Translate

Jumat, 26 April 2013

BEKAL PARA DA'I

بسم الله الرحمن الرحيم الدورة العلمية التدريبية للدعوة إلي الله Untuk meraih kesuksesan , seseorang harus melalui proses sunatuLLOH terlebih dahulu. التَجْـرُبَة والتَطْـبِـيْـق Dalam Al-Qur’an surat An-Najm 39-40 Alloh berfirman: الفلاح بعـد التعـب Untuk menuju sebuah kesuksesan -kata Aby- kita harus mencari guru yang terbaik , yaitu MURSYID dan MUROBBI yang memiliki hati senantiasa mendidik dan mengarahkan. - الناس كإبل مائة لايكاد تجد فيها راحلة (متفق عليه) - الإنسان إبن بيئته “Manusia adalah produk lingkunganya” Anda adalah produk dari lingkungan anda.Maka, pilihlah lingkungan yang terbaik bagi pengembangan anda menuju tujuan-tujuan anda.Analisalah hidup anda melalui lingkungan anda.Apakah hal-hal di sekitar anda membantu anda menuju hal-hal yang terbaik untuk anda,Atau malah sebaliknya. Anda_lah yang menentukan diri anda. - إذا كثر المساس قـل الإحساس (كلام حكمة) “Custom makes all thing easy” kebiasaan itu membuat sesuatu lebih mudah - العلماء أكثرالناس فرحا وسرورا “Ulama’ adalah paling sering-seringnyamanusiadalamhalgembiradanmengembirakan” - وَلْتَكُنْمِنْكُمْأُمَّةٌيَدْعُونَإِلَىالْخَيْرِوَيَأْمُرُونَبِالْمَعْرُوفِوَيَنْهَوْنَعَنِالْمُنْكَرِوَأُولَئِكَهُمُالْمُفْلِحُونَ (١٠٤) - 104. dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung. [217] Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya. - بلغوا عني ولو أيةً - إن العلم لايُهلِك إلاّ إذا كان سرّا (عمر بن عبد العزيز) Dalam dunia da’wah orang itu tidak cukup hanya dengan ilmu saja, lebih dari itu dia harus mempunyai skil yang mumpuni (Aby Ihya’) والترتيب لهذا العمل والتنظيم والأخذ بالإختياط اللازم. “Tartibdalamberamalsertaterorganiser, danmengambilkehati-hatian yang menjadikeharusan”. DISIPLIN ADALAH JEMBATAN KESUKSESAN Tanpa disiplin diri, anda akan berhadapan dengan banyak hal yang mungkin tidak dapat anda capai. Mungkin anda bisa bergerak sebentar dengan mengandalkan semangat, kecerdasa dan hasrat. Tetapi cepat atau lambat anda akan berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa anda raih tanpa adanya disiplin. Kita cenderung menganggap disiplin dalam term negative, yang ditempatkan bertetangga dengan kata “Hukuman” . Namun, sadarkah anda, bahwa satu-satunya disiplin yang negative - hanya bila hal itu dilakukan oleh orang lain kepada diri anda. Disiplin diri sebaliknya, adalah positif dan mendukung. Anda diberi pilihan. Anda dapat mengabaikan disiplin diri dan menunggu didisiplinkan orang lain, yang terkadang keras, membosankan dan bahkan menyakitkan. Atau mendisiplinkan diri, yang akan dibayar oleh banyak pencapaian. PESAN ABUYA: TIGA PILAR) - ثلاثة ركائز) KUNCI MERAIHKESUKSESAN DALAM DA’WAH 1. الرُغبة : أن يكون راغبا فى الله . 2. الإخلاص : أن يكون مخلِصا فى الله. 3. الصِدق : أن يكون صادقا فى الله. (1) أن يكون راغبا في عمله لله وإلي ربك فارغب - ألم نشرح لك صدرك-إنشراح الصدور(Lapang Dada) . اي الهمزة فى لفظ ألم نشرح هي لدلالةالإستفهام التقريري “Bukankah Kami (Alloh) telah melapangkan dada_Mu (Muhammad)” Shabatku anda tidak akan dapat mengendalikan perbuatan oranglain, tetapi anda dapat mengendalikan reaksi mental anda , anda mampu mengendalikan sikap anda terhadap perbuatan mereka itu dan itulah yang terpenting bagi anda. Bahkan agama telah mengajarkan kepada kita, sikap apa yang hendak kita ambil disaat kita menghadapi orang yang telah berbuat buruk terhadap kita.Anda harus sadar , tidaklah selamanya perbuata baik akan diterima dengan baik. Kata orang jawa “air susu dibalas air tuba” أحسـِن إلي مَن أسَـاءَ إليك “Perbaikilah orang yang telah berbuat buruk terhadapmu” Dalamsyairdikatakan: • أحسِـن إلي الناسِ تستعـبِدْ قلـوبَهم # فَطالَمَا إستعـبَدَ الإنسانَ إحسـانُ “Berbuat baiklah anda terhadap orang lain, niscaya anda akan mampu menguasai hatinya. Sungguhtelah lama seseorang telah di perbudak (terkuasai) olehkebaikan” • هَلْ جَزَاءُ الإحْسـانِ إلاّ الإحْسـانُ . • "Tidak ada balasan ihsan kecuali ihsan (pula)." (Ar-Rahman: 60). Menurut Syaikh, ihsan menghimpun semua hakikat, yaitu hendak-lah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau dapat melihat-Nya. Tentang makna ayat ini menurut Ibnu Abbas dan para mufasir, tidak ada balasan bagi orang yang mengucapkan la ilaha illallah dan beramal sesuai dengan apa yang dibawa Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, selain dari surga. Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahwa beliau pernah membaca ayat ini, lalu bertanya kepada para shahabat, "Tahukah kalian apa yang difirmankan Rabb kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Allah befirman, 'Tak ada balasan bagi orang yang Kuberikan nikmat tauhid kepadanya selain dari surga'." • الناس أَعْداء ما جهِلوا “Manusia itu cenderung memusuhi hal-hal yang mereka tidak ketahui” - وَوضعنا..............................- عدم التثقّل • الصبر مصِبّ الفلاح في حياة الإنسان “ Kesabaran adalah muara kesuksesan dalam kehidupan umat manusia” • If you are patient , you’ Ii never fail “Bila anda selalu tabah dan sabar. maka, anda tidak akan gagal” - ورفعنا لك ذكرك..........الإحساس بعدم ذلّة النفس(tidakbolehmerasarendah). الثقة بالنفس عدم الثقة بالنفس (Tidak PD/ Syndrome) (PD/Self Considence) 1. PERCAYA DIRI / SELF CONSIDENCE Untuk membangkitkan kepercayaan diri, kita harus menjadi diri kita sendiri , dengan menjadi diri sendiri kita akan menemukan yang terbaik dari diri kita, saat kita mencoba mulai belajar menerima apa adanya (potensi diri), kepercayaan diri pun dapat muncul dengan sendirinya,karena kepercayaan diri ini berkaitan erat dengan keyakinan-keyakinan yang kita bangun dari dalam. ”tidak ada kehidupan yang paling indah selain dengan menjadi diri sendiri, itulah keindahan sebenarnya”. • أجهلُ النـاس مَن ترَكَ يَقينَ ما عنده لِظَنِّ ما عند الناس اى غيره “Sebodoh-bodoh manusia adalah , mereka yang meninggalkan keyakinannya sendiri hanya demimempercayai sangkaan orang lain” • قيمة المراء ما يحسنه (علي بن أبي الطالب) “ Nilai seseorang adalah apa yang membuat dirinya lebih”. (Imam Ali r.a) Jadi yang dinilai dari pribadi seseorang pada umumnya adalah kemampuanya atau bakat (Mauhibah) • No body’s perfect _ Tidak ada manusia yang sempurna. • ما عـنـدي ليس عـنـد ك “Apa yang ada pada diriku , tidak ada pada diri anda” 2. SINGKIRKAN RASA TAKUT Jalankeberhasilaniniadalahmilikanda.Padasaatandamenyadaribahwaandabertanggungjawabpenuhatassegalasesuatunya. Dan andatakmenemukanalasanapa pun untukmenyalahkan orang lain. Disaatitulahandamenemukanjalanandasendiri, disaatitulahandamenyadarikebebasadanhilangnyaketakutan.Hanyaanda yang mampumemikulhidupanda, bukan orang lain . Bilaandamenganggaphidupadalahtugas, tunaikanlah.Bilaandamenganggaphidupadalahbeban, pikullah.Bilaandamenganggaphidupadalahhartakarun yang takterhingga, berbagilah. Kerjakan yang terbaikdaridirianda.Tujuanhidupakanandatemukandisaatandamenjalaniperjalanananda. Dan yang terpenting, andatakkanmenemukanapa-apabiladiamtakmelakukansesuatu, hilangkan rasa takutpadadirianda. - فإن مع العسر يسرا إن مع العسر يسرا. اى العسرُ واحدٌ بيُسْـرَين – او إن مع العسر يسـرين . • أليس الصُبْحُ بِقَريبٍ . “Bukankah subuh telah mendekat” Maka jadilahanda pihak yang selalu optimis dan selalu berusaha untuk melihat kesempatan disetiap kegagalan, jangan bersikap pesimis yang hanya melihat kegagalan di setiap kesempatan. Orang positif selalu melihat donat sedangkan orang pesimis melihat lobangnya saja. Anda dapat mengembangkan keberhasilan dari setiap kegagalan. Keputus_asaan dan kegagalan adalah