Translate

Jumat, 10 April 2015

Islam dan Teknologi Imformasi






الحمدلله الذي شرّح صُدُوْرَالمُؤْمِنِيْنَ لِطَاعَتِه, وهَدَاهُمْ اِلَى تَحْكِيْمِ كِتَابِه والعَمْلِ بِه, نَحْمَدُهُ ونَسْتَعِيْنُه ونَسْتَغْفِرُه, ونَعُوْذ ُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا ومِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِى اللهُ فلا مُضِلَّ لَه, ومَن يُضْلِلْ فلا هادِىَ لَه, أشهد أن لا إلهَ إلاّ الله وحده لا شريك له, وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله لانبيَ بعده,
أللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.أما بعد فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون.
 وقال الله تعالى : قالوا سبحانك ما علم لنا إلا ما علمتنا إنك أنت العليم الحكيم.


وقال في آية اُخري : ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Hadirin jama’ah jum’ah Hafidhokumulloh.
Pada kesempatan yang penuh makna ini, dari atas mimbar ini saya mengajak hadirin sekalian, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita. karena sesungguhnya hanya taqwalah yang dapat menghantarkan kita melampaui bulan demi bulan tanpa kurang suatu apapun. karena dengan ketakwan pula segala yang sulit akan menjadi mudah, yang jauh akan terasa dekat.
Takwa dalam arti luas, menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya, diantara sekian banyaknya perintah Allah adalah (memper kokoh Islam dalam menghadapi kemajuan Teknologi Informasi). Hati nurani seorang muslim yang jujur tentu menganggap masalah Teknologi Informasi sebagai hal yang urgen. Maka Pokok pembahasan dalam khutbah kali ini kami fokuskan dalam hal “Islam dalam menghadapi kemajuan Teknologi Informasi.
Hadirin jama’ah jum’ah Hafidhokumulloh
Era global telah menjadikan bumi ini menjadi kampung besar, peristiwa yang terjadi pada hari ini di suatu negeri di belahan dunia akan diketahui serentak oleh seluruh penduduk bumi. Apa yang terjadi di Timur Tengah hari ini pula bisa diketahui di Indonesia.
Arti globalisasi dengan demikian menurut pendapat ahlinya adalah suatu proses fenomena di dunia modern bercirikan adanya peningkatan perdagangan internasional, teknologi informasi, kemajuan transportasi, adanya alat-alat canggih yang seolah mampu melipat jarak dan menerobos waktu.
Selain itu, globalisasi juga bisa membuat orang menjadi mudah dan praktis, mampu membantu pekerjaan manusia, seperti perkembangan dan kemajuan iptek, mempunyai pengaruh signifikan terhadap cara berfikir, bersikap, maupun tingkah laku manusia.
Pada sisi lain, kemajuan iptek justru menimbulkan dampak sampingan yang kurang menguntungkan bahkan mengancam kehidupan mereka, misalnya polusi biologi, kimia, perusakan, distrupsi fisik dan social serta memburuknya sumber tanah atau hutan ada indikasi semakin merosostnya nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana Allah swt berfirman dalam surah Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). 
Ayat ini jelas menjelaskan bahwa terjadinya kerusakan di belahan bumi akibat dari ulah perbuatan manusia.
Hadirin jama’ah jum’ah Hafidhokumulloh
Al Imam As Syafi’i berkata:
من أراد الدنيا فعليه بالعلم ومن أراد الأخرة فعليه بالعلم ومن أرادهما فعليه بالعلم
Barang siapa yang menghendaki dunia, maka ia hanya dapat meraihnya dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki akhirat, maka harus dengan ilmu dan barang siapa yang inginkan kedua-duanya juga harus dengan ilmu
Pernyataan ini memuat pesan moral Rasulullah saw untuk menuntut ilmu sebagai benteng hidup dalam kancah percaturan era globalisasi, di masa tersebut menuntut bekal agar mampu bersaing dan bertahan hidup dalam dunia global.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa masa ini disebut sebagai “peradaban masyarakat informasi” informasi menjadi kebutuhan primer dan bahkan menjadi sumber kekuasaan, sebab informasi dapat mempengaruhi dan mengemdalikan pikiran, sikap dan perilaku manusia. Ada pendapat bahwa siapa yang dapat menguasai informasi dialah pengendali atau penguasa dunia. Dan pertanyaannya apakah ada seorang atau Negara muslim yang menguasai informasi? Jika tidak ada, maka bisa jadi kita terus menjadi bahan pemberitaan yang selalu dipojokkan. Hal ini karena kita sebagai muslim lemah dalam penguasaan teknologi informasi. Berikut saya sebutkan beberapa sisi kelemahan kita sebagai seorang muslim.
