Translate

Sabtu, 09 Agustus 2014

An Nashru biYadillah Wahdah



(Pertolongan Hanya di Tangan Alloh)

Alloh berfirman:
وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَى لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ وَمَا النَّصْرُ إِلأَّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Dan Alloh tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) mu dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Alloh yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Ali Imron : 126)

Dari ayat ini bisa diambil kesimpulan bahwa pertolongan itu seperti rezeqi, yaitu qodho'. Seperti halnya manusia tidak memiliki kuasa menentukan rizqi dari sisi waktu dan jumlah, maka juga tidak ada seorang pun yang bisa menurunkan kemenangan pada waktu dan dengan ukuran tertentu. Adapun bagaimanakah Alloh menolong para Nabi dan utusan-Nya dan kapan pertolongan itu diberikan maka dengan melihat kisah tentang mereka dalam Al-Qur'an, kita akan menemukan tiga cara pertolongan Alloh :
1.       Adakalanya Dia memberikan pertolongan atau kemenangan kepada para nabi atas kaumnya sebagiaman Nabi Hud, Nabi Sholih, Nabi Syuaib, dan Nabi Luth Alaihimussalam.
2.       Adakalanya Dia menolong syariat Nabi-Nya seperti Nabi Yunus dan nabi Musa Alaihimassalam.
3.       Dan adakalanya Dia menolong Nabi-Nya sekaligus syariat-Nya seperti yang diterima oleh Rosululloh Sholalllohu 'Alaihi Wasallam. Dia menolong beliau semasa hidup dan setelah wafat serta menolong secara langsung atau mengerahkan orang lain untuk menolong beliau.

Begitulah kondisi para pengemban dakwah sebagaimana difirmankan-Nya,

 "Sungguh Kami pasti akan menolong para utusan Kami dan orang-orang beriaman dalam kehidupan dunia dan pada hari ketika para saksi berdiri." (Q.S. Al-Mu'minun:  ). Hanya saja pertolongan dari-Nya hanya akan diberikan kepada kaum beriman jika mereka mau menolongnya seperti ditegaskan dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Hai orang-orang beriman, jika kalian menolong Alloh maka Dia akan menolong dan meneguhkan kaki kalian." (Q.S. Muhammad: 7)

                Ini karena huruf "in" adalah huruf syarat yang seperti di maklumi. Hal ini berarti bahwa kaum beriman wajib memenuhi dan menyempurnakan syarat-syarat yang ditentukan untuk mendapatkan pertolongan dan tidak meremehkan hal tersebut. Jika tidak memenuhi syarat, maka tidak akan ada pertolongan.
                Persyaratan bisa dikatakan sempurna dengan berpegang teguh kepada Islam secara aqidah, hukum dan suluk serta melakukan amal yang meridhokan Alloh dalam aktiftas menolong agama-Nya. Selain itu, juga harus melakukan persiapan yang benar dan bahkan harus betul-betul profesional dalam menggunakan sarana dan cara untuk mencapai tujuan. Hal ini karena kita memahami bahwa pertolongan Alloh tidak berada di tangan kita, tetapi ada tangan-Nya yang bisa Dia memberikannya kepada orang yang telah menyempurnakan syarat-syarat. Hal demikian menjadikan kita sebagai seorang yang sangat khawatir melakukan keteledoran yang menyebabkan terhalang dari pertolongan. Baik keteledoran itu dalam ibadah dan ketaatan, dalam mengikuti jalan, sarana serta cara-cara yang benar. Semuanya ini adalah penghalang pertolongan darinya.
                Keteledoran pertama, (dalam ibadah dan ketaatan) tergambar dalam Firman Alloh:
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأَ َرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ
Sesungguhnya Alloh, telah menolong kamu (Hai para mu'min) di banyak medan peperangan. Dan (ingatlah) Perang Hunain, di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu,maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai berai." (Q.S. At Taubah : 25)

                Keteledoran kedua, (dalam ittiba' jalan, sarana, dan cara) tergambar dalam firman Alloh:

