Translate

Rabu, 06 November 2013

Bagaimana Menghargai Pendapat Orang Lain

Mengawali pembahasan ini,ada sebuah kisah.Ada orang datang dan bertanya kepada ulama besar.”Apa hukumnya mandi dan istinja’ dengan air zamzam?” tanyanya,Ulama itu menjawab,”masalah ini adalah masalah khilaf.Ada yang membolehkan dan ada pula yang tidak membolehkan”.Menurut pendapatmu sendiri bagaimana?” Tanya ulama itu.”Menurut saya,boleh-boleh saja mandi dan beristinja’ dengan air zamzam,karena tidak ada nash dalam soal ini”,jawab orang tadi.”Bagi saya hukumnya tidak boleh,karena juga tidak ada nash dalam soal ini.Air zamzam itu air yang mulia maka sepatutnya digunakan untuk hal-hal yang mulia. Di dunia Islam,kita menemukan dua jenis perbedaan pendapat atau perbedaan madzhab. Pertama,perbedaan pendapat dalam masalah-masalah prinsip keyakinan atau keimanan (ikhtilaf fil madzahib al I’tiqodiyyah). Kedua,perbedaan pendapat dalam masalah-masalah fiqhiyah (ikhtilaf fil madzahib al fiqhiyah) Jenis pertama,perbedaan pendapat (perpecahan) dalam masalah prinsip-prinsip keyakinan hakikatnya merupakan malapetaka bagi kaum muslimin.Perbedaan ini mengakibatkan terpecah belahnya persatuan ummat Islamyang tidak ada titik temunya.Perbedaan pendapat ini semestinya tidak ada.Kaum muslimin seharusnya hanya meyakini satu madzhab saja,yakni Ahlus Sunnah wal Jamaah,yang merupakan model golongan yang menggambarkan pemikiran Islam yang asli dan murni seperti pada masa Rosululloh saw dan masa al Khilafah ar Rosyidah. Adapun jenis kedua,perbedaan pendapat dalam masalah fiqhiyah,keberadaannya merupaka suatu keniscayaan,sesuatu yang mesti terjadi dan sulit dihindari..Perbedaan pendapat dalam masalah fiqh ini berangkat bahwa nash-nash syara’ yang ada sebagian besar membuka penafsiran (interpretasi) tidak tunggal.Disisi lain,nash-nash itu tidak memuat keseluruhan realitas permasalahan yang terjadi di dunia secara detail,karena jumlah nash terbatas sedang realitas permasalahan terus berkembang.Untuk ini diperlukan qiyas,memahami illat suatu hukum,memperhatikan tujuan Alloh swt,menetapkan suatu hukum,memperhatikan visi dan misi dasar syari’at dan sebagainya (ijtihad).Sementara dalam masalah ini,potensi akal para ulama,kapasitas pengetahuan dan interpretasi mereka serta lingkunagn di mana mereka berada berbeda antara satu dengan lainnya.Dari sinilah terjadi perbedaan pendapat itu.Namun,mereka semuanya sama dalam upaya dan mencari kebenaran.Selanjutnya kelak,barang siapa pendapatnya benar maka mendapatkna dua pahala,sedang barangsiapa yang salah mendapatkan satu pahala. Imam Malik bin Anas berkata: “Tidak ada diantara kita kecuali bisa diterima dan ditolak (pendapatnya),kecuali penghuni makam ini (Rosululloh saw). Imam Asy Syafi’I berkata, “Barangsiapa telah tampak jelas sunnah Rosululloh saw baginya,maka tidak halal baginya menigggalkan sunnah itu dan beralih kepada pendapat seseorang” Perbedaan pendapat dalam masalah-masalah furu’iyah ini kalau dipaksa harus disatukan justru bertentangan dengan karakteristik agama Islam.Alloh menghendaki agar agama ini bertahan abadi dan mampu mengikuti perkembangan zaman,Oleh karena itu,masalah-masalah yang tidak prinsipil dalam agama ini dibuat elastis,luwes,mudah,tidak mandeg dan tidak kaku. Perbedaan pendapat dalam masalah fiqh tidaklah mengurangi nilai keunggulan agama Islam,sebaliknya justru menjadi berkah dan rahmat bagi ummat Islam.Seperti diketahui,dalam bidang fiqh,munculnya dua atau lebih pendapat adalah suatu hal yang lazim.”Fiihi Qoulaani…fiihi tsalatsatu aqwal,dst) Suatu ketika,bila didapati kesempitan dalam suatu madzhab,ummat Islam bisa mendapati kemudahan dalam madzhab yang lain,apakah dalam bidang ibadah,muamalah,munakahah,maupun jinayah,yang kesemuanya berdasar pada dalil-dalil syara’ dan dibenarkan. Kholifah Ja’far al Manshur pernah menggagas untuk menetapkan Madzhab Maliki berikut al Muwaththo’ saja sebagai Undang-Undang Khilafah Abbasiyah.Imam Malik bin Anas justru menolak dan berkata,”Sesungguhnya para sahabat Rosululloh saw berpendar-pencar di wilayah Islam yang sangat luas padahal masing-masing kaum mempunyai pengetahuan.Apabila anda membawa mereka hanya pada satu pendapat saja maka bisa terjadi kekacauan.” Dalam masalah perbedaan pendapat fiqh ini yang kemudian dituntut dari kita adalah sikap toleran (tasamuh),berlapang dada,dan saling menghargai,karena semuanya didasarkan pada dalil-dalil syara’ dan hasil kesungguhan berijtihad.Tidak fanatik (ta’ashshub) buta dan mengklaim benar sendiri.Kita harus memandang perbedaan ini bukanlah suatu sekat yang meretakkan hubungan batin dan kendala untuk bekerja sama dalam kebaikan.Para sahabat dan ulama salaf dahulu pun kadang-kadang berbeda pendapat,namun hal itu tidak menjadikan mereka retak hubungan,berselisih dan berpecah. Imam Syafi’I tatkala melaksanakan sholat subuh bersama jamaah pengikut madzhab Hanafi di Bagdad,beliau tidak melakukan qunut,padahal qunut subuh merupakan madzhab beliau.Artinya beliau memahami bahwa diluar madzhab beliau pun ada kebenaran. Imam Abu Hanifah semula berpendapat bahwa bersedekah lebih utama daripada haji tathowwu’ (haji sunnah).Namun ketika beliau melaksanakan haji dan melihat beratnya pelaksanaan ibadah haji,beliau mengubah pendapatnya menjadi mengutamakan haji tathowwu’ atas sedekah.Kebenaran hanya milik Alloh dan rosululloh saw. Namun,hal ini bukan berarti bahwa bermadzhab dalam maslah fiqh harus ditinggalkan.Para ulama yang merumuskan sekian banyak madzhab itu sesungguhnya adalah acuan kita dalam memahami agama.Agama Islam ibarat samudara tak bertepi,dan Ulama’ lah yang mengalirkan samudra itu menjadi sungai-sungai dan sumur.Memahami agama tanpa ulama adalah sikap yang tidak benar dan tidak jujur.Apalagi sering didapati kelompok atau orang yang mengaku lepas dari madzhab,kenyataannya dia mengulang dan mengacu juga pada ulama’,ibarat berlari dari air tapi tercebur juga pada air itu.Namun usaha kita untuk terus meningkatkan wawasan keagamaan adalah suatu tuntutan kita beragama juga.Firman Alloh swt:                        Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri) QS An Nisa’: 83 Satu hal yang perlu diingat bahwa dulu kaum muslimin jika berbeda pendapat mereka merujuk kepada Kholifah untuk mencari penyelesaianya.Sedangkan sekarang dimanakah Kholifah itu? Maka sepatutnya kaum muslimin mencari Qodli dan Mufti,tapi dimanakah Qodli dan Mufti itu? Kita ingatlkan sekian kalinya bahwa perbedaan pendapat yang mengarah kepada keluasan cara berfikir (sa’atul fikri) adalah suatu perbedaan yang terpuji,sedang perbedaan pendapat yang mengarah kepada perpecahan (syiqoq) adalah suatu yang tercela. Akhirnya,prinsip “Kita saling membantu dalam hal-hal yang kita sepakati dan toleran untuk hal yang kita perselisihkan (selama tidak mengarah pada perpecahan)”,senantiasa mari kita lestarikan,seraya kita berusaha meningkatkan wawasan keagamaan kita

