Translate

Sabtu, 27 September 2014

Moderasi Islam dan Keistimewaannya



Sikap mengambil jalan tengah (Wasathiyyah) adalah termasuk di antara keistimewaan-keistimewaan umat ini. Keistimewaan ini diisyaratkan oleh firman Allah: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi-saksi atas( penyimpangan perbuatan) manusia (umat terdahulu) dan agar Utusan (Rasulullah Saw) menjadi saksi atas kalian
Dan kiranya keistimewaan ini bisa difahami dari manhajnya, yaitu manhaj wasath bagi umat wasath, tepatnya manhaj i’tidal dan tawazun (sebanding dan seimbang) yang selamat dari ifrath dan tafrith (terlalu dan teledor),  ghuluww dan taqshir (melewati batas dan meremehkan) serta inqibadh dan inbisath (eksklusif dan inklusif).
Termasuk makna Wasathiyyah adalah seperti berikut:
1.      al Khairiyyah, sungguh telah dikatakan: “Sebaik-baik perkara adalah yang paling tengah-tengah),  sebagaimana sebagian ahli tafsir menafsirkan firman Allah (ummatan wasathan) yaitu umat-umat yang pilihan.
2.      al Adlu, yaitu bersikap tengah-tengah di antara dua kelompok yang berlawanan tanpa cenderung atau mendukung kepada salah satu di antara keduanya. Esensi keadilan adalah bertindak secara obyektif. Orang yang adil adalah orang yang mengambil jalan tengan dalam keputusannya tanpa ada kecenderungan (ke salah satu kkelompok), dan mempertimbangkan segala aspek sehingga bisa memberikan hak masing-masing tanpa ada penyimpangan sebagaimana dalam Shahih Bukhari tentang tafsir firman Allah ta’ala (ummatan wasathan) yaitu umat-umat yang adil.
3.      al Istiqamah, yaitu jauh dari penyimpangan dan penyelewengan. Jadi menetapi manhaj wasath adalah berjalan di atas jalan lurus seperti yang dijalani oleh orang-orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah dari para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Sungguh mereka adalah kawan-kawan terbaik. Dari sinilah kemudian Allah memerintahkan kita agar memohon kepadaNya keteguhan berada di jalan lurus tidak kurang tujuh belas kali dalam setiap hari ketika kita membaca alfatihah dalam shalat.
4.      al Hikmah, dengan makna meletakkan segala sesuatu di tempatnya dan memposisikan semua urusan pada jalurnya. Tentang makna hikmah, Ibnul Qayyim berkata: (Melakukan hal yang semestinya dengan cara semestinya pada waktu yang semestinya) beliau berkata: (Hikmah adalah kamu memberikan segala sesuatu akan haknya dan tidak pula kamu membawanya melewati batasnya)
5.      at Taisir dan Raf’ul Charaj, memudahkan dan menghilangkan kesusahan. Islam adalah agama yang tengah-tengah, tak ada ghuluww, jafa’ (susah menerima saran), ifrath, tafrith, tanatthu’  (mempersulit diri) dan takalluf (memaksakan diri). Allah berfirman: “dan Allah tidak menjadikan atas kalian kesusahan dalam beragama
     “Allah berkehendak memudahkan kalian dan Dia tidak berkehendak mempersulit kalian” “Allah berkehendak meringankan kalian, dan adalah manusia diciptakan dalam keadaan lemah”
Dan di antara keistimewaan bersikap moderat adalah mewujudkan hal-hal berikut:
1-      Keamanan dan jauh dari bahaya. Sikap-sikap ekstrem bisa membawa kepada bahaya, berbeda dengan tengah-tengah, maka sungguh ia akan terjaga.
2-      Pusat kekuatan. Masa muda (syabab) adalah masa kekuatan yang berada di tengah-tengah dua masa lemah; lemah masa kecil dan lemah masa tua.
3-      Pusat persatuan dan titik pertemuan. Pemikiran yang tengah-tengah (moderat) adalah titik keseimbangan dan kesebandingan yang di situlah pemikiran-pemikiran ekstrem harus bertemu karena ia (pemikiran-pemikiran ekstrem) telah memicu sebuah hal yang tidak akan dipicu oleh pemikiran yang tengah-tengah, yaitu berupa perpecahan, perselisihan dan konflik di antara putera-putera umat yang satu.
Semua makna ini adalah termasuk di antara keistimewaan dan hasil yang ditunjukkan oleh Wasathiyyah (moderasi islam). Ayat-ayat dan hadits-hadits kiranya menguatkan hal tersebut. Dan kiranya kita tidak mungkin bisa mendapatkan hakikat Wasathiyyah kecuali kita memahami makna-makna tersebut. Jika tidak demikian halnya maka Wasathiyyah hanya akan menjadi sekedar  wacana yang tidak pernah adalah dalam realita.