ôs)s9ur ãNà6s%y|¹ ª!$# ÿ¼çnyôãur øŒÎ) NßgtRq¡ßss? ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ ( #_¨Lym #sŒÎ) óOçFù=ϱsù öNçFôãt»oYs?ur Îû ̍øBF{$# MçGøŠ|Átãur .`ÏiB Ï÷èt/ !$tB Nä31ur& $¨B šcq6Åsè? 4 Nà6YÏB `¨B ߃̍ム$u÷R9$# Nà6YÏBur `¨B ߃̍ムnotÅzFy$# 4 §NèO öNà6sùt|¹ öNåk÷]tã öNä3uŠÎ=tFö;uŠÏ9 ( ôs)s9ur $xÿtã öNà6Ytã 3 ª!$#ur rèŒ @@ôÒsù n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$#  
Dan sesungguhnya Alloh telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rosul) sesudah Alloh memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Diantara kamu ada orang yang mengehendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Alloh memalingkanmu dari mereka untuk mengujimu: Dan sesungguhnya Alloh telah memaafkan kamu. Dan Alloh mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman." (Q.S. Ali Imron : 152)

                Jadi, pertolongan (baca: kemenangan) gagal diperoleh kaum muslimin di medan Uhud adalah karena ulah sebagian pasukan pemanah yang melanggar perintah Rosululloh Shoalllohu 'Alaihi Wasallam agar tetap berada di puncak gunung dan tidak meninggalkan tempat dengan alasan apapun.
                Seorang pengemban dakwah harus terdorong untuk melaksanakan tugas menolong agama Alloh dengan kadar kemampuan dan kekuatan masing-masing, utamanya kekuatan ruhiyah, yakni dengan merasa bahwa dalam aktifitas ini ia sedang melakukan aqad jual beli (membuat suatu kesepakatan) dengan Alloh dengan memposisikannya (dalam keyakinan) sebagai pembeli. Dia Maha Memiliki, Maha Pemberi Anugerah telah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ...
Sesungguhnya Alloh membeli dari orang-orang beriman diri dan harta benda mereka bahwa sesungguhnya bagi mereka ada surga... (Q.S. At Taubah: 111)

                Dan sudah bisa dipastikan tidak akan ada penipuan dalam berjual beli dengan Alloh karena penipuan adalah karakter manusia munafik sepeti disebut dalam firman-Nya:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ
Sesungguhnya orang-orang munafik menipu Alloh, padahal Alloh lah yang menipu mereka. (Q.S. An Nisa' : 141)

                Penipuan yang dimaksud adalah Alloh menimpakan khidzlan (penghinaan) atas mereka. Jika kaum muslimin mewujudkan syarat-syarat maka dia pasti menurunkan pertolongannya kepada mereka. Jika tidak, maka dia pasti menimpakan khidzlan atas mereka serta menahan pertolongannya dari mereka. Alloh berfirman:
إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Jika Alloh menolong kamu maka tidak akan ada orang yang bisa mengalahkanmu. Jika Alloh membiarkanmu maka siapakah gerangan selain Alloh yang dapat menolong kamu? (karena itu) hendaklah orang-orang beriman bertawakkal kepada Alloh. (Q.S. Ali Imron : 160)

Selasa, 08 Juli 2014

RAMADHAN




Allah  SWT menganugerahkan keistimewaan yang berlimpah kepada umat Islam berkat kemuliaan Nabinya, yaitu Nabi MUHAMMAD SAW. Dari keistimewaan yang berlimpah itu, ada keistimewaan agung yang dianugerahkan-Nya kepada mereka, yaitu bulan Ramadhan, sebuah bulan yang penuh hikmah, nikmat, dan barakah. Rasulullah saw menggambarkan bulan Ramadhan sebagai berikut:
Permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah maghfirah, dan penghujungnya adalah pembebasan dari api neraka
Di bulan itu, seluruh kaum muslimin diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh, yang sekaligus termasuk rukun islam yang ketiga. Yang menjadi nilai istimewa bagi umat Islam adalah bukan keberadaannya ibadah puasa itu sendiri, tapi hakikat bulan Ramadhan itu sendiri. Karena ibadah puasa merupakan ibadah yang sudah sejak dahulu disyariatkan kepada umat-umat sebelumnya. Dalam surah Al Baqarah ayat 183, Allah SWT berfirman:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
Jadi, ibadah puasa sudah ada sejak era Nabi-Nabi terdahulu. Namun, keberadaan Ramadhan sebagai bulan dilaksanakannya ibadah puasa merupakan keistimewaan tersendiri bagi umat ini. Allah memilihkan bulan Ramadhan sebagai bulan untuk berpuasa, karena bulan ini memiliki kemuliaan dan keberkahan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan yang lain.