Kehendak Tuhan Atas Perjalanan Hidup Yahudi

 

 Asal-Usul Yahudi Kata Yahudi menurut bahasa berarti orang yang berasal dari keturunan Yahuda. Yahuda adalah salah seorang dari 12 (dua belas) putera Nabi Ya'qub (yang bergelar Israel) bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim yang hidup sekitar abad ke-18 M SM.1 Turunan dari 12 putera Nabi Ya'qub tersebut dikenal dengan sebutan bani Israel, suku Israel, atau bangsa Yahudi. Setelah berabad-abad, turunan Yahuda rupanya berkembang menjadi bagian yang dominan dan mayoritas dari Bani Israel, sehingga sebutan Yahudi tidak hanya mengacu kepada orang-orang dari turunan Yahuda, tetapi mengacu kepada segenap turunan Israel (Nabi Ya'qub).2 Antara Kemuliaan dan Kejahatan Selama perjalanan hidup Bangsa Yahudi kurang lebih sekitar 4000 tahun (2000 SM-2000 M),tampak sekian banyak kemuliaan dan kelebihan yang dikaruniakan kepada mereka yang jarang dimiliki bangsa lain. Kemuliaan itu ialah diturunkannya sekian banyak nabi kepada mereka berikut kitab-kitab suci mereka dan mereka bisa menyaksikan demonstrasi mukjizat para Nabi itu secara langsung. Mereka juga diberikan kelebihan berupa kedaulatan dan kekuasaan, ilmu pengetahuan, kekayaan (materi), otak-otak yang genius (intelek), rencana program yang matang, kekuatan lobi, serta kesabaran dan ketabahan. Seorang sejarawan Yahudi menulis: "Rahasia ketabahan sebuah bangsa adalah kemampuannya untuk menerima kekalahan. Orang-orang Yahudi bertahan hidup karena mereka tidak pernah berpikir untuk putus asa. Judaisme (Yahudi) bukanlah sebuah agama yang bersikap menyerah kalah. Ia tidak mempunyai doktrin-doktrin tentang hari kiamat. Ia ustru mengajarkan sebaliknya bahwa menghilangkan harapan akan masa depan adalah sebuah dosa. Ada satu tempat untuk hidup dan itu adalah disini, di bumi, dalam kenikmatan dan dalam nama Tuhan."3 Dari kemuliaan dan kelebihan yang diberikan oleh Alloh swt ini, banyak lahir dari mereka intelektual dan profesor, politikus (penguasa), bankir dan kapitalis besar Yahudi yang berpengaruh di dunia. Dalam sejarah modern, ada Karl Marx, Sigmund Freud, dan Albert Einsten sebagai penerus dari Hegel dan Darwin. Mereka adalah orang-orang yang terlahir sebagai Yahudi. Kelebihan dan kemuliaan Yahudi ini seperti disebut dalam Al-Qur'an:

 وَلَقَدْ آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al-Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (QS. Al-Jaatsiyah : 16) Sementara dikarunia kemuliaan dan kelebihan yang luar biasa, Bangsa Yahudi kebanyakan mengkufuri, lupa daratan atas nikmat-nikmat itu. Mereka justru menyombongkan diri, sewenang-wenangnya dan menentang. Mereka memutar balikkan kebenaran, menyembah berhala di tengah bimbingan Nabinya, materialis, rasialis, cerewet, pemfitnah, suka melanggar janji, menganggap dirinya paling pintar, sok tahu, fanatik terhadap tradisi leluhur, suka memeras orang lain bila berkuasa, menganggap dagang dan riba sama saja. Bentuk pengingkaran dan pengkufuran itu bahkan sampai ke tingkat merubah hukum Taurat, membunuh Nabi Syu'ya, Nabi Yahya dan Nabi Zakariya, memenjarakan Nabi Irmiya, merencanakan membunuh Nabi Isa as, dan lain sebagainya. Sedang dai-dai bangsa Yahudi tidak peduli terhadap kemungkaran umatnya itu, malah justru mendukung. Kejahatan semacam ini rasanya sudah menjadi tak ubahnya tabiat dan watak mereka. Maka, sebagai peringatan atas kejahatan ini, Alloh swt memaklumkan kepada seluruh umat manusia di bumi ini bahwa pasti akan ada ornag-orang (terlepas dari apa agamanya) yang akan menimpakan adzab seburuk-buruknya kepada bangsa yang terkutuk itu di dunia sampai kapanpun. Di dalam Al-Qur'an disebutkan :

 وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَن يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ 

Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-A'raaf : 167) Atas maklumat ini, sepanjang perjalanan kehidupannya, bangsa Yahudi tampak selalu jatuh dan bangun serta timbul dan tenggelam. Mereka ditakdirkan tidak memiliki rumah dan ruang. Hidupnya dari rantau ke rantau. Memencar di negeri-negeri bangsa lain (seperti isyarat QS. Al A'raaf : 168). Ditawan, di deportasi, disiksa dan dibantai. Mereka pernah ditindas oleh raja Jalut Al Jazri lalu diselamatkan oleh raja Thalut dan Nabi Daud as. Ditindas oleh Fir'aun dan diselamatkan oleh Nabi Musa as. Setelah wafatnya Nabi Sulaiman, kerajaan mereka yang terbagi dua dihancurkan oleh masing-masing kerajaan Assiria tahun 721 SM dan kerajaan Babilonia 586 SM. Salah satu Raja Babilonia yang dikenal pemusnah Yahudi adalah Bukhtanashor (Nebukadnezar). Dari Babilonia, mereka dikuasai Persia (536 sampai 333 SM), Makedonia (333-320 SM), Dinasti Ptolemy Mesir (320-203 SM),dan Dinasti Seleusid Siria(203-142 SM). Setelah berhasil mendirikan kerajaan yang merdeka dari 142 SM – 63 SM, bangsa pencetus kapitalisme dunia (seperti di isyaratkan QS Al-A'raaf : 169) ini kembali dikuasai oleh Romawi (63 SM-636 M).

