Translate

Selasa, 07 April 2015

Merawat Cinta Kasih dalam Berumah Tangga


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا
Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.
Makna dan Penjelasan Ayat melalui sepenggal ayat 189 surat Al A’raaf tersebut di atas Allah swt memberikan informasi bahwa Dia menjadikan manusia seluruhnya berasal dari diri yang satu (nafsin wahidah), yaitu diri Nabi Adam as.
Informasi dari Allah swt bahwa umat manusia seluruhnya berasal dari keturunan Nabi Adam as terasa lebih menenteramkan dan memuaskan dari pada informasi yang dikemukakan belakangan oleh Charles Darwin (1804-1872) dengan teori evolusinya yang menyatakan umat manusia berasal dari sejenis makhluk yang disebut anthropoides (kera). Diri manusia seluruhnya secara naluri akan mengingkari informasi belakangan itu, tanpa harus susah-susah membatalkan teori itu dengan dasar-dasar Islam.
Dari diri Nabi Adam as, Allah swt lalu menciptakan isterinya, yaitu Ibu Hawwa’. Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa ibu Hawwa’ diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri Nabi Adam as saat beliau tengah tidur. Beliau lalu merasa cinta dan tenteram denga ibu Hawwa’ dan begitu pula sebaliknya ibu Hawwa’ merasa cinta dan tenteram dengan Nabi Adam as.
Dari pertautan pasangan ini lahir dan tersebarlah umat manusia laki-laki dan perempuan ke berbagai pelosok bumi lengkap dengan perbedaan kelompok, karakter, warna kulit, bahasa, dialek, dsb. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada ayat lain:

يَااَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا 
وَنِسَاءً
Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (Q.S. An Nisaa’: 1)
Inilah sunnatullah, setiap manusia secara fithrah merasa cinta, tenteram, sayang, senang, dan suka dengan lawan jenisnya. Laki-laki cenderung cinta dan tenteram terhadap perempuan dan sebaliknya perempuan cenderung cinta dan tenteram dengan laki-laki.
Dalam diri manusia terdapat naluri berkeinginan terhadap lawan jenis (gharizah nau’). Jenis laki-laki dilengkapi dengan spermatozoa (sel kelamin jantan) sedang jenis perempuan dilengkapi dengan ovum (sel telur betina) yang antara satu dengan lainnya saling butuh-membutuhkan karena didorong oleh libido (naluri seksual) yang merupakan instink terkuat dalam tubuh manusia. Naluri tersebut menuntut pemenuhan, pelampiasan, dan pemuasan dengan hidup berumah tangga atau berpasangan, utamanya bila ada stimulus (perangsang, pembangkit). Jika tidak, maka manusia akan dilanda resah, gelisah, dan gangguan kejiwaan (psikosomatik) yang bisa memicu tumbuhnya gangguan-gangguan fisik. Kita saksikan laki-laki yang belum berumah tangga, ia tampak gundah gulana. Sebaliknya laki-laki yang telah mendapatkan pasangan dia tampak lebih tenteram dan tenang. Allah swt berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ اَنفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً اِنَّ فِي ذَلِكَ لاَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Q.S. Ar Ruum: 21)
Hidup berpasangan ini memiliki sekian banyak fungsi. Namun di antara sekian banyak fungsi itu ada dua fungsi yang penting, yaitu fungsi hidup berpasangan sebagai rekreasi (mencari kesenangan dan ketenteraman) dan fungsi prokreasi (fungsi menghasilkan keturunan) sebagai sarana melanjutkan populasi manusia dalam kehidupan berumah tangga Allah swt menjanjikan mawaddah wa rahmah yang berarti cinta yang tulus dan murni dari kedua belah pihak yang berpasangan. Cinta yang tulus dan murni merupakan tiang penyangga tegaknya kehidupan berumah tangga yang harus diusahakan. Dan karenanya tidak ada perpaduan dan pertautan yang lebih kokoh daripada ikatan pernikahan. Firman Allah swt:

وَاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (Q.S. An Nisaa’: 21)
Pertautan hati antara dua pasangan berbeda jenis kelamin ini jauh lebih kuat daripada sekadar ikatan anak dengan orangtua, ikatan antara guru dengan murid, ikatan antara majikan dengan bawahan, dan ikatan-ikatan yang lain. Dua pasangan yang hatinya dipertautkan itu bisa hidup serumah, sekamar, seranjang, bahkan satu tubuh (satu badan). Apalagi dalam proses awalnya pertautan ini dirajut dengan menggunakat kalimat Allah swt. Ini di dunia. Di akhirat, pertautan hati dua pasangan demikian pula menjadi ikatan yang paling kokoh. Murid dengan guru betapa pun kuat ikatannya di surga keduanya tidak akan berkumpul serumah, seranjang, dan satu tubuh. Berbeda dengan ikatan pernikahan. Selama keduanya pasangan yang sholeh dan masuk surga bersama-sama. Tidak ada keindahan melebihi indahnya kedua pasangan suami isteri yang sama-sama masuk surga dan masuk surga bersama-sama. Firman Allah swt:

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ اَنْتُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ
Masuklah kamu dan isteri-isterimu ke dalam surga, kamu sekalian akan diberikan nikmat yang banyak (digembirakan). (Q.S. Az Zukhruf: 70)
Atas dasar ini rumah tangga perlu terus dibina secara langgeng dan harmonis dunia hingga akhirat. Dalam proses perjalanan pembinaan ini memang akan didapati sekian banyak rintangan dan kendala. Ujian keluarga. Badai. Aral melintang. Problematika kehidupan. Akan banyak ditemui hal-hal yang tidak disukai kaitannya dengan watak maupun perilaku masing-masing. Wajar. Ibarat piring-piring kaca yang ditata akan ada suara-suara benturan, namun dengan penataan, piring-piring itu akan tampak rapi dan indah. Di sinilah perlunya mensiasati problem rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Harus ada kesabaran dan tahan derita (tahammul). Ada yang mengalah kalau perlu. Dan saling memaklumi serta maaf-memaafkan.
Problem rumah tangga tidak sepatutnya buru-buru diatasi dengan thalaq atau proses perceraian lainnya. Ini bentuk kerugian karena berarti hubungan dan ikatan terputus. Padahal di masa depan adakah yang lebih indah daripada pertautan hati suami isteri dan pertautan hati itu berlanjut hingga di surga bersama-sama?! Kalau setiap problem harus diatasi dengan perceraian, tentulah Nabi Luth as lebih layak untuk menthalaq isterinya. Nyatanya itu tidak beliau lakukan. Allah swt mengingatkan:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَاِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى اَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Dan pergauli mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Q.S. An Nisaa’: 19)
Memang, sering suami mendapati dari isterinya satu perangai buruk yang menjengkelkan, misalnya cemburu buta dan mutungan (baca: mbegog). Namun perlu disadari bahwa di balik satu perangai buruk itu ada sekian banyak perangai yang menjadikan suami suka rela terhadap isterinya, seperti isteri suka membantu dan melayani suaminya (khidmah) bahkan menghabiskan waktunya untuk itu. Mencuci. Memasak. Menyeterika. Memijiti. Menyiapkan dan menghidangkan makanan atau sekedar teh manis. Jasa yang luar biasa. Tak ternilai bila diukur dengan materi. Maka Rasulullah saw memperingatkan para suami menyadari ini, tidak menstigmatisasi perangai isteri seluruhnya buruk, dan tidak buru-buru mengatasinya dengan thalaq. Sabda Rasulullah saw:

