Translate

Selasa, 22 April 2014

Islam dan Manajemen Shilaturrahim






Islam begitu menghargai  hubungan sanak famili ( Rahim ) yang mengikat manusia satu sama lain melalui hubungan nasab atau kerabat. Penghargaan ini tidak pernah dikenal oleh kemanusian dalam agama, aturan atau syariat apapun selain Islam. Islam mewasiatkan dan mendorong agar sanak famili disambung serta memberikan ancaman atas orang yang memutuskannya. Allah berfirman:
(#qà)¨?$#ur ©!$# Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnöF{$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3øn=tæ $Y6ŠÏ%u
Dan takutlah kalian kepada Allah yang dengan mempergunakan ( namaNya ) kamu saling meminta satu sama lain dan ( peliharalah ) hubungan shilaturrahim QS an Nisa: 1. Pertama Allah memerintahkan Taqwa dan selanjutnya menyebutkan Arham ( jamak dari Rahim )  untuk menegaskan akan keagungannya.

Dalam perasaan muslim  yang terbina, keunggulan dan posisi penting Rahim cukup dibuktikan dengan banyaknya ayat yang memerintahkan agar ia dijalin dan dibina secara baik selain Iman dan berbuat baik ( Ihsan ) kepada kedua orang tua ( lihat QS al Isra” : 24, 26, dan An Nisa’ : 36 ) serta banyaknya hadits yang mendorong hal tersebut.
Dari Abu Ayyub al Anshari ra: Seorang bertanya: Wahai Rasulullah, berikan kabar kepada saya akan amal perbuatan yang bisa memasukkan saya ke dalam surga!”  Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “ Kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, memberikan zakat dan menyambung sanak famili  Muttafaq alaih. Hal tersebut dikuatkan oleh hadits panjang tentang dialog Abu Sufyan dan Heraclius.

Heraclius bertanya: Apa yang diperintahkan olehnya ( Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ) di antara kalian?” Abu Sufyan menjawab: [ Dia mengatakan: “ Sembahlah Allah yang Esa dan jangan menyekutukanNya dengan apapun. Tinggalkanlah apa yang dikatakan para orang tua kalian “]  Abu Sufyan melanjutkan: [ Dia juga memerintahkan kepada kami agar shalat, kejujuran, menjaga diri ( Afaf ) dan menyambung sanak famili   ] Muttafaq alaih. Jadi menyambung sanak famili berada bersama menyembah dan mengesakan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpegang dengan Afaf dan kejujuran pada satu rangkain dalam bilangan identitas pokok agama yang suci ini.

Sungguh Allah benar – benar mengagungkan urusan sanak famili ketika Dia menjadikannya sebagai bagian yang terkait erat dengan namaNya, Ar Rahman  tak ubahnya seperti jaringan saraf - saraf. Dia begitu mengagungkannya sehingga menjadikannya dari penggalan namaNya,  Aku Maha Pengasih ( Ar Rahman )  dan Aku Menciptakan Rahim dan mengeluarkannya dari namaKu, ( karena itu )barang siapa menyambungnya maka Aku pasti menyambungnya dan barang siapa memutusnya maka Aku-pun pasti memutusnya.  ( Dikeluarkan oleh al Bukhari dalam al Adab al Mufrad ) Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya Rahim adalah bagian (cabang) dari Ar Rahman, ia berkata:  Ya Tuhanku sesungguhnya saya dizhalimi, Tuhanku sesungguhnya saya diputuskan… Alloh lalu menjawabnya: “Tidakkah kamu rela Aku memutus orang yang memutusmu dan Aku menyambung orang yang menyambungmu ?” ( Dikeluarkan oleh al Bukhari dalam al Adab al Mufrad ).
Di sini ada isyarat bagi muslim yang terbina bahwa orang yang menyambung sanak famili  diberikan kenikmatan dalam naungan rahmat dan sesungguhnya orang yang memutuskannya terhalang dari rahmat itu. Jika demikian berarti rahim bagi orang yang menyambung adalah berkah dalam rizki dan berkah dalam umur, menambah dan menjadikan hartanya berkembang serta memanjangkan umurnya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa suka dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya  maka hendaknya ia menyambung sanak familinya “ Muttafaq alaih.

“ Pelajarilah dari nasab – nasab kalian apa yang bisa kalian gunakan untuk menyambung sanak famili kalian; sebab menyambung sanak famili adalah kecintaan dalam keluarga, meningkatkan harta benda dan memanjangkan umur “ HR Turmudzi.