dua batu loncatan menuju keberhasilan. Pandanglah setiap masalah sebagai kesempatan. Hanya bila cuaca cukup gelaplah anda dapat melihat bintang, bagaimana mungkin anda dapat melihat bintang di siang hari ?? itulah sebabnya kenapa agama menganjurkan pada pemeluknya agar senantiasa optimis. • لا عُسْرَةَ في سبيل الدعوة كما قال أبي • الفلاح بعـد التعـب • لايكـلّف الله نفسـا إلا وُسْعَها– البقرة : 276 - فإذا فَرَغْتَ فانصب– تنظيم العمل مُدَرَّجاً(Penertiban dalam beramaldandisiplin) . Dalam ayat ini Alloh mengajarkan pada hambanya, pada kita hendaklah dalam setiap aktifita, dalam setiap beramal , kita harus mempunyai TARGET. • عدم الإستحفاف (tidak adanya meremehkan) • حَبَّة حبة بارك فيها المولى تلقى حبوب . – ابوي “Sebiji demi sebiji yang senantiasa mendapat berkah, lama-kelamaan akan menjadi beberapa biji” Pepatahmengatakan “Ribuan kilometer langkahdimulaidengansatulangkah. Dan sebuahlangkahbesarsebenarnyaterdiridaribanyaklangkah-langkahkecil” DISIPLIN ADALAH JEMBATAN KESUKSESAN Tanpa disiplin diri, anda akan berhadapan dengan banyak hal yang mungkin tidak dapat anda capai. Mungkin anda bisa bergerak sebentar dengan mengandalkan semangat, kecerdasa dan hasrat. Tetapi cepat atau lambat anda akan berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa anda raih tanpa adanya disiplin. Kita cenderung menganggap disiplin dalam term negative, yang ditempatkan bertetangga dengan kata “Hukuman” . Namun, sadarkah anda, bahwa satu-satunya disiplin yang negative - hanya bila hal itu dilakukan oleh orang lain kepada diri anda. Disiplin diri sebaliknya, adalah positif dan mendukung. Anda diberi pilihan. Anda dapat mengabaikan disiplin diri dan menunggu didisiplinkan orang lain, yang terkadang keras, membosankan dan bahkan menyakitkan. Atau mendisiplinkan diri, yang akan dibayar oleh banyak pencapaian. • مُدْ رِجْلَكَ على قدرلِحافِك. – ابوي “Panjangkan kakimu sesuai selimutmu” • قليل قَـرَّ خير من كثير فَـرَّ . “Sedikit yang kontinyu, istikomah itu lebih baik, dari pada banyak namun putus-putus” - وإلى ربّك فارغب (Berfokus diri hanya pada Alloh) . - حبا لله , حبا فى الله , لا حبا مع الله (2) أن يكون مُخلِصاً فى عمله لله . • ما خرج من القلب وصل إلي القلب # ما خرج من اللسان كان حَدُّهُ الأَذَان • “ Sesuatu yang keluar dari Hati akan sampai ke dalam Hati , akan tetapi sesuatu yang keluar dari Lisa (hanya di bibir saja) maka akan sampai ke Telinga saja(masuk telinga kanan keluar telinga kiri)”. Keberhasilan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak anda. Namun juga betapa lembut hati anda dalam menjalani segala sesuatunya. Sebagai contoh: Anda tak akan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat. Atau,membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis. Anda harus mendekapnya dengan hati penuh kasih sayang hingga ia merasakan detak jantung yang tenang jauh di dalam dada anda.Maka mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada keberhasilan anda. • اَخْلِصْ دِينَك يَكفِـك القليلُ مِن العمَل . (ابن أبى الدنيا) • اخلِصْ العملَ يَجْزِكَ منه القليلُ “Ikhlaskan niat dalam beramal , niscaya kamu akan menerima balasan amalmu, meski amal itu sedikit” Hadis. • من أخْلَصَ لله ظهَرَتْ برَكَةُ اَثَرِه (حكمة) Dikatakan “Tidak ada satu pun obat yang bisa menyembuhkan sakit hati kecuali ke-Ikhlas-an” . الإخلاص (3) مخلَصMUKHLASH) “Hamba yang memang dipersiapkan/dicetak untuk menjadi hamba yang Ikhlas tanpa melalui experimen ; seperti Nabi, Rosul” 2مخلِص:(MUKHLISH) “Orang yang memang dengan jerih payahnya berusaha untuk meraih maqom Ikhlas.” • قال أبو سليمان الدارانى : طوبى لِمَن طابتْ له خُطوَةٌ واحدةٌ فى عمره لايُريد بها إلاّ اللهَ تعالى. • (3) أن يكون صادِقا فى كلّ حالٍ . • ......أفْلَحَ إنْ صَدَق “Dia akan menuai keberuntungan, jika memang ucapanya jujur” . Dalam negeri kita sendiri pun terdapat ungkapan yang sangat bijak, pepatah kuno ini tak pernah lekang bagai manapun majunya sebuah perekonomian, bagai manapun majunya budaya setempat “Kejujuran adalah mata uang yang laku dimana-mana” bawalah sekeping kejujuran dalam saku kehidupan anda, itu melebihi mahkota raja diraja sekalipun. Bersiaplah selalu untuk menghadapi situasi yang menuntut kejujuran anda. Nasehat agarkita senantiasa berlaku jujur itu lebih mudah diucapkan dari pada realita yg ada. Bayangkan seseorang dalam keadaan “terjepit” ; bila ia berkata jujur, ia akan kehilangan keuntungan besar yang sudah ada dalam genggamannya. Sebaliknya, bila ia mau sedikit berdusta bukan hanya keuntungan namun juga kebanggaan yang akan diraihnya. Sebenarnya, kejujuran itu tidak ada kaitannya dengan untung-rugi. Kejujuran adalah sebuah sikap yang tidak perlu dihitung dengan nilai uang. Kejujuran bukanlah sebuah pilihan. Seseorang melakukan dusta karena ia memilih untuk berdusta. Mengapa dusta adalah pilihan?? Karena anda tidak bisa menipu diri anda sendiri. Hati nurani tak bisa dibungkam meski ia hanya berbisik lirih. • من تشبّعَ بما لمْ يُعْطَ كلابِـسِ ثَوبِ زُورٍ . “Orang yang merasa puas dengan apa yang dia tidak punyai ( puas dengan apa yang sebenarnya tidak dia miliki – sok iso , jowo ) laksana memakai dua baju kebohongan” ذلك ثلاثةُ رَكائِز مُدارُ القََبول لعملِ الإنسـانِ , العملُ مَنُـوطٌ بالقَبول . وبذلك يَعْظُمُ معه الصغيرُ , ويكثُر به القليلُ , ويَسْبِقُ به المتاءخّرُ. ذلك الفضلُ مِن لله وكَفَى بالله عليما . شرط المُرافَقَة الموافقة دارِهِمْ مادُمْتَ فى دارهم # وَارْضِهِمْ مادُمْتَ فى أرْضِهِمْ(BersikapFamilier) . “Bersosialisasilahandadenganmereka (dengantetapmempertahankanprinsip) selamaandaberadakomunitasmereka.Senangkanlahmerekaselamaandanegerimereka”. (1) اللَيْنُ فى القَوْلِ • الإنسـان عبد الإحسـان Dalamsyairdikatakan: • أحسِـن إلي الناسِ تستعـبِدْ قلـوبَهم # فَطالَمَا إستعـبَدَ الإنسانَ إحسـانُ “Berbuat baiklah anda terhadap orang lain, niscaya anda akan mampu menguasai hatinya. Sungguhtelah lama seseorang telah di perbudak (terkuasai) olehkebaikan” • “ My purpose of life is serving people and make them happy” Tujuan hidup saya adalah melayani manusia dan membuat mereka bahagia. • • إنّ فِيْكَ خصلتَينِ يُحِبُّهما اللهُ : الحِلْمُ و الأَناةُ . “SungguhdalamDirikamu (Muhammad) terdapatduapekerti yang di cintaioleh ALLOH yaituSantun ,Perlahan (Taroyyuts). • يَسُوْدُ المَرْاءُ قَوْمَه بالإحْسـانِ إليهم. “Seseorang bisa dengan mudah menguasai sebuah komunitas dengan berlaku baik pada mereka” (2) الرِفْقُ في العَمَل(Fleksibel) • لا تكون يابِساً فتُكسَرْ # ولا تكون لَـيِّـناً فتُعصَرْ Dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran 159 ,Allohberfirman: • فَبِمَارَحْمَةٍمِنَاللَّهِلِنْتَلَهُمْوَلَوْكُنْتَفَظًّاغَلِيظَالْقَلْبِلانْفَضُّوامِنْحَوْلِكَفَاعْفُعَنْهُمْوَاسْتَغْفِرْلَهُمْ • “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka”. (3) إظهارُ سُلوكِ الداعِى أكثرُ مِن عمَلِه, فإنه هو الذى يُؤثِّر فى القلوب . • سـيّدُ القومِ خادمُهم . “ My purpose of life is serving people and make them happy” Tujuan hidup saya adalah melayani manusia dan membuat mereka bahagia. (4) الدَعْوَة بالحال . • حالُ رَجُلٍ فى ألْفِ رِجالٍ أبْلَغُ مِن قوْلِ ألفِ رجالٍ فى رجُلٍ . “Sikap (tindaan) satu orang terhadap seribu orang itu lebih mempengaruhi dari pada ucapan seribu orang terhadap satu orang” TWO IN ONE 1. إنْ أجْرِيَ إلاّ على الله . “Tidak ada pengharapan balasan kecuali terhadap Alloh” 2. إنْ أريدَ إلاّ إصْلاحَ . ما اسْتَطَعْتُ , وما تَوفيقي إلاّ باالله “Tidak ada keinginan terkecuali untuk merubah diri” selama aku mampu melakukannya (sikap semaksimal mungkin) , dan tidak ada petunjuk bagiku kecuali Alloh.