Dari Romawi mereka pindah dibawah kekuasaan kaum muslimin, sampai jatuhnya khilafah Turki Utsmani tahun 1924 M, kecuali pada masa sebagian Perang Salib. Pada masa hijriah, bangsa Yahudi yang terdiri dari 3 kabilah yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraidhah terlibat dalam perjanjian perdamaian dan pakta pertahanan bersama (miitsaq) dengan kaum muslimin. Namun mereka melanggar pakta itu. Bani Qainuqa diusir dari Madinah sebagai ganjaran karena mengganggu jilbab seorang wanita muslimah di pasar. Bani Nadhir berikutnya juga diusir karena tindakan percobaan membunuh Rasululloh saw. Selanjutnya Bani Quraidhah karena bergabung dengan pasukan Ahzab(sekutu) menyerang Madinah, maka kaum laki-lakinya dibunuh semua, sedang wanita dan anak-anaknya ditawan. Pada masa kekhilafahan Umar bin Khottob sisa-sisa bangsa Yahudi diperbolehkan menetap di Khaibar.

Namun atas dasar keonaran yang selalu mereka buat dan atas pesan Rasululloh saw bahwa tidak boleh ada dua agama di Jazirah Arab, maka mereka diperangi dan di usir ke Syam (Siria). Persis semenjak itu Bangsa Yahudi hidup hina dina, tidak memiliki negeri berdaulat dan miskin karena ditarik Jizyah, sebagaimana Jizyah itu pernah ditarik dari pendahulu mereka oleh Nabi Musa as selama 13 tahun.4 Pada masa perang dunia II (1936-1945) bangsa Yahudi kembali ditindas. Kali ini oleh Adolf Hitler pemimpin tentara Nazi Jerman. Diceritakan waktu itu Hitler membunuh orang Yahudi hingga mencapai 5 (lima) juta jiwa.5 Tahun 1948 setelah berjuang keras melalui wadah gerakan Zionisme internasional. Bangsa Yahudi bangkit dan berhasil mendirikan Negara Israel di Palestina,di tengah kebangkitan ini, secara tiba-tiba pada 11 September 2001 lalu, Amerika serikat yang menjadi sekutu negara yahudi itu dibuat kalang kabut dengan ambruknya geudng WTC dan Pentagon oleh aksi teror.

Dan sebagaimana watak asli yang tidak berubah kembali Yahudi yang diwakili negara-negara barat melakukan stigmatisasi (sangkaan buruk) terhadap kaum muslimin sebagi pelakunya. Dalam hal ini Usamah bin Laden, dengan sangat congkak dan buru-buru, mereka lalu menyerang Afghanistan. Bumi ini seperti dijanjikan adalah hak oarnag-orang shaleh yang sebelum itu senantiasa ditindas dan di dzalimi. Alloh swt berfirman.

 وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ 

Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh (QS Al-Anbiyaa' : 105) Atas janji ini, rasanya pasti bahwa bumi suatu saat akan kembali ke pangkuan oarang-orang Islam yang sholeh yang selama ini mengalami penindasan dan pemerasan. Dan bangsa Yahudi sebagai penindas itu berikut sekutunya akan kembali surut dan jatuh yang pada akhirnya tenggelam di muka bumi sampai tak tersisa. Imam Ibnu Katsir mencatat bahwa kemunculan Dajjal akan di dukung oleh orang-orang Yahudi. Pada saat itu, Nabi Isa as bersama umat islam akan membunuh Dajjal sekaligus menumpas pendukungnya itu sampai ke akar-akarnya.6 Apakah penyerangan Amerika Serikat dan duta-duta yahudi lainnya ke Afghanistan merupakan isyarat awal yang baik bagi kehancuran mereka seperti kehancuran pasukan kafir Quraisy pada peperangan Badar? Akankah penyerangan itu berbalik menjadi boomerang (buah simalakama) bagi AS sendiri seperti di alami Uni Soviet (1979-1989) di negeri Mujahidin itu? Wallohu a'lam. Namun semut tidak mustahil bisa menyulitkan gajah sebagaimana keong bisa unggul atas kancil. Marilah kita renungkan Firman Alloh swt berikut ini:

 وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إسْرائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا (٤) فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا (٥) ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا (٦) إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآَخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا (٧) عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يَرْحَمَكُمْ وَإِنْ عُدْتُمْ عُدْنَا وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا (٨) 4. 

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar". 5. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. 6. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. 7. Jika kamu berbuat baik (berarti) berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. 8. Mudah-mudahan Rabbmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS Al-Israa' : 4-8)

 Akhirnya, kemenangan secara sunnatulloh selalu diperoleh melalui prose kerja keras, jihad dan mujahadah. Untuk mencapai kemenangan kaum muslimin berikut kehancuran dominasi Yahudi di dunia saat ini kiranya masih dibutuhkan uluran kerja keras kita semua. Diantaranya dengan memutus diri dari karakter-karakter Yahudi yang menyebabkan mereka ditimpa siksaan dan kehinaan di tengah limpahan kemuliaan dan kelebihan, berlepas diri dari propaganda dan program mereka, seraya menggugah mental diri untuk sehati dan tidak berpangku tangan. 
 Wallahu Subhanahu wa Ta'ala

