sungguh untuk kehidupan dunia dan lebih bersungguh-sungguh untuk kehidupan akhiratnya

Titip satu cinta itu Ya Ghaffaar
Jadikan ia orang yang selalu mempelajari agama-Mu, orang yg selalu menyeru kepada agama-Mu. Jadikan ia Murrobi yang terbaik untukku dan anak-anakku kelak, jadikan ia murobbi terbaik untuk keluarga dan masyarakat

Titip cinta itu Ya Hafizh
Jaga aku dan jaga ia sampai waktu yang Kau tetapkan tiba, dan jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yg senantiasa bersabar dan bersyukur


Aku titip cinta itu Ya Rabb.