لاَ يَفْرَكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً ، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
Orang beriman laki-laki (suami) tidak boleh membenci orang beriman perempuan (isteri). Jika suami membenci satu perangai (buruk) dari isterinya, dia bisa rela (suka, menerima, cinta) terhadap perangainya yang lain (yang baik). (H.R. Muslim)
Isteri demikian pula kadang mendapati pada diri suaminya sesuatu yang tidak disukainya seperti membentak (berkata kasar) dan main tangan. Namun di balik itu patut disadari bahwa ada tanggung jawab besar yang diberikan suami kepada isterinya. Masing-masing pihak suami isteri sama-sama menyadari kekurangannya dan bersama itu keduanya memadukan kelebihan masing-masing demi terbinanya keluarga yang harmonis kini dan esok serta akan datang saat-saat terindah ketika keduanya masuk surga bersama-sama.
Umar bin Khattab adalah teladan dalam hal ini. Dia tipe laki-laki yang keras. Namun di depan isterinya, dia sayang dan lemah lembut di satu sisi dan di sisi lain dia sabar dan tahan derita karena mengingat jasa besar yang ditunaikan sang isteri kepadanya. Suatu hari dia berkata: “Seorang suami di dalam keluarganya selayaknya menjadi laksana anak-anak (lembut dan kasih sayang). Namun di hadapan masyarakat ia keluar laksana orang dewasa (tokoh dan orang besar yang berwibawa).” (Az Zawaj Al Islami Al Mubakkir, Ash Shabuni, 130)
Seseorang mengeluh kepada Umar bin Khattab bahwa cintanya kepada isterinya telah memudar dan ia bermaksud menceraikannya. Umar menasihati: “Sungguh jelek (niatmu). Apakah semua rumah tangga (hanya dapat) terbina dengan cinta? Di mana taqwamu dan janjimu kepada Allah? Di mana pula rasa malumu kepada-Nya? Bukankah kamu sebagai sepasang suami-isteri telah saling bercampur (menyampaikan rahasia) dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat?”
Betatapun demikian syara’ (hukum Islam) memberikan jalan keluar dari problem-problem rumah tangga. Jika problem itu besar dan tidak dapat diatasi, disediakan jalan keluar berupa misalnya thalaq. Tapi thalaq itupun seyogyanya dijatuhkan secara bertahap mengingat ketergantungan yang sangat besar isteri terhadap suaminya. Jika problem itu berupa nusyuz (durhaka) pertama-tama diperingatkan, tidak diberikan nafkah, tidak tidur bersama, hingga dipukul dengan pukulan yang tidak melukai.
Demikianlah Allah swt menyerukan kita menjalani kehidupan berumah tangga secara harmonis, merawat cinta kasih, mawaddah wa rahmah, cocok, serasi, selaras, sehati, dunia dan akhirat.[]
Al-Wasath

Oleh abina K.H. Ihya' ulumiddin
Pengasuh ma'had nurul haromain pujon


Selasa, 03 Maret 2015

Meninggalkan Shalat Melawan Aturan Alam





Allah tabaraka wata’ala berfirman:
1.   1.   “Tujuh langit dan bumi, dan apa-apa yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih (mensucikan) Allah. Dan tiada sesuatu apapun kecuali bertasbih dengan memujiNya tetapi kalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Bijaksana Maha Pengampun”

2.   2.   “Dan hanya kepada Allah, seluruh orang yang ada di langit dan bumi serta bayang-bayang mereka  bersujud karena ketaatan atau keterpaksaan pada waktu pagi dan petang hari”

Dua ayat di atas memberikan penjelasan bahwa alam keseluruhan dan bagian-bagiannya, selama mereka ada, senantiasa melakukan shalat kepada Allah. Ia tidak pernah melepaskan diri dari shalat meski hanya sekejap, karena sesungguhnya ia berada dimaqam ubudiyyah kepada Allah dalam setiap waktu dan masa.

Barang siapa yang melakukan pengamatan secara mendalam pasti menyaksikan bahwa secara zhahir dan bathin alam seluruhnya dalam keadaan sedang melakukan shalat. Jika demikian halnya, maka barang siapa meninggalkan shalat berarti sungguh dirinya telah melawan arus seluruh makhluk dan menciderai aturan alam. Dan kiranya cukup ancaman Allah atas dirinya. Ada perintah agar ia dibunuh karena hal itu. Dan juga ada penjelasan bahwa kelak dia akan dikumpulkan bersama Fir’aun dan Haman serta bala tentara keduanya sebagai termasuk orang-orang sombong yang tidak mau beribadah kepada Allah. Rasulullah Saw bersabda:

“Barang siapa meninggalkan shalat secara sengaja maka sungguh ia telah kafir secara terang-terangan” (HR Abu Dawud at Thayalisi dari Anas ra. Lihat al Jami’ as shaghirnomer 8578)

Berikut ini adalah beberapa pendapat berbeda tentang makna hadits ini:
1. 1     Ia berhak mendapatkan hukuman seperti orang yang telah kafir

2.  2    Hampir saja ia tercabut dari keimanan karena talinya telah terlepas dan tiangnya telah roboh sebagaimana dikatakan bagi orang yang berada dekat dengan suatu daerah bahwa dirinya telah sampai di daerah tersebut

3.  3    Ia telah melakukan prilaku yang sama dengan prilaku orang-orang kafir serta menyerupai mereka karena mereka tidak melakukan shalat