Pertama. Islam lemah dalam penguasaan IT (informasi teknologi). Pada era informasi ini, arus informasi dunia dikuasai dan dikendalikan non muslim yang memandang Islam sebagai musuh yang harus dihancurkan. Mereka menggunakan sarana informasi untuk mengangkat isu-isu global dan kepentingan mereka sendiri. Seperti isu HAM, demokrasi, lingkungan hidup, terorisme, jender, syari’at islam, khilafah islamiyah yang semuanya itu dijadikan alat propaganda demi kepentingan mereka.
Sedangkan umat Islam tidak mempunyai media massa yang memadai untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai Islam atau membela kepentingan agama dan umat. Akibatnya yang terjadi tidak tersalurkannya aspirasi umat, umat Islam hanya menjadi konsumen dan rebutan media massa lain yang tidak jarang membawa informasi yang tidak seimbang dan terkadang menyesatkan.
Umat Islam kini dibidik oleh medi massa yang tidak islami. Akibatnya umat dikuasai dan dijejali oleh nilai-nilai, budaya, sekulerisme, materialism, hedonism, kekerasan dan sebagainya. Akibat dari itu, tentunya dapat mempengaruhi pola pokir, sikap, sehingga lambat laun dapat terbentuk karakter muslim yang fanatic.
Hadirin jama’ah jum’ah Hafidhokumulloh
Kedua. adanya pemojokan terhadap Islam, yakni melalui media massanya mereka kaum kafir yang dipelopori oleh Yahudi telah memberitakan hal yang tidak seimbang dan memojokkan islam di dunia internasional. Agar dunia membenci dan memandang negative kepada Islam. Di samping itu media massa kaum kafir gencar menyosialisasikan nilai-nilai, pemikiran, dan budaya mereka ke dunia Islam, agar pola pikir dan gaya hidup umat Muslim bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Mereka menciptakan pendapat umum bahwa Islam dan umatnya sebagai agama berbahaya, intoleran, anti demokrasi, ortodoks, haus darah dan entah apalagi.
Ketiga. Fobia terhadap Islam, yakni adanya pengaruh dari pemberitaan yang terus memojokkan dan mengopinikan Islam mengakibatkan terjadinya fobia terhadap Islam. penyakit ini pernah ditularkan oleh kaum kafir Quraisy. Ketakutan yang menimbulkan rasa benci terhadap Islam yang berasal dari ketidak tahuan mereka tentang Islam. Dan lebih dari itu mereka khawatir dengan Islam sebagai agama yang memiliki potensi mengancam kelangsungan hidup.
Boleh jadi, jika sekarang wajah Islam terkesan menakutkan, di samping karena banyak umat yang tidak melaksanakan Islam secara baik dan benar, juga akibat keberhasilan propaganda kaum Salibis-Zionis  lewat jaringan media massa yang mereka kuasai. Diantaranya dengan mempopulerkan istilah fundamentalis, radikalis, militant, ekstrimis, bahkan teroris. Hal seperti inilah yang membangun citra Islam sebagai agama yang menakutkan.
Oleh karena itu, melalui khotbah ini mari senantiasa kita tingkatkan terus belajar ilmu pengetahuan terutama teknologi informasi dan media massa. Karena keduanya merupakan senjata yang mampu membentuk image agam islam sebagai rahmatan lil alamin. agama yang toleran, cinta damai, sadar HAM.
قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُواْ عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدِّارِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan. (al-An’am 135)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Selasa, 07 April 2015

MENJADIKAN SHALAT SEBAGAI SOLUSI HIDUP





“Tidaklah aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah”


