Translate

Rabu, 08 Mei 2013

LARANGAN MEMINTA JABATAN (kepemimpinan) serta AMBISIUS memperolehnya

 

 فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ 

 “Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (Q.S Muhammad :22)

Kata ( إنْ تَوَلّيْتُم ) dari akar kata ( التَوْلِيّة ) yang berarti ( طَـلَبُ الوِلايَة / mencari kekuasaan).
Sementara dalam hadis Rasulullah saw. Menjelaskan akan larangan meminta atau menawarkan diri sebagai pemimpin, atau larangan berambisi meraih kedudukan tersebut. Dari Abu Musa ra., ia berkata: Aku menemui Nabi saw. bersama dua orang lelaki anak pamanku. Seorang dari keduanya berkata: Wahai Rasulullah, angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah kekuasaanmu yang telah diberikan Allah azza wa jalla! Yang satu lagi juga berkata seperti itu. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun yang meminta sebagai pemimpin atas tugas ini dan tidak juga seorang yang berambisi memperolehnya. (Shahih Muslim) Sementara realita yang kita temui saat ini, betapa para pemimpin-pemimpin kita semuanya mencalonkan diri, seolah-olah layaknya perlombaan. Mereka berasumsi "berlomba atau berebut dalam memperoleh kekuasaan adalah tren, dan sudah menjadi budaya". Saking berebut-nya orang-orang untuk menjadi penguasa, terkadang kekuasaan benar-benar tampil menjadi komoditi yang tidak murah, butuh pengorbanan jiwa maupun harta, baik untuk menduduki tahta Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, para anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mau pun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Orang yang demikian tidak ada niatan khidmah (Pengabdian diri) sama sekali pada Negara, benak mereka hanya dipenuhi kekuasaan saja, tak lebih dari itu. Maka Allah mengolok-olok mereka yang gila akan kekuasaan dengan berfirman “Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”. Itu dikarenakan sikap ambisius mereka dalam memdapatkan jabatan tersbut, karena jabatan kepemimpinan adalah amanah yang agung, amanah yang berat untuk dijaganya, yang pantas disandang oleh mereka yang berniat baik, berniat mengabdi pada Bangsa da Agama. dan tentunya Allah pasti akan menumbangkan para pemimpin-pemimpin yang ambisius. Semoga bangsa kita ini di bersihkan dari karakter pemimpin yang ambisius, hingga Allah menjadikan Bangsa ini, Bangsa yang gemah ripah loh jinawi. Amiiin.