4.  4    Sungguh ia telah menutupi ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang terkhusus(dalam ibadah shalat) dan telah dibebankan oleh Allah kepada mereka agar ditampakkan[10]
Pendapat-pendapat berbeda ini muncul karena memang masih bisa diharapkan ia mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad Saw yang telah bersabda:

“Syafaatku untuk para pelaku dosa-dosa besar dari umatku”.  “Seorang yang datang dari sisi Tuhanku (malaikat selain Jibril) mendatangiku lalu menawarkan pilihan kepadaku antara separuh umatku dimasukkan surga atau syafaat, maka aku memilih syafaat. Dan syafaat itu adalah bagi orang yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.

Barang siapa menjalankan shalat maka sungguh telah menjalankan perintah Allah seperti dalam firmanNya: “Dan shalatlah untuk mengingatKu” .  dan barang siapa mengingatAllah maka Allah ta’ala mengingatnya dalam diriNya. Dan ingatan Allah ta’ala kepada seorang hamba (ketika Allah menyebut seorang hamba) adalah lebih besar daripada seluruh hal yang dijadikan sarana hamba mendekatkan diri kepada Tuhannya sehingga ia tidak melihat lagi amalnya. (ini berdasarkan) pada pendapat orang yang menafsirkan firman Allah, “…dan sungguh dzikir Allah itu lebih besar”[14] dengan tafsiran seperti ini.

Perlu dimengerti bahwa ada perbedaan antara orang yang menjalankan shalat dalam bentuk zhahir dan orang yang menjalankan shalatnya dalam bentuk batin. Orang yang kedua telah menjalankan shalat dengan tubuh, hati, ruh dan akalnya sehingga ia berhak mendapatkan kemuliaan. Dan barang siapa tidak seperti demikian, maka ia berada dalam kehendakNya dan (masih) ditulis baginya apa yang ia ingat dari shalatnya saja. Marilah memohon ampunan kepada Allah Dzat Maha Agung dan memohon maaf kepadaNya. Sungguh Dia Maha Pemurah Maha Bijaksana.