UMAT BERMADIYA

وكَذالِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمةً وَسَطاً Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan. (Q.S Al Baqarah :143) Pada ayat ini ada pengakuan khusus dari Alloh yaitu “Di jadikannya kita semua (umat Muhammad) sebagai umat yang BERMADIYA; Dalam arti Umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat. Umat yang meniti jalan diantara Ifraath wa Tafriith, dan diantara Inqibaatl wa Inbisaath (inklusif dan eksklusif, pluralism dan fundamental). Lalu pertanyaannya siapakah yang pertama kali berhak dan layak menyandang predikat tersebut? خيرُ القُرُونِ قَرْنى ثُمّ اللّذين يَلُوْنَهُمْ ثم اللذين يَلُوْنَهُمْ Di hadis tersebut Rasululloh mengatakan sebaik-baik masa adalah masaku lalu masa setelahnya lalu masa setelahnya dan lalu para-para penganut kebaikan mereka sampai yaumil kiyamah. Maka para shahatlah yang pertama kali berhak meraih title tersebut, karena para Beliau-beliaulah umat yang terdidik langsung oleh Alloh melalui Rasul-Nya, Mereka menemani Rasululloh dalam suka maupun duka, siang dan malam, mencontoh baginda Rasul, karena dalam diri Rasul memantulkan cermin tauladan, akhlak yang mulia. وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Diceritakan; ketika baginda Nabi saw. Sedang sakit, beliau keluar rumah dengan didampingi oleg fadl ibn Abbas dan Aly ibn Abi Thalib lalu duduk di mimbat dan berkata, “Wahai manusia, siapa saja di antara kalian yang punggungnya pernah aku cambuk, inilah punggungku. Dan siapa saja yang kehormatannya pernah aku caci maki, inilah kehormatanku. Dan siapa saja yang hartanya pernah aku ambil, ambilah hartaku ini. Jangan merasa takut kalau aku akan mendendam karena itu bukan sifatku. Ingatlah bahwa orang yang paling aku sukai di antara kalian adalah orang yang mengambil haknya dariku, jika itu haknya, atau halalkanlah untukku sehingga aku menemui Tuhanku dengan jiwa yang bersih” itulah setitis akhlak mulia dari samudra akhlak baginda Rasul. كُلّ إنسـان يختاج الى المرشِد (ابوي) “Setiap orang muslim harus mempunyai pembimbing” Seorang yang mampu mendidi hatinya, membersihkan akhlaknya, yang bisa menghantarkannya menuju pada Tuhannya, dan hanya dengan bershahabat bersama beliau, Allah akan menjagannya. Oleh karena itu masyarakat islam pada zaman shahabat dinamai sebagai masyarakat yang unggul. Karena factor keberadaan Rasul sebagai murabbi memiliki peranan besar dalam membentuk karakter, Sehingga tertanam dalam diri mereka jiwa-jiwa yang luhur, bijak sana, toleran. Merekalah gambaran umat unggulan, Tidak keras dan lembek, tidak inklusif dan eksklusif. Di ayat yang lain mereka disebut sebagai sebaik-baik umat. Karena peribadi-pribadi beliau, karakter system social beliau. كُنْتُمْ خَيْرَ أُمةٍ أُخْرِجَتْ للناس  “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (Q.S. Ali ‘Imran, 3: 110) Ungkapan “dilahirkan” menunjukkan hakikat perkembangan umat ini dan karakter system sosialnya secara menyeluruh. Yaitu umat yang dilahirkan sesuai dengan orientasi yang telah ditentukan. Yaitu masyarakat yang tidak keluar dari garis prioritasnya dan tidak membuat system sendiri. Systemnya telah ditentukan oleh pendidiknya (Allah lewat Rasul) dan dilahirkan sesuai zaman, lingkungannya, dan undang-undang Tuhan. (Al Mujtama’ Al Islami: Muhammad Abdullah Al Khatib) Namun pada akhir-akhir ini banyak golongan-golongan, sekte-sekte yang mengaku-aku sebagai umat yang wasatha, namun pengakuan tersebut tidak sesuai dengan pengakuan yang telah oleh Alloh proklamirkan dalam Al Qur’an, yaitu “umat yang bersikap ‘Adl”. Mereka gemar sekali membuat keresahan, membid’ahkan bahkan tingkat pengkafiran, maka pengakuan yang mereka nyatakan perlu di uji. (Aby Ikhya’ Ulumiddin)

Sabtu, 13 April 2013

BERIDENTITAS YANG KHAS

Arus globalisasi cenderung melebur semua identitas menjadi satu penataan, tata dunia baru yang berkiblat pada budaya Yahudi dan Nasrani.Ummat Islam ditantang untuk makin memperkokoh identitasnya.Ummat Islam dihadapkan pada problem krisis identitas, atau upaya pengkaburan (eliminasi) identitas. Fakta dari kenyataan itu adalah sering dijumpainya orang-orang yang beragama Islam tetapi dari segi prilakunya sama sekali tidak menampakkan ruh Islam.Padahal muslim itu mempunyai identitas yang jelas, yang berbeda dengan kafir, munafiq dan bebeda pula dengan musyrik. Islam telah menetapkan standar Allah dan Rasul sebagai asas, maka seluruh perilaku,sikap dan kepribadian yang tidak sesuai dengan standar Allah dan Rosul, berarti bukan sikap Islam.Dengan demikian orang muslim yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh Islam,misalnya berzina,mencuri,dan minum-minuman keras, maka ia adalah oknum, sebab perbuatannya tidak berpijak pada Islam. Dalam ungkapan lain, keislamannya lepas saat ia sedang melakukan perbuatan itu. DINUL IZZAH Islam agama yang luhur ( izzah ). Al Islam ya’lu Walaa Yu’la Alaihi. Namun, keluhuran Islam terkadang terhalangi oleh ulah pegikutnya sendiri yang tidak mengamalkan Islam sebagaimana mestinya.Hikmah mengatakan ; “ Islam terhalang oleh (perilaku) ummat Islamnya”. Kita sebetulnya telah diangkat oleh Islam menjadi manusia yang berbudi tinggi, tetapi kita tidak pernah berfikir untuk berjasa buat Islam.Malah Islam kita rusak, kita nodai. Sebab oleh ulah kita Islam,oleh sebagian kalangan,di anggap kolot, miskin, kaku dan bodoh. Kita tidak pernah bangga membawa nama Islam. Bahkan membawa nama Islam di anggap menjadi beban psikologis, tidak bisa ditampilkan di pentas percaturan antar manusia. Maka lahirlah istilah-istilah dari dalam Islam sendiri yang menyalahi Islam, misalnya isu sektarian (mengelompok) dan primordial( sikap adigang-adigung yang merusak semangat kebangsaan) bagi sementara kalangan yang aktif memperjuangkan Islam, menjadi muslim nasionalis, berhati Mekkah berotak Jerman dan berkepribadian Indonesia. Diri kita belum tershibghoh (terwarnai) oleh Identitas Islam yang khas, sebuah warna yang telah diridhoi oleh Allah.Kita masih terlihat identitas Islam dalam simbol (lahiriyah), bukan identitas Islam yang lebih penting yaitu isi dan nilai. Kopyah, sarung, surban, tasbih dan budaya-budaya yang dikatakan Islam lainnya yang hanyalah simbol belaka. Islam menganjurkan penampakan simbol, tetapi tidak boleh melupakan isi dan nilai. Jilbab misalnya disamping simbol juga menyiratkan nilai, begitu juga berkumpul untuk dzikir, bertemu kawan dengan muka berseri dan lain-lain. Kenapa umat islam berada dalam kemunduran? Apakah karena ajaran Islamnya? Salah seorang ulama’ memberi jawaban: “ orang-orang Masehi meninggalkan agamanya. Maka mereka menjadi maju. Dan orang-orang Islam meninggalkan agamanya, maka menjadi sebab mereka terbelakang”. MUKHALAFATUL YAHUD WAN NASHORO Surat al Fathihah ayat 7 secara jelas menyiratkan orang muslim jangan sampai beridentitas sama dengan “Al Maghdlubi ‘Alaihim”,orang Yahudi yang di benci Allah dan “Adldloollin”,orang nasrani yang tersesat. Tetapi ayat yang biasa kita baca minimal 5 kali sehari itu, kita baca sekedar di lisan saja, belum sampai pada tahap realisasi. Dalam banyak hadisnya, Nabi mengindikasikan sikap muslim yang mandiri. Tidak ikut-ikutan pada budaya lain, khususnya kepada Yahudi dan Nasrani. Misalnya puasa Tasu’aa, memanjangkan jenggot, memangkas kumis, banyak komentar ( kastrotussual) dan penekanan sholat isya’ dan shubuh Sikap mukholafah demikian lebih tergambar dalam hadits Nabi : “ Barang siapa menyerupai ( tasyabbuh ) pada suatu kaum maka ia termasuk bagian dari kaum itu” (HR.Abu Dawud) Sekarang ini kita tidak menyadari betapa telah banyak perilaku Yahudi dan Nasrani yang telah berubah menjadi budaya kita.Standing party ( pesta makan sambil berdiri ) misalnya, fenomena kesukaan menyatap fastfood dan softdring, menyetujui kontes-kontes ratu kecantikan (miss universe), mendukung gagasan reaktualisasi hokum Islam dan atau mendukung gagasan Indonesia tidak mungkin menjadi Daulah Islam. Penafsiran yang salah terhadap arti jihad dan usroh. Mode pakaian, model kesenian fulgar, pesta pil koplo dan lain-lain tidak lepas dari rekayasa Yahudi dan Nasrani. Dimana usaha demikian ( tata dunia baru atau globalisasi ) telah dicanangkan oleh mereka 200 tahun yang lalu. Inilah barang kali yang digambarkan oleh Nabi: “Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga umpama mereka memasuki lubang dlob kalian akan mengikutinya.Para sahabat bertanya: Siapakah mereka ya Rasul. Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani.? Nabi menjawab: iya, siapa lagi kalau bukan mereka”(HR.Bukhori). Kita faham bahwasanya yang tampil di pentas dunia saat ini adalah orang Yahudi, bukan orang islam.Namun keberhasilan mereka menguasai dunia tidak lepas dari partisipasi kita dalam “hablum minannas”, yang kita wujudkan dengan mendukung setiap program dan rencana mereka, di samping kita sendiri telah jauh meninggalkan identitas Islam yang khas. Munculnya fenomena musyarokatul Yahudi ( sikap proYahudi ) pada kehidupan umat islam dewasa ini, bisa jadi diakibatkan oleh dua faktor: 1. Ekstern (dari luar) Upaya Yahudi dan Nasrani 2. Intern (dari dalam) a. Keawamannya (budaya) orang bodoh b. Intelektualitasnya (pemikiran) cedekiawan Semanggat hijrah Nabi semoga menjadi pembangkit bagi kita untuk merubah sikap (hijrah) dari yang jelek menuju yang benar.Baik hijratun niat (perubahan niat), hijratul fi’il (perubahan perilaku) maupun Hijatul Makan (perpindahan tempat menuju yang Islami). POSISI SUPEL Islam sangat menganjurkan bersikap supel kepada siapa saja.Dalam haditsnya, Nabi bersabda: “Bersikap supel kepada orang lain adalah shodaqoh.” (HR.Thobaroni) Nabi,dalam hal ini adalah manusia yang paling supel.Nabi mampu bergaul dengan berbagai kalangan.Namun kesupelan beliau diarahkan untuk dakwah. Bila bergaul dengan orang-orang bodoh, maka tunjukan beliau adalah agar mereka mencegah dari upaya makarnya pada Islam,disamping menarik hati mereka agar bersikap baik dan benar pada Islam. Supel disitu dalam arti Mudaaroh, yakni supel yang tidak sampai mengorbankan identitas.Bila sampai ke tingkat Mudaahanah (supel yang mengorbankan identitas), maka hal itu harus dicegah. Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Alloh telah menurunkan kepadamu di dalam Al Quran,bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Alloh diingkari dan diperolok-olokkan,maka janganlah kamu duduk beserta mereka sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain” (QS An Nisa’:140) Ayat tersebut memberikan ibroh,bahwa kita harus menjauhi sarana-sarana yang dipergunakan untuk maksiat dan kita juga tidak boleh ikut nimbrung disitu.Bila hal itu dilakukan,maka tidak ada beda antara kita dengan mereka.Alloh melanjutkan firmanNya: “Sesungguhnya bila kamu berbuat demikian,tentulah kamu serupa dengan mereka” BERIDENTITAS YANG KHAS Identitas Muslim bisa didapat tatkala terwujud upaya bersungguh-sungguh dalam mengarahkan akal pikiran dan kecenderungan dengan satu arah yang dibangun di atas satu asas,yaitu Aqidah Islamiyah.Jenis “asas tunggal” yang dipakai dalam pembentukan identitas merupakan hal yang penting diperhatikan.Kelalaian dalam hal ini akan menghasilkan identitas yang tidak jelas warnanya (mublawaroh).Ada tiga langkah menuju terbentuknya identitas yang khas: 1. Menjadikan Aqidah Islamiyah sebgai pandangan Hidup 2. Bertekad bulat menegakkan bangunan cara berfikir dan cara mengatur kecenderungan di atas pondasi Aqidah Islamiyah yang telah menghujam hatinya. 3. Mengembangkan identitas dengan cara membakar semangat untuk serius dan sungguh-sungguh dalam mengisi pemikirannya dengan kesempurnaan Tsaqofah Islamiyah dan mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan dalam rangka melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada Alloh Ta’alaa. Dengan jalan demikian,insya Alloh kita akan mampu beridentitas Islam yang khas,yang tidak tasyabbuh pada Yahudi dan Nasroni.Alloh dan Rosulnya menjadi standar perbuatan,bukan hawa nafsu.Sesuai dengan hadis Nabi: “Tidak beriman seseorang sehingga hawa nafsunya tunduk pada ajaran yang aku bawa”(HR.Muslim) Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi bekal melangkah dengan semangat hijrah di tahun baru 1417 H. (Disampaikan pada Taushiyah 3 al Haromain.15 Muharrom 1417 H)