Selasa, 07 Mei 2013

RINTIHAN LIRIH PARA PENDOSA

Oleh: Ahmad Milady • ASTAGHFIRULLAHAL ‘ADHIIM ,,, • AMPUNI KAMI YAA ALLAH ,,, atas segala dosa dan kedurhakaan, atas semua salah dan kekeliruan, atas setiap lupa dan pembangkangan, atas kesengajan dan ketidak sengajaan, dosa yang kami lakukan dalam keramaian atau dalam kesendirian, • AMPUNI KAMI YAA ALLAH Atas dosa mata kami yang selalu memandang perbuatan nista, dosa telinga kami yang selalu mendengar perkataan dusta, dosa lisan yang seringkali berucap kotor dan sia sia dari perbuatan yang tercampur syirik dan malapetaka dari ilmu yang terselip ujub, sum’ah dan riyaa’ • AMPUNI KAMI YAA ALLAH dari kebodohan yang seringkali mencelakakan, dari rizqi yang kami peroleh dengan jalan haram dari ni’ mat yang kami gunakan untuk kema’shiyatan dari pengatahuan yang kami orientasikan untuk keduniawian dari hati yang selalu sibuk dengan syahwat dan kelezatan • AMPUNI KAMI YAA ALLAH sebanyak bilangan pasir dan batu padang sahara sebanyak hitungan buih diseluruh samudera sebanyak jumlah kicauan burung dicakrawala sebanyak apa apa yang melata diatas dan dibawah tanah sebanyak rasa khawatir dan fikiran manusia dari masa kemasa sebanyak makhluq jin, manusia serta flora dan fauna • AMPUNI KAMI YAA ALLAH sebanyak detak jantung yang dicekam ketakutan sebanyak keajaiban-Mu yang Engkau hamparkan sebanyak tiupan angin yang Engkau hembuskan sebanyak kerlingan mata yang kami kedipkan sebanyak keringat orang orang yang kelelahan • AMPUNI KAMI YAA ALLAH sebanyak malaikat yang memenuhi penjuru jagad sebanyak tetesan air hujan dari abad ke abad sebanyak lintasan hati manusia untuk berbuat jahat sebanyak Dosa kami mengumbar nafsu syahwat sebanyak kecintaan kami kepada kedudukan dan pangkat  ASTAGHFIRULLAAHAL ‘ADHIIM Kami malu kepada-Mu yaa Allah kami kembali kepada-Mu yaa Allah kami berlari menuju-Mu yaa Allah kami berlari dari murka-Mu menuju keridloan-Mu • AMPUNI KAMI YAA ALLAH karena seringnya kami melalaikan shalat, karena seringnya kami melupakan zakat, karena sering kami tidak berpuasa padahal sehat, karena enggannya kami berhaji walaupun kami kuat, karena sering kami mengejek-Mu dengan taubat sesaat, • AMPUNI KAMI YAA ALLAH karena seringnya kami melupakan perintah-Mu karena seringnya kami mengingkari ni’mat ni’mat-Mu karena seringnya kami menyalahkan pembagian-Mu karena seringnya kami menentang keputusan-Mu, karena seringnya kami mendholimi haq-Mu dan haq makhluq-Mu,,, • AMPUNI KAMI YAA ALLAH karena gemarnya kami memutuskan silaturrahim karena rakusnya kami terhadap dunia dan kemilau harta karena perangai kami yang sangar dan kasar karena sifat iri dan dengki karena kesombongan dan berbesar diri karena ghibah, namimah dan akhlaq tercela • AMPUNI KAMI YAA ALLAH Karena seringnya kami memandang hebat diri kami karena seringnya kami memandang hina saudara saudara kami karena seringnya kami memakan yang bukan milik kami karena seringnya kami mencampakkan suara hati nurani karena seringnya kami menginjak injak kitab-Mu yang suci • AMPUNI KAMI YAA ALLAH karena seringnya kami menelantarkan anak anak kami sebagai amanah-Mu karena kesibukan kami hingga lupa memberikan haq anak anak buah hati kami kami nafkahi mereka dengan barang barang yang haram kami penuhi perut mereka dengan bara api neraka kami didik mereka bukan dengan akhlaq Nabi-Mu yang mulia kami besarkan mereka bukan dengan cinta kami cukupi kebutuhan jasmaninya tapi kami telantarkan kebutuhan rohaninya kami paksakan kemauan kami sambil mencampakkan suara hati mereka kami lupa,,, kami khilaf,,,mereka hidup di zaman mereka bukan dizaman kami YAA ALLAH,,, pantas saja mereka sekarang tumbuh menjadi anak anak yang durhaka, durhaka kepada-Mu, dan durhaka kami, • AMPUNI KAMI YAA ALLAH karena seringnya kami melukai hati ayah bunda kami, karena lalainya kami mendo’akan keduanya padahal kami tahu yaa Allah, dalam tubuh kami mengalir air susunya dalam jasad kami ditumbuhi darah dagingnya AMPUNI KAMI YAA ALLAH ,,,

PUISI RESAH



Malam yang sepi, Sunyi, aku sendiri,
Di temani galau dan bosan,

Tuhan...
aku ingin hadirnya, Aku ingin dia tau, meski hanya Sebatas tau,

Tuhan...
apakah dia merasa, Apa yang aku rasa.
Meski hanya sesaat,
Setidaknya Aku sempat mendarat Di hainya,
walau hanya sekejap,
Setidaknya dia pernah mengecap Rasa rinduku yang telah sarat.

Tuhan...
aku ingin malam ini Dia hadir, sekalipun dalam mimpi.