= والله يتولي الجميع برعايته =

Jumat, 12 September 2014

Ihsan dan Itqon dalam Ibadah, Karya, dan Kecakapan



 Sabda Rasulullah saw:
“Sesungguhnya Allah swt mewajibkan (menuntut) ihsan atas segala sesuatu. Bila kamu membunuh, maka lakukanlah ihsan dalam cara membunuhmu. Bila kamu menyembelih, lakukanlah ihsan dalam cara menyembelihmu”. (HR.Muslim dari Saddad bin Aus)
                Hadits Shahih ini mengajurkan berbuat ihsan atau itqon (melakukan sesuatu pada tingkat yang terbaik dan sempurna) dalam segala hal, termasuk dalam cara membunuh dan cara menyembellih sekalipun. Imam Nawawi menyebut hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Syaddad bin Aus (keponakan sahabat Hassan bin Tsabit) ini sebagai prinsip dasar (kaidah) agama yang penting, sehingga beliau meletakannya dalam jajaran 42 hadits di kitab Al Arbain.
Ihsan dan Itqon dalam Ibadah
                Ibadah yang kita sembahkan kepada Allah swt hendaknya berupa amal ibadah yang ihsan. Menurut para ulama amal ibadah yang ihsan standarnya ialah memenuhi  unsur  ikhlas dan unsure ittiba’ (sesuai dengan sunnah). Upamanya sholat. Praktek ibadah ini tidak hanya sekedar bangun dan duduk di atas sajadah beberapa saat saja. Agar sampai pada tingkat ihsan, maka aspek shuroh dzohiroh seperti sunnah gerakan dan bacaan mesti diperhatikan selain mesti diperhatikan aspek hakikat batiniah seperti khusyu’, khudlur, dan tadabbur.
                Amal ibadah apapun seperti sholat, puasa, tilawah, dzikir, dan lainnya bila pelaksanaannya tidak sampai pada tingkat ihsan, itqon atau ihkam seperti hilangnya adab dan rasa pengagungan (taqdis), agaknya nilai ibadah yang didapat tak lebih dari sekedar kepayahan dan kecapekan. Hal ini sebagaimana tersirat dari ungkapan hadits :
“Betapa banyak orang berpuasa tidak ada nilai baginya kecuali lapar dan dahaga. Dan betapa banyak orang bangun malam tidak ada nilai baginya selain selain terjadi (tidak tidur) dan kepayahan”.(HR.Nasa’I,Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Huroiroh)
                Sahabat Ali bin Abi Thalib berkata:
“Tidak ada baiknya tilawah (Al Qur’an) yang tidak ada tadabbur (perenungan makna ) di dalamnya”.
                Berkaitan puasa di bualn Ramadhan, menahan makan dan minum selama kurang lebih 14 jam terasa tidak tidak terlalu berat seperti dikatakan oleh Maimun bin Mihran. Namun bagaimana dalam puasa juga mengendalikan nafsu kema’shiatan dan mengekang ego kebinatangan agar mencapai maqom takwa ini yang penting, namun pelaksanaannya susah dan berat. Sementara pengendalian nafsu itulah nilai ihsan dan itqon dalam ibadah puasa. Sahabat Jabir bin Abdillah Al Anshari berkata:
“Bila kamu berpuasa hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu, dan lidahmu juga turut berpuasa dari tindak jujur dan dosa. Tinggalkan menyakiti tetangga. Hendaklah kamu tenang pada hari puasamu. Jangan kamu jadikan hari puasa dengan hari tidak puasamu sama saja”(Fiqhus Shiyam.Dr Yusuf Qordlowi.Hal   87)