Senin, 04 November 2013

MENCARI IKATAN UNIVERSAL

Dewasa ini kita mendapati ikatan-ikatan kecil dan lokal yang dianggap akan membahagiakan manusia dalam kehidupannya.Ikatan-ikatan lokal ini,selama ini telah mendekatkan manusia menjadi satu dalam pola pikir dan perilaku.Ikatan itu ada kalanya di dasarkan pada pemahamannya secara sepotong-potong terhadap agama,seperti fanatisme madzhab dan kecenderungan ujub dengan usbahnya.Adakalanya ikatan itu didasarkan pada ikatan kebangsaan (tanah air),ikatan kesukuan,ikatan kemanusiaan,ikatan kesukaan (hobi) dan lainnya.Mengapa orang begitu maniak (ghuluw) terhadap music dan olahraga,sehingga fanatic dan membela figurnya secara mati-matian?.pada tanggal 19-30 Juni diselenggarakan PON di Jawa Timur.agaknya kegiatan ini akan turut membangkitkan ikatan-ikatan lokal itu dengan semboyan yang senantiasa didengungkan; “PON perekat persatuan bangsa”. Di dalam ajaran Islam,atas dasar sunnatulloh kecenderungan manusia mengikat diri,kita diarahkan memperkokoh ikatan yang asasi dan abadi,bukan ikatan lokal dan kecil,yaitu ikatan ketakwaan yang universal.Atas dasar ikatan takwa,pemikiran kita diharapkan sama,senasib,seperjuangan,walaupun secara lahiriah kita berbeda dalam tingkat kekayaan,keterampilan,rupa dan jabatan.Alloh berfirman: “Teman-teman akrab,pada hari itu,sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”.(QS.Az-Zukhruf:67) Melalui jamaah ini,kita berharap besar meniti ikatan ketakwaan itu.Konsekuensi-konsekuensi kejamaah selama ini insyaAlloh adalah upaya-upaya dalam rangka memupuk ikatan ketakwaan itu.Ikatan ketakwaan memang tidak harus diformalkan,namun formalitas yang kita tempuh selama ini merupakan sebuah alat pengingat,alat pengarah dan alat pembimbing.Untuk meniti ikatan ketakwaan,supaya dipahami oleh seluruh anggota,jamaah ini menempuhnya dengan: I. Menampakkan cinta yang didasari karena Alloh swt (Al hubbub fillah) sehingga kita disini semoga menjadi orang-orang yang cinta karena Alloh swt.Konsekuensi cinta kepada Alloh swt,kita juga harus benci karena Alloh (al bughdlu fillah) dengan menampilkan ketidaksukaaan kepada orang lain manakala tampak padanya hal-hal yang melanggar syara’.Al Hubbu fillah dan Al bughdlu fillah merupakan cabang dari 70 lebih cabang keimanan. II. Meniti sanad dalam berilmu dan beramal,berdasarkan hadis maqthu’nya Abdulloh bin Mubarok: “Sanad itu termauk agama,maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu.”(Lihat sunan At tirmidzi juz 5 kitab Syamail hal 396) Dalam hal ini kita menetapkan Guru besar jamaah,Abuya As Sayyid Muhammad Alawi al Maliki Al Hasani.Kita memilih beliau sebagai guru besar jamaah ini,karena alasan: 2.1.Beliau adalah ahlu baitin Nabi saw,sedang cinta kepada mereka merupakan tuntutan asasi keimanan,terlepas dari beberap oknum ahli bait yang melanggar syara’,itu tak mengurangi penghormatan kita kepadanya dengan tetap kritis.Di dalam Hikmah dikatakan: “Tidak ada teguran itu melainkan dari cinta.Dan teguran itu tidaklah menafikan penghormatan.” (Hikmah) 2.2.Keluasan ilmunya dan ilmunya yang terbuka serta bersumber dari dalil-dalil yang jelas. 2.3.Sisi tazkiyah (tasawuf) dan tarbiyahnya yang sangat tinggi,juga sifat berdermanya yang agung,dan berbagai alasan lainnya. III. Memadukan sisi khouf dan roja’.Kita mengakui kapasitas kita sebagai orang yang dzolimun li nafsih,maka kita berharap besar syafaat dari para Nabi,syuhada’ dan orang-orang sholeh sebagai perantara syafa’at dari Alloh swt.Disamping itu,kita juga berharap kelak menjadi orang yang berat timbangan amalnya,bukan menjadi orang yang ringan timbangannya,juga bukan menjadi orang yang sebanding dosa dengan kebaikannya (Ashabul A’rof),lebih-lebih menjadi orang yang dikeluarkan dari neraka paling belakangan,disebabkan hanya memiliki sebutir biji kecil tauhid.Maka,tidak hanya cukup berharap,kita harus sanggup melatih diri dengan: 3.1. Melaksanakan dua in.In ajriya illa alalloh dan in uridu illal ishlah. 3.2. Membela agama sampai mati syahid sekalipun. 3.3. Berperilaku dengan perilakunya orang-orang sholeh yang senantiasa didasari kejernihan hati,dengan membuang jauh penyakit-penyakit hati. 3.4. Saling menasehati jika ada pelanggaran,secara khusus antara jamaah sesuai dengan mekanismenya,dan secara umum kepada kaum muslimin,karena pangkal agama adalah memberi nasehat. IV. Amal fardi dan jama’I sebagai konsekuensi janji kejamaahan seperti dijelaskan pada taushiyah kemarin (edisi 45) harus senantiasa diperhatikan.Alloh berfirman: “Maka barang siapa melanggar janjinya niscaya akibat melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri”.(QS.Al Fath:10) Dengan titian-titian yang kita tempuh diatas serta kesiapan kita berada dalam bimbingan dan arahan yang terus menerus,ikatan kita menuju ikatan ketakwaan insyaAlloh akan memperkokoh pertemanan kita didunia dan di akhirat dengan secara gemilang merebut ridlo Alloh swt dan ridlo Rosululloh saw. Wallahu a'lam bisshawab.

Minggu, 03 November 2013

Anda Harus Berhijrah!