Tuhan...
kenapa rinduku tak kunjung reda Sementara jasatku molai terlena,
Oleh janji mimpi yang tak nyata,
Hai... kau yang disana,
Kenapa kau bisu menggoda??
Apa itu yang kau ingin, Agar jiwa ini semakin Resah,
Aku pasrah.
Hai...kau yang pengobral pesona,
apa saat ini kau merasa bangga.

Jombang 31 – 3 – 2012

DO'A SETELAH ADZAN

- أللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّة وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَة آتِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدً الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَة وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَه - رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَّرَسُوْلاً - رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْرًا - أللَّهُمَّ إنِّيْ أسْألُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَة - وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. - Alloohumma robba haadzihid da’watit taammah wassholaatil qoo-imah aati sayyidanaa muhammadanil wasiilata wal fadhiilah wab’asthu maqoomam mahmuudanil ladzii wa’adtah - Rodhiitu billaahi robbaa wabil islaami diina wabimuhammadin nabiyyau warosuulaa - Robbighfirlii waliwaalidayya robbirhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo - Alloohumma innii as-alukal ‘aafiyata fiddunyaa wal-aakhiroh - Washollalloohu ‘alaa sayyidinaa Muhammad walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin

Enjoy aja kali'

ومن رضِى فله الرضا ومن سخِط فله السُخط “Barang siapa yang rela baginya kerelaan (Kepuasa) tersebut, barang siapa yang enggan baginya pula keengganan (Keresahan) tersebut” Hidup adalah sebuah pilihan, apa-ap yang sudah anda pilih sebaiknya anda jalani dengan sepenuh hati. Jika kewajiban hidup anda anggap sebagai beban maka pikullah, jika sebagai tugas maka jalanilah, jika sebagai kebutuhan makacarilah, jika sebagai hobi maka nikmatilah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan , akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat anda merasakan kepahitan, penderitaan ataupun kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa anda lakukan. Lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segala sesuatunya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah hatimu laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. Jadi yang membentuk karakter setiap diri seseorang adalah pola pikir orang itu sendiri, jika anda berfikir positif, maka kebahagiaan akan anda peroleh saat itu juga. Dan sebaliknya jika anda berfikir negati mengenai kehidupan anda, nasib masa depan anda, maka yang akan anda temu adalah wujud apa-apa yang anda pikirkan. Dikatakan: Free you heart from hatred “kosongkan hatimu dari kebencian” Free you mind from worries “kosongkan pikiranmu dari kekawatiran” Live simply “hiduplah sederhana” Give more “perbanyaklah memberi” And expect less “dan kurangilah berharap” .

Senin, 06 Mei 2013

PUTUS ASA

Untuk Buah Hatiku... Anakku... tidak ada suatu bangsa yang sedang di landa keputus-asaan kecuali mereka akan mengalami lemahnya akal, rapuhnya jiwa dan bingung nan bimbang dalam menentukan tujuan hidup, lalu apa yang membuat kamu putus asa, bukankah Cukuplah untukmu, dengan kelemahan hati, kemandulan pikiran, dan rapuhnya jiwa. sebagai alasan untuk tidak memberi ruang bagi bersemayamnya putus-asa dalam pribadimu. Pribadi yang putus-asa adalah pribadi seorang pecundang, seorang yang pengecut, seorang yang hina tentunya. Maka orang yang mempunyai kemuliaan tentu tidak akan membiarkan dirinya terjerembak ke dalam keputus-asaan yang akan membawanya ke dalam jurang kehinaan, penjara kegelapan masa depan, dan keterpurukan yang tak bisa ditolers keberadaannya. Anakku… engkau terlahir sebagai seorang pemenah, engkau telah mengalahkan beribu-ribu pesaing¬_mu, berjuta-juta bahkan melyaran dalam merespon sel telor, Anakku... ”kelemahan hati” yang diakibatkan oleh virus keputus-asaan akan berdampak pada pelakunya, ia akan mendorong pelakunya, mengajaknya dan menempatkan pada kedudukan yang rendah, menjadikan pelakunya laksana hewan yang dungu, ia tidak mengerti, memahami arti kemenangan, keberhasilan dalam hidup ini, kecuali hanya bersandar pada naluri kehewanannya, yang bisanya hanya makan, minum, tidur, dan buang kotoran saja. Itulah gambaran keputus-asaan, yang dimana keberadaannya merupakan benalu kehidupan. Bahkan dalam setatemennya Alloh mengidentikkan ”keputus-asaan” dengan perbuatan orang-orang kafir.                       “Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. Lihatlah anakku... betapa besar dosa yang diakibatkan keputus-asaan Dan dosa tersebut bukan hanya membayang-bayangi, menutupi hati pelakunya di kehidupan yang ini, lebih dari itu, dia juga menutupi di kehidupan yang lain juga.