Sementara Ramadhan itu sendiri diambil dari kata dasar (ramadha) yang artinya panas atau membakar. Bulan ini dinamakan demikian, karena bulan ini dapat membakar dosa-dosa manusia, sekaligus membakar musuh-musuh Allah SWT yang ingin menggoda para kekasih-Nya yang sedang menjalankan Ibadah suci.

Sabtu, 05 Juli 2014

Tetangga Sebelum Rumah




بسم الله الرحمن الرحيم


Persandingan dengan  figur-figur yang shaleh - yang akan selalu meneteskan kepada orang-orang yang bergaul dengan mereka (nila-nilai) kebaikan, ketaqwaan, kebenaran dalam berucap dan beramal, terus menambahkan pengertian dalam agama serta fokus pada kebenaran - adalah sebuah tuntutan syara’. Seorang muslim yang terbina tidak akan pernah merasa repot melaksanakan tuntutan ini betapapun dirinya telah mencapai ketinggian derajat,  status- mulia, dan posisi penting. Ini demi  mengamalkan firman Allah; “Dan tabahkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyembah Tuhan mereka di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoannya; janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan (sehingga) keadaannya itu (selalu) melewati batasQS l Kahfi:28. Karena itulah Nabi Musa alaihissalam bergegas berjalan di belakang seorang hamba yang shaleh agar bisa belajar kepadanya seraya mengatakan dengan penuh ketawadhu’an dan tatakrama; “...bolehkah saya mengikuti anda supaya anda mengajarkan kepadaku kebenaran yang telah diajarkan kepada andaQS al Kafi:66. Dan ketika hamba yang shaleh tersebut memberikan jawaban: “Sesungguhnya kamu tidak akan pernah sanggup bersabar bersamakuQS al Kahfi: 68, maka Nabi Musa alaihissalam dengan sangat berharap bergumam: “...insya Allah anda akan mendapatkan diriku sebagai seorang yang sabar, dan saya tidak akan menentang anda dalam urusan (apapun)QS al Kahfi: 70.
Persandingan dengan para figur yang shaleh dimulai dengan menyebut/mengingat mereka, lalu bergabung bersama mereka, selanjutnya berupaya menyerupai mereka dan berakhlak seperti akhlak mereka. Sungguh telah dikatakan:

  1. Rangkailah segala cerita tentang orang-orang shaleh dan sebutkanlah mereka. Dengan menyebut/mengingat mereka akan tercurah rahmat-rahmat
  2. Sebab bergaul dengan orang-orang mulia kamu dianggap bagian dari mereka, maka sungguh jangan pernah kamu terlihat akrab dengan  selain mereka
  3. Jika tidak bisa seperti mereka maka berusahalah serupa dengan mereka, sesungguhnya serupa dengan para tokoh (utama) adalah keberuntungan
  4. Aku mencintai orang-orang shaleh meski aku bukan termasuk mereka, (tetapi) semoga sebab mereka aku mendapatkan syafaat.
Aku membenci orang yang memperdagangkan kemaksiatan meskipun kami memiliki kesamaan dalam komoditas perdagangan
(Imam Syafii rahimahullah)

Sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam: “Ya Allah, bersama teman yang mulia” ketika menjelang wafat - seperti diriwayatkan Imam Bukhari dari Aisyah ra - juga memberikan isyarat akan masalah ini, selaras dengan firman Allah; “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, mereka itu akan  bersama-sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shaleh. Dan mereka itulah, teman yang terbaik. Itulah anugerah dari Allah dan cukuplah Allah sebagai Dzat yang Maha MengetahuiQS An Nisa’:69-70, yang juga sekaligus mengisyaratkan bahwa kebersamaan dengan mereka (orang-orang shaleh) bisa diperoleh jika memang dibarengi dengan ketaatan dan usaha maksimal untuk bisa meneladani mereka sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad shalatlallahu alaihi wasallam: “Seseorang bersama orang yang dicintai (nya)”HR Bukhari Muslim. Jadi kecintaan berlebihan Yahudi dan Nashrani kepada nabi mereka tidak memberikan manfaat (apapun) karena penyimpangan mereka terhadap Nabinya.
Dan untuk melengkapi faedah dalam topik kita kali ini kami mengingat apa yang dikatakan oleh Habib Ahmad bin Hasan al Atthas rahimahullah: [Halal sebelum harta. Tetangga sebelum rumah. Teman sebelum perjalanan]

=الله يتولى الجميع برعايته=

Selasa, 01 Juli 2014

SIAPA MAHRAMKU ??