=والله يتولي الجميع برعايته=

Jumat, 06 Februari 2015

KEBIJAKAN POLITIK & KAITANNYA DENGAN SHOLAT,SYAHWAT DAN RIZKI






Firman Alloh Suhanahu Wata’ala:
“Maka datanglah sesudah mereka,kholfun (sosok generasi pengganti yang buruk) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan syahwatnya,maka kelak mereka akan menemui ghayyi (keburukan atau lembah di neraka)”.(QS Maryam: 59)
Proses peralihan kepemimpinan dari generasi satu ke generasi berikutnya di kalangan ummat Islam biasanya diikuti dengan pergeseran nilai.Contohnya peralihan kepemimpinan dari Nabi Musa as kepada Nabi Harun as.Pergantian kepemimpinan dari Rosululloh saw kepada para Sahabat.Dan proses peralihan kepemimpinan lainnya dari masa ke masa.Sampai akhirnya pergeseran nilai itu di tandai,salah satunya,dengan munculnya kholfun (sosok generasi yang buruk,lawan dari kholafun,generai penerus yang baik).
Ayat tersebut menggambarkan secara jelas dua perangai dari sosok generasi yang buruk itu.Pertama,menyia-nyiakan sholat (idlo’atus sholah).Menyia-nyiakan sholat bisa jadi maksudnya ialah tidak melaksnakan sholat sama sekali atau melaksanakannya namun diluar waktu yang di tentukan.Menyia-nyiakan sholat bisa berarti mengabaikan sisi ruhiyah (hakikat bathiniyah) sholat sebagai sarana komunikasi dengan Alloh agar terbentuk kepribadian yang terdidik dalam menghindari perilaku menyeleweng,dzalim,dan sifat buruk lainnya.
Pelaksanaan sholat masih sering dipandang,Cuma memenuhi beban kewajiban,belum sampai ketahap kesadaran,apalagi sebagai sebuah kebutuhan.
Ajaran yang menjadi tiang penegak agama ini jika sudah diabaikan berakibat ajaran-ajaran yang lain akan lebih diabaikan lagi.
Kedua,sebagai efek dari menyia-nyiakan sholat,generasi buruk itu selalu memperturutkan syahwat.Apakah itu syahwat al jaah atau ar riaasah (jabatan,kekuasaan),syahwat al maal (harta benda) syahwat al mar’ah (lawan jenis),syahwat al atbaa’ (banyak pengikut),dan sebagainya.
Imam Ibnu Qudamah mengatakan bahwa bermula dari syahwat perut (syahwat al bathn) akan timbul syahwat al farj (syahwat berhubungan dengan lawan jenis) dan syahwat al maal.Berikutnya dari syahwat al farj dan syahwat al maal akan memicu munculnya syahwat lanjutan,yaitu syahwat al jaah atau syahwat ar riaasah. (Minhajul Qosidin 153 dan 199)
Akan dominasinya syahwat harta dan jabatan,Rosululloh saw bersabda:
“Dua serigala lapar yang dilepas di kandang domba tidaklah merusak mangsa itu melebihi ketamakan seseorang atas harta dan jabatan dalam merusak agamanya.”(HR,Tirmidzi)
Sementara tentang dominasinya syahwat al farj,diriwayatkan:
“Aku tidak meninggalkan fitnah bagi kaum laki-laki setelah wafatku yang lebih berbahaya dari pada wanita”.(HR.Bukhori Muslim)
Kaitannya dengan kholfun (generasi buruk),para pemimpin muslim di setiap masa yang meneruskan kepemimpinan sebelumnya,kebanyakan selalu berkecenderungan mengejar syahwat- syahwat duniawi itu.Sedang sholatnya tidak lagi menjiwai hati nurani sehingga kuasa membatasi syahwat tersebut.Ibadah yang menjadi tolok ukur amal itu justru seakan-akan menjadi kegiatan upacara belaka.Hambar.Tidak ada makna ruhiyah.Jika tidak sholat sama sekali.
Atas nama dakwah agama mereka merengkuh simpati rakyat demi kekuasaan.Ketika berkuasa dan kena ‘pangku”,mereka memilih diam dan hidup tarof (bermewah-mewahan).Serakah.Menuntut fasilitas lebih dari apa yang dibutuhkan.Mengesampingkan misi utamanya,yaitu berpolitik demi dakwah.
Ketika kepentingan syahwat duniawi ini dominan,maka efeknya di angkatlah bithonah yang dirasa dapat melindungi lestarinya kepentingan syahwat itu terlepas dari layak atau tidaknya.Efek berikutnya,rakyat yang semestinya di ayomi dijadikan rival (musuh),bukan sebgai mitra bahkan di bodohi,padahal lazimnya pemimpin adalah abdi (khadim) yang dituntut melayani rakyat.
Sikap seperti ini pernah dijalankan oleh Fir’aun.Firman ALloh swt:
“Fir’aun memandang rendah kaumnya (dengan pengaruh kata-kata),lalu mereka tunduk patuh kepadanya.”(QS Az Zukhruf: 54)
Ketika pejabat cenderung rakus harta dan tahta,maka lahirlah gejala korupsi dan penggelapan dimana-mana di samping pertentangan dan percekcokan yang tidak selesai-selesai.Akibatnya terjadilah krisis multidimensi yang tidak kunjung mampu diatasi sebagai peringatan di dunia.Sementara di akhirat tentu ada yang lebih pedih.Dari sini rasanya sulit muncul Negara adil nan makmur disebabkan keberkahan saat itu telah dicabut sebagai efek kedzaliman dan kekufuran.Sebagai mana kelanjutan ayat:
“Kelak mereka akan menemui keburukan (di dunia dan akhirat)”.(QS.Maryam 59)
Fenomena perpolitikan Indonesia saat ini rasanya terdapat benang merah dengan konteks ayat di muka.Pasca peralihan kepemimpinan,muncul generasi penerus yang pada satu sisi mengabaikan ideologi tauhid yang tercermin dari ibadah sholatnya.Ajaran yang menuntun tegas dalam bersikap,teguh prinsip,dan pantang menyerah itu terabaikan.Pada sisi yang lain generasi yang diharapkan berlaku lurus untuk kepentingan ummat tersebut justru memperturutkan syahwat.