Seorang muslim yang terbina melihat ada banyak sekali pelajaran dari hijrah nabawiyyah selain memang dalam hijrah terdapat sekian banyak buah (manfaat) karena sebenarnya hijrah adalah madrasah keimanan. Di antara buahnya ialah Allah menyemarakkan untuk kekasihNya Nabi Ibrahim alaihissalam, tanah suci dengan anak keturunan yang mulia (Rasulullah Saw), dan Dia menghidupkan lembah paling utama yang tidak ada tanaman (sama sekali) dengan air yang paling utama (Zam-zam), serta menegakkan syiar utamaNya yaitu shalat di tempat syiarnya yang paling mulia sekaligus meninggikan pilar-pilar rumah pertama yang diletakkan untuk manusia. Allah juga menjadikan Nabi Ibrahim sebagai orang yang selalu disebut dengan kebaikan (lisan shidiq) oleh generasi setelahnya (hingga sekarang) dan menampakkannya dalam manasik haji untuk kaum muslimin dll. Begitulah hijrah nabawiyyah muhammadiyyah yang di antara buah indahnya adalah seluruh kebaikan yang didapatkan kaum muslimin dan seluruh kemuliaan yang mereka peroleh serta seluruh keberuntungan yang mereka capai sepanjang masa. Sungguh cahaya Islam – sebagai kunci kebaikan dunia dan akhirat - telah tersebar dan pemerintahannya telah beridiri sehingga Makkah bisa ditaklukkan dan sesudah itu ajaran-ajaran Islam tersebar luas di seluruh alam melalui penaklukkan-penaklukkan yang dilakukan Islam. Jadi sudah dipastikan bahwa hijrah nabawiyyah berbeda dengan hijrah saudara-saudara Beliau shallallahu alaihi wasallam yaitu para nabi yang lain yang terdahulu alaihimussalaam sesuai dengan risalah beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperluas pemahaman hijrah sehingga mencakup berhijrah dari sesuatu yang dilarang oleh Allah dengan meninggalkan maksiat dan sikap melawan kepada Allah. Beliau bersabda kepada salah seorang sahabat bernama Fudek: “Wahai Fudek, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, jauhilah keburukan dan tinggal-lah di manapun dari tanah kaum-mu, tentu kamu tetap menjadi seorang yang berhijrah!”” (HR Baghawi Ibnu Mandah Abu Nuaim/Kanzul Ummal 8/3031, al Qudwah al Hasanah hal 42) Kenapa? Karena dikatakan: “Masa itu seperti pelakunya. Sedang pelakunya seperti anda saksikan”Ia, pelaku masa sekarang ini telah berada dalam kondisi seperti disabdakan Nabi shallallahu alaihi wasallam yaitu kondisi berubah dari jalur yang benar akibat terpaan badai fitnah yang begitu dahsyat sebagaimana diberitakan dalam hadits-hadits beliau di bawah ini; 1.Hadits hilangnya Amanah seperti dalam riwayat Imam Turmudzi;2270; ((....sehingga manusia lalu saling melakukan transaksi perdagangan di mana hampir tak ada seorangpun yang menunaikan amanat, sampai dikatakan “bahwa sesungguhnya di suku ini ada seorang yang bisa dipercaya” hingga mereka mengatakan; “Betapa teguh orang ini, betapa cerdas dan betapa berakal dirinya” padahal dalam hatinya tak ada sebiji sawipun keimanan...)) Artinya mereka memujinya sebagai banyak memiliki akal, kecerdasan dan keteguhan serta mengidolakannya. Sementara mereka sama sekali tidak memuji seorangpun karena banyak memiliki ilmu yang bermanfaat dan melakukan amal shaleh. 2. “Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sehingga seandainya mereka memasuki lubang biawak niscaya kalian mengikuti mereka” Kami (para sahabat) bertanya; “Orang yahudi dan nashrani (yang anda maksudkan)?” Nabi Saw bersabda; “Lalu siapa (lagi)?”(HR Bukhari dari Abu Said al Khudri ra. Sedangkan Imam Hakim meriwayatkan hadits ini Ibnu Abbas ra di mana dalam akhir teks hadits terdapat riwayat; “...dan sampai andaikan salah seorang mereka mengumpuli isteri di jalan niscaya kalian juga melakukannya” Imam al Munawi mengatakan bahwa hadits riwayat Hakim ini bersanad shahih. Imam Nawawi mengatakan:[Maksudnya adalah menyamai mereka dalam hal kemaksiatan dan pelanggaran, bukan dalam kekafiran]( Tuhfatul Ahwadzi 6/408) 3.”Sungguh kalian akan melepaskan kancing-kancing islam satu persatu. Setiap kali satu kancing terlepas maka manusia beralih kepada kancing berikutnya; pertama dari kancing (yang dilepaskan) itu adalah hukum (daulah islamiyyah) dan yang akhir adalah shalat” (HR Ahmad Ibnu Hibban Hakim/ al jami’ as shaghir 2:203) 4.”Akan ada sebelum kiamat, fitnah-fitnah seperti potongan-potongan gelap malam”(HR Ibnu Majah/ Kunuzul Haqaiq Lil Munawi((Hamisy al jami’ ash shaghir2/203)) 5. “Hampir saja Islam musnah sehingga tidak tersisa kecuali namanya” (HR Dailami falam Musnadul Firdaus/ Kunuzul Haqaiq Lil Munawi((Hamisy al jami’ ash shaghir2/203)) Allah ta’alaa memberikan peringatan agar tidak terjatuh dalam fitnah-fitnah ini dengan firmanNya; “Dan Allah memperingatkan kalian akan siksaNya. Dan Allah sangat sayang kepada para hambaNya “QS Ali Imran:30, seraya berwasiat supaya mencari jalan keluar dari hal tersebut; “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, tabahkanlah diri (bergaul dengan sesama), masuklah dalam jaringan (jamaah) dan bertaqwalah supaya meraih keberuntungan “QS Ali Imran (akhir surat):200) =الله يتولى الجميع برعايته=

Menjadi Manusia Cerdas



 Begitu indah orang berkata: Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang cerdas yang tidak terpesona oleh dunia dan bahkan mengkhawatirkan fitnah-fitnahnya Mereka mengamati dunia, lalu ketika mengetahui bahwa ia bukanlah tempat tinggal bagi orang yang hidup Maka mereka menganggapnya sebagai samudera yang harus dilalui dengan perahu-perahu amal keshalehan Dunia adalah tempat ujian dan fitnah secara fisik maupun psikis. Fitnah dunia sungguh semakin berat jika datang dari orang-orang yang hidup bersama kita; isteri-isteri dan anak-anak kita. Karena itu Allah memperingatkan agar kita tidak terjebak dalam fitnah ini yang secara khusus disebutkan oleh Allah dalam firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya sebagian dari isteri-isterimu dan anak-anakmu adalah musuh bagimu maka waspadalah...”QS At Taghabun:14. 