BEGINILAH SEHARUSNYA KITA BERSAUDARA

Rosululloh saw bersabda: Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga cintanya kepada saudaranya bagaikan cintanya pada dirinya sendiri.(Muttafaq ‘Alaih) Seorang muslim seyogyanya mencintai saudara muslimnya seperti ia mencintai dirinya sendiri.Merealisasikan hadis tersebut secara tersurat terasa berat sekali (ash sho’bul mumtani’),seolah-olah tak sanggup.Hal ini dikarenakan sifat egoisme individu selalu dominan,bahkan dibakar oleh masyarakat dan media-media elektronik.Tak heran apabila kehidupan sesama muslim masih seperti kehidupan orang-orang dalam kereta.Mereka seolah-olah berjalan dalam satu gerakan,namun setelah kereta berhenti masing-masing menetukan nasibnya sendiri-sendiri.Kadang-kadang mereka saling sikat,saling copet dan lainnya. Walau demikian,seorang muslim harus menerapkan hadis di atas.Penerapannya dengan mengikuti makna hadis sebagai berikut: 1. Makna dari lafadz “Laa Yu’minu” adalah meniadakan kamalul iman (kesempurnaan Iman),bukan nafyul iman (meniadakan iman) sama sekali. 2. Adanya riwyat dari Imam An Nasa’I yang menyebutkan “Minal Khoir” sebagai tambahan “Maa yuhibbu li nafsihi”.Dengan riwayat itu realisasi hadis tersebut terasa lebih mudah,lebih-lebih bagi yang berhati salim,sebab dimensi al khoir luas dan tidak terbatas serta bisa dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi.Karena itu Alloh Subhanahu Wata’aala berfirman: “Berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS Al Baqoroh: 148) Sebelum kita merealisasikan kepada sesama muslim secara terbuka,alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu merealisasikan secara intern antar jamah (sebagai upaya tajribah) yang telah mengikat pada Robithoh Al Ukhuwwah Al Imaniyah,dengan istilah murofaqoh atau iltizam.Dimana ikatan itu sejak semula kita arahkan menuju tahaabub (saling mencintai) untuk mencapai mahabbatulloh.Sebab tanpa tahaabub itu kita tidak akan mencapai derajat kesempurnaan iman (mahabbatulloh).Upaya ini sesuai dengan hadis Nabi : Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman.Dan kalian tidak beriman sehingga kalian tahaabub. (HR.Muslim) Konsekuensi tahaabub dalam hidup berjamaah adalah sebagai berikut: 1.Wala’ (loyalitas) dan Shuhbah. Sikap wala’ ini pertama kali ditunjukkan kepada Rois Jamaah,sebagaimana seorang makmum harus loyal kepada imam sholatnya.Sikap wala’ ini bukan sekedar figuritas (karismatik tokoh),sekedar melepaskan dosa,atau sekedar ketaatan kepada seorang guru ngaji.Tetapi lebih dari itu kita relakan wala’ untuk meningkatkan aktifitas guna mencapai ridlo Alloh Subhanahu wata’ala: “Orang mukmin laki-laki dan perempuan,sebagian mereka harus menampakkan wala’ kepada sebagian yang lain”. (QS At Taubah 71) Shuhbah dalam arti ingin meniti kehidupan para sahabat bersama Rosululloh saw.Dalam praktek tersebut para sahabat selalu kintil,memperhatikan semua kepentingan Rosululloh dan aktifitas dakwahnya. Untuk menuju sikap wala’ dan shuhbah seperti di atas,kita membiasakan praktek ta’rif dan ta’aruf.Semua anggota harus memahami aktifitas dan tugasnya masing-masing,termasuk aktifitas yang menjadi prioritas jamaah yang kita ekspos ke luar secara formal dalam bentuk Yayasan dan Majelis Ta’lim.Sehingga saat ini keduanya harus mulai difungsikan secara aktif,efektif dan optimal.Garapan-garapan jangka pendek dan jangka panjang harus terprogram secara rapi sehingga tidak berjalan karena reaksi keadaan.Semisal program dalam menghadapi perubahan politik dan kebijaksanaan orde baru kurun 90-an ini,bagaimana program menghadapi anggota jamaah yang telah memiliki putra-putri baru ini,dll. Tidak kalah perlunya dalam hal ta’rif dan ta’aruf ini adalah kepeduliaan masing-masing Naib Manthiqy dan Naqib untuk tafaqqud (meneliti) keberadaan anggota-anggotanya.Sedapat mungkin meminimalkan pengangguran aktifitas.Tidak sampai dijumpai anggota kerja keras sementara yang lain bermalas-malasan .Dalam hal ini kita membutuhkan orang yang ringan tangan dalam melaksanankan setiap tugas. Selain itu antar sesama jamaah seyogyanya bersikap terbuka (open action) dan komunikatif.Praktek wala’ dan shuhbah ini perlu untuk menggalang nushroh demi mensukseskan program-program kejamaahan. 2.Wafa’ Tugas kita setelah memasuki jamah adalah wafa’,yaitu kesiapan memenuhi beberapa konsekuensi yang telah kita ikrarkan dahulu.Bila konsekuensi berjamaah tidak dipedulikan,berarti sama dengan memilih diantara tiga pilihan,yaitu taqshir,mukholafah atau khianat.Dan ketiga pilihan itu bukanlah sifat seorang mukmin.Rosululloh saw adalah tipe manusia yang paling wafa’,baik dalam kondisi syiddah (sulit) maupun Rokho’ (mudah). Murofaqoh dan iltizam jamaah memerlukan wafa’.Karena itu menghadiri majelis taushiyah misalnya,tidak ada alasan untuk tidak menghadirinya selain udzur syar’iy.Jauhnya tempat dan kondisi diri semisal tiada bekal,kesibukan rutin bukan termasuk udzur.Pehatikan perilaku shohabat dalam menerima konsekuensi atas keimanannya.Mereka mengorbankan apa saja yang mereka miliki untuk mewujudkan konsekuensi tersebut. 3.Memahami milik bersama Hidup berjamaah adalah hidup bersama.Karena itu masing-masing anggota harus mengetahui milik jamaah.Jika jamaah mempunyai program,baik rutin maupun insidentil,maka harus didukung dan diupayakan keberhasilannya.Program tersebut berarti harus diangkat sebagai kepemilikan bersama,semua merasa memiliki dan seterusnya.Contoh progam: penyebaran ide dakwah lewat majalah Al Mu’tashim dan buletin Shuhuf,penggalangan dana lewat toko Buurika (Surabaya),Tabriika (Malang),Mabruka (pujon) serta BMT Pujon.Pengumpulan calon generasi lewat lembaga terpadu TK/SD Plus (dalam program di Pujon),sentralisasi aktifitas Markazy dengan membangun gedung di Nambangan Surabaya.Penanganan daerah minus dengan menyebar pesantren cabang (Wates-Kediri,Bendo Rejo-Ngantang,Al Ma’wa Sebaluh,Tahfidzul Quran Putri Mantung-Pujon,Pesantren Putri Pujon Kidul,Pesantren Putra Pujon Kidul dan lain sebagainya),penggalangan kader kecil dengan TPA/TPQ sebanyak 12 lembaga di daerah Pujon,Batu dan Ngantang.Ternyata kita bersama memiliki asset yang kalau sekiranya diuangkan akan bernilai jutaan rupiah,sekalipun Yayasannya mengkas-mengkis,hidup