HARAPAN (CITA-CITA)

Untuk Buah Hatiku.. Anakku... jadikanlah dirimu seseorang yang berkemauan tinggi tanpa melihat setatusnya, tanamkanlah dalam jiwamu pribadi yang bercita-cita luhur, raihlah cita-citamu, anakku karna dengan cita-cita itulah, kamu bisa mewujudkan keinginanmu, songsonglah masa depanmu dengan harapan, Anakku... ingatlah selalu kalam hikmah di bawah ini كُنْ رَجُلاً رِجْلُه في الثَرَي * وهِمّتُه في نَجْمِ الثُّرَيَا " jadilah kau pribadi yang kakinya berpijak di bumi, namun cita-citanya berpijar setinggi bintang kartika ” Anakku… kalau saja tidak ada cita-cita, kalau saja bukan karena sebuah harapan, tentu orang yang berusaha menghentikan usahanya, orang yang berjalan menghentikan perjalanannya, dan orang yang menyeru menghentkan seruannya.dan dampaknya tentu dunia ini akan terasa sempit, lebih sempit dari pada lubang biawak, dan lebih berat dari pada memikul beban yang membelit punggung, membelenggu gerak diri. Anakku... pepatah mengatakan ”ribuan kilometer langkah di mulai dengan satu langkah, sebuah langkah besar sebenarnya terdiri dari banyak langkah-langkah kecil” bukankah seorang guru dunia pernah berujar, kerena harapanlah seorang ibu menyusui anaknya, karena harapanlah kita menanam pohon , meski kita tau kita tak akan sempat memetik buahnya yang ranum bertahun-tahun kemudian,. Diceritakan pula dalam experimennya para ilmuan eropa mendatangkan seekor tikus yang dimasukkan kedalam setoples lalu setoples tersebut di isi dengan air dan diletakkan di tempat yang gelap – dalam pengamatan para ilmuan tersebut- ternyata tiku hanya mampu bertaha beberapa menit saja. Untuk yang kedua kalinya ilmuan tersebut mendatangkan seekor tikus pula yang dimasukkan ke dalam setoples, namun kali ini beda mereka meletakkan setoples yang berisikan air tersebut ditempat yang terang . Dan apa yang terjadi, ternyata tikus tersebut mampu bertahan hingga sampai beberapa jam. Kenapa bisa begitu, karena dalam experimen yang kedua tikus itu melihat kehidupan yang terang nan jelas, tikus itu mendapati sebuah harapan didepan mata, janganlah engkau kehilangan harapan, kerena harapanlah seorang membangun rumah tangga, seorang ibu menyusui anaknya, karena harapanlah kita tetap bertahan hidup. Dan juga dikatakan: ”Manusia akan mampu bertahan hidup selama 40 hari tanpa makan, 4 hari tanpa air, 4 menit tanpa nafas, tapi hanya 4 detik sajab tanpa sebuah harapan”. Sekali anda kehilangan harapan , anda kehilangan seluruh kekuatan anda untuk menghadapi dunia. BAYANGKAN