 Disebutkan bahwa ayat ini diturunkan terkait orang-orang yang telah masuk islam semenjak di Makkah dan bermaksud hijrah (ke Madinah) akan tetapi langkah mereka surut dan tertahan oleh isteri-isteri dan anak-anak mereka. Demikian seperti dikatakan oleh Ibnu Abbas ra. Al Qadhi Abu Bakar bin Al Arabi mengatakan: [Ini menjelaskan sisi permusuhan (yang dimaksudkan) karena musuh bukanlah dianggap musuh kecuali sebab perbuatannya. Jadi apabila isteri dan anak berbuat seperti perbuatan musuh maka mereka berdua adalah musuh karena tidak ada perbuatan yang paling buruk daripada menghalangi antara seorang hamba dengan ketaatan] Al Hasan (al Bashri) mengatakan: [Digunakan huruf Jarr “Min” untuk menunjukkan arti sebagian karena tidak keseluruhan mereka berubah menjadi musuh dalam arti sebagian mereka ada yang melakukan perbuatan melawan agama sehingga dengan perbuatan melawan ini mereka dianggap sebagai musuh yang perlu diwaspadai dan tidak boleh diremehkan akan bahaya dan keburukan mereka] Hal paling berbahaya yang bisa memberikan pengaruh kepada perbuatan melawan agama pada sekarang ini adalah terjadinya apa yang sudah beritakan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam sabda Beliau; “...kemudian akan ada fitnah yang memasuki seluruh rumah orang Arab (penduduk muslimin) tanpa terkecuali” HR Bukhari. “Termasuk tanda-tanda kiamat adalah anak-anak menjadi sumber kemarahan( orang tua)...”HR Thabarani. “Akan terjadi fitnah-fitnah yang membuat orang bijak pun merasa kebingungan di dalamnya” Fitnah semacam ini dalam penilaian kita tidak lain adalah fitnah yang berkembang saat ini berupa TV, Komputer, Internet, Face Book, Twitter dan HP dll bagi siapa saja yang tidak bisa mengambil manfaat positifnya, lagu-lagu, para selebritis dan konser-konser musik. Sungguh semuanya sudah mewabah dan disaksikan oleh seluruh orang. Karena seringkali bersentuhan sehingga hati menganggapnya biasa dan merasa kerusakan ini bukanlah hal yang serius serta tidak perlu dipermasalahkan. Laa haula walaa quwwata illaa billaah al aliiy al azhiim. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Ingat, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging; jika daging itu baik maka seluruh tubuh juga baik dan jika daging itu rusak maka seluruh tubuh menjadi rusak”HR Bukhari Muslim. Hati yang rusak adalah hati yang sakit. Hati yang sakit adalah hati yang diliputi kegelapan. Hati yang sakit berbahaya bagi pemiliknya; dalam agamanya sebagai modal meraih keberuntangan dunia akhirat, juga dalam akhiratnya sebagai rumah yang langgeng dan abadi baginya. Hati yang sakit bisa diidentifikasi melalui gejala-gejala yang muncul di mana yang paling dominan adalah bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan, merasa berat melakukan kebaikan-kebaikan, serta sikap rakus terhadap kesenangan dan kelezatan dunia, sama sekali jauh dari memperlakukan dunia sebagai ladang akhirat. Jika gejala-gejala tersebut muncul maka seseorang wajib berusaha melakukan terapi pengobatan. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman! penuhilah Allah jika Dia Memanggilmu menuju hal yang bisa membuatmu selalu hidup –menghidupkan hatimu – dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Menghalangi antara seseorang dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNya-lah kalian dikumpulkan”QS Al Anfaal:24. Ayat ini memberikan arahan untuk melakukan pengobatan hati dan berusaha selalu menghidupkannya dengan berbagai macam cara di mana yang paling memudahkan mencapai tujuan adalah dengan mencari seorang Guru Murabbi yang akan selalu membimbing dan mengarahkan, yang bisa melihat hati dan membersihkan akhlak, yang akan memegang tangannya menuju Allah, dan yang karena bershuhbah dengan guru itu Allah menjaga dirinya dari keburukan, hawa nafsu dan kemaksiatan. Apabila tidak menemukan guru seperti itu maka mencari teman yang shaleh yang selalu memberi nasehat. Saran dan pendapat teman seperti ini bisa membantu mengenali penyakit hati dan pengobatannya. Atau mencari Jamaah yang patut untuk bergabung di dalamnya agar bisa turut serta bersama yang lain dalam memperbaiki hati. Jika semuanya tidak ditemukan - sebagaimana kondisi mayoritas masyarakat sekarang ini yang susah mencari orang-orang yang bisa saling membantu dalam kebaikan dan kebenaran – maka harus melakukan secara rutin iltizamat berikut ini: a. Menjalankan shalat dan keharusan-keharusannya yang berupa; mendirikannya, menjaganya, khusyu’, khudhur dan melanggengkannya. Sungguh shalat bisa menghilangkan kotoran-kotoran hati. b. Memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena shalawat bisa menambal keretakan hati. c. Membaca Alqur’an karena membaca Alqur’an bisa membersihkan karat-karat hati d. Merutinkan wirid-wirid dan dzikir-dzikir serta menghadiri majlis-majlis dzikir yang di antaranya adalah majlis ilmu. e. Menetapi Istighfar. Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah mengatakan: [Carilah hatimu dalam tiga suasana; ketika mendengarkan Alqur’an, dalam majlis-majlis dzikir dan dalam waktu-waktu khalwah. Jika kamu tidak menemukkannya dalam suasana-suasana ini maka memohonlah kepada Allah agar menganugerahkan hati kepadamu karena kamu sama sekali tidak memiliki hati] Ada do’a-do’a ma’tsur yang menjadi dalil adanya peluang merubah akhlak yang tercela seperti berikut: 1. “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon perlindunganMu dari kejahatan diriku dan dari kejahatan seluruh binatang melata yang ubun-ubunya ada dalam genggamanMu . sesungguhnya Tuhanku berada pada jalan yang lurus” 2. “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon perlindunganMu dari akhlak yang mungkar, menuruti keinginan nafsu dan dari berbagai penyakit” 3. “Ya Allah, tunjukkanlah diriku akan akhlak yang baik karena tidak ada yang menunjukkan akan akhlak yang baik kecuali Engkau. Hindarkanlah keburukan akhlak dariku. Karena tak ada yang menghindarkannya dariku kecuali Engkau” 

 =والله يتولى الجميع برعايته=

Sabtu, 02 November 2013

HIRSH (RAKUS)

Istriku... untuk yang kesekian kalinya aku menasehati dirimu, bahwa jiwa yang luhur, agung adalah jiwa yang senantiasa puas dengan apa yang dia dapat, jiwa yang tidak menjatuhkan harga dirinya ke dalam lembah keserakahan, menghinakan diri dengan kerakusan dalam mengejar-ngejar keinginan semu, untuk apa kita mengejar-ngejar dunia dan asesorisnya, seseorang yang mengenal dunia pasti akan membencinya, sebaliknya seseorang yang mengenal Alloh pasti akan mencintai-Nya. Hal yang senada dikatakan oleh Asy-Syafi’i r.a melalui bait-bait syairnya: Dunia itu tiada lain hanyalah seonggok bangkai dengan bentuk lain Menjadi rebutan anjing-anjing yang siap melahapnya Jika engkau menjahuinya Berarti engkau beroleh kedamaian dari penghuninya Tetapi jika engkau ikut merebutnya Engkau harus bersaing dengan anjing-anjing yang mengejarnya Istriku... untuk apa engkau menjatuhkan dirimu ke api keserakaha, dengan menumpuk-numpuk harta, Ibnu ‘Umar r.a. meriwayatkan dari Rasulalloh saw, Bahwa Beliau bersabda “Barang siapa menimbun bahan makanan selama empat puluh hari, sungguh ia telah lepas dari Alloh dan Alloh pun telah lepas darinya” ada yang menambahkan “Seolah-olah ia telah membunuh semua orang”. Ali r.a. mengatakan “Barang siapa menimbun bahan makanan selama empat puluh hari, niscaya hatinya menjadi keras”. Masih dari Ali r.a. Bahwasanya Ia pernah membakar makanan yang di timbun oleh pemiliknya. Coba lihat teladan para shahabat dan generasi setelahnya, contohlah mereka, jadikanlah teladan mereka, selain Al Qur’an dan Hadis sebagai pedoman hidup maka kamu akan selamat sayank…