Kerap disuguhkan pada kita sandiwara politik,permainan politik pat-gulipat (petak umpet,sembunyi-sembunyi),politik zig zag (berbelok-belok),dan politickling (jegal menjegal) yang disebut dengan mukhoda’ah,atas nama persetujuan damai,rekonsiliasi,toleransi,kompromi (jalan tengah),hasil runding,dan lainnya atau yang disebut dengan musaalamah.Padahal apa yang kebanyakan dilakukan justru oleh duta-duta partai berbasis massa muslim ini seluruhnya tersirat disitu nuansa ketidakjujuran,tidak konsisten,oportunis (Cuma cari untung),dan mengejar kepentingan sesaat dalam aktifitas dakwah dan perjuangan.
Dalam sidang MPR 1978 (hasil pemilu 1977) kala membicarakan P4,fraksi PPP walk out (keluar meninggalkan sidang) di pimpin tokoh NU,yaitu KH Bisri Syamsuri Jombang.(Dosa-dosa  politik,KH Firdaus AN).Dan teguh memegang prinsip dengan sikap pentang menyerah ini rasanya belum kita jumpai saat ini.Kecuali pantang menyerah dalam persoalan yang bukan prinsip  ideologis seperti fanatisme golongan.
Apa yang dilakukan oleh para pemimpin muslim itu rasanya berbeda dengan kebijakan politik yang dijalankan oleh Rosululloh saw.Kebijakan politik beliau penuh dengan hikmah.Hikmah tidak sama dengan mukhoda’ah dan musaalamah karena hikmah diikat erat dengan ideologi yang prinsip,yaitu aqidah Islamiyah.
Pada peristiwa siyasah Mufawadloh (perundingan dan bujuk rayu) misalnya,tokoh-tokoh kafir Quraisy menawarkan pada beliau jabatan,harta benda,wanita dan tabib,ternyata beliau menolak.Beliau justru maju terus pantang mundur di dalam aktifitas dakwah.Mungkin bisa saja beliau menerima tawaran itu agar dengan kekuasan dakwah terangkat,dengan harta dakwah terjamin,dan sebagainya,asal misi dakwah tetap.Namun kebijakan itu tidak beliau lakukan karena yang tersirat disitu bukan hikmah,tetapi kalau tidak musaalamah maka mukhoda’ah yang keduanya menafikan prinsip dan esensi dakwah.
Seandainya tergoda atau paling tidak tercapai kompromi dan toleransi dengan tawaran menggiurkan itu,niscaya luntur keagungan dakwah yang diemban.Tawaran yang disampaikan oleh tokoh-tokoh kafir Quraisy dan tawaran-tawaran semacam itu hakikatnya adalah tawaran-tawaran yang semu dan palsu (fatamorgana),karena hal itu justru dimaksudkan sebagai rekayasa untuk mematikan dakwah.(Fiqhus siroh,Dr.Said Romadlon al-Buthi.115)
Dalam sejarah pernah terjadi musaalamah dan mukhoda’ah pada tanggal 18 agustus 1945 yang mengkibatkan kita kehilangan kesempatan yang baik,ketika Soekarno berkata dengan janji-janji:”nanti kalau kita telah bernegara dalam suasana yang lebih tenteram,kita tentu akan mengumpulkan kembali Majelis Perwakilan Rakyat yang dapat membuat Undang-Undang yang lebih lengkap dan sempurna.”Piagam Jakarta,48.Endang Saifuddin anshari).Dengan rayuan itu kita rela melepas Piagam Jakarta.
Hal-hal diatas agaknya terkait dengan problem rizki dalam maknanya yang luas.Kebanyakan diantara kita hendak meraih rizki sebanyak-banyaknya,dengan segala cara kalau perlu.Sementara rizki masing-masing telah ditakar dengan ukurannya sendiri-sendiri.Sebagian dijadikan maqdur (sempit),sebagian yang lain mabsuth (luas),dan sebagian yang lain dijadikan makfuf (cukup).Hanya saja,apakah takaran masing-masing itu diterima dengan jiwa besar,lapang dada dan lega hati yang menghantarkannya diberkahi atau justru diterima dan diambil dengan tamak,rakus,serakah,dan berlebih-lebihan yang mengakibatkan tidak diberkahi.Dengan tanpa menafikan aspek kerja yang wajar,apapun,rizki yang baik adalah rizki yang berkah (cukup).Sabda Rosululloh saw:
“Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam,diberikan rizki yang cukup (kafaf) serta dijadikan menerima oleh Alloh swt terhadap apa yang diberikan-Nya”.(HR.Muslim)
Jalan mencari rizki yang berkah,salah satunya ialah dengan memfokuskan terus perhatian hidup pada dakwah sebagai aktifitas yang mulia.Dengan dakwah yang optimal persoalan rizki insyaAlloh tercukupi,asal jiwanya pas,walaupun tentu saja harus melalui proses yang boleh jadi berangsur-angsur.Dan untuk mendapatkan jalan keluar manakala dilanda kesusahan (rizki sempit),bisa bersegera memanfaatkan sarana doa dan sholat untuk taqorrub kepada-Nya.(Usul at Tarbiyah an Nabawiyah,53.Abuya Muhammad Alawy al Maliki)
Diriwayatkan dalam hadis:
“Barang siapa pagi-pagi dan akhirat menjadi perhatian besarnya,maka Alloh mengumpulkan kebutuhan umumnya,menjadikan kekayaan dihatinya,dan dunia datang kepadanya dengan memaksa-maksa.Sedang barang siapa pagi-pagi dunia menjadi perhatian terbesarnya,maka Alloh mengkocar-kacirkan hartanya,menjadikan kekikiran di depan matanya,dan dunia tidak datang kecuali yang telah ditentukan baginya.”(HR.Tirmidzi)