Bicara masalah Ibadah bicara pula masalah Shalat, shalat adalah hal yang menakjubkan karena shalat dapat menyusub keseluruh aspek kehidupan kita. Shalat adalah cahaya yang memancar dari hati seorang mukmin, dengan cahaya inilah Allah membimbing para pendamba ridha-Nya. Ketika hati terselimuti kegelapan, hanya percikan cahaya Ilahi sajalah yang mampu meneranginya. Ketika mata hati telah dibutakan oleh nafsu, dan hasrat telah menguasai jiwa, tak ada lagi yang bisa di tunggu selain kehancuran. Hati hanya bisa di bersihkan dengan cahaya tauhid. Tauhid bisa kita perolih dengan beriman, dengan ketakwaan, dengan melaksanakan perintahnya. Jiwa akan selalu tenang jika selalu conek dengan mengingat Allah. Jika hati telah menjadi suci dan jiwa terbebaskan, maka keduanya akan dapat terbang menuju keharibaan Ilahi Robbi, Dzat Pemilik Tunggal Alam ini.
dan Jarak paling dekat antara PROBLEM dan SOLUSI adalah sejauh jarak antara DAHI dengan LANTAI tempat untuk berSujud. Sebanyak apapun persoalan yang telah membebani hari-hari kita, jika kita mau meluangkan sebentar saja untuk mengambil air wudhu dan lalu menunaikan Shalat, maka tidak ada yang akan tersisa kecuali hanyalah ketenangan hati dan keteduhan jiwa.
Tidaklah Rasulullah dilanda suatu masalah kecuali beliau melaksanakan shalat.
Maka disaat permasalahan hidup menimpa, kebimbangan menerpa dan harus memilih antara dua hal maka shalatlah sebagai solusi yang tepat. Dengan melakukan shalat Istikharah jalan terang akan menanti kita, ketenangan jiwa, kepuasan hati akan kita dapati.
Rasulullah SAW pernah berkata: “Istikharah pasti mendatangkan kebaikan.”
Tatkala kita dalam kenikmatan, maka shalat dhuha sebagai sikap yang tepat untuk menjaga akan kelanggengan nikmat tersebut.