DUA PERMATA YANG HILANG

Diantara sinyalemen yang diungkapkan Rasulullah saw tentang tanda-tanda akhir zaman ialah adanya sosok generasi yang terasing ( gharib ). Tentu generasi yang baik ini bukan terasing dari komunitas orang banyak karena apa yang diperbuatnya salah, melainkan mereka terasing karena kokoh dalam keimananya, sementara kebanyakan manusia pada saat itu justru kebalikannya. Ada dua karakter besar yang dilakaukan oleh kebanyakan manusia pada waktu itu. Pertama, mereka melalaikan Allah swt. Perilaku dan pikiran mereka tidak dikaitkan dengan keagungan dan ketentuan Allah swt, meliankan fokus mereka semata-mata berorientasi pandangan ihwal kedunia-wian. Kedua, menanggalkan ajaran kebenaran yang di bawa oleh Al Qu’an. Jangankan mereka ber-upaya memahami ayat-ayat dari wahyu Allah untuk dimasukkan otaknya, mereka justru menggugat keabsahan Al Qur’an, setidak-tidaknya mereka memutarbalikkan makna tersurat dari kitab suci itu. Dengan dua karakter ini kebanyakan manusia saat itu menjadi tidak murni lagi dalam berislam, kondisinya sudah terinfiltrasi ( disusupi ) oleh ajaran yang lainnya. Kondisi ini mengakibatkan kebanyakan mereka termasuk orang-orang yang fasik,persis dengan kondisi ahlul kitab di masa-masa sebelumnya. Atas kondisi yang bisa saja menimpa umat Islam di setiap masa ini, Allah swt berfirman : “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang fasik. ( QS. Al Hadid : 16) Menurut Imam An Nawawi, kata li dzikrillah pada ayat ini maksudnya ada dua, yaitu (….) (tuduk hati ketika mengingat Allah swt ) dan (….) ( tunduk hati untuk tujuan mengingat Allah swt). Arti pertama maksudnya mengingat Allah dengan ketundukan hati telah menjadi suatu kedudukan tertentu di sisi Allah swt ( maqom ). Sedang arti kedua maksudnya mengingat Allah dengan ketundukan hati secara tidak stabil, masih situasional (hal). Dengan demikian kondisi yang maksimal ialah menjadikan dzikrullah sebagai maqom, sedang kondisi yang setidak-tidaknya ialah menjadikan dzikrullah sebagai hal. Dzikrullah yang mempunyai arti luas bisa jadi berarti membawakan doa atau wiridan yang dianjurkan membacanya. Juga berarti dzikrullah melakukan perbuatan baik yang fardlu maupun sunnah secara rutin, seperti tilawah Al Qur’an, pengajian ilmu, dan berdakwah, termasuk segala aktifitas politik menuju tatanan Allah swt di bumi. Karena yang terpenting dari dzikrullah adalah membebaskan diri dari lalai dan lupa kepada Allah swt.Sehingga menurut Said bin Jubair,setiap perbuatan yang didarmabaktikan juntuk Alloh adalah dzikir.(Fi Sabilil Huda War Rosyad,hal 32.Sayyid Muhammad al Maliky) Selain kesadaran berdzikir, kesadaran lainnya ialah membenarkan secara tanpa kompromi atas apapun yang dibawa oleh Al-Qur’an. Kehujjahan Al-Qur’an dan kewajiban mengamalkannya adalah urusan yang maklumun fiddin bid dlarurah, tanpa butuh dalil lagi. Karena dari mengamalkan Al-Qur’an itulah makna berpegang teguh kepada agama Islam. Allah saw berfirman : “Alif laam raaa. Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya dikokohkan serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu”. (QS Hud: 1) Soal Al-Qur’an ini mesti disadari bahwa walaupun turunya telah habis bersamaan wafatnya Rasulullah saw, akan tetapi antisipasi Al-Qur’an terhadap kasus-kasus kontemporer juga perkembangannya terhadap penggalian hukum akan terus eksis sepanjang masa. Al-Qur’an semakin di gali dan dikaji, akan semakin bertambahlah rahasia, kedalaman, dan kedetailannya. Imam Ali bin Muhammad Al Habsyi berkata : “Tanazzulnya ( kemampuannya berkembang mengantisipasi zaman ) bagi para ulama senantiasa tetap eksis, sementara dia sudah terputus periodesasi turunnya”.(Syari’atulloh al Kholidah,hal 19) Dua hal ini ( dzikrullah dan menerima Al-Qur’an ) rasanya merupakan dua kesatuan yang terpadu. Artinya kalau orang senantiasa berdzikir kepada Allah swt akan selalu membenarkan apapun yang dibawa Al-Qur’an. Begitu pula orang yang membenarkan Al-Qur’an akan berdzikir kepada Allah swt. Maka orang yang emoh berdzikir dan menolak kebenaran Al-Qur’an, dikhawatirkan jangan-jangan dia berkolaborasi (bekerja sama ) dengan setan. Allah swt berfirman : “Barang siapa yang berpaling dari dzikir Tuhan Yang Maha Pemurah ( Al-Qur’an), kami adakan baginya setan, maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya”. (QS.Zukhruf : 36) Dari sini semestinya aktivitas kehidupan kita hendaknya jangan terlepas dari aktivitas dzikir serta aktivitas berdawah dan belajar ( untuk terus mengkaji Al-Qur’an), sebab dua hal itulah permata ( hikmah) yang kerap hilang, minimal selalu timbul tenggelam dari diri kaum muslimin. Rasulullah saw bersabda : “Ingatlah sesungguhnya dunia itu terkutuk. Juga terkutuk apa yang ada di dunia itu, selain dzikirullah dan suatu yang mengantarkan padanya dan orang yang berilmu atau orang yang belajar.” (HR.Tirmidzi) wallohu a'lam bisshowaf.