Wallohu a’lam

Senin, 02 Februari 2015

MENGINTIP PERIBADI IBLIS




Dahulukala Makhluk yang bernama Iblis sebelum dilaknat Allah, Iblis adalah merupakan makhluk yang mulia disisi Allah dan merupakan salah satu makhluk yang paling di hormati oleh Malaikat. Kasih sayang Allah terbesar kepada Iblis adalah bahwa yang pertama dia telah mendapatkan taufik untuk menyembah Allah SWT. Yang kedua karena ibadahnya yang banyak, dia dimasukkan ke dalam kumpulan para malaikat. Ia pernah melakukan tugas-tugas mulia yang diperintahkan Allah kepadanya yaitu:

1. Iblis sebagai penjaga surga dalam kurun waktu 40.000 tahun.
2. Iblis pernah hidup bersama bergabung dengan Malaikat selama 80.000 tahun.
3. Iblis diangkat menjadi penasehat Malaikat selama 20.000 tahun.
4. Iblis menjadi pemimpin malaikat karobiyyun dalam waktu 30.000 tahun.
5. Iblis melakukan thowaf (mengelilingi) arasy bersama para malaikat dalam waktu 14.000 tahun.

Jadi, keseluruhan Iblis beribadah melakukan semua perintah Allah dalam kurun waktu 185.000 tahun lebih. Selama dalam ibadahnya seperti kita umat Islam, melakukan sholat, puasa, thowaf dengan para malaikat (mengelilingi baitul makmur di Arsy).

Iblis tidak merasa lelah dan mengeluh dalam menjalankan perintah Allah yang mulia ini. Iblis menjalankan dengan ikhlas, tidak ada niat apapun kecuali karena Allah semata.

Pada masa itu malaikat dan lainnya memberi gelar kepada Iblis Al A'ziz (makhluk Allah yang termulia), ada yang memberi gelar A'zazil (panglima besar malaikat).

Menurut kitab tafsir Munir dan Showi, Iblis beribadah pada Allah dalam masa 80.000 tahun, thowaf di baitul Makmur dan Arsy selama 14.000 tahun. Oleh karenanya dilangit pertama sampai ketujuh Iblis begitu dihormati oleh para Malaikat.

Malaikat di penjuru alam semesta, dari bumi, langit, baitul makmur, arsy, dan sebagainya, mereka semua menghormati pada Iblis sebagai makhluk Allah yang terhormat dan termulia, sehingga bila Iblis lewat di depan para malaikat, maka malaikat menghormati pada Iblis, bagaikan penghormatan prajurit kepada komandannya, pengawal istana pada rajanya, sehingga terhormatlah nama Iblis di penjuru alam semesta.

Namun sayang, di lauhul mahfudz, tulisan Iblis terselubung rapi tidak satupun makhluk yang tahu kecuali Allah, tertera Al-kafir Al-mal'un (Iblis inkar terkutuk). Dalam sumber lain, Iblis pada mulanya bernama Azazil dan tinggal di bumi. Azazil adalah jin yang taat kepada Allah dan memang Iblis sebenarnya adalah dari golongan Jin seperti pada firman Allah,

"Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat 'Sujudlah kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan Jin, maka ia mendurhakai Tuhannya" [QS. Al-Kahfi ayat 50]

Dia menyembah Allah selama 1000 tahun, lalu Allah swt mengangkatnya ke langit pertama. Di langit pertama, Azazil beribadah menyembah Allah selama 1000 tahun. Kemudian dia diangkat ke langit kedua, begitu seterusnya hingga akhirnya dia diangkat menjadi imam para malaikat.