ANTARA ANJING DAN SEBATANG JARUM

Cobalah untuk mengawali suatu hari anda dengan niat untuk memberi. Mulailah dengan sesuatu yang terkecil, yang tak terlalu berharga dimata anda. Mulailah dari uang receh, hanya untuk satu tujuan yaitu “Memberi tanpa pamrih”. Apakah anda berada di bis kota yang panas, lalu seorang pengamen dengan suaranya yang fals dan memekakkan telinga. Atau anda berada dalam mobil berAC yang sejuk, lalu tangan kecil mungil menjulur pada anda meminta-minta, atau sekedar menyingkirkan duri dari keramaian orang, atau hanya tersenyum, atau mungkin hanya sekedar mengasihi makhluk Tuhan, hewan sekalipun. Diceritakan: pada dahulu kala ada seorang perempuan muda berjalan terseok-seok seolah menahan rasa letih. Sudah terlalu jauh ia menyusuri jalan, untuk mencari sesuap nasi. Menawarkan diri kepada siapa saja yang mau, meski dengan harga yang murah, perempuan muda itu terlihat terlalu tua dibandingkan dengan usia sebenarnya. Wajahnya lusuh nan kusut, kuyu diguyur penderitaan panjang. Ia tidak memiliki keluarga, kerabat, ataupun sanak saudara lainya. Orang-orang sekelilingnya menjauhinya. Bila bertemu dengan perempuan tersebut mereka melengos menjauhinya karena jijik melihatnya. Namun perempuan itu tidak peduli, karena pengalaman dan penderitaan mengajarinya untuk bisa tabah. Segala ejekan dan cacimaki manusia diabaikanya, ia anggap bak sampah. Ia berjalan Dan Berjalan, seolah tiada pemberhentianya, ia tak tau akan berlabuh dimana. Ia tak pernah yakin, perjalananya akan berakhir. Tapi ia terus berusaha melenggak-lenggok untuk menawarkan diri. Namun sepanjang itu Sunyi yang ia temui, sementara panas masih terus membakar dirinya. Entah sudah berapa jauh ia berjalan, namun tak seorangpun juga yang mendekatinya, tak seorangpun menawarnya. Lapar dan Haus terus menyerangnya. Dadanya terasa sesak dengan nafas yang terengah-engah kelelahan yang amat sangat. Betapa lapar dan hausnya dia. Akhirnya sampailah ia disebuah desa yang sunyi. Desa itu sedemikian gersangnya hingga sehelai rumputpun tak tumbuh lagi. Perempuan pelacur itu memandang ke arah kejauhan. Matanya nanar melihat kepulan debu yang bertebaran di udara. Kepalanya sudah mulai terayun-ayun dibalut kesuraman wajahnya yang lusuh. Dalam pandangan dan rasa hausnya yang sangat itu. Ia Melihat sebuah sumur di batas desa yang sepi. Sumur itu ditumbuhi rerumputan dan ilalang kering yang rusak di sana-sini. Pelacur itu berhenti di pinggirnya sambil menyandarkan tubuhnya yang sangat letih. rasa hauslah yang membawa ia ke tepi sumur tua itu. Sesaat ia menjengukan kepalanya ke dalam sumur tua itu. Tak tampak apa-apa, hanya sekilas air memantul dari permukaanya. Mukanya tampak menyemburat senang, namun bagaimana harus mengambil air sepercik dari dalam sumur yang curam? Perempuan itu kembali terduduk. Tiba-tiba ia melepaskan stagenya yang mengikat perutnya, lalu dibuka sebelah sepatunya. Sepatu itu diikatnya dengan stagen, lalu di julurkanya ke dalam sumur. Ia mencoba mengais air yang hanya tersisa sedikit itu dengan sepatu kumalnya. betapa hausnya ia, betapa dahaganya ia. Air yang tersisa sedikit dalam sumur itu pun tercabik, lalu ia menarik stagen perlahan-lahan agar tidak tumpah, namun tiba-tiba ia merasakan kain bajunya ditarik-tarik dari belakang. Ketika dia menoleh, di lihatnya seekor anjing dengan lidahnya terjulur ingin meloncat masuk kedalam sumur itu. Sang pelacur pun tertegun melihat anjing yang sangat kehausan itu, sementara tenggorokannya sendiri serasa terbakar karena dahaga yang sangat. Sepercik air kotor itu sudah ada di dalam sepatunya. kemudian dia akan meneguknya, Anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya sambil merintih. Pelacur itupun mengurungkan niatnya untuk mereguk air itu. Dielusnya kepala hewan itu dengan penuh kasih. Si Anjing memandangi air yang berada di dalam sepatu, lalu perempuan itu meregukan air hanya sedikit ke dalam mulut sang anjing, dan perempuan itu pun seketika terkulai roboh sambil tangannya memegang sepatu. Melihat perempuan itu tergeletak tak bernafas lagi, sang Anjing menjilat-jilat wajahnya, seolah menyesal telah mereguk air yang semula akan direguk perempuan itu. Pelacur itu benar-benar meninggal. Sesungguhnya, setiap orang beriman berhak atas surga. Tak peduli apa statusnya. Orang yang mulia atau mereka yang hina-dina. Karena surga adalah milik Allah, maka terserah kepada Allah, siapa yang diridhoi-Nya