                Amal ibadah yang dilakukan dengan mengabaikan ihsan dan itqon kadangkala tidak sekedar terlarang mendapatkan nilai pahala, boleh jadi justru bisa mengakibatkan dosa, seperti beramal atas dasar riya’ atau sholat tanpa ihsan dalam ruku’ dan sujud sesuai dengan yang diwajibkan. Contoh yang lain ialah melakukan ibadah namun tidak ada dasarnya (bid’ah), seperti melakukan I’tikaf di masjid Ampel atas dasar keyakinan I’tikaf di situ lebih mulia daripada di masjid lain para umumnya. Ini malah suatu kesalahan yang diperoleh.
                Ibadah yang berupa meninggalkan hal- hal yang terlarang (attarku) pun menuntut dilakukan secara ihsan dan itqon. Perbuatan dosa, haram, syubhat, dan syahwut ditinggalkan semata-mata karena Allah swt, pengagungan terhadap-Nya, malu dan takut kepada-Nya. Bukan meninggalkan hal-hal yang dilarang itu atas dasar riya’, malu, atau takut kepada manusia.
                Menjauhi atau setidak-tidaknya mewaspadai bergaul dengan orang-orang yang kebiasaannya berbuat dosa, haram, syubhat, dan syahwat termasuk bagian pula dari upaya ihsan dan itqon dalam ibadah yang sifatnya attarku. Karena dengan kewaspadaan itu kita dapat menghindari kecenderungan yang mendorong diri untuk meniru perbuatan-perbuatan yang terlarang itu akibat berdekat-dekat dengannya.
Ihsan dan Itqon dalam Karya dan Kecakapan
                Dalam hidup ini kita dituntut berkarya dan memiliki imkaniyah (kecakapan), ahliyah (keahlian), dan kafa’ah (kemampuan) tertentu. Aktifitas dakwah adalah bagian dari tuntutan dan kecakapan itu. Karya yang akan kita lakukan dalam kecakapan yang kita miliki,sebagaimana ibadah, hendaknya di upayakan sampai pada tingkat ihsan dan itqon. Karya betul-betul kita buat sesempurna mungkin (ekselen).Terarah,terencana dan utuh.Tidak asal-asalan.Kecakapan yang kita miliki pun betul-betul kita dalami dan kita seriusi hingga kita benar-benar piawai,ahli,dan cakap (professional) dibidangnya.Tidak setengah-setengan,mentah,dan tanggung.Rosululloh bersabda:
“Sesungguhnya Alloh swt menyukai bila salah satu dari kamu beramal melakukan amal itu secara sempurna dan terbaik.” (HR Baihaqi dari A’isyah)
Pada riwayat lain disebutkan:
“Sesungguhnya Alloh menyukai orang beramal yang sempurna dan bagus amalnya.”(HR Baihaqi dari  Kulaib bin Syihab)
Untuk menuju itqon dalam berkarya kiranya perlu langkah-langkah yang kreatif (mampu menciptakan hal baru),taktis (pertimbangan dan perhitungan matang),dan respontif (tanggap dan cekatan).Ide-ide tidak boros,tidak pula ide disia-siakan.Kreasi-kreasinya terpogram,terarah dan utuh.Selalu ada kontrol dan evaluasi.Sedang agar imkaniyah (kecakapan), ahliyah (keahlian)dan kafa’ah (kemampuan) tertentu bisa ihsan dan itqon, perlu meningkatkan potensi yang pasti dimiliki setiap pribadi manusia dan mengasahnya.Membuka diri dari kekurangan dan kelemahan.Misalnya dengan membaca,diskusi,ikut training,kursus,uji coba,serta upaya-upaya peningkatan pengetahuan dan penambahan pengalaman yang lain.