Rahim  juga merupakan penghalang surga bagi orang yang memutusnya, ia adalah sumber malapetaka dan bencana karena Rahmat  tidak akan turun kepada suatu kaum yang di antara mereka ada orang yang memutuskan sanak famili sebagaimana ditegaskan dalam hadits:

“ Tidak masuk surga, orang yang memutuskan sanak famili “ Muttafaq alaih.

“Sesungguhnya Rahnmat  tidak turun kepada suatu kaum yang di antara mereka ada orang yang memutuskan sanak famili “ HR Baihaqi.


Shilaturrahim dalam makna lebih luas

Shilaturrahim tidak hanya tumbuh dari prinsip zakat atau sedekah dalam arti luas berupa memberi harta atau non harta saja, tetapi shilaturrahim juga bisa berupa kunjungan  yang bisa menguatkan unsur – unsur kerabatan dan lebih luas lagi bisa terwujud dalam saling mengasihi, saling menasehati, saling memberi pertolongan, mendahulukan orang lain dan sikap obyektif. Ia juga bisa berupa ucapan yang baik, pertemuan yang menyenangkan, wajah sumringah penuh senyuman dll dari aneka ragam kebaikan yang bisa melahirkan rasa cinta dalam hati, dan bahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam  ia diperintahkan dalam bentuk yang sangat sederhana dan sangat minim biaya dengan sabda Beliau,

 “Basahilah ikatan sanak famili kalian meski hanya dengan salam “ HR Bazzar.

 “ Sedekah kepada orang miskin adalah sedekah dan kepada pemilik hubungan sanak famili adalah sedekah dan shilah ( penyambung ) “ HR Nasa’I & Tirmidzi

Makna lain Shilaturrahim

Masuk dalam kategori Shilaturrahim dalam makna spesifik ( Khossoh)  adalah ikatan antara sesama manusia dalam ikatan ilmu seperti dikatakan Imam Syafii ra:
[ Ilmu adalah ikatan seperti ikatan nasab ] Jika Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa :
“al Wala’ ( jasa memerdekakan ) adalah ikatan seperti ikatan nasab yang tidak bisa dijual atau dihibahkan “ maka tidak diragukan lagi keberadaan ilmu sebagai hal paling utama yang dimanfaatkan oleh manusia dari orang lain yang harus betul – betul dijaga haknya untuk disambung dan diikat lebih kokoh lebih kuat. Ini karena ilmu adalah sumber keberuntungan dunia dan akhirat. Sufyan bin Uyainah mengatakan:

 [ Di dunia ini manusia tidak diberi sesuatu lebih utama melebihi Nubuwwah. Dan setelah Nubuwwah tidak ada yang lebih utama daripada ilmu dan fiqih ] ditanyakan: Tentang siapa ini? Sufyan menjawab: [ Semua ahli fiqih ]
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya berarti ia mengambil bagiannya yang sempurna  ( Dikeluarkan al Bukhari dalam At Tarikh al Kabir )

Masuk dalam kategori  Shilaturrahim dalam makna universal ( Aammah ) adalah ikatan yang mengikat sesama manusia yang berupa ikatan Iman yang menuntut haknya agar dijaga dalam  rasa saling mencintai karena Allah di antara mereka seperti dalam firmanNya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَة
  Sesungguhnya orang – orang beriman itu saudara  QS al Hujurat: .
 dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
Perumpamaan orang – orang beriman dalam memberikan kasih sayang adalah laksana tubuh yang jika ada satu anggota yang sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan panas  Muttafaq alaih.
Jangan saling memutuskan, jangan saling berpaling, jangan saling membenci dan  jangan saling iri hati. Jadilah kalian bersaudara seperti Allah memerintahkan kepada kalian HR Muslim.   Tidak sempurna iman salah seorang kalian sebelum mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri  Muttafaq alaih.
Orang – orang yang berbelas kasih akan dikasihi oleh Dzat Maha pengasih. Kasihanilah orang yang ada di bumi niscaya orang yang ada di langit mengasihi kalian ( HR Bukhari, Humaidi, Ahmad, Baihaqi, Abu Dawud, Turmudzi Hakim )

Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki dalam bukunya At Thali’  As Said hal 13  mengatakan: Sabda Nabi  Yarhamkum , kami meriwayatkan dengan jazem sebagai jawaban dari perintah  dan rafa’   ( Yarhamukum ) sebagai do’a. Sementara Sayyid Amin Abidin  juga meriwayatkan dengan Nashab ( Yarhamakum ). Abuya melanjutkan: Ini sangat dha’if, sedang jumhur mantap bahwa riwayat ( asli ) adalah Jazem.