Iltizam Terhadap Amanah

Zaman fitnah yang kehadirannya dikhawatirkan banyak orang salah satu tandanya adalah tercerabutnya sifat amanah dari jiwa manusia. Ketika tampak amanat diabaikan, amanat diabaikan, amanat ditelantarkan,dan amanat disia-siakan, yakinlah kita bahwa zaman fitnah telah tiba. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Nabi saw yang merupakan kelanjutan dari hadits fitnah pada taushiah yang lalu sebagai berikut : “Orang pagi-pagi berperilaku layaknya orang beriman sore-sore berperilaku layaknya orang kafir. Pagi-pagi berperilaku layaknya orang kafir sore-sore berperilaku layaknya orang beriman. Dia menjual agamanya dengan harta benda dunia.” (HR Muslim dan at Tirmidzi. Lihat Tuhfatul ahwadzi jilid VI hal 438.) Apakah amanat itu? Ada beberapa makna. Pertama, amanat yaitu titipan seseorang kepada orang lain agar supaya dijaga dan dipelihara (Didasarkan pada firman Allah swt dalam Q.S An nisaa’: 58).Kedua, amanat ialah beban kewajiban dari Allah swt untuk para hambaNya termasuk juga hak-hak yang berhubungan dengan sesama manusia yang diperintahkanNya untuk dilaksanakan. (Didasarkan pada firman Allah swt dalam Q.S Al Ahzab : 72).Ketiga, amanat ialah jabatan dan kekuasaan ( al wilayah ). (Didasarkan pada nasehat Nabi saw kepada sahabat Abu Dzar Al Ghifari .)Dari sini amanat dapat diartikan; menjaga atau memelihara sesuatu yang patut untuk dijaga dan dipelihara, baik yang berhubungan dengan Allah swt maupun dengan manusia, berupa hak-hak, kewajiban, dan peraturan, baik bersifat materi maupun nonmateri . Amanat yang merupakan lawan dari khianat ternyata mencakup sisi materi ( maaddiyah ), nonmateri ( maknawiyah ), dan diniyah. Untuk mengenal lebih mendalam tentang amanat, berikut ini hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Huzaifah bin Al Yaman. “ Rasulullah saw manceritakan kepada kami dua hadist kepada kami,.Salah satu dari dua hadits itu aku telah melihat kenyataannya dan aku sedang menunggu kenyataan hadits lainnya. Beliau menceritakan kepada kami sesungguhnya amanat telah turun didasar hati jiwa manusia. Dan ( ketika turun Al Qur’an ) mereka mengkaji dari Al Qur’an dan kemudian mengkaji dari As Sunnah. Beliau menceritakan pula tentang lenyapnya amanat itu. Kata beliau : “Seseorang tidur dalam sekejap, lalu dilepaslah amanat dari hatinya. Maka bekas dari amanat itu menjadi seperti bekas pada sesuatu yang sedikit. Kemudian dia tidur sekejap lagi, maka amanat tercabut lagi dari hatinya. Lalu bekasnya tampak laksana bekas lepuhan di tangan (bhs. Jawa: kepalen) yaitu laksana bara api yang dilemparkan sehingga mengenai kakimu, lalu kakimu bengkak. Kamu melihatnya seperti melepuh. Padahal di dalamnya tidak ada apa-apanya. Setelah itu manusia bersegera berbaiat. Maka hampir saja tidak ada seorang pun menuaikan amanatnya, sampai dikatakan:”dikalangan penduduk sana ada orang amanat” dan dikatakan pula” Ah alangkah manisnya dia; alangkah cerdasnya dia,”sementara tidak ada sediktpun dia memiliki iman. Dan sungguh pernah datang kepadaku masa dimana aku tidak mempedulikan siapa diantara kalian aku baiat. Jika dia muslim,agamanya mesti mencegahnya dari tidak amanat. Dan jika dia nasrani atau yahudi,para hakimlah yang mencegahnya.Adapun hari ini maka aku tidak membaiat diantara kalian kecuali fulan dan fulan.”(HR. Bukhori Muslim) Dari hadits yang panjang tersebut, dapat diambil beberapa pengertian : 1. Pada dasarnya amanat itu potensi yang dibawa setiap manusia secara fithrah seperti halnya naluri jika digali, potensi itu akan berkembang kuat. Tapi jika didiamkan, potensi itu akan kusut dan rusak yang pada akhirnya tidak bisa dimanfaatkan. Maka harus ada upaya untuk menggalinya. Yakni dengan mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah. 2. Dari masa kemasa-masa keberadaan sifat amanat akan semakin terkikis. Semakin hari tampak amanat semakin hilang, lenyap dan musnah. Amanat tercabut ibarat di saat seseorang tidur ( tanpa sadar ) hingga tiada berbekas amanat itu kecuali sedikit dan diibaratkan dengan lepuhan tangan yang mebengkak yang tiada isinya. 3. Bersamaan dengan terkikisnya sifat amanat, kebanyakan manusia akan mengalami kekeliruan dalam menetapkan ukuran.Ukuran menilai seseorang bukan lagi didasarkan pada keimanan ( amanat )nya akan tetapi diukur dari kecerdasannya, kekuatannya, atau kemanisanya. 4. Keimanan menjadi penegak utama sifat amanat bagi orang muslim. Sedang bagi nonmuslim sifat amanat ditegakkan melalui penekanan (pressure) dari hakim (penguasa) pemerintahan Islam. Jika terjadi kondisi dimana sifat amanat runtuh, maka unsur keimanan memang lemah disatu sisi dan sisi lain karena tiadanya hakim. 5. Adanya perbedaan yang cukup mencolok dalam hal amanat antara kaum muslimin dahulu dengan kaum muslimin berikutnya sehingga sekarang. Jika kita perhatikan pada As Sunnah, akan kita dapati disana bahwa amanat pada kita itu sekian banyak macamnya. Dantaranya ada amanat suami-istestri, amanatul majlis, amanat manakala berperan sebagai mustasyar ( pihak yang di mintai pertimbangan atau diajak musyawarah ), amanat sebagai juru adzan, dan amanat jual beli. Termasuk pula amanat ukhuwah , amanat dakwah , amanat kekuasaan dan jabatan, amanat memilih pimpinan, amanat berjamaah, amanat beriltizam, dsb. Dan kita mendapati berbagai macam amanat itu saat ini (diantaranya amanat jabatan dan kekuasaan) telah disia-siakan ( diberikan bukan pada ahlinya) sedemikian rupa bahkan amanat umumnya cenderung diposisikan laksana maghnam ( barang rampasan ). Yakni bila mendapati amanat, amanat itu dijalankanya dengan khianat. Jalan keluar tatkala tiba zaman fitnah, tiada lain kita mesti memperhatikan ulang amanat-amanat pada diri kita. Berapa banyak amanat yang menjadi beban kita dan apakah amanat-amanat itu benar-benar sudah kita tunaikan, sudah kita jalankan, dan sudah kita jaga dengan sebaik-baiknya (jauh dari khianat). Terlebih lagi kita telah masuk dalam sebuah Jama’ah Dakwah di mana unsur amanat merupakan unsur pokok. Apakah itu amanat dalam tugas dan iltizamat, amanat dalam berinfaq, amanat dalam mengaji, amanat dalam bersikap, dsb. Tidak ada iman bagi yang tidak memiliki amanat. Allah swt berfirman: “Dan aku kepada kalian adalah seorang pemberi nasehat yang amanat.” (QS al-A’rof: 68) Mengingat akan pentingnya menjaga amanat,Rasulullah saw selalu mengajarkan kepada kita untuk mengamalkan doa-doa yang intinya mengingatkan agar beriltizam pada amanat demi menghindari khianat. “Aku titipkan kepada Allah swt agamamu dan amanatmu serta akhir dari amalmu”.(HR Abu Dawud) “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kelaparan karena dia seburuk-buruk teman tidur dan aku berlindung pula dari khianat karena dia seburuk-buruk teman dekat”.(HR.Abu Dawud,Nasa’I dan Ibnu Majah) Wallohu Subhaanahu Wata’alaa A’lam

Jumat, 01 November 2013

HANYA INGIN KAU TAU




Teruntuk yang ada di atas sana…
aku selalu merindui-mu, ‎
Saat diri-mu membuka mata
Sadarilah disini ada cinta yang menanti-mu,‎
Saat diri-mu menutup mata
Sadarilah bahwa semalaman ada mata yang terjaga untuk-mu,‎
Saat diri-mu beranjak pergi
Ingatlah bahwa disini ada hati yang merindui-mu,‎
Saat diri-mu melangkahkan kaki
Ingatlah ada do’a yang selalu mengiringi-mu,‎
Saat kau hirup udara fajar
Ku-harap kau tau, itulah salam rindu-ku pada-mu,‎
Percayalah, aku akan selalu menjaga dan nyanyikan lagu rindu.‎

 Preeeeeeeeeeet, guri, guri, guri, nyoe…‎

 Jepara 28-10-2013.‎

RASULULLAH RAHMAT SELURUH ALAM

وما أرسـلناك إلاّ رحمةً للعالَمين .‏ Dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa rosuluLLOH diutus ke dunia ini merupakan rahmat ‎bagi keseluruhan penghuni alam, semuanya mendapat kasih sayang RosuluLLOH – mulai ‎dari malaikat, manusia, jin, hewan, bahkan syetan sekalipun. Hanya saja kasih sayang Beliau ‎kepada syaitan yang juga merupakan sebagian dari penghuni alam jauh-jauh hari telah ‎dihilangkanoleh ALLOH , yaitu ketika RosuluLLOH menjalani oprasi hati oleh malaikat Jibril ‎a.s .‎