segan matipun tak mau.Hal ini dapat terwujud,mungkin dikarenakan sisi barokah perjuangan secara jamaah disertai niat ikhlas menjauhkan diri dari ightiror bil jamaah. Dengan demikian setiap anggota harus mempunyai aktifitas dan garapan dakwah yang jelas.Diupayakan dirinya harus selalu tasyghil (menyibukkan diri) dalam kancah dakwah.Jika belum,maka harus punya azzam yang untuk itu menurut kemampuannya masing-masing.Ini baru salah satu mengangkat program dakwah sebagai amal jama’I dai jamaah kita. 4.Sentralisasi Sebagaimana yang paling dominan dalam tubuh manusia adalah kepala sebagai tempat merujuk ide dan konsep gerak dan langkah anggota badan yang lain,maka Ro’is,Naib dan Naqib juga demikian.Oleh karena itu,agar tercipta gerak dan langkah yang sama,baik pikir maupun jiwa,maka anggota harus merujuk kepada sentral jamaah,yaitu Rois dalam arti memahami penentuan sikap yang harus dilakukan sehingga adanya kesenjangan selama ini seperti ikhtilaf fil fikroh,ke-eksklusifan,kekakuan,pementahan program,pemaksaan keanggotaan (padahal ini praktek yang tidak boleh),dan lain-lain tidak dijumpai.Oleh Karen itu agar tidak dijumai kesenjangan ,maka anggota diharapkan mengikuti ta’lim ‘aam dan sering berkonsultasi dengan Rois secara pribadi.Juga perlu kesadaran,bahwa produk yang dikeluarkan oleh Rois,Naib,dan Naqib telah melalui pemikiran dan ….. yang matang.Bahkan perlu dipahami prodruk tersebut bukan untuk kepentingan individu mereka.Karena itu anggota jamaah harus taslim dengan produk yang telah dikeluarkan daripada produk luar sebagai konsekuensi as sam’u wat tho’ah fiima ahabba au kariha (mendengar dan taat,baik suka atau tidak).Sikap ini tidak didasarkan pada ta’ashshub (fanatisme),namun untuk keselamatan jamaah. Konsekuensi sebagai muslim yang dapat tahaabub dalam berjamaah,sebagai mana tersebut di atas terasa amat berat.Namun hal itu akan terasa ringan jika disadari bahwa berjamaah termasuk bagian dari perjuangan.Dan perjuangan pasti membutuhkan pengorbanan.Sebagaimana rahasia yang terungkap dari firman Alloh ta’aala: 1. Surat Al A’rof 199 “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah untuk mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” 2. Surat Al ‘Ashr ayat 3 “Dan saling nasehat –menasehatilah engkau dengan kebenaran dan kesabaran” Dua ayat tersebut menunjukkan bagaimana bersikap dalam amar bil ‘urfi dan wishoyah bil haq.Sikap beramar ma’ruf akan berhadapan dengan celaan orang-orang bodoh.Sedangkan Wishoyah akan berhadapan dengan tantangan sehingga dituntut sabar dalam menghadapinya. Meningkatkan aktifitas diri dalam kehidupan berjamaah dengan saling tahaabub,insyaAlloh akan menjadikan jamaah ada ruhnya.Program-program akan terselesaikan sesuai target,karena tidak terjadi keteledoran-keteledoran baik dari pemimpin atau anggota.Hasilnya adalah jamaah yang solid,bagaikan satu tubuh yang sempurna,sehat dan kuat.Semua anggota tubuh dapat difungsikan sesuai keahlian dan tugasnya masing-masing.Allohu A’lam (Disampaikan pada Taushiyah ke-06,19 Robi’ul Awaal 1417 H / 1 Sepetmber 1996)

ANTARA KEBUTUHAN DAN KEINGINAN

Sebagai seorang mukmin yang terbina hendaklah Kita memiliki kecerdasan sebagai sarana untuk membedakan antara KEINGINAN & KEBUTUHAN. Kebutuhan manusia ada batasnya, tetapi keinginan manusia tak terbatas. Islam tidak melarang umatnya mewujudkan sesuatu yang menjadi cita-cita mulia-nya selama cita-cita itu tidak keluar dari koridor kebutuhan. 

Hidup akan terasa indah, damai dan nikmat kalau saja kita selalu berada dalam koridor kebutuhan. Namun sebaliknya hidup akan terasa sengsara, payah dan menderita jika kita selalu berupaya memuaskan keinginan kita, menuruti hawa nafsu kita, karena sampai kapanpun manusia tidak akan puas dengan yang ada, mereka selalu merasa kurang. Andai saja manusia diberi harta sebesar gunung , seluas sahara tentu mereka akan memintanya lebih besar dan lebih luas lagi hingga kematian telah mengakhiri keinginan tersebut dan menutup rapat-rapat dalam gubangan kubur.

 والنفس كالطفل إن تُهمِلْه شبَّ على حبِّ الرضاعِ وإن تَفْطِمْه ينفَطِمِْ 

“Bahwa nafsu bagaikan anak kecil apa bila dia dibiarkan maka akan gemar menyusu, namun apabila dia dipisahkan maka dia akan berhenti menetek” Dalam hadist kudsi dikatakan:

 (لَوْ أنّ ابنَ آدمَ سَألَ وادِياً من مالٍ فأعْطَيْـتُه سَألَ ثانياً, وإن أعْطَيْـتُه ثانياً سأل ثالِثاً, ولا يملأُ جَوفَ ابنِ آدمَ إلاّ الترابُ, ويتوبُ الله على مَن تاب ... ) 

“Seandainya Bani Adam meminta harta sebayak jurang, lalu Alloh mengabulkan permintaannya maka mereka akan meminta untuk yang kedua kalinya, apa bila Alloh mengkabulkan untuk kali kedua, tentu mereka akan minta yang ketiga kalinya. Tidaklah sanggup memuaskan perut Bani Adam selain debu, dan Alloh mengampuni hambanya yang bertaubat”.

 (لَوْ كان لِابنِ آدمَ وادِيانِ مِن مالٍ لابتغى ثالثاً ولا يملأُ جَوفَ ابنِ آدمَ إلاّ الترابُ, ويتوبُ الله على مَن تاب) 

Dari Ibn Abbas ra. dengan kedudukan hadist marfu’ “Seandainya Bani Adam mempunyai harta sebanyak hamparan dua jurang, maka mereka masih akan tetap berharap yang ketiga. Tidaklah sanggup memuaskan perut Bani Adam selain debu, dan Alloh mengampuni hambanya yang bertaubat”.

 (لَوْ أنّ لِابنِ آدمَ وادِياً مِن ذهبٍ أحَبَّ أنْ يكونَ له واديانِ ولنْ يملأ فاهُ إلاّ الترابُ) 

Dari Anas ra. Dengan kedudukan hadist marfu’ “Seandainya Bani Adam mempunyai emas sebesar gunung maka mereka lebih suka (berharap) mempunya emas yang sebesar dua gunung. Tidaklah bisa memuaskan mulut mereka kecuali debu” 

BAHAYA RAKUS

Di ceritakan pada masa Bani Isra’il ada bayi kambing (Jady) yang gemar menyusu tetek ibunya sampai kenyang hingga habis air susu ibunya lalu dia beralih menghabiskan susu kambing yang lain, Namun belum juga terpuaskan. Maka Alloh mewahyukan kepada Bani Isra’il :

 (إنّ مثَلُ هذا كمثَلِ قَومٍ يأتونَ مِن بعدِكم يُعْطَى الرجلُ منهُم ما يَكْفى الأمةَ والقبيلةَ ثمّ لا يَشْبَعُ) 

"Perumpamaan bayi kambing ini umpama kaum yang akan datang setelahmu; Dimana seseorang dari mereka diberi sesuatu yang mencukupi satu kaum dan golongannya, namun belum juga memuaskan dirinya”.
Cinta dunia adalah muara kesalahan, orang yang mencintainya akan mudah terjerumus kepada hal-hal yang samar.