untuk masuk ke dalam surga-Nya itu. Dan Rasulullah SAW telah mengindikasikan bahwa seorang ahli ibadah tidak serta-merta mendapat jaminan akan masuk surga, karena surga lebih diutamakan bagi mereka yang mencintai Allah dengan sesungguh-sungguhnya kecintaan. Seperti juga kita, maka pastilah kita lebih suka kepada orang yang kita sukai untuk datang ke rumah kita, daripada mereka yang selalu memuja-muji kita – dengan niat bergelimang pamrih. Demikianlah juga Allah memilih mereka yang lebih dicintai-Nya. Dan Dia Maha Mengetahui akan segala yang tertampak pada lahir dan terbersit dalam batin. Maka, hendaknya kita tidak jadi merasa heran saat mengetahui bahwa Allah telah memasukkan seorang pelacur ke dalam surga-Nya yang mulia. Karena Dia sungguh mengetahui apa-apa yang selayaknya dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya. Pada suatu hari, dalam suatu majelis, seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai, Rasulullah. Apakah hanya orang-orang ahli ibadah saja yang akan masuk surga?” Dengan tegas Rasulullah menjawab, “Tidak. Sesungguhnya, seseorang itu masuk surga bukan semata-mata karena ibadahnya, melainkan karena ketulusan cintanya kepada Allah.”....... Jadi janganlah pernah meremehkan suatu kebaikan, sekecil apapun itu yang mana justru membuat Allah ridho, membuat Allah suka, maka besar nilainya disisi Allah. Sebaliknya janganlah kita membuat Allah murka karena sikap kita, atau tindaan kita, walau hanya sebatang jarum yang kita perbuat. (من استَعْمَلْناه منكم على عملٍ, فكَـــتَـمْنا مِخْـيَطاً فما فوقَه, كان غلولا يأتى به يومَ القيامة) رواه مسلم. Dari ‘Ady bin ‘Amirah Al Kindy, katanya : saya mendengar Rasulalloh bersabda : “Barang siapa yang kami angkat sebagai amil dalam satu urusan, lalu dia mengumpat (KKN) sebatang jarum atau lebih dari itu, maka dia dikatakan seorang koruptor dan akan mempertanggung jawabkannya pada hari kiyamat” Sementara realita yang kita temui, betapa banyak para pejabat-pejabat kita yang kita percayai justru melakukan tindakan yang tak terpuji. Menganggap korupsi, melakukan dosa sebagai Budaya, dan berarti itu menjadi bagian dari kehidupan. Dan karenanya, hal itu dinikmati dan dilakukan oleh semua orang. Baik tua, maupun muda, Miskin maupun kaya. Bila ini berlanjut terus, apa jadinya bangsa Indonesia nantinya. Korupsi bukan hanya dilakukan oleh mereka yang memegang jabatan atau juga bagi mereka yang istilahnya berada di tempat basah. Korupsi seperti sudah membudaya di bangsa ini, disetiap sudut kehidupan dapat ditemui. Dari sekedar pungli (pungutan liar), birokrasi yang dipersulit, atau suap – menyuap, dan tetek benek. Lalu adakah yang bisa dilakukan anak-anak Bangsa ini agar korupsi tidak terjadi lagi? Tentu. Caranya, kita mencegah siapa pun agar tidak punya niat untuk korupsi. Kita juga bisa mendorong siapa pun agar dekat pada Tuhan sehingga jika mereka yang telah diingatkan mau korupsi, ingat akan Allah. Dan bahwasanya setiap tindakan, perbuatan, bahkan ucapanpun yang kita lakukan, disitu tak luput dari pantauan-Nya, Kedekatan dengan Tuhan, membuat hati nurani ter-asah sehingga mengingatkan dan menjaga setiap orang yang berniat menjauh dari dosa. hingga akhirnya tidak jadi bebuat korup. مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ. “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir”. ( Qaaf : 18) Dan mulai juga dari diri sendiri. Jujur saja; mengurangi timbangan, menyontek, menerobos lampu merah, atau lebih remeh lagi, itu termasuk etika tercela, yang mana bisa jadi membuat Allah murka. Mencukupkan diri dan mengucap syukur atas apa yang diterima, itu sebuah resep yang akan menjauhkan seseorang dari pencobaan untuk korup. Dalam Alkitab diceritakan tentang orang-orang yang ingin dibabtis oleh Yohanes Pembabtis, diantara mereka ada pemungut cukai dan para prajurit yang bertanya tentang langkah pertobatan. Dan inilah yang Yohanes Pembabtis katakan : Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?" Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (Lukas 3:12-14) Jadi kini saatnya kita ubah budaya, jangan jadikan korupsi dan dosa sebagai budaya. Tapi mari jadikan parbuatan ma’ruf, kejujuran, dan transparansi menjadi budaya bangsa ini. Jadi kesimpulannya “Jika dengan seteguk air seorang pelacur bisa masuk surga, maka hanya dengan sebatang jarum seorang pejabat yang korup juga bisa terseret ke dalam neraka” (Aby Ikhya’ Ulumiddin)