Dalam rangka menuju profesionalisasi,dunia modern saat ini menuntut spesialisasi (pendalaman suatu bidang keahlian) dan kompetensi (kecakapan dan kemampuan) dibidang tertentu.Bukan generalisasi (kemampuan menguasai beberapa bidang tapi tidak secara serius dan mendalam).Menekuni suatu bidang tertentu sehingga cakap dan piawai di dalamnya akan sangat dibutuhkan daripada generalisasi.Ketekunan dalam suatu bidang sehingga piawai,hasilnya niscaya tidak akan tersia-siakan atau terbuang dengan percuma.
Di tengah persaingan (perlombaan) menuju kebaikan,kita membutuhkan tim kerja (team work) yang kokoh,lengkap,dan komplit yang bisa masuk semua lini dan merambah di segala bidang kehidupan bersamaan dengan karunia keberkahan dari Alloh swt.Kebutuhan posisi dapat dipenuhi dengan pembagian job-job yang jelas dan tidak mesti harus sama.Untuk ini sangat diutuhkan kader-kader yang itqon dalam karya dan kecakapannya,yaitu sumber daya manusia yang berkompeten dan spesialis dibidangnya masing-masing,seperti administrator,negarawan,pendidik,dai,kiyai,ahli Al Quran,ahli fiqh,ekonom,advokat,teknokrat,dokter,jurnalis,konglomerat,dan bidang-bidang lain yang membutuhkan kecakapan tertentu semacam pertukangan,persopiran,pertanian,keperawatan,konveksi,dan masak-memasak.Jika kebutuhan ini dipenuhi dan potensi tersebut dikumpulkan dalam wadah jama’ah serta dikelola secara baik,maka akan terwujud sebuah konfigurasi (bentuk) yang indah,laksana konfigurasi pelangi.
Posisi dan job yang jelas sesuai dengan spesialisasi dan kompetensi masing-masing,demikian ini adalah menejemen ilahiyah yang diterapkan dikalangan Malaikat dan hasilnya sangat mengesankan.Imam Ibnu Katsir berkata: “Setiap Malaikat pasti memiliki posisi tertentu di langit serta mempunyai  job-job dalam ibadah dan tanggung jawab (taklif dan wadzifah) tertentu yang tidak mereka sia-siakan dan tidak pula batasnya mereka lampaui “.(Aqidatul Muslim,Kholid Abdurrohman.Hal: 67) Alloh berfirman:
“Tiada seseorangpun diantara kami (Malaikat) melainkan mempunai kedudukan (posisi dan job) yang tertentu.” (QS As Shoffaat: 164)
Usaha-usaha ihsan dan itqon dalam segala hal,utamanya dalam hal ibadah,karya dan kecakapan ini sangat perlu dilakukan dalam rangka membentuk kader-kader dai yang diharapkan siap hati (mental) nya sekaligus fisik (skill) nya.apalagi ihsan dan itqon sendiri merupakan sifat dan karakter Alloh swt kala menciptakan makhluk-Nya.Di dalam Al Quran:
(Alloh yang membuat secara itqon segala sesuatu.” (QS An Naml: 88)
Sementara dalam hikmah dikatakan: “Takhollaquu bi akhlaqillah” (berakhlaklah kamu sesuai dengan akhlak yang menjadi sifat-sifat Alloh swt)