 حبّ الدنيا رأس كلِّ خطيئةٍ . رواه البيهقى 

“Cinta dunia merupakan pangkal segala kesalahan” karena cinta dunia adalah kegelapan yang akan menuntun pelakunya kepada hal-hal yang syubhat (samar) lalu membawanya kepada hal-hal yang di makruhkan lalu pada hal-hal yang haram. Sementara menurut Abu Hasan As Syaadzily: “Dunia adalah anak putri iblis, barang siapa yang meminangnya maka ayahnya (iblis) akan selalu mendatanginya. Apa bila dia menghampirinya maka ayahnya akan berdomisili disisinya secara totalitas” Seorang sahabat datang kepada Nabi Saw dan bertanya, "Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia." Rasulullah Saw menjawab, "Hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia." (HR. Ibnu Majah).

Minggu, 07 April 2013

PESONA NASEHAT

Kegiatan Taushiah yang diadakan setiap bulan telah mencapai angka 33 kali, semenjak diadakan pertama dengan tema yang berjudul: "Ihtimam Antara Kepentingan Tugas dan Kepentingan Pribadi", pada hari Ahad, tanggal 7 April 1996. Ditilik dari tanggal Taushiah perdana itu, maka Taushiah kali ini, tanggal 4 April 1999 adalah Taushiah perdana tahun ke-4. Jadi tak terasa, 4 tahun sudah kita menerima ide-ide kejama'ahan dari Rois Jama'ah. Mudah-mudahan hal ini menjadikan kita semakin dewasa untuk menginsafi secara mendalam keberadaan Jama'ah Dakwah ini. Kegiatan Taushiah di atas tak lepas dari dirintisnya sebuah Jama'ah Dakwah pada pertengahan tahun 1994 M dahulu. Pembentukan Jama'ah Dakwah tersebut didasari pentingnya memiliki wadah untuk berfikir, bergerak dan melangkah secara kolektif (bersama) untuk izzul Islam wal muslimin, dengan sentral berupa upaya dakwah ilal khoir amar makruf nahi munkar. Dengan dasar itu maka kita yang bergabung dengan Jama'ah Dakwah ini harus beriltizam terhadap sentral kejama'ahan tersebut sesuai dengan kemampuan masing-masing, minimal ikut sebagai murofiqin atau murofiqot. Adanya Jama'ah Dakwah sebagai sarana izzul Islam wal muslimin maka memasukinya secara ikhlas insya'alloh adalah ibadah. Karena itu dalam perjalanan selanjutnya secara bertahap haruslah diminimalkan upaya main-main dan santai-santai, sebab bukankah ibadah itu harus dilakukan secara serius dan penuh keyakinan. Salah satu wujud keseriusan itu yakni setiap personal memfungsikan Jamaah Dakwah secara optimal. Katakanlah hal itu sebagai bentuk ungkapan bangga memiliki wadah yang sepenuhnya diarahkan untuk izzul Islam wal muslimin. Bukan berupa bangga semu (ilusi), namun bangga yang hakiki. Bangga hakiki dalam arti setiap personal ikut berperan mengisi Jamaah Dakwah ini usai pernyataan bergabungnya. Seperti halnya salah satu alumni Madrasah Nabawiyah, sahabat Salman Al Farisi yang begitu bangga dengan Islamnya, sampai beliau menisbatkan Islam menjadi ayahnya. أَبِى الْإِسْلاَمُ لَآ أَبَ لِى سِوَاهُ # إِذَا افْتَخَرُوْا بِقَيْسٍ أَوْ تَمِيْمِ Ayahku adalah Islam; tidak ada ayah bagiku selainnya, ketika mereka membangga-banggakan diri sebagai keturunan bani Qais atau keturunan bani Tamim. Jika kita menoleh ke belakang, pembentukan Jama'ah Dakwah ini bukanlah didasari kekuatan finansial, tetapi asalnya asli berangkat dari kegiatan ta'lim dan pembinaan. Sekian lama kita mengikuti ta'lim dan pembinaan, dan sekian banyaklah pengertian yang kita dapatkan. Alhamdulillah, bahwa berangkat kita ini dari ta'lim yang kedudukan ta'lim itu sendiri amat penting dalam ajaran Islam. Imam Asy Syafi'i berkata dalam gubahan syiirnya: الْعِلْمُ مَغْرَسُ كُلِّ فَخْرٍ فَافْتَخِرِ # وَاحْذَرْ يَفُوْتَكَ فَخْرُ ذَاكَ الْمَغْرَسِ وَاعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ لَيْسَ يَـنَـالُـهُ # مَنْ هَمُّهُ فِـى مَطْـعـَمٍ أَوْ مَلْـبـَسِ فَاجْعَلْ لِنـَفْسِكَ حَـظًّا وَافـِرًا # وَاهْجُرْ لـَهُ طِيْبَ الرُّقَـادِ وَعَـبـَثِ Artinya: Ilmu itu tempat menanam segala kebanggaan, maka berbangga-banggalah kamu dengan ilmu. Dan hati-hatilah manakala kebanggaan tempat menanam itu luput darimu. Ketahuilah, sesungguhnya ilmu tidak akan didapatkan oleh orang yang orientasinya makanan dan pakaian. Maka jadikanlah untuk dirimu bagian yang sempurna dari ilmu. Dan karenanya tinggalkanlah enaknya banyak tidur dan enaknya bermain-main.* ومَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ # فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ Artinya: Barangsiapa yang luput dari ta'lim pada masa mudanya, maka bertakbirlah atasnya empat kali untuk menandai kematiannya.* Melihat ta'lim dan pembinaan adalah latar belakang Jama'ah Dakwah ini maka maklumlah ta'lim menduduki posisi yang fital. Oleh karena itu anggota Jama'ah Dakwah harus berupaya menambah wawasan ilmunya, sehingga aktifitas dakwah terarah. Tempo ta'lim pun mesti lebih dipadatkan, sehingga tidak cukup sekali ta'lim dalam sebulan (contoh: per taushiah). Pada sisi yang lain, ilmu-ilmu yang ada harus diapresiasikan ke luar. Karena itulah harus digalakkan upaya pembinaan-pembinaan. Dengan itulah insya'alloh Jamaah Dakwah ini akan terus berkembang dan berkembang. Namun timbul pertanyaan sebelumnya, adakah selama ini kita telah menyerap ide-ide dari ta'lim dan pembinaan itu secara penuh?! Umpamanya, dalam naskah panduan Taushiah apakah kita sudah bisa memahaminya?! Alhamdulillah, selama ini ada pada kita Rois Jama'ah yang sekaligus murobbi dan muallim. Pernahkan kita membayangkan bila suatu saat ia kembali fi dzimmatillah, apakah Jamaah Dakwah ini harus mati?! Kita semuanya berharap, komitmen kita berjamaah adalah pada sistem (tansiq), bukan figuritas, walaupun keberadaan figur amat penting. Karena komitmen pada sistem itulah hendaknya masing-masing bertanggung-jawab terhadap tugas-tugasnya dan melaksanakan fungsinya dengan baik. Termasuk iltizaamaat- iltizaamaat. Dengan sistem itu Jama'ah Dakwah akan terlihat prospeknya di masa mendatang beserta idealismenya. Dalam masa yang baru beranjak 4 tahun, rasanya masa-masa ini barulah masa ta'sis (perintisan), dari harapan Jama'ah Dakwah ini mampu eksis sampai pada waktu yang ditentukan oleh Alloh swt. Bukan hanya terbatas 5 - 10 tahun ke depan. Dalam masa ta'sis ini maklum bila harus dibarengi dengan mujahadah yang ekstra. Pada masa inilah Jamaah Dakwah membangun pondasi bangunannya. Kuatkah pondasi itu atau rapuh!. Mudah-mudahan mujahadah ini menjadi amal jariyah bagi generasi setelah kita kelak. Amiin. والله سبحانه وتعالى أعلم