Sabtu, 04 Mei 2013

MASYARAKAT IMPIAN

Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman : وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (٥٨) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (٥٩) البقرة :٥٨- ٥٩ "Dan ketika Kami berfirman : "Masuklah kamu ke negeri ini, dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan ucapkanlah: "Hiththoh", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah kepada orang-orang yang berbuat baik. Lalu orang-orang yang dholim mengganti perintah dengan yang tidak diperintahkan kepda mereka. Sebab itu kami timpakan atas orang-orang yang dholim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasiq. (QS Al-Baqarah : 58-59) KRONOLOGIS TURUNNYA AYAT Masyaakat Bani Israil diperintahkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta;ala untuk masuk ke Baitul Maqdis dengan bersujud dan mengucapkan "Hiththoh" (Istighfar). Namun umat ini membandel. Mereka masuk tidak dengan bersujud dan mengucapkan "Hiththoh", namun dengan cara ngesot dan mengucapkan "Hinthoh" (gandum). Dalam hal ini mereka telah mereka telah merubah syari'at dengan kemauan mereka sendiri. Mereka mengganti urusan agama dengan urusan perut. KARAKTER ORANG-ORANG DHOLIM Ayat diatas secara umum menggambarkan sikap dari orang-orang dholim. Mereka selalu saja merubah sistem yang diridhoi menjadi sistem buatan sendiri. Dorongan ini muncul karena mereka telah dilingkup "Nisyanulloh" (lupa kepada Alloh). Oleh karena tidak ada ikatan dengan Alloh, berbuatlah mereka semaunya. Hidup bebas dan tanpa aturan. Dari sini Alloh memberikan Istidroj ; dengan membuka segala pintu-pintu kesenangan secara mengglobal, dan di saat pintu kesenangan secara global telah mencapai puncaknya, diturunkanlah kepada mereka رِخَّزَ مِنَ السَّمَاءِ (siksa dari langit), sebagaimana firman Alloh Subahanahu wata'ala : فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (الانعام : ٤٤ ) "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus-asa." (QS. Al-An'am : 44) MASYARAKAT IDAMAN Karakter orang-orang dholim tidak sama dengan orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Mereka selalu berada dalam lingkaran dzikrulloh (Ingat Alloh), sehingga menumbuhkan sikap tunduk dan patuh pada kehendakNya. Mereka sekali-kali tidak mau merubah sistem ilahi menjadi sistem buatan sendiri. Bagi mereka, apapun yang diperintahkan itulah yang harusnya dkerjakan. Perintah beristighfar misalnya, tidak akan mau diabaikan. Tampilnya manusia-manusia yang beriman dan bertaqwa ini akan membentuk Masyarakat idaman. Dengan terbentuknya masyarakat idaman ini Alloh Subhanahu Wata'ala berkenan menurunkan بَرَكَاتِ مِنَ السَّمَاء (berkah-berkah dari langit), sebagaimana firmanNya : وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (الاعرف : ٩٦) :Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. Al-A'rof : 96) Masyarakat demikianlah yang kita dambakan. Tetapi menuju ke sana tentulah bukan jalan tanpa hambatan. Butuh Shidqun Niat (kesungguhan niat) dan kesungguhan dalam meperkokoh barisan Dakwah Ilalloh dengan segala iltizamatnya. Untuk itu hendaknya harus terus diusahakan bagaimana agar janji Alloh Subhanahu wa Ta'ala berikut ini selalu melekat dalam jiwa kita. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (محمد : ٧) "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu meonolong agama Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan langkah-langkahmu." (QS. Muhammad : 7)  