 Kalian tidak akan beriman ( secara sempurna )  sehingga kalian saling mengasihi   para sahabat berkata: Kami semua orang yang pengasih! Beliau bersabda: “Sungguh bukanlah seperti kasih sayang salah seorang kalian kepada temannya, tetapi kasih sayang itu adalah kasih sayang kepada umat  HR Thabarani.
Karena itulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  menganjurkan agar Salam disebarkan luaskan di antara sesama muslim dengan sabda Beliau:
 Demi Dzat yang diriku berada dalam genggamanNya, kalian tidak masuk surga sehingga kalian saling mencintai. Apakah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Sebar luaskanlah salam di antara kalian   HR Muslim,
agar ia ( salam ) menjadi pembuka hati untuk mencintai dan saling bertemu dalam kebaikan guna mencari kecintaan dan keridhaan Allah dengan jiwa yang pemurah, hati yang bersih  dan kasih sayang kepada umat.



Jumat, 18 April 2014

Tetap Terus Berjalan






                       
Di antara upaya yang bisa membantu agar aktivitas seorang muslim terus berjalan adalah melakukan rileksasi. Sungguh Allah ta’alaa telah menyebut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan firmanNya: dan bahwasanya dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,QS An Najm:43. Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kadang beliau membuat orang tertawa sekaligus juga ikut tertawa. Meski begitu beliau tidak berkata kecuali yang benar. Beliau pun selalu memperhatikan dan mencari moment yang tepat untuk memberikan nasehat kepada para sahabat karena tidak menginginkan ada rasa bosan menyergap mereka. Beliau senantiasa melarang kata dan perbuatan yang keterlaluan, memaksakan diri dan cenderung memberatkan. Dan Beliau juga berlomba balap lari dengan Aisyah ra
Hal itu karena semua orang yang memaksakan diri (mutakallif) pasti  suatu saat akan terputus (dari amalan/aktivitas) apabila melihat persoalan kekiniannya dan melupakan segala yang mungkin terjadi, masa yang panjang dan datangnya kebosanan.
 
Orang barakal harus memiliki standar minimal dalam melakukan aktivitas yang ia rutinkan. Jika sedang bersemangat maka ia bisa menambah dan saat dalam kondisi lemah maka ia berusaha mempertahankan apa yang telah biasa dilakukannya.Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya agama ini kokoh maka masukilah dengan kelembutan karena sesungguhnya orang yang memaksakan diri tidak akan sampai pada tujuan dan tak akan bisa menetapkan punggungnya (tetap utuh tidak patah)” HR Bazzar

Dalam atsar sebagian sahabat berkata: [Sesungguh nafsu tekadang menghadap dan berpaling. Maka gunakan kesempatan saat ia sedang menghadap. Dan tinggalkanlah ia saat sedang berpaling. Sungguh Allah ta’alaa mencela ahli kitab dengan firmanNya: “....Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya...QS al Hadid:27.]
 
Seorang muslim yang terbina juga harus menjauh dari pergaulan yang tidak berguna dengan sesama manusia karena hal itu menyibukkan hati dan menyia-nyiakan waktu sehingga melalaikan hal-hal yang semestinya lebih penting. Akan lebih baik jika seorang muslim yang terbina menjadikan bergaul dengan manusia seperti layaknya kebutuhan makan siang dan makan malam. Artinya bergaul dengan manusia cukup dilakukan sekedar kebutuhan. Hal ini tentu saja akan lebih mengenakkan tubuh dan hati.
                     
Barang siapa mengerti kadar kecukupan dirinya terkait penghidupan dan penjagaan agamanya maka lebih utama baginya mengambil sekedar kebutuhan akan pergaulan dengan tetap memelihara iltizamat individu dan mereka semakin baik dll.Allah berfirman: Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.QS al Isro:84.jamaah serta hak-hak kaum muslimin seperti mengucap dan menjawab salam, menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, mengajak mereka kepada Allah semaksimalnya, mengajarkan kepada mereka apa yang mereka butuhkan dan memberikan manfaat kepada mereka sesuatu yang diharapkan bisa menjadikan


Rabu, 16 April 2014

Harapanku Berakhir di 20 April


Aku tidak sedang menangis, karena aku laki,
Tapi air ini terus mengalir dari mata dan hidungku,
Aku sadar mungkin ini terakhir ku dapat menatap indah wajah cantikmu…

Waktu telah pertemukan kita,
Waktulah yang menjalin beberapa rangkaian kisah diantara kita,
Dan kini, Waktu pula yang akan pisahkan kita…

“20 April aku akan kembali” itu katamu,
Sontak itu merupakan pukulan telak buatku,
tinggal beberapa hari aku menghitung waktu,
Meski bosan, gelisah menunggu…

mengapa hidup dikuasai oleh waktu…???
Biarlah ku ikhlaskan kebersamaan ini direnggut oleh sang waktu,
Berharap kelak, waktu jua yang akan pertemukan kita kembali,
di dalam kebaikan yang abadi…

Sungguh, aku tidak sedang menyesali takdir ini,
Karena bagaimanapun aku harus bersyukur atas waktu yang Dina sempatkan berbagi dengan ku,
Dan aku meski harus bersyukur atas takdirmu dalam takdir ku….