Mahram (perempuan-perempuan yang haram dinikahi) ada dua macam, yaitu : Mahram 'ala ta'bid (haram dinikahi selamanya), mereka ada 18 perempuan, terbagi dalam 3 sebab : Pertama: sebab senasab, ada 7 perempuan, yaitu : ibu kandung ke atas (nenek, ibu nenek seterusnya), anak perempuan kandung ke bawah (cucu, anak cucu seterusnya), saudara perempuan baik sekandung, sebapak atau seibu, saudara perempuan bapak, saudara perempuan ibu, anak perempuan saudara laki-laki dan anak perempuan saudara perempuan. Kedua : sebab persusuan, ada 7 perempuan sama pembahasannya seperti pada sebab senasab. Ketiga : sebab perkawinan, ada 4 perempuan, yaitu : ibu istri (mertua), anak perempuan istri (anak tiri) jika terjadi hubungan badan dengan ibunya, istri ayah (ibu tiri) dan istri anak (menantu). Selain mereka haram untuk dinikahi, bersentuhan dengan mereka tidak membatalkan wudhu, juga boleh untuk saling bertatap muka. Mahram bil jam'i (haram dinikahi karena sebab penggabungan), yaitu dua orang perempuan yang terdapat hubungan senasab atau sepersusuan. Gambarannya : jika salah satu diantara keduanya menjadi laki- laki, maka haram baginya menikahi yang lainnya, contoh : dua perempuan bersaudara, jika salah satu diantara keduanya digambarkan lelaki, maka haram untuk menikahi saudaranya. Demikian pula seorang perempuan dengan saudari bapak atau saudara ibu (bibi dari ibu dan bapak). Oleh karena itu, haram bagi seorang untuk menggabung dalam perkawinan antara dua bersaudara atau antara keponakan dan bibinya kecuali setelah mentalak ba'in istrinya atau sepeninggal istrinya atau setelah habis masa iddahnya. Mahram bil jam'i di atas, haram untuk dinikahi karena sebab penggabungan seperti keterangan di atas, namun bersentuhan dengannya tetap membatalkan wudhu serta haram untuk saling bertatap muka.