MENUJU KESEMPURNAAN DIRI

Menuju Kesempurnaan Diri “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang sholeh, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali kepada Allah”. (QS. Al Isro’: 25) Orang-orang sholeh yang di sebut dalam ayat ini adalah orang-orang yang sholeh jiwanya (Sholahun Nafsi). Dari kesholehan jiwa itu lalu terbentuk pula kesholehan segala ucapannya, perbuatannya dan sifatnya. Oleh karena itu barangsiapa tersaksikan melakukan amal-amal sholeh, yaitu amal yang berjalan diatas landasan syara’ dan sunnah-sunnah Nabi, maka ia patut dinyatakan sebagai orang yang sholeh jiwanya, dalam arti ia termasuk golongan orang-orang yang sholeh. Dalam hal ini Allah Subhanahu Wata’ala berfirman mensifati orang-orang sholeh yang tercermin dari karakter Ummah Qooimah: “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus: mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sholat); mereka beriman kepada Allah dan hari akhir; mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; dan mereka bersegera kepada pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang sholeh”. (QS. Ali Imran: 113-114) Ketika amal sholeh menjadi indikasi (tanda) keshalehan diri, maka orang-orang shaleh berbeda-beda derajat kesalehannya sesuai dengan tingkat perbedaan amal-amal mereka sekaligus perbedaan kedudukan mereka menurut Tuhan yang bisa diketahui oleh Allah Subhanahu Wata’ala, berdasarkan hadits: “Taqwa itu di sini”. (Rasulullah bersabda demikian seraya berisyarah pada dadanya tiga kali). (HR. Muslim lihat Hadits Arbain Nawawi nomor ke-35) Untuk mencapai derajat keshalehan diri, mesti harus ada upaya muroqobah (mawas diri) semungkin-mungkinnya agar keshalehan diri terus stabil. Cara yang ditentukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk mencapai keshalehan diri adalah (banyak kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala) atau dalam kata lain katsrotul awbah (diambil dari lafadz. Al-awwabin).Ketika disebut bahwa sifat orang-orang shaleh adalah banyak kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala, maka bersamaan dengan itu disebut pula salah satu Asmaul HusnaNya yang menunjukan akan banyaknya ampunanNya agar tercipta kesesuaian. Artinya, bahwa orang yang banyak kembali kepada Allah pasti harapan besar banyak diampuni. Inilah yang membedakan antara kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan kembali kepada manusia.manakala seseorang bertambah banyak kembalinya kepada manusia, manusia akan memarahinya. Sementara seseorang bertambah banyak kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala maka Allah bertambah mengampuni kepadanya. Bahkan dibanding dengan kembalinya seseorang kepada Allah, ampunan Allah masih lebih luas. Oleh karena itu disebut dengan memakai lafadz (….) yang berarti untuk menguatkan pengharapan akan ampunan. Dengan demikian ayat di atas mengandung dua hal yang mesti ada pada manusia untuk menyempurnakan dirinya, yaitu: 1. Keshalaehan Diri (Sholahun Nafsi). Seperti ditunjukan oleh bagian ayat: (……) 2. Upaya mencapai keshalehan dengan kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala (Ishlahun Nafsi). Seperti ditunjukan oleh bagian ayat: (….) Dari sini selama untuk menyempurnakan dirinya manusia bermujaahadah dengan dua hal ini niscaya dengan dengan seizin Allah ia akan sampai cita-cita dan harapannya kepada derajat kesempurnaan. Dan bulan Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk mereflesikan dua hal itu, utamanya bagi anggota Jama’ah Dakwah. Wallahu A’lam

MASYARAKAT IDAMAN

Terbentuknya masyarakat adil dan makmur menjadi dambaan semua orang. Tetapi kapankah masyarakat adil dan makmur itu terbentuk? Dunia globalisasi pada saat ini malah menghadapi persoalan kemiskinan yang sangat serius sekali. Di indonesia mulai dari orde baru sampai dengan sebelum krisis moneter (delapan bulan lalu) diperkirakan masih terdapat 23 juta penduduk berada dibawah garis kemiskinan. Berikutnya setelah ditimpa krisis, jumlah itu melonjak drastis menjadi 118 juta.1 Pada zaman mula pertumbuhan Islam, para sahabat dibelenggu persoalan kemiskinan. Kebanyakan mereka mustadl'afun sementara golongan kafir menguasai konglomerasi Makkah dan berikutnya. Saat itu, dua sahabat datang kepada Rasululloh mengadukan problem ketidakstabilan keamanan (qath'us sabil) dan kefakiran (al 'ailah). Beliau lalu mengatakan, bahwa problem ketidakstabilan keamanan dalam waktu dekat akan teratasi sehingga kafilah dagang dari Madinah ke Makkah tidak memerlukan satpam. Tentang problem kerfakiran atau katakanlah dibawah garis kemiskinan, beliau menyebut akan datang suatu masa dimana orang keliling membawa sedekahnya tetapi tidak menjumpai orang yang ma menerimanya.2 Prediksi Rasululloh memang benar menjadi sebuah kenyataan. Tujuh tahun setelah hijrah, problem kemiskinan teratasi dengan ramainya kegiatan ekonomi, meningkatnya taraf kehidupan sahabat, dan munculnya banyak konglomerat muslim. Para sahabat yang dulunya rela menjadi buruh mengambil air. Berubah menjadi mapan ekonomi, sehingga diantara mereka memiliki 22 rumah yang tersebar di berbagai daerah dan memiliki uang yang berjumlah 100 ribu dirham. Kemapanan itu terus berlangsung sehingga mencapainya puncaknya pada masa kholifah Rasyidah kelima, Umar bin Abdul Azis.3 Pada masanya, tidak di dapati penduduk di bawah garis kemiskinan. Penduduk Afrika misalnya tidak mau menerima sedekah. "Khalifah telah membuat kami kaya," kata mereka. Sedekah itu lalu dipakai untuk memerdekakan budak.4 Sekarang ini, dunia telah bersolek dengan segala perhiasannya bersamaan dengan telah keluarnya segala potensi dn sumber daya alam (khaza'inul arldl ). Berbekal otaknya manusia telah membuat seluruh isi bumi bermanfaat. Adakah yang sekarang tidak bisa dimanfaatkan? Dengan kenyataan ini, kita bertafakkur betapa bumi ini tidak diciptakan dengan sia-sia bagi kelangsungan hidup manusia.5 Di sisi lain, muncul kemasygulan, mengapa di saat bumi dengan segala potensi dan sumber daya alamnya telah keluar, wujudnya masyarakat adil dan makmur belum juga menjadi kenyataan? Terbentuknya masyarakat adil dan makmur pada masa sahabat tidak lepas dari dua hal. Pertama, sisitem yang dipraktekkan. Kedua, pelaksana (pemerintah). Pada waktu itu sistem yang dipakai adalah syariat Islam, sedangkan pelaksanaannya terdiri dari orang-orang yang sholeh yang beriman dan bertaqwa. Sementara pada saat ini, sistem yang dipakai bukanlah syari'at Islam. Begitu pula pelaksananya bukan terdiri dari orang-orang yang sholeh. Ciri khas daripada mayarakat adil dan makmur waktu itu ialah kepedulian dan kesetiakawanan antara bagian masyarakat satu dengan lainnya terjalin sangat bagus. Jiwa dan raga telah membaur menjadi satu dalam sebuah kehidupan kejama'ahan. Bagaimana mereka itu mendahulukan kepentingan saudaranya sekalipun dirinya berada dalam kebutuhan. Bagaimana pula mereka rela menjadi buruh demi bisa bersedekah. Bagaimana mereka menyatakan tidak berhak atas harta kelebihannya? Dan lain sebagainya. Aksi sosial berupa kepedulian dan kesetiakawanan itu hebatnya tidak berjalan insidental, misalnya karena terjadi musibah, tetapi berjalan bak sebuah rutinitas. Terbentuknya masyarakat adil dan makmur dengan kepedulian dan kesetiakawanan sebagai ciri khasnya ini merupakan kebenaran hadits Qudsi berikut ini : قال الله عزوجل:" انَاالله وانا الرحمن إن الله يُعَمِّرُ بالقوم الدِّيا رَ ويُثْمِرُلهمُ الآمْوال ما نَظَرَ بعْضُهُمْ الى بَعْضِ" قيل : وكَيْفَ ذلِك يا رسول الله؟ بِصِلَتِهِمْ أَرحمَهُم "Alloh Azza wa Jalla berfirman : 'Aku Alloh dan Aku Ar rahman. Sesungguhnya Alloh memakmurkan perkampungan-perkampungan negeri suatu kaum dan melipatgandakan kekayaan terhadap mereka selama sebagian mereka peduli kepada sebagian mereka yang lain." Ditanyakan : "bagaimana demikian itu wahai Rasululloh? " Beliau menjawab : "Dengan hubungan mereka kepada rahimnya."6 Dengan demikian, kita bisa yakin akan terbentuk masyarakat adil dan makmur untuk kesekian kalinya manakala dunia beralih kepada sistem Islam dan dikelola oleh orang-orang yang sholeh, dengan kembalinya sistem Khilafah Islamiyah, entah sebelum Imam Mahdi turun atau sesudahnya. Peralihan itu pada saatnya akan berjalan begitu meyakinkan lebih-lebih potensi dan sumber daya alam telah tergarap sempurna. Kita berharap mempunyai andil dalam proses peralihan itu. Nah, mulailah kita menajdikan wadah kejama'ahan ini visualisasi daripada model masyarakat sahabat yang adil dan makmur. Wallohu A'lam 1. HU. Republika, 13/3 2. HR. Al-Bukhari. Lihat Shahihnya, Sindy, jilid I hlm. 246 3. Para sejarawan muslim sepakat, beliau adalah khalifah yang rasyidah dan adilah. Beliau disebut-sebut sebagai mujaddid abad pertama hijriah. Sekalipun jabatannya sebagai khalifah tidak lebih dari 2,5 tahun (30 bulan), beliau telah meninggalkan jasa yang keharumannya luar biasa menembus kawan dan lawan. 4. Lihat Syari'atul Islam, hlm. 176 5. Maha Benar Alloh yang telah berfirman menyebutkan perkataan generasi Ulul Albaab : رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً "Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini semua ini sia-sia" (QS. Ali Imran :191) 6. Rahim disitu maksudnya Rahim Aammah. HR. Thabarani. Derajat haditsnya hasan. Lihat adab Islam fi Nidham Usrah, hlm.79

Jumat, 05 April 2013

TAHUKAH ANDA ?