إذا كنتَ فى نِعْمةٍ فارْعَها # إنّ المَعَاصِىَ تُزِيْلُ النِعَمَ

“Apa bila kamu dalam suatu nikmat, maka jagalah, kerana sesungguhnya kedurhakaan dapat menyirnakannya”
Pada saat bahagiapun Alloh memerintahkan untuk menunaikan shalat, sebagai penjaga atas nikmat yang telah Alloh limpahkan, sebagaimana kegembiraan menyambut kemenangan Idul Fitri Alloh memerintahkan hamba-Nya untuk menunaikan shalat dua rakaat.
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra., ia berkata: Ketika Rasulullah saw. bersama kami, tiba-tiba beliau terlena sesaat, kemudian mengangkat kepala beliau sambil tersenyum. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang membuat Anda tertawa? Beliau menjawab: Baru saja satu surat diturunkan kepadaku. Lalu beliau membaca: Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar "nikmat yang banyak". Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.... Al Hadis. (Shahih Muslim No.607)
Sebagai mana Allah setelah memberi nikmat pada Nabi SAW. Allah lalu memerintahkan Nabi SAW untuk melaksanakan shalat, sebagai ungkapan syukur, sebagai penjaga nikmat sekaligus mengharap akan tambahnya nikmat yang lain.
Dalam ayat-Nya, Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Disaat permasalahan hidup menimpa,  dikala kemarau panjang mempersulit turunnya hujan, sementara keberadaan air suatu kebutuhan yang tak dapat dihindari. maka shalat Istisqa lantas menjadi solusi untuk mewujudkan setiap tetesnya.
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid Al-Mazini, bahwasanya ia berkata: Rasulullah keluar menuju tempat salat untuk mengerjakan salat istisqa' (permohonan hujan). Beliau memindahkan selendangnya (rida) ketika menghadap kiblat. (Shahih Muslim No.1486).
Dalam Hadis yang lain yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra. menyebutkan : Bahwa seorang sahabat memasuki mesjid pada hari Jumat dari pintu searah dengan Darulqada. Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang berdiri berkhutbah. Sahabat tersebut menghadap Rasulullah saw. sambil berdiri, lalu berkata: Ya Rasulullah, harta benda telah musnah dan mata penghidupan terputus, berdoalah kepada Allah, agar Dia berkenan menurunkan hujan. Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya dan berdoa: "Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami". Kata Anas: Demi Allah, di langit kami tidak melihat mendung atau gumpalan awan. Antara kami dan gunung tidak ada rumah atau perkampungan (yang dapat menghalangi pandangan kami untuk melihat tanda-tanda hujan). Tiba-tiba dari balik gunung muncul mendung bagaikan perisai. Ketika berada di tengah langit mendung itu menyebar lalu menurunkan hujan. Demi Allah, kami tidak melihat matahari sedikit pun pada hari Jumat berikutnya. Kemudian kata Anas lagi: Pada Jumat berikutnya seseorang datang dari pintu yang telah di sebut di atas ketika Rasulullah saw. sedang berkhutbah. Orang itu menghadap beliau sambil berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, harta-harta telah musnah dan mata pencarian terputus (karena hujan terus menerus), berdoalah agar Allah berkenan menghentikannya. Rasulullah saw. mengangkat tangannya dan berdoa: "Ya Allah, di sekitar kami dan jangan di atas kami. Ya Allah, di atas gunung-gunung dan bukit-bukit, di pusat-pusat lembah dan tempat tumbuh pepohonan". Hujan pun reda dan kami dapat keluar, berjalan di bawah sinar matahari. (Shahih Muslim No.1493)
demikianlah Rasulullah dalam menyikapi setiap permasalahan. Beliau selalu lari pada Tuhannya dengan bermunajah melakukan shalat, Beliau jadikan shalat tersebut sebagai solusi setiap permasalahan hidup.
Sholat Fardhu Lima Waktu jika dilakukan dengan berjama’ah dapat sebagai sarana mempererat tali kasih antar sesama, belum lagi sebagai penghilang keluh-kesah yang dalam diri setiap insan.
Kita juga bisa melakukan Shalat Jum’at sebagai sarana pertemuan mingguan  diantara sesama muslim. Disaat kesibukan kita sehari-hari telah membuat hati kita letih dengan urusan masing-masing, maka Shalat Lima waktu maupun Shalat Jum’at-lah dapat menjawab setiap permasalahan sosial kita.
Alhasil apapun aktivitas yang telah menurunkan semangat dan tenaga kita, ataupun permasalahan sehari yang telah membuat penat diri kita, shalat merupakan sumber energi baru, dan pemecah masalah yang jitu. Kerap kali seseorang ketika tertimpa berbagai persoalan hidup minuman sebagai jalan keluarnya, mereka menganggap minuman dapat menjadi solusi yang peraktis, tentu itu merupakan ansumsi yang salah.
Untuk di ketahui hidup kita berawal dengan adzan saat kita dilahirkan dan akan ditutup dengan shalat jenazah. Kejadian paling akhir dalam kehidupan manusia bahkan diberi nuansa ibadah berupa shalat jenazah, sebagai peringatan bagi yang masih bernafas, supaya kita selalu sadar bahwa kita akan disholatkan disaat ajal menjemput kita.


Wallohu A'lam

Merawat Cinta Kasih dalam Berumah Tangga


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا
Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.
Makna dan Penjelasan Ayat melalui sepenggal ayat 189 surat Al A’raaf tersebut di atas Allah swt memberikan informasi bahwa Dia menjadikan manusia seluruhnya berasal dari diri yang satu (nafsin wahidah), yaitu diri Nabi Adam as.
Informasi dari Allah swt bahwa umat manusia seluruhnya berasal dari keturunan Nabi Adam as terasa lebih menenteramkan dan memuaskan dari pada informasi yang dikemukakan belakangan oleh Charles Darwin (1804-1872) dengan teori evolusinya yang menyatakan umat manusia berasal dari sejenis makhluk yang disebut anthropoides (kera). Diri manusia seluruhnya secara naluri akan mengingkari informasi belakangan itu, tanpa harus susah-susah membatalkan teori itu dengan dasar-dasar Islam.
Dari diri Nabi Adam as, Allah swt lalu menciptakan isterinya, yaitu Ibu Hawwa’. Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa ibu Hawwa’ diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri Nabi Adam as saat beliau tengah tidur. Beliau lalu merasa cinta dan tenteram denga ibu Hawwa’ dan begitu pula sebaliknya ibu Hawwa’ merasa cinta dan tenteram dengan Nabi Adam as.
Dari pertautan pasangan ini lahir dan tersebarlah umat manusia laki-laki dan perempuan ke berbagai pelosok bumi lengkap dengan perbedaan kelompok, karakter, warna kulit, bahasa, dialek, dsb. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada ayat lain:

يَااَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا 
وَنِسَاءً
Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (Q.S. An Nisaa’: 1)
Inilah sunnatullah, setiap manusia secara fithrah merasa cinta, tenteram, sayang, senang, dan suka dengan lawan jenisnya. Laki-laki cenderung cinta dan tenteram terhadap perempuan dan sebaliknya perempuan cenderung cinta dan tenteram dengan laki-laki.
Dalam diri manusia terdapat naluri berkeinginan terhadap lawan jenis (gharizah nau’). Jenis laki-laki dilengkapi dengan spermatozoa (sel kelamin jantan) sedang jenis perempuan dilengkapi dengan ovum (sel telur betina) yang antara satu dengan lainnya saling butuh-membutuhkan karena didorong oleh libido (naluri seksual) yang merupakan instink terkuat dalam tubuh manusia. Naluri tersebut menuntut pemenuhan, pelampiasan, dan pemuasan dengan hidup berumah tangga atau berpasangan, utamanya bila ada stimulus (perangsang, pembangkit). Jika tidak, maka manusia akan dilanda resah, gelisah, dan gangguan kejiwaan (psikosomatik) yang bisa memicu tumbuhnya gangguan-gangguan fisik. Kita saksikan laki-laki yang belum berumah tangga, ia tampak gundah gulana. Sebaliknya laki-laki yang telah mendapatkan pasangan dia tampak lebih tenteram dan tenang. Allah swt berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ اَنفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً اِنَّ فِي ذَلِكَ لاَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Q.S. Ar Ruum: 21)
Hidup berpasangan ini memiliki sekian banyak fungsi. Namun di antara sekian banyak fungsi itu ada dua fungsi yang penting, yaitu fungsi hidup berpasangan sebagai rekreasi (mencari kesenangan dan ketenteraman) dan fungsi prokreasi (fungsi menghasilkan keturunan) sebagai sarana melanjutkan populasi manusia dalam kehidupan berumah tangga Allah swt menjanjikan mawaddah wa rahmah yang berarti cinta yang tulus dan murni dari kedua belah pihak yang berpasangan. Cinta yang tulus dan murni merupakan tiang penyangga tegaknya kehidupan berumah tangga yang harus diusahakan. Dan karenanya tidak ada perpaduan dan pertautan yang lebih kokoh daripada ikatan pernikahan. Firman Allah swt:

وَاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (Q.S. An Nisaa’: 21)
Pertautan hati antara dua pasangan berbeda jenis kelamin ini jauh lebih kuat daripada sekadar ikatan anak dengan orangtua, ikatan antara guru dengan murid, ikatan antara majikan dengan bawahan, dan ikatan-ikatan yang lain. Dua pasangan yang hatinya dipertautkan itu bisa hidup serumah, sekamar, seranjang, bahkan satu tubuh (satu badan). Apalagi dalam proses awalnya pertautan ini dirajut dengan menggunakat kalimat Allah swt. Ini di dunia. Di akhirat, pertautan hati dua pasangan demikian pula menjadi ikatan yang paling kokoh. Murid dengan guru betapa pun kuat ikatannya di surga keduanya tidak akan berkumpul serumah, seranjang, dan satu tubuh. Berbeda dengan ikatan pernikahan. Selama keduanya pasangan yang sholeh dan masuk surga bersama-sama. Tidak ada keindahan melebihi indahnya kedua pasangan suami isteri yang sama-sama masuk surga dan masuk surga bersama-sama. Firman Allah swt:

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ اَنْتُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ
Masuklah kamu dan isteri-isterimu ke dalam surga, kamu sekalian akan diberikan nikmat yang banyak (digembirakan). (Q.S. Az Zukhruf: 70)
Atas dasar ini rumah tangga perlu terus dibina secara langgeng dan harmonis dunia hingga akhirat. Dalam proses perjalanan pembinaan ini memang akan didapati sekian banyak rintangan dan kendala. Ujian keluarga. Badai. Aral melintang. Problematika kehidupan. Akan banyak ditemui hal-hal yang tidak disukai kaitannya dengan watak maupun perilaku masing-masing. Wajar. Ibarat piring-piring kaca yang ditata akan ada suara-suara benturan, namun dengan penataan, piring-piring itu akan tampak rapi dan indah. Di sinilah perlunya mensiasati problem rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Harus ada kesabaran dan tahan derita (tahammul). Ada yang mengalah kalau perlu. Dan saling memaklumi serta maaf-memaafkan.
Problem rumah tangga tidak sepatutnya buru-buru diatasi dengan thalaq atau proses perceraian lainnya. Ini bentuk kerugian karena berarti hubungan dan ikatan terputus. Padahal di masa depan adakah yang lebih indah daripada pertautan hati suami isteri dan pertautan hati itu berlanjut hingga di surga bersama-sama?! Kalau setiap problem harus diatasi dengan perceraian, tentulah Nabi Luth as lebih layak untuk menthalaq isterinya. Nyatanya itu tidak beliau lakukan. Allah swt mengingatkan:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَاِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى اَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Dan pergauli mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Q.S. An Nisaa’: 19)
Memang, sering suami mendapati dari isterinya satu perangai buruk yang menjengkelkan, misalnya cemburu buta dan mutungan (baca: mbegog). Namun perlu disadari bahwa di balik satu perangai buruk itu ada sekian banyak perangai yang menjadikan suami suka rela terhadap isterinya, seperti isteri suka membantu dan melayani suaminya (khidmah) bahkan menghabiskan waktunya untuk itu. Mencuci. Memasak. Menyeterika. Memijiti. Menyiapkan dan menghidangkan makanan atau sekedar teh manis. Jasa yang luar biasa. Tak ternilai bila diukur dengan materi. Maka Rasulullah saw memperingatkan para suami menyadari ini, tidak menstigmatisasi perangai isteri seluruhnya buruk, dan tidak buru-buru mengatasinya dengan thalaq. Sabda Rasulullah saw:

لاَ يَفْرَكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً ، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
Orang beriman laki-laki (suami) tidak boleh membenci orang beriman perempuan (isteri). Jika suami membenci satu perangai (buruk) dari isterinya, dia bisa rela (suka, menerima, cinta) terhadap perangainya yang lain (yang baik). (H.R. Muslim)
Isteri demikian pula kadang mendapati pada diri suaminya sesuatu yang tidak disukainya seperti membentak (berkata kasar) dan main tangan. Namun di balik itu patut disadari bahwa ada tanggung jawab besar yang diberikan suami kepada isterinya. Masing-masing pihak suami isteri sama-sama menyadari kekurangannya dan bersama itu keduanya memadukan kelebihan masing-masing demi terbinanya keluarga yang harmonis kini dan esok serta akan datang saat-saat terindah ketika keduanya masuk surga bersama-sama.
Umar bin Khattab adalah teladan dalam hal ini. Dia tipe laki-laki yang keras. Namun di depan isterinya, dia sayang dan lemah lembut di satu sisi dan di sisi lain dia sabar dan tahan derita karena mengingat jasa besar yang ditunaikan sang isteri kepadanya. Suatu hari dia berkata: “Seorang suami di dalam keluarganya selayaknya menjadi laksana anak-anak (lembut dan kasih sayang). Namun di hadapan masyarakat ia keluar laksana orang dewasa (tokoh dan orang besar yang berwibawa).” (Az Zawaj Al Islami Al Mubakkir, Ash Shabuni, 130)
Seseorang mengeluh kepada Umar bin Khattab bahwa cintanya kepada isterinya telah memudar dan ia bermaksud menceraikannya. Umar menasihati: “Sungguh jelek (niatmu). Apakah semua rumah tangga (hanya dapat) terbina dengan cinta? Di mana taqwamu dan janjimu kepada Allah? Di mana pula rasa malumu kepada-Nya? Bukankah kamu sebagai sepasang suami-isteri telah saling bercampur (menyampaikan rahasia) dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat?”
Betatapun demikian syara’ (hukum Islam) memberikan jalan keluar dari problem-problem rumah tangga. Jika problem itu besar dan tidak dapat diatasi, disediakan jalan keluar berupa misalnya thalaq. Tapi thalaq itupun seyogyanya dijatuhkan secara bertahap mengingat ketergantungan yang sangat besar isteri terhadap suaminya. Jika problem itu berupa nusyuz (durhaka) pertama-tama diperingatkan, tidak diberikan nafkah, tidak tidur bersama, hingga dipukul dengan pukulan yang tidak melukai.
Demikianlah Allah swt menyerukan kita menjalani kehidupan berumah tangga secara harmonis, merawat cinta kasih, mawaddah wa rahmah, cocok, serasi, selaras, sehati, dunia dan akhirat.[]
Al-Wasath

Oleh abina K.H. Ihya' ulumiddin
Pengasuh ma'had nurul haromain pujon