 المفتاح لباب النكاح /24-25
 المحرمات على التأبيد ثمان عشرة، سبع من النسب مذكورات في قوله تعالى " حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ " ، وسبع من الرضاع وهن : الأم والبنت والأخت والعمة والخالة وبنت الأخ وبنت الأخت من الرضاع. واربع بالمصاهرة وهن : ام الزوجة وبنت الزوجة اذا دخل بالأم وزوجة الأب وزوجة الإبن. المحرمات بالجمع كل امرأتين بينهما نسب او رضاع لو فرضت احداهما ذكرا مع كون اللأخرى انثى حرم تناكحهما كالأختين وكالمرأة وعمتها والمرأة وخالتها، فمن تزوج حرم عليه نكاح نحو اختها حتى تبين منه الأولى كأن تموت او يطلقها طلاقا بائنا او رجعيا وتنقضي عدتها بالنسبة للطلاق الرجعي حاشية الجمل - (ج 17 / ص 20). (وَحَرُمَ ) ابْتِدَاءً وَدَوَامًا ( جَمْعُ امْرَأَتَيْنِ بَيْنَهُمَا نَسَبٌ أَوْ رَضَاعٌ لَوْ فُرِضَتْ إحْدَاهُمَا ذَكَرًا حَرُمَ تَنَاكُحُهُمَا كَامْرَأَةٍ وَأُخْتِهَا أَوْ خَالَتِهَا ) بِوَاسِطَةٍ أَوْ بِغَيْرِهَا قَالَ تَعَالَى { وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ } وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { لَا تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا وَلَا الْعَمَّةُ عَلَى بِنْتِ أَخِيهَا وَلَا الْمَرْأَةُ عَلَى خَالَتِهَا وَلَا الْخَالَةُ عَلَى بِنْتِ أُخْتِهَا لَا الْكُبْرَى عَلَى الصُّغْرَى وَلَا الصُّغْرَى عَلَى الْكُبْرَى } رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَغَيْرُهُ وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَذَكَرَ الضَّابِطَ الْمَذْكُورَ مَعَ جَعْلِ مَا بَعْدَهُ مِثَالًا لَهُ أَوْلَى مِمَّا عَبَّرَ بِهِ وَخَرَجَ بِالنَّسَبِ وَالرَّضَاعِ الْمَرْأَةُ وَأَمَتُهَا فَيَجُوزُ جَمْعُهُمَا وَإِنْ حَرُمَ تَنَاكُحُهُمَا لَوْ فُرِضَتْ إحْدَاهُمَا ذَكَرًا وَالْمُصَاهَرَةُ فَيَجُوزُ الْجَمْعُ بَيْنَ امْرَأَةٍ وَأُمِّ زَوْجِهَا أَوْ بِنْتِ زَوْجِهَا وَإِنْ حَرُمَ تَنَاكُحُهُمَا لَوْ فُرِضَتْ إحْدَاهُمَا ذَكَرًا ( فَإِنْ جَمَعَ ) بَيْنَهُمَا ( بِعَقْدٍ بَطَلَ ) فِيهِمَا إذْ لَا أَوْلَوِيَّةَ لِإِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى ( أَوْ بِعَقْدَيْنِ فَكَتَزَوُّجٍ ) لِلْمَرْأَةِ ( مِنْ اثْنَتَيْنِ ) فَإِنْ عُرِفَتْ السَّابِقَةُ وَلَمْ تُنْسَ بَطَلَ الثَّانِي أَوْ نُسِيَتْ وَجَبَ التَّوَقُّفُ حَتَّى يَتَبَيَّنَ وَإِنْ وَقَعَا مَعًا أَوْ عُرِفَ سَبْقٌ وَلَمْ تَتَعَيَّنْ سَابِقَةٌ وَلَمْ يُرْجَ مَعْرِفَتُهَا لَوْ جُهِلَ السَّبْقُ وَالْمَعِيَّةُ بَطَلَا وَبِذَلِكَ عُلِمَ أَنَّ تَعْبِيرِي بِذَلِكَ أَوْلَى مِنْ قَوْلِهِ أَوْ مُرَتَّبًا فَالثَّانِي حاشيتا قليوبي - وعميرة - (ج 1 / ص 141) قَ وْلُهُ : ( مَنْ حَرُمَ نِكَاحُهَا إلَخْ ) فَتَنْقُضُ بِنْتُ الزَّوْجَةِ قَبْلَ الدُّخُولِ بِأُمِّهَا ، وَتَنْقُضُ أُخْتُهَا وَعَمَّتُهَا مُطْلَقًا ، وَكَذَا تَنْقُضُ أُمُّ الْمَوْطُوءَةِ بِشُبْهَةٍ وَبِنْتُهَا وَإِنْ حُرِّمَتَا أَبَدًا عَلَيْهِ ، لِأَنَّ وَطْءَ الشُّبْهَةِ لَا يَتَّصِفُ بِحِلٍّ وَلَا حُرْمَةٍ ، فَلَا تَثْبُتُ بِهِ الْمَحْرَمِيَّةُ ، بِخِلَافِ النِّكَاحِ وَمِلْكِ الْيَمِينِ ، وَهُمَا الْمُرَادُ بِالسَّبَبِ الْمَذْكُورِ فِي الضَّابِطِ الْآتِي ، وَيَنْقُضُ زَوْجَاتُ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمْ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، وَلِذَلِكَ ضَبَطُوا الْمَحْرَمَ بِمَنْ حَرُمَ نِكَاحُهَا عَلَى التَّأْيِيدِ بِسَبَبٍ مُبَاحٍ لِحُرْمَتِهَا. نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج - (ج 1 / ص  355)

 Oleh : Mas Aka

Jumat, 06 Juni 2014

Rasulullah SAW dan Pengemis Yahudi Buta



Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a..