Sadarkah kita?? sebagai manusia mengapa kita terlahir dengan otak tersembunyi, dua mata di depan, dua telinga di sisi kanan dan kiri. Namun hanya dengan satu mulut ??  Dengan otak tersembunyi; Karena otak adalah suatu hal yang berharga, otak adalah permata, maka keberadaanya harus dilindungi dengan tulang berlapis-lapis, keberadaannya juga tak bisa dinilai dengan Rupiah bahkan Dolar sekalipun. Karena dengannyalah segala pernak-pernik dunia tercipta. Sebagaimana yang kita ma’lumi bersama, bahwa salah satu pertimbangan kenapa Manusia lebih mulia dibanding Malaikat, kenapa Malaikat rela sujud simpuh dihadapan Adam, adalah, karena kita sebagai Manusia diberikan potensi Akal, dikaruniakan kekuatan Daya Fikir yang mengagumkan. Keberadaannya adalah mutiara, sesuatu yang berharga. Dengan akal kita bisa berfikir, dengan akal manusia bisa berkreasi, dengan akal lahirlah teknologi. Maka bersyukurlah bagi orang-orang yang dikaruniai akal sehat. Sebagai catatan saja, mengenai kerja otak manusia; Pada dasarnya otak manusia mempunyai hubungan langsung terus menerus dengan gelombang energi, darinyalah seseorang mendapatkan kekuatan untuk berfikir. Otak menerima energi, lalu mencampurkanya dengan energi yang dicipatakan oleh makanan yang dimasukkan ke dalam tubuh, dan mendistribusikanya ke setiap bagian tubuh melalui bantuan darah dan sistem syaraf. Itulah apa yang kita sebut dengan kehidupan.  Dengan dua mata di depan; Dalam kehidupan memang seharusnya menusia hidup itu melihat yang di depan, menatap masa depan. Memplaining yang akan datang, tinggalkan masalalu yang tak akan pernah kembali kecuali hanya kita jadikan sebagai pelajaran saja. Dalam hikmah dikatakan: ما ماض فات والمؤمّل غيب, ولك الساعة التى أنتَ فيها “Sesuatu yang sudah lewat telah berlalu, sementara harap masih menjadi misteri, karena itu bagimu adalah apa yang ada saat ini” Jadi kalau kita cermati dan fahami hikmah ini memberi gambaran pada kita ; MASA LALU adalah sejarah, MASA DEPAN merupakan misteri, dan SAAT INI adalah karunia , maka nikmatilah karunia yang Alloh hadiahkan pada kita, manfaatkan sebaik mungkin, sebagai gambaran rasa syukur kita terhadapNya. Pada tahun 1933 Joan Rivers berpendapat: Jika kemarin adalah sejarah (history) Hari ini adalah hadiah (gift) Maka besok adalah misteri (mistery). Maka sudah selayaknya kita mesti belajar dari masa lalu, hidup untuk sekarang, berfikir dan memplaining akan masa depan. Dengan dua mata di depan hendaklah manusia bisa melihat ayat-ayat alam sebagai wujud adanya sang pembuat. “Apa mereka tidak melihat pada onta, bagaimana dia diciptakan”  Dengan dua telinga di kanan dan kiri; Sebagai gambaran supaya kita menjadi manusia yang bijaksana, mendengarkan dari dua pihak, Diceritakan; seorang bijak berkata kala ditanya: “Mengapa engkau sedikit sekali berbicara kepada umat manusia?” Dia menjawab “Sesungguhnya Alloh yang maha pencipta telah menciptakan dua telinga dan satu lisan untukmu, supaya engkau lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Bukan sebaliknya, supaya engkau lebih banyak berbicara dari pada mendengarkannya” .  Dengan satu mulut; Karena mulutlah, betapa banyak manusia hancur olehnya, ia adalah senjata yang amat tajam, yang dapat melukai, menfitnah, bahkan terjadi pembunuhan. Dalam Al-Qur’an Alloh memberi isyarat: Dalam pepatah jawa “Mulut_mu adalah harimau_mu”. سلامة الإنسان فى حِفظ اللِسـان . “Keselamatan seseorang terletak pada penjagaan lisannya” إحفظْ لسـانك أن تقول , فتُبْتَلىَ إنّ البَلاءَ مُوَكّلٌ بالمَنْطِق . “Jagalah lisanmu dari berbicara, bisa jadi engkau akan tertimpa balak olehnya, karena sesungguhnya balak itu disandarkan pada ucapan” أمْسِكْ لِسَانَك عن الخَلْقِ لا تَذكُرْهم إلاّ بِخَيْرٍ “jaga lisamu; janganlah engkau berkata sembarangan kepada orang lain, kecuali hal-hal yang baik saja” Kalam tersebut diambil dari cerita dalam suatu riwayat; “bahwa ada seorang pemuda dari kalangan Bani Israil yang hendak pergi menuntut ilmu dan kebetulan berita itu sampai kepada Nabi mereka. Lalu dia dipanggil untuk menghadap. setelah datang, Sang Nabi berpesan padanya: Wahai anak muda, camkanlah untukmu…! Aku hendak memberimu Tiga nasihat dari ilmu orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian” dan salah satu dari tiga nasihat Nabi pemuda tersebut adalah menjaga lisa, karena betapa bahayanya lisa. Bukankah penyebab pertikaian juga lisa, fitnah, pembunuhan terjadi juga tak sedikit bersumber dari lisa. Maka hati-hatilah dengannya.

Senin, 01 April 2013

HARAPAN

Anakku... jadikanlah dirimu seseorang yang berkemauan tinggi tanpa melihat setatusnya, tanamkanlah dalam jiwamu pribadi yang bercita-cita luhur, raihlah cita-citamu, anakku karna dengan cita-cita itulah, kamu bisa mewujudkan keinginanmu, songsonglah masa depanmu dengan harapan, Anakku... ingatlah selalu kalam hikmah di bawah ini كُنْ رَجُلاً رِجْلُه في الثَرَي * وهِمّتُه في نَجْمِ الثُّرَيَا " jadilah kau pribadi yang kakinya berpijak di bumi, namun cita-citanya berpijar setinggi bintang kartika ” Anakku… kalau saja tidak ada cita-cita, kalau saja bukan karena sebuah harapan, tentu orang yang berusaha menghentikan usahanya, orang yang berjalan menghentikan perjalanannya, dan orang yang menyeru menghentkan seruannya.dan dampaknya tentu dunia ini akan terasa sempit, lebih sempit dari pada lubang biawak, dan lebih berat dari pada memikul beban yang membelit punggung, membelenggu gerak diri. Anakku... pepatah mengatakan ”ribuan kilometer langkah di mulai dengan satu langkah, sebuah langkah besar sebenarnya terdiri dari banyak langkah-langkah kecil”

BERSATU BERBUAH MANIS BERCERAI BERBUAH PAHIT

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَان يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا Diceritakan : Ada dua orang bersaudara bekerja bersama dalam mengelola ladang milik keluarga mereka. Yang seorang, si kakak telah menikah, dan mempunyai keluarga yang cukup besar. Si adik masih lajang, dan berencana menjomblo, tidak mau menikah. Ketika musim panen tiba , mereka selalu membagi hasil panennya dengan sama rata, begitulah apa yang mereka perbuat setiap selesai penuaian . Pada suatu hari, si adik yang masih lajang itu berfikir, “Tidak adil jika kami membagi rata hasil panen yang kami perolih. Aku masih lajang dan kebutuhanku mesih sedikit. Sementara kakakku yang sudah berkeluarga dan tentu kebutuhannya lebih besar dari pada aku.” Maka, demi si kakak, setiap malam dia akan mengambil padi miliknya, dan dengan diam-diam ia meletakkan karung itu di lumbung milik kakaknya . sekarung itu ia sangkakan cukuplah untuk mengurangi beban keluarga kakaknya yang dirasa olehnya cukup berat. Sementara itu, si kakak yang telah menikah pun merasa gelisah akan nasib adik kandungnya. Ia berfikir “Tidak adil jika kami membagi rata hasil panen yang kami perolih. Aku punya istri dan anak yang akan mampu merawatku kelak ketika aku menghadapi masa tuaku. Sementara adikku yang sampai sekarang belum berkeluarga dan tak punya siapa-siapa tak akan ada yang peduli jika nanti dia tua dan miskin. Dia berhak mendapatkan yang lebih dariku” Karena itu, setiap malam, secara diam-diam ia mengambil padi dari lumbung miliknya , dan ia meletakkan karung itu di lumbung milik adik satu-satunya . sekarung itu ia harapkan cukuplah untuk mengurangi beban adik, kelak. Begitulah, selama bertahun-tahun kedua bersaudara tersebut saling menyimpan rahasia. Sementara padi di lumbung milik keduanya tak pernah berubah, walau dalam catatan seharusnya ada perubahan. Sampai disuatu malam, keduanya bertemu, ketika sedang memindahkan satu karung ke masing-masing lumbung keduanya. Di saat itulah mereka baru sadar, dan saling berpelukan tak lepas dengan derai air mata keduanya membasahi suasana, karena tangisan bahagia. Mereka tahu, dalam diam ada cinta yang sangat-dalam dalam diri saudaranya, yang selama ini menjaga persaudaraan mereka. Ada harta yang justru menjadi perekat cinta, bukan perusak. Demikianlah seharusnya kita bersaudara. Dari cerita diatas kita bisa mengambil hikma darinya betapa nilai persaudaraan sangatlah mahal bahkan tak ternilai dengan Rupiah sekalipun. Untuk menjaga semua itu; Janganlah kita rusak nilai kita dengan membanding-bandingkannya dengan nilai orang lain. Perbedaan yang ada diciptakan untuk membuat masing-masing diri kita special, kelebihan dan kekurangan yang masing-masing kita miliki merupakan sarana perputaran roda kehidupan, supaya masing-masing dari kita saling melengkapi, menyempurnakan. Sebagai mana Alloh menjelaskan dalam firmannya: لِـيَـتّخِذَ بعضُهم بعضاً سُخْرِيَّ “Supaya masing-masing dari mereka Dengan bersatunya orang yang kuat dan yang lemah, yang kaya dan yang miskin, maka kehidupan akan menjadi kokoh, laksana sebuah bangunan yang saling menguatkan. الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا (رواه مسلم) Seorang Mukmin dan Mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain (HR. Muslim) Maka janganlah kita takut mengakui kekurangan kita, takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Justru ketidak sempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita dalam satu sama lain, kekurangan inilah sebagai ladang beramal bagi yang sempurna. Dan sebaliknya. dalam setatemennya Alloh berfirman: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٠) "Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (Q.S Al-Hujuraat: 10)