Sungguh, aku tidak sedang menangisi kepergianmu,…
Tapi biarlah air ini mengalir dari kedua mataku,
Sebagai ucapan selamat jalan untukmu, Inspirasi hidupku,.

Terima kasih telah mewarnai hidupku…
kan ku kenang dalam sejarah hidupku,
bahwa kau pernah ada. dan akan tetap ada… disini… di hati…

Minggu, 06 April 2014

PILEG 2014 Memilih siapa ???

 
( فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ) (٢٢ ) 
“Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (Muhammad: 22)
 لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ 
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali[192] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran: 28)
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali Imran: 118)

A. Melihat:

1. fenomena politik kekuasaan di negeri kita yang tercinta ini sudh sangat jauh dari bimbingan Alqur’an wassunnah. Kekuasaan & UUD (ujung-uujungnya duit) merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, dan untuk mendapatkannya telah dilakukan segala cara dengan bumbu kemaksiatan, pada akhirnya harapan tinggal harapan justru akan mendekatkan datangannya hal yang menakutkan seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
 من حاول أمراً بمعصيةٍ كان أبْعَدَ لِما رجا, وأقْرَبَ لِمَجِئِ ما اتّقى.
 “Barang siapa mengusahakan sesuatu hal yang dibarengi dengan kemaksiatan maka akan lebih menjauhkan apa yang menjadi harapan, dan lebih mendekatkan datangnya apa yang ditakutkan” (HR Abu Nuaim dari Anas bin Malik ra dalam al Hilyah Lihat al Jami’ as shaghir hadist no : 8625)
2. Idealisme memperjuangkan Ideologi ISLAM lewat sebuah partai sudah tidak ada lagi, yang ada adalah untuk kepentingan golongan. 
3. Kepercayaan terhadap partai sebagai wadah perjuangan juga sudah pudar, sekalipun menggunakan label Islam. 4. Pemilu (pileg & pilpres) bagi umat islam bukanlah pesta demokrasi, tetapi pertarungan perebutan kekuasaan dengan orang-orang non muslim; sekularisme, kapitalisme, liberalism, sosialisme dan sejenisnya di NKRI INI, apa lagi ditengarai dengan telah siapnya paman sam (amerika) & RRC menggunakan taktik strategis untuk penguasa.

B. Menimbang:

1. Jika pemilu tahun ini, kaum muslimin yang mayoritas ini memilih untuk diam, maka besar kemungkinan Negara ini akan dikuasai oleh mereka (non Muslim). 
2. Masih tetap adanya INDIVIDU sebagai CALEG yang masih ingin berjuang lewat parlemen dengan hati nurani yang bersih lewat partai apapun dengan hanya suara yang dia miliki.

C. Menginstruksikan:

Kepada seluruh kaum muslimin untuk menyatukan pandangan politik atas dasar:
1. Hadits riwayat Imam al Bukhari fi Tarikhihi No:991 fil Jami’ as shaghir: “Mintalah fatwa hatimu sendiri, meski para ahli fatwa telah berfatwa kepadamu !”
2. Kaidah Ushul Fiqih: “Sesuatu yang tidak dapat diraih semuanya maka tidak ditinggalkan seluruhnya”

Untuk :
 A. Memilih CALEG/DPD yang dikenal bukan karena terkenal tetapi karena - Akhlaq baik. - Komitmen dakwahnya (Membela Agama Islam) - Komitmen khidmah keummatannya (Mengabdi pada Umat/Rakyat) Setelah itu apakah mereka benar seperti 3 poin itu dalam kenyataannya kita serahkan diri pada Allah: إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ (١٤) “Sesungguhnya Tuhanmu bener-bener mengawasi” (QS al Fajf: 14)  
B. Tidak dibenarkan memilih partai tertentu, karena kita memilih orang dan bukan uang. 
Demikian kami sampaikan Ijtihad politik menjelang PILEG tanggal 9 April mendatang.