Apa pun perintah Allah kepada malaikat juga adalah perintah baginya, karena dialah imam para malaikat yang memimpin malaikat. Azazil adalah imam dari seluruh malaikat (Al-muqorrobun, imamul jami'il malaikat).

Ada riwayat yang menyatakan Azazil beribadah kepada Allah selama 80.000 tahun dan tiada tempat di dunia ini yang tidak dijadikan tempat sujudnya ke hadirat Allah SWT.

Dalam satu riwayat menceritakan, malaikat Israfil melihat yang tersurat di Luh Mahfuz ada tercatat satu suratan yang berbunyi: "Adanya satu hamba Allah yang beribadah selama 80.000 tahun tetapi hanya kerana satu kesalahan, maka ibadah hamba itu tidak diterima Allah dan hamba itu terlaknat sehingga hari Kiamat.".

Maka menangislah Israfil karena bimbang makhluk yang tersurat di Loh Mahfuz itu adalah dirinya. Maka diceritakanlah Israfil kepada segala malaikat pengalamannya melihat apa yang tersurat di Loh Mahfuz.

Maka menangislah sekelian para malaikat karena takut dan bimbang dengan nasib mereka. Lalu semua malaikat datang menemui Azazil yang menjadi imam para malaikat, agar Azazil mendoakan keselamatan dunia dan akhirat kepada seluruh malaikat.

Azazil pun mendoakan keselamatan di dunia dan akhirat kepada seluruh malaikat dengan doa: "Ya Allah, janganlah Engkau murka terhadap mereka (para malaikat)." Namun, Azazil lupa untuk mendoakan keselamatan untuk dirinya. Setelah mendoakan semua para malaikat, Azazil terus menuju ke surga. Di atas pintu surga, Azazil terlihat suratan yang menyatakan: "Ada satu hamba dari kalangan hamba-hamba Allah yang muqarrabin yang telah diperintahkan Allah untuk membuat satu tugasan, tapi hamba tersebut mengengkari perintah Allah. Lalu dia tergolong dalam golongan yang sesat dan terlaknat.".

Lalu Allah Menciptakan Adam as, dan memerintahkan malaikat untuk sujud menghormat kepada Adam. Azazil, sebagai imam para malaikat, sepatutnya lebih dahulu bersujud memimpin para malaikat. Tetapi, dia menolak, karena dia merasa bahawa dirinya lebih baik dari pada Adam. Sementara para malaikat lain terus sujud tanpa dipimpin oleh Azazil.

Bukan saja enggan sujud, Azazil malah sombong dan menjawab kepada Allah: "Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: 'Sujudlah kamu semua kepada Adam', lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: 'Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?'" [QS. Al-Isra ayat 61]

Kesombongan Iblis ini berpuncak pada iri hati dan kedengkian Iblis terhadap Adam. Ia tidak terima karena Allah akan menciptakan Adam sebagai khalifah di bumi. Karena ia merasa lebih mulia dari Adam yang diciptakan dari tanah, sedangkan ia lebih mulia karena diciptakan dari api.

Ia durhaka kepada Allah, takabur dan lupa akan dirinya dimata Allah. Tak seharusnya ia membangkang perintah Tuhannya. Maka setelah itu, Iblis akhirnya diusir dari surga. Namanya dirubah menjadi Iblis dan dia bersumpah akan menyesatkan manusia dibumi.

"Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil". [QS. Al-Isra ayat 62]

Kemudian Allah berfirman, "Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup." [QS. Al-Isra ayat 63]

Dari kisah ini kita bisa mendapatkan pelajaran bahwa Iblis yang dulunya adalah ahli Ibadah dan makhluk Allah yang mulia sekalipun bisa menjadi makhluk yang dilaknat oleh Allah karena kesalahannya. Untuk itu, sebaiknya kita menjauhi sifat-sifat Iblis seperti sombong, angkuh iri dengki dan yang lainnya agar kita terhindar dari laknat Allah.


Allahu a'lamu bish shawaab