Wallohu A’lam

Selasa, 09 September 2014

Komitmen Beramal Sholeh



                Sekian banyak Allah swt memberikan kasih sayang materi maupun nonmateri kepada kita. Salah satu diantara kasih sayang non materi ialah dilebur dan dihapusnya dosa-dosa ( kecil ) yang disebut “al lamam” cukup dengan melakukan amal sholeh, tanpa harus bertaubat dan memohon ampunan. Rasulullah saw bersabda kepada Amr bin Ash yang hendak berbaiat memeluk islam :
“Apakah kamu tidak tahu sesungguhnya Islam menghapus dosa sebelumnya; hijrah menghapus dosa sebelumnya; dan haji juga menghapus dosa sebelumnya?!”  ( H.R. MuslimI: 71)
                Ada dua hal yang bisa digali dari pengertian hadits ini sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
                Pertama, seseorang bisa diampuni dosanya tanpa harus bertaubat dan minta ampun manakala dia melakukan amal sholeh. Amal sholeh artinya bisa menjadi sebab pengampunan. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt:
“Sesungguhnya pebuatan yang baik menghapuskan ( dosa ) perbuatan-perbuatan yang buruk. ( QS.Hud: 114 )
                Kedua, bila seseorang beramal sholeh dan meninggal dunia setelahnya maka hal itu cukup menjadi indikasi dia mati dalam khusnul khotimah. Maka tidak diperlukan lagi baginya keharusan meminta ampun dan memohon maaf.
                Disinilah arti dan perlunya amal sholeh. Ungkapan keimanan yang banyak dirangkai dengan amal sholeh dalam Al-Qur’an menambah kepentingan dan keperluan itu. Atas dasar ini amal sholeh seharusnya menjadi komitmen hidup kita sampai akhir hayat sehingga kita mencapai husnul khotimah., bukan su’ul khotimah, apalagi mati dalam keadaan kafir.
                Komitmen beramal sholeh dengan demikian menuntut terus dipelihara, dipupuk, dan dijaga lebih-lebih pada saat kita lagi sehat dan sempat, tengah dikaruniai umur panjang, berjiwa muda, hidup segar, cukup, aman, tentram dan sebagainya. Mumpung-mumpung. Sebab bisa saja bencana ( musibah, fitnah) dan kendala yang tidak diingini datang menjadi penghambat, pemutus bahkan perusak kita dalam melakukan amal sholeh. Sabda Rasulullah saw :
“Bersegeralah melakukan amal-amal ( sholeh) dalam rangka mengantisipasi tujuh keadaan. Bukankah kamu tidak menunggu kecuali kefaqiran yang menjadikan lupa, atau kekayaan yang membuat durhaka, atau sakit yang merusak, atau pikiran yang melemahkan akal, atau kematian yang cepat, atau dajjal, maka dajjal adalah seburuk-buruk hal ghaib yang ditunggu, atau hari Kiamat padahal hari kiamat itu lebih dahsyat dan pahit”. ( H.R. Tirmidzi )
                Hadits ini menyebut tujuh kendala dan rintangan yang bisa menghambat dan merusak komitmen kita beramal sholeh leluasa.
                Pertama, kefaqiran yang melupakan. Kefaqiran kerap membuat orang tidak ingat akan komitmet beramal sholeh disebabkan pikiran kacau, keprihatinan mendalam, dan kosentrasi hidup ( sibuk) mengejar sumber penghidupan. Kefaqiran sering melepas dan melalaikan banyak orang dari iltizamat beramal sholeh tertentu yang diseriusinya. Apalagi bila ditambah dengan beban tanggungan dan tekanan hutang. Kebangkrutan mendadak menyebabkan komitmen beramal sholeh goyah. Kadang bahkan sampai ketingkat merusak keimanan. Disebutkan dalam hadits dlaif:
“Hampir saja kefaqiran itu ( berubah) menjadi kekufuran.”(HR Ahmad bin Mani’)
                Kedua, kekayaan yang membuat durhaka. Kekeyaan memang dominan memperpurukkan orang pada kedurhakaan. Apalagi bila OKB ( orang kaya baru ). Hidup hedonis dan konsumtif ( menjadikan kenikmatan sebagai ukuran kebahagiaan). Sibuk ( syughul) dengan perputaran modal sehingga komitmen beramal sholehnya tidak diperhatikan. Waktunya habis mengurus kekayaan. Tsa’labah yang setelah menjadi kaya enggan berzakat dan berjamaah bisa dijadikan ibrah dalam hal ini.
                Ketiga, sakit yang merusak. Keadaan sakit biasanya diikuti dengan keluhan dan kelemahan fisik. Apalagi bila sakit itu menahun dan ada organ-organ tubuh yang tidak berfungsi secara normal. Usaha berobat yang melelahkan banyak menyita waktunya. Keadaan ini optimis menjadi hambatan secara leluasa.
                Keempat, pikun yang melemahkan akal. Pikun membuat daya pikir melemah, konsentrasi pecah, dan fungsi akal berkurang. Otomatis dalam keadaan pikun aktivitas beramal sholeh terhambat.