Jumat, 03 Mei 2013

ANTARA PUJIAN DAN CELAAN

“Dipuji ora mekrok - dicelo ora melerok” Aby KH. Ikya’ Ulumiddi Hidup di dunia tidak lepas dari pujian dan celaan, kerena keduanya adalah barometer baik dan tidaknya seseorang. Manusia akan dikatakan baik dan bijak, jika mereka merespon baik terhadap celaan, sebagai kritik yang membangun. Namun sebaliknya mereka akan dikatakan egois, jika hanya merespon pujian saja dengan mengindahkan, tanpa memberi perhatian terhadap celaan atau kritikan, lalu kita tidak boleh serta-merta menyalahkan pencela atau pengkritik. Adanya kritikan seharusnya kita menyadari bahwa adanya kekurangan pada diri kita, dengan begitu kita bisa menambal dan membenahi kekurangan tersebebut. Di negeri ini memuji dan mencela adalah budaya yang sulit terelakkan, mereka lebih suka mengurusi kekurangan orang lain dari pada kekurangannya sendiri, mereka lebih mengetahui kelebihannya sendiri, dari pada kekurangannya. • بل الإنسـانُ على نفسـهِ بصيرةٌ . “Orang itu tau kelebihannya sendiri (dari pada kekurangannya)” Dalam hikmah dikatakan: • يَرَى الأحَدُ القِذَى فى عَيْنِ أخِيْهِ # ولايَرَى الجَدْعَ فى عينِهِ “Seseorang dapat melihat debu dimata saudaranya, akan tetapi bukit di depan mata sendiri tak kelihatan”. Maka betapa bijak apa yang dikatakan Abina pada Murid-murid Beliau; “Dipuji ora mekrok (tidak bangga diri)- dicelo ora melerok (tidak marah)” Sekiranya setiap orang itu menyadari bahwa lidah itu mempunyai amal (Perbuatan yang akan dipertanggung jawabkan), maka mereka akan sedikit sekali berbicara, kecuali hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain atau alam lingkungannya. مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. ( Qaaf : 18) Terkait dengan pujian dan celaan - Imam Al Ghazay dalam kitab Ikhya’nya - membagi manusia menjadi empat bagian: 1. Manusia yang merasa gembira dengan pujian dan berterimakasih kepada pemujinya, dan marah terhadap celaan serta membenci pencelanya. 2. Manusia yang tidak merasa senag (Marah) di dalam batin terhadap pencelanya, tapi menahan mulutnya, dan bagian-bagian tubuhnya untuk melahirkan. 3. Manusia yang merespon baik terhadap pujian dan celaan. Ini adalah awal derajat untuk menuju kesempurnaan. 4. Manusia yang tidak suka dipuji, namun sebaliknya Dia malah lebih suka dicela. Ini adalah perbuatan ibadah yang sesungguhnya.