                Kelima, kematian yang cepat. Kematian membuyarkan harapan dan angan-angan. Hal ini banyak tidak didasari bila kematian itu benar-benar tiba ( ilmul yaqin ). Dengan kematian, amal sholeh menjadi putus. Sementara ajal kematian tidak memperhitungkan umur. Banyak orang mati di usia muda dan mendadak.
                Keenam, dajjal. Dia dicipta khusus mampu menjelajah bumi dengan kekuatan yang luar biasa. Dia menekan keimanan dan memberikan kekuasaan pada kekufuran. Komitmen beramal sholeh tidak aman bahkan bisa hancur pada saat itu. Karenanya dia dinyatakan sebagai hal ghaib terburuk yang di tunggu kedatangannya. Tidak ada Nabi kecuali memperingatkan keberadaan dajjal ini kepada ummatnya. Dia klimak fitnah bagi ummat manusia kecuali mereka yang dijaga oleh Allah swt seperti orang-orang yang menetap Mekkah-Madinah atau melazimkan membaca sepuluh ayat pertama surat Al Khafi.
                Tidak menjumpai Dajjal pun belum menjadi jaminan aman dalam beramal sholeh. Karena sebelum  Dajjal turun, sekian banyak fitnah ( bencana dan huru-hara) disinyalir merajalela di muka bumi oleh perilaku dajajilah ( dajjal-dajjal kecil) sebagai pendahuluan. Saat itu kemungkaran mewabah. Persepsi-persepsi ( mafahim ) menyesatkan menggejala. Dan pada saat bersamaan muncul para penyeru keneraka jahanam yang memakai dalih-dalih agama sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw kepada sahabat Hudzaifah Ibnu Yaman :
“Para penyeru kepintu-pintu neraka jahanam. Barang siapa menyambut seruan mereka, dia akan terlempar kepintu jahanam itu”. (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’I )
                Ada dua kalangan yang diduga kuat sebagai pemeran dajajilah, yaitu ulama ( suu’) dan umaro ( dzalim dan fasiq ). Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya aku mengkhawatirkan atas ummatku ulah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan.” (H.R. Tirmidzi)
                Dugaan peranan dua kalangan ini sebagai dajajilah dikuatkan dengan ungakapan Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar generasi Tabiin:
“Dan tidaklah menodai agama kecuali raja-raja ( penguasa) dan para pendeta buruk serta para birawannya ( ulama )”.
                Keadaan mewabahnya fitnah inilah yang diantisipasi oleh Rasulullah saw sejak dini dengan menyeru kita semua terus konsis dalam komitmen beramal sholeh. Sabda beliau :
“Bersegeralah melakukan amal-amal sholeh. Sebab akan ada fitnah datang laksana bagian-bagian malam yang gelap gulita. Seseorang pagi-pagi mukmin sorenya kafir. Sore-sore mukmin dan pagi-pagi kafir. Dia menjual agamanya dengan kekayaan dunia.” (H.R. Muslim)
                Ketujuh, hari kiamat. Hari akhir ini keberadaanya justru lebih dahsyat dan lebih mengerikan dibandingkan dengan bencana dan rintangan dalam bentuk apa saja di dunia. Menunggu beramal sholeh hingga kedatangannya tentu pemikiran konyol dan bernilai sangat rendah.
                Sebelum tiba tujuh kendala dan rintangan tersebut  idealnya semenjak dini ada komitmen atau ikrar beramal sholeh secara sungguh-sungguh, giat, semangat, dan serius. Senyampang masih diberikan umur panjang, kesehatan, kesempatan, kekuatan, keamanan, ketentraman, dsb. Hal yang dikhawatirkan ialah ketika ajal tiba sedang waktu itu kita kebetulan beramal tidak sholeh. Menyesal. Pada hal sebagaimana disebutkan di muka amal sholeh bisa melebur dosa dan melakukan menjelang ajal tiba cukup menjadi indikasi mati khusnul khotimah.
                Peri kehidupan Sahabat Amr bin Ash, perawi pertama yang meriwayatkan hadits dimuka kiranya dapat dijadikan renungan. Dia membagi hidupnya tiga bagian. Petama, saat jahiliyah ketika ia membenci Islam dan Rasulullah saw. Bila mati saat itu ia meyakini akan masuk neraka. Kedua, saat masuk Islam dan dia berbaiat di hadapan Rasulullah saw, berjuang dan membela agama. Dia optimis bila mati saat itu ia akan meraih khusnul khotimah. Sementara ketiga, saat dia bergelut dengan politik dan kekuasaan yang menjadikan komitmen beramal sholehnya tidak sebagus tingkatan kedua. Dia ingkar, pesimis. “Maa adri maa haali fiiha “ ( aku tidak tahu apa kondisi diriku), katanya. ( H.R. Muslim )
                Sebagai renungan ada baiknya kita perhatikan gubahan syair berikut ini:
Sesungguhnya Allah ta’alaa mempunyai hamba-hamba yang cerdas.
Mereka mentalak dunia dan mencemasi berbagai fitnah ( agar tehindar darinya )
Mereka memperhatikan dunia itu.
Ketika menyadari dunia bukan tempat menetap bagi orang hidup maka mereka menjadikan dunia bak lautan dan menjadikan amal sholeh di dalamnya menjadi kapal.


Wallohu A’lam